Hai bertemu lagi dengan Ayaa-chan (reader : *deathglare*). Err...ehh..eum maaf Ayaa baru bisa apdet sekarang, tiba2 Ayaa ga dapet ide. Pas tadi bok*r tiba2 dapet ide. Udah lah gosa basa basi baca aja ceritanya, cekidot.

.

chapter 5

Author pov

'KRIINNGG', jam weker Yaya berbunyi.

Yaya mematikan jam wekernya dan menggaruk-garuk kepalanya.

"WHAT? 06.20? WTF."

Yaya berlari menuju kamar mandi tidak sampai 4 menit Yaya selesai mandi.

"Astaga, Kenapa aku kesiangan sih." Yaya bercermin, dan ternyata mata Yaya sembab hanya karena semalam menangisi Halilintar terus menerus.

"Ugh, mataku sembab. Dan kenapa aku agak pusing ya, apa aku tidak usah masuk?. Tidak, tidak aku harus masuk."

Yaya berangkat tidak sarapan terlebih dahulu, yang Yaya pikiran tidak terlambat ke sekolah.

*DI SEKOLAH*

Yaya buru-buru menuju kelasnya, setelah sampai di depan kelasnya. Yaya hanya bisa berdoa semoga belum bel pelajaran.

"Yes, belum masuk pelajaran. Berarti belum bel.", gumam Yaya bersyukur.

"Yaya, ada apa?, matamu sembab. Kau habis nangis?.", tanya Ying.

"Errr... aku kurang tidur saja kok.", ucap Yaya bohong.

"Bohong."

"Aku tidak bohong." Ying hanya mengangguk-angguk kepalanya saja.

"Kenapa kau menjauhiku. Katakanlah jika aku mempunyai salah, jangan jauhi aku seperti ini?.", gumam Yaya sedih.

'KRIINGGGG', bel jam pertama berbunyi. Setelah Yaya turun ke lapangan, tiba-tiba...

'Byuurrr'

Yaya disiram air dari lantai 2, oleh siswi yang Yaya tidak kenal.

"Hahhaha rasain tuh.",

"Makanya kalau jadi cewek jangan genit. Hali dideketin Fang juga dideketin."

"Cewe seperti itu pantasnya SMA kampung saja."

"Dia memang gadis kampung, hahaha."

Yaya menahan air matanya, bajunya sudah basah kuyup. Dan tiba-tiba, Yaya kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan.

.

Author pov end

.

Hali pov

Aku melihat banyak orang di lapangan. Aku mendekati kerumunan itu, dan ternyata Yaya pingsan.

"Maaf, permisi.", ucapku sambil menerobos kerumunan.

Aku menggendong Yaya ala bridal style. Bajunya basah, pasti Yaya habis dibully. Keningnya agak panas dan wajah Yaya pucat. Aku segera membawa Yaya ke UKS.

"Dok, cepat periksa dia.", ucapku cemas.

"Ya, kau tinggalkan saja dia."

"Tidak, saya menunggu dia hingga dia sadar."

"Baiklah, nanti saya izin ke meja piket.", ucap dokter sambil mengecek suhu tubuh Yaya.

"Bagaimana dok?."

"Dia demam, dia mungkin kecapekan. Dia butuh istirahat yang cukup. Saya tinggal dulu.", Dokter meninggalkan kami berdua sendirian di UKS.

"Bagus, aku menolongmu lagi, padahal aku ingin menjauhimu."

Aku melihat Yaya terbaring lemah.

"Aya, maafkan aku. Kau begini gara-gara aku. Maafkan aku. Aku terlalu naif.", ucapku sambil memegang dahi Yaya yang hangat.

Setelah cukup lama menunggu Yaya sadar, aku tertidur. Aku merasakan ada yang membelai kepalaku lembut, aku pun terbangun. Dan ternyata yang membelai kepalaku itu Yaya.

"Ma..maaf, aku membuatmu terbangun."

"...", aku hanya diam, tidak menjawab apa-apa.

"Terima kasih telah membantuku, Hali."

Aku beranjak dari tempatku, lalu tanganku ditahan oleh Yaya.

"Kenapa kau menjauhiku, Hali?.", ucap Yaya sambil menahan tangisnya.

"Aku... aku tidak tahu aku salah apa. Lebih baik kau beritahu aku."

"..."

"Jangan menghindar terus dariku, Hali. Apa kau pikir itu menyenangkan, sebentar-sebentar kau akrab denganku."

"..."

"Dan sebentar-sebentar kau menjauhiku, bahkan seperti orang yang belum kenal sebelumnya. Kau hanya ingin bermain-main sajakah? kau tahu?, aku sangat sakit kau menjauhiku. Dan kau menambah rasa sakit ini dengan sikapmu itu, Hali. Kau terlalu kekanakan", tangis Yaya pecah.

"Ayolah Hali katakan.", batinku kesal.

"Aku...aku memang jatuhnya seperti fans beratmu bukan temanmu."

Aku membisu ditempat.

"Baiklah, aku tahu kau tidak menyukaiku untuk menjadi temanmu. Walaupun kita berteman belum lama, tapi aku sudah nyaman bersamamu. Maaf jika aku merepotkanmu dan selalu salah dimatamu.", tangis Yaya yang tidak berhenti-henti

"Aya...", gumamku pelan Yaya menyembunyikan wajahnya dilutut. "Maafkan aku.", ucapku sambil mengelus kepala Yaya lembut.

"Aku mohon, kau jauhi aku, kau tidak usah repot-repot mendekatiku lagi, Aya.", ucapku sarkastik

"Bukan ini yang inginku katakan.", batinku kesal.

Yaya terkejut apa yang kukatakan.

"Rasa suka Fang ke kau jauh lebih besar...", ucapku dingin

"Daripada rasa sukaku padamu.", batinku sedih.

Air mata Yaya jatuh, aku benci Yaya menangis. Tapi aku sangat benci jika Yaya menangis gara-gara aku.

"Lebih baik kau dekati Fang. Kau tahu? dia mengejar-ngejar dirimu. Jangan kau sia-siakan cinta dia. Memang susah, tapi kelama-laman kau akan terbiasa dengan Fang."

"Sia-siakan ya?, kau tahu?, kau juga menyia-nyiakan perasaan sukaku padamu. A..aku tahu, kau menganggap aku hanya sebatas fans saja. Tapi rasa sukaku padamu bukan karena aku suka tampangmu atau hartamu.", ucap Yaya sambil menyeka air matanya.

"Kau menyukaiku?.", tanyaku dingin.

"Aku bukan seperti siswi-siswi lain, mengincarmu karena tampang saja atau popularitasmu saja. A..aku menyukaimu karena tulus dari hatiku."

"...", aku membisu.

"Kau mengganggap rasa sukaku hanya main-main saja?, percuma ya menyukaimu dan aku hanya terlalu berharap kau juga menyimpan perasaan yang sama sepertiku.", ujar Yaya sambil memaksakan senyumannya.

"Sudah?, jika sudah mendongengnya aku mau keluar dari UKS.", tanyaku sarkastik.

"...", Yaya tidak mejawab pertanyaanku.

"Aku anggap sudah, oh iya. Jika kau tidak mau menjauhiku, aku saja yang menjauhimu.", aku keluar dari ruang UKS dan meninggalkan. Yaya sendirian di UKS.

Aku mengintip dari jendela UKS untuk melihat reaksi Yaya.

"Bagus, aku terlalu berharap kau Hali yang kutunggu selama 8 tahun, ternyata kau bukan Hali yang kumaksud. Bodoh.", ucap Yaya menangis lagi.

"A..apa?, di..-dia Aya janjiku 8 tahun yang lalu?.", gumamku tidak percaya.

"Menunggu seseorang yang sangat berarti selama 8 tahun dan disia-siakan oleh orang yang disukai itu sangat menyakitkan.", ucap Yaya sambil menyeka air mata.

"Tidak salah lagi dia Aya janjiku 8 tahun yang lalu."

.

Hali pov end

.

Author pov

"YAYA!.", teriak Ying sambil membuka pintu UKS secara kasar.

"Kau baik-baik saja?, dan kau kenapa?, apakah ini perbuatan Hali?.", ucap Ying sebal.

"Aku tidak apa-apa, oh hai Gempa Taufan. Kenapa kalian kesini."

"Kau tidak tau ini sudah bel istirahat, aku, Gempa, Ying kesini untuk menjengukmu.", ucap Taufan.

"Huweeeee, aku melewatkan 4 mata pelajaran?, hiks hiks.", ucap Yaya frustasi.

"Dan kau masi menggunakan baju olahraga, biar ku ambilkan ya.", tawar Ying.

"ti..-tidak..."

Ying sudah lari menuju kelasnya.

"...usah."

"Kalau boleh tau kenapa kau bisa sampai UKS, Aya?.", tanya Gempa penasaran.

"Entah, aku hanya ingat aku pingsan saja. Hahaha.", jawab Yaya bohong sambil tertawa hambar.

"Ayaa-chan mau dibeliin makanan apa?.", tanya Taufan.

"Tidak usah repot-repot Taufan."

"Baiklah aku tidak memaksa.", Taufan pergi meninggalkan Gempa dan Yaya sendirian di UKS.

"Yaya.", panggil Gempa.

"Hm?."

"Aku mau tanya, apa hubungan kau dengan kak Hali?."

"Eehh?, err...eumn..em ti..tidak ada. Kenapa kau bertanya seperti itu?."

"Tidak apa-apa sih. Soalnya kamu perempuan pertama yang dekat dengan Hali, setelah teman kecilnya."

"Hah? te..teman masa kecilnya?.", batin Yaya bingung.

"Kalau boleh tau siapa namanya?."

"Hehhehe masalah nama aku lupa.", Gempa menggaruk pipinya tidak gatal.

"Ck.", Yaya memutar bola matanya bosan.

"Berduaan saja.", ucap Ying meledek.

"Lama sekali kau.", bentak Yaya sambil mengambil seragamnya.

"Gempa keluar dulu.", perintah Ying.

Gempa menuruti perkataan calon kakak iparnya.

"Hei Yaya, apa yang dilakukan Hali sehingga membuatmu menangis lagi?."

"Tanpa aku ceritakan, kau sudah tau pasti."

"Ok aku tebak, mengeluarkan kata-kata pedas, membentakmu, ohh menolakmu?."

"Ehh?, i..-itu tidak benar.", ujar Yaya dengan muka memerah.

"Terus ngapain maaa?, tidak mungkin kau tidak diapa-apain. Malahan membuatmu menangis."

"Su..-sudahlah ayo kita ke kelas."

"Haiyaaa~ kau memangnya sudah sembuh?."

"Iya sudah, ayo kita ke kelas."

Ketika Yaya dan Ying menuju kelasnya, mereka berdua bertemu dengan Fang.

"Apa maumu, hah?.", tanya Ying kesal.

"Ying.. Fang tidak melakukan apa-apa."

"Haiyaa~ tumbenan sekali kau membela landak janda ini."

"Apa kau cakap?."

"Landak janda. Kenapa? masalah? kau kan identik dengan ungu, di negara tetangga warna ungu itu bermakna dengan janda."

"Awas ya kau."

"Haiiyyaaa, kabur."

"Kubunuh kau mata sipit."

Fang mengejar Ying, Yaya merasa didiamkan. Yaya menuju kelasnya sendirian.

Yaya berpas-pasan bertemu dengan Hali, Yaya segera membuang muka. Hali mendekatinya dan..

"Aku ingin berbicara denganmu sehabis pulang sekolah.", lalu Hali meninggalkan Yaya sendirian.

"Huh, memangnya penting?.", gumam Yaya kesal.

'KRUYUUKK~'

"Sialan, belum makan dari pagi. Emak, aku lapar."

Belum lama Yaya sampai di kelas, Ying masuk ke kelas dengan muka memerah.

"Nah.. apa yang dilakukan Fang?.", tanya Yaya menyelidik.

"Tidak ada."

"CERITAKAN."

"Jadi begini."

.

#flashback

.

"Fang berhenti mengejarku, cape tau."

"Sebelum aku memberimu pelajaran, aku tetap terus mengejarmu."

"Kau tidak akan bisa menangkapku."

'DUAAK'

Ying menabrak tong sampah karena Fang susah mengerem, Fang juga ikut terjatuh. Fang meniban Ying, dan mencium pipi Ying.

"Eum... maaf aku tidak sengaja.", ucap Fang dengan wajahnya yang merah padam.

"Eh.. ju...-ju..justru aku yang minta maaf.", saking malunya, Ying berlari sangat kencang ke kelasnya dan meninggalkan Fang sendirian.

.

#flashback end

.

"HAHAHAHAHA."

"Huh, tidak lucu Yaya."

"Maaf, maaf. Lagian.. nabrak tong sampah, hahahha."

"Terserah kau saja.", ucap Ying kesal.

#skip time

Ketika bel pulang berbunyi, seperti kemauan Hali. Yaya menemui Hali sepulang sekolah.

"Ck, yang minta ketemuan siapa, yang telat siapa.", gerutu Yaya sebal.

"Kyaaa~.", tangan Yaya ditarik

"Jangan berisik, bodoh.", ucap Hali sambil menjitak kepala Yaya.

"Aww, sakit. Apa maumu?."

Hali memojokkan Yaya ke tembok dan menahan Yaya dengan 2 tangannya.

"Ini... ini apaan sih?."

"jawab pertanyaanku."

Hali mendekatkan wajahnya, sangat dekat.

"Kau Aya yang ku kenal waktu aku kecil dan kau janjiku waktu 8 tahun yang lalu?."

Yaya terbelalak kaget.

.

T

.

B

.

C

.

Cerita apaan ni?#bantinghp, oh maaf maaf. Ayaa-chan fruatasi hasil cerita di chap 5. Dichap ini Hali ngebuat Aya nangis mulu ya. Dasar Hali, cowo ga tau diri #dipaksa nelen tombak Halilintar. Maaf dichap 5 ini belum sebagus chapter2 yang kemaren. Emang dasarnya ide yang aku keluarkan segitu, ya hasilnya segitu. Maaf ya para reader #nangis kejer.

Yauda tanpa basa basi lagi. Riviews please? #melukmanja#ditendangreader#pingsanseketika