Atensi Akashi Seijuurou terus berputar pada kelima kawannya yang seharusnya sudah siap sedari tadi. Acara akan segera dimulai dan kalau mereka tak muncul, maka usaha Akashi membawa mereka terbilang sia-sia. Dan seumur hidupnya, dirinya tak pernah mendengar usahanya sia-sia.
"Satoshi-san"
Pemuda tegap dengan jas hitam yang nampak gagah itu ternyata asisten pribadi milik keluarga Akashi. Segera saja Satoshi beranjak dari depan pintu masuk menuju tuan mudanya, "Ya, ada apa Seijuurou-sama?"
"Kau melihat teman-temanku diruang ganti tidak? Seharusnya—"
.
Sway
Disclaimer:
Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi-sensei
no profit gained~
Reader-tachi sabar dulu ya tentang pairingnya. Let's just see what happen to our husbands 'kay?
selamat menikmati!
Peluk cium dari istri AA'Seijuurou
.
.
.
Krieett
Pintu putih besar dengan ukiran sewarna emas terbuka perlahan.
Akashi mengurungkan niat melanjutkan kalimat. Lebih tertarik dengan siapa yang akan datang. Beberapa detik kemudian, dirinya melihat empat pemuda tegap dengan setelan resmi berbagai warna. Mereka berjejer berempat dengan sedikit space ditengahnya.
Akashi berada ditengah ruangan, tidak begitu melihat jelas. Namun entah kenapa seisi ruangan hening seakan menyambut tamu lain yang datang.
"Oi, Tetsu jangan dibelakangku."
Ah, Akashi sadar. Ada yang kurang dari barisan itu. Tentu saja, dimana Kuroko Tetsuya?
Drap drap drap
Tak lama terdengar hentakan sepatu heels yang terasa asing diantara mereka.
"Seijuurou?". Ah, Yui sudah kembali dari toilet rupanya.
Akashi tersenyum manis. "Kau lama sekali."
"Maaf."
"Woah"
Seisi ruangan seakan terhipnotis oleh sesuatu. Akashi kembali melirik, cukup penasaran dengan suasana aula yang tiba-tiba meriah dengan pujian. Fokus Akashi seketika buyar melihat seorang gadis yang lebih pendek diantara keempat pemuda itu menjajakkan kaki sejajar dengan mereka. Siapa? Ucapnya dalam hati.
Tapi surai baby blue itu terasa sangat tidak asing, walaupun ada bagian yang dicat merah. Kalau boleh dikatakan, malah terlalu mengenal surai baby blue itu. Akashi masih mengerjap beberapa kali, sadar atau tidak sadar. Ia tahu, Kuroko Tetsuya adalah gadis yang sejak tadi mencuri pandangan seisi aula.
Kuroko? Tunggu!—
"Otanjoubi omedetou Sei-kun," dan jujur, entah sejak kapan pemuda yang bertransformasi menjadi seorang gadis belia yang cantik seperti Barbie ini dihadapannya.
Chuu
Dan lagi-lagi Akashi dibuat tercengang. Kuroko Tetsuya baru saja mencium pipinya!
Yui terkejut luar biasa. Aomine bersiul senang. Rencana pertama, berhasil! Terkutuklah Kise dan ide brilliantnya yang menyuruh Tetsu memanggil Akashi dengan mesra seperti 'Sei-kun' dan mencium pipinya ditengah orang banyak!
Kuroko Tetsuya mencibir dalam hati. Apa yang sedang kulakukan?!
Diliriknya Kise dan Aomine yang menyeringai senang. Rencana membuat seluruh atensi tertuju pada dirinya tengah dilayangkan dan berbuah manis. Kuroko risih, tentu saja. Terbiasa diabaikan membuatnya risih menjadi pusat perhatian. Tapi yang lebih parah, kenapa dirinya harus sampai mencium pipi si pemuda tampan?!
Akashi mengerjap pelan menerima informasi yang tiba tiba menyerbak didalam otaknya. Dengan sedikit gemetar, Akashi menangkup pundak Kuroko dihadapannya, "Apa… yang terjadi padamu?"
Kuroko kehabisan kata-kata, Ayolah berfikir! Ah, bukankah kedua orang tuanya sering bersikap seperti ini? Dan Kuroko memutuskan untuk bersikap layaknya Tetsuna saat itu.
Matanya berkedip pelan, wajah dimiringkan. Topeng datar hilang sudah, sengaja menaikkan alis tanda bertanya. "Apa maksud… Sei-kun?". Dan Akashi merutuki dirinya karna hampir terbawa suasana dan menahan diri untuk tidak memeluk Kuroko Tetsuya dengan wajah moe dihadapannya.
Merasa tak akan mendapatkan jawaban yang bagus. Matanya mencoba beranjak dari Kuroko Tetsuya, walau enggan. Dicarinya keempat pemuda yang seharusnya bertanggung jawab atas Kuroko Tetsuya. Dan dirinya tak mendapatkan apapun kecuali Yui disampingnya masih dengan wajah terkejut luar biasa.
"Yui—ini tidak seperti yang kau fikirkan."
Iris gold Yui menajam, menghujam Kuroko Tetsuya yang balas menatapnya dengan datar. "Siapa kau?"
"Kuroko Tetsu—na", sempat berakhir menyebutkan nama sendiri. Untungnya belum sempat keceplosan.
"Seijuurou, dia siapa?". Terdengar nada tak suka berlebihan. Dan Akashi bingung, haruskah Ia bersikap biasa saja? Tapi tolonglah, kejadian ini sangat mencengangkan. Bahkan suasana aula belum sepenuhnya pulih seperti semula. Masih sangat banyak tamu yang menghadiahi Kuroko Tetsuna ini dengan pujian.
Akashi tak tahu harus menjawab apa, dan Kuroko semakin tak tahu menjawab apa. Tapi dirinya ini adalah lelaki bertanggung jawab. Dirinya yang memulai, maka dirinya jugalah yang harus mengakhiri. "Aku sahabat Sei-kun sejak SMP, dan kau?"
Skenario terbaik milik Kuroko Tetsuya hari ini tak lain adalah itu. Ia tak kuat menyebutkan diri sebagai kekasih Akashi yang malah nantinya hanya akan memperpanjang masalah.
Akashi terlihat diam tak keberatan. Tapi apapun itu, dia menuntut penjelasan.
"Ya, sahabatku, Yui. Jangan salah paham."
Sebersit kesal terdengar dari suaranya.
"Selamat datang dan selamat sore untuk tamu undangan sekalian"
Suara seorang lelaki terdengar dari dekat mimbar yang tak terlalu tinggi. "Saya ucapkan selamat ulang tahun pada Akashi Seijuurou-sama. Semoga apapun yang kau inginkan tercapai dan selalu menjadi kebanggaan orang tua."
"Selamat ulang tahun."
Terdengar sorak lembut dari seluruh penjuru ruangan. Akashi Seijuurou hanya mengangguk.
"Acara akan segera dimulai dengan pemotongan kue, Akashi Seijuurou-sama dipersilakan menaiki mimbar"
Tak lama, kue bertumpuk enam berwarna putih dengan hiasan berwarna emas yang elegan dibawa oleh salah seorang maid ketengah mimbar.
"Yui, maukah kau menemaniku memotong kue?"
Oh. Kuroko berjengit mendengarnya. Entah kenapa rasanya kesal dan menusuk dada. Apakah karna diabaikan? Tunggu, Kuroko Tetsuya tak pernah mengeluh saat diabaikan.
Akashi kembali mengarah Kuroko, "Kuroko, tunggu disini." Ucapnya kemudian.
Kuroko tak membalas. Hanya tetap memandang datar kearah mimbar. Tapi hatinya berkecamuk tak tenang. 'Siapa dia menyuruhnya menunggu disini? Tak sudi!' Begitulah jika Kuroko boleh berucap.
Akashi menggandeng tangan Yui dan menuntunnya menuju mimbar. Beberapa kolega bersorak senang.
Kisedai merasa perlu melakukan sesuatu saat ini. Dengan insting yang entah kenapa terhubung satu sama lain, mereka secara refleks mendekat pada Kuroko ditengah ruangan. Sama sekali tak beranjak.
"Kita harus melakukan sesuatu." Ucap Midorima sembari menaikkan frame kacamata yang merosot.
"Aku setuju,"
"Aku punya rencana." Kuroko Tetsuya berbalik dan berjalan lambat, sebelum kembali berhenti dan menengok kebelakang. "Biarkan saja dia."
Dan tanpa diberitahupun mereka tahu: Kuroko tengah menenangkan hati yang emosi. Jangan salahkan jika makhluk penghuni zone beneath the zone itu marah sepenuh hati. Siapapun juga akan menaruh belati jika diperlakukan seperti tadi, kan?
—
Kuroko kembali menyendok vanilla cake yang diambilnya. Sekarang Ia tengah duduk dimeja terujung didalam ruangan. Sama sekali tak tertarik dengan acara barusan.
Ngomong-ngomong, sudah lima belas menit dan acara potong kue milik Akashi-kun tak kunjung selesai. Dari peniupan lilin, pemotongan kue yang dilakukannya dengan Yui, lalu memunggu maid memotongnya menjadi bagian yang lebih kecil lagi, lalu suap-suapan, dan apalah itu setelahnya.
Muak juga menunggu. Untung saja vanilla cake enak ini mampu mengusir emosinya sejenak sebelum kembali bertatap dengan ruby tampan itu.
"Tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangan"
Terdengar MC yang menyudahi acara tak penting menurut Kuroko, dirinya kembali menyuap vanilla cake yang tinggal setengah. "Sudah kubilang tunggu disana, kan?"
Alis Kuroko bertaut. Dan akhirnya mendongak melihat Akashi mengambil duduk tepat disebrangnya.
"Sekarang jelaskan padaku". Punggung disandarkan dan tangan disilang. Aura intimidasinya saat ini sama sekali tak membuat Kuroko seujung kuku pun takut. "Akashi-kun, aku tidak suka kau mendekati Yui-san seperti itu"
Singkat, padat, jelas dan tak bertele-tele. Kuroko Tetsuya memang sedang tidak berencana menahan apapun.
"Kau… menyukainya?"
Kuroko merotasi bola matanya. "Tak bisakah Akashi-kun melihatnya? Dan aku tak menyukainya."
"Benar juga, kalau kau menyukainya setidaknya kau tidak berdandan menjadi perempuan."
"Terserah. Intinya aku tak suka"
Akashi heran. Perubahan sikap Kuroko membuatnya bingung. Tidakkah Kuroko sekarang bertindak layaknya gadis yang cemburu?
"Kuroko, kau… cemburu?" Akashi melanjutkan kalimat dengan ragu. Kuroko terlihat berhenti mengunyah. "Apa maksudnya?"
"Telan dulu makananmu"
Kuroko juga heran. Disini Ia berperan hanya sebagai pesan pengantar. Katakan saja apa maunya dan Ia bisa terbebas dari dress yang membalutnya ini!
Tapi logika nya tak berjalan sesuai keinginannya. Kuroko berdiri dengan kesal, meninggalkan Akashi yang masih terdiam ketika dilewatinya. Dirinya berniat berbicara dengan Yui-san. Rasanya berbicara dengan gadis itu terlihat lebih gampang dari pada harus berbicara dengan Akashi-kun sekarang. Jantungnya berdetak tak suka.
Perjalanannya menuju ujung ruangan yang lainnya diinterupsi oleh padamnya lampu dan tangan Akashi yang menarik lengannya. "Kuroko,"
"Lampunya kenapa, Akashi-kun?"
Lampu kembali menyala. Namun anehnya, hanya beberapa radius dari dirinya dan Akashi. Tamu yang lainpun terlihat undur diri dari lampu yang membuat lingkaran dengan diameter sekitar sepuluh meter itu. Kuroko melihat panik. Sedangkan Akashi tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Baiklah! Mari kita lanjutkan acara selanjutnya! Mari berdansa!"
Tubuh Kuroko menegang sebentar. Apalagi ini?
Akashi segera memutar pelan tubuh Kuroko yang terlihat lebih tegang dari biasanya.
"Kuroko, kau bisa berdansa?"
To Be Continued
Akhirnya sudah saya putuskan chapter depan merupakan chapter terakhir! Fyuh~ mengetahui itu rasanya sedikit lega juga, hutang dengan reader-tachi akan berkurang hehe. Terus ikuti ff ini sampai chapter depan ya! Bye bye!
Akari Hanaa
