.
.
.
Brother-Complex © Choco_Chi
.
.
.
.
Main Cast :
Wu Yifan
Kim Junmyeon (GS)
Oh Sehun
.
Support :
EXO Member and other cast
.
Genre :
Family; Romance; Hurt
.
Warning :
Meski pun ini fanfic GS tapi reader sekalian masih akan menemui hints Yaoi cukup sering dalam cerita ini. Bagi reader sekalian yang tidak suka genre Yaoi tidak dianjurkan untuk lanjut membaca, hints Yaoi yang muncul tidak bisa di skip karena bagian dari inti cerita dan pemicu konflik-konflik yang menggiring cerita menuju bagian akhir.
Fyi, hints Yaoi yang muncul di cerita ini masih tergolong dalam setatus ringan.
.
Disclaimer :
EXO punya SM Enterteiment, member hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, saya cuma pinjem nama dan isi cerita sepenuhnya dari pemikiran saya.
.
Summary :
Suho tak mengidap brother-complex, ia hanya menyayangi Sehun lebih dari apapun dan ingin menjaganya dari segala pengaruh buruk di masa muda. Termasuk dari Wu Kris, lelaki berjiwa bebas yang ia anggap hampir menjerumuskan Sehun dan mengingatkannya pada seseorang di masa lalu yang telah meninggalkan luka di masa kecilnya.
.
.
.
CHAPTER 3
.
.
Bersandar pada batang pohon mapel di samping lapang baket outdoor universitas, Sehun duduk begitu nyaman dengan kotak makan siang berada dalam pangkuan. Kedua mata itu yang biasanya menatap tajam bagai elang kini nampak menyipit, menikmati sensasi rasa yang lidahnya kecap tiap pasang sumpit perak itu berhasil mengantar makanan ke dalam mulutnya. Sehun begitu bersemangat, melahap makan siangnya tanpa jeda hingga kedua belah pipi tirusnya menggembung terlihat lucu.
Sehun tidak sedang kelaparan tidak juga melewatkan sarapannya. Chicken cream soup yang pagi ini bibi Jung buat dan roti yang ia makan di sela pergantian mata kuliah jam sembilan tadi, masih mampu mengganjal perutnya sampai jam tiga nanti. Hanya saja.. rasanya makanan ini begitu spesial. Bukan karena rasanya yang mampu mengalahkan cheff restoran berbintang, bukan juga komposisi makanannya yang tersusun dari sarang burung walet, sirip hiu atau caviar langka dan mahal. Makanan ini.. adalah makanan yang dibuat oleh orang yang Sehun cintai.
"Aku tahu rasanya enak, tapi perhatikan cara makanmu".
Oh! Rupanya Sehun tak duduk seorang diri.
Orang itu, yang juga tengah menikmati makan siangnya di bawah pohon mapel mengulurkan tangan. Meraih sebutir nasi di sudut bibir Sehun dan membersihkan noda mayones di dagu mahasiswa semester satu itu dengan ibu jarinya.
Sehun pun tersenyum. "Gomawo~". Ucapnya kemudian dengan susah payah dan malah dihadiahi tusukan jari di pipi kirinya.
"Telan dulu makananmu baru bicara". Tegur orang itu kembali seakan tengah mengajari anak prasekolah tata cara makan yang baik.
Dan kali ini Sehun pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Setelah itu tak ada percakapan lagi yang terdengar, kedua orang orang yang tengah duduk di bawah rindangnya pohon itu sibuk dengan makanannya masing-masing.
Ahh~ cuaca hari ini terasa begitu baik.
Sinar matahari tak terlalu terik meski waktu menunjukkan sudah tengah hari dan angin semilir yang bertiup membawa kesejukan begitu nyaman menyentuh kulit yang sebelumnya terasa panas kegerahan.
Setengah jam yang lalu, tepat di tengah lapangan, dua orang dengan tinggi badan yang sama-sama menjulang itu baru saja menyelesaikan one one one-nya. Tak terlalu lama memang, namun cukup untuk membakar lemak dan membuat tubuh keduanya kepayahan karena Sehun yang terlalu berambisi mendapat kemenangan. Padahal hanya tiga angka, namun Sehun melakukan perlawanan dengan mengerahkan semua tenaganya sampai sang lawan hampir kalah kewalahan.
Ya, hampir kalah karena—
"Kris-hyung~ tadi kan aku yang kalah, tapi kenapa tetap memberikan makanannya padaku?".
—Sehun lah yang kalah dan ahh.. rupanya Kris, orang yang sejak tadi menemani bocah albino itu duel basket dan makan siang di bawah pohon.
Kris yang masih mengunyah suapan terakhirnya tak langsung menjawab, ia memilih membereskan dan memasukkan dua kotak makan siang yang sudah kosong itu ke dalam paper bag sebelum mulai menanggapi pertanyaan hobae kesayangannya. "Aku tidak mau kau menangis dan membawa Noona-mu kemari. Kepalaku masih sakit karena palu sialannya itu". Jawab Kris bergurau sekaligus dongkol pada perbuatan si manis Suho di kelas tadi pagi.
Sehun pun tersenyum kikuk, merasa bersalah sekaligus kasihan pada Kris yang hampir tiap hari menjadi korban kekerasan Noona-nya tanpa alasan yang jelas. "Maafkan aku Hyung, aku sudah berusaha menjelaskannya tapi Noona tidak mau dengar. Dan palunya.. tadi malam kan sudah aku sembunyikan, tapi kenap—".
"Itu bukan palu plastik solid yang biasa, Noona-mu yang jelmaan Thor itu membawa palu dari balon plastik yang ternyata tak kalah menyakitkan dari palu yang biasa." Jelas Kris memotong pembicaraan seraya mengeluarkan dua botol air mineral dari kantong plastik yang tadi sempat ia beli di kantin fakultas.
"Balon plastik? Pantas saja tadi pagi aku tak melihatnya." Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya dan menerima satu botol air mineral yang tutupnya sudah Kris bukakan. "Tapi Hyung, Noona ku kan tidak bisa meniup balon. Kenapa Hyung tidak kabur saja saat Noona minta tolong ditiupkan balonnya pada orang lain?"
"Mana bisa kabur jika aku sendiri lah yang meniupkan balon itu untuk Noona-mu". Aku Kris.
Dan Sehun pun terbahak seketika, menertawakan kebodohan Kris yang mau mau saja dimintai tolong oleh kakaknya. Sama sekali tak menaruh curiga jika balon yang dia tiup akan menjadi alat penyiksa dirinya. Tubuh yang sejak tadi bersandar pada batang pohon itu pun jatuh meringkuk di rerumputan. Merasa sakit di perut karena tak mampu menghentikan tawa.
"Terus saja tertawa dan jangan menangis bila nanti kau patah hati. Lihat saja, aku akan memilih Minho yang lebih manly darimu unt—"
"Ya! Hyung andwae!" Sehun buru-buru bangkit, berseru memotong perkataan Kris dengan paniknya. "Jangan lakukan, aku sudah berjuang sejauh ini Hyung. Jebal~" Rengeknya kemudian dengan mata yang menyipit dan bibir yang hendak dimajukan. Namun Kris buru-buru memiting kepala Sehun di ketiaknya. Tak membiarkan Sehun memperlihatkan ekspresi merajuk andalan keluarga Kim itu.
"Kau ini, jangan buat ekspresi seperti itu! Kau mau posisimu benar-benar ku gantikan oleh Minho, hah?" Gertak Kris gemas seraya mengacak-acak rambut Sehun yang masih terjepit di ketiaknya.
"Ne. Ne. Aku mengeri. Sekarang tolong lepaskan aku Hyung!". Rengek Sehun kembali namun kali ini suaranya terdengar lebih jantan. Tak seperti rengekan sebelumnya yang terkesan manja menyerupai balita. Rupanya Sehun benar-benar takut kehilangan posisinya.
"Nah begitu, lelaki menly tidak boleh merengek seperti bayi—" Kris melepas pitingannya. "—apa lagi menampakkan ekspresi seperti Noona-mu itu. Aku benar-benar tidak tahan". Lanjut Kris kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menghapus bayangan Suho yang beberapa kali tak sengaja ia lihat tengah merajuk pada Sehun dan juga Xiumin.
Sehun yang sudah terbebas kemudian membulatkan mata, menatap Kris serius seraya merapikan rambutnya yang acak-acakan. "Tidak tahan kenapa Hyung?" Tanya Sehun dengan polosnya, tak menyadari tubuh kekar seorang Wu Kris menegang seketika.
Tidak tahan? Benar juga, aku tidak tahan kenapa ya? Gumam Kris dalam hari mempertanyakan stetmennya sendiri.
Lama Kris berpikir namun sangat sulit menemukan jawaban yang tepat untuk dikatakan. Ia harus berhati-hati, jangan sampai apa yang dikatakan malah jadi blunder nantinya.
Ia tak mau Sehun sampai tahu jika ia menyukai ekspresi merajuk Suho yang terlihat begitu lucu dan sangat menggemaskan.
"Hyung, kenapa malah melamun?" Sehun mengibaskan tangannya di depan wajah Kris.
Eh? Apa yang barusan ku pikirkan?
"Hyung?"
Kris menggelengkan kepalanya. "Ah itu, aku tidak tahan.. tidak tahan ingin me-"
Dret dret dret dret.
"Ah chakkaman, ponselku berbunyi Hyung". Sehun memotong. Merogoh saku jeans untuk mengambil ponsel pintarnya.
Kris pun kembali bernapas dengan lega.
"Kai?". Ucap Sehun membaca nama ID pemanggil di layar ponselnya. "Yoboseo Kai, ada apa?" Tanyanya kemudian setelah menekan icon hijau dan menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.
Sepertinya apa yang Sehun dan Kai bicarakan sangat lah penting. Kris bisa melihat raut wajah Sehun yang tadi biasa saja mendaak berubah menjadi panik. Dan begitu sambungan terputus, hobae kesayangannya itu langsung bangkit berdiri. Menggendong kembali tas ranselnya dan segera berlari jika saja tangan besar Kris tak menahannya untuk tetap diam di tempat.
"Ada apa? Siapa yang menelfon?" Tanya Kris yang juga ikut berdiri.
"Noona menangis!". Jawab Sehun cepat seraya melepas tangan Kris dari lengannya. "Aku harus segera menemuinya, Hyung". Pamit Sehun kemudian sebelum berlari cepat menuju gedung fakultas ekonomi yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya kini berada.
Kris yang ditinggal sendiri, yang tak mengerti dengan apa yang Sehun katakan hanya berdiri terpaku. Memandang kepergian Sehun yang lama kelamaan semakin jauh dan tak terlihat lagi begitu berbelok diantara dua gedung.
'Noona menangis'
Noona?
Suho?
Menangis?
Suho menangis?!
Mengerahkan sisa tenaganya, Sehun berlari secepat mungkin menuju kantin gedung fakultas ekonomi. Umpatan dan teriakkan orang-orang yang hampir terjungkal tak sengaja ia tabrak sama sekali tak dipedulikan. Dalam otaknya kini hanya ada nama Suho dan bagimana caranya agar ia bisa sampai lebih cepat untuk menemui kakaknya itu.
Suho yang menangis merupakan berita paling buruk bagi telinga Sehun.
Bukan lebay dan tanpa alasan Sehun panik seperti ini, hanya saja.. Suho, saudara kandung Sehun satu-satunya adalah wanita yang kuat. Suho tak mudah menangis seperti gadis-gadis lainnya. Ia hanya akan menangis dihadapan Sehun dan Eomma-nya saja. Dan jika Suho sampai menangis di hadapan orang lain, apa lagi di tempat umum seperti ini, pasti ada kejadian serius yang menimpa kakaknya.
Lalu apa yang terjadi?
Sebuah nama tiba-tiba saja muncul dalam otaknya.
Apa mungkin orang itu kembali dan menemui Noona lagi?
Sehun menggelengkan kepala, mengusir kemungkinan paling buruk yang otaknya baru saja pikirkan.
Jangan dulu berspekulasi, kau harus lebih cepat Kim Sehun! Serunya kemudian dalam hati, menyemangati diri sendiri agar lebih cepat menggerakkan kaki menuju tempat di mana kakaknya berada.
"Suho hentikan, orang-orang memperhatikanmu. Apa kau tak malu menangis di hadapan orang banyak seperti ini?" Xiumin masih berusaha meredakan tangisan Suho, memeluk erat sahabatnya itu dan mengelus rambut sebahunya dengan hati-hati.
"Hiks~ Aku tidak peduli, yang ku takutkan hanya kehilangan Sehun. Hiks~" Timbal gadis seputih susu itu parau disela isakkannya.
Xiumin mendecak pelan, melirik dua pria yang duduk di hadapannya dengan pandangan begitu sengit. Menyalahkan kedua pria itu yang sudah berkata bodoh dan membuat Suho menangis seperti ini. Dan kedua pria yang ditatapnya itu malah menyikut satu sama lain, saling menyalahkan dan membela diri agar tak mendapat tamparan panas dari tangan cantik Xiumin.
Wanita bermata kucing itu benar-benar galak jika sudah dikuasai emosi.
"Noona!"
Dan tiba-tiba saja suara teriakkan cukup kencang terdengar dari arah pintu. Semua mata yang awalnya fokus pada Suho kini kompak menatap pria jangkung berambut blonde yang tengah berlari masuk itu dengan tatapan kagum. Rambut acak-acakan tertiup angin, pelipis dan leher putih yang dihiasi bulir keringat juga kemeja di bagian dada yang kancingnya hampir terbuka benar-benar pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Kim Sehun, mahasiswa semester satu jurusan manajemen bisnis itu benar-benar makhluk yang sexy.
"Sehunah~"
Suho yang sejak tadi membenamkan wajahnya di dada Xiumin mendongak, menatap adik kesayangannya dengan mata nanar dan napas yang tersengal.
"Noona ada apa?" Sehun mengambil alih posisi Xiumin. Menarik kakaknya untuk berdiri dan mendekap tubuh setinggi bahunya itu dengan begitu erat. Tak lupa ia edarkan pandangannya ke seluruh sisi ruangan, mencoba mencari sosok yang tadi sempat terlintas dalam pikirannya.
Syukurlah, apa yang ia takutkan sama sekali tak terjadi.
Sehun pun mengecup kening kakaknya merasa sedikit lega.
"Nonna, kenapa menangis, huh?" Tanya Sehun kembali karena pertanyaan yang tadi tak mendapat jawaban.
Isakan Suho sudah mulai mereda, mata bulat seperti kelinci itu menatap wajah adiknya dengan pandangan yang serius. "Sehunah~" Bukannya menjawab, Suho malah memanggil nama adiknya dengan lirih.
"Ne?" Sehun tersenyum mengelus rambut kakaknya dengan begitu sayang. Sepertinya kakaknya ini akan mengatakan sesuatu yang sangat penting.
"Sehunah~ Apa benar kau punya pacar?"
"Eh?"
Mata tajam Sehun membulat, kaget dengan apa yang baru saja kakak manisnya tanyakan.
"Apa kau punya pacar? Cepat jawab, Sehunah!" Seru Suho tak sabaran.
Sehun melirik Xiumin, meminta penjelasan secara tak langsung pada wanita yang sudah dia anggap sebagai kakak keduanya. Dan Xiumin hanya menggedikkan bahu lalu menatap Kai dan Tao sebagai jawaban.
Sehun menghela napas, ikut menatap Kai dan Tao yang tengah menunduk dan menggaruk tengkuknya masing-masing. Tak berani memandang wajah sahabatnya sejak SMP itu.
"Siapa yang bilang aku punya pacar? Apa Kai dan Tao?" Bukanya menjawab, Sehun malah balik bertanya. "Apa Kai dan Tao?" Tanyanya kembali yang malah menjawab pertanyaannya sendiri.
Suho mengangguk. Menggigit bibir merahnya saat jemari sehun mengelus dan membersihkan air mata yang masih tertinggal di pipinya.
Sehun pun tersenyum, menarik tubuh Suho lagi untuk ia perangkap dalam pelukannya. "Noona sudah mengenal mereka lebih dari tiga tahun, kenapa masih mudah percaya pada omongan mereka yang sering kali melantur dan berlebihan?"
Suho menundukkan kepala, memikirkan apa yang baru saja Sehun katakan kepadanya.
Benar juga. Kai dan Tao itu, meski umurnya sudah hampir dua puluh tahun tapi kelakuan dan cara berpikirnya masih sama seperti saat pertama kali bertemu. Saat umur mereka masih dua belas tahun. Dan harusnya Suho sudah tahu jika omongan kedua lelaki itu tak semuanya bisa dipercaya. Tapi kali ini.. apa yang mereka katakan terasa begitu meyakinkan. Suho dapat melihat itu dari gestur dan tatapan mata mereka yang serius.
"Lalu barusan kau dari mana saja? Kenapa tidak makan siang dengan Kai dan Tao?"
"Ahh, itu.. Kris-hyung tadi menghubungiku. Katanya ada hal penting yang mau dia bicarakan tapi saat ku temui Kris-hyung berbohong dan malah mengajakku one on one di lapangan outdoor. Jadi ya begitu~" Jelas Sehun sedikit memanipulasi, tak mau Suho sampai tahu apa maksud dari pertemuan mereka yang sebenarnya. Ia belum siap.
"Naga bodoh itu!" Kecurigaannya pada Sehun menguap begitu saja. Kali ini rasa kesal dan gatal ingin memukul lagi kepala Kris memenuhi pikirannya. "Sepertinya pukulanku tadi pagi belum cukup menyakitkan baginya".
"Sehun! Apa yang terjadi pada Suho?!"
Ahh.. semua orang dalam ruangan merasakan deja vu secara bersamaan.
Seorang pria dengan ciri yang mirip dengan Sehun : bertubuh tinggi, berambut blonde, berkulit putih, dan memiliki wajah yang tidak beda jauh tampannya, berlari masuk. Keadaan pria itu—Kris—juga tidak beda jauh dengan Sehun saat pertama kali menginjakkan kakinya di tempat ini beberapa menit yang lalu.
Sungguh beruntung gadis-gadis di kantin ini, bisa melihat pemandangan sensual dua pria tampan idola universitas secara kebetulan.
"Suho, kau kenapa?" Tanya Kris begitu sampai di hadapan kakak beradik itu.
Suho yang kaget atas kemunculan Kris yang tiba-tiba, apa lagi menanyakan bagaimana keadaannya, terbengong, memandang Kris tanpa berkedip sekali pun.
"Kau tidak papa?" Kris meraih bahu Suho. "Ada yang terluka?" Kemudian mengguncang sedikit bahu kecil itu. "Siapa yang menyakitimu?" Berondong Kris seraya menarik Suho dari pelukan adiknya.
"Pangeran berkuda putih pun datang, merebut sang putri tercinta dari dekapan si monster jah—"
Plak!
"Aww!"
"Dasar mesum! Berani-beraninya kau menyentuh tubuhku!" Pekik Suho keras setelah melayangkan tamparan di pipi kiri Kris.
Pipi yang putih mulus, yang selalu ia jaga kesehatannya dengan berbagai produk mahal itu bernoda seketika. Dikotori oleh tanda merah berbentuk telapak tangan Suho yang kecil—yang dengan jelas dapat memberitahu semua orang bahwa tamparangadis itu benar-benar penuh tenaga.
Rupanya monolog iseng yang seseorang bacakan di tengah kesunyian tadi berhasil menyadarkan Suho dari alam bawah sadarnya.
.
.
TBC
.
.
Mind to review?
.
.
— Choco_Chi —
10/2/2016
.
.
Special Thank's :
[Dewi18] Iya nih benihnya sudah mulai ditanam dan disiram air, eaaa~
[Song Soo Hwa] Kan Suho sayaaaang baget sama adenya, jadi dia rela ngelakuin apa aja buat melindungi Sehun dari segala bahaya dan pengaruh buruk. Dan apa yang disembunyikan Sehun, masih jadi misteri nih.
[daebaektaeluv] Udah next nih, reviewnya ditunggu ya hehe
[Sky Scrapper's] Maaf momen Krishonya di sini sedikit juga, saya lagi seneng mengeksplor hubungan Hunho sama Krishun dulu nih sebelum momen Krisho merajalela di chapter-chapter berikutnya hehe.
[chenma] Iya Umin GS juga di sini. Duh, jadi kepikiran incest ya tapi ga akan ko Suho cuma sayaaaang banget sama dedenya lol Terimakasih juga masukannya semoga di chapter ini ada perubahan ya.
[thedolphinduck] Eheheh maaf ya, ini fanifc GS dan Kai sama Sehun di sini cowo jadi ga bisa bersama.
[mimimiu] Iya nih, sekarang-sekarang ini banyak banget momen mereka lagi bersama. Yah.. walau pun banyak diabaikan dan didustakan lol
Btw terimakasih kepada Song Soo Hwa dan suho cuteuntuk favoritnya.
Dan terimakasih juga kepada Song Soo Hwa | chenma | daebaektaeluv | suho cute | thedolphinduck | dan | with hoya untuk follownya.
A/N :
Hello, Choco Chi is here!
Duh updatenya lama ya? Mohon maaf semua. Dua minggu ini saya sibuk bikin makalah-makalah presentasi dan tugas observasi berkesinambungan dari kampus. Jadi ga sempet nulis meski otak udah pusing pengen disalurin imajinasinya. Mohon maaf juga kalau chapter ini lebih garing dari chapter sebelumnya, apa lagi Krisho momentnya cuma sedikit hehe. Di chapter ini saya memang lagi fokus ke hubungan Hunho sama Krishun sebagai pondasi(?) dan pemicu konflik kedepannya. Mudah-mudahan kalian masih mau sabar menunggu momen Krisho muncul di chapter-chapter berikut.
Btw, terimakasih untuk para silence reader yang sudah menyempatkan diri untuk membaca, mudah-mudahan hatinya tergerak untuk meninggalkan jejak di chapter-chapter selanjutnya.
Bye bye see you in next chapter :D
