.

.

.

Brother-Complex©Choco_Chi

.

.

.

Main Cast :

WuYifan

Kim Junmyeon (GS)

Oh Sehun

.

Support :

EXO member and other cast

.

Genre :

Family; Romance; Hurt

.

Warning :

Meskipun ini fanfic GS tapi reader sekalian masih akan menemui hints Yaoi cukup sering dalam cerita ini. Bagi reader sekalian yang tidak suka genre Yaoi tidak dianjurkan untuk lanjut membaca, hints Yaoi yang muncul tidak bisa di skip karena bagian dari inti cerita dan pemicu konflik-konflik yang menggiring cerita menuju bagian akhir.

Fyi, hints Yaoi yang muncul dicerita ini masih tergolong dalam status ringan.

.

Disclaimer :

EXO punya SM Enterteiment, member hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, saya Cuma pinjem nama dan isi cerita sepenuhnya dari pemikiran saya.

.

Summary :

Suho tak mengidap brother-complex, ia hanya menyayangi Sehun lebih dari apa pun dan ingin menjaganya dari segala pengaruh buruk di masa muda. Termasuk dari Wu Kris, lelaki berjiwa bebas yang ia anggap hampir menjerumuskan Sehun dan mengingatkannya pada seseorang di masalalu yang telah meninggalkan luka di masa kecilnya.

.

.


.

.

CHAPTER 2

.

.

Berjalan beriringan dengan sang adik, Suho memandang ke sekeliling dengan perasaan yang sungguh tidak nyaman. Sejak tadi—sejak ia dan adiknya menginjakkan kaki di aspal parkiran universitas—semua orang di sekeliling terus memperhatikan mereka dengan mata yang menyipit, diikuti pekik tertahan dan raut wajah langsung memerah.

Dirapikannya lagi rambut coklat sebahunya, takut masih kusut karena tadi ia hanya menyisir rambutnya asal di dalam mobil. Ia juga berulang kali menarik rok putihnya ke bawah, takut rok bermotif bunga sakura itu terlalu pendek padahal sudah menutupi dengkul mulusnya. Lalu apa yang salah? Make-up nya?

"Sehunah, apa make-up ku terlalu tebal?". Suho menghentikan langkah kakinya. Menarik lengan kemeja adiknya begitu ingat tadi ia memakai bedak padat—pemberian ibunya—alih-alih bedak tabur yang biasanya ia gunakan.

Sehun ikut berhenti, menoleh ke samping dan memperhatikan wajah kakaknya dengan seksama. "Tidak kok, malah Noona terlihat sangat cantik pagi ini". Puji Sehun seraya memegang dagu lancipnya dengan telunjuk dan ibu jari. Senyum manis pun tak lupa hadir di wajah tampannya begitu ia menutup mulut. Membuat orang-orang yang sejak tadi memperhatikan mereka lemas semakin mendamba.

Ahh.. Sehun dan segala pesonanya, sungguh ancaman yang nyata bagi kesehatan mental juga ritme jantung siapa pun.

"Lalu apa yang salah?".

"Apa yang salah?". Sehun mengerutkan kening, mengulang gumaman kakaknya yang hampir tak terdengar.

Suho menghela napas. Mengalihkan pandangannya dari wajah Sehun pada beberapa orang yang masih saja memperhatikan mereka.

"Bukannya terlalau percaya diri ya, tapi..". Menggigit bibirnya, wajah Suho berubah menjadi resah. "Sepertinya, sejak dari parkiran tadi orang-orang terus memperhatikan dan membicarakan kita". Jujur Suho ragu, takut adiknya ledek karena terlalu percaya diri.

"Benarkah?". Sehun pun ikut mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Kemejaku tidak ketat, rokku menutup lutut dan seperti katamu make-upku tidak terlihat menor. Lalu apa yang mereka gosipkan? Penampilan mu? Jelas tidak mungkin, kau kan selalu terlihat sem—". Menyipitkan mata pada apa yang ia temukan, Suho menggantung ucapannya yang hampir mencapai titik dan memilih mengedarkan pandangannya lagi ke sekitar. Memelototi siapa saja yang dengan genitnya menatap tubuh Sehun.

"Wae?".

Dengan kesal Suho kembali menatap wajah adiknya. Menempatkan kedua tangan di dada Sehun dan meremat kemeja flanel bermotif kotak hitam biru itu dengan erat. "Ini bukan di rumah, Sehun. Pakai kemejamu dengan benar!". Omel Suho seraya memasangkan dua kancing teratas kemeja Sehun yang sejak tadi—tidak ia sadari—terbuka begitu saja. Menampakkan dada bidang Sehun yang putih bersih dan sandareble lol

Tak lama, lenguh kecewa pun terdengar dari berbagai arah begitu Suho menyelesaikan misinya : melindungi Sehun tersayang dari segala macam bahaya, termasuk dari mata lapar para singa betina yang kapan saja bisa datang menerkam. Dan bibir merah yang sempat mengerucut itu pun kembali menampakkan senyum manisnya.

Sehun terkekeh pelan, mengelus tengkuknya kemudian menjulurkan ujung lidah untuk membasahi bibir bawahnya. "Aku lupa, gomapta Noona". Ucap Sehun dengan manis kemudian.

"Cheonman. Tapi awas jika terulang, jangan sampai ada foto macam-macam tentangmu jadi viral di forum mahasiswa". Timbal Suho memperingatkan. Merasa takut foto tidak senonoh adiknya dimanfaatkan orang lain sebagai bahan imajinasi 'ini' dan'itu' di malam hari sebelum mereka menyambut mimpi. Mengakulah kalian yang baca juga pernah kan? Hayo ngaku~ haha

"Ne, algeseumnida. Akan kupastikan hal itu tidak akan terjadi". Janji Sehun seraya menganggukkan kepalanya mantap. Dari ekspresi wajah dan sorot matanya, dapat dipastikan bahwa janji yang ia ucapkan penuh dengan kesungguhan. Suho pun semakin lebar menyunggingkan senyumnya. "Kajja kita masuk, ini sudah hampir jam delapan". Ajak Sehun kemudian. Tak lupa, ia raih telapak tangan kiri kakaknya, menggenggamnya dan menuntun tubuh kecil Suho masuk ke dalam gedung.

Dan berpasang-pasang mata yang sempat mengalihkan atensinya pada hal lain—karena tadi mendapat pelototan dari Suho—kini kembali memfokuskan pandangannya. Menatap iri sekaligus gemas akan kedekatan Kim bersaudara itu yang bisa dibilang.. hampir tidak wajar?

.

.

.

Pop!

Memelankan langkah, Kris merogoh ponsel pada saku bagian dalam blazer biru mudanya untuk membaca pesan yang baru saja masuk entah dari siapa.

Chanyeol.

Kris mengerutkan kening, mendapati nama salah satu sahabat sekaligus teman sekelasnya muncul di layar begitu lockscreen berhasil dibuka.

"Apa Jung-songsaengnim sudah mulai memberikan materi?" Gumam Kris seraya memasukkan kembali empat angka yang sama pada tampilan depan aplikasi chatingnya. "Ah, tidak mungkin. Masih ada waktu enam menit lagi sampai kegiatan perkuliahan dimulai". Itu pun jika Jung-songsaengnim tidak terlambat lagi. Lanjutnya dalam hati, meragukan jika dosen statistikanya itu akan datang tepat waktu. Bukan sekali dua kali Jung-songsaengnim terlambat masuk ke kelas, melainkan hampir setiap minggu. Dan itu menjadi anugrah bagi beberapa orang yang terlalu hobi berleha-leha di kasur dengan ponselnya atau orang yang jika sudah tidur kelelapannya hampir menyamai orang pingsan—contohnya ya Kris sendiri.

'Masih di mana?'

'Ini sudah masuk ke dalam gedung. Jung-songsaengnim sudah datang?' Balas Kris mengketik capat.

'Belum sih, tapi tetap saja kau harus bersiap.'

Mata Kris menyipit, 'Bersiap? Ada ujian dadakan?' balas Kris kembali tanpa sedetik pun menghentikan langkah kakinya menyusuri lorong lantai satu fakultas ekonomi itu.

'Yahh kau bisa menyebutnya begitu, pokoknya siapkan saja fisik dan mentalmu sebelum masuk ke dalam kelas, oke?'

Kris mendengus, memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku begitu selesai membaca balasan dari Chanyeol yang sukses membuat perasaannya kembali tidak enak.

Apa yang kurasakan semalam itu semacam firasat? Firasat buruk akan ujian statistika mendadak padahal sudah seminggu ini ia sama sekali tidak membuka diktat?

Sesmapinya di depan pintu bertuliskan 1.18 pada permukaannya atasnya, Kris menyapu rambut blondenya dengan jari ke arah belakang.

Ditatapnya permukaan pintu bercat hitam itu beberapa detik dengan mata tajamnya sebelum ia raih gagangnya dan mulai mendorong papan jati itu perlahan ke arah dalam.

Perasaannya semakin tidak enakl.

Apa mungki hanya ada kursi di barisan depan yang tersisa?

"Ah! Selamat pagi Kris!". Seru Chanyeol menyapa keras begitu Kris menginjakkan kakinya masuk ke dalam kelas.

"O-oh, pagi".Balas Kris sedikit tersendat. Ia pun melangkahkan kakinya ke arah Chanyeol di kursi paling depan. Menaruh tas ranselnya di lantai dan mendudukkan diri tepat di sebelah Chanyeol dan Lay yang menelungkupkan wajahnya pada kedua lengan di atas meja. Sepertinya pria berlesung pipi itu tengah menikmati tidur paginya.

"Kau sudah baca sampai halaman berapa?". Kris menatap Chanyeol kemudian menarik tas ranselnya ke atas meja untuk mengeluarkan diktat juga beberapa alat tulis yang sekiranya dibutuhkan saat mengerjakan ujian nanti.

"Baca apa?". Bukannya menjawab, Chanyeol malah mengerutkan kening. Balik bertanya dan memperhatikan Kris yang saat ini mulai sibuk membuka-buka diktat statistikanya.

"Tadi kau bilang ada ujian dadakan, kau mau mempermainkanku?".

Chanyeol kerkekeh, mengelus-elus lengan berkemeja hitamnya dengan raut wajah yang terlihat kikuk."Masalah ujian itu.. um, bagaimana ya aku meng—".

"Kris~".

Tubuh Kris langsung menegang, kaget begitu mendengar suara lembut dan mendayu seorang Kim Suho memanggil namanya.

"Y-ya, a-ada apa?". Gagapnya tiba-tiba merinding mendapati sosok bak malaikat itu tengah tersenyum dan berdiri di depan mejanya.

Suho, si gadis cantik itu mengulurkan tangannya. Meletakkan sebuah balon plastik kempes tepat di hadapan Kris dengan ekspresi polosnya.

"Kris, kau mau membantuku meniup balon ini, kan?". Pinta Suho kemudian membulatkan mata indahnya, memohon secara tidak langsung agar pria blonde itu mau menurutinya.

"O-oke". Tak mampu menolak serangan puppy eyes yang Suho lancarkan, Kris meraih balon plastik lepek itu dan mencari tempat peniupnya.

Apa apa ini? Kenapa dia tiba-tiba bersikap manis dan minta tolong padaku? Apa dia salah minum obat? Atau jangan-jangan si cantik ini tengah kerasukan?

Kris menggelengkan kepalanya, segera menghapus pikiran negatifnya begitu tak sengaja menatap wajah Suho yang kini sedang tersenyum manis.

Ahh.. mungkin dia sudah lelah memusuhiku dan sekarang mau memulai genjatan senjata. Yap, berpikir postitif Kris. Gumam pria tampan itu di dalam hati. Sama sekali tak menyadari, di sampingnya, Chanyeol tengah menatapnya begitu antusias dengan seringai kecil tersemat di wajah. Begitu juga dengan penghuni kelas lainnya, terkecuali Lay yang tengah asyik menikmati alam mimpi tentusaja.

"Ini". Kris menyerahkan balon plastik yang sudah menggembung keras itu kembali pada pemiliknya. Membuat Suho memekik dan menerima balonnya dengan penuh kegembiraan. Kris pun tersenyum, ikut tertular rasa gembira yang kini Suho tengah rasakan.

"Ah! Aku punya satu permintaan lagi, boleh kan?".

Kris mengangguk mengiyakan tanpa berpikir dua kali.

"Kalau begitu tutup mata, aku punya sesuatu yang spesial untukmu. Pali pali~". Rengek Suho mendadak manja.

Kris pun kembali menuruti permintaan Suho, menutup kedua matanya dan menunggu hal spesial yang akan Suho berikan tanpa merasa curiga sedikit pun.

Apa yang akan dia berikan? Sampai-sampai aku harus menutup mata. Kado kah? Makanan kah? Atau jangan-jangan sebuah ciu—

Duak!

"Aw!". Kris memekik, membuka mata kemudian memegangi kepalanya yang baru saja dihantam sesuatu.

"Dasar naga bodoh! Naga sialan! Berani-beraninya kau mau merusak kepolosan Sehunku! Dasar berengsek kau!". Hardik Suho kesal seraya menghantamkan balon plastik berbentuk palu itu berkali-kali pada tubuh Kris terutama di bagian kepalanya.

"Hentikan! Aw! Sakit Suho! Hentikan! Kau salah paham! Itu cuma peppero games~". Jerit Kris terdengar pilu, berusaha menjelaskan sekaligus menghindar dan melindungi kepalanya yang mulai berdenyut-denyut nyeri.

Dan apa yang teman-teman sekelasnya lakukan? Mereka hanya menonton dan sesekali mengeryit merasa seram, membayangkan bagaimana menderitanya Kris tanpa ada keinginan untuk menolong sama sekali.

Ahh.. bahkan Chanyeol, sahabatnya sejak kecil, malah tertawa girang dan menepukkan tangan beberapa kali. Menikmati penderitaan Kris yang tentu saja hanya Suho yang bisa melakukan. Sementara Lay, ia masih saja terbuai di alam mimpinya.

Suho memang tak jadi membawa palu dari plastik solidnya, ia memilih membawa balon plastik dengan bentuk yang sama agar mudah dibawa dan disembunyikan di dalam tasnya. Meski hanya dari bahan plastik lentur, bila sudah menggembung tetap saja menimbulkan rasa sakit apabila dihantamkan pada tubuh dengan tenaga yang kuat. Lihatlah Kris, ia bisa menjadi bukti betapa sakit tubuhnya begitu menerima pukulan Suho tanpa bisa membalas karena lawannya ini adalah seorang wanita.

"Ya! Kubilang hentikan!". Kris geram, ia berdiri dan menepis keras tangan Suho yang hendak memukul kepalanya lagi.

"A-ahh!". Namun sayang, tubuh Suho terhuyung ke belakang, hendak jatuh karena tubuh kecilnya tak mampu menahan dorongan yang Kris berikan tanpa sengaja.

"Suho!".

Grep.

Refleks, Kris mencondongkan tubuhnya dan memeluk pinggang Suho dengan sebelah tangan. Menahan tubuh gadis cantik yang sudah menutup matanya pasrah itu agar tak jadi menghantam lantai.

.

.

.

Kenapa tidak sakit? Bukankah tubuhku jatuh menghantam lantai? Atau mungkin kepalaku terbentur keras sampai-sampai aku...

"Suho, kau tidak papa?".

Membuka matanya dengan perlahan, Suho penasaran siapa yang sudah memanggil namanya begitu penuh kekhawatiran.

Hidung mancung, bibir penuh, dan mata tajam menyambut Suho dari kegelapan.

Wajah mereka begitu dekat.

Dada Suho tak sengaja menempel pada dada bidang Kris yang mencondong ke arah depan.

Kris?

Iya Kris.

Palu plastik di genggaman Suho jatuh menghantam lantai.

Dan kedua mata itu pun saling terkunci, terperangkap pada pesona masing-masing yang tak disadari mulai menarik hati.

"Ehem! Sudah dulu drama rumah tangganya. Ayo duduk dan kita mulai perkuliahan, Kris, Suho".Tegur Jung-songsaengnim yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan kelas.

Suho pun menyeimbangkan tubuhnya dan melepas lengan Kris dari pinggangnya.

Gadis berkulit putih itu menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang terasa panas dari pandangan Kris yang masih saja menatapnya.

"Gomapta". Suho berkata pelan kemudian memungut palunya dengan buru-buru. "Tapi jangan berpikir ini sudah berakhir". Ucapnya kembali seraya berlari kecil menuju kursinya di barisan ke dua dari depan, kursi yang bersebelahan dengan Xiumin—yang kini terlihat tengah menahan cengiran di wajahnya.

Kris yang masih dalam posisi berdiri itu menganggukkan kepalanya kaku. Tak mampu berkata karena belum 100% dapat mencerna apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan si cantik Suho.

.

.

.

"Harusnya tadi ku foto, wajah kalian benar-benar dekat seperti pasangan yang mau ciuman!".

Suho merengut, melipat tangannya di dada dan berusaha mengabaikan keberadaan Xiumin yang berjalan tepat di sebelahnya.

Ia kesal.

Sangat kesal karena jadi bahan lelucon teman-teman sekelasnya setelah Jung-songsaengnim selesai memberikan tugas dan melenggang kembali ke ruang dosen.

Lay yang tadi tertidur dan melewatkan momen penting pasangan tom dan jerry kelasnya, bertanya, merasa penasaran atas perkataan 'Cinta dan benci itu setipis kertas. Jika kalian terlalu membenci, maka nantinya kalian akan saling menyukai. Bukankah begitu.. Kris? Suho?' yang disampaika Jung-songsaengnim sebelum keluar kelas tadi.

"Memang apa yang terjadi diantara mereka?". Tanyanya polos yang langsung disambut antusian oleh Chanyeol.

Dan drama picisan itu pun dimulai, dengan Chanyeol berperan sebagai Kris dan Taewoo sebagai Suho. Mereka berdua sukses mendramatisir adegan-adegan wajar jadi terlihat tidak normal.

"Sudah jangan terus cemberut, lebih baik kitacari kursi yang kosong dan aku akan mentraktirmu 2 cup ice cream rasa vanila". Hibur Xiumin seraya merangkul bahu Suho dan menariknya mencari kursi yang masih kosong.

"Noona!".

Suara tak asing terdengar dari suatu tempat.

"Suho-noona, dekat jendela!". Teriak orang yang sama lebih kencang.

Kali ini orang tersebut berhasil memberitahukan keberadaannya di mana.

"Ah! Kai, Tao!". Seru Suho begitu menemukan dua sahabat baik adiknya tengah duduk di dekat jendela.

"Kemari Noona, masih ada tempat kosong!".

Suho dan Xiumin pun tak menyianyiakan ajakan hobaenya, Suho berjalan menuju Kai dan Tao sementara Xiumin menepati janjinya—membeli beberapa cup ice cream sebelum nanti ikut bergabung.

"Sehun mana?". Tanya Suho begitu mendudukkan tubuhnya tepat di kursi sebelah Kai.

"Tadi begitu kelas selesai dia langsung buru-buru keluar, tidak bilang mau ke mana dan ada urusan apa". Jawab Kai seadanya. Ia pun mengaduk bubblenya, menyeruput cairan berwarna coklat itu dengan semangat.

"Ah! Tapi kalau tidak salah, di menit-menit terakhir jam perkuliahan dia terus mengecek ponselnya, Nonna". Tao ikut menanggapi. Wajahnya yang sering disamakan dengan panda itu terlihat serius dan berusaha mengingat sesuatu."Bahkan aku sempat melihat dia tersenyum ganjil saat membaca pesan yang masuk sebelum mulai membalasnya, Noona, apa Sehun punya pacar?". Jelasnya kemudian diakhiri sebuah pertanyaan.

"Tidak mungkin, dia pasti akan bercerita pada kita jika dia punya pacar. Lagi pula Sehun kan punya kebiasaan berubah jadi kikuk jika berduaan saja dengan wanita". Sergah Kai segera, merasa sedikit terancam dan tidak terima jika si maknae itu memiliki kekasih sebelum dirinya. Gengsi, Kai kan lebih tua jadi dia yang harus memiliki kekasih terlebih dahulu. Padahal diantara mereka bertiga, Tao lah yang memegang predikan sebagai kakak tertua. Tapi lihatlah, si bayi panda santai-santai saja menghadapi kemungkinan Sehun yang sudah mendahului melepas predikat singelnya.

"Jadi kikuk? Itu sih kau". Cibir Tao kemudian menjulurkan lidahnya mengejek. "Kau sendiri menyadarinya kan, belakangan ini Sehun lebih sibuk dengan ponselnya? Dia juga sering menghilang entah ke mana seperti sekarang ini. Aku yakin, saat ini pasti dia sedang berkencan dengan pacarnya di tempat tersembunyi". Lanjutnya cuek, tak peduli pada perasaan Kai yang semakin dibakar api cemburu—cemburu karena Kai belum juga bisa merebut hati incarannya sejak beberapa bulan yang lalu.

"Ani, itu tidak mungkin. Kalau pun benar dia ada yang dia suka, pasti dia akan menceritakannya dan meminta pendapat dari kita. Tapi ini? Jangan berspekulasi yang aneh-aneh dulu, Tao!". Kai masih kukuh membantah, tak terima jika benar Sehun sudah memiliki pacar. Tapi.. apa yang Tao katakan ada benarnya juga sih. Lanjut Kai di dalam hatinya.

"Kalian membicarakan apa?"

Minseok datang, menaruh 5 cup ice cream berbagai rasa di atas meja kemudian duduk di sebelah Tao.

"Kami sedang membicarakan Sehun yang punya pacar". Celetuk Tao yang langsung membuat mata bulat Xiumin semakin membesar.

"Mwo?"

"Ani, jangan dianggap serius Noona. Itu hanya spekulasi!" Sergah Kai masih saja ngotot.

Dan perdebatan mengenai Sehun punya pacar atau tidak itu pun kembali bergulir. Mengabaikan Xiumin yang masih memandang Tao juga Kai dengan mata bulatnya.

"Ahh.. aku pusing mendengar perdebatan kalian". Xiumin mengalihkan pandangannya, meraih ice cream coklat di meja dan mulai membuka penutupnya. "Suho, cepat makan sebelum meleleh. Kau ingat kan punya dua ice cream yang harus dihabiskan". Ucap Xiumin masih asik menunduk, menikmati rasa dingin dan manis lumer di dalam mulutnya

Sementara itu, tanpa menunggu ditawari terlebih dahulu, Kai dan Tao langsung meraih cup ice crem di hadapan Xiumin dan memakannya bersamaan. Tak lupa, perdebatan itu pun kembali mereka lakukan disela-sela menikmati ice cream geratisan dari si Noona cantik bermata kucing.

"Suho, kenapa belum dimakan juga?". Xiumin mengangkat wajahnya, memandang Suho yang hanya diam dan menundukkan kepala. "Ya! Suho, kau kenapa?". Panik Xiumin begitu menyadari sahabat baiknya itu tengah berusaha menahan tangis. Xiumin pun buru-buru bangkit dari posisinya dan memeluk Suho dari arah samping Suho pun menyambut kedatangan Xiumin dan menenggelamkan wajahnya pada blous abu-abu yang wanita itu kenakan.

"Noona!". Pekik Kai dan Tao bersamaan. Mereka pun merubah posisinya, lebih dekat pada Suho yang kini mulai mengeluarkan air mata dalam pelukan Xiumin.

"Noona, Noona kenapa?" Kai yang duduk di sebelah Suho mengelus punggung wanita itu yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri.

"Noona, apa ada yang sakit?" Kali ini Tao yang bertanya khawatir. "Jika ada, ayo ku gendong ke unit kesehatan". Tawar Tao kemudian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kai.

Sebelum Tao dan Kai berdebat kembali, Xiumin membawa telunjuknya ke arah bibir untuk meminta mereka diam dan jangan dulu mengganggu. Tao dan Kai pun menganggukkan kepalanya, menundukkan wajah merasa menyesal karena tadi lebih fokus berdebat sampai-sampai mengabaikan keberadaan Suho.

"Min~" Setelah menenggelamkan wajahnya cukup lama, Suho mengangkat wajahnya. Menatap Xiumin dengan mata sembab dan wajah memerah.

"Ne, wae?" Tanya Xiumin dengan lembut seraya merapikan poni Suho yang menutupi mata sendunya.

"Min~ bagaimana kalau Sehun benar-benar punya pacar? Apa yang haru aku lakukan?"

Xiumin mengelus punggung Suho, merasa kasihan sekaligus frustasi pada brother-complex Suho—yang sering ia sangkal—yang mulai menguasi dirinya.

"Aku takut, aku takut Sehun tidak sayang lagi padaku."

Ahh.. kalau sudah begini tak akan ada yang mampu menghadapi dan menenangkan Suho selain adiknya sendiri

Tapi..

Sehunah, odiseo?

.

.

TBC

.

.

Mind to review ?

.

.

Choco_Chi

9/17/2016

.

.


Special thank's :

Terimakasih untuk | Dewi18 | kyungin-kim-do | myunmyun | nadira12 | chogiwaa |Guest | & | SkyScrapper's | untuk reviewnya.

Terimakasih untuk| nadira12 | kyungin-kim-do | cici fu | chogiwaa | aprilliahartanti | & | IchaPJY | untuk follownya.

Dan terimakasih banyak untuk| nadira12 | & | aprilliahartanti | untuk favoritnya.

A/N :

Hello, Choco Chi is here!

Sebelum mulai bercuap cuap ria, saya mau berterimakasih pada reader sekalian yang udah mau meluangkan waktunya untuk membaca dan meninggalkan jejak di kolom review. Jujur aja, saya bener-bener ga percaya diri buat posting fanfic di tempat inikarena sudah hampir dua tahun lebih saya ga nulis fanficsama setelah terombang ambing menjadi gosht reader di berbagai fandom tanpa OTP yang menetap, keinginan saya buat berpartisipasi lagi kembali muncul setelah tidak sengaja menemukan sosok Suho yang.. ahhhe's so perfectbuat dijadiin bahan imajinasi. Dan inilah hasilnya, fanfic fandom K-Pop perdana sekaligus fanfic pertama dengan alter ego yang baru setelah lama hiatus dan menepi. So, mohon maaf banget apabila teknik penulisan saya jelek dan alur ceritanya ga pas sehingga kurang enak dibaca. Mudah-mudahan di chapter-chapter selanjutnya tulisan saya bisa membaik dan tidak menyakiti mata reader sekalian lagi.

Btw, saya nulis chapter 2 ini full menggunakan hp. Mohon maaf bila banyak typo karena saya ga sempet ngecek lagi sebelum diposting.

Bye bye, see you in next chapter :D