Mereka berjalan keluar rumah esok malamnya. Tidak ada suatu halangan apa pun kala itu, bahkan orang tua Seokjin tak terlihat wujudnya, biasanya mereka akan terdengar berteriak-teriak dan menjerit-jerit, bertengkar dan melemparkan barang-barang.

Namun malam itu hening, selain suara tangis bayi di kamarnya yang hilang datang, dan kelikikan anak kecil di anak-anak tangganya, tiada apa pun yang terdengar, sampai-sampai Seokjin merasa, ia telah masuk ke dalam dunia ruh.

"Aku sedang tidak terseret masuk ke dunia hantu, kan?" Seokjin mengerling pada Namjoon yang terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ditemukannya rasa takut dalam manik yang mengerjap meminta jawaban itu, Namjoon hanya menggeleng.

"Hari ini kita menyelinap ke kantorku."

"Maaf, kantor?" sebuah delikan mata menyerang Namjoon, namun laki-laki itu masih bersikap biasa saja, tiada ada pedulinya. "Kantor kepolisianmu, maksudmu? Kupikir di sana dijaga siang malam."

"Untuk apa aku bekerja di sana dua tahun, dan tidak tahu apa-apa tentang cara menyelinap ke dalamnya," Namjoon terkekeh lagi, ia memperhatikan Seokjin yang masuk ke dalam mobil, diikuti Namjoon.

"Beritahu aku, kasus-kasus apa yang selama ini kau kerjakan, yang membuatmu mati?"

"Pembunuhan Jung Hoseok, seorang mahasiswa di Gangnam, datang ke Seoul untuk mengunjungi keluarganya, namun tiga hari berikutnya, ditemukan tewas di hotel tempat ia bermalam selama di Seoul."

"Dia tidak bermalam bersama keluarganya?"

"Tidak, keluarganya juga tidak diberitahu apa alasannya."

Seokjin memberhentikan mobilnya pada sebuah gendung. dua puluh meter di kirinya, ia melihat pria bertopi dan berseragam memutari pekarangan depan bangunan itu. Ia melihat tembok-tembok beton yang menjulang tingginya, kaca-kaca jendelanya memantulkan cahaya malam, di mana keremangan bulan, cahaya-cahaya yang memenuhi kota seoul, dan lampu jalanan bercampur menjadi satu.

Ketika Seokjin keluar, matanya langsung disapukan pada sebuah kedai kecil di beberapa meter dari bangunan di depannya, di mana cahayanya yang meremang terlihat samar-samar dan orang-orang keluar keluar masuk, berkencan bersama pacarnya, atau hanya bersulang untuk sebuah perayaan.

"Ah, kedai itu," Namjoon menoleh pula, ia terlemparkan pada kenangannya dulu, masa-masa ketika ia dan Seokjin berjalan di malam-malam tertentu dan mengunjungi kedai itu, bersulang dan memesan makanan.

"Ayo," Seokjin tak ingin terlalu memikirkannya, ia melirik sosok Namjoon yang bergerak dan memimpin di depan, di mana laki-laki itu menyuruh Seokjin berjalan ke belakang gedung, tempat di mana semak belukar menyapanya pertama kali. Sebuah pagar sebatas pinggang ia lewati, termasuk pula seekor anjing yang menggonggong marah dengan rantai di lehernya yang menjerat dan terikat pada ujung pagar.

"Anjing itu tidak akan membuat kita tertangkap kan? Suaranya berisik."

"Tidak, anjing itu sudah mati," mata Namjoon menengok ke belakang, tempat binatang itu dengan nyalaknya yang mendenging menyakiti telinganya. Kemudian pada Seokjin lagi yang terlihat tiada begitu peduli. "Mencari pemiliknya."

"Hm," Seokjin berjalan dan mengambil ponselnya, menyinari kegelapan yang menelusuk bersama hening, berjalan di antara rumput tinggi. "Terkadang sulit membedakan yang telah mati dan yang belum."

"Hei," suara bass yang di pelankan itu –seolah seseorang bisa mendengarnya– menyapa telinga Seokjin, Namjoon berdiri di depan sebuah jendela yang ujung kacanya pecah. "Masukkan tanganmu pada lubang itu, bukalah."

"Kantor kepolisian mana yang membiarkan jalan masuk untuk penyelundup," Seokjin memutar mata, kemudian memasukkan tangannya ke dalam dan membuka kuncinya. Di tariknya kusen jendela itu dengan paksa –di mana derit engselnya menyinyit dan merabai gendang telinganya seperti lagu lulabi mengerikan.

"Argh!" Seokjin terjengkal ke belakang, terkejut sampai-sampai tubuhnya terjungkal ke belakang dan menghempasi tanah lembab.

Baru ketika Seokjin menyorotkan lampu ponselnya, sosok wajah dengan pipi terkelupas menggelantung di depan jendela. Perpotongan lehernya merembesi darah, dan matanya yang kesakitan seolah berbicara dan menjerit-jerit minta tolong. Setengah daripada tulang rahang dan giginya terlihat, dan daging yang menyembul masih berwarna merah darah.

"Sialan," bahkan sosok hantu seperti Namjoon pun memundurkan langkahnya, ia memperhatikan pada Seokjin yang mencoba berdiri kembali, di mana ia ingin sekali menarik tangan itu untuk membantunya, namun ia hanya berkata. "Kurasa kasus pembunuhan lima belas tahun lalu, tidak pernah selesai."

"Tidak usah kau jelaskan," Seokjin menepuk pantatnya dua kali, kemudian pahanya dua kali, lalu telapak tangannya. Ia tersenyum pada Namjoon dan menyorotkan kembali lampunya pada jendela, rasa kagetnya telah surut.

Maka berjalanlah kembali ia menuju jendela, memperhatikan sosok tanpa tubuh itu, dan menyelinap di bawah lehernya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengenai tubuhnya dengan darah yang menyeruak-nyeruak keluar dari leher, dan meloncat turun ke dalam ruangan.

"Ruangan apa ini?" tanya Seokjin, Namjoon sudah ada saja di sebelahnya, memperhatikan pula. Rak-rak dan laci-laci terbuka dan tertutup, sebuah tangga berdebu dan kertas-kertas menghambur di lantai.

"Arsip dan berkas, kurasa, namun dipindah saat kasus pembunuhan lima belas tahun lalu tidak dapat dipecahkan."

"Uh, dan di sana itu korbannya?"

"Mungkin, aku tidak pernah mencari tahu perihal itu."

"Hm, kupikir kau orang yang sangat sulit menahan rasa penasaran," Seokjin tersenyum sebelah, menilik ke arah Namjoon yang meringgis mendapat sindiran itu. Ia berjalan dan membuka pintu ruangan yang tidak terkunci, kemudian melenggang keluar. "Uh."

Ada banyak hal yang dilihatnya kala itu, termasuk seorang laki-laki berjas yang memotong tangannya di ujung ruangan itu, menjerit dan tertawa pada waktu yang sama, matanya tiada melambangkan apa pun, dan kekosongan menggeluti rinci wajahnya. Seokjin menenggak air liurnya.

Ia akan menjerit mungkin, jika saja ia tak mengontrol perasaannya sendiri, saat wanita gemuk dengan bayi di tangannya muncul dan berdiri terdiam di hadapannya. Bayinya tidak bergerak-gerak, bahkan tali pusarnya belum terlepas, lalu pada dua detik berikutnya, wanita itu pergi sembari ia menimang-nimang anaknya.

"Aku tidak pernah tahu kantorku seangker ini," Namjoon berkata, suara langkah kaki dari sepatu ketsnya terdengar, begitu pula suara langkah Seokjin yang nampak lebih sedikit tergesa. "Dan kurasa kau tidak menyukai kantorku, Seokjin."

"Tentu, dasar gila."

"Nah, itu mejaku," Namjoon menunjuk meja yang masih belum dibereskan, di mana barang-barang Namjoon masih tergeletak dan tak bergerak-gerak, belum diberikan pada keluarganya.

"Hm," laki-laki dengan bahu lebar itu menyentuh sebuah frame foto, menghela. Ia tatap lamat-lamat dua orang yang berdiri bersebelahan, ia dan Namjoon. Memegangi karangan bunga besar. Di mana mereka tersenyum, menunjukkan sebuah keceriaan yang tiada dapat orang menjelaskannya.

"Seokjin," yang lebih muda memanggil, menyadarkan, seolah tahu bahwa Seokjin akan terus melamunkan foto itu hingga berjam-jam ke depan. "Berkas di dalam laci ke dua."

Seokjin menurut, membuka laci, dan Namjoon menunjuk sebuah map merah. Dibukanya map itu di atas meja, meniti di bawah lampu ponsel.

"Itu," kembali Namjoon menunjuk, dua kali. Sebuah data yang menunjukkan nama Jung Hoseok, dan satu lagi data seseorang. "Jung Hoseok."

"Lalu ini, Kim Taehyung?" Seokjin menunjuk data yang ia genggam. Namjoon memperhatikan.

"Bocah yang beberapa bulan lalu baru lulus SMA, salah satu orang yang paling dekat dengan Jung Hoseok, dia keracunan saat makan malam bersama pasangannya di sebuah restoran dua minggu setelah kematian Hoseok."

"Pacarnya?"

"Jeon Jungkook, baru akan lulus tahun depan, dia orang pertama yang akan kau datangi."

.

.

.

.

"Aku tidak tahu," Jungkook menyilang dada, wajahnya memerah dan ia tak menutup-nutupi nada marahnya ketika Seokjin kembali bertanya.

Mereka berada di rumah Jungkook kala itu, orang tuanya menatapi dari kursi yang agak lebih jauh. Sementara keduanya bercakap-cakap dan Namjoon berdiri di belakang Seokjin, mendengarkan seperti patung.

"Apa kau tahu hubungan Taehyung dan Hoseok?"

"Tidak," Jungkook memalingkan wajah. "Mungkin mereka berselingkuh."

Seokjin terdiam, tidak tahu harus berkata apa. "Dari mana kau tahu mereka berselingkuh?"

"Hoseok mencium pipinya, kemudian Taehyung merangkul pundak laki-laki itu dan berjalan sepanjang malam," Jungkook berdesis. Ia terlihat marah, namun air matanya keluar sedikit-sedikit. Kemudian ia terisak. "Apa yang dia lakukan sampai harus mati seperti itu, dasar Tae bodoh."

"Kookie," suara yang berdesir itu menyentakkan Seokjin, ia baru menyadari ada sosok lain yang bersama mereka kala itu. Dan ia mengenal sosok itu, seperti yang dilihatnya pada data di dalamnya tas punggungnya. Kim Taehyung.

Duduk di sebelah Jungkook, memanggil-manggil dengan putus asa, dengan suara yang hampir tak terdengar. Ada darah yang mengalir dari sudut bibirnya, dan pupil matanya dikekelili oleh akar-akar merah muda mengerikan. Seokjin menggenggam tangannya kuat-kuat. Taehyung baru saja meliriknya, sadar telah diperhatikan.

"Tolong ..."

Laki-laki itu berdesis, suaranya tidak kedengaran, hanya gerak mulutnya yang terbaca, seolah tenggorokannya telah hancur oleh sesuatu. "Jungkook-ssi."

"Kau tahu Taehyung bersama siapa saja sebelum kejadian malam itu?"

"Bersama Jung Hoseok, tentu saja, tapi setelah kematian Hoseok, ia lebih banyak diam di apartemennya, bahkan tidak mengunjungiku. Baru ketika malam kami kencan menuju restoran, dia mau melepaskan diri dari kamarnya."

"Ia juga sering membuka ponselnya dengan gemetaran, aku tidak tahu ada apa, tapi wajahnya gelisah," Jungkook memberitahu, mengusap sudut matanya. Detik berikutnya, ia menoleh ke samping, tempat Taehyung masih duduk dan memanggil-manggil Jungkook. Wajah mereka berhadapan, namun Jungkook tak melihat apa pun di depannya.

"Bagaimana pun, kuharap dia tidak pernah bisa tenang," umpatan kecilnya keluar, ia terisak lagi. "Laki-laki itu dengan kurang ajarnya meninggalkanku, berselingkuh seperti itu."

"Belum tentu dia selingkuh, Jungkook-ssi," Seokjin membenarkan, namun Jungkook tidak terlihat peduli, hanya menggelengkan wajahnya.

"Aku sudah tidak peduli, namanya masih terdengar menyakitkan," sekali lagi ia menyeka sudut matanya, memagut hidung. "Apa tanya jawab ini sudah selesai? Kurasa aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan."

"Ah, selama dia berdiam apartemennya, apa kau pernah menghubunginya?"

"Pernah, beberapa kali, tapi ia selalu menutup telpon dengan cepat."

"Apa yang dia katakan?"

"Selalu sama, 'aku tidak bisa keluar', 'jaga dirimu', 'aku di sini sampai beberapa minggu ke depan', seminggu kemudian aku memaksanya keluar rumah, dan semua itu terjadi."

Namjoon mengangguk. Namun wajahnya tidak mencondongkan bahwa ia mengerti akan sesuatu, "mungkin Kim Taehyung tahu kalau ia akan dibunuh."

"Apa maksudnya, 'beberapa minggu ke depan?', Jungkook-ssi?"

"Entahlah, dia selalu bilang kalau ada masalah di luar."

Seokjin mengangguk, kemudian menatap ke belakang, di mana Namjoon mengamati sosok Kim Taehyung yang terus memanggil Jungkook tanpa suara dengan tangannya yang menunjuk-nunjuk sesuatu.

"Kurasa dia punya sesuatu untuk ditunjukkan," Namjoon berkata, kemudian mendekati Kim Taehyung, walaupun di dua meter kemudian, ia berhenti.

"Jungkook-ssi," Seokjin memanggil, "apa kau mau ikut denganku?"

"Hm?"

.

.

.

.

Mereka melajukan mobil, di mana Seokjin menyetir dengan sangat parah hari itu. Ia menginjak rem dan laju mobilnya turun naik, Jungkook berkata bahwa laki-laki itu adalah penyetir yang buruk.

Walaupun sebenarnya Seokjin hanya berusaha untuk mengikuti arah Taehyung. Laki-laki dengan kemeja biru tua kotak-kotak itu kemunculan tiba-tiba, terkadang di sudut jalan yang ini, terkadang di belokan yang itu, terkadang pada perempatan yang ini.

"Kenapa dia tidak terbang dan menunjukkan saja?" Seokjin berdesis, menginjak rem ketika sosok Taehyung muncul dari belokan di depannya.

Jungkook menatap bingung. "Dia? Terbang?"

"Ah, tidak, aku hanya bergumam."

Namjoon duduk di kursi belakang, menjelaskan sesuatu, "beberapa hantu tidak bisa melakukan itu, jangan tanya kenapa, kurasa menenggelamkan diri di air adalah satu cara untuk bisa terbang. Oh, mungkin karena aku tenggelam, saat di air kau melayang, kan? Ah-ah, ya, itu bisa juga."

"Aku tidak tanya kau," kembali, Seokjin menurunkan kecepatan, kemudian benar-benar berhenti di sebuah parkiran.

"Kau berbicara dengan siapa?" Jungkook memperhatikan mobil Seokjin, pandangannya teramat polos, terkadang kalimat-kalimatnya jugalah sangat polos, sampai-sampai Seokjin tidak berani menjawabnya.

"Di mana kita?" Seokjin menyandarkan tubuh.

Ada sebuah gedung bertingkat-tingkat berwarna abu-abu tua, di mana Seokjin tidak melihat sesuatu yang janggal, sosok hantu pun tak di temukannya. Tentu, selain Kim Taehyung.

"Apartemen Tae," Jungkook terdiam, matanya mengerjap-ngerjap, hampir terisak kembali. "Untuk apa kau membawaku ke sini?"

"Entahlah," Seokjin keluar dari mobil, menatap Jungkook yang mengikutinya. "Tunjukkan apartemen Taehyung, Jungkook-ssi."

Mereka masuk ke dalam gedung. Tidak banyak orang yang terlihat, Jungkook bercerita gedung ini baru dihuni beberapa tahun. Taehyung juga baru pindah ke sini beberapa bulan sebelum ia lulus.

Seokjin mengamati Jungkook pelan-pelan, laki-laki yang sudah berhenti menangis itu. Ia tidak bisa berkata Jungkook cengeng, ia pun juga begitu ketika Namjoon pergi. Semua orang mungkin begitu.

Namun situasi Jungkook sedikit lebih menyakitkan, Taehyung mati di hadapannya, bahkan dikabarkan berselingkuh. Tidak ada yang salah dengan menangis, Jungkook sudah menahan dirinya.

"Aku ingin tahu kenapa Kim Taehyung tidak tenang," Namjoon yang eksistensinya hampir menghilang dari pandangan Seokjin itu berkata setelah sekian lama mereka memijaki lift dan terdiam di sana.

"Apakah dia mencari pembunuhnya?"

Seokjin mengangkat bahu, tidak mungkin menjawab hal itu, sedangkan Jungkook berada di sebelahnya.

"Beberapa ruh tidak penasaran dengan kematiannya, hanya ingin menyelesaikan sesuatu. Termasuk aku yang ingin menyelesaikan kasusku."

Seokjin mengerling sebentar pada Namjoon, bermaksud memberitahu bahwa ia mendengar, sebelum akhirnya ia mendengar suara Jungkook memenuhi ruang sempit yang terus terangkat naik itu.

"Aku sering mendengar keluhan Tae tentang suara derit lift yang berisik," Jungkook berkata, hanya berkata, tanpa pasal apa-apa. Seokjin memang mendengar suara derit yang memilin-milin telinganya, sudah sepantasnya dikeluhkan. Namun jika saja ia harus katakan, bukan mesin rusak yang membuatnya begitu.

Seorang pria dengan jas usang dan tangan kiri yang hampir putus mencakar-cakar dinding besi, menyinyit kesakitan. Ia menggenggam sebuah foto di tangannya, namun Seokjin tidak ingin memperhatikannya, jika saja sosok itu sadar Seokjin mengamatinya, maka ia mungkin akan meminta tolong pula.

Remang cahaya lift kala itu membuat Jungkook menggeser tubuhnya untuk merapatkan diri pada Seokjin, seolah memberitahu bahwa ia ketakutan. "Kami tidak pernah suka menaiki lift ini, Tae bilang angker."

Seokjin tertawa saja. "Menurutku semua tempat itu angker."

"Hm, semua tempat, termasuk rumahku juga?"

Yah, entah pertanyaan Jungkook itu polos atau bodoh, Seokjin tidak bisa membedakannya, ia hanya mengangkat bahu dan menggeleng sambil tersenyum.

"Uh, kita sampai," Jungkook merenggangkan tangan –seolah ia habis pergi dari mana-mana. Kemudian menunjuk sebuah pintu di ujung, nomor dua. "Itu apartemen Tae."

Ya, Seokjin dan Namjoon tahu. Mereka melihat Taehyung berdiri di sana, menunggui, kemudian setelah Jungkook sudah hampir mendekatinya, ia berjalan dan hendak menggapai Jungkook, memanggil lagi.

"Kookie ..."

Jungkook merogohkan sakunya, kemudian membuka pintu.

"Kau dapat kunci?"

"Hm? Ya, kami menukar kunci kami. Dia dapat kunci rumahku –tentu dengan persetujuan orang tuaku. Dan aku dapat kuncinya. Berhubung kami sudah saling percaya."

Terdiam, Jungkook mendorong pintu di depannya tanpa niatan. "Sebelum dia pergi dan merusak semua kepercayaan itu dengan omong kosong perselingkuhannya dengan Hoseok."

Seokjin tidak menanggapinya, namun raut Taehyung menjadi jauh lebih kelam kala itu, ia mengekori Jungkook di belakangnya, kemudian berdiri terdiam di sebuah meja televisi, sedang Seokjin berkeliling mengamati ruangan.

Jungkook menarik sisi gorden hingga ke sudut, kemudian mendorong jendela hingga angin sepoi-sepoi menerpa dan merabai kulit wajahnya, tersenyumlah ia. Mengingat-ingat, bahwa dulu ia sering sekali berada di sana, di pangkuan Taehyung, menyesap coklat hangatnya dan mendengarkan beberapa omelan dan gerutuan Taehyung yang tidak masuk akal.

Kekasih aliennya dan pemikirannya yang tidak masuk akal, Jungkook pikir ia terlalu bodoh untuk menerima Taehyung. Namun sekarang, ia merasa begitu beruntung pernah bersama Taehyung.

Pikiran itu membuatnya mengerutkan alis, terduduk dan menelungkupkan wajahnya dengan telapak tangan. Ia dibayangi oleh kejadian itu. Sesaat sebelumnya, mereka baik-baik saja. Taehyung memberikannya gantungan kelinci, dan mengusap kepalanya walaupun matanya kelewat gusar.

Malam itu, Jungkook pikir ia bisa bermalam di rumah Taehyung, dan menceritakan beberapa hal selama Taehyung mengurung diri di apartemen.

"Huh," ia menyandarkan tubuh, menghela napas, pikirannya mengawang ke mana-mana, namun hanya satu nama saja yang terngiangkan di telinganya. Tae.

Dug

Jungkook berdiri dengan sigap, terkejut dengan suara knop pintu yang mengenai dinding, di lorong tempat pintu masuk berada, ia bisa melihat seorang pria tercengang, masuk perlahan dan melongo mendapati Jungkook dan Seokjin di ruangan itu.

"Hyung!" Jungkook berseru, wajahnya entah girang entah kaget, namun ia memeluk laki-laki itu. Sementara yang dipeluk menepuk-nepuk Jungkook masih dengan wajah kagetnya.

"Ah, Jungkook, apa yang kau lakukan di sini?"

Jungkook mengerutkan alisnya, tidak tahu apa yang dilakukannya di sini. Diliriknya Seokjin yang memperhatikan di belakang, yang menggeleng dengan tatapan penuh arti. "Tidak, hanya mengingat-ingat masa lalu."

"Ah, begitukah, lalu siapa temanmu itu?" laki-laki itu menunjuk Seokjin dengan matanya.

"Seokjin, eum, temanku di sekolah, aku memintanya untuk menemaniku," tentu saja, umur Seokjin jauh lebih tua dari pada anak sekolahan seperti Jungkook, namun Seokjin menunduk dan tersenyum manis.

"Kim Seokjin."

"Ah ya, Seokjin, kau bisa panggil aku Baekhyun," merasa bertemu seseorang yang lebih muda, laki-laki itu tersenyum saja. "Aku kakaknya Taehyung."

.

.

.

.

"Bagaimana keadaanmu, Jungkook?" Baekhyun bertanya, duduk pada sofa dekat jendela, sedangkan Jungkook menyeret kursinya sendiri dan Seokjin duduk pada sebuah sofa lainnya.

"Tidak begitu baik," Jungkook berkata, ia memilih untuk sangat berterus terang, jika itu pada sosok Baekhyun di depannya. "Eum, Hyung, apa kau memang berpikir kalau Tae selingkuh?"

"Hm?" Baekhyun tersenyum, kemudian mengibaskan tangannya. "Kupikir tidak, anak itu senang menggoda seseorang, tapi aku bisa memastikan bahwa dia tidak selingkuh."

"Lalu, laki-laki bernama Jung Hoseo-"

"Hoseok? Jung Hoseok? Ah, laki-laki aegyo itu?" Baekhyun tertawa kecil, kemudian menatap tumpukan buku pelajaran di meja tidak jauh dari tempat mereka duduk, maniknya sendu, seolah tumpukan-tumpukan itu telah mengiris-ngiris luka lamanya. "Mereka pernah pacaran selama SMA, pacaran jarak jauh, tapi tidak bertahan lebih dari setahun. Kemudian ketika Hoseok kembali ke Seoul, mereka tidak sengaja bertemu. Aku bersama Taehyung waktu itu, tapi lebih memilih memisahkan diri. Kami berpisah dan mereka memberikan pelukan perpisahan."

Jungkook terdiam, mengepal erat tangannya. "Jadi dia tidak ..."

"Tidak, tidak, Taehyung bukan orang brengsek, Jungkook," Baekhyun tersenyum.

Seokjin mendengarkan, ia tiada menyela-nyela, matanya menelusur diam-diam ke arah segala penjuru ruangan, menemukan Taehyung masih berdiri di depan meja televisi, raut kelamnya tiada berubah, sehingga Seokjin bertanya-tanya, alasan apa ia membawa Jungkook ke sini.

"Aku mengantarkannya lagi ke hotel tempat Hoseok bermalam, dia bilang Hoseok telah memasukkan sesuatu di dalam tasnya saat mereka tidak sengaja bertemu," Baekhyun mengingat-ingat, namun ia menggeleng. "Dia menelponku, aku menunggunya di mobil, berkata Hoseok sudah mati."

"Lalu-"

Bruk

Sesuatu jatuh. Ketiganya menoleh, tidak pada Namjoon yang sudah mengamati sedari tadi. Jungkook yang pertama kali berdiri. Matanya sudah dipenuhi oleh bendungan sendu itu kembali. Menutup mulutnya.

Ia ingat sesuatu yang dikatakan Taehyung malam itu, sebelum laki-laki itu memuntahkan darah dan menjerit-jerit oleh rasa sakit di tenggorokannya. Aku sudah menyiapkan kadomu, Kookie.

Bungkusan kotak oranye itu ditempeli sebuah note kecil di atasnya. Ketika Jungkook meraihnya, maka menangislah ia. Bungkusan itu tidak dibukanya, ia meraihnya dan memeluknya kuat-kuat.

Dengarkan dengan baik, Kookie!

Namjoon mundur, ia merasa kurang nyaman, namun hatinya merasa sakit mendengar laki-laki itu menangis meraung-raung.

"Tae ..." ia meremas dadanya kuat-kuat, menggelengkan kepala, membiarkan celana kelabunya dibasahi oleh air mata yang tumpah ruah.

Namjoon berdesis kecil. "Orang itu menyiapkan hadiah untuk pacarnya bahkan ketika tahu bahwa ia sedang diincar."

Seokjin menghampiri Namjoon dan berdiri di sebelahnya, wajahnya entah mengapa semakin murung. Ia tidak berkata-kata, namun ia tidak ingin menganggu Jungkook, sehingga ia hanya terdiam saja.

Ketika tangisnya telah reda, Jungkook melepaskan bungkusan kotak itu dari peluknya, kemudian merobeknya dengan tangan gemetaran. "Tae ..."

Waktu itu, hanya satu nama yang terus ia gumamkan.

"Dasar bodoh."

Album terbaru IU, dan Jungkook tertawa melihatnya. Ia sudah membelinya bulan lalu. Namun ia memeluk album itu seperti telah menemukan harta karunnya yang ia nantikan. Di balik sampul album itu, Seokjin bisa melihat sebuah tulisan yang tidak disadari Jungkook.

Selamat ulang tahun, kelinci raksasa.

Dan Kim Taehyung berdiri di belakang laki-laki kelinci itu, memeluknya dari belakang. Sembari kemudian ia memanggil Kookie dengan suaranya yang terdengar lebih halus, lebih jernih, dan tubuhnya telah jauh lebih baik, tidak ada darah di sudut bibirnya. Dan maniknya tiada menunjukkan suatu kesakitan apa pun.

"Kookie ..." dan ia terus memanggil. "Selamat tinggal."

.

.

.

.

Seokjin berdiri di dekat tumpukan-tumpukan buku, menatap Jungkook yang sudah berhenti menangis dan Baekhyun yang menenangkan anak itu.

Ketika tangannya hendak menyandarkan diri pada meja, telapak tangan kanannya tiba-tiba dingin, menyentuh sebuah permukaan kaca datar, sehingga ia menoleh dan menemukan ponsel di sana.

"Ah, itu ponsel Taehyung," Baekhyun menegur, ia menyodorkan Jungkook segelas air putih. "Aku mencari-carinya, ternyata di sana."

"Boleh aku melihatnya?" Seokjin berkata, tidak ada penekanan, tidak ada permohonan dalam nadanya, hanya sebuah pertanyaan yang terlontar tanpa berpikir. Dan Baekhyun mengangkat bahu.

"Silahkan."

Seokjin membuka pesan dan panggilan keluar, dan menemukan satu nama yang seluruhnya sama. Memenuhi ponsel Taehyung di mana-mana.

Park Jimin

Jangan katakan pada siapa pun Taehyung. (10. 45 A.M)

Park Jimin

Jangan keluar dari rumah Taehyung, diamlah di rumahmu lebih lama. (06.12 P.M)

Park Jimin

Apa yang kau lakukan, kembali ke apartemenmu. (07. 34 A.M)

Park Jimin

Taehyung, jangan minum kopimu! (07. 45 A.M)

Park Jimin

Taehyung! (07. 45 A.M)

Park Jimin

Taehyung! (07. 45 A.M)

Park Jimin

TAEHYUNG KAU BISA MATI! (07. 46 A.M)

.

.

TBC

.

.

Tebeceh macam apa ini.

Terima kasih yang sudah baca, yang sudah review. Dan seperti dugaanku kemarin, gak terlalu banyak peminat memang ;DDD, but it's okay, entah kenapa aku malah semangat nulisnya. Aneh.

Dan oh, ada satu hal yang belum aku beritahu, padahal penting. FF ini terinspirasi berat lewat film Thailand : Run Phi. Dari sana segerombolan ide tidak masuk akal kayak gini ada. Tapi FF ini bener-bener hasil pemikiran saya, tidak menjiplak kok. Hihi.

Well, that's it. Mau ngucapin terima kasih sama yang udah komen, baca, follow, favorite. You're all the best lah. Terutama itu, yang komennya panjang-panjang. Terlebih, Pikaachuu sama Clutcha yang aduh sumpah, aku mau cium kalian, muah sini.

Tolong review, review kalian menentukan mood menulisku (maksa), kecup jauh.

Anyway, RnR?