(Aku menambahkan OC untuk kebutuhan cerita, maaf jika tidak berkenan. Dan maaf kalau menghancurkan ekspentasi kalian. Salam. Soochan.)

.

.

.

"Sudah selesai, Jimin."

Hansoo berdiri dengan wajah yang tiada ada suatu ekspresi. Tangannya mengepal. Dari situ, pemuda berpipi tembam itu tahu bahwa laki-laki di depannya sedang menahan diri, entah dari kekalutannya atau dari kemarahannya.

Jimin menggenggam pistol di tangannya, hampir-hampir menangis, namun itu ia tahan-tahan karena tidak dirasanya itu pantas.

"Ini keinginanmu, bukan?" Hansoo menarik napas, entah kenapa tiba-tiba merasa berat hati pula. "Apa kau tidak merasa bersalah dengan Yoongi?"

Jimin terkekeh, berkata "tidak," sejalur dengan suara selongsong senapan yang menembus kepala. Serayaan dengan darah yang membercak dan pada tubuh yang terdiam tidak bergerak-gerak.

"Bukankah di sini kau yang sinting, Jimin? Kau bahkan masih bisa tersenyum."

.

.

.

.

"Namjoon!"

Seokjin tersentak, bangun dari tidurnya dengan keringat dingin yang merembesi tiap-tiap ujung dahi hingga dagunya. Begitu ia membuka mata, sosok Namjoon dengan tampang bodohnya berjingkat dari sebuah kursi, tersenyum miring.

Pagi itu tiada ada nyinyitan suara bayi. Terlihat lebih sunyi dari biasanya. Namun napas memburu Seokjin membuat laki-laki dengan lesung pipi itu melayangkan tubuhnya di atas udara dengan sebelah alisnya yang terangkat.

"Kau tidak apa-apa?"

"Ya," Seokjin mengibaskan tangan, turun dari tempat tidur. Ia menoleh pada gorden jendelanya yang tidak pernah ia kutak-kutik, takut akan membangunkan dan menganggu sesuatu. Mata mungil yang terselebung merah darah, suara sesak yang keluar dari mulutnya, sedang tubuhnya yang terlilit ujung kain gorden masih basah sedikit oleh darah yang melumuri tubuhnya, dan ia memakukan mata pada orang-orang di sana, pada Namjoon yang asing dan Seokjin.

"Kau menyebut namaku tadi," ingat Namjoon, peluh di wajah orang di hadapannya itu jelas terlihat, sehingga Seokjin tidak bisa memberikan suatu alasan yang mengada-ngada. "Kau mimpi buruk tentang aku?"

"Ehm," sejenak mata Seokjin tidak terlihat kalut, sejenak ia menampik semua hal dan seolah terlihat baik-baik saja, namun pada akhirnya helaan napasnya keluar dan tangannya bergerak untuk menyentuh Namjoon, namun laki-laki itu malah melayang mundur.

"Mimpi buruk, dan aku butuh pelukan, Joonie."

"Ah, lama sekali kau tidak memanggilku seperti itu."

"Boleh aku memelukmu?"

"Hari ini kita akan mencari Jimin."

"Joonie, aku bertanya, bisakah aku menyentuhmu?"

Namjoon menaikkan tubuhnya sedikit lebih tinggi, hampir mengenai langit-langit. Ia menggeleng dengan seluruh keengganan pada matanya, walaupun terlihat ia pun juga sama menginginkannya.

"Hari ini kita pergi mencari Park Jimin."

Seokjin mendesak, diturunkanlah tubuhnya dan ia langsung menuju kamar mandi, terkejut ketika mendapati dua anak kecil memelototinya, salah satunya duduk di atas wastafel, yang lain berdiri tidak jauh. Anak-anak di tangga itu, ingat Seokjin, sembari ia menutup kembali pintu.

Mereka berwajah pucat, tersenyum dan bermata lebar. Mereka berkeliaran sesekali, namun menjatuhkan diri dari ketinggian adalah kesukaan wajar yang Seokjin ngerikan. Wajah mereka tidak pernah benar-benar utuh, Seokjin tidak pernah melihat mereka dalam keadaan utuh. Karena selalu, mata dan mulut mereka yang sobek dan menyurut ke bawah itu menampar-nampar nyali laki-laki berbahu lebar itu.

"Hm, tidak mandi?"

"Tidak," dilemparkannya handuk ke atas tempat tidur, mengganti baju dan segera membuka kamar, setelah sebelumnya ia melongokan kepalanya pada Namjoon, dengan alisnya yang setengah terangkat dan bibirnya yang tersenyum.

"Mencari Park Jimin, kan?"

Mereka turun dari tangga, mendapati Tn. Kim berselonjoran kaki pada sofa, mendengkur dengan berisik walau pagi telah menyapa-nyapa lewat jendela-jendela yang kerainya ditutup sembarangan. Seokjin melangkahi lantai dengan berjinjit-jinjit, sebelum ia sampai pada pintu depan dan tidak mendapati sepatu ibunya di sana.

"Ke mana?" tanyanya, masuk ke mobil, sudah menaruh tangannya di setir dan siap menyendara.

Namjoon berpikir sebentar sebelum berucap. "Sekolah Menengah Seonyeon, Baekhyun bilang Park Jimin teman lama Taehyung saat SMA. Kita mungkin bisa bertemu adik kelas mereka dan menanyakan sesuatu."

Seokjin mengangkat bahu, selama itu, mulutnya lebih sering terkatup. Ia tidak ada meluncurkan sebuah kata-kata, hanya dehaman dan helaan napasnya saja yang lebih banyak terdengar.

"Menurutmu, Park Jimin, salah satu dari yang jahat atau yang baik?"

Namjoon mengangkat bahu, tidak terlalu memperhatikan Seokjin, ia lebih memilih pinggiran kota dan deretan bangunan yang saling berkejar-kejaran begitu terlewat. "Ia mengingatkan Taehyung pada kopinya yang beracun, ia melarang Taehyung keluar atas alasan tertentu. Namun jelas Park Jimin mengerti banyak keadaan, ia tahu bahwa keadaan Taehyung terancam sejak kasus Hoseok. Ia mungkin mengikuti Taehyung dan Jungkook sampai ke kafe. Bahkan, mungkin, ia juga yang menaruh racun di kopinya."

Seokjin menggenggam setir lebih kuat, jika ia benar-benar bertemu Park Jimin, mungkin saja ia akan menjadi arwah gentangan selanjutnya yang meminta bantuan. Itu membuatnya bergidik, memikirkan hal-hal tentang kematiannya sendiri.

"Pesan itu bisa saja tidak dikirimkan oleh Jimin," Seokjin berdecak di kursi kemudi, menatap sunyi pada gerbang sekolah yang ditujunya, merasakan sebuah mencekam yang menggebu-gebu. "Seseorang bisa saja mencoba memberitahu Taehyung lewat ponsel Jimin, mungkin Jimin sedang menyekap orang itu, mungkin ..."

"Jangan berpikir sejauh itu dulu," Namjoon keluar dari mobil dengan dehaman, menatap seorang pria paruh baya sedang menyapu di halaman, bersenandung asal. Di pundaknya, seorang perempuan kecil dengan luka melintang di tengah wajah ikut meyenandungkan sebuah nada, suaranya pelan, hampir tidak terdengar. "Coba kau tanya dia, murid-murid mungkin masih belajar, kita tunggu sampai pulang baru kita tanyai mereka juga."

Seokjin mengerutkan dahi tidak suka, ia berjalan perlahan-lahan, mendekati pria itu dengan kalut di maniknya. "Eum, Tuan?"

"Ah, anak muda! Tidak boleh masuk tanpa izin!"

"Ah, maaf, aku ingin bertanya sebentar saja," ia berbisik pelan-pelan, hingga pria di depannya memajukan tubuh ke depan, membuat gadis kecil di bahunya bergelayut dan memakukan mata langsung pada Seokjin. "Apa Tuan tahu seorang siswa bernama Jimin?"

"Jimin?" ia menggaruk dagu, menghela. "Lama sekali tidak menemukan anak licik itu, kukira dia sudah lulus."

"Licik?"

"Jahat!" suaranya hampir terdengar memekik sehingga Seokjin mundur dengan konstan. "Sering sekali berkelahi! Aku ingat dia pernah mengaku sengaja mendorong seorang temannya yang tidak bisa berenang ke kolam sekolah. Berhubungan dengan guru-guru pria untuk mendapat nilai!"

Seokjin merasakan bulu kuduknya sedikit meremang mendengarnya. Dan ia tahu bahwa pria di depannya ini begitu tidak menyukai eksistensi Jimin selama di sekolah.

"Yah, tapi aku tidak pernah mendengarnya lagi, ada apa memangnya?"

Laki-laki itu langsung berkata dan meluncurkan kalimat tanpa ada pertanyaan yang mendasari. Sehingga Seokjin harus tersenyum canggung dan memberikan sedikit pertanyaan lagi. "Dan Tuan tahu Kim Taehyung? Atau hubungan apa yang ada antara Jimin dan Taehyung?"

"Tidak!" serunya, ia menggosok lehernya dengan kaku, mendesah mengenai nyeri otot di lehernya. Seokjin tidak berani berkata-kata mengenai sosok perempuan di pundak laki-laki itu, sehingga ia menjadi diam lagi.

Ia berkata terima kasih dan mundur. "Kita tunggu sampai sekolah selesai?"

"Yap," Namjoon menatap matahari yang menyengatkan, mulai merambati pagi yang hilang sudah dinginnya. "Tapi kurasa kita bisa menyelinap menuju ruang penyimpanan dan mencuri berkas Jimin."

"Kau itu wow sekali Namjoon," Seokjin memutar mata, namun ia berjalan mengendap-endap menuju pagar belakang sekolah. "Kau tahu tempat menyelundup tanpa sarang laba-laba dan potongan kepala?"

.

.

.

.

"Dia sudah tidak tinggal di sini."

Tubuh yang bergetar, mata yang mengerjap dengan tiada tahan untuk meneriakkan sebuah permintaan tolong tanpa suara. Berdiri menggantung pada sudut lemari yang sempat diliriknya dengan mata, kemudian membuang wajah pada sosok remaja perempuan yang berada di depan pintu.

"Kau tahu dia pindah ke mana?"

"Park Jimin punya seorang kekasih, dia tinggal di apartemen kekasihnya, akan kutuliskan alamatnya jika kau mau."

"Ah, ya, terima kasih," Seokjin tersenyum, entah dia harus bernapas lega atau tidak. Perjuangannya menyelinap ke dalam ruang penyimpanan dan mencuri data orang itu termasuk tindakan kriminal. Dan usaha tidak sia-sia.

Namun bayangan tubuhnya yang menggelantung, bersimbah darah, dan meneriakkan tolong dengan suara tercekik merambati kepalanya seperti hujan meteor panas yang membuatnya sakit kepala. Mengenai seberapa jahat sosok yang dicarinya.

"Ini."

Perempuan itu menjulurkan kertas, dan Seokjin langsung menyambutnya dengan sebuah senyum dan dua deret terima kasih. Begitu ia masuk kembali ke mobil, Namjoon sudah duduk di sana, menatap Seokjin dengan nanar.

"Jangan menatapku seperti anjing tidak tahu diri."

"Kau manis sekali," Namjoon tersenyum jahil, kembali menatap ke depan. "Membantu kekasihmu untuk kembali ke alam baka."

"Kenapa kau membahasnya sekarang?"

"Well, kasusnya hampir selesai."

Seokjin tahu. Ia merasakan keringanan dalam manik Namjoon, seolah beberapa beban bisa terangkat setelah sekian lama. Ia tahu setelah kasus ini, maka yang ada hanya dirinya sendiri. Sehingga ia tiada ingin membahaskan perasaannya itu dan melajukan mobil, berusaha untuk mengulur waktu, berusaha menjaga Namjoon untuk terus menerus ada.

Begitu sampai di sana, Seokjin menemukan pintu apartemen yang bergeming bahkan setelah berkali-kali ia memanggil. Sampai seorang wanita paruh baya keluar dari apartemennya, menanyakan atas dasar apa keributan yang Seokjin buat.

"Ah, Jimin dan Yoongi maksudmu?"

"Yoongi?"

"Kekasih Jimin, pemilik apartemen ini. Laki-laki malang itu sakit keras sejak setahun yang lalu. Berada di rumah sakit dan entah bagaimana keadaannya sekarang. Jimin juga tidak terlalu sering terlihat lagi."

"Apa mereka pernah terlibat masalah apa pun?"

"Ah, tidak, mereka akur sekali, bahkan mendengar mereka berteriak saja tidak. Yoongi memang sedikit overprotektif mengenai Jimin, namun dia sosok yang baik dan aku tahu Jimin nyaman di dekatnya. Belakangan Yoongi harus berhenti bekerja, dan Jimin mencarikan dana rumah sakit setelahnya, walaupun aku tidak tahu pekerjaan apa yang dilakukannya. Namun seseorang bernama Hansoo sering datang setelah Yoongi dirawat di rumah sakit."

Seokjin mengurut dahinya, merasakan pening yang semakin menjadi-jadi. Sedang Namjoon melirik pada pintu apartemen di sebelahnya. "Apa Jimin selingkuh?"

"Mana kutahu," suara Seokjin terdengar terlalu nyaring sehingga wanita di depannya mengerutkan dahi kebingungan. "Maaf, bisa kau beritahu alamat rumah sakitnya?"

"Ah, ya tentu saja. Tunggu sebentar."

Namjoon menyentuh pintu apartemen, berdeham dengan bibir dimiringkan. "Rasanya hangat."

Seokjin menoleh, mendapati Namjoon sedang mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"

"Dan kejam."

.

.

.

.

"Jika Jimin melakukan tindakan kriminal di apartemennya, itu terasa terlalu tidak mungkin. Terlalu mencolok. Seseorang bernama Hansoo bisa saja kaki tangannya, atau sebaliknya, Jiminlah kaki tangan Hansoo."

Namjoon berjalan di koridor rumah sakit, sesekali menunggu Seokjin yang memperhatikan setiap nomor kamar. "Di rumah sakit selama setahun. Wow."

"Well, mungkin Min Yoongi sudah jadi hantu sekarang," Namjoon mengendikkan bahu, atas perkataan kejamnnya itu, Seokjin memelototinya sebagai ganti pukulan kepala yang tak bisa ia layangkan.

"Min Yoongi?"

Seokjin terperanjat, mendapati seseorang dengan perawakan mungil, rambut kelam yang berantakan, dan sebuah senyum lebar dengan alis terangkat sedang menatap keduanya bergantian.

"Eum, ya, kami mencari kamar Min Yoongi."

"Oh! Kebetulan sekali! Ayo kuantar!" pemuda itu menunjuk ke arah lorong dengan bersemangat. Namun Seokjin tidak mengenal anak itu, jadi ia berdiam ragu. "Tidak apa-apa, aku pacarnya Min Yoongi."

Seokjin mengerutkan dahi. Sekelebat bayangan mengenai psikopat, tukang selingkuh, dan seseorang yang licik menjadi buyar di dalam benaknya. Kini hampir tiada bekasnya lagi jika saja ia tidak mengingatkan diri jika mungkin saja ia berada dalam bahaya.

"Namaku Park Jimin!"

.

.

.

TBC

.

.

.

DAN TE BE CEH

HIYAH.

INI EPEP UDAH BERAPA LAMA SIH JAMURAN?

Dan ini jadi semakin enggak horor aja. Ganti jadi crime sama mystery sajah nanti. Btw, setelah menghilang, kalian tahu kalau aku bakal semakin alay.

Sebenarnya konfliknya umum kok, mungkin udah ketebak. Mengenai OC yang tiba-tiba muncul, maafkan, itu sebuah keharusan. Dan percayalah, Hansoo adalah pacar imajinasiku, karena aku suka sekali berkhayal dan Hansoo jadi terlalu sering masuk ke dalam mimpi dan mencegat peri jahat dengan wajah sok berani. Well, ini curhat, I am sorry.

Apa mau dikata, aku suka sekali curhat di A.N.

Devil Game is still on-going! Not discountinued! Even if I'm not update the new chapter for three years, believe me, I love my own stories like my own child –huh, if I have a child.

Anyway, orang bilang kita harus berimajinasi dengan liar. Saat aku melakukannya atas nama yaoi, itu semua jadi terlalu err ... berlebihan? Tapi yah, terserah, sampai sekarang saya masih suka membayangkan kalau terbang karena bubuk peri itu ada, mungkin.

Aku tahu semua orang lelah dengan A. N ini, atau dengan fanfic ini, atau dengan hidup. Kumohon, setelah ini jangan bunuh diri dulu, paling tidak, berikan sedikit komentar kalian untuk cerita ini. Bukan berarti kalian harus berkomentar 'lu jelek banget sih thor' eh, 'ff lu busuk banget sih' atau 'gw tau yaoi movie hardcore yang pernah lu tonton'.

Kalau bisa, dipanjangin dikit ae. 'ff lu busuk banget sih, gue pengen muntah, benerin kek tanda bacanya' atau 'lu jelek banget sih thor, oplas sana, sekalian oplas ff lu, konfliknya cantikan dikit ngapa?' atau 'gw tau yaoi movie hardcore yang pernah lu tonton, kalau lu enggak ngebenerin typo lu dan mulai rajin-rajin ngedit, gw bakal sebarin rahasia lu ke calon suami lu'.

Aku tahu harusnya aku tahu diri karena epep in penggemarnya dikit –ciah, penggemar. Tapi emang aku darisononya ga tau diri, yeay!

P. S : Min Yoongi makin bangsat. Okay. We all know about it.