Hello, Ghost?
JaeYong ; Slight!JaeTen NCT
NCT © SM Entertainment
Chapter I: Shaman
Kalian percaya hantu?
Ya, hantu. Makhluk supranatural yang 'katanya' menyeramkan dan bisa muncul dan hilang tiba-tiba untuk membunuh atau menculik kalian ke alam lain―
Mungkin sebagian dari kalian, yang merasa cukup berani, akan mengatakan jika hantu itu hanyalah sebuah cerita fiktif yang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti anak kecil. Hantu itu bohong, mengada-ada, omong kosong.
Jika kalian berfikiran begitu maka kalian harus segera merubahnya. Karena anggapan kalian salah.
Hantu itu ada. Mereka eksis dan hidup bersama kita. Hanya saja kalian tidak bisa melihat keberadaan mereka. Ada dinding tipis yang membuat dunia mereka terpisah dan tak terjangkau mata manusia kalian.
Coba saja kalian tengok ke sudut kosong tempat kalian berada sekarang. Aku yakin jika salah satu dari mereka sedang memperhatikan kalian dengan tatapan yang mengerikan. Bahkan tanpa kalian sadar, mungkin mereka berada lebih dekat lagi, mereka bisa saja berada di samping, duduk bersebelahan dengan kalian saat ini. Apa kalian merinding sekarang? Jika ya, maka itu adalah pertanda satu dari mereka sedang berada tepat di belakangmu. Dan 'bernafas' di lehermu.
Tidak percaya?
Baiklah, aku menyerah. Itu hak kalian pula untuk percaya atau tidak. Aku tidak punya urusan untuk membuat kalian percaya pada hal yang tidak bisa kalian lihat. Lagipula siapa aku? Kalian sama sekali tak mengenalku kan? Dan aku juga tidak ingin repot-repot mengenalkan diri.
Satu hal yang harus kalian tahu tentang diriku adalah fakta bahwa aku, seorang shaman.
Seseorang yang bisa melihat hantu.
Jaehyun sama sekali tidak ingat apa yang membuatnya berakhir di sini, selain rasa sakit terakhir yang luar biasa ia rasakan setelah sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya. Ia tidak ingat bagaimana tubuhnya terlempar, sejauh lima meter dari tempat semula dan mendarat di aspal dingin yang kotor tepat di tengah jalan. Ia tidak ingat, bagaimana belakang kepalanya terbentur dengan keras dan beberapa bagian tubuhnya tergores permukaan kasar aspal. Ia tidak ingat, bagaimana lirihnya ia mengucapkan sebuah kata tolong begitu tubuhnya terbaring bersimbah genangan darah dan bau besi berkarat sementara mobil yang menabraknya pergi. Ia tidak ingat. Benar-benar tidak ingat. Saat bagaimana ia bisa bangun setelah itu dan melihat dirinya sendiri terbujur kaku.
Ia tidak ingat.
'Bagaimana bisa?'
Rasa kaget masih memenuhinya. Maka dari itu dia berlari, secepat dan sejauh yang ia bisa dari sana dan mulai berteriak pada semua orang yang ia temui. Tapi dia diabaikan. Tidak ada orang yang mau mendengarnya, tidak ada yang mau membantunya.
'Aku mohon, tolong aku! Tolong aku!'
Ia berusaha memegang tangan seorang ibu-ibu yang sedang menutup tokonya untuk mendapatkan perhatian, tapi yang ia dapat hanya udara kosong.
'K-kenapa?' Jaehyun menatap kedua tangannya dengan terkejut.
Kenapa ia tidak bisa menyentuh mereka?
Jaehyun kembali berlari dan tidak memperdulikan hal lain. Tidak ada yang bisa diharapkan dari orang-orang asing itu. Ia hanya butuh orang tuanya.
'Ayah! Ibu! Kalian harus menolongku!'
Tapi Jaehyun mencelos saat melihat mereka pun mengabaikannya. Jaehyun berdiri tepat di depan ibunya. Dan ibunya hanya terus berjalan menembusnya.
"Perasaanku tidak enak. Ini sudah larut, kemana Jaehyun?"
'Apa maksudmu, Ibu? Aku di sini! Aku di sini!' Jaehyun berteriak frustasi.
"Tenanglah. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Mungkin sedang dalam perjalanan pulang."
'Aku tidak baik-baik saja, Ayah! Aku sekarat!' Jaehyun menunjuk pintu dan mulai memohon lagi. 'Kumohon! Aku tidak mau mati! Kalian harus menolongku!'
"Aku hanya khawatir. Tidak biasanya ia pulang terlambat. Ia bahkan menyuruh supir untuk tidak menjemputnya karena ia ingin pulang sendiri."
'Kumohon! Kumohon!'
Telepon berdering. Ayahnya bangkit dan berjalan menembus dirinya untuk mengangkat telepon. Tidak lama gagang telepon itu jatuh. Ayahnya mengucapkan satu kalimat dengan tidak percaya. Lalu yang selanjutnya terjadi adalah ibunya yang berteriak keras memanggil namanya sebelum jatuh pingsan.
'A-aku―' Tubuh Jaehyun jatuh berlutut. Air mata lolos mengaliri pipinya. 'Sudah mati?'
Jaehyun duduk sendiri di pinggir jalan. Ia tidak bisa berfikir apa-apa lagi saat ini, karena yang ia lakukan hanyalah menangis. Harusnya ia tidak berada di sini, harusnya ia mengikuti kedua orang tuanya ke rumah sakit. Tapi bagaimana bisa dia melihat dirinya sendiri yang terbaring tak bernyawa? Ia tidak sanggup. Semuanya terjadi begitu cepat dan dia masih belum bisa menerimanya.
Kenapa ini harus menimpanya? Kenapa?
'Che, apa yang dilakukan pemuda itu di jam segini? Menangis di pinggir jalan.'
Jaehyun langsung menoleh. Ia menghapus air matanya dengan tangan. Dari jarak pandangnya sekarang, ia bisa melihat seorang laki-laki paruh baya menatapnya. 'Kau siapa, paman?'
Orang itu langsung tersentak kaget karena Jaehyun bisa mendengar apa yang ia ucapkan. 'Kau bisa melihatku?' tanyanya.
Jaehyun mengangguk. Dan orang itu mendesah karena langsung mengerti apa yang salah. Ia berjalan mendekati Jaehyun dan duduk di samping pemuda itu, yang terus menatapinya dengan pandangan yang sama. Bingung.
'Kutebak. Kau baru mati?'
Jaehyun tidak bisa tidak terkejut. Pertanyaan macam apa itu? Apakah itu pertanyaan normal yang akan ditanyakan oleh orang asing pada orang yang baru ditemuinya?
Orang itu tersenyum saja. 'Kau tidak bisa lihat? Aku juga hantu.' katanya cuek.
Jaehyun langsung menunduk mendengar pengakuan itu. Harusnya ia lari, yang ia lihat sekarang adalah hantu. Tapi Jaehyun sadar itu tidak ada gunanya. Ia sudah mati dan sekarang dia juga adalah hantu.
'Kau tahu? Reaksimu tidak jauh berbeda saat pertama kali aku tahu aku sudah mati.' Jaehyun masih menunduk dan diam-diam menangis sementara orang itu duduk dengan kaki berselonjor menatap bintang di langit. 'Terkejut, tidak percaya, sedih. Kenapa harus aku? Kenapa begitu cepat? Kenapa hidupku berakhir seperti ini? Pertanyaan seperti itu memenuhi pikiran. Bukan begitu?'
Jaehyun mengangguk pelan. Masih terlalu sibuk dengan tangisannya.
'Aku mengerti.' Orang itu tersenyum dan menepuk kepala Jaehyun. 'Tapi setelah aku sadar, menangis sama sekali tidak berguna. Kau tahu? Semacam―kau tidak akan merubah apapun dengan hal itu.'
Jaehyun mendongak dan tiba-tiba berhenti terisak, meski air matanya masih jatuh saja menuruni pipinya. 'Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada yang bisa mendengar atau melihatku. Aku sudah mati! Aku hantu sekarang!' Ia menyentakkan tangan di kepalanya dengan kasar. Jaehyun hanya merasa marah dan tanpa sadar berteriak. Tapi kemudian merasa menyesal telah berkata seperti itu dan langsung menunduk. 'Maaf,' lirihnya.
Orang itu menatapnya sambil menyangga dagu dengan sebelah tangan di atas lutut, mengangguk. 'Kau masih sangat muda. Dan sepertinya anak yang baik.'
Jaehyun tersenyum lirih. 'A-aku selalu berusaha. Aku selalu belajar dengan keras untuk membuat orang tuaku bangga. Aku selalu bilang pada mereka jika aku ingin menjadi seorang dokter yang hebat seperti Ayah. Aku mengerjakan tugas saat teman sebayaku asik bermain. Aku akan menghafal saat orang lain sibuk mengobrol. Aku lebih memilih pergi ke perpustakaan dibanding kantin saat istirahat.'
'Wah.' Orang itu tampak terkesan.
'Aku selalu hidup sehat. Menghindari junk food dan makanan pinggir jalan. Aku hanya makan segala sesuatu yang bergizi. Minum vitamin dan pemeriksaan rutin ke dokter. Minum 8 gelas sehari, makan tepat waktu.'
Orang itu mengangguk-angguk paham. 'Aku mengerti sekarang.'
Jaehyun tidak punya ide. 'Apa maksudmu, paman?'
'Aku jadi mengerti alasan anak baik sepertimu berada di sini.'
'Hah?'
Orang itu tertawa melihat ekspresi polos Jaehyun. Anak ini benar-benar. Butuh beberapa lama sampai dia menghentikan tawanya. 'Kau tahu? Kemana harusnya seseorang yang baik pergi saat mereka mati kan?'
'Surga?' tebak Jaehyun.
'Benar.' Orang itu mengangguk. 'Orang yang baik memang akan pergi ke surga saat mereka mati. Tapi asal kau tahu, mereka baru akan pergi ke sana jika urusan mereka di dunia ini telah selesai dan hati mereka menerimanya.'
Jaehyun tidak bisa menutupi jika dirinya bingung saat ini. 'Lalu?' tanyanya.
'Itu masalahmu. Kau masih memiliki hal yang kau sesali dan belum bisa menerimanya.'
Jaehyun tersentak. 'A-aku?'
'Kau menyesali hidupmu.'
'Hah? Apa? Tidak, Paman. Aku sama sekali tidak―'
'Jangan bohong!' Potong orang itu cepat. 'Untuk anak seusiamu, apa yang kau lakukan itu sama sekali tidak menyenangkan. Dari ceritamu aku langsung bisa menebak bahwa kau itu sangat tertutup. Ku yakin kau bahkan tidak punya teman. Kau selalu menjadi anak baik dan taat. Apa kau pernah merasakan menyenangkannya apa yang orang sebut membolos? Bagaimana mendebarkannya sensasi mencoba rokok dan alcohol untuk pertama kalinya? Apa kau pernah merasa begitu senang karena membicarakan hobimu dengan orang lain? Menyenangkannya memiliki orang yang mengerti dirimu? Mencoba hal-hal baru yang belum pernah kau rasakan? Hidupmu membosankan dan kau menyesalinya. Itulah alasan paling logis dari keadaanmu.'
Jaehyun tersentak dan membulatkan matanya. Ia menarik lututnya ke dada dan menenggelamkan wajahnya di sana. Ia merasa habis tertembak mati. Bagaimana caranya dia bisa tahu? Bagimana dia tahu semua itu?
Orang itu tersenyum, sepertinya tebakannya memang benar melihat tidak adanya satupun kata darinya. Kali ini ia berbicara dengan nada lebih pelan. 'Menjadi anak yang baik bukanlah hal yang salah. Tapi bukan berarti kau harus melupakan hal-hal yang merupakan sumber kesenangan dalam hidupmu. Aku bahkan yakin jika kau tidak pernah merasakan apa yang disebut jatuh cinta.'
Jatuh… cinta?
'Perasaan mendebarkan yang datang saat kau berada dekat dengannya. Perasaan yang membuatmu tidak bisa tidur dan hanya membayangkannya sepanjang malam. Perasaan yang membuatmu selalu ingin menatapnya dan gugup tiap kali ingin menyapa. Perasaan, yang selalu membuatmu hatimu senang, bahkan oleh hal-hal kecil yang ia lakukan untukmu. Aku yakin kau tidak pernah merasakan hal seperti it―'
'AKU PERNAH!'
Orang itu tersentak saat Jaehyun berteriak menyelanya. Ia kaget karena tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu. 'Hah?'
Jaehyun mengangkat wajahnya dan menatap orang di sampingnya. 'Aku memang tidak pernah melakukan semua hal yang kau tanyakan. Aku tidak pernah membolos, merokok, minum alkohol dan tidak punya teman karena mereka menganggapku aneh. Mungkin juga benar jika aku menyesali hidupku. Tapi aku pernah. Aku pernah merasakan itu―' Jaehyun mengusap pergi airmatanya dan tersenyum untuk pertama kali sejak ia menjadi hantu. 'Aku pernah jatuh cinta.' Katanya penuh keyakinan.
Ada jeda hening panjang setelah itu.
Meski kaget, orang itu hanya tertawa karena di matanya Jaehyun begitu, sialan, polos. Tatapannya yang sungguh-sungguh itu membuatnya gemas. 'Kau lucu sekali,' katanya sambil memegangi perutnya.
'Paman, kau kenapa?' tanya Jaehyun khawatir karena orang itu tiba-tiba saja tertawa tak terkendali. Matanya mengedip-ngedip tidak mengerti.
'Aku jadi semakin tahu alasanmu yang sebenarnya berada di sini setelah mendengar yang satu ini.' Jawab orang itu.
Lagi-lagi Jaehyun tidak memiliki ide atas ucapannya dan hanya merespon; 'Hah?'
Orang itu tersenyum lebar, seakan baru saja berhasil memenangkan undian seribu dollar. 'Kau tahu? Aku yakin alasan utamamu adalah karena kau belum sempat mengatakan perasaan cintamu padanya. Iya kan? Hahahahaha.'
Jaehyun melongo, sebelum kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan lututnya. Kali ini benar-benar merasa terkejut dan malu di saat yang bersamaan. Bagaimana ia tahu? Bagaimana ia tahu semua itu? Bagaimana caranya? Apakah dia cenayang? Apakah ia bisa membaca pikiran? APA DIA HANTU?! Eh, oh ya benar. Dia memang hantu.
'Paman… hentikan.' rengeknya pelan saat mendengar tawa itu tidak juga berhenti. Jika dia masih manusia mungkin wajahnya sudah sangat merah saat ini. Ini benar-benar pertama kalinya ia digoda hingga begini, dan itu oleh hantu seorang paman yang bahkan tak ia tahu namanya.
Rasanya sangat aneh. Perasaan menjadi hantu ternyata terasa cukup baik. Siapa yang menyangka? Selain fakta bahwa tidak ada yang ada yang bisa melihat atau mendengarnya, rasanya benar-benar baik-baik saja. Tubuhnya terasa ringan saat berjalan, ia bahkan merasa dirinya tidak sedang berjalan, tetapi melayang. Ia bisa masuk ke manapun dengan menembus tembok. Semua orang juga menembusnya, meski rasanya sebagian jiwanya tertarik sesaat saat ada orang yang melewatinya, ia masih bisa mengatasinya.
'Bagaimana aku menemukannya?' percakapannya semalam dengan paman hantu, Jaehyun menjadi punya tujuan. Ia harus menyelesaikan urusannya di sini sebelum bisa hanya harus mencari seseorang yang bisa membantunya―seperti apa yang dikatakan paman hantu.
'Shaman, ya? Apa orang seperti itu benar-benar ada?' Jaehyun sebelumnya bukanlah orang yang akan percaya dengan segala hal yang berbau spiritual. Tapi semuanya berbeda karena ia bahkan kini sudah menjadi salah satu makhluk spiritual itu sendiri. Tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya.
Ia sudah berjalan cukup jauh. Entah di mana dia sekarang.
Ia memasuki setiap bangunan dan mencoba berbicara dengan semua orang. Berharap jika salah satu dari mereka akan menjawabnya dan memberitahunya langsung jika dia adalah seorang shaman. Tapi ternyata tidak semudah itu ia menemukannya. Semua orang bersikap sama―tidak menyadari keberadaannya. Hingga ia berakhir di taman.
'Hai, adik kecil. Apa kau adalah shaman?' Ini adalah hal yang terkonyol yang ia lakukan. Kenapa juga dia bertanya pada seorang bayi dalam kereta dorong.
"Chi~ Ba-ba~"
Jaehyun melongo. Sepertinya bayi ini merespon ucapannya. Jaehyun mendekatkan wajahnya. 'Kau bisa melihatku?' tanyanya.
Bayi itu tertawa sambil menggerakkan mainan di tangannya. "Ba-ba~ Baba~"
Baiklah. Itu sebuah peningkatan karena seseorang memang bisa melihatnya. Tapi seorang bayi? Ayolah. Apa yang bisa mereka lakukan untuk Jaehyun di saat begini?
Merasa tidak ada gunanya, Jaehyun tersenyum untuk yang terakhir kali lalu melambai. 'Sampai jumpa lagi, adik kecil.' Bayi itu kembali tertawa. Kali ini lebih keras hingga menarik perhatian ibunya yang sedang membelikannya balon. Tiba-tiba saja ia merasa sedih dn merindukan kedua orang tuanya.
'Hah―'
Ia kembali berjalan dan menembus semua orang yang melewatinya.
'Kemana aku pergi setelah ini?' pikirnya. Dan ia masih terus berfikir sambil memandang jalan sampai ia sadar saat melihat sepatu seseorang memenuhi pandangannya. Ia mendongak dan mendapati seseorang berdiri tepat di depannya memandang lurus. Dari pakaiannya Jaehyun bisa menebak jika ia adalah salah satu murid dari sekolah yang sama dengannya dulu saat ia masih hidup.
'Huh?' Jaehyun dibuat heran. Pemuda berambut hitam itu tidak melanjutkan langkahnya, tetapi menggeser tubuhnya ke kiri baru kemudian berjalan lagi sambil melewati Jaehyun tanpa menembusnya.
Apa kebetulan? Batin Jaehyun bertanya-tanya.
Ini reaksi yang berbeda dari semua orang yang pernah ia temui sebelumnya. Karena seperti yang sudah disebutkan, semua orang hanya akan berjalan begitu dia ada di depan mereka dan menembusnya seakan tidak ada apapun.
Jaehyun berlari mengejar dan kembali diam di hadapan pemuda itu. Dan pemuda itu berhenti! Kali ini ia berjongkok sebelum mengambil arah kanan untuk menyebarang.
Ini mencurigakan!
Jaehyun menjadi lebih bersemangat mengejar pemuda itu, yang sepertinya menambah kecepatannya. Dengan susah payah ia bisa kembali berhenti di depannya. Dan gotcha! Pemuda itu kembali berhenti.
'Kau bisa melihatku kan?'
Pemuda itu diam memandang lurus ke depan seakan tidak melihat dan mendengar apapun.
'Jika kau memang shaman. Maka bantulah aku! Kumohon!'
Pemuda itu mengerutkan keningnya seperti berfikir. Jaehyun tersenyum. Tapi senyumnya luntur seketika saat melihat pemuda itu malah berbalik dan berjalan pergi setelah menjentikkan jarinya.
'H-hei, tunggu!' Jaehyun melongo. 'Kau tidak bisa pergi! Kau harus membantuku!' Ia berteriak dan mengejar pemuda itu lagi. Ia yakin jika kecurigaannya benar. Pemuda itu memang bisa melihat dan mendengarnya. Pemuda itu adalah orang yang ia cari seharian ini.
Dia pasti shaman!
Baiklah. Anggap saja ini sebagai hari sialnya. Setelah seharian yang menyebalkan di sekolah kini ia harus bertemu dengan makhluk sepertinya di jalan pulang. Terkutuklah kekuatan sialannya ini.
'Kau bisa melihatku kan?'
Tubuhnya menegang saat mendengar itu. Dia tahu jika kelakuannya yang tiba-tiba berbelok tadi memang mencurigakan―meski ekspresi datarnya sempurna tetap saja sepertinya hantu itu curiga. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Ia hanya tidak mau berakhir dengan memberikan tubuhnya pada dia. Orang-orang istimewa sepertinya memang lebih mudah untuk dirasuki arwah. Terakhir kali dia ingat, ia bahkan hampir membunuh orang dengan tangannya karena dendam sang hantu yang merasuki tubuhnya.
'Jika kau memang shaman. Maka bantulah aku! Kumohon!'
Alisnya mengerut seperti berfikir.
Shaman? Dia tahu tentang shaman?
Ini bukan pertama kalinya dia melihat pemandangan seperti ini, melihat hantu memohon meminta bantuannya setelah tahu dia seorang shaman. Dan karena sifat 'mudah kasihan' yang ia punya dulu, ia harus mengalami saat-saat sulit dengan permintaan-permintaan mereka. Tapi sekarang? Maaf saja, dia tidak mau repot-repot. Dia memang bisa melihat dan mendengar mereka, tapi ia tidak merasa punya kepentingan untuk menunjukkannya. Masih banyak hal yang bisa ia lakukan, mengerjakan tugas misalnya.
Karena nilainya jelek semester kemarin. Ia benar-benar dihukum. Tidak ada lagi latihan dance, tambahan uang saku, main sepulang sekolah, game. Semua itu adalah daftar hal-hal yang harus ia hindari. Jadwalnya sekarang berubah hanya menjadi belajar-belajar-belajar.
Dia tidak punya waktu untuk jadi konsultan hantu.
Baiklah ini akan sangat menjengkelkan.
Pemuda itu berbalik dan terus berjalan. Berpura-pura tidak mendengar setiap rengekkan hantu itu.
'H-hei, tunggu! Kau tidak bisa pergi! Kau harus membantuku!'
'Halo?'
'Tolong bantu aku. Hanya sekali ini saja. Eh, tunggu―sebenarnya aku punya banyak permintaan. Tapi ini yang paling penting. Kumohon-kumohon-kumohon!'
Dasar bodoh, batinnya. Ia sudah sangat ingin berteriak mengusir hantu itu dari hadapannya karena begitu berisik, ia tetap menahan mulutnya. Akan repot jika sekali saja ia berbicara padanya. Selain orang-orang akan mengganggap dirinya gila karena berbicara sendiri, harapannya untuk menjalani kehidupan seperti manusia normal juga akan pupus.
Pemuda itu, sekali lagi, hanya menghela nafasnya berat.
Aku hanya akan mencoba mengabaikannya, dan membuatnya yakin jika aku hanya manusia biasa.
"Lee Taeyong, ada apa denganmu? Wajahmu semakin jelek."
"Berisik." Wajahku jadi jelek karena aku tidak bisa tidur semalam, tambah pemuda bernama Taeyong itu dalam hati. Bagaimana dirinya bisa tidur jika sesuatu mengikutinya kemanapun dia pergi―termasuk kamar mandi―dan merengek tanpa henti. Membuatnya risih di kamarnya sendiri dan membuatnya terjaga sepanjang malam. Mungkin ini karena kekeraskepalaannya, tapi sesuatu itu juga keras kepala! Kan kesal!
Johnny mencibirnya. "Lagian kenapa kau memandangi adik kelas itu terus?" herannya. "Kau menyukainya, ya?"
Taeyong yang sedang memangku dagunya dengan sebelah tangan di atas meja tersenyum menatap Johnny. Johnny membalas senyumnya dengan alis naik-turun, tapi Taeyong malah langsung membuat tampang datar. "Memang siapa di?" tanyanya tanpa dosa. Saking tanpa dosanya Johnny yang baru jatuh dari kursinya itu ingin sekali memukul kepalanya dengan benda keras.
"Serius kau tidak tahu dia?" Johnny menyerhit. "Yakin kau anak sekolah ini?"
Taeyong mendengus. "Memang dia artis apa sampai harus aku tahu?"
"Dia memang bukan artis! Tapi dia Ten Chittaphon Leechaiyapornkul!"
"Siapa?" Ten Chittaporn―
"Ten Chittaphon Leechaiyapornkul! Ten! Pemuda asal Thailand itu!"
"Tidak kenal. Kau tahu dia?" tanyanya terdengar tidak tertarik. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan lirih yang ia dengar semalam.
.
.
'Kumohon.
Aku tahu, aku mungkin saja mengganggumu. Maafkan aku. Aku... aku berjanji tidak akan melakukannya lagi setelah ini. Jangan berpura-pura. Aku tahu jika kau mendengar dan melihatku. Aku butuh bantuanmu. Sekali saja. A-aku―aku ingin mengungkapkan perasaanku pada orang yang kukagumi. Tapi aku tidak bisa melakukannya karena aku hanya hantu. Hanya kau yang bisa menolongku. Aku ingin tenang dan pergi dengan damai setelah kematianku.
Aku… mohon.'
.
.
Taeyong tidak mendengar lagi semua ocehan Johnny tentang apa dan bagaimana sosok Ten Chittaporn itu. Ia terlalu sibuk memandang sosok sang hantu yang terus mengikuti pemuda Thailand itu kemanapun.
"Che, Jung Jaehyun- bodoh. Kau bahkan tidak tahu jika kau belum mati." gumam Taeyong pelan.
"Apa katamu? Kau bicara sesuatu?"
"Tidak."
Johnny menatapnya curiga. "Jelas-jelas aku mendengarmu bicara tadi!"
"Berisik, Johnny." Taeyong bangkit dari duduknya setelah melihat hantu itu sekali lagi. "Ayo, pergi." Dan dia melenggang cuek.
Nah, sekarang, apa yang sebaiknya ia lakukan?
TBC
Thanks to reviewer:
ChiminChim | chocomilkshake | Hilo17 | Arisa Hosho | Shim Yeonhae | Dear91jinwoo
Mind to review?
