Disclaimers : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Haru Haru by aranoballad

Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga

Genre : Romance/Hurt/Comfort

Rating : T

Warning : AU, OOC, Fluff/Cheesy, Mainstream, Typo(s), dll.

Inspired by MV BIGBANG - Haru Haru

Enjoy :)


"Don't look back and leave
Don't find me again and just live on
Because I have no regrets from loving you, so only take the good memories
I can bear it in some way
I can stand it in some way
You should be happy if you are like this
Day by day it fades away" BIGBANG - Haru Haru


Chapter 2

Hari itu adalah hari yang sangat melelahkan bagi Sasuke. Setelah ia harus disibukkan oleh kuliah seharian penuh, sang Uchiha itu harus menghadiri latihan bandnya. Band yang terdiri dari Naruto, Neji, Sai dan dirinya itu akan menjadi salah satu bintang tamu di festival budaya kampusnya yang akan diadakan dalam waktu dekat. Oleh karena itu, Sasuke tak mau menyusahkan anggota band-nya yang lain dengan tidak datang latihan.

Tapi yang membuat dia merasa hari itu adalah hari buruk baginya adalah Hinata yang tak kunjung menghubunginya. Jangankan menghubungi, membalas chat darinya saja tidak. Padahal dia tahu benar hari itu jadwal kuliah Hinata tak sesibuk dirinya. Bukan karena Sasuke tak percaya pada Hinata dan menganggap dia bermain di belakangnya. Tapi ia hanya sangat khawatir. Khawatir kekasihnya itu sakit atau terjadi sesuatu yang membuatnya kesulitan menghubungi Sasuke.

"Oi, Teme! Kau ini kenapa sih?! Seriuslah sedikit!" Seru Naruto, sang vokalis, marah yang membuat latihan band-nya terhenti seketika.

Sasuke yang kena marah hanya membalas seruan Naruto sengit. "Urusai. Urus saja urusanmu sendiri!"

"Nani?! Kau…" kata-kata Naruto terpotong oleh leraian dari sang gitaris juga leader, Neji.

"Kalian berdua, ini bukan waktunya untuk bertengkar. Aku tak mau band kita terpecah belah hanya karena pertengkaran kecil kalian." Lerainya.

Naruto maupun Sasuke pun terdiam dibuatnya. Kemudian pria berambut panjang itu mengalihkan pandangannya pada Sasuke. "Sasuke, seperti yang dikatakan Naruto, bisakah kau lebih serius berlatih? Jika memang ada yang mengganggu kosentrasimu saat berlatih, lebih baik kau tak usah datang."

Sasuke hanya memalingkan wajahnya. "Hn."

"Seperti bukan dirimu saja melakukan kesalahan-kesalahan terus menerus begitu. Pasti ada sesuatu." Timpal Sai dari balik drum-nya.

"Bukan, bukan apa-apa." kata Sasuke singkat.

Naruto hanya mendecih dan berjalan menuju kulkas kecil di sudut ruangan. Ia pun membuka kulkas dan mengambil soft drink kemudian meminumnya. "Kita istirahat dulu, mood-ku jadi jelek karena ketidakseriusan seseorang." Ujar Naruto sambil merebahkan diri di sofa di dekat kulkas.

Sai pun beranjak dari balik drum-nya dan ikut duduk di sofa di samping Naruto. "Aku juga tidak mau mulai sampai seseorang belajar arti dari profesionalisme." ucapnya tak lupa dengan senyum palsu yang menghiasi wajahnya.

Neji hanya bergantian menatap anggota bandnya yang lain kemudian menghela nafas. "Kau lihat, Sasuke? Kalau kau tetap seperti ini, kau hanya akan membuat suasananya semakin tidak enak."

Sasuke hanya terdiam membisu. Sasuke akui dari tadi ia tak bisa berkonsentrasi. Padahal pria tampan itu tak mau mengacaukan permainan band-nya. Tapi pikiran tentang Hinata memenuhi benaknya. Jujur, ini pertama kalinya Hinata bersikap seperti ini. Dan ia tak tahu apa yang terjadi dengannya dan apa yang harus ia lakukan.

"Teme, kau anggap kami apa sebenarnya? Orang-orang yang kebetulan bermimpi sama? Ayolah, kita sudah bersama-sama sejak sekolah dasar. Kau bisa bergantung pada kami dan kami akan selalu ada untukmu ketika kau ada masalah. Jangan selalu memendam semuanya seorang diri." Ujar Naruto panjang lebar.

Semuanya memandang Naruto dengan mata yang membulat. Memang kata-katanya benar adanya. Tapi seorang Naruto? Orang yang tak pernah serius itu? Dari sekian banyak orang di tempat itu, dia yang mengatakan hal seperti ini? Tidak bisa dipercaya.

"Ada apa? Kenapa kalian semua memandangku seperti itu?" tanya Naruto heran.

"Wah, ternyata kau bisa serius juga." ucap Sai tak percaya.

"Memangnya kenapa? Salah? Kalian selalu menyalahkanku jika aku bercanda di saat yang tidak tepat. Dan ketika aku berbicara serius begini, kalian melihatku seperti hantu di siang bolong? Menyebalkan." sahut pria bermata safir itu sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Sasuke kemudian tertawa. Sekarang semua pandangan beralih padanya. Bagi orang yang sangat mengenal Sasuke seperti mereka, ini tentu sangat aneh. Sasuke adalah orang yang paling jarang tertawa di antara mereka berempat. Dan ia sekarang tertawa bagai tak ada hari esok. Otak jeniusnya pasti cedera karena kuliah seharian penuh tadi.

"Ok, Sasuke, kau berhasil membuat kami ketakutan." Kata Sai kemudian.

Setelah tawanya berhenti, Sasuke pun berkata. "Gomen, harus ku akui kau memang berbakat menjadi komedian, Dobe."

"Nani?!" sahut Naruto.

Ia pun menaruh bass-nya dan berjalan menuju kulkas. Ia pun mengambil air mineral dan meneguknya kemudian duduk di kursi di dekat sofa. "Baiklah, aku akan menceritakan masalahku pada kalian, lagipula aku tak mau membebani band ini lebih lama lagi."

Neji yang tadinya berdiri berjalan mendekat ke arah teman-temannya dan duduk di samping Sasuke. "Jadi apa masalahmu?"

Semuanya pun memandang Sasuke dengan penuh rasa penasaran. Sasuke pun menghela nafas kemudian mulai menceritakan apa yang ada di pikirannya. "Aku tak tahu harus mulai dari mana…"

"Santai saja, Teme, kami akan tetap mendengarkan walaupun ceritamu tidak jelas."

Sasuke kemudian menatap salah satu sahabatnya itu kemudian melanjutkan ceritanya lagi. "Tapi yang jelas semua ini sudah menyita pikiranku akhir-akhir ini."

"Jangan bilang ini karena Hinata-chan." Tebak Naruto yang membuat Sasuke menoleh lagi ke arahnya.

Sasuke hanya mengangguk. "Ya, kau benar."

"Wah ternyata benar ya, akhirnya aku bisa membaca pikiranmu, Teme. Ikatan persahabatan kita memang tidak bisa diremehkan." Sahut Naruto bangga seperti mendapatkan hadiah undian.

Sesaat Sasuke akan meneruskan ceritanya lagi, Naruto mengeluarkan suara nyaringnya lagi. "Ada apa dengannya? Dia sakit?"

Sasuke memandang Naruto dengan tatapan membunuh. Ia nyaris saja akan menonjoknya, tapi untunglah Sai sudah menggantikannya dengan menyikut perutnya keras.

"Oi, sakit tahu!" ringis Naruto.

"Kalau kau terus memotongnya, kita tidak bisa mendengar cerita Sasuke sampai habis. Dan kau akan memperpanjang waktu latihan kita." Kata Sai.

Naruto yang menyadari kesalahannya kemudian menunduk dan menangkupkan kedua tangannya. "Hontou ni gomennasai, silahkan dilanjutkan. Kali ini aku tidak akan memotong lagi."

Sasuke hanya menghela nafas panjang dan kali ini benar-benar melanjutkan. "Seperti yang kalian tahu, jadi ini semua tentang Hinata. Akhir-akhir ini dia bersikap aneh padaku. Dimulai dari suka menerawang ketika kami bersama, tidak menghubungiku, sampai menjawab chat-ku saja lama sekali. Selain itu, di kampus, kami hanya bertemu kalau kebetulan berpapasan. Dan itu pun kami hanya saling menyapa, setelah itu, Hinata langsung pergi seperti sedang terburu-buru. Dia seperti sedang menghindariku."

"Mungkin dia sedang sibuk? Ada rapat dan semcamnya? Bukankah dia anggota aktif BEM?"tanya Naruto.

Sasuke pun menggeleng. "Sekalipun dia sedang sibuk, dia pasti menyempatkan diri membalas chat dariku. Lagipula acara besar kampus sekarang hanyalah festival budaya dan dia tidak ikut menjadi panitia di dalamnya."

"Mungkin dia menghindarimu untuk belajar, Sasuke. Kau tahu sendiri IP-nya turun semenjak berpacaran denganmu." Ujar Sai.

"Mungkin saja, tapi apa tidak aneh? Ini terlalu tiba-tiba." Tanya Sasuke.

Sai hanya mengangkat kedua bahunya.

"Apa jangan-jangan dia selingkuh? Atau kau selingkuh dengan wanita lain dan Hinata-chan mengetahuinya?" celetuk Naruto.

"Itu tidak mungkin. Hinata bukan wanita seperti itu!" sahut Sasuke marah. " Dan jangan sembarangan! Aku sangat mencintainya melebihi apapun. Aku tak serendah itu untuk bermain dengan wanita lain di belakang Hinata."

"Hei, hei, tenang, aku hanya asal bicara." Naruto hanya mengangkat kedua tangannya di depan dadanya.

Pandangan Sasuke kemudian beralih pada Neji yang sedari tadi belum mengeluarkan sepatah katapun. "Apa kau tahu sesuatu, Neji-nii? Kau kan kakaknya."

Neji hanya menggeleng pelan. "Aku tak tahu, di rumah, dia biasa saja. Aku baru tahu kalian ada masalah setelah kau bercerita pada kami."

Sasuke hanya menghela nafas frustasi.

"Kau yakin tak membuat kesalahan padanya?" tanya Sai kemudian.

Sasuke terlihat berpikir kemudian menggelengkan kepala untuk ke sekian kalinya."Aku rasa tidak, bukan karena aku merasa benar, tapi selama ini aku selalu berusaha membuat Hinata nyaman bersamaku dan tidak menyakitinya sekecil apapun. Ditambah lagi, bagaimana aku melakukan kesalahan jika bertemu sajapun jarang."

"Hinata-chan itu orang yang sangat baik, Teme. Ku pikir dia ada masalah dan ingin menyelesaikannya sendiri. Ia tak mau membuatmu khawatir dan terbebani oleh masalahnya. Setelah semuanya selesai, dia akan kembali seperti biasa." Kata Naruto dengan senyum lebar khas miliknya.

Sasuke pun kembali berpikir. Mungkin yang dikatakan Naruto ada benarnya. Hinata adalah wanita yang sangat mandiri dan tak mau menyusahkan orang lain. Dan itu salah satu alasan Sasuke menyukai Hinata. Dia bagaikan mawar di ladang melati. Dia memiliki keindahan yang berbeda dari yang lainnya.

"Kau benar, mungkin akunya saja yang selalu berpikiran negatif." Ucap Sasuke akhirnya.

Naruto hanya mengangguk keras. "Benar, oleh karena itu, biasakanlah berpikir positif sepertiku."

"Kau itu bukan sering berpikir positif, tapi tidak peka terhadap keadaan." ucap Sai.

"Enak saja! Sai, kau!" Naruto hendak menarik kerah kemeja yang dipakai Sai, tetapi kalah cepat dengan Sasuke yang berdiri dari duduknya yang berhasil menarik perhatian semuanya.

"Kita lanjutkan lagi latihannya, karena sudah tak ada yang mengganggu pikiranku, kali ini aku takkan mengacau." Ujar Sasuke sambil berjalan menuju bass-nya.

Naruto dan Sai pun mengikuti Sasuke beranjak dari tempat duduknya masing-masing kecuali seseorang. Neji.

Ia hanya terdiam sambil melihat Sasuke sedih. Jujur saja, ia tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Hinata. Tapi pria berambut panjang itu tidak mau membuat semuanya semakin runyam dengan mengatakannya pada Sasuke. Dan ini membuatnya dilema dan semakin bersalah pada Sasuke.

Sasuke yang menyadari sang leader tak bergerak dari tempatnya langsung menegurnya dengan nada kesal. "Neji, ada apa? Cepatlah."

Neji pun terbangun dari alam bawah sadarnya dan beranjak. "Ah, tidak ada apa-apa, ayo kita latihan."

Setelah beberapa jam mereka berlatih keras, latihan pun selesai. Sekarang mereka sedang bersiap pulang. Dimulai dari Sai yang pulang duluan karena ada kegiatan di UKM melukis. Lalu disusul Naruto yang ingin menonton pertandingan tim sepakbola favoritnya di tv. Tinggalah Sasuke dan Neji di studio musik yang dimiliki oleh keluarga Hyuuga.

"Neji-nii." Panggil pria bermata obsidian kepada pria bermata lavender itu.

Neji pun menoleh."Hn?"

"Bisa kau sampaikan pada Hinata... Jika aku... Punya salah padanya, segeralah beritahu aku, dan memang jika dia punya masalah, dia bisa berbagi bebannya padaku… Aku sangat mencintainya sampai tak sanggup dia diamkan seperti ini."ujar Sasuke lirih sambil memelas.

"Wah, wah, aku baru tahu Uchiha yang sombong sepertimu bisa meminta sambil memelas." Ucap Neji setengah bercanda.

Kemudian Neji melihat bahwa ada keseriusan dalam kata-kata Sasuke. Terlihat sekali bahwa Sasuke sudah tak peduli dengan harga diri seorang Uchiha yang selalu ia junjung setengah mati itu. Sekalipun harga dirinya harus jatuh, demi Hinata akan ia lakukan walaupun harus berlutut sekalipun.

Neji kemudian terdiam dan hanya menatap Sasuke dengan tatapan yang sulit ditebak oleh pacar dari adiknya itu. Tapi Sasuke tahu satu hal. Neji kasihan padanya. Tapi ia sendiri tak tahu apa yang membuat Neji menatapnya seperti itu."Baiklah, akan ku sampaikan,"kata Neji akhirnya.

Sasuke pun mengangguk dan sedikit mengangkat sudut bibirnya."Arigatou, Niisan, kalau begitu aku pulang dulu,"

"Hai, hati-hati di jalan, jangan memikirkan apapun saat mengemudi, berbahaya." Kata Neji.

Tanpa menoleh, Sasuke hanya mengangkat tangannya dan membentuk tanda O dengan jarinya. Kemudian tinggalah Neji dengan segudang pikiran di kepalanya. Ia pun terduduk lemas di sofa dan merenung.

Apa ia telah berlaku kejam pada Sasuke? Ia telah menyembunyikan rahasia penting yang seharusnya Sasuke tahu. Tapi ia harus berpura-pura bahwa ia tak menyembunyikan apapun darinya. Karena ini perintah dari adik kesayangannya, Hinata. Ia sendiri tidak habis pikir kenapa adik yang berbeda dua tahun dengannya itu harus membohongi semua orang termasuk orang yang ia cintai sekalipun. Tapi yang jelas, ini sudah membebani pikirannya. Karena Neji bukanlah orang yang kuat menyimpan rahasia sebesar itu dari sahabatnya sendiri. Dan ia tidak tega melihat Sasuke yang menderita akan sikap aneh Hinata yang tiba-tiba itu.

Lalu, Neji pun beranjak dari duduknya dan berjalan ke luar studio. Ia pun mengunci pintu studio dan berjalan pulang. Setelah sampai ia menemukan sosok Hinata sedang bersama teman masa kecilnya, Kiba. Mereka tampak sedang berbicara di depan rumahnya. Ia kemudian menghampiri kedua sosok tersebut.

"Tumben sekali kau kemari, Kiba."sapa Neji ramah.

"Ah, Neji-niisan,"balas Kiba yang menyadari kehadirannya.

"Niisan, kau baru pulang dari latihan ya ?"tanya Hinata dengan nada lembutnya.

Neji hanya mengangguk.

Kemudian Hinata pun bertanya dengan raut wajah serius."Niisan... Tak beritahu apa – apa kan pada Sasuke-kun?"

Neji hanya menggelengkan kepalanya dan menjawab."Tentu saja aku tak beritahu apa – apa, lagipula kau sendiri yang memintaku seperti itu,"

"Baguslah kalau begitu,"kata Hinata lega.

"Hinata."panggil Neji.

"Hai?"

"Apa... Ini benar tidak apa – apa? Apa kau yakin akan melakukannya? Aku tak tega melihat betapa menderitanya Sasuke kau perlakukan seperti ini..."ujar Neji lirih.

Kiba pun ikut menambahkan."Bukan apa-apa, Hinata, tapi yang dikatakan Neji-niisan ada benarnya."

Gadis cantik itu hanya menatap kakak dan teman masa kecilnya itu bergantian. Kemudian ia menghela nafas."Bagaimanapun juga, ini harus dilakukan, ini demi Sasuke-kun juga..."

Neji dan Kiba hanya bisa menatap Hinata sedih.


Di lain pihak, Sasuke tak henti-hentinya memainkan ponsel-nya. Ia terus memutar-mutar ponselnya. Kemudian ia melihat ke layar ponsel-nya. Tak ada yang mengiriminya pesan ataupun meneleponnya. Ia sangat berharap Hinata akan menghubunginya kali ini. Tiba – tiba ponselnya bordering. Sasuke langsung mengangkatnya dengan tak sabaran.

"Moshi-moshi,Hinata."

"Maafkan aku sudah mengacaukan ekspektasimu, tapi ini bukan Hinata, ini kakaknya." ujar seseorang nan jauh di sana.

Sasuke sempat mengumpat dalam hati dan menjawabnya dengan dingin. "Oh, ternyata Neji-nii, ada apa?"

"Jangan marah begitu, Sasuke. Aku benar-benar tak berniat membuatmu marah. Dan aku benar-benar ada perlu denganmu." Kata Neji kentara dengan nada bersalah.

"Hn. Sudahlah, ada apa?" tanya Sasuke ketus.

"Kau masih menyimpan buku tingkat satu yang ku berikan padamu?"

"Bukunya masih ada padaku, belum ku berikan pada adik tingkat. Kau membutuhkannya?"

"Iya, aku ingin menambah referensi untuk skripsiku. Kau tidak sedang memakainya kan?"

"Tidak, lagipula aku sudah tingkat dua, jadi ya sudah tak ku gunakan lagi."

"Kalau begitu bisakah kau bawakan ke rumahku? Aku sedang repot sekarang jadi takkan sempat ke rumahmu, bisa kan?"

Sasuke kemudian bertanya dengan hati-hati. "Apa… Hinata ada di sana?"

"Tentu saja, dia ada di sini. Bagaimana? Kau kan sekalian bisa menemui adikku."

Timbul semangat berkobar dalam benak Sasuke mendengar kata-kata kakak tingkatnya itu. "Baiklah, akan ku bawakan."

"Ok, arigatou, Sasuke."

"Hn, aku akan segera kesana. Jaa." Piip. Telepon pun terputus.

Setelah percakapan singkat itu selesai, Sasuke langsung mencari-cari buku yang Neji berikan padanya pada saat tingkat satu. Kemudian Sasuke mengambil kunci mobilnya dan segera melesat menuju garasi. Sasuke pun langsung menyalakan mobil sesaat setelah ia sampai di garasi. Lalu, ia melajukan mobilnya menuju tempat ia tuju, rumah Hinata.

Ia benar-benar sudah tak bisa membendung rasa rindu pada gadis pemalunya itu lebih lama lagi. Dan Sasuke sangat ingin bertemu dengan Hinata melebihi apapun. Setelah beberapa lama Hinata memperlakukan Sasuke aneh dengan menghindari dan tidak menghubunginya sama sekali, ia tentu sangat rindu akan sosok seorang Hinata.

Di perjalanan, pria tampan itu mampir ke toko bunga milik temannya sekaligus pacar dari Sai, Ino. Ia pun membeli satu buket bunga mawar putih. Ia berencana memberikannya pada Hinata atas permintaan maafnya jika memang Sasuke telah melakukan kesalahan sekaligus sebagai tanda bahwa ia sangat merindukannya.

Lalu, ia pun memarkirkan mobilnya di depan studio yang tak jauh dari rumah Hyuuga bersaudara. Ia pun berjalan menuju rumah Hinata dengan sebuket bunga mawar putih di tangannya dan sebuah tas berisi buku titipan Neji di bahunya. Ia sedang berpikir bagaimana ekspresi Hinata saat menerima bunga pemberiannya itu. Sasuke hanya bisa senyam -senyum memikirkannya sambil mengendus-ngendus aroma bunga mawar yang masih harum dan segar. Ya, jatuh cinta memang kadang bisa membuat seseorang menjadi bukan dirinya.

Tiba-tiba pikiran indahnya hancur begitu saja ketika melihat pemandangan yang tak terduga. Sasuke terkaget-kaget melihat dua orang yang ia kenal sedang berbicara. Dan keduanya tidak menyadari kehadiran Sasuke karena terlalu terbawa suasana percakapan mereka.

"A-ano… Kiba-kun… Bisakah kau berikan ini pada Sasuke-kun?"pinta sang gadis kepada Kiba.

Pria pencinta binatang itu pun menerima sebuah cincin perak yang sangat cantik."Doushite?"

"A-aku… Sudah tidak mencintainya lagi, a-aku tak berani mengembalikannya, aku takut menyakitinya," ujarnya sambil menunduk. "Karena sekarang aku mencintai orang lain."

"Mencintai orang lain? Hinata, siapa yang kau cintai?"tanya Kiba penasaran.

"Kau, Kiba-kun."ujar Hinata mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Kiba dalam.

Kiba membisu. Ia kemudian menghela nafas dan memalingkan wajahnya."Sial, kenapa harus aku?"

"Kiba-kun, onegai, berikan cincin ini pada Sasuke-kun."pinta Hinata untuk kedua kalinya.

"Baiklah, jika itu maumu, akan ku berikan nanti."ujar Kiba.

"Hontou ni? Arigatou, Kiba-kun."kata Hinata dengan memasang senyuman manisnya. "Dan… Suki desu, Kiba-kun."

Kiba hanya balas tersenyum.

"Kalau begitu, aku masuk ya," pamit Hinata sambil berjalan masuk.

Tinggalah Kiba berada tepat di depan pintu gerbang rumahnya. Kemudian ia pun berjalan meninggalkan rumah Hinata.

Sasuke terpaku mendengar semua percakapan mereka. Jadi inikah alasan kenapa Hinata mengacuhkannya selama ini? Karena dia sudah tak mencintai Sasuke lagi? Dan memilih teman masa kecilnya? Ia benar-benar tak percaya pada apa yang ia dengar. Hatinya hancur berkeping-keping. Baru kali ini ia jatuh cinta pada seorang perempuan dan baru kali ini pula ia merasa terkhianati sangat dalam oleh orang yang sangat ia cintai. Kata-katanya bahwa Hinata adalah miliknya sampai kapanpun seolah terbang dari memori Sasuke. Dan ia menyesal mengatakan hal itu.

Sasuke langsung melempar buket bunga itu keras ke trotoar dimana ia berpijak. Dengan langkah gusar dan amarah yang memuncak, ia langsung berjalan menuju rumah Hinata. Ia pun menggedor pintu rumahnya dengan keras.

Lalu, seseorang pun membuka pintunya."Oh, Sasuke, akhirnya kau sampai juga."

Sasuke hanya menyerahkan buku-buku itu pada pemiliknya dengan kasar dan dalam diam.

Neji pun menerima buku-buku yang diberikan Sasuke kemudian ia memandang pria bermarga Uchiha itu. "Sasuke, kau tak apa?"

"Ya, aku baik-baik saja. Benar-benar baik-baik saja. Kau sudah tak ada urusan lagi kan denganku? Kalau begitu, aku pergi." pamit Sasuke.

Sasuke pun berjalan pulang menuju mobilnya dengan langkah cepat. Tapi saat ia mau membuka pintu mobilnya ia terpikirkan sesuatu dan bukannya membuka pintu mobil melainkan berjalan ke arah lain dimana seseorang sedang berjalan pulang juga sekarang.


Di lain pihak, tepatnya di kediaman Hyuuga, Neji berjalan pelan menuju ruang tengah. Ia menemukan Hinata sedang menangis dengan adik bungsunya, Hanabi yang mengusap punggung Hinata pelan dengan maksud menenangkannya. Neji hanya bisa melihat pemandangan itu dengan iba.


Sasuke terus berjalan, malah nyaris berlari mencari seorang Kiba. Ia yakin bahwa ia belum terlalu jauh darinya. Ternyata perkiraannya tepat. Kiba berada tak jauh di depannya. Sasuke memandang Kiba geram dan terpancar aura kemarahan di wajahnya. Ia pun berjalan cepat ke arah Kiba.

Kiba yang menyadari kehadiran seseorang di belakangnya kemudian berbalik.

"Oi, Sasuke, lama tak berjumpa." sapa Kiba.

"Tsk, masih bisa sok baik." cibir Sasuke sambil menatap Kiba tajam.

"Apa maksudmu, Sasuke?"

"Apa maksudku? Aku yakin kau tahu apa maksudku!"

BUG ! Bukan sebuah sapaan hangat yang diterimanya melainkan sebuah tonjokan mendarat di pipinya.

Kiba pun tersungkur tak jauh dari tempatnya berdiri semula.

"Baji**an! Kenapa kau melakukan ini semua? KENAPA?!"Teriak Sasuke kalap.

"Sebenarnya kau kenapa sih? Aku punya salah apa?"tanya Kiba kebingungan.

"Kau masih tak tahu salahmu apa? Menyedihkan." dengus Sasuke dingin.

To Be Continued…


Don't forget to review :))