.
.
.
Brother-Complex © Choco_Chi .
.
.
.
Main Cast :
Wu Yifan Kim
Junmyeon (GS)
Oh Sehun
.
Support :
EXO Member and other cast
.
Genre :
Family; Romance; Hurt
.
Warning :
Meski pun ini fanfic GS tapi reader sekalian masih akan menemui hints Yaoi cukup sering dalam cerita ini. Bagi reader sekalian yang tidak suka genre Yaoi tidak dianjurkan untuk lanjut membaca, hints Yaoi yang muncul tidak bisa di skip karena bagian dari inti cerita dan pemicu konflik-konflik yang menggiring cerita menuju bagian akhir. Fyi, hints Yaoi yang muncul di cerita ini masih tergolong dalam setatus ringan.
.
Disclaimer :
EXO punya SM Enterteiment, member hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, saya cuma pinjem nama dan isi cerita sepenuhnya dari pemikiran saya.
.
Summary :
Suho tak mengidap brother-complex, ia hanya menyayangi Sehun lebih dari apapun dan ingin menjaganya dari segala pengaruh buruk di masa muda. Termasuk dari Wu Kris, lelaki berjiwa bebas yang ia anggap akan menjerumuskan Sehun dan mengingatkannya pada luka di masa lalu.
.
.
.
.
Chapter 1
.
.
Suho yang sejak sepuluh menit lalu berdiri di depan jendela ruang tamu—mengintip keluar ke arah pintu gerbang—buru-buru berlari ke ruang keluarga. Ia duduk bersilang kaki kembali di sofa kemudian menyalakan tv dengan remot control. Tak lupa segelas coklat—yang tadinya panas—di atas meja yang sempat terabaikan ia genggam kembali dengan kedua tangannya. Benar-benar berusaha kembali ke posisinya seperti satu jam yang lalu.
Rupanya, barusan Suho melilihat mobil audi hitam milik Sehun datang dan mulai memasuki pekarangan rumah.
"Oh! Noona?" Pekik seseorang yang baru saja memasuki ruangan dari arah pintu masuk.
"Dari mana?" Celetuk Suho to the point.
"Umm.. itu.. bersama teman-teman~" Gugup, Sehun menjawab pertanyaan kakaknya itu dengan terbata bahkan tak jelas apa maksudnya.
Dengan perlahan Suho meletakkan mug di tangannya kembali ke meja, kemudian mengalihkan pandangannya dari arah televisi ke wajah adiknya. "Dari mana?" Ulang Suho berusaha merubah suaranya sedingin mungkin. Ia ingin Sehun menyadari kemarahannya secaara tidak langsung.
"Baiklah. Baiklah. Aku mengaku, aku dari club bersama teman-teman!" Seru Sehun dengan cepatnya.
Detik itu juga kedua mata si anak tertua berubah bagai elang, menajam dengan kilat keganasan.
"Kau—"
"Sumpah! Aku tak minum alcohol sedikit pun, Noona!"
Baru saja Suho membuka mulut, Sehun langsung memotongnya.
"Noona bisa memeriksa nafasku, aku benar-benar tak minum alcohol! Aku bersumpah!" Si pirang kembali bersua, kali ini dengan tubuh yang berulang kali membungkuk. Wajah tampan yang terlihat lebih dewasa dari pada umurnya itu pun terlihat cemas dan gugup. Takut sang kakak marah karena berfikir yang tidak-tidak.
Melihat apa yang dilakukan adiknya, Suho menghela nafas panjang kemudian mengusap wajah kantuknya dengan sebelah tangan. "Baiklah aku percaya" Katanya kemudian masih terdengar dingin.
"Benarkah?" Sehun berhenti membungkukkan tubuhnya. "Syukurlah..." Ucapnya kemudian merasa lega.
"Hum." Suho mengangguk kan kepalanya.
Sehun yang merasa keadaan sudah aman kemudian duduk di samping kakaknya, bersandar santai sambil meregangkan kedua tangannya ke atas. Bahunya terasa sedikit pegal setelah menyetir hampir satu jam.
"Kau tadi bertemu dengan teman-teman sekelasku?"
Sehun menoleh, kemudian menganggukan kepalanya. "Aku tak sengaja berpapasan dengan Kris-hyung dan yang lainnya di dekat pintu keluar. Setelah bertegur sapa dan pamit ingin pulang, Chanyeol-hyung dan Lay-hyung malah menarikku lagi ke dalam. Mereka tidak memperbolehkan ku pulang sampai diizinkan." Jawab Sehun menceritakan awal pertemuannya dengan teman-teman sekelas sang kakak.
Tangan Suho langsung terkepal. Raut kesal menghiasi wajahnya yang cantik. 'Sial. Rupanya mereka benar-benar ingin membuatku marah. Awas kalian!' Runtuknya dalam hati.
"By the way, kenapa jam segini Noona belum tidur?"
Suho mendengus, membawa tangannya ke wajah Sehun kemudian mencubit pipi mulus adiknya dengan begitu gemas. "Tentu saja menunggumu." Jawab Suho sedikit kesal dengan pertanyaan yang adiknya lontarkan.
"Ish! Noona lepas, appo~" Sehun meringis, meraih tangan kakaknya dengan kedua tangan unuk lepas dari cubitan mautnya. "Aku sudah besar Noona, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagi pula ada Kai juga Tao yang jago wushu bersamaku, jadi aku tidak akan kenapa-napa kalau pun ada masalah." Lanjut Sehun susah payah mencoba membela diri.
"Apa wushu temanmu itu bisa menyelamatkanmu dari hukuman Eomma?" Suho melepaskan cubitannya, meninggalkan tanda merah lumayan pekat di pipi putih adiknya. "Kau tahu betapa kagetnya aku melihat kamarmu masih kosong padahal sudah lewat jam sebelas malam? Bagaimana kalau Eomma menelfon dan menanyakan keberadaanmu? Aku harus jawab apa, huh?"
"Jawab saja aku sudah tidur, kan gampang. Lagi pula Eomma tidak akan bisa mengeceknya." Celetuk Sehun tak acuh masih mengelus-elus permukaan pipinya yang memerah.
"Kalau Eomma tidak percaya dan meminta fotomu di tempat tidur sebagai bukti bagaimana? Bukan hanya kau yang akan mendapat hukuman begitu Eomma pulang dari Cina, tapi aku juga. Lagi pula kau ini masih di bawah umur, tak sepantasnya pulang selarut ini apa lagi dari club malam. Aku tidak mau kau jadi seperti App—"
"Noona!" Sehun membungkam mulut Suho dengan telapak tangannya. Membuat Suho berhenti mengoceh dan mempoutkan bibir merahnya.
"Oke. Oke. Aku minta maaf, aku mengaku salah dan tidak akan mengulanginya lagi. Tapi—" Sehun menarik tangannya, menyandarkan kembali bahunya pada sofa kemudian menutup kedua matanya menggunakan pergelangan tangan. "—jangan samakan aku dengan pria itu." Lanjut Sehun pelan serupa bisikan.
Detik itu juga mata Suho membelalak.
Apa yang sehun katakan memang pelan namun masih bisa jelas Suho dengarkan.
'—jangan samakan aku dengan pria itu.'
Suho menggigit bibirnya, memandang wajah Sehun yang tertutup tangan dengan raut yang berubah sendu. Gadis berparas cantik dengan rambut coklat sebahu dan kulit seputih salju itu sunggu menyesali perkataannya. Perkataan yang hampir menyamakan perilaku adiknya dengan orang yang paling mereka berdua benci. Orang yang bertahun-tahun lalu telah menyakiti mereka begitu dalam. Dan disamakan dengan orang jahat seperti itu tentu saja menyakitkan hati.
"Maaf." Suho berkata lirih, memegang bahu Sehun dan menundukkan wajahnya. "Aku tidak bermaksud seperti itu, maafkan aku Sehunah~" Maaf Suho sekali lagi.
Merasakan sentuhan di bahunya berubah menjadi remasan pelan, Sehun membuka mata dan menegakkan posisi duduknya.
Kali ini gantian Sehun yang membelalakan mata, mendapati sang kakak tengah munundukkan kepala dengan bahu yang sedikit bergetar.
"Noona, uljima!" Seru Sehun langsung menarik Suho ke dalam pelukannya. "Aku tidak papa, aku mengerti tadi Noona hanya tidak sadar mengatakannya karena terbawa suasana. Jadi jangan menangis ne.. wajah Noona kan jelek kalau sedang menangis~" Hibur Sehun diakhiri godaan seraya mengelus-elus punggung Suho dengan sayang.
"Memangnya kau tampan saat menangis, huh?" Sahut Suho tak jadi mengeluarkan air matanya. Ia malah mengerucutkan bibir, membenamkan wajahnya pada dada Sehun yang bidang dan balas memeluknya.
Sehun pun tersenyum, merasa senang kakaknya tidak jadi menangis.
"Noona.. apa masih ada sisa makan malam di dapur?" Suho mendongak, menatap bingung pada wajah Sehun yang ternyata tengah menunduk ke arahnya. "Aku lapar~" Rengek Sehun kemudian.
"Ada, aku akan menghangatkannya. Tapi.." Suho membenamkan wajahnya lagi di dada Sehun. "..lima menit lagi, aku masih mau dipeluk." Lanjut Suho manja membuat Sehun tertawa dan mengecup singkat puncak kepalanya.
Dan disaat seperti ini lah akan sulit dibedakan, siapa yang berstatus kakak dan siapa yang berstatus adik. Padahal baru dua puluh menit yang lalu Suho begitu dominan, namun sekarang bisa dilihat gadis yang usianya lebih tua tiga tahun dari adiknya itu meringkuk nyaman bak anak kecil dalam pelukan saudaranya yang tumbuh begitu tinggi dan juga gagah.
Line!
Suho mendecak.
Masih dalam rengkuhan Suho berusaha meraih ponsel pintarnya di sofa tepat di belakang Sehun duduk dengan sebelah tangan. Setelah bersusah payah mengulurkan tangannya yang tak begitu panjang, akhirnya benda persegi itu dapat ia raih dan genggam di depan wajahnya.
"Siapa?" Sehun bertanya, penasaran siapa yang mengirimi kakaknya pesan di jam seperti ini.
Suho mengetikkan beberapa digit angka untuk membuka kunci layar di ponselnya. "Chanyeol." Ucap Suho membaca nama yang tertera di notifikasi layarnya. "Dia mengirimkan sebuah foto." Tambah Suho seraya mengklik notifikasi linenya untuk melihat gambar apa lagi yang teman berengseknya itu kirimkan.
"Chanyeol-hyung?" Tiba-tiba saja Sehun memekik, ikut melihat layar ponsel kakaknya dengan ekspresi wajah yang sedikit panik. 'Jangan! Jangan foto kejadian tadi, aku mohon jangan!' Rapal Sehun makin panik dalam hati melihat gambar itu selesai di unduh dan..
Bam!
"Wu.. Kris, naga sialan!" Hardik Suho marah begitu melihat Chanyeol dan Lay memegangi tubuh Sehun dengan Kris yang nampak berusaha menempelkan bibir tebalnya yang mengerucut pada bibir tipis Sehun yang nampak mati-matian ia katup rapat di dalam foto yang Chanyeol kirimkan itu.
Ruapanya Wu Yifan benar-benar cari mati.
"Noona, itu tidak seperti yang Noon—"
"Bersiaplah Wu Kris, besok kau akan mati di tanganku."
"Hatcihh!"
Dua pasang mata di jok depan sebuah mobil ferrari merah itu sontak menoleh ke arah belakang, pada si pemilik mobil yang tengah meringkuk lemah dengan badan yang bergetar seperti sedang menahan dinginan.
"Kris, kau yakin tidak mau ku antar ke rumah sakit?" Tanya Lay dari kursi kemudi, menatap pria berambut blonde di jok belakang itu dengan tatapan penuh kekhawatiran. Kris yang semakin bergelung di jok belakang menggelengkan kepala, memberi jawaban non ferbal pada sahabatnya agar tidak usah mengkhawatirkannya. "Apa perlu ku matikan ac-nya?" Tanya pria berlesung pipi itu kembali.
"Tidak usah, kau jalankan saja mobilnya Lay. Aku ingin cepat-cepat sampai ke rumah dan istirahat." Tolok Kris kali ini mengeluarkan suaranya. Bukan tanpa alasan Kris menolak atau ingin dianggap kuat padahal kondisi tubuhnya dirasa cukup buruk, tapi karena cuaca Seoul malam ini begitu dingin. Bila mereka mematikan ac-nya, maka kaca mobil bagian dalam akan berembut sepenuhnya dan mengurangi jarak pandang si pengemudi.
Menstarter mesin, Lay mulai menginjak pedal gas dan menjalankan mobil sport itu keluar dari parkiran club langganan mereka selama dua tahun belakangan ini. "Kris aku heran, kenapa kau bisa mendadak sakit seperti ini? Padahal tiga puluh menit yang lalu kau baik-baik saja bahkan bisa menggoda dan menggerayangi gadis-gadis sexy di club tadi dengan kedua tanganmu itu. Tapi lihat sekarang, bahkan untuk duduk di kursi pun kau benar-benar tak sanggup. Sebenarnya kau ini kenapa?" Lay membuka pembicaraan, bertanya kembali pada Kris setelah mobil merah itu sudah melaju mantap di jalan utama menuju kediaman keluarga Wu berada.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja tubuhku merasa kedinginan dan perasaanku benar-benar tidak enak. Mungkin aku terlalu banyak minum dan tidak sadar jika kondisiku ini memang sedang tidak fit." Jelas Kris menjawab pertanyaan yang temannya lontarkan. Iya, mungkin kondisinya memang sedang tidak fit mengingat cuaca di Seoul beberapa hari belakangan ini lebih dingin dari biasanya.
Tapi.. jika dipikir-pikir mana mungkin hanya karena cuaca seperti ini tubuh Kris yang kuat jadi melemah. Bukankah setiap hari Kris mengkonsumsi banyak vitamin dan suplemen untuk menjaga tubuhnya tetap bugar dalam keadaan dan cuaca apa pun?
"Yah.. mungkin saja itu alasannya." Timbal Lay mengangguk-anggukkan kepalanya masih dengan penuh konsentrasi mengemudikan mobil kesayanagan sahabatnya itu. "Sebaiknya begitu sampai di rumah kau segera minum gingseg merah dan.. yaa! Park Chanyeol! Sebenarnya apa yang sedang kau lihat sampai senyum-senyum bodoh seperti itu, huh? Kau menonton film porno?"
Chanyeol yang sejak tadi diam dan sibuk dengan ponselnya, mendongak, menatap Lay dengan wajah cemberut karena tak terima diteriaki dan dituduh yang tidak-tidak oleh sahabatnya itu.
"Enak saja, siapa yang menonton film porno? Walau begini-begini juga aku masih tahu kapan dan di mana tempat yang nyaman dan baik untuk menonton. Kau pikir aku ini maniak." Sergah Chanyeol sedikit emosi.
"Siapa yang tidak akan salah sangka, jika melihat kelakuanmu itu yang terus tersenyum aneh dan kadang terkikik sambil memandangi layar ponsel seperti itu. Memang apa yang kau lihat sampai membuatmu seantusias itu selain film porno, huh?"
Chanyeol mengunci layar ponselnya kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali. Ia sedikit bingung harus menjawab apa, haruskah ia jujur bahwa saat ini ia sedang menggoda Suho dengan mengirimkan beberapa foto mereka yang ia ambil tadi di club bersama Sehun?
Tidak. Tidak.
Candaannya kali ini cukup spektakuler dan akan menyeret Kris—sahabat baiknya—menjadi korban keganasan Suho esok hari di kampus. Jika Chanyeol menceritakan semuanya saat ini, ia akan diamuk duluan oleh Kris dan pastinya besok Kris tidak akan datang ke kampus sampai beberapa hari ke depan hingga emosi Suho sudah mulai menjinak kembali. Dan Chanyeol tidak mau itu sampai terjadi.
Jujur saja, Chanyeol begitu menikmati pertengkaran yang terjadi antara Kris dan Suho setiap harinya. Ia suka baimana Suho dengan badan kecil dan terlihat rapuh itu memiliki kekuatan besar untuk menyiksa Kris yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari pada gadis manis itu.
'Bahkan aku yang hampir sama besarnya tak mampu mengalahkan Kris dalam berbagai adu fisik, tadi Suho dengan penampilan lemah dan tubuh sekecil itu...'
"Aku sedang chating bersama Baekhyn." Jawab Chanyeol pada akhirnya meski memerlukan waktu yang cukup lama. Dan sepertinya Lay percaya, buktinya pria berlesung pipi itu hanya mengangguk, tak melontarkan pertanyaan lebih lanjut dan lebih memfokuskan diri pada jalanan di depannya.
Chanyeol pun bisa bernapas lega.
"Ahh.. kenapa perasaanku benar-benar tidak enak, seakan akan ada hal yang buruk menimpaku esok hari." Celetuk Kris lemah seraya memejamkan mata tajamnya.
Lay memicing, memandang Kris dari spion depan dengan tatapan tidak suka. "Jangan berpikir yang macam-macam, Kris!" Lay memberikan peringatan.
Sementara itu di samping Lay, Chanyeol hanya bisa diam, memandangi layar ponselnya yang berisi ancaman-ancaman kejam yang akan Suho lakukan pada Kris saat mereka bertemu esok hari di universitas.
"Maafkan aku, Kris." Gumam Chanyeol begitu pelan hingga tak dapat didengar siapa pun di dalam mobil.
'Katakan pada Kris untuk besiap, besok aku akan membawa benda ini dan menghantamkannya pada kepala si berengsek itu sampai dia gegar otak!' Ancam Suho terakhir kali diikuti sisipan foto yang memperlihatkan sebuah palu mainan dari plastik solid yang masih akan terasa menyakitkan bila benda itu menghantam tubuh apa lagi di bagian kepala.
.
.
TBC
.
.
.
.
Mind to review?
.
.
— Choco_Chi —
9/5/2016
