Akhirnya bisa masuk ke chapter 4. Huhuhuhu maaf baru apdet, tiba2 ide dan mood ilang gitu aja X'(. Tapi Ayaa-chan apdetnya ga terlalu lama kan?kan kan kan?. Udah lah mending bales riviews aja, cekidott..
cutemuslimah and alf : semangat sekali ya kakak XD, makasih sudah menyemangati Ayaa, dan aku usahain apdet kilat
IrenaChan 1012 : Ayaa tidak sadar kalau ada kesalahan, makasih sudah memberitahu. Dan makasih lagi kritik, saran, dan pujiannya
Guest : Ini sudah lanjut
Vanila Blue12 : Ayaa aja yg ngetik gregetan sendiri XD, sip ini udah lanjut.
siti wulandari : hmmm mungkin Fang lebih memilih Yaya, tapi ada bagian Fang dan Ying kok XD
.
chapter 4
.
Author pov
"Kak Taufan, bangun!.", teriak Gempa dari lantai 1
"...", tidak ada jawaban
Kamar Taufan letaknya di lantai 2 sama seperti Hali dan Gempa.
'BRAAAK.', Gempa membuka pintu kamar Taufan secara kasar.
"Kak Taufan, Bangun...", ucap Gempa sambil menggoyang-goyangkan badan Taufan.
"5 menit, 5 menit.", tawar Taufan yang masih tidur.
"Cepat, atau kau ku adukan ke Ying."
Dengan secepat kilat Taufan sudah sampai di lantai 1. Gempa menyusul Taufan ke lantai 1.
"Kak Taufan bangunkan kak Hali."
"Ahh~ kak Hali kebo."
"Kak Taufan jangan manja begini dong, bibi Minah sedang pulang kampung. Setidaknya kak Taufan agak mandiri.", ceramah Gempa panjang lebar.
"Ughh, iya iya.", Taufan segera bergegas ke kamar Hali.
"Uuwww~ tidurnya nyenyak sekali ya.", bisik Taufan sambil membawa pasta gigi.
Kebetulan Hali mulutnya sedang terbuka, Taufan memasukkan pasta gigi ke mulut Hali.
" Hana, dul, set ( satu, dua, tiga ).", gumam Taufan.
Hali langsung keluar dari kamarnya lalu menuju kamar mandi untuk berkumur-kumur.
" BWAAHAHAHAHHHAHA, ASTAGA KAK HALI, ADUHDUH KEBELET KENCING, HAMPIR KELUAR NIH. HAHAHAHAHA.", tawa Taufan sambil menjerit-jerit.
Hali keluar dari kamar mandi dengan wajah seperti ingin membunuh.
"Kauu..", gumam Hali kesal.
" GYYYAAAAA AMPUN." teriak Taufan kesakitan.
" Tiada ampun bagimu.", ucap Hali dingin sambil memelintir tangan Taufan.
"Kak Hali sudah, ini..ini ada apa?.", ujar Gempa.
"Tanyakan saja kepada bocah berotak miring ini.", Hali membanting Taufan lalu menuju kamar mandi untuk mandi.
"Apa yang kau lakukan?.", tanya Gempa sambil berkacak pinggang.
"BWAHHAHAHA, TADI AKU MASUKIN PASTA GIGI KE MULUT KAK HALI. KAK HALI LANGSUNG GELAGAPAN. GYAAKHAHAHA.", teriak Taufan sambil tertawa keras.
"Ga usah teriak aku masih disini.", ucap Gempa sinis.
"GYAAKHAHAHAHA...-OHOK OHOK. AIR MANA A...-OHOK OHOK.", Taufan tersedak lalu berlari menuju ke dapur untuk minum.
"Sabar Gempa, kau harus bisa sabar menghadapi kedua kakakmu.", gumam Gempa sambil memijit pelipisnya.
.
#skip time
.
"Pagi, Hali.", sapa Yaya dengan senyuman hangatnya.
'BLUUSSHH', wajah Hali, Taufan, dan Gempa seketika memerah.
"Kalian tidak apa-apakan?.", tanya Yaya khawatir.
"Ti...-tidak apa.", jawab Gempa dengan wajah yang masih memerah.
Sementara Hali mematung ditempat karena melihat senyuman hangat dari Yaya.
"Aku Taufan, namamu siapa?.", dengan sigap Taufan memegang tangan Yaya dan mencium tangan Yaya
'Blusshh', wajah Yaya seketika memerah.
"Ying melihat, kena masalah kau.", ucap Hali sinis.
"Bilang saja kak Hali iri."
'BLEETAAKK', tiba-tiba Ying datang dan menjitak Taufan sangat kencang.
"Kan sudahku bilang.", ucap Hali dingin.
"Huweeee, sakit Ying."
"Siapa suruh menggoda cewe lain."
"Sudah-sudah. Aku Yaya, panggil saja aku Aya.", ucap Yaya sambil melerai.
"Sepertinya aku tidak asing denganmu."
"Mungkin kebetulan saja."
"Taufan...", ucap Ying dengan aura pembunuhnya.
"Ayolah~ aku hanya mencium tangan Aya-chan saja. Kau kan sering aku cium, dibibir lagi.", ucap Taufan merajuk
"APAAA?.", teriak Yaya dan Gempa, sedangkan Hali memasang muka 'you don't say'.
"Eee..-err, ayo Taufan kita pergi.", Ying menarik kerah seragam Taufan dengan wajah merah padam.
"Tunggu aku.", Gempa mengikuti Taufan dan Ying dari belakang.
Sekarang hanya ada Hali dan Yaya saja di koridor sekolah.
"Ee..-um Hali, mau ke kelas bareng tidak?.", tanya Yaya gugup
"Hn."
Mereka berdua pergi ke kelas XI-B bersama. Keheningan pun terjadi diantara mereka. Secara tidak sadar, tali sepatu Yaya belum terikat, Hali tidak sengaja menginjak tali sepatu Yaya dan...
'bruukk'
Mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan posisi yang tidak elit, Yaya dibawah dan Hali diatas. Hali menggunakan tangannya agar tidak meniban Yaya.
'bluuusshh', wajah Yaya merah padam.
"Astagaa, detak jantungku tidak karuan. Rasanya wajahku memanas, kenapa Hali harus setampan ini.", batin Yaya kesal.
"Uughh, sial. Kenapa Aya sangat cantik, jika dilihat secara dekat.", batin Hali kesal.
Hali buru-buru berdiri dan membantu Yaya berdiri.
"Ma..-ma..af, aku menginjak tali sepatumu.", ucap Hali sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Justru aku yang minta maaf, aku ceroboh. Tidak mengikat tali sepatuku dengan benar.", ujar Yaya menunduk.
Kejadian Yaya dan Hali dilihat oleh Fang dikejauhan.
"Ohh.. jadi mau langsung bermain dengan Yaya?.", gumam Fang kesal
"Kau ke kelas duluan saja, Hali. Aku ke toilet dulu."
"Ya sudah.", ucap Hali dingin.
Setelah Hali sudah pergi, Fang mendatangi Yaya lalu membawa Yaya pergi.
"A..-apaan sih Fang?, lepas."
"Ikut aku dulu."
Fang membawa paksa Yaya ke atap sekolah. Fang memojokkan Yaya ke tembok dan menahan Yaya dengan satu tangan.
"Ini.. apa-apaan ini?.", ujar Yaya sewot.
"Kau jauhi Hali."
"Kenapa kau mengatur-ngatur aku?, minggir."
Fang menahan Yaya dengan kedua tangannya, lalu Fang mendekatkan wajahnya ke wajah Yaya.
"Kau itu milikku."
Yaya terbelalak kaget
"Aku menyukaimu, ralat mencintaimu. Kau harus menyukaiku dan kau jauhi Hali mulai dari sekarang, aku tidak suka kau dekat dengan Hali.", ucap Fang dengan posisi yang sama.
"...", tidak ada jawaban dari Yaya.
Fang meninggalkan Yaya sendirian di atap sekolah. Hali secara diam-diam mengikuti Yaya dari belakang.
"Sialan.", gumam Hali sambil memukul tembok sangat kencang, tidak peduli tangannya berdarah.
Yaya jatuh berlutut, dan menangis terisak-isak.
"Kenapa Fang seenaknya berkata dia menyukaiku, dan seenaknya menyuruhku menjauhi Hali.", ucap Yaya sambil memegangi dadanya.
"Brengsek.", gumam Hali kesal.
"A...-aku tidak bisa menyukai Fang seenak membalikkan telapak tangan. A...-aku rasa aku lebih nyaman bersama Hali. Dan aku rasa aku telah menyukai Hali", ucap Yaya sambil menyeka air matanya.
Hali melihat Yaya menangis, Hali ingin sekali menghibur gadis itu. Tapi apa daya, egonya mengalahkan perasaannya. Hali lebih memilih pergi meninggalkan Yaya sendirian.
"Se...-sekarang aku harus bagaimana?.", Yaya mengacak-acak jilbabnya.
Yaya beranjak dari tempatnya, Yaya langsung pergi ke kelasnya.
"Yaya, kau kenapa?.", tanya Ying khawatir.
"A..-aku harus bagaimana?.", tangis Yaya pecah.
"Ada masalah apa Yaya?, sudah jangan menangis Yaya."
Selama pelajaran berlangsung Yaya tidak fokus, hanya gara-gara ucapan Fang.
"Kau itu milikku."
"Yaya, fokus ke pelajaran.", guman Yaya.
"Aku menyukaimu, ralat mencintaimu. Kau harus menyukaiku dan kau jauhi Hali mulai dari sekarang, aku tidak suka kau dekat dengan Hali."
"Uughh sialan.", gumam Yaya kesal.
Yaya melihat keluar jendela, dan menatap langit yang dihiasi awan-awan putih.
.
#flashback
.
Hari ini hari keberangkatan keluarga Hali ke Amerika. Orang tua Hali dan Orang tua Yaya sedang asik berbincang-bincang.
"Aya jaga dirimu.", ucap Hali cuek
"Iya, kau juga.", Yaya menahan tangisnya mati-matian.
"Keluarkan saja.", Hali mengelus kepala Yaya lembut.
"Tidak, perpisahan kita, kita harus gembira. Jangan menangis terus."
"Jadi, kau lebih suka aku tidak ada disini?."
"Kau salah paham.", ucap Yaya sebal sambil menggembungkan pipinya.
"Aku hanya bercanda.", Hali mencubit pipi Yaya gemas.
"Sakit~.", Yaya mengelus-elus pipinya.
"Hali. Ayo", ucap Ayah Hali.
"Iya, pah. 8 tahun lagi kita berjumpa lagi, Aya."
"Iyaa, pasti."
.
#flashback end
.
"Kau dimana sekarang?, kau mengingkari janjimu, Hali. Apa jangan-jangan Hali yang kutunggu selama 8 tahun, sekarang ada dibelakangku?.", batin Yaya sambil menengok ke arah Hali.
"Kau pasti Hali yang kutunggu selama 8 tahun.", batin Yaya yakin
Hali tidak sengaja melihat Yaya yang sedang menatapnya, Hali langsung membuang muka.
"Eh?", gumam Yaya kaget.
'KRRIIIIINGGG', bel istirahat berbunyi.
Hali langsung keluar dari kelasnya, Yaya mengejar Hali.
"Hali!.", teriak Yaya
Hali tidak menggubrisnya.
"Kenapa Hali menjauhiku?.", gumam Yaya heran.
Yaya kembali ke kelasnya dengan perasaan campur aduk.
"Yaya cepat ceritakan ada apa denganmu."
Yaya menceritakan kejadian di atap sekolah dan menceritakan Hali menjauhinya tanpa sebab.
"Astagaa, Fang nafsuan sekali."
"Ying, aku serius."
"Kau yakin kejadian di atap sekolah itu ga ada siapa-siapa?."
"Aku yakin."
"Jangan-jangan secara tidak sengaja ada Hali pas kejadian itu."
"...", Yaya tidak menanggapi pembicaraan Ying.
"Itu perkiraanku saja sih.", ucap Ying santai.
"Benar juga yang dikatakan Ying, aku harus tanyakan ini ke Hali ketika pulang sekolah nanti."
*Pulang sekolah*
Hali, Taufan, dan Gempa pulang menggunakan mobil, ketika Hali ingin tancap gas, Yaya memanggilnya.
"Hali."
"Apa?.", ucap Hali sambil turun dari mobilnya
"Aku ingin bertanya denganmu."
"Memangnya penting?."
"Iya, penting."
"Ya sudah cepat tanya."
"Kenapa kau aneh sekarang?."
"Apa maksudmu aneh, hah?."
"Kau tiba-tiba saja menjauhiku tanpa sebab, apa maumu sih?."
"Mauku?, cuih jauhi aku."
"Eh?.", Yaya terbelalak kaget
"Sudah pergi sana, lebih baik kau dekati saja Fang."
"A...-aku tidak-.."
"Aku tidak mau mengusirmu secara kasar, sekarang pergi."
"...", Yaya tidak beranjak dari tempatnya.
"Kalau kau tidak mau pergi, aku saja yang pergi.", Hali menaiki mobilnya dan langsung tancap gas.
'tess'
"Lho?, kenapa aku menangis?, kenapa aku sesakit ini?, kenapa kau seperti ini, apa salahku?.", ucap Yaya sambil terus menyeka air matanya.
"Yaya?, ada apa?.", ucap Fang yang kebetulan lewat
"Jauhi aku."
"Kau kenapa sih?."
"Aku bilang jauhi aku."
"Kau gila ya?."
"Inikan yang kau mau?."
"Apaan sih?. Aku tidak tahu apa-apa."
"Sekarang Hali menjauhiku hahaha, dan... ini kan yang kau maukan?.", ucap Yaya sambil tertawa miris dengan air mata yang terus keluar.
"...", Fang hanya diam.
"Terima kasih Fang, terima kasih.", Yaya meninggalkan Fang sendirian.
"Hahahaha, jadi Hali sudah menjauhi Yaya?. Bagus", gumam Fang.
"Tapi kenapa aku tidak enak dengan Yaya?.", batin Fang bersalah.
Yaya sampai di rumah mengunci diri di kamarnya.
"Apa yang harus ku lakukan agar kau tidak membenci diriku lagi?. Haruskah aku bersujud di depanmu sampai kau memaafkanku?.", Yaya menangis sejadi-jadinya.
"Mungkin aku termasuk salah satu fansnya, bukan temannya.", batin Yaya lirih.
Karena di rumah Yaya, hanya Yaya sendirian. Ibu dan adiknya pergi kerumah saudara, Yaya pergi ke supermarket untuk membeli mi instan dan beberapa cemilan.
Ketika Yaya keluar dari rumah, berpas-pasan Hali juga keluar dari rumah. Yaya tidak berani menatap Hali, lalu Yaya segera pergi dari Hadapan Hali.
Hali melihat mata Yaya bengkak dan merah, Hali merasa bersalah Yaya jadi begini karena dirinya.
"Makanannya keliatannya enak-enak, ehh ga boleh uangku hanya sedikit."
Setelah Yaya memilih cemilan dan mi instan, Yaya membawa belanjaannya ke kasir.
"Jumlahnya 20 ringgit *ini ngasal sumpa*.", ucap kasir ramah
Yaya mengambil dompet disaku celananya, tapi setelah dicari-cari dompetnya tidak ada.
"Aduh, bodoh sekali aku. Mau belanja lupa bawa dompet. Dasar bego."
"Nih mbak. Ambil saja kembaliaannya."
"Terima kasih mas, silahkan berbelanja disini lagi.", ucap kasir
"Eh, Hali apa yang kau lakukan?."
"...", Hali tidak menjawab pertanyaan Yaya
Yaya tersenyum tipis, "Terima kasih, Hali."
"Bodoh, mau menjauhi Aya saja tidak bisa.", batin Hali kesal
Hali meninggalkan Yaya sendirian. Yaya menatap punggung Hali yang lebar, ingin sekali Yaya memeluk Hali dari belakang. Tapi itu hanya mimpi semata saja
.
T
.
B
.
C
.
Tuhkan, chapter 4 ini paling ga jelas dari chapter yang lain T-T. Maafin Ayaa, ide Ayaa cuman segitu doangg. Boleh minta saran gak?, chapter depan aku bikin cerita kyk gmna ya?:v. SUMPAAA INI IDE TIBA2 MENTOK DITENGAH2 JALAN (keps jebol).
Yaudalah aku cuman minta saran ama riviews aja, pliss aku butuh bantuan kalian T-T
