Haii bertemu lagi dengan Ayaa-chan. Entah mengapa rasanya malas sekali melanjutkan ff ini, ilang mood aja gitu ga tau kenapa X'D #dibakar readers. Balas riviews aja dulu de, cekidottsss
cutemuslimah and alf : Ayaa-chan apdet kilat karena lagi mood aja, coba kalo lagi ga mood atau ide ga muncul2, ya...Ayaa ga apdet apdet. Btw terima kasih menyemangati Ayaa.
IrenaChan 1012 : gapapa ngegantung biar reader penasaran muwehehheeh #tertawa jahat sambil ngeden. Ying tetep sama Taufan.
Vanilla Blue12 : Ini sudah dilanjut :)
Insyirah : Ini sudah dilanjut :)
Blackcorrals : Ini sudah dilanjut, terima kasih telah menyemangati Ayaa
Ililara : beneran kakak sampai nangis?, makasih atas dukungannya, dan ini sudah dilanjutkan X'D
siti wulandari : ok siap, ini sudah lanjut.
.
chapter 6
.
Author pov
"Kau Aya yang ku kenal waktu aku kecil dan kau janjiku waktu 8 tahun yang lalu?."
Yaya terbelalak kaget.
"Jadi, dia Hali yang kutunggu selama 8 tahun?.", batin Yaya kaget.
"Jawab Aya.", ucap Hali setengah berteriak.
"Ughh, perutku sakit.", keluh Yaya dalam hati.
"Aya?."
Yaya tidak mendengar apa yang dikatakan Hali.
"Aya, jawab."
Penglihatan Yaya mulai menghilang dan tiba-tiba Yaya kehilangan kesadaran dan Hali reflek menahan tubuh Yaya dengan satu tangan.
"Aya?.", Hali menepuk-nepuk pipi Yaya pelan.
Tidak ada respon dari Yaya.
"Ck, segala acara pingsan segala.", gumam Hali sinis.
Hali menggendong Yaya ala bridal style, lalu menuju parkiran dan menaruh Yaya disamping pengemudi, pengemudinya adalah Hali.
Karena Taufan dan Gempa masih ada urusan di sekolah, Hali dan Yaya berdua di mobil.
"Ck, kalau lagi tidak sehat. Ga usah masuk sekolah, sok kuat.", gerutu Hali.
Hali menempelkan keningnya ke kening Yaya untuk memeriksa Yaya demam atau tidak.
"Tidak hangat, tapi kenapa pingsan. Ck, ada-ada saja.", Hali memijit pelipisnya pelan.
Hali mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa aku sepanik ini?.", batin Hali.
Setelah memakan waktu beberapa menit, sampailah di rumah keluarga Boboiboy saudara. Karena orang tua Hali, Taufan, dan Gempa pengusaha sukses, orang tua mereka bekerja di luar negeri.
Hali menggendong Yaya dan membawa Yaya ke kamarnya yang bernuansa berwarna hitam dan merah. Hali menaruh Yaya di tempat tidurnya.
"Kenapa tiba-tiba kau pingsan?, apa karena kau terlalu syok?, apa karna kau terlalu kelelahan?.", ucap Hali cemas.
Yaya terbangun dan terkejut.
"Aku dimana?, aku diculik?. GYAAAA AKU MISKIN GA PUNYA DUIT JANGAN APA-APAKAN AKU.", teriak Yaya ketakutan.
"Hoi, kau di rumahku. Kau tiba-tiba pingsan. Kenapa kau pingsan, hah?"
"Huhuhuhu, aku pingsan karena aku lapar. Belum makan dari pagi."
Hali memasang muka speechless.
"Kukira dia kelelahan, sial.", batin Hali.
"Konyol.", Hali menyentil jidat Yaya.
"Ish, sakit tau."
"Bodo."
"Menyebalkan."
"Mau makan disini dulu?.", tanya Hali dingin.
"Tidak usah, aku langsung pulang saja.", jawab Yaya bohong.
'Kruyukk~'
Hali dan Yaya memasang muka speechles.
"Sial, malah bunyi di depan Hali.", batin Yaya kesal.
"Ya sudah kalau ga mau makan disini. Jangan salahkan aku jika kau pingsan di tengah jalan."
"Huh rumahku kan disebelahmu, iya aku mau aku mau."
"Kalau kau pingsan di jalan, tidak bakal ku tolong. Jika ada orang yang mau membawamu kerumah, aku suruh tinggalkan kau saja, bagaimana?."
"Huweeeee, jahat."
"Nasi goreng dengan telur saja."
"Aku apa saja mau kok.", ucap Yaya semangat.
"Aku kasih batu kau juga mau?.", tanya Hali dingin.
"Hahahah lucu.", Yaya tertawa hambar sekaligus menyindir.
Hali memasak nasi goreng dengan telur.
"Tidak kusangka, ia pandai memasak.", gumam Yaya sambil tersenyum tipis.
Hali datang membawa nasi goreng dengan telur diatasnya dan minumannya es jeruk.
"Kau bisa masak?.", tanya Yaya kagum.
"Makan saja, ga usah banyak nanya."
"Nanya aja ga boleh.", Yaya menggembungkan pipinya sebal.
Hali tersenyum tipis
.
#Flashback
.
"Taufan, lihat. Ada keong, lucu sekali."
"Aya-chan, kau tidak takut kah?.", tanya Taufan geli.
"Ini lucu sekali."
"Aku heran, Aya lebih berani daripada kak Taufan.", Gempa memasang muka datar.
"Nyalinya saja seperti perempuan.", ucap Hali dingin.
"Huweeee, aku laki-laki tau.", Taufan mendengar ucapan Hali.
Yaya meletakkan keongnya diatas telapak tangannya.
"Hihihihi, geli.", Yaya tersenyum sangat hangat.
Hali yang melihat Yaya, tanpa ia sadari dia ikut tersenyum.
"Hayoooo~ ngeliatin Aya-chan. Ketahuann~.", ledek Taufan.
"Kak Hali bisa juga ya ngeliatin perempuan.", Gempa ikut meledek Hali.
"Huh, mana sudi melihat gadis bawel ini.", ucap Hali bohong sambil menjitak Taufan dan Gempa.
"Sakitt~.", ucap Taufan dan Gempa bersamaan.
Yaya menggembungkan pipinya sebal. Taufan mencubit pipi Yaya gemas.
"Huh, gemes~."
"Taufannn.", ucap Yaya setengah teriak.
"Kejar kalau bisa.", ledek Taufan.
"Awas ya kau."
"Ini aku udah awas, hahahaha."
"Kau menyebalkan."
"Memang, wlek.", Taufan memeletkan lidahnya.
"Aya, hati-hati nanti jatuh.", ucap Gempa khawatir.
"Aku sebal Taufan.", ujar Yaya kesal.
Yaya terus mengejar Taufan, tiba-tiba Yaya tersandung batu. Dan akhirnya Yaya terjatuh dan terluka di lututnya.
"Kau tidak apa-apa, Aya?.", tanya Gempa khawatir.
"Sakit~.", ucap Yaya yang meringis kesakitan.
"Lagian sudah diberitahu tetap saja keras kepala.", ucap Hali kesal.
"Gara-gara kau Taufan", Yaya enggan melihat Taufan.
"Iya deh maaf.", Taufan merasa bersalah.
"Kita pulang bagaimana nih?.", tanya Gempa panik.
Hali menyodorkan punggungnya dan menyuruh Yaya menaiki punggungnya. Karena diantara Hali, Taufan, Gempa, Hali lah fisiknya lebih kuat.
"Naiklah.", ucap Hali dingin
"Tidak apa nih?."
"Ck, cepat."
"Kau baik Ya, Hali. Ku kira kau kasar juga ke perempuan."
"Aku tidak suka dipuji.", ucap Hali dengan wajahnya yang memerah.
"Wah Kak Hali, memerah wajahnya lho~.", ledek Taufan.
"Bawel."
.
#flashback end
.
"Hali, melamun saja.", ucap Yaya yang menyadarkan Hali dari lamunannya.
"Bawel."
Yaya meneruskan makannya.
"Kau belum jawab pertanyaanku.", ujar Hali dingin.
"Hah?, memangnya kau menanyakan apa?."
"Dasar tua, aku tanya. Kamu..-."
Tiba-tiba Taufan dan Gempa pulang.
"AKU PULANGGG~.", teriak Taufan.
"Lho?, kok ada Aya?.", tanya Gempa bingung.
"Huh, ninggalin kita. Demi bisa berduan sama Aya-chan."
"Jangan gitu, Taufan. Namanya juga pasangan baru jadian.", ucap Gempa bijaksana.
Yaya memasang muka 'you don't say'.
"Nanti aku ceritakan. Tapi sesudah aku memukul kalian berdua.", Hali melakukan pemanasan ringan dilehernya dan ditangannya.
Taufan dan Gempa seketika merinding lalu meninggalkan Yaya dan Hali sendirian.
"Kau terlalu kasar, Hali.", Yaya menatap Hali tajam.
"..."
"Huh, aku pulang saja.", Yaya mengambil tasnya.
Hali menahan tangan Yaya, dan Yaya menoleh ke arah Hali.
"Eh?.", wajah Yaya memerah.
"Aku antarkan sampai kerumah."
"Rumahku disebelah rumahmu, Hali. Tidak usah mengantarku segala."
"Itu rasa terima kasihmu kepadaku?."
"Huh, iya kau boleh mengantarku sampai kerumahku, puas pangeran tempramen?.", tanya Yaya ketus.
"...", Hali tidak menjawab pertanyaan Yaya.
Setelah Yaya selesai memakai sepatunya, tiba-tiba Hali menarik Yaya ke halaman belakang rumahnya.
"Apaan sih Hali, katanya mau mengantarku pulang."
Yaya dipojokkan ke tembok kedua tangan Yaya dicengkram oleh Hali di kedua sisi kepala Yaya. Hali mendekatkan wajahnya.
"Ka..kau mau melakukan apa?.", tanya Yaya ragu.
"Aku ingin bertanya padamu.", jawab Hali dingin.
"Kenapa harus disini, dan sepenting itukah?."
"Kau Aya janjiku 8 tahun yang lalu kan?.", tanya Hali sambil menyeringai.
Yaya terbelalak kaget.
"Jawab.", perintah Hali setengah berteriak
"Sakit Hali.", ucap Yaya kesakitan.
"Kalau kau tidak yakin aku itu Hali yang kau tunggu selama 8 tahun, kenapa kau tidak mencoba bertanya kepadaku, hah?.", tanya Hali sarkastik.
"Banyak yang mempunyai nama Hali, banyak yang kembar tiga, Hali. Aku hanya bisa putus asa, aku tidak dapat menemukanmu.", jawab Yaya.
"Tidak ada salahkan kau bertanya.", ujar Hali marah.
"Inikah caramu menyambutku?, tidakkah kau berpikir menunggu selama 8 tahun itu sangat lama, dengan sabar aku menunggumu, walaupun ada rasa putus asa, tapi aku sabar menantimu pulang ke Malaysia.", Yaya menundukkan kepalanya, dan air matanya mulai menetes.
"...", Hali membisu.
"Ku kira kau senang bertemu denganku, kau akan bahagia bertemu denganku. Tapi kenyataan tidak seindah dengan Harapan."
"Maafkan aku terlalu kasar padamu.", Hali melepaskan cengkeramannya.
Yaya berjongkok menangis sejadi-jadinya, dia menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangannya.
"Maaf."
"Terima kasih atas penyambutanmu itu dan terima kasih telah menepati janjimu 8 tahun yang lalu.", Yaya berdiri dan meninggalkan Hali sendirian.
Yaya berlari ke kamarnya, Ibunya keheranan.
"Yaya, ada apa?."
"Tidak ada apa kok bu."
Yaya menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Yaya menyenderkan badannya dipintu lalu terduduk.
"Padahal kau itu dulu sangat berarti untukku, kau meninggalkanku selama 8 tahun, aku sangat terluka dan sangat berat kau tidak ada disini. Aku sabar menunggumu, dan kita bertemu, tapi kau menyambutku seperti itu.", Yaya bermonolog ria sambil menangis.
Yaya menyembunyikan wajahnya dilutut, dan menangis terisak-isak.
Sementara Hali..
"Kak Hali~ ceritain dong kok Aya-chan bisa kesini?.", tanya Taufan semangat.
"..."
"Kak Hali kenapa sih?.", tanya Gempa penasaran.
"Taufan sparing.", perintah Hali dingin.
"Gak mau, kak Hali kenceng banget mukul aku."
"Mau sparing atau kubuat kau tidak bisa berjalan selama 2 bulan?."
"HUWEEEEE~ baiklah kita sparing, tapi jangan kenceng-kenceng.", rengek Taufan.
"Ck, mulai lagi deh.", Gempa hanya geleng-geleng kepala.
T
.
B
.
C
.
Huwaaa maafin baru apdet sekarang, soalnya lagi ada masalah, ide tiba-tiba mentok segitu doang, persiapan lomba paskibra tinggal menghitung beberapa minggu lagi, ga mood lanjutin cerita X'D.
Maap, ceritanya ga jelas, aku ga terlalu pandai bikin cerita yang bener-bener feelnya dapet. Riviewsnya riviewsnya yaa X'D
~see you chapter 7
