Friend
.
[MinYoon. Jimin x Yoongi]
Bahasa campur
.
Rate M
.
.
.
Yoongi selalu menjadi hal pertama bagiku. •Park Jimin
.
Satu sekolah ini tau, bahwa manusia bernama Park Jimin dan Min Yoongi sudah bersahabat/? Sejak kecil. Eiit, tapi jangan senang dulu. Bersahabatnya mereka, bukan bagaimana teman sesama teman yang saling mendukung atau sejenisnya.
Sahabat dalam pikiran mereka berbeda, dimana saling menghina, menghujat, sampai menyakiti satu sama lain sudah menjadi makanan sehari-hari.
La'iin
PJM
-Hoy albino,
-Apaan nih,
PJM mengirim foto
-Selpi dihpku,
-Sok imut lagi, dada dibuka-buka..
.
Yunggih
-Syialan otak mesum
-Yang nyuruh ntuh hp
-Ditinggal
-Dimeja nakasku siapa
-Heh
-Main cari muka lagi
-Sok baik dihadapan eomma
-Cuman buat nyicip kuenya
-DASAR PANTAT MONYET
PJM
-UPIL BABI
Yunggih
-MUNTAH KUCING
PJM
-KAKI CEWE
Yunggih
-BANTET
PJM
-YAHH NGACA COEG
-PERLU DIBELIIN KACA SEMETER EMANG?
-SEMUA TAU AKU LEBIH TINGGI
Yunggih
-BEDA 1CM AJA BANGGA, OGEB?
-LIAT TUH JARI TANGAN MU
-GEMUK SEMUA
-SATU JARI
-BISA SATU KILO
PJM
-CKH
-YANG PENTING ANUKU BESAR
-LAH PUNYAMU KEK PENSIL
-BHAK
Yonggih
-JAN MENTANG2
-KITA UDAH PERNAH
-LIAT2AN PUNYA MASING2
-JADI BANYAK BACOT
-PANTAT GEDEMU TUH
-DIKECILIN
-MALU SAMA CEWE
PJM
-SEKSI PAN
-PANTATKU
PJM mengubah nama menjadi Keseksian Jimin
Yunggih
-BACOT
Keseksian Jimin
-JADI INGET PAS KAMU KETAHUAN
-NYIMPEN MAJALAH DEWASA
-DIKAMAR
-DIMARAHIN HABIS2AN
-AMPE NANGIS
-MINGGAT KERUMAHKU
-MELUK2 EOMMA+HYUNGKU
-PAAN COBA :V
-PPFFTTTT
Yunggih
-INGAT HOY
-KETUA OSIS SAMA AKU
-NGELIAT KAMU
-MAIN SOLO DIWC SEKOLAH
-YAH EMANG AKU KIRA
-BEDUA SAMA SIAPA
-TERNYATA
-MENDESAH SENDIRI
-PPFFTTT
-NTU KETOS SAKIT SEMINGGU
-CUMAN GARA2 DENGER
-DESAHAN SEORANG
-PARK MESUM PAIMIN
Keseksian Jimin
-PAS ITU SIAPA?
-YANG NYOSOR KE
-BIBIR SEKSIKU DULUAN?
-AMIT-AMIT DAH
-CIUMAN PERTAMAKU SAMA COWO ALBINO
Yunggih
-KAMU TAU SENDIRI
-AKU MABUK PAN
-JAN SENENG
-KEK GITU DOANG
-TERUS SIAPA
-YNG MEGANG ADIK KECILK
-ALASAN KESANDUNG LAH
-BASI!
Keseksian Jimin
-OHOKS
-NGAKU AJA
-TAGANG PAN?
-DASAR MAHO
Yonggih
-EMANG
Keseksian Jimin
-MAHO DIPELIHARA
Yonggih
-IDIIH TANGAN TUH
-DIKONDISIKAN OGEB
-EMANG AKU GAK NYADAR
-BIASANYA BILANG
-GAK SENGAJA
-GA SENGAJA PAAN
-KALO NYENTUH
-PAHA PANTATKU
-BERKALI2 JUGAK
Ketampanan Jimin
-KUTIL BADAK EMANG GAK
-BISA DIGITUIIN PAN?
Yoongih
-BULET DASAR
-TAIKS KAMBING
Keseksian Jimin
-Udah lah Yoon
-Aku capek
-Pacaran yoks!
Yoongih
...
..
.
Jimin menggoyang-goyangkan ponselnya. Biasanya Yoongi membalas pesannya cepat, tapi ini. Ini sudah 30menitan, Yoongi belum juga membalas pesan Jimin. Takut pesannya tidak terkirim, Jimin mengirim ulang pesannya tadi. Namun, tetap tidak ada balasan dari Yoongi.
"Si albino, kenapa?"
.
.
.
Jimin berjalan dikoridor sekolah, tidak jauh didepannya Yoongi berjalan sambil membawa beberapa buku ditangannya.
"Oh! Yoon!"
Yoongi menatap asal suara, matanya membulat. Setelah mengatakan 'shit', ia melesat cepat. Berbelok ketempat yang sama sekali bukan tujuannya.
Jimin berpikir lagi, Yoongi sedikit aneh pikirnya. Oke Jimin akan mengabaikannya hari ini.
.
.
Jam makan siang tiba, setelah kejadian kemarin Jimin ingin berbicara dengan sahabat bacotnya. Tapi lagi-lagi, pesan Jimin terabaikan, bahkan tidak dibaca.
Oke Jimin mengabaikannya lagi. Dan menuju kantin sendiri.
Yoongi ada, dipojokan tempatnya makan biasanya. Jimin tersenyum bahagia, dengan semangat 69 ia berjalan menghampiri dan duduk dihadapan Yoongi.
"Hoy, kenapa tidak membalas pesanku. Yoongi-ah?"
Yoongi kaget dan menjatuhkan sumpit ditangannya. Kalian pasti tau apa yang terjadi selanjutnya. Yoongi membawa makanannya, dan kembali kekelas tanpa kata-kata.
Jimin hanya mengkerutkan dahi bingung serta menggaruk kepalanya.
.
.
.
Ini sudah hampir dua minggu, Yoongi mengabaikannya. Padahal Jimin sering, melihat Yoongi berjalan dengan teman sekelasnya membawa ponsel ditangannya.
Jimin mencoba, meneliti kembali kolom chatnya dengan Yoongi. Mingkin saja ada yang membuat Yoongi tersinggung, pikirnya.
Dan ketemu, candaan Jiminlah pasti penyebabnya. Ia beryess ria mendapat petunjuk itu, Jimin meletakkan ponselnya lalu beranjak tidur.
"Kita akan bicara besok, Yoongi-ah!"
.
.
.
Hoseok sudah ada disebelah Jimin. Jimin menyuruhnya, untuk membantu menarik Yoongi supaya datang menemuinya. Setelah mengirim pesan dari ponsel Hoseok, akhirnya upan tertangkap.
Yoongi duduk didekat sumur berhantu belakang sekolah. Ya elaah ga ada yang lebih elit napa. Tapi itu ide Hoseok, ia bilang sering menemui Yoongi disini saat dalam keadaan serius.
Jimin keluar dari persembunyian, mendengar ada suara langkah mendekat Yoongi memengadah lalu berdiri.
Dan berlari meninggalkan Jimin. Jimin lelah, apa harus mengejar lagi? Pikirnya. Tidak perlu berpikir banyak harus tetap dikejar bukan?
Tubuh kecil Yoongi berlari cepat, ia bahkan mendengar umpatan Jimin dibelakangnya. Perseran dengan umpatan, yang Yoongi inginkan hanya selamat, ya selamat dari kejaran Jimin.
Taoi itu hanya angan, seseorang menarik tudung hoodie hitamnya.
"Yoon, maaf!" Yoongi memberontak tapi tangan Jimin meraih tangannya dengan kuat. "Hey waktu itu aku bercanda, jangan dipikirkan. Aku juga tau laki sama laki tidak bisa bergabung bukan?"
/degh/
Terucap sudah hal yang ingin diucapkan Jimin sejak tadi. Tangannya melepas lengan Yoongi dengan santainya. Padahan ia tidak menyadari perubahan cepat ekspresi Yoongi.
"Nah jelas sudah, jangan menghindar lagi emh!" Jimin mengusak surai Yoongi, sedangkan Yoongi masih diam ditempat. "Oh, sudah bel. Aku kekelas duluan Yoon, bye!" seru Jimin setelah mendengar bunyi bel masuk kelas.
Ia berbalik dan meninggalkan Yoongi. Saat Jimin menginjakkan kaki dilangkah kelima
/dugk/
Sesuatu yang keras menimpa, kepalanya. Sakit? Jelas sakit, sebuah sepatu putih tergeletak didekatnya.
Jimin berbalik, ia sudah memasang wajah kesal seakan ingin membunuh. Namun wajahnya kembali berubah, saat matanya menangkap sosok pelempar sepatu yang menatapnya dengan sudut mata berair.
Yoongi menangis?
Jimin masih bingung, saking bingungnya ia tidak sadar bahwa Yoongi sudah berjalan dengan kaki menjinjit. Jimin bersumpah, tidak mengerti apa yang terjadi dengan Yoongi.
.
.
.
Jimin pulang dengan keadakan kebingungan. Ia mendesah lelah sembari memdudukkan tubuhnya disofa ruang tamu. Namjoon melihat sang adik yang tampak tidak bersemangat pun mulai mendekat.
"Udah berhenti main solo, Jim? Kok muka ditekuk gituh?"
"Sialan, hyung?"
"Kenapa?"
"Kok sifat Yoongi aneh yah?"
Namjoon mendengar itu langsung teringat sesuatu.
"Oh ia, Jim. Tumben gak berantem lagi sama dia, temen sekelas aku juga negor gitu."
*mendengar itu Jimin menceritakan apa yang sudah terjadi pada ia dan Yoongi.
/plak
"Akh-, HYUNG!" Jimin mengakhiri kisahnya, lalu mendapat pukulan dikepala.
"Kamu bodoh atau apa sih, Jim. Sudah jelas si Yoongi suka sama kamu. Buktinya cerita terakhir, pas kamu bilang cuman canda dianya nangis. Haduh punya sepupu udah bantet, gak peka lagih!"
"Aish, tapi benar begitu, hyung? Aku yakin, Yoongi normal."
"Kamu cuman harus memikirkannya, Jimin! Bye!"
Namjoon berjalan meninggalkan Jimin yang masih saja kebingungan.
.
.
.
Sudah lebih sepuluh hari, Yoongi bertahan untuk tidak menemui Jimin. Lalu Jimin? Selama itu juga, ia memikirkan perasaannya dan juga mengkhawatirkan Yoongi. Kan biasanya biar jarang bertemu, disekolah Jimin bisa melihat Yoongi lari kecil dipagi hari, walau sebenarnya jarang bisa sampai sekali, dalam tiga hari. Tapi ini tidak ada sama sekali.
Jimin selalu meluangkan waktu, berolahraga setiap harinya. Ya, memang sedari dulu mereka satu komplek, jadi Jimin sering terdiam meliat kearah rumah Yoongi. Tapi, ya itu Yoongi tidak lagi keluar, kecuali berangkat sekolah.
Dan hari ini Jimin nekat. Setelah bel pulang berbunyi, ia langsung berlari kekelas Yoongi. Satu persatu ia lihat orang keluar dari pintu itu. Jimin mencoba menengok, tapi Yoongi tidak ada.
Ia lantas menanyakan seorang dari kelas Yoongi,
"Hoseok, Yoongi mana?"
"O' Jimin. Itu Yoongi absen sakit hari ini."
"Benarkah? Kalau begitu terima kasih, Hoseok-ah." Hoseok mengangguk dan berjalan pulang.
Jimin semakin khawatir, dan ia baru sadar bahwa selama ini ia gengsi.
Jimin masuk kekelas yang sudah kosong itu, lalu duduk dikursi yang terasa dingin milik Yoongi.
"Yoon, aku merindukan sumpah serpahmu." sambil mengusap meja, yang ada gambaran wajah Yoongi dipermukaannya.
Cukup sudah, memikirkan perasaan dengan berdiam diri tanpa bertindak. Bahkan langit sudah menguning. Jimin berlari keluar, menaiki bus dan kembali berlari saat busnya berhenti dihalte, depan komplek perumahannya ia dan Yoongi sendiri.
Mari kita percepat.
Jimin sampai didepan pagar rumah Yoongi, dengan terengah-engah. Belum sempat ia menekan bel, pagar itu terbuka memunculkan seorang wanita menyerupai wajah Yoongi.
"Hhhh, Yoongi-eomma, Yoonginya ada?"
"Jimin? Kenapa sekarang jarang kesini? Yoonginya ada, lagi sakit tengokin aja. Tapi tadi eomma liat, dia tidur."
Jimin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ahh Jimin akhir-akhir ini sibuk. Yoongi-eomma, mau kemana?"
"Mau kedaegu, tadinya mau ngajak Yoongi tapi dianya sakit, jadi tinggal sendiri. Eomma, pergi dulu Jimin."
"Nde eomma, hati-hati dijalan." Jimin menunduk setelah mendapat usapan sayang dikepala. Setelah melihat ibu Yoongi masuk kedalam mobil yang ada ayah Yoongi pula didalamnya, Jimin segera masuk kedalam juga mengunci pagar tadi.
Kamar Yoongi, hanya itu tujuan Jimin. Ia menaiki tangga, dan membuka kamar yang tidak terkunci.
Dapat, Jimin melihat Yoongi berdiri didepan meja nakasnya, sedang meneguk air putih dengan sangat menggoda/? Menurut Jimin.
Bagaimana tidak? Yoongi dengan baju lengan pendek hitam dengan bawahan yang teramat pendek dengan warna yang senada. Kulit putih dan leher jenjang yang terpampang dihadapan Jimin.
Mendengar suara pintu yang terbuka membuat Yoongi berhenti dari acara minumnya, lalu menatap kearah Jimin. Matanya membulat, ia bahkan terlihat gugup sekarang.
"Ji-jimin? Ahh, itu aku sedang sakit pulanglah!"
Jimin menampilkan senyum miring, ia mendekat membuat Yoongi menjadi takut.
Diraihnya bahu Yoongi lalu menjatuhkan tubuh mereka bersamaan diatas ranjang. Dimana posisi, Jimin diatas Yoongi.
"Aku dengan langkah cepat datang kesini, terus kamu nyuruh aku pulang gitu aja? Gak bisa, Yoon!"
Yoongi kaget, ini posisi membahayakan. Tangannya bahkan meremas kuat bahu Jimin.
Yoongi tidak bisa membalas mata Jimin, mata tajam itu seakan menerkamnya dalam diam. Jimin kesal, lalu meraih dagu Yoongi agar wajahnya menatapnya. "Tatap aku, Yoongi."
"Emhhp," tepat saat Yoongi mengarahkan pandangannya pada Jimin, saat itu jugalah mulutnya dibungkam dengan bibir tebal itu.
Jimin meraup kasar disertai gigitan kecil dibibir bagian bibir bawah Yoongi. Yoongi sendiri memberontak tidak suka, ia mendorong kuat tubuh Jimin. Tapi ia harus sadar, tenaganya bukan apa-apa bagi Jimin. Apa lagi tubunya yang sakit sekarang.
Lumatan Jimin melambat, dengan lebih tenangnya Yoongi dibawahnya. Ia menyesap bibir tipis itu. Diotak Jimin hanya tertulis manis, saat lidahnya melesak masuk kegua hangat Yoongi. Lidah mereka bertemu, sebenarnya hanya Jimin yang berkerja sekarang, tapi ia tidak peduli dan hanya menikmati jalannya.
Ponsel Yoongi berbunyi disampingnya, Jimin melepas ciumannya. Ia mengambil ponsel itu, dan lucunya Yoongi tidak protes seperti biasanya.
"Jika saja ini, bukan eommamu sudah ku matikan." mendengar itu Yoongi ingin mengambilnya dari tangan Jimin.
"Kemarikan!" mulutnya kembali dibungkam oleh tangan Jimin.
'Yoongi? Kau sudah bangun?'
"Yoongi eomma. Yoonginya, belum bangun. Ada apa?"
"Emhhnp, emmhp..." Yoongi memberontak,
"Sttt, diam sayang." Yoongi terdiam saat mendapat kecupan dikedua matanya. kenapa Jimin lembut?
'Ahh, begitu. Nak Jimin jika dia bangun, tolong bilangin eomma pergi. Terus tutup rapat pagar, jendela kamar. Yaa!'
"Oh, gampang eomma. Lagi pula Jimin berencana menginap malam ini. Gak papa kan?"
'Tentu Jimin-ah, bagus malahan. Jaga Yoongi, buat eomma. Jangan lupa paksa minum obat juga!'
"Siap eomma, nde. Selamat malam!"
Jimin melepas tangannya, setelah mematikan ponsel Yoongi.
"Aku akan membuatmu sembuh malam ini!"
Jimin kembali meraup bibir Yoongi, kali ini tidak ada perlawanan bahkan Yoongi mulai membalas secara agresif. Bibir Jimin menjalar kepipi lalu rahang Yoongi. Yoongi hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan.
Lidah Jimin terjulur meturuni leher Yoongi dengan sensual, ia mendengar desahan tertahan dari mulut Yoongi yang membengkak tadi.
Jimin mengisap leher Yoongi, membuat Yoongi lupa diri. Ia terbuai, ini pertama kali Yoongi merasakan hal seperti ini.
"Jimp-hint." lepas sudah, setelah ia menahannya kuat. Jimin semakin meneggang, ia mempercepat dengan beralih kesisi leher lain. Membuat lagi tanda kepemilikan disitu.
Puas dengan hasil karyanya, Jimin menaikkan baju Yoongi dengan mudahnya. Mempertontonkan dada mulus dan putih yang indah, belum lagi kedua puting kemerahan yang siap ia lahap.
Tapi, Jimin menahan dulu. Ia berdiri dan menanggalkan satu-persatu seragam yang ia kenakan, meninggalkan satu celana dalam yang masih terpasang. Matanya tidak beralih dari Yoongi.
Jimin kembali mengungkung tubuh Yoongi, matanya menatap lembut penuh cinta.
Tangannya memegang satu puting, dan puting yang lain sudah dimainkan dengan mulut dan lidah Jimin. Yoongi mengerang, suaranya malah membuat Jimin semakin panas.
Melumat, menggigit lembut dan menghisap keras bergantian. Setelahnya Jimin kembali turun, mengecup sayang pusar Yoongi. Lalu turun lagi sampai didepan celana pendek yang sudah sama menggembungnya dengan miliknya.
Ia menyentak cepat celana Yoongi, membuka lebar kaki Yoongi.
"Lihat, ukurannya tidak berubah. Tapi ia lucu, Yoon." pipi Yoongi memerah, kalo boleh jujur ia benar-benar malu.
Malunya hilang, tergantikan dengan kenikmatan yang ia sendiri tidak bisa mengepresikannya. Jimin memegang ereksi Yoongi, mengerakkannya naik turun dengan lambat. Tangan yang lain merayap memainkan bola-bola Yoongi, lalu satu jari lolos masuk kemanhole Yoongi.
Yoongi kaget, membusungkan dadanya keatas. Kedua tangannya meremas kuat sprei disisi tubuhnya.
Jimin tersenyum menang, Yoongi ada dibawah kendalinya. Tangannya bermain lambat, membuat Yoongi tidak tahan.
"Eahh, Jimhhin, bi-bisahkah tangan kamu, lebih cepat? Sumpah, ini menyiksaku." racau Yoongi yang semakin turn-on.
Tusukan Jimin yang lambat, mulai mencepat. Sama halnya dengan pompaan pada ereksi Yoongi. Yoongi memalingkan kepala kenan kiri. Ia sudah hampir mencapai klimaksnya. Namun sialnya, Jimin berhenti. Membuat Yoongi semakin tersiksa.
"Maaf sayang. Kita harus keluar bersama." Jimin membuka celana dalamnya dengan cepat. Yoongi membulatkan mata kecilnya. Ia pernah melihat itu tahun lalu tapi tidak sebesar itu, ia tidak yakin dapat dimasukinya.
Jimin mengimbangi posisinya dengan Yoongi,
"Aku datang, Yoongi!" ia mulai menurunkan pinggangnya, namun Yoongi menahan bahu Jimin.
"Ttunggu Jim, aku. Aku takut."
Jimin tersenyum mengusap rambut lepek Yoongi. "Aku tidak bisa menghentikannya, dan aku tau kamu juga. Jadi tenanglah. Aku akan melakukannya dengan halus." Yoongi mengangguk, dan mendapat kecupan pada dahinya.
Jimin segera memasukkan batangnya kedalam Yoongi. Yoongi meraih tengkuk Jimin dan melumat bibir itu kasar, ia bahkan menggigit bibir Jimin menahan sakit. Jimin membiarkannya, ia tau bahwa Yoongi kesakitan.
Pinggul Jimin semakin turun, ciumannya terlepas saat ereksinya sepenuhnya didalam Yoongi.
"Maaf/maaf!" ucap keduanya bersamaan.
"Tak apa, kamu cukup lihai memaikan bibirku." Jimin mengunci Yoongi dalam tatapannya.
"Bergeraklah, Jimin! Kau selalu menyiksaku." seru Yoongi tak sabar.
Jimin terseyum dan mulai menaik turunkan pinggulnya. Yoongi menutup mata, mulutnya terbuka. Pemandangan itu membuat Jimin semakin menyodok lubang kenikmatannya.
Kuluman Jimin pada puting Yoongi semakin menambah kenikmatan. Mulutnya sudah meracau, hanya saja tanpa nama pembuat kenikmatan.
"Panggil aku, teriakkan namaku Yoongih."
"Ahhk, Jimp- Jimin!"
Jimin kembali bersemangat, memompa lebih cepat batangnya memutar-mutar dengan intens hingga menemukan titik kenikmatan Yoongi. Lenguhan keduanya semakin kencang.
"Jimin-aku-"
Jimin mengerti, meraih kejantanan Yoongi memompa cepat batangnya. Yoongi meraih pinggang Jimin dengan tungkainya.
Sodokan terakhir, membuat keduanya berteriak dibarengi dengan keluarnya cairan masing-masing.
Jimin maupun Yoongi terengah, matanya tak lepas memandangi wajah dengan mata yang sudah tertutup itu.
"Yoongih! Yoongi."
"Diam, aku cape Jimin. Dan lepas itu segera." Jimin terkekeh, setelah mengeluarkan batangnya ia menjatuhkan tubuh disamping Yoongi.
Nafas Yoongi sudah teratur, ia tertidur dengan cepat. Jimin memiringkan dan memeluk tubuhnya.
"Ini lucu, kamu selalu menjadi sipertama." Jimin mengusap pelan bahu sempit itu, "Kamu yang pertama menciumku, yang pertama melihat aku mandi, yang pertama kucari jika aku merasa tidak nyaman, dan sekarang yang pertama menjadi teman bermain diranjang, mungkin juga menjadi orang pertama membuatku jatuh cinta."
Yoongi membalas memeluk tubuh Jimin, "Cepat tidur Jimin."
Jimin terkekeh, ia semakin memeluk erat tubuh Yoongi, lalu ikut tertidur.
.
.
.
"A' akh, aw!"
Jimin merasa tidak nyaman dalam tidurnya. Sesuatu menimpa kepalanya. "Ya! Aw akh, Yoongi kenapa?"
Jimin membuka mata cepat, matanya menemukan Yoongi dengan bantal ditangannya.
"Kamu masih bisa tidur?- /pukul/
Disaat seperti ini?- /pukul lagi/
Bangun woi!"
Jimin mengambil bantalnya, membuangnya kesegala arah. Yoongi ditariknya hingga, terlungkup diatasnya.
"Bicaralah, ada apa. Malah main bantal, sakit sayang!"
"Sialan, woi aku kehilangan perjakaku dikelas dua senior high school. Kamu brengsek Jimin. Rasakan nih, rasakan ini."
Yoongi mencubuti pipi Jimin, yang dicubit hanya tertawa kegelian. Melihat itu Yoongi pun ikut tertawa.
Cukup sudah, Jimin meraih pinggang Yoongi dan memutarnya hingga terbaring disebelah tubuhnya. Tangan Jimin bergerak mengusap halus wajah Yoongi.
"Maafkan aku, maafkan aku Yoongi!" Yoongi membeku, ini kedua kalinya Jimin berbicara dengan nada halus padanya. "Kenapa diam? Gak mau maafin orang tampan ini? Toh kamu juga keenakan tadi malam."
"Chk, Jimin kamu ini, benar-benar otak mesum."
Jimin terkekeh namun terlihat manis, "Kau milikku sekarang."
Yoongi tersenyum,
Lalu mengangguk, ia juga mengecup singkat bibir Jimin.
Dibalas kecupan diseluruh wajahnya dari Jimin, membuat ia tertawa lagi karna geli.
"Jimin?"
"Iya, sayang."
"Pertama, jangan panggil aku sayang dulu. Aku belum terbiasa, apa lagi dari mulutmu. Kedua, aku tau kamu bukan orang yang cepat peka. Tapi kenapa bisa kek gini?"
"Kan biar kebiasaan nantinya, bilang sayang-sayangan. Itu, aku menceritakan sama Namjoon hyung. Dan dia bilang kamu suka sama aku, sebenarnya udah lama. Aku butuh berpikir dulu, yah kamu tahu sendiri, aku sempat gak percaya, aku kira kamu normal. Dan kamu, kenapa ngehindar? bahkan ngebuat aku khawatir selama ini."
"Hmm, aku juga ngira kamu normal, jadi kamu normal gak?"
"Astaga udah nggak dari dulu, Yoon. Cuman aku belum jatuh cinta aja sama siapa pun. Dan selama kamu ngehindarin aku, aku rasa udah jatuh cinta sama kamu."
"Jadi, bener pacaran nih?"
"Kalo kita udah lulus, udah ku kawinin malah kamunya."
Mereka tertawa bersama, Jimin menatap kagum wajah Yoongi. Sesaat kemudian ia kembali memeluk tubuh Yoongi.
"Makasih, Yoon. Aku sayang kamu!" Yoongi melesakkan wajahnya didada Jimin, ia malu karna merona.
"Dan sebelum aku kesini, aku kekelas kamu. Namjoon hyung nyamperin aku. Aku bilang kamu sakit, dia bilang jangan buang-buang waktu buat ngehampirin kamu. Dan dia juga yang ngasih tips penyembuh buat kamu. Yaa aku jalenin aja."
"Apa an coba, aku bahkan gak tau mau bilang makasih atau apa."
"Makasih aja, kan kamu bener sembuh kek gini. Terus kalo kita nyoba lagi gak akan canggung-canggungan kan?"
"Sialan kamu, Jim!"
Mereka tertidur kembali, bersama sampai sore mungkin. Oke jangan ganggu mereka.
.
.
.
Hari-hari keduanya tak ada lagi, bacotan, sumpahan, makian. Melainkan saling sayang-sayangan didepan orang banyak, membuat banyak terheran-heran.
Pagi ini Jimin berdiri didepan rumah Yoongi. Kepalanya telingak-telinguk, mencari keberadaan sang kekasih.
Yoongi akhirnya keluar, rambutnya yang tak tertata rapi malah membuat Jimin terpukau.
"Hei." Jimin meleleh karna senyum itu.
"Hei, udah siap?" Yoongi memgangguk dan menghampiri kekasih tampannya.
Keduanya berolahraga bersama dengan bahagianya. Berbeda seperti dulu yang main kejar-kejaran sambil cemooh-cemoohan.
Saat sudah didekat sungai, keduanya mulai berjalan santai. Jimin tiba-tiba menghentikan langkahnya,
"Yoongi, aku tidak percaya ini!" yang diajak bicara menoleh kebelakang.
"Loh ko, berhenti Jim?" Yoongi menhampiri Jimin. "Apa yang nggak kamu percayai?"
"Kau, Yoongi kau! Kenapa kau manis, kau tidak ingin mengumpahiku? Atau memukul kepalaku?"
"Lalu kamu ingin aku kek gitu? Ayolah Jimin, bukannya kita udah pacaran?"
Jimin memiringkan kepala, mengecup lama bibir Yoongi.
"Oke, gak usah kek gitu. Aku cuman gak gak tahan liat kamu manis sama imut gini. Ya udah ayo pulang." Jimin merangkul bahu Yoongi dan berjalan beriringan.
"Yoon, pinjam hp bentar
Hp aku ketinggalan."
"Nih." Jimin mengambil ponsel Yoongi, dan mulai mengetik pesan untuk temannya.
"Kamu masih suka bikin karakter anime kek gini?"
Jimin melihat-lihat karya Yoongi diponselnya.
"Emh, kalo gak ada kerjaan aku bikin."
"Tunggu. Ini kita, kan?"
Jimin menghentikan lagi langkahnya, lalu menunjukkan sesuatu untuk Yoongi.
Sebuah karakter karya Yoongi yang lain, namun terlihat sensual dimana tergambar Jimin yang sedang menyetubuhi diatasnya.
Yoongi melepas pelukannya pada pinggang Jimin, begitu pun Jimin. Ia berjalan meninggalkan Jimin, yang masih tak percaya menatap ponsel Yoongi.
"Hei, kamu nakal yaa. Kapan kamu bikin beginian?"
Yoongi berlari menutup telinganya, sambil tertawa.
"Pas besoknya kamu sama aku."
Jimin mengejar dan menggelitik tubuh kekasih nakalnya.
Mereka menunda pulang hanya berlarian dibarengi tawa lepas dari keduanya.
.
.
.
Selesai.
Akhirnyaaa, chap terpanjang dari sebelumnya udah 3k words lebih. Maaf kurang hot, maaf kurang manis. Daku belum liai bikin beginian soalnya.
Makasih atas dukungan dan semangatnya, yang minta Jin ngikut oke lah kalo ada ide daku buat buat kalian yeth.
Oke next - Hopega yaa.
See you
