Disclaimers : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Haru Haru by aranoballad
Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Rating : T
Warning : AU, OOC, Fluff/Cheesy, Mainstream, Typo(s), dll.
Inspired by MV BIGBANG - Haru Haru
Enjoy :)
"Don't look back and leave
Don't find me again and just live on
Because I have no regrets from loving you, so only take the good memories
I can bear it in some way
I can stand it in some way
You should be happy if you are like this
Day by day it fades away" BIGBANG - Haru Haru
Chapter 4 –END–
.
Kemudian dokter pun membuka pintu kamar. Semuanya pun menghampiri orang berjas putih itu.
"Sensei, bagaimana keadaan Hinata-neechan?" tanya Hanabi.
"Sumimasen, Hyuuga-san dalam keadaan kritis,"
Semuanya kaget mendengarnya. "N-nan desuka? Kritis?" tanya Neji memastikan.
"Hai, saya sarankan Hyuuga-san segera dipindahkan ke ruang ICU,"
"Baiklah, kami mohon lakukanlah yang terbaik untuknya, dok," ujar Neji lagi.
"Hai, wakarimashita, akan kami pindahkan sekarang juga,"
.
Praaakk !
Sasuke menoleh pelan ke arah asal suara itu berasal. Ternyata sebuah pigura jatuh ke lantai dengan pecahan kaca berhamburan. Ia pun berjalan untuk mengambil pigura tersebut dengan gontai. Lalu, ia terkejut melihat foto di pigura tersebut. Itu adalah fotonya bersama Hinata. Keduanya nampak bahagia dalam foto tersebut dengan senyum yang merekah. Bahkan Sasuke yang rumornya urat senyumnya putus saja tersenyum lebar di foto tersebut.
Deg. Perasaan tak enak hinggap dalam benak sang bungsu Uchiha itu. 'Apakah sesuatu terjadi pada Hinata? Ah, untuk apa aku memikirkan dia? Toh dia sudah tak mencintaiku lagi...' batinnya sambil tertawa miris.
Tetapi, kemudian Sasuke terisak sambil menyentuh foto itu dengan tangannya yang gemetar. "Hinata… Kenapa… Kenapa kau melakukan ini padaku?" katanya sirat akan kesedihan yang sangat kentara di dalamnya.
.
"Neji-nii, aku… Aku setuju dengan yang apa yang dikatakan Kiba-nii tadi," kata Hanabi memecah keheningan.
"Hah?"
"Aku setuju dengan memanggil Sasuke-nii kemari," ulang sang bungsu Hyuuga itu.
Neji pun menghampiri Hanabi. "Tapi, Hanabi..."
"Niichan, aku punya firasat buruk," Hanabi menundukkan kepalanya dalam. "Neechan... Dia akan meninggalkan kita..." katanya dengan air mata yang sudah bertengger di kedua matanya.
"Hanabi, tarik kata-katamu barusan." Sahut Neji pelan sambil menutup matanya.
"Niichan, ku mohon panggilah Sasuke-nii, dia harus tahu keadaan Hinata-nee,"
"CUKUP!" teriak Neji. "Cukup… Jangan katakan itu lagi, Hinata tidak mungkin meninggalkan kita secepat ini... Dia gadis yang paling kuat yang pernah ku kenal..." kata Neji lirih.
Kemudian ia merosot ke lantai dan menangis. "Jadi ku mohon, jangan katakan itu lagi..."
Hanabi hanya memalingkan wajahnya dari kakak sulungnya itu. Suasana di sana langsung berubah sedih.
"Jika kau tak mau, biar aku yang lakukan," kata Hanabi sambil mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang dibawanya.
"Hanabi, berhenti! Hinata menyuruh kita untuk diam," cegah Neji.
"Sudahlah, Niichan! Aku sudah tidak peduli dengan janji yang telah kita buat, yang ku inginkan kebahagiaan semuanya, sekali lagi Neji-nii menghalangiku, aku tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi apa-apa pada Hinata-nee," ancam Hanabi sambil menatap Neji tajam.
Neji pun terdiam dan memalingkan muka. Setelah Hanabi memencet nomor Sasuke, Neji langsung merebut ponsel milik Hanabi. "Biar aku saja, Hanabi."
Hanabi hanya memandang Neji. "Hontou ni daijoubu?"
Neji terlihat berpikir sebentar sampai pada akhirnya ia mengangguk.
.
Kriing… Kriing…
Sasuke hanya memandang ponsel yang berdering di atas kasur kemudian mengambilnya. Ia pun menggeser layar ponselnya dan mengangkat telepon.
"Moshi-moshi, Sasuke." sahut orang di seberang sana.
"Neji-nii ya? Ada apa?" tanya Sasuke pelan.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Untuk apa kau menanyakan apa yang sedang aku lakukan ? Itu tidak penting kan untukmu,"
"Sasuke..."
"Doushite? Kenapa kau selalu menggangguku saat aku sedang ada masalah? Jika kau memang tidak ada perlu denganku, lebih baik jangan menghubungiku lagi, bisa kan?" pinta Sasuke lirih.
"Sasuke, ku mohon, jangan seperti ini, ini sangat penting, ini tentang adikku,"
"Tentang Hinata? hahaha," kata Sasuke sambil tertawa miris. "Kenapa kau memberitahukan berita tentang adikmu padaku? Aku bukan siapa-siapanya lagi sekarang, lebih baik kau hubungi saja si Inuzuka sialan itu,"
Terdengar helaan nafas dari Neji. Lalu, ia pun berkata. "Sasuke, dengarkan aku, ada sebuah rahasia besar yang sebenarnya Hinata sembunyikan padamu selama ini."
"Hah? Oh apa tentang perselingkuhannya dengan laki-laki itu? Atau mungkin dia ingin menikah dengan laki-laki sialan itu?"
"Sasuke! Dengarkan aku!" suara kesal Neji membuat Sasuke terdiam. "Selama ini Hinata mengidap penyakit kanker stadium akhir, dan sekarang dia dalam masa kritis,"
Berita tak diduga dari sang leader sukses membuatnya membulatkan mata. Dari sekian skenario yang ia pikirkan tentang Hinata, dia tak membayangkan bahwa gadis yang ia cintai itu memiliki penyakin mematikan. " Nani?! Kenapa kau baru bilang sekarang?! Niisan!"
"Aku akan menceritakan segalanya padamu, jadi sekarang kau datanglah kemari, aku akan mengirimkan lokasinya padamu." ujar Neji.
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang juga," kata Sasuke sambil menutup percakapan antara mereka dengan terburu-buru.
Ia langsung berganti pakaian dan mengambil kunci mobil. Kemudian ia berlari dengan tergesa-gesa ke garasi mobilnya.
.
Derap langkah yang cepat dan keras menggema di sepanjang lorong rumah sakit yang dilewati Sasuke. Kemudian dia menekan tombol lift yang menuju lantai 3 dimana ruang ICU berada. Tapi karena pintu lift tak juga terbuka, Sasuke pun dengan tidak sabaran berlari ke arah pintu emergency dan menyusuri tangga yang ada. Setelah sampai di lantai 3, ia kembali berlari dan mencari keberadaan ruang ICU. Kemudian tak lama kemudian, di depannya tampak beberapa orang yang sedang menunggu di depan sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat. Sasuke pun berlari menghampiri orang-orang tersebut sampai mereka menyadari keberadaannya.
"Teme! Syukurlah kau kemari," Naruto menyambut Sasuke senang.
"Hn, sekarang Hinata ada dimana? Apa sudah ada kabar darinya?" tanya Sasuke to the point.
Semua pun terdiam membisu. "Kenapa tak ada yang menjawab?" tanya Sasuke lagi.
Sai kemudian menggeleng. "Belum, dari tadi tidak ada yang keluar dari ruang ICU..."
Sasuke pun kemdian menutup kedua matanya dan mengepalkan tangannya. Sekali lagi dia berada dalam puncak kemarahannya. "Kenapa semuanya tak memberitahu tentang penyakit Hinata dari dulu padaku?! Kenapa malah membiarkan aku berlaku seenaknya?! Seharusnya aku ada di sana menemaninya, bukan malah menjauhi dan berpikiran yang tidak-tidak tentangnya!"
"Gomen, Teme, Hinata-chan-lah yang menyuruh kami diam selama ini..." ujar Naruto merasa bersalah.
Sasuke semakin marah dibuatnya. "Walaupun begitu, aku adalah kekasihnya, aku pantas untuk tahu apa yang terjadi pada Hinata! Kenapa kalian menurut saja dan melakukan apa yang Hinata mau?!"
"Sasuke! Hinata melakukan ini semua demi dirimu! Agar kau tak sakit pada akhirnya ! Ia ingin kau bahagia!" sahut Neji.
Saat Sasuke akan mengatakan sesuatu, Kiba langsung memotong semua perkataan. "Bisakah kalian semua diam?! Ini rumah sakit, bukan tempat untuk berdebat!"
Sasuke kemudian mendelik ke arah Kiba "Hah? Siapa kau berani menyuruhku?!" kata Sasuke sinis.
"Dan Kau! Kau yang tak tahu apa-apa tak berhak untuk menyalahkan semua yang ada di sini!" sahut Kiba sambil menatap delikan Sasuke tajam.
"Nani?!"
"Berhentilah membuat masalah denganku, Sasuke, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu, ini tentang Hinata,"
.
Kiba membawa Sasuke ke atap rumah sakit. Dan beruntungnya mereka, tak ada seorang pun berada di sana. Hanya beberapa seprai rumah sakit yang mengantung di tali jemuran yang membentang di dekat mereka.
"Jadi kau mau menyampaikan apa padaku?" tanya Sasuke datar.
"Aku akan menceritakan segalanya padamu," kata Kiba memulai cerita pertemuannya dengan Hinata tempo hari.
.
"Sebelumnya izinkan aku meminta maaf sebesar-besarnya karena telah melibatkanmu, Kiba-kun." ujar Hinatadengan wajah bersalah.
"Memangnya ada apa ?"
"Aku sakit, Kiba-kun. Aku mengidap kanker darah atau leukemiastadium akhir." ungkap Hinatasedih.
"Nani? Kau pasti berbohong kan, Hinata?"
Hinata juga sebenarnya ingin mengatakan itu semua bohong, tapi sayangnya kenyataannya berbeda.Ia hanya menggeleng pelan."Aku tidak berbohong, Kiba-kun, dokter sudah memvonis hidupku sudah takkan lama lagi,"
"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?"
"Gomennasai, memang pada awalnya aku tak mau memberitahukan semuanya tentang ini, biar hanya keluargaku yang tahu." kata Hinata. "Sampai kehadiran seseorang sukses merubah pendirianku selama ini."
"…"
Hinata pun menatap pria di hadapannya lurus. "Kiba-kun, sebenarnya aku ingin kaumelakukan sesuatu untukku,"
"Nani?"
"Aku ingin kaumembantuku membuat Sasuke-kunbenci padaku,"
Kiba terbelakak mendengarnya. Ia tak salah dengar kan? Sasuke dan Hinata saling mencintai satu sama lain, melebihi apapun. Kiba tahu itu. Tapi ia hanya tak habis pikir dengan permintaan teman masa kecilnya ini. "Kenapa kau ingin melakukan itu?"
Gadis bermata lavender itu pun menghela nafas. "Jika… Suatu saat nanti aku pergi untuk selamanya, Sasuke-kun tidak akan pernah sedih dan menangisi kematianku, aku ingin dia terus tersenyum jika aku pergi nanti,aku rasa itu cukup untuk menjadi alasanku."
"Tapi, Hinata..."
"Kiba-kun, aku tahu resikonya, aku bisa menanggungnya, asalkan Sasuke-kun bahagia, aku rela melakukan apapun untuknya. Sekalipun aku dibenciolehnya, aku tak apa,"
Pria Inuzuka ituhanya menatapnya dalam diam.
Tiba-tiba air mata turun perlahan membasahi kulit bak porselen milik Hinata disusul isak tangis yang pelan tapi sukses menyayat hati Kiba. "Kiba-kun... Aku benar-benar mencintainya lebih dari apapun... Aku tidak mau membebani hidupnya... Aku tak ingin dia sedih...Onegai…"
"Wakatta... Aku akan membantumu, tapi tolong hapus air matamu, aku tak mau orang lain salah paham."kata Kibaakhirnya.
Hinata langsung mengelap air matanyakemudian menatap Kibasenang. "Hontou ni? Arigatou, hontou ni arigatou,Kiba-kun." kata Hinata sambil terus membungkuk padanya.
Kibahanya tersenyum. "Sudah, sudah, teman harus saling membantu kan?"
Hinata hanya balas tersenyum manis. "Hai,"
Satu hal di hari itu yang tak pernah ia sadari. Kiba tidak menyangka bahwa itu merupakan senyuman manis dan tulus terakhir yang ia lihat dari seorang Hinata.
.
Sasuke terkejut mendengar keseluruhan cerita Kiba. Dia terpaku dan tak bisa mengeluarkan kata-kata. Seakan ada sebuah gembok yang mengunci mulutnya. Hinata melakukan semua ini agar tak membuatnya sedih. Hinata rela membuat Sasuke membenci dirinya demi melihat Sasuke bahagia. Semua itu demi dirinya...
"Dan... Sasuke," kata Kiba sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Itu..."
"Benar, ini adalah cincin yang Hinata berikan padaku tempo hari, dia ingin aku mengembalikannya padamu, jika saatnya tiba," ujar Kiba sambil menyerahkan cincin itu.
Pria bermata obsidian itu menatap cincin yang diserahkan Kiba dengan matanya yang seolah masih menyiratkan keterkejutan yang besar di dalamnya. Ia kemudian menggenggam cincin itu erat lalu Sasuke jatuh terduduk di lantai. Lalu, ia menumpahkan semua penat dan penyesalan yang ia simpan selama ini dengan air matanya. Mengapa ia malah melepaskannya begitu saja? Mengapa ia tidak mendatangi Hinata dan membuatnya menceritakan yang sebenarnya? Mengapa ia malah kalap dan membiarkan dirinya dimakan amarah dan api cemburu? Dan mengapa semua ini harus terjadi padanya dan Hinata?
Kiba yang melihat Sasuke yang menangis meraung-raung itu hanya bisa menatapnya kasihan. Lalu, dia pun memutuskan meninggalkan Sasuke seorang diri.
.
Setelah puas menangis, Sasuke kembali pada teman-temannya. Dia terlihat memprihatinkan di depan semuanya. Semua menatapnya iba. Lalu, ia berjalan menuju pintu ruang ICU. Ia mencoba membuka pintunya dan langsung dihalangi teman-temannya.
"Teme… Berhenti." sahut Naruto.
"Menyingkirlah, aku ingin masuk ke dalam, biarkan aku masuk," sahut Sasuke.
"Sasuke, tenangkanlah dirimu," sahut Sai juga.
"Biarkan aku masuk! Aku ingin menemui Hinata! Ia sendirian di dalam! Aku ingin menemaninya! Aku ingin meminta maaf padanya! Ku mohon biarkan aku masuk!" seru Sasuke sambil terisak.
Lalu, pintu pun terbuka. Sang dokter yang memeriksa Hinata kemudian keluar dengan wajah yang cukup muram dan tampak begitu kelelahan.
"Sensei, bagaimana keadaan Hinata? Dia baik-baik saja kan?" tanya Sasuke.
"Sumimasen…"
"Sumimasen? Aku pasti salah dengar, Anda tak mengatakan sumimasen kan?"
Sang dokter hanya memandang Sasuke dalam diam.
"Kenapa Anda diam saja? Sensei, katakan padaku, kalau Hinata tidak apa-apa," sahut Sasuke.
"Kami sudah berusaha sekeras mungkin, semua teknologi kedokteran sudah kami kerahkan, tetapi sel kanker itu lebih kuat dari perkiraan kami…"
Semuanya hanya menatap dokter itu penuh harap. Berharap kalau pada akhir kata-katanya, beliau mengatakan bahwa Hinata baru melewati masa kritisnya. Walaupun rasanya itu mustahil menyapa indera pendengaran mereka.
"Hyuuga-san... Sudah tiada..." ujar dokter dengan nada duka yang mendalam.
Tangisan Hanabi memecah keheningan dan membuat suasana duka menghampiri mereka semua. Lalu, Neji mendekati Hanabi dan mendekapnya erat dengan maksud berusaha menenangkannya. Tetapi kristal bening yang sedari tadi bertengger di matanya tak mampu ia bendung lagi. Sai hanya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sedih. Kini rasanya sulit baginya memasang wajah dengan senyum palsunya yang khas. Kiba pun tak lepas dari jeratan duka dan terlihat sangat terpukul dengan berita yang diberikan dokter. Dan Naruto hanya memandang kasihan dan sedih sahabat karibnya yang sekarang menatap sang dokter tak percaya.
"Sensei! Katakan semua itu bohong! Hinata tidak mungkin meninggalkan kami!" seru Sasuke kacau.
"Sumimasen," kata dokter sambil berlalu meninggalkan sekelompok orang yang berkabung itu.
"Ini semua pasti bohong... Ini semua pasti bohong... Hinata pasti masih berbohong padaku." gumam Sasuke.
Sasuke kemudian berjalan perlahan masuk ke ruang ICU. Tetapi Kiba menghentikannya. "Kiba, biarkan aku masuk dan menemui Hinata..." ujar Sasuke pelan.
"Hentikan, Sasuke..."
"Hinata sekarang sedang menunggu kita... Dia tidak mungkin meninggalkan kita semua kan?" terlihat sekali bahwa Sasukelah yang paling merasa terpukul dan tidak bisa menerima kematian Hinata.
"Sasuke... Jangan seperti ini, terimalah kenyataannya, Hinata sudah pergi," sahut Kiba berusaha menyadarkan Sasuke.
"Kiba! Dia tidak mati!" teriak Sasuke kemudian terisak."Hinata! Hinataaa!"
.
Setelah kematian Hinata, Sasuke benar-benar kehilangan warna kehidupan. Dia bagaikan mayat hidup sekarang. Tatapan kosong memenuhi sorot matanya. Dia tak mau menyentuh makanan yang disuguhkan untuknya. Ia tak bergerak dari tempat tidurnya. Dan dia selalu memanggil nama Hinata.
Semuanya sudah berusaha untuk membuatnya kembali, tapi bagai masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Hanya angin lalu. Sasuke tetap tidak berubah sedikit pun.
Dan suatu ketika, rasa lelah menyelimuti Sasuke. Ia berusaha melawan, tetapi rasa kantuk itu cukup kuat. Ia pun akhirnya terlelap dalam tidurnya yang panjang.
Sasuke kemudian membuka matanya dan menemukan dirinya berada di tempat yang tidak diketahui. Hanya padang pasir di sepanjang mata memandang. Anehnya sinar matahari tidak menyengat dirinya. Justru kabut memenuhi pandangannya sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas. Sasuke pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya dari tempatnya berdiri.
Ia terus berjalan melangkah. Melangkah dan melangkah lagi. Kakinya terus melangkah seolah mencari sesuatu. Tetapi Sasuke tak tahu apa yang ia cari.
Jalan keluar... Apa itu yang Sasuke cari? Bukan. Sasuke tidak mau kembali ke sana. Sasuke tidak mau kembali ke kehidupannya yang menyedihkan. Kehidupannya yang tanpa Hinata.
Hinata... Benar. Sasuke mencari Hinata-nya sekarang. Mencari keberadaan gadis yang sekarang sudah pergi meninggalkannya. Mencari gadis yang ia cintai. Walaupun ia tahu Hinata tidak mungkin ada disini. Tapi ia ingin terus mencarinya.
"…suke..."
Tiba-tiba samar-samar terdengar sebuah suara.
Sasuke berhenti berjalan dan menajamkan pendengarannya.
"Sa.. Suke…"
Suara itu semakin terdengar jelas.
"Sasuke-kun…" panggil suara itu lembut.
Pria berambut gelap itu menoleh. Ia celingukan mencari asal muasal suara tersebut.
"Sasuke-kun..." panggilnya sekali lagi.
"Siapa…?" tanya Sasuke bingung.
"Ini aku..." ujar suara itu lembut.
Sasuke pun berpikir keras dan jatuh pada sebuah konklusi. "Hi...Hinata kah?"
"Akhirnya kau mengenaliku… Sasuke-kun."
Sasuke kemudian meneteskan air matanya lagi. "Hi… Hinata… Benarkah itu kau?"
"Hai… Sasuke-kun… Ini aku… Aitakatta yo, Sasuke-kun…"
"Aku juga, Hime… Hontou ni aitakatta…" balas Sasuke.
"Gomen ne… Semuanya salahku…"
"Tidak, kau tak perlu meminta maaf padaku, Hime, yang salah di sini adalah aku, Aku yang membiarkanmu sendirian di saat terakhirmu… Akulah yang digelapkan oleh api cemburu dan amarah… Akulah…" kata-kata Sasuke kemudian terpotong oleh suara Hinata.
"Tidak, Sasuke-kun… Akulah yang salah, seharusnya aku tak melakukan semua itu… karenakulah kau jadi seperti ini," terdengar kesedihan dalam suara Hinata.
Sasuke terdiam. Keadaanlah yang membuat semuanya begini. Mengakhiri kisah cinta mereka dengan salah satu di antara mereka pergi. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Sampai kapan pun Hinata tak bisa kembali padanya. Sasuke sadar akan hal itu. Bahwa semua kata 'seharusnya' dan 'bagaimana jika' laksana layang-layang melawan angin. Semuanya percuma dan sia-sia untuk dikatakan oleh mereka berdua. Karena kata-kata itu tidak akan membuat Hinata kembali.
"Hime… Apa... Aku telah membebanimu ? Apa aku membuatmu tidak tenang?" tanya Sasuke.
"Sasuke-kun..."
"Gomen ne, Hinata…"ujar Sasuke merasa bersalah. "Jika keadaanku sekarang telah membuatmu tidak tenang di sana, ini semua karena aku benar-benar tak mau kau meninggalkanku... Aku tak bisa hidup tanpamu, Hinata..."
"Tapi ini sudah terjadi, kita tak bisa bersama lagi, dunia kita telah berbeda sekarang..."
"Kalau begitu... Biarkan aku ikut bersamamu," pinta Sasuke.
"Tidak, Sasuke-kun! Kau harus tetap hidup," tolak Hinata.
"Aku tak mau hidup di dunia dimana kau tak ada disana, aku hanya ingin hidup bersamamu," seru Sasuke.
"Gomennasai... Untuk kali ini aku tak mau menuruti permintaanmu, Sasuke-kun… Aku tak bisa membiarkanmu pergi bersamaku,"
Sasuke kemudian mengepalkan tangannya lalu ia pun berkata, "Kalau begitu izinkan aku untuk bertemu denganmu..."
"Bertemu denganku?"
"Hn... Aku akan melakukan apa saja... Asalkan aku bisa bertemu denganmu..."
Suara itu terdiam kemudian berkata. "Baiklah… Tapi sebelumnya berjanjilah satu hal padaku,"
"Janji?"
"Setelah kau bertemu denganku, berjanjilah untuk jalani hidupmu dengan baik, jangan pernah sia-siakan hidupmu, karena aku akan selalu ada di hatimu, aku akan selalu menyertaimu, jadi jangan pernah kau tangisi lagi kematianku... Bisakah kau berjanji padaku, Sasuke-kun?"
"Kalau itu maumu… baiklah, aku berjanji," ujar Sasuke tegas.
Kemudian kabut yang dari tadi menghalangi pandangan Sasuke, tiba-tiba menipis dan seolah terhisap ke sebuah titik di depan pria tampan itu. Kabut itu pun membentuk sebuah wujud manusia yang semakin lama semakin jelas. Kemudian kabut itu pun sirna seketika dan menyisakan sesosok gadis yang Sasuke kenal. Gadis itu tersenyum manis pada Sasuke bagai ia tak punya beban untuk ditanggung.
Tess... Bulir – bulir air mata Sasuke kembali turun dan membasahi pipinya. Ia kemudian berlari memeluknya. Gadis itu pun balas memeluk Sasuke erat.
"Sasuke-kun... Kau benar-benar berjanji kan padaku?"
"Tentu saja... Karena aku sangat mencintaimu,"
"Aku juga sangat mencintai Sasuke-kun..."
.
Sasuke pun terbangun di sebuah ruangan yang tak ia kenali. Ia pun menoleh ke sampingnya dan menemukan Neji dan Naruto sedang tertidur di sofa.
"Neji-nii… Dobe…" panggilnya dengan suara yang pelan.
Neji dan Naruto kemudian terusik dari tidurnya dan terbelakak kaget melihat Sasuke akhinya terbangun.
"Teme! Syukurlah… Akhirnya kau terbangun juga," kata Naruto senang.
"Naruto, cepat panggil dokter kemari." suruh Neji.
Naruto kemudian mengangguk dan segera berlari ke luar ruangan.
"Sasuke, aku sempat khawatir kalau kau akan meninggalkan kami juga. Terima kasih sudah kembali." ujar Neji lega sambil menghampiri kasur Sasuke.
"Dimana ini?"
"Rumah sakit. Kau baru terbangun dari koma, Sasuke. Kau pingsan di kamar. Untung saja kami menemukanmu lebih cepat. Kalau tidak, kami sudah kehilanganmu juga," jawab Neji. "Naruto bahkan menangis karena mengira kau sudah pergi. Telingaku sampai sakit mendengarnya." Imbuh Neji.
Wah, sampai begitukah efek yang ia timbulkan? Baik, ini menjadi salah satu hal yang paling ia sesali dalam hidupnya. Ia gagal mengabadikan momen dimana Naruto menangis histeris seperti seorang gadis yang baru ditinggal pacarnya.
Lalu, ia berusaha duduk dan dibantu oleh Neji. "Sudah lamakah aku tertidur?"
"Satu minggu. Selama itu." Jawab Neji. "Maka dari itu kami takut kau takkan bangun dari koma."
Waktu yang cukup lama. Tapi ada yang patut disyukuri olehnya. Karena dia baru saja bermimpi indah. Ia kemudian tersenyum. Dalam mimpinya, ia bertemu dengan Hinata. Dan terakhir kali ia ingat, kekasihnya itu tersenyum lega dan manis sekali. Itu cukup membuat Sasuke senang dan lega sekarang. Kesedihan yang ia rasakan seakan terangkat dan sirna begitu saja.
"Ada apa, Sasuke?" tanya Neji.
Sasuke kemudian memadang Neji dan tersenyum. Neji hanya balas memandangnya bingung. "Tidak, aku hanya habis bermimpi indah, Niisan."
.
Setelah beberapa hari ia terbaring di rumah sakit, Sasuke pun dibolehkan untuk pulang ke rumah. Ketika ia akan pulang ketiga sahabatnya menawarkan Sasuke untuk menemaninya di rumah karena mereka takut terjadi apa-apa padanya. Tapi pria Uchiha itu hanya menggeleng dan menolak niat baik sahabat-sahabatnya itu dan mengatakan bahwa ia sekarang sudah tak apa.
Kemudian dia memasuki kamarnya yang beberapa bulan lalu menjadi saksi betapa kacau dirinya dikhianati sang kekasih, walaupun pada akhirnya itu semua bohong belaka. Sasuke kemudian berjalan pelan ke arah meja belajar dimana dia mengerjakan tugas kuliahnya. Lalu pandangannya tersita pada sebuah foto yang terpajang di sana. Sasuke mengambilnya dan tersenyum. Itu tak lain dan tak bukan adalah foto Sasuke dan Hinata.
"Aku akan hidup untukmu, Hime... Aku akan menepati janjiku," ujar Sasuke sambil menatap lembut foto tersebut dan menyentuh Hinata dalam foto itu dengan jarinya.
Ia yakin bahwa dirinya mampu melewati hidup. Lagipula ia sudah berjanji pada Hinata. Sasuke tidak mau membuat Hinata sedih di alam sana. Dan sekarang Sasuke tidak perlu takut melangkah ke kehidupan tanpa Hinata. Karena ia tahu Hinata tak sepenuhnya meninggalkannya. Hinata selalu ada di sisinya. Di hatinya. Selamanya.
.
…THE END…
.
Author's Note :Huwaaa akhirnya beres juga :) Semoga kalian puas dengan ending-nya. Tadinya mau ku buat Sasuke ikut Hinata ke alam sana. Tapi walaupun aku suka cerita-cerita nyesek, aku nggak suka sad ending. Jadi ya ku buat happy ending dimana Sasuke menerima kepergian Hinata. Terima kasih buat semua reader yang baik hati yang mau menyempatkan diri untuk membaca FF yang masih jauh dari kata sempurna ini. Aku tahu cerita yang begini udah banyaaaak banget bertebaran di FFn, novel, drama, bahkan sinetron. Dan kalian masih baca, serius bikin aku seneng, jadi terharu huhu :')
.
Sekali lagi aku ucapkan doumo arigatou gozaimasu, minna san XD Sampai berjumpa di FF-ku yang lain~ Matta neee ~
Dan terakhir, jangan lupa review nya yaa hehe XD
