Disclaimers : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Haru Haru by aranoballad
Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Rating : T
Warning : AU, OOC, Fluff/Cheesy, Mainstream, Typo(s), dll.
Inspired by MV BIGBANG - Haru Haru
Enjoy :)
"Don't look back and leave
Don't find me again and just live on
Because I have no regrets from loving you, so only take the good memories
I can bear it in some way
I can stand it in some way
You should be happy if you are like this
Day by day it fades away" BIGBANG - Haru Haru
Chapter 3
Kiba hanya bisa menatap dalam diam sang Uchiha yang memandangnya penuh amarah. Kemudian ia pun mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya dan berusaha berdiri.
"Sasuke, jangan buat aku terus bertanya-tanya begini, katakan segalanya padaku agar semuanya terlihat jelas," ujar Kiba tenang.
"Setelah lama kita saling mengenal, aku baru tahu seperti inilah sifatmu sebenarnya. Dasar munafik." kata Sasuke sinis.
"Munafik? Apa maksudmu aku munafik?"
"Jangan pura-pura tidak tahu kau! Pantas saja kau selalu memperlakukan Hinata baik, jadi ini tujuanmu,"
Kemudian Kiba seperti mengerti akan sesuatu dan berkata. "Oh aku mengerti sekarang, jadi kau ada di sana ketika Hinata dan aku berbicara?"
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan JELAS sekali bahwa kau juga menyukainya, iya kan?!"sahut Sasuke marah."Kau mau merebutnya dariku, iya kan?!"
Kiba hanya membalas tatapan membunuh milik Sasuke datar. Kemudian ia pun berkata."Lalu? Kalau iya kenapa? Masalah buatmu?"
Sasuke pun terkejut dengan respon seorang Kiba dan membuatnya bungkam.
"Sudahlah, Sasuke, kalau kau memang melihat kami tadi, berarti kau mendengar segalanya, bahwa gadis yang kau cintai ternyata tidak mencintaimu lagi, terimalah kenyataan itu!"sahut Kiba dengan nada menantang.
"KIBAAAA!" Amarah Sasuke semakin memuncak mendengar perkataan Kiba. Ia pun langsung mencengkeram kerah baju pria bertato di wajahnya itu dan mendorongnya ke tembok.
"Kau... Jika kau tidak ada... Hinata tidak mungkin mengatakan semua itu tadi! Hinata itu milikku! Hinata akan tetap bersamaku!" Bentak Sasuke sambil mencengkeram kerah baju Kiba lebih keras.
Kiba sangat kesakitan karena cengkeraman tersebut, tetapi ia berusaha mengeluarkan suara dan memanas-manasi Sasuke lagi."Oi… Sasuke, sebelum menyalahkan orang lain, mengacalah dulu, jangan merasa sok benar dan sempurna, Hinata tak mencintaimu lagi itu bukan salahku, tapi karena kesalahanmu sendiri, kau pikir kau sudah membahagiakannya? Intropeksilah!"
Sasuke kemudian semakin mengeraskan cengkeramannya, sehingga Kiba semakin kesakitan.
Di lain pihak, Hinata pun mulai bisa tenang dan mengusap air mata yang dari tadi mengalir deras dari kedua bola matanya itu.
"Neechan? Kau sudah baikan?"tanya Hanabi.
Hinata pun mengangguk kemudian tersenyum,"Hai, arigatou, kalau kalian tidak ada, aku pasti takkan bisa menghadapi ini semua."
"Bukankah itu hal yang lumrah bagi sebuah keluarga untuk saling membantu ketika ada yang kesusahan?" ujar Neji sambil mengacak rambut Hinata pelan.
Hinata hanya tersenyum lega mendengar perkataan kakaknya itu. Di saat seperti ini, dia sangat bersyukur bisa terlahir di keluarga ini dan menjadi saudara perempuan bagi Neji dan Hanabi. Dan kalau benar reinkarnasi itu ada, Hinata ingin kembali menjadi keluarga mereka..
Kemudian Neji pun beranjak dari tempat duduknya. "Aku akan keluar sebentar."
'Ini aneh. Kenapa perasaanku tidak enak?' batinnya sambil berjalan keluar rumah. Saat di depan gerbang rumahnya, entah kenapa ada yang membuat Neji pun melihat ke sekitarnya seolah mencari sesuatu. Kemudian ia tersentak saat melihat mobil Sasuke masih terparkir di depan studionya.
"Oi, Neji-nii!" panggil seseorang yang membuat Neji menoleh.
Ia menemukan Naruto sedang berjalan santai tak lupa senyuman dua jarinya dan tas jinjing di tangannya. "Ah, untung kau datang, Naruto."
"Ada apa memangnya?" Naruto bertanya. Kemudian ia ingat sesuatu dan menunjukkan tasnya paada Neji. "Aku ingin mengembalikan film yang ku pinjam minggu lalu."
"Nanti saja, ada yang lebih penting." Kata Neji.
"Nani?" Naruto tidak mengerti.
"Ada yang tidak beres, kita harus segera mencari Sasuke, ia pasti masih berada di sekitar sini," sahut Neji.
"Eh? Sasuke baru dari sini?"
Neji hanya mengangguk. "Akan ku jelaskan setelah menemukannya. Cepat!"
"A-ah, oke."
Lalu, mereka pun pergi mencari Sasuke dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Neji-nii belum kembali juga." celetuk Hanabi.
"Kau benar, akan ku cek." Hinata pun berjalan ke luar rumah.
Hinata pun sampai di depan rumahnya tapi tak menemukan sosok Neji dimanapun. Kemudian pandangannya tersita oleh sesuatu yang tak jauh dari rumahnya. Ia pun berjalan menghampirinya dan mengambil sesuatu tersebut yang ternyata adalah sebuah buket bunga mawar putih yang tadinya akan Sasuke berikan padanya.
Ia pun menghirup aroma bunga tersebut. Masih harum dan segar. Ini pasti belum lama. Pikirnya. Kemudian ia pun mengambil kartu yang terselip di dalamnya. Dengan penasarannya, ia pun membuka dan membacanya.
Untuk Hinata…
Terimalah bunga mawar ini sebagai tanda permintamaafanku padamu. Maafkan aku jika memang aku berlaku salah padamu. Tapi ku mohon, setelah ini jangan perlakukan aku seperti ini lagi. Aku... Benar – benar tak bisa hidup tanpamu, Hime...
Aishiteru yo...
Sasuke
Tess... Kedua netra lavender itu kembali meneteskan bulir – bulir kristal dan membasahi kedua pipi mulus Hinata. Ia benar – benar merasakan kepedihan yang Sasuke rasakan karena perlakuannya saat ini.
"Ini bukan salahmu, Sasuke-kun... Hontou ni gomennasai…"isaknya sedih sambil memeluk buket bunga itu erat.
Neji dan Naruto terus berlarian mencari keberadaan Sasuke. Setelah cukup lama mencari, mereka belum menemukan keberadaannya.
"Niisan, bagaimana ini? Teme tak ada dimana-mana," ujar Naruto sambil terengah-engah.
"Dia pasti berada di sekitar sini, aku yakin," ujar Neji yakin sambil mengatur nafasnya.
"Niisan, ku pikir ini saatnya kau ceritakan padaku ada apa sebenarnya." kata Naruto. Lalu, tiba-tiba ia terkejut sambil menunjuk sesuatu, "Niisan ! Lihat!" sahutnya setengah berteriak.
Neji pun melihat ke arah yang ditunjuk Naruto dan ikut terkejut. "Gawat! Ayo kita kesana!"
Naruto pun mengangguk kemudian keduanya pun berlari ke arah Sasuke dan Kiba yang terlihat sedang adu jotos.
"Firasatku ternyata benar, ada yang tidak beres, Sasuke pasti akan melakukan hal ini,"ujar Neji pada Naruto.
Naruto yang tak mengerti apa yang terjadi hanya berkata. "Pokoknya setelah ini, kau berhutang cerita padaku, Neji-nii."
Di saat Sasuke akan melancarkan serangannya yang ke sekian kalinya pada Kiba, Neji dan Naruto datang dan langsung memisahkan mereka berdua. Sasuke berontak dan berusaha untuk menerjang Kiba lagi.
"Lepaskan aku!" teriak Sasuke penuh kemarahan.
"Sasuke, hentikan! Tenanglah, sebenarnya ada apa ini?" tanya Neji seraya menahan Sasuke dengan memegangnya erat.
"Orang itu baj***an! Ia telah merebut Hinata dariku!" sahut Sasuke marah.
Sedangkan Naruto yang berada di dekat pria Inuzuka itu langsung membantu Kiba yang kesusahan bernafas. "Kiba, kau tak apa-apa?" tanyanya.
"Un, da-daijoubu." Jawab Kiba sambil berusaha berdiri.
Sasuke tetap berusaha untuk lepas dari pegangan Neji dan kembali menerjang Kiba. "Lepaskan aku! Neji-nii! Lepaskan!"
"Sasuke! Hentikan!" Suara Neji pun jadi ikut meninggi.
Sasuke hanya menatap sahabatnya itu tak percaya dan berhasil lepas dari Neji. Ia kemudian menatap semua orang yang ada disana bergantian.
"Ada apa ini?! Kenapa semuanya malah menghentikanku! Aku di sini hanya korban! Baj***an itu yang salah!" sahut Sasuke keras.
"Tapi kau tetap salah! Kekerasan bukanlah jalan keluarnya!" balas Neji.
Sasuke menatap Neji tak percaya. "Aku benar-benar sudah tak mengerti dengan kalian semua!" Setelah mengatakan itu, Sasuke pun pergi dengan langkah gusar.
Neji hanya mengepalkan tangannya dan menendang kaleng yang kebetulan ada di sekitarnya. "Aku tahu ini akan terjadi, Apa yang sebenarnya Hinata mau pada akhirnya? Menyakiti orang?" katanya emosi.
"Apapun yang Hinata inginkan, yang jelas kita harus tetap melakukannya," ujar Kiba sambil dipapah Naruto.
"Tapi melihat Sasuke... Aku benar-benar tak tega."
"Niisan, tidak hanya kau saja, kami pun merasakan hal yang sama," kata Kiba.
"Hmm adakah di antara kalian yang ingin menceritakan apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" celetuk Naruto.
Neji kemudian memandang Naruto sekilas. Cepat atau lambat semua orang di sekitarnya pasti akan mengetahui yang sebenarnya. Neji pun menghela nafas berat. "Hinata... Inikah yang kau harapkan akan terjadi?" batin Neji dalam hati.
Semenjak kejadian itu, Sasuke maupun Hinata tak ingin berhubungan satu sama lain. Mereka terus diam dan saling menghindari. Hinata merasakan kepedihan yang amat sangat di hatinya. Karena Sasuke sudah tidak lagi melihatnya jika bertemu, bahkan sekarang menghindar. Sekalipun mereka bertatapan, pria bermata oniks itu menatap Hinata dengan benci. Tapi, untuknya, ditatap seperti itu pun tak apa. Karena dari awal Hinata memang bertujuan agar Sasuke melihatnya seperti itu.
"Oi, Hinata, sendirian saja?" sapa Kiba sambil duduk di sebelah Hinata.
Hinata hanya mendongak dan tersenyum. "Ah, Kiba-kun, bagaimana kabarmu?"
"Begitulah, aku baik." Jawabnya singkat sambil tersenyum lebar. "Kau sendiri? Akhir-akhir ini kau sering sekali duduk di kursi taman kampus ini seorang diri, kau benar-benar tak apa?" tanya Kiba cemas.
"Aku baik-baik saja kok, Kiba-kun." kata Hinata sambil melemparkan pandangannya ke depan. "Hanya saja, aku ingin menenangkan diri, rasanya sakit saat melihat Sasuke-kun seperti itu padaku,"
Kiba hanya menatap Hinata sedih. Kemudian Hinata melanjutkan sambil tersenyum pahit. "Aku tahu ini resiko yang harus ku tanggung sendiri, aku kira aku akan kuat, ternyata tidak,"
"Hinata..."
Ia kemudian menunduk dan tiba-tiba mendongak. "Tapi, sisi baiknya, jika suatu saat nanti aku pergi, Sasuke-kun takkan pernah bersedih, benar kan? Karena dia membenciku,"ujarnya tersenyum.
"Hinata... Hentikan... Jangan berkata seperti itu..."ujar Kiba lirih.
Lalu, gadis berambut panjang itu pun terkejut saat melihat sekelompok orang yang tak jauh dari mereka berdua.
"Kiba-kun, bermesraanlah denganku, cepat!" Sahut Hinata.
"Hah?" kemudian Kiba pun melihat mereka juga dan mengikuti perintah Hinata. "Oke."
Kiba pun menggerakkan tangannya dan merangkul Hinata. Dan Hinata bergeser mendekati Kiba. Sehingga mereka pun terlihat sangat mesra.
Sekelompok orang yang mereka maksud tak lain dan tak bukan adalah Sasuke dan band-nya. Sasuke yang sedang asyik mengobrol langsung berhenti saat melihat pemandangan yang tak menyejukkan mata. Api kemarahan yang sempat padam itu pun kembali tersulut.
"Teme, kau kenapa?" tanya Naruto.
"Mereka berdua..." ujar Sasuke geram.
Lalu, tiba-tiba Sasuke pun berjalan ke arah pemandangan itu berasal meninggalkan anggota band-nya yang masih terbingung-bingung.
"Sasuke! Teme!" Sahut semuanya.
"Ayo kita susul," Neji memberi instruksi.
Semuanya pun menyusul Sasuke yang sekarang sedang berhadapan dengan Hinata dan Kiba.
"Oi!" bentak Sasuke saat sampai di depan mereka.
"Ah, ternyata kau, Sasuke. Apa kabar?" sapa Kiba ramah.
"Jangan sok baik kau, bisa-bisanya kalian bermesraan di depan umum, kalian membuat mataku sakit." kata Sasuke sinis sambil menatap keduanya tajam.
Hinata hanya menatap Sasuke tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bukankah kau juga begitu? Kenapa kau melarang kami sekarang?"tanya Kiba. "Oh iya, aku lupa, itu kan dulu, karena Hinata sudah tak mencintaimu lagi, yang ia cintai sekarang adalah aku,"
Sasuke kemudian kembali di puncak amarah dan berniat melayangkan pukulannya. Tapi untunglah ia kalah cepat. Karena ia dihadang oleh keempat anggota band-nya. Sasuke kembali berontak.
"Sasuke! Ada apa denganmu?!" sahut Sai.
"Lepaskan aku!" seru Sasuke sambil tak berhenti berontak.
"Sasuke! Sudahlah! Lupakanlah mereka!" sahut Neji.
Sasuke pun berhenti memberontak dan memandang kawan seband-nya itu bergantian. "Lupakan katamu?! Bagaimana bisa kau lupakan kejadian yang menyangkut perasaan dan orang yang kau cintai?!"
Mereka semua terdiam.
Sasuke pun melanjutkan kata-katanya. "Neji-nii, apa yang kau lakukan jika Tenten yang melakukan hal seperti ini?! Juga kau Dobe, jika Sakura yang mendua seperti ini apa kau akan tetap diam ?! Dan Sai, kau pasti akan berontak juga kan jika Ino seperti ini?!"
Semuanya tak ada yang mengeluarkan suara. Hinata yang melihat itu semua hanya berusaha menahan air mata. Sasuke menatap Hinata sekilas. Dan tatapan mereka bertemu. Ia menatap gadis yang ia cintai dengan sedih. Begitupula dengan Hinata sendiri. Lalu, ia kembali pada teman-temannya.
"Ada apa?! Kenapa semuanya diam?! Kalian juga akan sama sepertiku kan?! Lalu kenapa kalian melarangku melakukan semua itu dan menyuruhku melupakan rasa sakit ini begitu saja?! Kalian semua memang tidak ada yang mengerti!" teriak Sasuke sambil berlalu.
Ia pergi meninggalkan semuanya dengan langkah yang gusar. Pikirannya kacau. Hatinya hancur. Dan teman-teman yang seharusnya akan ada di sampingnya dan mendukungnya sekarang tak ada di pihaknya. Baginya semua ini tidak adil. Hidup pun rasanya sia – sia. Semuanya telah usai...
"Hanabi-chan," panggil Hinata.
"Hm?"
"Bisakah kau sisirkan rambutku ?" pinta Hinata.
"Neechan, tumben sekali, ada apa?"tanya Hanabi heran.
"Hmm, tidak ada apa-apa... Aku hanya sedang ingin mengenang ketika kita kecil dulu," kata Hinata.
Hanabi hanya memandang kakak laki-lakinya yang berada di dekatnya. Dan Neji hanya balas mengangguk. Kemudian Hanabi pun berpindah duduk ke samping Hinata.
"Wakatta, menghadaplah ke sana," ujar Hanabi.
"Arigatou, Hanabi-chan."
"Un, lagipula kakak beradik memang seharusnya saling membantu kan?" kata Hanabi sambil tersenyum.
Neji hanya ikut tersenyum memandang pemandangan akur kedua adiknya itu.
Saat Hanabi sedang menyisir rambutnya, sesuatu membuatnya terkejut dan berhenti menyisir.
"Hanabi-chan? Kenapa kau berhenti menyisir rambutku?" tanya Hinata sambil berbalik.
"Neechan, a-aku… Tak tahu bahwa rambutmu sudah rontok sebanyak ini," ujar Hanabi. "Neechan..."panggilnya lirih.
Hinata hanya memandang rambutnya yang rontok sedih. "Ah... Ini pasti pengaruh obat..."
"Hinata!" pekik Neji kaget.
Setetes demi setetes cairan merah keluar dari hidung Hinata. Hinata pun mengusap darah yang mulai keluar dari hidungnya dengan kedua tangannya.
"Ah, daijoubu, daijoubu, kalian tahu sendiri aku selalu seperti ini," ujar Hinata menenangkan.
"Hinata-nee, ayo kita ke rumah sakit," ajak Hanabi.
"Ah, tidak, tidak usah," ujar Hinata tersenyum lemah.
"Hinata, jangan membantah! Akan ku nyalakan mobilnya," sahut Neji sambil buru-buru beranjak ke garasi untuk menyalakan mobil.
"Kalian ini... Terlalu... Berlebihan..." ujar Hinata dengan nafas yang mulai tak beraturan.
Tubuh Hinata pun mulai melemah dan kehilangan keseimbangan."Hinata-nee! Bertahanlah..." ujar Hanabi sambil menahan tubuh Hinata. "Neji-nii! Cepatlah!" teriak Hanabi.
"Hanabi-chan... Aku... Sudah... Bilang... Aku... Baik... Baik... Saja..."kata Hinata dengan nada yang semakin pelan.
Lalu, kedua matanya pun terpejam dan sontak membuat Hanabi panik. "Neechan! Bangunlah... Hinata-nee... Onegai… Bertahanlah... Neechan !" sahut Hanabi histeris sambil mengguncang badan Hinata pelan.
Few weeks later...
Sasuke sudah kehilangan seluruh kehidupannya. Ia begitu terpukul dengan apa yang terjadi padanya. Sekarang ia bagaikan orang yang kehilangan akal sehat. Ia melemparkan seluruh barang di kamarnya sampai kehilangan fungsinya. Ia mengacak-ngacak semua yang ada di kamarnya dan menjadikan kamarnya berantakan bak kapal pecah. Bahkan lebih parah. Setelah puas mengacak kamarnya, pria bermarga Uchiha itu pun menyalakan video rekaman yang dulu ia buat bersama kekasihnya itu. Ia hanya menontonnya dengan tatapan kosong. Jujur saja, hatinya sudah tak kuat. Ia terlalu sedih menontonnya. Kemudian ia menangis sambil tertawa dan bergumam tak jelas. Sungguh ironis...
Naruto yang saat itu sedang berada di kediaman Sasuke terpaku melihat betapa malangnya sahabat karibnya itu. Ia ikut merasakan kesedihan yang Sasuke rasakan. Ingin rasanya dia masuk ke dalam kamar Sasuke dan berkata bahwa semua ini bohong. Hinata telah berbohong padanya dan Sasuke tak perlu sedih lagi. Tapi ia tidak bisa. Keadaan tidak memperbolehkannya mengatakan hal itu.
Naruto pun berjalan menuju kamar Sasuke yang pintunya terbuka. Saat Naruto akan masuk dan menghampiri sahabatnya itu, seseorang memegang bahunya. "Naruto… Bagaimana keadaan Sasuke?" tanya orang tersebut.
"Ah, ternyata kau, Sai." kata Naruto. "Ku pikir kau bisa melihatnya sendiri."
Sai yang melihat Sasuke juga ikut merasa sedih tapi ia tahu ia tak bisa melakukan apa-apa. "Naruto, lebih baik kita biarkan dia sendiri, dia pasti tidak ingin diganggu,"
"Ah, kau benar." Kata Naruto setuju. "Kalau begitu bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja? Aku tiba-tiba ingin menjenguk Hinata-chan."
"Aku juga, kalau begitu ayo kita pergi, kita biarkan Sasuke sendirian," kata Sai sambil memandang sahabatnya terakhir kali sebelum beranjak menuju rumah sakit dimana Hinata dirawat.
"Hinata-chaaan! Kami datang menjenguk!" sapa Naruto dengan suara nyaring khasnya saat masuk ke dalam kamar rawat Hinata.
"Ah, Naruto-kun, Sai-kun, konnichiwa." balas Hinata tak kalah riang.
Sai hanya balas mengangguk sambil tersenyum. "Bagaimana keadaanmu, Hinata-chan?"
"Ah, kau bisa lihat sendiri, aku merasa lebih sehat sekarang," jawab Hinata sambil tersenyum.
"Baguslah kalau begitu," kata Naruto. "Ah, kami membawakanmu makanan kesukaanmu, cinnamon roll." Naruto pun menaruh sebungkus cinnamon roll di pangkuan Hinata.
"Ah, ini juga bunga lavender, kesukaanmu. Ino tadinya ingin ikut menjenguk, tapi toko bunganya sangat ramai pengunjung hari ini." Kata Sai sambil menyerahkan sebuket bunga lavender kepada Hinata.
"Wah, doumo arigatou, Naruto-kun! Sai-kun! Aku sangat senang sekali."
"Hontou ni? Yokatta, untung sebelum ke sini aku tanya Sakura dulu, malah tadinya mau ku bawakan ramen," Naruto hanya terkekeh.
"Dasar maniak ramen." ejek Sai sambil tersenyum palsu.
"Nani?! Sai, kau!"
Kemudian pintu pun terbuka dan datanglah Hanabi serta Kiba masuk ke dalam kamar. "Neechan, jangan bangun dulu," sahut Hanabi saat melihat Hinata yang terduduk.
"Kau ini terlalu berlebihan, Hanabi-chan, aku baik-baik saja," kata Hinata menenangkan.
"Hinata-nee kan baru saja kemoterapi kemarin, tidak boleh banyak bergerak, jangan membuatku khawatir," kata Hanabi cemas.
Hinata pun menatap adik perempuannya sedih kemudian tersenyum. "Hai, hai."
"Uwah, Hinata, aku lupa membelikan hadiah padamu," kata Kiba.
"Ah, tidak apa-apa, Kiba-kun. Dengan kau datang menjenguk pun aku sudah senang. " ucap Hinata sambil tersenyum manis.
"Ah, paling kau akan memberikan Hinata choker anjing." celetuk Naruto.
"Nani?! Oi, Naruto! Kemari kau!"
Semua yang ada disana hanya tertawa melihat pertengkaran kecil Naruto dan Kiba. Begitu pula dengan Hinata yang ikut tertawa bersama mereka.
Neji yang berada di luar hanya memandang pemandangan bahagia itu dengan tatapan lembutnya. Ia tahu inilah yang Hinata butuhkan sekarang. Orang-orang yang Hinata sayangi berada di sampingnya dan tertawa bersamanya. Tapi pria bermata sama dengan Hinata itu merasakan sesuatu yang kurang. Ia pun berbalik dan duduk di bangku yang terletak di depan ruang rawat Hinata.
Seharusnya seseorang juga ada bersama mereka sekarang. Sedang tertawa seperti mereka. Berada di samping adiknya. Mengingat orang itu, Neji merasa amat sangat bersalah padanya. Ia ingin segera mengatakan pada orang itu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ia tak bisa. Ia telah berjanji pada Hinata. Sekalipun ia harus membohongi sahabatnya, asalkan ini yang adiknya mau, akan ia lakukan. Bagaimanapun juga Neji adalah orang yang sangat menyayangi adik-adiknya dan tidak pernah mengingkari suatu janji dengan seseorang.
Lalu, dari dalam kamar, terdengar sebuah kepanikan."Neechan, neechan, neechan!" suara Hanabi menyentuh indera pendengarannya. Lalu disusul suara yang lainnya juga. Neji yang kaget kemudian masuk ke dalam kamar.
"Ada apa?!" tanya Neji kaget.
"Hinata-chan! Dia tiba-tiba pingsan," sahut Naruto panik.
"Neji-nii, biar aku panggil dokter," kata Sai.
Neji pun mengangguk dan Sai pun lantas berlari ke luar kamar.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Naruto kemudian.
Semua pun terdiam, kecuali Hanabi yang terus berusaha membangunkan Hinata.
Tiba-tiba Kiba pun membuka suaranya, "Panggil Sasuke kemari,"
"Apa yang kau katakan?" Neji menoleh pada Kiba.
"Panggil Sasuke kemari, bagaimanapun juga Sasuke harus mengetahui keadaan Hinata," kata Kiba.
"Tapi, sampai sekarang Teme tak tahu penyakit Hinata dan keseluruhan ceritanya," ujar Naruto.
"Lalu? Apa itu berpengaruh? Cepat atau lambat Sasuke akan mengetahuinya, jadi lebih baik kita panggil dia kemari,"
"Tidak, Kiba." Neji membuka suaranya yang membuat Kiba dan Naruto menoleh padanya. "Aku bukanlah orang yang akan mengingkari janji yang telah ku buat, Hinata yang meminta kita semua diam tentang apa yang terjadi padanya, jadi kita pun harus diam sampai Hinata mengatakan bahwa kita boleh memberitahukannya pada Sasuke,"
"Kalaupun kita tetap diam, tak ada yang bahagia, mengertilah, Niisan," seru Kiba. "Sasuke sudah terlalu sakit sekarang, jika nanti ia mengetahui Hinata pergi dari kita, dia akan semakin tersakiti,"
"Kiba! Hinata orang yang kuat, dia akan bertahan hidup, dia mampu melawan penyakit itu, jadi jangan pernah katakan kalau Hinata akan pergi!"seru Neji emosi.
"Diam!" pekik Hanabi yang membuat semuanya menoleh padanya. "Sekarang bukan saatnya untuk bertengkar, jika kalian bertengkar, lebih baik kalian pergi saja dari sini, bertengkar tidak membantu sama sekali,"
"Gomen, aku hanya menginginkan yang terbaik untuk semuanya," kata Kiba dengan raut wajah bersalah.
Neji pun menambahkan dengan raut sama bersalahnya. "Aku juga,"
"Minna, aku sudah membawa dokter!" Seru Sai sambil berlari masuk ke dalam kamar diiringi dokter beserta suster yang mengekorinya.
"Permisi, permisi," kata dokter itu sambil menghampiri Hinata yang tak sadarkan diri itu.
Hanabi yang kebetulan berada dekat dengan kakak perempuannya itu pun menyingkir menjauh. Begitupula dengan yang lain.
"Bisakah kalian meninggalkan kamar sebentar?" pinta sang suster.
Semuanya pun menurut dan keluar secara beriringan. Di luar, mereka tak henti – hentinya berwajah tegang. Mereka semua khawatir dengan keadaan Hinata. Neji berdiri menyender di depan pintu sambil sesekali menengok ke dalam. Hinata duduk di kursi bersama Naruto dan Sai. Sedangkan Kiba tak henti-hentinya mondar-mandir.
Kemudian dokter pun membuka pintu kamar. Semuanya pun menghampiri orang berjas putih itu…
To Be Continued…
Don't forget to review ya :))
