Hello, Ghost?

JaeYong ; Slight!JaeTen NCT

NCT © SM Entertainment

Chapter II


Jaehyun memang orang aneh, canggung, dan membosankan.

Tidak ada yang mau berteman dengan kutu buku berkacama besar yang fanatik dengan kebersihan seperti dirinya. Dia yang selalu membawa hand sanitizer dan memakainya setiap kali memegang apapun yang terlihat kotor. Yang memakai masker meski tidak sakit, hanya karena ada temannya yang sedang flu. Yang tidak makan sembarangan dan tidak suka berbagi makanan bersama orang lain dengan alat makan yang sama. Orang yang, selalu, seperti memiliki dunia sendiri dan menutupnya rapat-rapat. Dia; Jung Jaehyun.

'Ten-shi. Aku menyukaimu.'

Jaehyun sudah sering diabaikan, dan dianggap tidak ada oleh orang-orang di sekitarnya. Ia sudah biasa dengan semua itu ketika dulu ia masih manusia. Jaehyun benar-benar sudah kebal. Tapi kenapa kali ini rasanya begitu berbeda?

'Ten-shi. Aku benar-benar menyukaimu.'

Dia tidak pernah bisa untuk menyampaikan kekagumannya seberapa keras ia mencoba dulu. Ia akan menjadi gugup, gemetar dan berakhir dengan berlaku bodoh seperti tersandung lalu jatuh di depan orang yang ia sukai itu. Sekarangpun, saat ia sudah memiliki keberanian, ia masih tidak bisa melakukannya karena orang yang ia suka tidak bisa melihatnya. Kenapa?Kenapa dia harus mengalaminya juga saat dia sudah mati?

'Tidak ada gunanya,' gumam Jaehyun.

Pada akhirnya ia tidak bisa melakukan apapun selain menyerah.

Seharian membuntuti Ten membuatnya semakin sadar jika dia memang menyukai pemuda itu. Belum pernah ia sedekat itu dengan Ten. Dulu, Jaehyun hanya bisa menatapnya dari jauh, diam-diam mengamatinya di manapun. Di kantin, lorong, di depan loker, di lapangan, dan kadang juga di perpustakaan. Di manapun dirinya berada ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat Ten. Caranya tersenyum, tertawa, bercanda dan bahkan saat sedang marah terlihat begitu manis dan menggemaskan. Ten, entah kenapa terlihat begitu bersinar seperti bintang di langit.

Ya, seperti bintang. Yang bisa dilihat tapi tak akan pernah bisa Jaehyun raih.

Jaehyun melayang menuju taman belakang sekolah sambil menunduk, lalu duduk di bawah salah satu pohon. Ini tempat yang sama yang selalu ia datangi dulu ketika ia sedih. Ketika ia merasa lelah. Dan kini, ketika ia merasa kenapa dunia begitu kejam padanya.

Jaehyun menarik lututnya ke dada, memeluk tubuhnya dengan tangan hantunya. Berfikir apa yang akan dilakukannya kini.


"Hei." Taeyong mungkin sudah gila. Kenapa dia malah sengaja memanggil hantu itu? Bukankah sejak kemarin ia menahan diri untuk tidak bicara? Bukannya sejak kemarin ia harus bersabar agar tidak mengamuk karena hantu itu terus mengganggunya? Bukankah baru kemarin, dia sendiri yang ingin sekali hantu itu pergi dari hidupnya? Lalu apa yang dilakukan sekarang?

Lee Taeyong kau sudah benar-benar gila, batinnya. Tapi kakinya berjalan mendekat. "Hei, kau mendengarku, hantu?"

Kepala hantu itu terangkat dengan ekspresi kaget. Mungkin karena seseorang baru saja mengajaknya bicara, terlebih orang itu adalah orang yang sama yang telah ia ajak bicara sejak kemarin tapi tak menghiraukannya. Ekspresi di wajahnya seperti meneriakan kalimat; AKU TAHU KAU MEMANG SHAMAN! pada Taeyong.

Tentu saja dia kaget. Taeyong sendiri kaget dengan kelakuan spontannya ini.

"Aku akan membantumu." Kata Taeyong pada akhirnya. Ia akan menyerah, sekali ini saja.

Dan reaksi Jaehyun tidak bisa tidak lebih kaget lagi. Lihat matanya yang membesar seperti hendak loncat keluar. 'A-apa?'

Ya, apa.

Taeyong berdecak sebal, ia melipat tangannya di dada. Meski ia sudah bilang begitu, ia sendiri tidak yakin dengan keputusannya untuk melibatkan diri. Tapi sudah terlambat untuk menyesal. Hantu itu sudah tahu jika Taeyong memang shaman. "Aku bilang, aku akan membantumu."

Mata Jaehyun mengedip. Ia sedang tidak salah dengar kan? 'B-benarkah?'

"Iya."

'K-kau tidak bercanda?'

"Aku lebih tua darimu, panggil aku dengan sopan," keluhnya. "Dan untuk pertanyaanmu; Tidak. Aku tidak bercanda."

Jaehyun masih merasa sulit percaya. Ia berdiri, mulutnya masih membuka dan belum terkatup lagi. Ini benar-benar kejutan. Ia harus menyakinkan dirinya terlebih dahulu sekarang sebelum bisa merasa senang. Mungkin akan mudah jika ia masih manusia, ia hanya perlu mencubit tangannya dan merasa sakit untuk tahu jika dirinya tidak sedang bermimpi. Tapi kini ia hantu dan yang ia lakukan adalah bertanya. 'Kau benar-benar-benar-benar-benar-benar akan membantuku?'

Berapa benar yang dia katakan? "Hm―"

'SERIUS?!'

Alis Taeyong merengut jengkel sekarang. Ia menghela nafas kasar dan mengangkat bahunya acuh. "Jika kau memang tidak percaya. Yasudah. Aku tidak akan jadi―"

'Ya! Ya! Aku percaya padamu, Sunbae!' potong Jaehyun panik. Ia berusaha memegang tangan Taeyong untuk memotong kalimatnya tapi pemuda itu langsung menarik tangannya dengan mata kaget.

"Tapi dengan satu syarat."

'Apapun.'

"Kau tidak boleh menyentuhku sembarangan." Kata Taeyong serius.

Jaehyun mengangguk. Itu tidak masalah. 'Terimakasih, Sunbae!' Jaehyun terlalu senang, ia mengucapkan kata terimakasihnya berulang kali tanpa jeda. Di telinga Taeyong bahkan sudah terdengar seperti kaset rusak. Senyum lebar ia pasang di wajah. Tubuhnya melayang di udara dan berputar-putar di tempat beberapa kali sambil menyorakkan kegembiraannya. Setidaknya dengan begini dirinya masih punya kesempatan. Ia bahkan tidak punya waktu untuk menyadari jika pemuda yang baru mengajaknya bicara kini sedang menggerutu sambil berjalan pergi.

"Hah." Sepertinya, Taeyong sudah mulai menyesali keputusannya dari sekarang.

Terkutuklah sifat mudah kasihan miliknya itu.


'Apa yang akan kita lakukan sekarang?'

'Apa rencananya?'

'Bagaimana caranya kau membantuku, Sunbae?'

'Kita akan pergi kemana?'

'Hei! Apakah itu toko kacamata?! Bisa kita pergi ke sana sebentar?'

'Oh baiklah aku bodoh. Hantu tidak bisa pakai kacamata. Hahahaha.'

Idiot, batinnya.

Satu-dua-tiga-sepuluh urat-urat kekesalan muncul satu persatu muncul di kepala Taeyong, semakin bertambah sesuai dengan jumlah kalimat yang diucapkan oleh hantu itu. Pulang sekolah hari itu menjadi lebih ramai bagi Taeyong.

Kenapa hantu ini tidak mau berhenti bicara?

Sejak Taeyong melangkah masuk ke pusat perbelanjaan, hantu itu memang begitu bersemangat.

Mereka di toko buku sekarang dan Taeyong sedang memilih bukunya. Meski di tangannya sudah ada beberapa buku.

'Sunbae, kenapa kau membeli semua buku seakan kau akan ujian besok?'

Taeyong menatap sekitarnya sebentar sebelum bicara. "Apa tidak boleh?" baliknya ketus. Dia ada di paruh semester dua tingkat akhir dan mungkin sekitar tiga bulan lagi akan ada ujian. Apanya yang aneh? Yang aneh adalah dirinya yang mau-maunya membantu hantu.

'Aku tidak tahu jika sunbae begitu rajin.'

"Aku tidak rajin." Taeyong menghela nafasnya. Wajahnya terlihat kesal. "Aku ini sedang dihukum karena nilaiku jelek semester kemarin dan aku tidak mau diseret pulang karena gagal masuk universitas pilihan. Aku ingin pergi main dengan Johnny tapi aku tidak bisa."

Jaehyun membuat wajah bingung. Masalahnya Taeyong tidak terlihat seperti anak baik yang akan menurut begitu saja.'Kenapa? Aku tidak lihat siapapun di apartemenmu. Kau bisa pergi dan orang tuamu juga tidak akan tahu.'

"Seandainya semudah itu maka aku akan hidup bahagia." Sarkas Taeyong. "Mereka memang tidak melihatku langsung. Tapi mereka akan tahu karena sebuah laporan terpercaya."

'Maksudmu sunbae, orang tuamu menyewa detective untuk mengawasimu belajar dengan benar atau tidak?' Itu terdengar cukup aneh. Tapi keren di saat bersamaan.

"Tidak persis. Tapi memang seperti itu." Jaehyun melayang membuntuti Taeyong yang menuju kasir. Setelah membayar dan menerima bungkusan plastik berisi semua bukunya, mereka berjalan ke luar. Dan saat mereka melewati jajaran toko yang tidak terlalu banyak orang Taeyong kembali bicara. "Kecuali di bagian 'detective' itu, semuanya benar."

'Hah?'

Taeyong mengangkat bahu. "Orang tuaku tidak mempekerjakan manusia. Mereka memperkerjakan hantu."

Jaehyun melongo.

Nah, baiklah. Itu baru sesuatu yang terdengar aneh sekali.

Apa semua keluarga shaman memang melakukan hal-hal semacam itu?

"Kau sudah melihat Sakura kan? Dia itu benar-benar hantu pengadu yang menyebalkan." Decak Taeyong kesal. Jaehyun memang beberapa kali melihat hantu anak kecil berambut merah muda panjang yang dikepang, di sekitar apartemen. Mungkin hantu itu yang dimaksud Taeyong. "Terakhir kali pengaduannya membuatku tidak dapat uang saku bulanan dan hampir mati kelaparan."

Pemuda itu kembali berjalan setelah menghela nafas. "Ayo pergi."

'Kemana?' Jaehyun tiba-tiba saja semangat saat Taeyong mengatakan kata pergi. Ia melayang di depan Taeyong dan berbalik menatapnya. 'Apa ke rumah Ten-shi?'

Taeyong menggeleng.

'Lalu?'

"Rumah sakit." Katanya santai.


'Sunbae, sebenarnya kenapa kita pergi ke rumah sakit? Ten-shi tidak ada di sana.' Jaehyun melayang-layang di sekitar Taeyong. Sepanjang perjalanan tadi, tepatnya sejak Taeyong mengatakan tempat tujuan mereka, pemuda itu mengabaikan semua pertanyaannya. Itu membuat Jaehyun bicara sendiri seperti semula.

Bosan. Jaehyun mencoba berbicara dengan hantu lain yang ia lihat, tapi kebanyakan dari mereka terlihat menyeramkan dan tidak ramah. Jadi dia sudah kisut duluan sebelum membuka mulut, berakhir dengan mencoba berbicara atau bertanya apapun lagi pada Taeyong.

Jadi? Taeyong adalah korbannya di sini? Baiklah. Cukup tahu saja.

Jaehyun mendarat dengan kaki-kaki hantunya di depan sang shaman.

'Taeyong-sunbae?' panggilnya lagi. Kata itu bahkan baru ia dengar hari ini tapi anehnya, ternyata terasa cukup baik di lidahnya. Ini adalah kata 'Taeyong' yang entah keberapa yang ia ucapkan. 'Taeyong-sunbae, kau mendengarku?'

"..am," Taeyong bergumam sangat pelan. Bibirnya saja terkatup rapat.

'Kau mengatakan sesuatu, sunbae? Aku tidak bisa mendengarmu. Ulangi lagi!' Jaehyun tidak bisa tidak antusias. Ini respon pertama yang ia dapat. 'Sunbae?'

Jaehyun hendak menyentuh tangan Taeyong tapi pemuda itu menghindar cepat. Ah, iya benar. Tidak boleh menyentuh sembarangan, Jaehyun lupa. Ia memandang Taeyong dan cukup kaget dengan ekspresinya. 'Sunbae, kenapa wajahmu terlihat kesal?'

Menurutmu? Taeyong menggeram sambil menahan gemeletuk gigi dan makian keluar, tangannya merogoh ponsel layar sentuh ber-casing putih miliknya dari saku celana. Bahkan tanpa menyalakan, membuka sandi atau menekan nomor tujuan ia menaruh ponselnya di telinga kanan. "Ah, ya. Halo?" sapanya.

Jaehyun menatap Taeyong heran, tidak yakin dengan siapa pemuda itu bicara. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa jadi dia memilih hanya untuk diam saja dan menonton.

"Halo, kau mendengarku?"

Jaehyun mundur selangkah saat melihat pemuda itu melotot tepat padanya. 'K-kenapa sunbae melototiku?'

"Akhirnya kau menjawab." Taeyong tersenyum. Kemudian dia menganggukkan kepalanya singkat. "Ya. Aku memang akan ke rumah sakit sekarang. Ten-shi tidak akan datang tapi kau harus menyusulku." Taeyong memandang lurus pada si hantu. "Hm. Hm. Datang saja, nanti juga tahu. Dan― jangan banyak bertanya lagi." Lalu dia, sekali lagi tanpa memencet apapun di layar ponselnya langsung memasukkan benda itu ke saku. Wajahnya tidak berekspresi setelah itu.

Jaehyun mengedip.

'Ting!'

Pintu lift pun terbuka. Orang-orang mulai berjalan keluar, begitupun Taeyong.

'Sebenarnya―'

Langkah Taeyong terhenti. Ia membiarkan orang-orang melewatinya sehingga ia tinggal sendiri dalam lift itu. Ralat, ia tinggal berdua dengan hantu itu. Taeyong berbalik dan melihat hantu Jaehyun menatapnya dengan tatapan super polos.

Taeyong mempunyai firasat kurang enak saat melihat kerutan di dahi si hantu. Jangan bilang―

'Sebenarnya kau bicara dengan siapa tadi, Sunbae?'

AGHHHH!

Taeyong langsung berbalik pergi sambil menarik rambut hitamnya frustasi sepanjang jalan. Tak peduli lagi jika orang-orang melihatnya sebagai orang gila.

'Hah? Yak! Tunggu aku!' Jaehyun yang kaget di tinggalkan langsung menyusul sang shaman dengan menembus lift yang pintunya baru saja tertutup. Bertanya-tanya dengan pikirannya tentang apa sebenarnya yang salah di sini.


Mereka berjalan melewati area taman. Cukup sepi di sini dan Taeyong memutuskan sepertinya tidak akan apa-apa jika ia bicara dengan Jaehyun sekarang. Taeyong menghentikan langkah kakinya dan otomatis membuat hantu Jaehyun yang mengekornya berhenti juga. Taeyong membalikkan badan dan menghela nafasnya. "Kau itu benar-benar sangat cerewet." Sebenarnya Taeyong ingin menambahkan kata bodoh juga di sana. Tapi, yasudahlah. "Apa kau tidak mengerti dengan kode yang aku berikan tadi?" tanya Taeyong.

'Kode? Kau memberikan kode apa, sunbae?'

Terkutuklah ekspresi polos itu, batinnya. "Ini." Taeyong mengambil ponselnya, menunjukkan tepat di wajah sang hantu. "Aku akan menggunakan ini dan berpura-pura menelpon jika aku ingin bicara denganmu di tempat umum yang banyak orang, seperti tadi. Harusnya kau paham bahwa yang aku ajak bicara tadi itu kau!" Taeyong tidak bisa menahan nada kesalnya di sana.

'EH?!'

Demi, plankton!

"Aku memang Shaman. Tapi kebanyakan dari orang-orang itu― mereka tidak sama denganku. Aku tidak mau dianggap orang gila karena dikira bicara pada udara kosong." Sarkas Taeyong. Ia menenggelamkan kedua tangannya dalam-dalam di dalam saku celana. "Kau tidak lihat? Wanita yang ada di dalam lift itu saja menatapku aneh saat aku tiba-tiba melotot padamu. Apalagi jika aku menjawab semua pertanyaanmu." Lanjutnya sambil merenggut tidak suka. Bibirnya sudah menggumamkan cibiran.

Ah, rupanya begitu. Jaehyun mengangguk.

Menjadi shaman pasti bukanlah sesuatu hal yang menyenangkan. Bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa. Mendengar apa yang orang lain tidak bisa. Orang-orang pasti beranggapan aneh dan dianggap aneh itu sama sekali tidak nyaman. Jaehyun tahu sekali rasanya.

Taeyong dua tahun lebih tua dari Jaehyun. Tak heran jika pemuda itu berusaha begitu keras untuk menutupi siapa dirinya. Setidaknya dengan begitu ia bisa berpura-pura tidak berbeda dengan orang lain dan memiliki hidup normal. Mungkin itu juga yang menjadi alasannya pemuda itu enggan membantunya sejak awal. Karena membantu hantu, membuatnya menunjukkan siapa dia yang sebenarnya. Shaman.

Jaehyun menatap Taeyong. Ada satu hal yang mengganggu pikirannya tentang sunbae berambut hitam itu sejak tadi. 'Sunbae, sebenarnya apa yang membuatmu berubah pikiran dan mau membantuku?'

Jaehyun memang sedikit terkejut awalnya. Setelah seharian dia mengikuti Taeyong hingga ke apartemen, merengek dan memohon dengan segala cara untuk membantunya, pemuda itu tidak bereaksi. Jangankan menjawab atau berbicara, pemuda itu bahkan berpura-pura jika Jaehyun tidak ada. Tapi kemudian hari berikutnya di sekolah, di saat Jaehyun sudah menyerah dengan segalanya, dia datang dan berkata berniat membantu meski dengan wajah ketus dan enggan.

Jaehyun bisa melihat Taeyong diam selama beberapa saat. Sebelum menjawab pertanyaannya dengan suara pelan. "Aku tidak tahu." Taeyong mengerutkan keningnya. Benar juga. Kenapa ia tiba-tiba mau repot-repot membantu hantu? Taeyong mengangkat bahunya acuh. "Aku hanya ingin melakukannya," pada akhirnya hanya itu jawaban yang ia keluarkan.

Bagaimanapun, Jaehyun sangat bersyukur. Ia tersenyum. Ia sungguh terharu. 'Terimakasih ―'

Taeyong beringsut menjauh. Matanya melotot dan kedua tangannya terangkat. " Sudah kubilang kau-tidak-boleh-menyentuhku!"

Jaehyun yang sudah hendak memeluk Taeyong langsung diam kaku. Tangan hantunya menggantung di udara dan tiba-tiba Jaehyun merasa malu atas apa yang akan ia lakukan barusan. Ia menghilang dengan cepat dan muncul di balik punggung Taeyong. Jaehyun menarik kedua tangannya dan menutupi wajahnya dengan itu. Selama ia masih manusia, ia bahkan tidak pernah melakukan hal seperti ini pada orang lain, mencoba memeluk seseorang yang bukan keluarganya.

'M-maaf.' Gumam Jaehyun. Jika ia masih manusia maka mungkin wajah Jaehyun pasti sudah semerah apel masak sekarang. Jaehyun hanya begitu senang karena akhirnya merasa memiliki seorang teman. Ia dan Taeyong memang baru bertemu kemarin tapi ia sudah menganggap Taeyong sebagai temannya.

Setelah ia menjadi hantu, Jaehyun kehilangan kekhawatirannya akan segala macam kuman, virus dan bakteri dan tidak perlu menahan dirinya lagi. Jujur saja, rasanya sangat menyenangkan. Seperti beban berat di punggung dan rantai besi yang membelenggu tiba-tiba dilepaskan.

Dia memang sudah mati, tapi Jaehyun malah merasa jika dia yang sebenarnya justru kembali hidup.

"Lupakan saja." Taeyong melengenggang cuek. " Ayo pergi sekarang."

Jaehyun kali ini tidak mengekor Taeyong. Hantu itu menyusul Taeyong yang berjalan di depan dan melayang tepat di samping kanannya.

"Oh iya."

'Kenapa, sunbae?'

"Berhenti memanggilku sunbae. Panggil aku hyung, Jaehyun."

'Baiklah!' Jaehyun tersenyum lebar. 'Taeyong-hyung!'


Selama sisa perjalanan menuju rumah sakit Jaehyun menjadi lebih tenang. Keduanya berjalan melalui lorong dan berhenti di depan sebuah pintu rawat. Taeyong yang sudah mau masuk, berhenti saat melihat seseorang keluar dari dalam. Ia tersenyum menyapa wanita itu. "Halo, bibi." katanya.

'I-ibu?'

"Taeyong?" Wanita itu juga tersenyum melihat Taeyong. Meski begitu, itu sama sekali tidak bisa menutupi guratan lelah yang muncul di wajahnya, juga lingkaran hitam di bawah matanya. "Kejutan yang menyenangkan kau datang, Taeyong. Apa kabar, nak?"

'Kau mengenal ibuku, hyung?' heran Jaehyun.

Taeyong tidak punya niatan untuk menjawab pertanyaan Jaehyun. "Aku baik, bibi. Bibi bagaimana? Bibi terlihat lelah." ujarnya khawatir.

"Tidak apa-apa." lagi-lagi senyum lembut dibentuk.

Jaehyun tidak bisa mengerti semua yang terjadi di depannya. Kenapa Taeyong mengenal ibunya? Kenapa ibunya ada di rumah sakit? Mata Jaehyun melihat ke arah pintu. Siapa yang sedang dirawat di sana? Apa― ayahnya? Kaget dengan pikiran itu Jaehyun langsung melesat masuk dengan panik. Menembus pintu.

Taeyong yang melihat dengan ujung matanya hanya terdiam. Ia kembali berbicara pada nyonya Jung "Kemana paman, bibi?"

"Oh, suamiku sedang sibuk. Ada operasi besar hari ini, Taeyong-ah." balasnya. "Kebetulan kau di sini. Bisakah bibi minta tolong untuk menjaga Jaehyun sebentar? Bibi akan pulang untuk mengambil baju ganti. Tidak akan lama. Mungkin hanya sekitar satu jam."

Taeyong mengangguk. "Tidak apa-apa, bibi. Aku punya cukup waktu luang."

"Terimakasih."

Taeyong mengangguk lagi. Ia melambai pada nyonya Jung hingga benar-benar tidak terlihat. Baru setelah itu Taeyong menghela nafas dan memutar knop pintu. Ia masuk dan yang pertama kali ia lihat adalah hantu Jaehyun yang mematung menatap sosok lain yang tak sadarkan diri di atas kasur rumah sakit.

'A-apa maksudnya ini, hyung?' Jaehyun bertanya tanpa menoleh. Ia memang tidak bodoh, tapi ia sama sekali tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di sini. Kenapa dirinya bisa terbaring di situ? Bukannya dia sudah mati? Dia hantu sekarang dan harusnya dia sudah mati.

"Kau belum mati, Jaehyun. Jika itu yang ingin kau tanyakan." Taeyong berjalan mendekati meja kecil di samping kasur dan meletakkan sebuah kacamata di atasnya. Tepat di samping sebuah figura yang berisi foto anak laki-laki tinggi berkacamata. Jaehyun.

'B-bagaimana bisa?' Jelas-jelas Jaehyun melihat sendiri bagaimana tubuhnya terbujur di tengah jalan dalam genangan darah setelah tertabrak mobil.

"Aku melihatmu malam itu." Kata Taeyong. "Aku melihatmu yang berusaha berbicara pada semua orang agar mau membantumu yang sedang sekarat."

'H-hyung melihatku?'

Taeyong mengangguk. "Aku yang pertama kali menemukan tubuhmu dan memanggil ambulans. Aku bahkan ikut ke rumah sakit dan bertemu dengan kedua orang tuamu. Karena itulah aku mengenal mereka."

Jaehyun sama sekali tidak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang.

Taeyong berjalan dan berdiri tepat di samping hantu Jaehyun. "Kau masih punya kesempatan hidup, Jaehyun." Kata Taeyong. "Kau hanya perlu masuk dalam tubuhmu."

'B-benarkah?'

Taeyong mengangguk. "Kau akan hidup dan kau bisa mengatakan perasaanmu sendiri pada Ten."

Jaehyun dengan gugup berjalan mendekat. Rasanya begitu aneh menatap dirimu dengan matamu sendiri. Ragu-ragu Jaehyun menatap Taeyong yang memberinya anggukan. Jaehyun melayang dan sudah berbaring tepat di atas tubuhnya. 'Hyung, kau yakin ini akan berhasil?'

"Seharusnya bisa."

Dan dengan dua kata itu, Jaehyun menutup matanya dan melayang turun perlahan.

Taeyong menatapnya lekat dalam diam. Menantikan reaksi seperti apa yang akan muncul setelah ini. Apakah akan ada sebuah ledakan? Atau mungkin, muncul cahaya yang menyilaukan? Ini adalah pertama kalinya ia berurusan dengan hantu yang belum mati. Ah, bukan hantu namanya ya jika begitu. Arwah sepertinya panggilan yang cocok.

Jantungnya jadi berdebar tanpa sadar.

Dua menit berlalu tanpa ada reaksi. Taeyong menggigit kuku jarinya. Lima menit lagi berlalu. Dan dia mulai mendengar sesuatu. Apa itu reaksinya? batin Taeyong penasaran. Menit selanjutnya, yang dia dengar adalah sebuah suara gumaman dari bawah ranjang, semakin lama semakin mencurigakan. Taeyong berfikir sebentar, memilih mengacuhkan atau memeriksanya. Pada akhirnya Taeyong memilih membungkuk, hanya untuk mendapati hantu Jaehyun berbaring dengan tidak berdosanya di situ.

'Hyung, sepertinya ini tidak berhasil.' katanya tanpa berdosa sambil duduk. Membuat badannya menembus kasur dan hanya kepalanya yang terlihat.

Taeyong langsung membuat wajah datar.

Sudah tahu tidak berhasil kenapa diam saja dan tidak muncul? Kenapa malah membuat orang lain menunggu? APA YANG YANG DILAKUKANNYA SEJAK TADI?! Taeyong berdehem, menghela nafas dan dengan terpaksa harus mengatakan kalimatnya dengan jengkel. "Jaehyun, sepertinya kau sudah terlalu lama meninggalkan tubuhmu dan sekarang kau tidak bisa kembali."

'APA?!'

"Tubuhmu menolakmu." Simpul Taeyong. Baiklah, ia kira semuanya akan mudah tapi rupanya memang tidak semudah itu. Harus menggunakan cara lain.

Jaehyun langsung melayang dan berhenti tepat di depan Taeyong dan menatap Taeyong dengan panik. 'Lalu bagaimana?'

Taeyong menghela nafasnya. Apa benar dia harus melakukan hal itu? "Ada satu cara lagi." Taeyong melepas gelangnya. Sebuah gelang yang berupa manik-manik hitam yang tidak biasa itu ia simpan di meja. Taeyong mengangkat tangannya dan menunjuk Jaehyun dengan jari telunjuk. "Masuklah ke tubuhku." Taeyong mengambil nafasnya, wajahnya berubah warna menjadi pink cerah. "Masuklahketubuhkudanakuakanmenciumbibirmu."

'H-hah?'

Demi, plankton!

Butuh keberanian lagi bagi Taeyong untuk mengucapkan kata memalukan itu. "Aku bilang; masuklah ke tubuhku dan aku akan mencium bibirmu."

'EEEEEHHHHH?!"


Penyatuan tubuh mereka sama sekali tidak sulit. Dengan satu sentuhan di ujung jari hantu Jaehyun sudah langsung tertarik dalam tubuh Taeyong. Setelah penjelasan singkat Taeyong, akhirnya Jaehyun mengerti jika cara terakhir untuk mentransfer jiwa adalah dengan melakukan kontak fisik langsung. Dan ciuman adalah hal yang paling mungkin. Taeyong bilang masih ada cara selain itu tapi wajahnya tiba-tiba menjadi lebih merah dari sebelumnya dan dia memilih untuk tidak mengatakannya. Sepertinya itu sangat pribadi.

Taeyong menggerakkan jarinya dan membuat ekspresi kagum. "Wow."

Lalu ekspresi itu berubah menjadi datar. "Jangan terlalu senang. Aku hanya meminjamkan tubuhku untuk sementara."

Ekspresinya berganti lagi. Kali ini menjadi sebuah senyum lebar. "Aku tahu, hyung."

Taeyong memutar matanya kali ini. "Mari lakukan ini dengan cepat."

"Bagaimana caranya?" ― heran

"Aku akan memberikan kendali atas tubuhku. Dan yang kau harus lakukan adalah mencium bibirmu." ― datar

"APA?!" ―kaget

"Kenapa?" ―bingung.

"KAU MENYURUHKU UNTUK MENCIUM DIRIKU SENDIRI?!" ―tidak percaya

"Kau mau kembali hidup tidak?" ―datar kembali

"T-tapikan itu akan aneh sekali, hyung. Kenapa tidak kau saja yang menciumku? Itu akan lebih baik." ―salah tingkah

"A-aku tidak mau!" ―kesal dan sedikit malu

"Ayolah, hyung. Aku bahkan belum pernah melakukan ciuman." ―memelas

Kau pikir aku sudah? "Kau harus melakukannya sendiri, Jaehyun."

"Kumohon. Kau sudah berjanji untuk membantuku, hyung." ―semakin memelas

Baiklah, Taeyong memang sudah berjanji akan membantu sebelum ini. Dan dia juga bukan orang yang suka ingkar dengan janjinya. Taeyong berfikir entah sampai kapan perdebatan konyol ini akan berakhir jika salah satu dari mereka tidak mengalah. Kurang dari lima belas menit lagi nyonya Jung akan datang, bahkan mungkin bisa lebih cepat. Entah apa yang akan terjadi jika nyonya Jung mendapati ekspresinya berubah-rubah seperti tadi. Selain itu, jika ini tidak diselesaikan sekarang maka Taeyong akan semakin lama berurusan dengan si hantu menyebalkan.

Baiklah, Taeyong mengalah. Ini demi kebaikannya sendiri. Lagipula itu bahkan hanya menempelkan bibir dan itu tidak dihitung ciuman. Ya kan?

Tubuh Taeyong bergerak menuju samping ranjang. Matanya menatap sekitar, memastikan tidak akan ada yang memergokinya. Setelah dikira aman. Taeyong melepas masker oksigen dari Jaehyun. Ia memajukan wajahnya sedikit. Pipinya terasa hangat karena nafas pelan yang menyapu wajahnya. Ia hanya sama sekali tidak menyangka akan memberikan ciuman pertamanya pada seseorang yang tengah koma.

Jarak terakhir menghilang, dan Taeyong benar-benar mencium bibir Jaehyun. Menempelkan bibir tipis miliknya sekitar tiga detik sebelum melepaskannya.

Wajahnya memerah cerah. Sebelum berubah menjadi heran. "Sepertinya belum berhasil. Aku masih di sini. Hyung, kau harus menciumku sedikit lebih lama." Katanya pada dirinya sendiri.

Taeyong mengangguk dan kembali mencium bibir Jaehyun. Kali ini menahannya hingga sepuluh detik.

"Mungkin ciumannya harus dengan mulut terbuka." Katanya lagi, seperti bicara pada dirinya sendiri. Tapi tentu saja bukan. Jelas-jelas yang bicara itu adalah hantu Jaehyun yang berada di tubuhnya.

Taeyong memegang dagu Jaehyun dan menahannya terbuka, sebelum menyatukan bibir mereka hingga sepuluh detik berlalu. Masih belum berhasil. Taeyong mulai kesal.

"Kenapa tidak coba memberi sedikit hisapan?"

Taeyong kesal sekarang. Dengan cepat dia memegang wajah Jaehyun dan menghisap bibirnya rakus. Wajahnya benar-benar merah dan nafasnya mulai memburu sekarang.

Taeyong merasa senang karena tidak mendapatkan respon apapun. Ia berfikir jika hantu itu sudah masuk ke dalam tubuhnya sendiri. Tapi kesenangannya kembali pupus saat mulutnya kembali berkata sesuatu yang bukan kehendaknya.

"Mm, hyung. Aku masih di sini." Taeyong menepuk dahinya. Tapi dia sendiri yang berkata lagi dengan nada polos. "Bagaimana dengan lidah? Kau belum mencobanya. Mungkin berhasil."

"AKU TIDAK MAU!" Dengan murka Taeyong menimpali kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri barusan. Ia mengambil gelang manik-manik hitam miliknya di meja. Taeyong memakainya dengan cepat dan hantu Jaehyun langsung terpental keluar dari tubuhnya sambil berkata seluruh tubuh hantunya sakit karena tersengat. Taeyong tidak peduli. Dia berbalik melipat tangannya di dada dengan ekspresi kesal. Wajahnya merah padam karena merasa baru saja melakukan hal paling konyol dalam hidupnya.

Bagaimana dia bisa dipermainkan oleh hantu?

Demi, Plankton!


Di salah satu rumah bergaya Jepang kuno, terlihat sepasang suami istri yang sedang menikmati teh mereka di gazebo. Ditemani bunyi suara aliran air yang beriak pelan. Aroma bambu yang menenangkan menguar dari setiap penjuru. Ikan koi di kolam berputar-putar dalam harmoni. Rasanya sangat damai.

Sekelebat sosok berambut merah muda muncul dari sisi lain, menunduk dalam-dalam.

"Bagaimana Taeyong?"

'Taeyong-sama melakukan seperti apa yang diperintahkan, Tuan. Tapi―'

"Tapi?" Suara lembut sang istri yang kini terdengar.

'Taeyong-sama sepertinya memiliki urusan lain dengan membantu hantu.'

Wanita, dengan kimono berwarna merah muda lembut itu, menaruh gelasnya. "Aku kira dia bilang sudah tidak tertarik dengan segala macam hal berbau hantu."

"Biarkan saja." Sosok berambut merah muda lenyap setelah suami itu mengibaskan tangannya. "Bagaimanapun dia tidak bisa mengelak jika dirinya keturunan shaman."

Sang istri mengangguk, wajahnya berubah menjadi khawatir. "Aku hanya khawatir dengan keputusanmu, sayang. Apa tidak lebih baik dibicarakan dulu? Rasanya sungguh terlalu cepat."

"Apa? Masalah pernikahan?" Lelaki paruh baya itu menggeleng tidak setuju. "Bagaimanapun pada akhirnya ia harus menikah dengan keturunan shaman yang lain. Dan dia―"

Sosok lain muncul dalam kegelapan.

"Adalah calon yang cocok."


TBC


Balasan Review

cehuns2: Jaetennya di sini sedikit aja kok. Sudah dilanjut ;)

Arisa Hosho: Iya, Ten yang ditaksir Jaehyun dan Jaehyun belum mati. Sudah dilanjut ;)

Dear91jinwoo: Maaf kalo bikin bingung. Jaehyun emang ngejar-ngejar Taeyong buat bantuin dia, tapi keesokan harinya dia ngejar-ngejar Ten. Dan ya, Jaehyun suka sama Ten di sini. Sudah dilanjut ;)

chocomilkshake: Jaehyun koma dan dia suka sama Ten. Sudah dilanjut maaf gabisa update asap :(

Shim Yeonhae: Nanti (?)

awnayong: Kesannya kaya ftv ya? Sudah dilanjut ;)

VhyJisoo: Iya nih. Sudah dilanjut ;)

Makasih yang sudah menyempatkan waktu untuk review. Ditunggu review untuk chapter ini