"Oi! Jangan dorong-dorong dong, Aominechhi!"

"Berisik kau Kise! Kalau ketahuan maka tamatlah kita!"

"Aomine-kun sendiri jug berisik"

"Bisakah kalian diam nodayo? Lagipula ide siapa pula kita eavesdropping seperti ini hah? nodayo"

"Aka-chin akan kuselamatkan"

"Murasakibara, turunkan aura membunuhmu"

"Aominechhi sudah dibilang jangan dorong-dorong! HUWA!"

"Oi Kise!/Kise-kun!/Kise-chin!"

.

Sway

Disclaimer:

Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi-sensei

no profit gained~

Reader-tachi sabar dulu ya tentang pairingnya. Let's just see what happen to our husbands 'kay?

selamat menikmati!

Peluk cium dari istri AA'Seijuurou

.

.

.

Disinilah Kise Ryouta sekarang. Tersenyum kikuk serta menggaruk tengkuk tanda canggung. Berdiri didepan gadis bersurai pirang dan beriris mata emas—sekilas mirip dengannya. Gadis ini terus terusan menatap Kise nampak tak percaya. Tidak seperti fans nya diluar sana, gadis ini hanya melebarkan matanya sedikit. Kesannya anggun, tenang sekali. 'Sasuga kolega Akashichhi, bahkan bisa mengendalikannya walaupun kelihatan jelas gadis ini fansku'

"Kise Ryouta-kun?", akhirnya gadis itu berucap.

"Ah, iyassu"

"Wah, aku sangat terkejut melihat mu disini. Ah! Benar juga. Seijuurou adalah teman SMP mu kan? Aku fans mu loh"

Tuhkan

"Ah, benarssu. Ngomong-ngomong kau tidak ke aula? errr—"

"Yui, Aisaka Yui. Salam kenal". Gadis itu membungkukkan badannya pelan. Yang langsung dibalas oleh Kise. "Kise Ryoutassu. Tidak usah formal begitu hehe"

"Kalau begitu, baiklah"

"Mau ke aula bareng?". Kise Ryouta kembali menggaruk tengkuk. Rasanya Ia dan Yui harus pergi dari sini sebelum rainbowhead yang berjarak tiga meter itu terlihat. Oh, tolonglah. Lagipula bagaimana caranya mereka tidak terlihat?! Kepala warna warni yang malah terlihat mencolok sekali itu patut dicurigai! Walaupun koridor sedang sepi.

Gadis itu mengangguk singkat dan berjalan mendahului. Kise kemudian memberi isyarat dengan tangan dibelakangnya. 'Ikuti akussu! Aku takut mati!', kira kira seperti itu pesannya.

Kise teringat sesuatu. Bukankah gadis ini menyebut Akashi dengan nama kecilnya?

"Ano, Aisaka-san sepertinya dekat sekali dengan Akashichhi ya? Kau memanggil nama kecilnya, tadi 'kan?"

Gadis itu nampak terkejut. "Ah, sebenarnya aku baru bertemu dengannya hari ini. Seijuurou sendiri yang memintaku memanggilnya begitu. Apa dia menyukai ku ya?". Semburat merah tipis terlihat dari pipi tirusnya. Kise Ryouta hanya menggumam. "Heeeh, mungkin saja"

"Benarkah?"

"Aisaka-sama"

Seorang butler muncul tak jauh dari Kise dan Aisaka. "Permisi, aku ada urusan Kise-kun"

"Ah, iya"

Dan gadis itu berlalu bersama butler itu. Rainbowheadpun mau tak mau menarik diri dari persembunyian. "Fyuh! Untung tidak ketahuan". Pemuda dim menyeka keringat di pelipis.

"Salah siapa, aku bilang jangan dorong-dorongssu!".

"Sudah-sudah. Kise-kun membuahkan hasil apa?". Mimik datar milik pemuda bersurai baby blue masih belum lepas dari tampangnya. Midorima hanya menghela nafas dan Murasakibara hanya memakan snack nya kembali. "Entahlah, aku rasa Akashichhi punya ketertarikan dengannya. Akashichhi tidak pernah menyuruh kita memanggil nama kecilnya kan?"

"Tidak"

"Baiklah, kita asumsikan bahwa Akashi telah menyukainya."

"Apakah gawat?"

"Dasar Ahomine, kalau orang berbicara itu dengarkan!"

Kuroko kembali menghela nafas. Tidak bisakah mereka melewati satu pertemuan tanpa saling mencela dan tanpa ada adegan saling tusuk-menusuk?

"Minna, aku sedang kesal loh". Kuroko Tetsuya memandang dengan datar. Keempat kepala berbeda warna berhenti sejenak dan kembali pada posisi semula. Dalam hati berteriak 'Siapa juga yang kesal dengan wajah datar begitu?!'. Oh, Kuroko Tetsuya tentunya.

"Lalu bagaimana?". Pemuda dim kembali menyuguhkan atensi pada manusia-manusia berpredikat aneh dihadapanya. "Kita serius mau bantu?"

"Yang tadi itu tidak bercanda kanssu?"

"Aku rasa tidak, dia tengah berbicara dengan ibunya kan?"

Flashback

"Oi Tetsu, ke toilet yuk"

"Ih, Aomine-kun jorok"

"O-Oi!"

"Kalian berisik. Mine-chin kalau mau ketoilet, ketoilet sendiri saja sana. Tidak usah ajak-ajak Kuro-chin"

Koridor yang dilalui oleh Generation of Miracles terlihat sepi. Hanya beberapa butler dan maid yang sibuk berlalu lalang sambil sesekali membungkukkan badan. "Eh? Ayo ke toilet bersama! Kapan terakhir kali kita melakukannyassu?"

"Aku tidak tertarik"

"Aku juga~"

"Aomine-kun, jadi ketoilet tidak?". Kuroko Tetsuya berhenti didepan bilik toilet yang kebetulan mereka lewati. "Ah, tadi saja kau menghina. Ayo!". Aomine merangkul Kuroko dan memasuki toilet.

"Eh? Aku ikutssu!"

"Eh? Kuro-chin juga ikut? Aku juga ikut ah~"

"Murasakibara, jangan bawa makanan kedalam toilet!"

"Eh? Mido-chin ikut juga? Tenang, ini sudah habis kok"

Menit demi menit dilalui kelimanya didalam toilet. Absurd memang. Tapi disini mereka bisa bersenang senang sejenak. Ingatan Kuroko kembali pada masa SMP nya. Tak terasa sama sekali mereka sekarang sudah kelas tiga. Walaupun sudah pernah merasakan terpisah pada saat SMA, terpisah pada saat kuliah pasti menjadi tantangan sendiri. Salahnya sendiri terlalu menyayangi atensi kelima pemuda yang sempat mengukir kenangan bersamanya. Rasanya kalau bisa mereka jangan berpisah. Kalau bisa.

Lamunan Kuroko buyar ketika mendengar nama Akashi samar-samar disebut dari toilet sebrang. Toilet wanita.

"Okaa-san, aku rasa Seijuurou menyukaiku. Lihat saja, baru bertemu Ia sudah memintaku untuk memanggil nama kecilnya"

Samar memang, tapi kalau Kuroko tidak salah tangkap. Isi pembicaraannya seperti itu.

"HAHA Kise! Punyamu kecil sekali!"

"Jahat! Aominechhi jahat! Memangnya Aominechhi sudah bangga dengan milikmu yang segitu?!"

"TEME!"

Merasa terganggu dengan acara eavesdroppingnya. Kuroko menoleh dan mengarahkan telunjuk pada mulut. "Ssssst"

"Kau sedang apa, Kuroko?"

"Haha! Benar sayang. Shiori-san juga sudah menduganya. Aku rasa kita tinggal memilih tanggal!"

Suara yang lain terdengar. Dan anehnya, sekarang kelima pemuda di bilik sebrang malah bertumpuk mendengarkan, sambil bersembunyi.

"Okaa-san, bagaimana ya rasanya kalau perusahaan Akashi dan Aisaka bersatu? Kita akan hidup kaya selamanya!"

"Oh, yaampun. Yui sayang kau sudah dewasa. Benar, benar sekali. Kau harus menjadi besan Akashi. Ambil semua kekayaannya!"

Dan mau tak mau, kelima pemuda membelalakkan matanya.

Flashback off

"Mau menolong bagaimana caranya? Sudahlah biarkan saja". Aomine menarik kesana kemari dari yang dirasa terlalu ketat. "Aomine-kun, aku tidak tahu kalau kau itu antagonis"

"Heh?"

"Tapi Aomine benar juga. Kau punya ide, Kuroko?"

"Hmmm". Pose berpikir ala Kuroko Tetsuya dilaksanakan. Jari jari mengapit dagu, kepala ditelangkan. "Bagaimana kalau bilang langsung dengan Akashi-kun?"

"Kita tidak punya bukti"

"Kita punya lima saksissu!"

"Ya, saksi yang berteman. Konyol sekali, Kise"

"Jahatssu!"

"Hmmm". Pemuda ungu yang sedari tadi diam mengeluarkan suara. "Lawan kita seorang gadis, ne? tidak jantan kalau laki-laki yang melakukannya. Bagaimana jika perempuan?"

"Satsuki sedang tidak ada"

"Betul juga~"

"Bagaimana kalau kita pinjam maid?"

"Aku yakin langsung ketahuan oleh Akashi. Mau Akashi yang mana saja"

"Menyewa seorang gadis diluar?"

"Waktu kita tidak banyak, lagipula kalau menyewa kita harus pastikan bahwa gadis itu sopan. Dan juga, nama yang tidak tertera tidak boleh masuk"

"Benar juga"

Percakapan itu kemudian hening. Masing masing kepala berpikir keras bagaimana caranya agar Akashi mendapat pesan dari mereka. Bahwa Aisaka Yui hanyalah seorang materialistic. Dan jangan sampai Akashi jatuh padanya.

"Tetsu"

Tidak dijawab.

"Oi Tetsu!"

"Hn?"

"Kau saja jadi perempuan"

Hening melanda. Beberapa pasang mata agak terkejut dan kemudian mengerahkan atensinya pada pemuda manis bersurai langit musim panas.

"Hm, aku rasa kita akan bilang langsung saja dengan Akashi-kun". Ditolak secara halus, Kuroko Tetsuya melenggang pergi dari tempat berdiri. "Ayolah! Hanya untuk beberapa jam!"

Skip time

Kuroko Tetsuya merutuki diriya didepan cermin. Kenapa Ia degan mudahnya dibujuk? Kenapa dengan mudahnya Ia menyerahkan kelaki-lakiannya? Kenapa dengan anehnya, gadis yang menjadi pantulannya ini cantik sekali?! Rasanya Ia ingin menghancurkan kaca didepannya dengan jidatnya.

Keempat pemuda berbeda surai membalas dengan ekspresi yang berbeda beda. Kise Ryouta merasa bangga dengan hasilnya. Betapa Ia bersyukur sudah dilahirkan, bekerja sebagai model, dan masih hidup sampai sekarang untuk melihat seorang Kuroko Tetsuya yang dalam wujud pria saja sudah manis itu, sekarang bercross dress ria dengan dalih menolong teman yang kesusahan. Betapa malaikan didepannya ini menggodanya!

Little black dress membalut tubuhnya yang mungil. Dibagian belakang seperempat bahu kebawah adalah kain tile tembus pandang dengan motif bunga bunga. Tangannya dibalut sarung berwarna merah marun sampai siku. Wig yang dipakai berwarna baby blue sewarna dengan rambut aslinya, namun dibagian poni sebelah kanan dan beberapa helai rambut dicat berwarna merah, diikat secara sempurna dengan model bun.selendang tipis berwarna hitam tak lupa bersender diantara lipatan tangannya. Kise memilih sepatu dengan model loafer yang tidak terlalu tinggi berwarna merah marun agar Kuroko dengan mudah berjalan. Bisa kalian bayangkan betapa manisnya Kuroko Tetsuya sekarang?

Helaan nafas secara anggun keluar dari mulutnya. "Bisa kita laksanakan misinya sekarang?"

Dan ketiga pemuda—minus Midorima menggangguk mantap dan hormat ala butler kecacingan, ini menurut Kuroko Tetsuya.

'Bagaimana bisa aku mendekatinya seperti ini?'

To Be Continued

Hahaha, reader-tachi, dengan ini saya doakan reader-tachi yang berpikiran tentang iya iya dengan Sei-kun dan Yui terjawab ya. Saya ingin jawab satu satu reviewnya, tapi mepet waktu kuliah. Jadi dichapter depan saja ya!

Saya gagal lagi, pengennya berakhir dichap ini. Eh malah ngutang lagi. Gomenne huhu

Segitu dulu deh, ditunggu review nya ya! Luph you all! Ciao!

Akari Hanaa