.
Sway
Disclaimer:
Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi-sensei
no profit gained~
YASH! Ini adalah chapter terakhir dari Sway!
Ngomong2-ngomong file dari flashdisk saya sudah kembali semua. Terimakasih untuk May Angelf-san, dan Cherry-chan desu-san untuk sarannya, lalu untuk Naruhina Sri Alwas-san dan Akashi Yukina-san untuk doanya:")
Lalu untuk semua pe-review, pe-favorite, pem-follow, dan readers-tachi yang dengan senang hati mengikuti fanfiction sederhana ini! Terima kasih banyak!
selamat menikmati!
Peluk cium dari istri AA'Seijuurou
.
.
.
"Akashi-kun, bercanda…kan?". Irisnya membola. Siapa sangka sang pengantar pesan malah terlibat hal yang begitu memalukan?
Demi basket yang dicintainya. Ia tak pernah belajar berdansa.
"Tenang, aku akan mengajarimu."
Kuroko mengerjap pelan. Tangan disilangkan, poni ditiup. "Tidak mau, cari yang lain saja."
"Kau tidak mungkin mencampakkanku ditengah atensi orang-orang seperti ini 'kan?"
Kuroko memandang sekeliling. Tamu memang saat ini tengah terpaku pada dirinya dan Akashi. Seketika Kuroko merasa misdirectionnya tak bernilai tinggi.
Ia kembali tercengang ketika Akashi mempertemukan lutut kanan miliknya dengan lantai. Bersimpuh sambil mengangkat tangan kanan. Meminta persetujuan.
Mati dia. Mana bisa menolak kalau sudah seperti ini.
Hati ingin menolak. Kesadaran masih memuncak, tapi gerak tubuhnya hengkang dari koordinasi. Tangan kirinya menerima ajakan Akashi.
"Sei-kun, aku beritahu kau. Aku tidak pernah berdansa seumur hidupku."
Akashi sempat mengerjap. Tak menyangka panggilan imut itu bisa merebut topeng datar seketika.
Tersenyum layaknya Pangeran menemukan sang Putri, Akashi mengalungkan lengan erat pada pinggang Kuroko. Meski tahu, tindakan tiba-tiba Akashi adalah hal yang paling tak dirinya duga.
"Tenang, ini hanya dansa ringan. Kau hanya perlu mengikuti arahanku, Tetsuya."
Sadar atau tidak. Akashi berbisik seduktif. Belum lagi kembalinya panggilan nama kecil miliknya membuat wajahnya merona merah. "Peluk aku, Kuroko"
"Maaf?"
"Tanganmu, Letakkan disamping bahuku."
Kuroko bingung, namun tetap menjalankan titah. Tangan kanannya sudah diangkat dan digenggam erat. Siap menerima musik.
"Mulailah." Akashi memberi persetujuan pada orchestra yang masih siap sedia menunggu perintah.
"Tunggu dulu," Well, siapa yang menyangka Akashi Masaomi menginterupsi?
"Siapa yang terhibur dengan dansa sederhana diacara seperti ini? Kita harus melakukan dansa yang lain." Baik Kuroko maupun Akashi melirik sang Ayah bernama Masaomi. Dan Masaomi hanya mengendikkan bahu tak perduli.
"Bagaimana jika salsa, anata?"
"Ide bagus sayang."
Sumpah.
Ibunya tak membantu sama sekali. "Oke, aku ingin Sway versi The Pussycat Dolls, apakah terdengar bagus sayang? Atau kau mau yang versi Michael Buble?" Masaomi kembali melirik sang istri yang tersenyum senang.
"Versi mana saja aku suka, anata"
"Tunggu, Otou-sama, Okaa-sama."
"Hn?" Delikan dari keduanya membuat Seijuurou bungkam. Se-absolut apapun dirinya. Ia tak mungkin membantah dihadapan kolega dan rekan kerja Ayahnya. Itu tak sopan, sekaligus tak etis.
Tetsuya membeku ditempat. Berdansa saja tak pernah, apalagi salsa?
"Sei-kun, bisa kau lihat nyawaku melayang?"
Selagi tim orchestra membalik-balik partitur mencari lagu yang tepat, Tetsuya sempat berbisik. Tak ayal, Seijuurou bisa melihat nyawa imajiner milik Tetsuya. "Tenang Kuroko, ada aku."
"Justru ini semua terjadi karna Akashi-kun"
"Sungguh, kau menyalahkanku?"
Tetsuya hanya mendelik cepat. Adakah dari beribu buku yang Ia baca, pernah tersandung satu dua paragraf tentang salsa? Rasa-rasanya tak ada. Ia berani sumpah.
Orchestra mulai memberi ancang-ancang. "Kuroko, dengarkan aku. Yang perlu kau lakukan adalah goyangkan pinggulmu. Sisanya aku yang urus."
Sumpah dirinya ingin meneriaki Seijuurou dengan, 'Bagaimana bisa aku melakukannya?! Aku laki-laki!'
Tapi kalimat itu Ia telan bulat-bulat dan hanya menuruti perintah.
Melodi mengalun, dimulai dari sang penyanyi wanita yang seperti mendesah. Kuroko mulai bingung.
"When Marimba rhythms start to play
Dance with me, make me sway"
Seijuurou mulai bergerak. Tetsuya ikut bergerak, awalnya hanya kekanan dan kekiri. Dan dalam waktu sepersekian detik, otak Tetsuya kembali merebak. Mencari-cari adakah serpihan salsa tertinggal dalam otaknya. Ia tak ingin menanggung malu. Mau tak mau, ada atau tidak, dirinya harus berbuat sesuatu!
Iris biru lautan melebar seketika. Seijuurou memperhatikan seksama.
Tentu saja ada salsa dalam otaknya! Bagaimana dirinya bisa lupa?!
Bukankah dua bulan ini dirinya terus menerus direcoki salsa karna Ibunya selalu menonton acara tarian salsa yang melibatkan kalangan artis dan penari professional itu dari jam delapan malam hingga jam sepuluh malam?!
Senyum Tetsuya terkembang, Seijuurou lantas ikut tersenyum.
Alunan melodi bertambah keras. Seakan menuntun keduanya untuk melakukan tarian yang lebih hebat dari sebelumnya.
"Sway me,make me, feel me, hold me, bend me, please me
You have a way with me!"
Tanpa bicara, hanya ada dua mata saling menerima telepati tak terduga. Seijuurou memeluk pinggang Tetsuya erat. Dan Tetsuya mengerti, hal selanjutnya adalah melengkungkan tubuh kebelakang hingga poninya sempat tersibak keatas. Tetsuya, masih dalam pelukan Seijuurou dibawanya berputar Sembilan puluh derajat.
Dan mereka berpelukan lagi.
Tangan keduanya bertaut. Seijuurou membawa tangannya melingkari Tetsuya, Tetsuya mengerti dan memutar dirinya sendiri dan membiarkan beban tubuhnya ditahan Seijuurou.
Melodi selanjutnya membuat Tetsuya mundur beberapa langkah, Seijuurou mengikuti maju. Dipenghujung batasan lampu, pinggang ramping kembali diraih. Diputarnya hingga kening bertemu kening. Untuk beberapa saat seperti itu sambil memberikan gerakan ke kanan dan kekiri.
Tetsuya melepaskan diri dari kungkungan. Tangannya disejajarkan dengan dada bidang milik Seijuurou, sembari dirinya memutari Seijuurou, seakan menggodanya.
Niat atau tidak. Tetsuya melingkarkan lengannya dari belakang, sesekali nafasnya menggelitik telinga Seijuurou,
Melodi terakhir pun Tetsuya mengerti harus apa. Namun, pijakannya berkata lain. Akibat heels yang dipakainya. Dirinya oleng dan hampir terjatuh.
Seijuurou menangkapnya, Ia berada disebelah kanannya. Tubuh nya lurus sempurna, lengan Seijuurou erat memeluknya.
Pose ini… seperti yang dilakukan oleh professional.
Tetsuya mengerjap masih belum tersadar.
Melodi berhenti, "Bangun, Tetsuya."
Tangannya diputar hingga tubuhnya ikut terputar secara anggun. Sudah berdiri, namun lengan Seijuurou masih erat memeluk pinggangnya dari belakang. Mereka berdiri bersisian.
Tamu undangan ricuh dan kagum sekalian. Tak menyangka sang Pangeran dan Putri bisa menjalani tes yang iseng dihamparkan Ayahanda. Saatnya memberi salam.
Tangan Tetsuya memeluk punggung Seijuurou dari belakang. Kaki kiri sengaja lurus kebelakang tak diberi tumpuan, kaki kanan menekuk dan dirinya menunduk memberi salam. Hal yang sama dilakukan Seijuurou, namun jauh terlihat lebih maskulin ketimbang dirinya.
Terkutuklah acara televisi yang selalu tayang, Tetsuya ucapkan terima kasih sekalian.
Melodi yang lebih lembut kini mengalun. Beberapa pasangan termasuk Masaomi-sama dan Shiori-sama masuk kedalam properti lampu. Tetsuya undur diri secara lutut tak mampu lagi bertumpu.
Kisedai yang entah itu wajah kagum atau heran. Sukses bertepuk tangan menyambut Tetsuya dan Seijuurou yang masih memapah entah kenapa.
"Kurokochhi lain kali dansa denganku! Aku tak tahu kalau Kurokochhi sehebat itussu!"
Iris berbeda warna lainnya masih memandang kagum. Tapi peluh yang membanjiri wajah manisnya itu tak bisa disebut maklum.
"Oi, kau kenapa Tetsu?"
"Lututku lemas."
Tetsuya tak mengerti. Jantungnya seharusnya berdetak tak normal sedari tadi. Tapi, kenapa baru sekarang Ia merasa lapar seperti tenaga dikuras habis?
"Kau ini, sepertinya aku harus bilang pada pelatihmu agar menaikkan daya tahanmu."
"Aku tak kuat Sei-kun dekap terus."
"Memang salsa seharusnya seperti apa? Jauh jauhan?"
"Sudahlah, aku tak kuat biacara."
Tetsuya beringsut disofa, dirinya benar benar gemetar. Seijuurou mendekatkan gelas pada mulutnya. Disuapi layaknya orang sakit saja. Tapi Tetsuya tetap menenggak air putihnya. Bisa dirasakan tenaganya kembali pulih. Akashi Masaomi dan dari Shiori mendekati. Sontak Tetsuya berdiri lagi.
"Selamat malam, Masaomi-san, Shiori-san" Tetsuya membungkuk hormat. Baik Masaomi dan Shiori tersenyum suka. "Ara, tak usah sekaku itu pada kami. Siapa namamu, gadis cantik? Bisakah aku berharap kau adalah pacar dari anakku yang jomblo menahun ini? Jujur saja, aku ingin segera punya mantu imut seperti dirimu"
Senyum manis dilayangkan Tetsuya. "Saya Kuroko Tetsuna. Tidak, saya bukan kekasih Sei-kun, saya sahabatnya sejak SMP"
Shiori mengaitkan lengan pada suaminya. "Ara, Seijuurou tak pernah bicara tentang seorang sahabat dari surgawi"
Kuroko terkekeh pelan, "Senang rasanya mendapat pujian dari Shiori-san"
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Yui, Seijuurou?"
Seijuurou mendelik tak suka. "Ini tak ada hubungannya dengan Yui. Kuroko hanyalah sahabatku."
Tetsuya tersenyum pahit.
"Mou, kau memang tak pernah bisa diandalkan masalah perasaan. Tetsuna-chan, ikut denganku yuk. Akan kukenalkan keluarga Akashi padamu"
"E-Eh?"
"Ngomong-ngomong, kalian pasti Kiseki no Sedai 'kan?"
Sadar atau tidak. Kuroko Tetsuya telah diculik hilang oleh sang Ibunda.
"Aku pernah dengar tentang pemain bayangan keenam. Hal itu tidak benar ya?"
Keempat pemuda pemilik surai berwarna beda hanya bisa menggeleng. Antara membenarkan Masaomi atau mencoba mengelak situasi. 'Orangnya yang barusan hilang dengan istrimu!' Ingin berteriak namun dihalangi delikan milik Akashi.
—
Acara diresmikan berakhir satu jam kemudian. Ditandai dengan tepuk tangan dan jabatan tangan dari masing masing kolega. Seijuurou mendapati Tetsuya kembali beringsut diantara kursi yang dikelilingi pemuda peraih atensi. Segera saja undur diri maksud hati mendatangi.
Tapi Yui bergerak lebih cepat. "Seijuurou—" Kalimatnya tertahan ambigu. Seijuurou hanya mampu diam dan menunggu. "A-Aku menyukaimu."
Demi pentas yang baru saja Ia jalani karna keinginan sang tetua Akashi, Seijuurou bersumpah ingin menendang Yui keluar dari jarak pandang radius beberapa mili. "Aisaka-san"
Yui mengerjap tak percaya. "Aku tak menyukaimu, maaf", sambungnya.
Dirinya merasa akan ada distorsi dari sang Ayahanda karna membuat anak satu satunya rekan kerja dekatnya menangis tersedu keluar aula. Pun juga tak perduli dengan yang terjadi selanjutnya. Ia hanya berjalan tegap menuju kelima pemuda—yang satunya bertransformasi menjadi cantik jelita.
"Aku harap kalian punya alasan bagus untuk yang terjadi hari ini."
Entah darimana dan sejak kapan ruby kembar itu untuk sekilas kembali hetero. Member Kiseki mungkin hanya bisa menunggu eksekusi. Kalau sang baby blue tak kunjung menyelamati.
—
Dua ayunan taman berdecit menahan beban yang lebih berat. Dua pemuda di dua ayunan tak saling menatap. Hanya melihat langit yang semakin gelap. Perjanjian dengan Kiseki batal. Kuroko Tetsuya merasa bertanggung jawab. Pun Kiseki tetap berikeras. Takut jika malaikat biru milik mereka dibawa ke neraka paling bawah dan tak terselamatkan.
Tapi, lagipula siapa sih yang sedang mereka bicarakan? Ini Kuroko Tetsuya. Satu satunya yang dapat menentang dan masih hidup baik keluar jalan.
"Akashi-kun, maaf ya. Saat itu aku dan yang lainnya hanya ingin memberi tahu."
Kedua tangan milik sang surai merah hilang dibalik saku celana. Kakinya lurus kemudian bertumpu di salah satunya. Sikap maskulin yang sulit dihilangkan. Kuroko beringsut akibat tak kuat menahan godaan.
"Tak apa, aku tak menyangka kalian sebaik itu."
Kuroko mengerjap pelan. Kali ini sukses membawa iris langitnya dipenuhi oleh siluet sang Pangeran tak berkuda.
"Tapi, kami bertiga memang sudah tahu. Dan Aku menjadi tumbal nyata demi membongkar semua rahasianya."
Yappari.
Kuroko harusnya tahu sifat Akashi. Yang satu itu mana mungkin terlewat. "Jadi Akashi-kun sudah tahu yang sebenarnya? Aku merasa tertohok didada"
Akashi hanya tertawa pelan. Hari yang semakin senja membuat anak-anak yang tersisa menjadi lebih sedikit karna dijemput orang tua.
"Tak ada usaha yang sia-sia, Kuroko. Dengan begitu, aku jadi tahu kalau kalian semua sayang padaku."
Kuroko menghela nafas pelan. "Sepertinya aku harus bicara pada kedua orang tua Akashi-kun."
"Memangnya kenapa?"
"Tentang aku yang sebagai Kuroko Tetsuna. Rasanya aku tak bisa tenang sampai mengatakannya."
Akashi terdiam sebentar sebelum tergelak tertawa. Kuroko yang berdiri hanya memandang aneh sang surai crimson yang tak biasanya bersuara 'hahaha'.
"Kenapa, Akashi-kun?"
"Kuroko, astaga tunggu sebentar perutku sakit."
Dan Kuroko kembali terdiam.
"Mereka sebenarnya tahu siapa dirimu. Hanya saja, karna dirimu benar-benar cantik dan lucu. Rasanya bagi mereka tak ada salahnya jika berpura-pura tak tahu."
Kuroko Tetsuya sukses menganga. Sungguh tak menyangka jika dirinya hanya menjadi bahan tertawaan iseng milik keluarga konglomerat.
Kalau jatuh, rasanya Tetsuya jatuh dari langit ketujuh. Sakit sekali, bung.
Fin
OH EM GEH
Okay, saya tahu ini nanggung. Tapi memang disinilah ceritanya berakhir. FUFUFU SEMOGA SUKA YHA~~
Saya juga ngerti kalau dibagian dansa nya rada maksa dan kurang greget. Tapi apa daya, saya sama aja sama Kuroko, gapernah salsa dan cuman nontonin orang dansa doang/pundung/ oleh karna itu saya minta maaf sebesar besarnya kalau bagian dansa nya jadi jelek:")
Dan saya berterima kasih sebanyak banyak pada pemfollowers, pemfavorites, pemreviewers, dan pemreaders/apasih/ yang telah mengikuti fanfiksion aneh ini tanpa henti sampai akhirnya dipenghujung chapter ini.
FYUH~saya lega! Akhirnya satu fanfik selesai dengan nista. Yosh! Selamat bertemu lagi di fanfik-fanfik lainnya!
Akari Hanaa
