Ternyata aku bandel minna~ (T _T) aku ga belajar. Bodolah. Nilaiku jelek. Umm.. Aku belajar kok abis ini :3 ternyata ga banyak yang aku rubah ckckck bahasanya jelek banget (T A T) humor gagal EYD ga bener. P

Tapii, aku akan berusaha buat lebih baik lagi minna~ bantu aku ya! Yosh! Ini chapter 3.


.

.

.

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

fienctla

"Begin Again"

.

"Apa yang akan kau lakukan bila kau memiliki kesempatan untuk mengulang segalanya dari awal?"

.

.

-Chapter 2-

.

"Sudah ketemu nanodayo?" Tanya midorima yang ada disampingnya.

"Aku tidak tahu," kuroko berjinjit, mencoba melihat daftar namanya di kertas pengumuman yang ditempel.

"Midorima-san, kau kelas berapa?," tanyanya setelah menyerah mencari namamya di kertas pengumuman. Ia menoleh kearah midorima yang masih terfokus pada kertas didepannya.

"Kita tidak sekelas nanodayo," katanya.

Kuroko menatap midorima dengan muka datar seperti biasa.

"Kau kelas 1-A." Midorima membenarkan kacamatanya. "Aku 1-C," katanya.

"Ah, midorima-kun" Kuroko tersenyum, membungkuk, kemudian pergi meninggalkan pemuda tersebut. "Terima kasih."

Midorima mendecih pelan, kesal menyadari tiba-tiba pipinya bersemu merah. Dalam hati ia bersyukur gadis itu sudah pergi.

Seharusnya, ia tidak bertingkah seperti ini. Menolong seseorang yang orang yang tidak dikenal, apalagi sampai bersemu karena merah hanya karena senyumnya-

Matanya menatap boneka Teddy Bear. Oha-asa mengatakan kalau hari ini cancer berada pada peringkat teratas. Apa mungkin ini adalah keberuntungannya? Ia tidak tahu . Yang jelas, pemuda itu tersenyum tipis sebelum meninggalkan tempat itu.

...

kelas dimulai seperti apa yang Ia kira. Tidak ada yang berubah sama sekali kecuali-

Akashi Seijuurou duduk disampingnya.

Perlahan ia memperhatikan sosok pemuda bersurai merah tersebut. Seingatnya, tidak ada satupun member Kiseki no Kisedai yang sekelas dengannya, kecuali saat ia sekelas dengan Aoimine di tahun kedua. Alisnya berserut. Ia tidak mengerti hal yang sedang terjadi padanya saat ini.

Tiba-tiba sosok itu itu menoleh padanya.

Eh?

Kuroko terperajat, bagaimana ia bisa lupa kalau Akashi memiliki emperor eyes?

Kuroko cepat-cepat menatap pemuda didepannya dengan wajah datar, berharap pemuda di depannya tidak mencurigai dirinya. Setidaknya, ia lebih memilih dianggap aneh daripada dicurigai pemuda di depannya ini.

Di lain pihak, Akashi yang merasa ditatap menoleh dan mendapati seorang gadis berambut baby blue menatap matanya dengan datar. Ia merasa kalau dirinya cukup ehm-tampan-ehm. Mungkin saja perempuan disampingnya terpesona dengan ketampanannya.

Tapi kenyataannya ialah, perempuan itu menatapnya dengan datar tanpa ekspresi dengan bola mata biru muda yang besar, yang harus ia akui mata itu indah sekali, tidak berkedip dan tidak berhenti. Dahinya berkedut, apa jangan-jangan orang di depannya ini adalah pervert? atau sudah tidak waras lagi?

Tidak mungkin kan orang gila masuk sekolah?

Akashi menggeleng dalam hati. Sekarang ia bingung.

Tidak ada hal yang tidak bisa diketahui Akashi di dunia ini. Ia mengetahui segalanya. kini, untuk pertama kalinya ia tidak mengerti mengapa ada perempuan dengan mata datar dan wajah tanpa ekspresi menatapnya terus-menerus, tanpa ekspresi dan tanpa berkedip.

Akashi mulai jengkel. Laki-laki itu mengeluarkan aura tidak enak, meski begitu perempuan disampingnya terlihat tidak terganggu-sebenarnya pura-pura tidak terganggu-, atau mungkin tidak peduli. Mereka saling bertatapan. Akashi bingung, kuroko diam saja.

Akashi mentapnya.

Kuroko balas mentatap lagi.

Sesaat, Kuroko merasa dirinya tidak tembus pandang, dan Akashi merasa dirinya adalah orang terbodoh sejagat raya.

Tiba-tiba kelas hening. Tampaknya, semua menyaksikan adegan yang mereka berdua lakukan.

Tak lama setelah itu pintu terbuka, seorang guru masuk dan membuka kelas pagi itu. "selamat datang di Teikou Kokou. Saya adalah guru yang akan membimbing kalian.."

Acara 'tatap-menatap' tersebut terhenti setelah sang gadis menolehkan kepalanya kedepan. Aura yang dikeluarkan laki-laki itupun mereda perlahan-lahan. Akashi yang masih jengkel dengan perempuan disampingnya itu sempat heran, tapi nampaknya gadis yang telah menatapnya tadi bersikap biasa-biasa seakan tidak ada hal yang terjadi.

Akashi mengalihkan perhatiannya pada guru yang mengajar di depan lalu menatap matanya sambil berfikir. Ia menyeringai sambil membuka mata dan memfokuskan pamdangannya pada buku yang ada di genggamannya. Akashi tidak pernah tahu kalau hari pertamanya akan semenarik ini. Mungkin Teikou tidak sebosan yang ia pikirkan.

Mungkin Akashi ia akan mencoba sesuatu pada gadis itu.

Sementara itu Kuroko diam-diam merinding di tempat. Dalam hati, ia tersenyum miris sambil menyesali perbuatannya. Ia menarik terlalu banyak perhatian, apalagi ia sadar Akashi akan lebih banyak memperhatikannya gara-gara insiden yang ia perbuat. Kuroko menghela nafas panjang, memejamkan matanya lalu mendengarkan kata yang ia sudah hafal benar,

"...Winning is everything..."

...

Kuroko mentap papan tulis dengan wajah bosan. Jelas, ia sudah mengetahui apa yang akan dipelajari di kelas. Matanya menatap sekilas kearah guru yang sedang menerangkan rumus-rumus di papan tulis. Ia membuka bukunya, mencoba mengerjakan soal-soal yang ada di buku. Yah, setidaknya ia tidak harus mengerjakan soal-soal yang akan diberikan sehabis ini.

Guru terus menjelaskan dan satu-persatu soal-soal di buku ia habiskan. Ini terlalu mudah baginya, jelas saja karena ia sudah pernah mempelajarinya dulu. Ia tertawa kecil dalam hati, jika begini terus ia akan mendapatkan nilai bagus dengan mudah.

Ia menggeser bukunya. Ia telah menyelsaikan soal-soal latihan di bukunya. Lagi, ia melirik guru tersebut yang memberikan intruksi untuk mengerjakan latihan soal di buku. Matanya beralih ke luar jendela. Terlihat beberapa anak sedang bermain basket di lapangan. Rasanya ia ingin keluar kelas sekarang juga.

Ia bosan.

Tak jauh dari tempat itu, disampingnya Akashi mengerutkan kening mencari jawaban dari soal tersebut. Sudah beberapa menit lagi kelas akan berakhir dan masih ada satu soal yang belum ia kerjakan. Matanya menangkap sosok gadis yang menatapnya tadi, sedang duduk di kursinya, menatap luar jendela dengan pandangan bosan. Buku disampingnya terlihat sudah penuh dengan angka-angka. Kesimpulannya, gadis itu sudah mengerjakan semua soal di buku. "menarik," batinnya sambil menyeringai.

"Aku ingin menanyakan soal nomor 15," kata Akashi tiba-tiba.

Gadis itu menatapnya terkejut. Tidak biasanya seorang Akashi Seijuurou bertanya padanya. Rasanya seumur hidup baru kali ini pemuda itu bertanya padanya, karena biasanya ia yang selalu bertanya pada Akashi. Kemudian matanya melunak, ia baru menyadari disampingnya ini bukanlah akashi yang ada di masa depan. Ini adalah versi 13 tahun Akashi.

"Akashi Seijuurou," Kata pemuda itu tersenyum padanya.

"Kuroko tetsuya," katanya sambil membalas senyum Akashi, membuat pemuda di depannya sedikit tersipu. Pemuda itu cepat-cepat menghapus noda merah di pipinya, lalu mendengarkan penjelasan gadis bersurai biru muda didepannya.

"Sepertinya ada seorang jenius di kelas ini," Akashi berkata tiba-tiba dengan mata yang menatap Kuroko dengan menyelidik. Kuroko merasa pemuda itu sedang menggali sesuatu darinya. Kuroko tidak tahu, apa mungkin Akashi-kun sudah menyadari ada yang tidak beres dalam dirinya? Ia tidak boleh menuduh orang sembarangan.

"Ya, dan itu kau, Akashi-san"

"Tidak. Bukan aku, tapi kau," Akashi berkata sambil tersenyum lembut, khasnya bila ia sedang basa-basi. Tapi kali ini jelas, kuroko tahu kalau Akashi tidak sedang basa-basi. Ia sedang menyelidikinya. Nampaknya Akashi sudah menyadari ada sesuatu yang ia sembunyikan.

Apa Kuroko jujur saja dan mengatakan kalau ia berasal dari masa depan?

Kuroko menatap akashi yang tersenyum. Akashi yang ia lihat sekarang begitu polos, setidaknya dibandingkan akashi yang sebenarnya, dan wajahnya juga masih terlihat seperti anak-anak. Akashi yang di depannya tidak mungkin ia beri beban seberat ini. Dengan wajahnya yang seperti ini, Kuroko tidak tega.

Lagipula apa reaksi Akashi setelah mengetahui masa depannya?

Kuroko mengernyit dalam hati, membayangkan Akashi yang tiba-tiba masuk rumah sakit jiwa karena banyak pikiran.

Lagipula, mungkin Akashi akan tertawa jika mendengar cerita "perubahan kelamin" miliknya. Ia menggeleng dalam hati. Wajah mengejek Akashi di kepalanya belum hilang juga.

"Akashi-kun, semua orang tahu kau orangnya," Kuroko berkata dengan wajah datarnya seperti biasa. "Ini hanya kebetulan karena aku sudah belajar sebelumnya"

"Aku memang sudah belajar sebelumnya, tiga tahun lalu," batin Kuroko. Ia meringis dalam hati karena berbohong.

Mereka terdiam sebentar, saling bertatapan dengan mata Akashi yang menatapnya dengan tatapan menyelidik sambil tersenyum. Entah keberuntungan apa yang kuroko dapatkan hari ini, akhirnya Akashi terlihat mempercayainya juga. Pemuda itu menutup bukunya sesaat sebelum bel berbunyi. Ia mengeluarkan bekal makan siang lalu berjalan menuju mejanya sambil tersenyum lembut, "Mau ikut denganku keatap sekolah?"

Kuroko ikut tersenyum. Aneh, Kuroko merasa ia lebih sering tersenyum ketika dekat dengan Akashi. Mereka hampir saja berjalan keatap bersama sebelum tiba-tiba guru memanggil namanya di depan pintu-

"Kuroko Tetsuya"

Gadis itu menjawab panggilan tersebut berkali-kali sebelum berjalan kerah perempuan paruh baya yang memanggil namanya.

"Kuroko tetsuya"

"Maaf sensei, aku disini." Kuroko berkata disamping guru tersebut sebelum akhirnya guru itu berteriak dan hampir saja terjungkal kebelakang kalau saja ia tidak berpegangan ke pintu. Kuroko yang memang sangat sopan, membungkukan badannya 90° lalu meminta maaf.

"Tolong ikuti saya ke saya ke ruang guru," Kata perempuan yang lebih tua darinya itu setelah dirinya kembali berdiri.

Kuroko mengangguk, setelah itu mengikuti perempuan itu dari belakang.

...

"Kuroko, jadi kau tinggal sendiri?"

Perempuan paruh baya itu menatap kuroko tidak percaya. Disampingnya, kuroko hanya mengangguk tanpa suara. Guru yang akan mengajarnya dalam satu tahun kedepan itupun membolak balik berkas yang berada di tangannya.

"Dengar Kuroko-san, aku minta maaf bertanya hal-hal yang sensitif seperti ini. Tapi aku harus tahu mengenai kesanggupanmu membayar uang sekolah," Guru itu menatapnya "Kau sanggup?"

Kuroko mengangguk saja. Matanya sudah berair, ia tidak sanggup lagi untuk berbicara.

Guru itu menyadari anak didiknya begitu diam. Iapun menoleh dan mendapati Mata gadis itu sedikit berair. Seketika itu ia pun ia merasa bersalah. "Maafkan aku jika ini mengganggumu"

Kuroko mengangguk, ia tersenyum lemah. "Tidak apa-apa"

"Ngomong-ngomong, masalah orang tuamu.." Guru itu terdiam sebentar. "Apa benar mereka-

"Sensei," kuroko berkata pelan tapi memaksa. "Aku akan berusaha membayar uang sekolah."

Mereka berdua sama-sama diam. Kuroko menundukkan kepalanya dalam-dalam. Gadis itu berharap kalau semua ini cepat selesai. Di depannya, wanita paruh baya itu menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti. Mereka sama-sama tidak bersuara sekian lama.

Guru itu baru saja menyadari bahwa nama orang tua gadis di depannya itu ada dalam judul koran harian yang ia baca seminggu lalu. Tidak seharusnya ia bertannya secepat ini, apalagi kejadian yang yang dialami gadis itu masih baru. Tapi ia diharuskan bertanya padanya, ini adalah tugasnya.

"Kalau gitu, aku mohon undur diri." Kuroko membungkukan badannya tiba-tiba, "Maafkan aku."

...

Kuroko melawati lorong itu dengan cepat sambil bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia harus sampai melakukan hal yang tidak sopan itu? Kejadian itu sudah lama terjadi, apalagi secara mental ia sudah berusia 16 tahun. Ia harus bisa menggendalikan emosinya.

Harusnya sih ia berada di kelas sekarang, tapi ia tidak peduli. Kakinya membawanya menuju gym. Ia melangkahkan masuk, dan mendapati gym dalam keadaan sepi. Ia mengambil bola basket yang tergeletak lalu mendribbling keliling lapangan, setelah itu ia melatih kemampuan shootingnya.

Kemampuan shootnya masih jauh dari kata sempurna. Hanya 7 dari 10 bola yang berhasil masuk ke ring.

Kuroko menoleh kearah pintu, mendapati seseorang yang masuk dengan tergesa-gesa lalu bersembunyi dibalik keranjang bola-bola basket. Tak lama setelah itu, masuk gerombolan perempuan yang berteriak-teriak sambil mencari orang tersebut. Kuroko berjalan mendekat,

"Sumimasen"

Mereka semua terdiam, lalu berteriak keras-keras. "SEJAK KAPAN KAU BERADA DISANA"

"Sejak tadi"

Mereka menatap kuroko tidak percaya. Kuroko hanya menatap datar mereka. Ia melirik sekilas seseorang yang berada dibalik keranjang bola.

"Ngomong-ngomong, kau melihat Kise Ryouta masuk kemari?"

Kuroko menggeleng, membuat gadis-gadis itu mendesah kecewa. Satu persatu mereka kembali dan perlahan-lahan gym mulai sepi kembali.

"Kau bisa keluar sekarang," kuroko berkata sambil mendekat kearah keranjang lalu memasukan bola kedalamnya.

Kise keluar dari sana sambil tersenyum dan menggaruk-garukan kepalanya kearahnya. "Terima kasih-ssu!"

Kuroko berjalan meninggalkan pemuda itu. Kakinya melangkah kearah pintu gym yang terbuka. Tiba-tiba ia merasa tangannya ditarik dari belakang,

"Tunggu!"

Kise menatapnya intens sambil menyeringai seksi. "Boleh aku membalas kebaikanmu?"

Kuroko menatapnya agak kesal. Ia tidak lupa kalau Kise Ryouta adalah seorang playboy. Ia tidak mempermasalahkan sifat temannya yang satu ini, tapi bagaimanapun juga ia laki-laki. Ia tidak mau jadi incaran kise yang selanjutnya.

"umm..," Kuroko menatapnya risih. "Bisa kau lepaskan tanganku?"

"Ah! Maaf" Kise tersenyum sambil menggaruk-garukan kepalanya. "Kau tahu, apa yang kau lakukan tadi-"

"Kise-san," Kuroko menatap mata pemuda itu dalam-dalam. "Kau tidak perlu berterima kasih"

Pemuda itu menatapnya heran, lalu tersenyum lagi. "Eh? Tapi kan-"

"Kise-san," Kuroko tersenyum. "Kau tidak perlu tersenyum jika kau mau"

Pemuda itu membelalakan matanya. Kuroko cepat-cepat membungkukan badannya lalu pergi meninggalkan Kise yang terdiam disana cukup lama. Pemuda itu tersenyum, tidak menyangka ada orang yang tidak tertarik dengan fisiknya. Seumur hidup, orang-orang hanya mendekatinya hanya karena ketampanannya saja.

Ia melihat pintu gym yang terbuka itu lalu berlari kearahnya, meninggalkan gym yang gelap dan sepi.

.

-Chapter 2-

End

.


Perlu di edit lagi ga?

Tadi ulangan matematika (T A T) salahku sendiri sih ga belajarr. Terus sejarah aku gabisa apa-apa. SBK aku ketiduran dan melanjutkan fanfic di kertas ulangan :3 AKU FOTO LHO HOHOHO minna-san, mau? :v

Oh iya, aku balesin reviewnya ya. Umm..

Parkyuu: umm.. Chapter selanjutnya Kuroko baru ngeh kok mesti ngelakuin apa (-_-) telat banget ya wkwk (^ , ^); Blueskyshin: uhuhuhu. Tuh akashinya dah nongol hehehe. Ehhh aku mau buat humor tapi fail HAHAHAHA Jadi aku bikin.. Yah gitulah. Susah juga yah ternyata ( T - T); yurei-san: Oke (tumbs up) oh iya, kok tiba-tiba kuroko jadi berubah kaya Akashi gitu ya? Wkwk tapi menurutku kuroko memang diam-diam suka ngamatin orang #EH terus juga kuroko kan terkesan misterius gitu (di balik tampang datarnya ada apaan?) Semacam itulah. Kagami aja baru tahu masa lalu Kuroko di eps eps akhir (sok tahu aku).; kurochan: umm.. Tapi bahasanya jadi ga enak dong :3 typonya bikin mataku perih (T . T)

Oke minna. Maaf banget ga sesuai ekspektasi? I hope you're all like it. Then, thank you very much for your supported!