Huwaaaa ketemu Ayaa-chan lg di ff Promise, maaf ya wordsnya masi dikit, MAAFIN AYAA-CHAN YA MAAF HUWEEEEEE :". Sebagai permintaan maaf, khusus dichapter 7 ini aku buat wordsnya banyak. Semoga tidak mengecewakan readers, cekidotzzzz.

.

chapter 7

.

Author pov

Yaya menceritakan kejadian kemarin kepada Ying dan menceritakan tentang Hali.

"APA?, tunggu-tunggu. Hali teman sejak kecil?.", tanya Ying terkejut.

Yaya membenamkan wajahnya ditangannya sambil mengangguk.

"Dan kalian berpisah selama 8 tahun?."

Yaya mengangguk lagi.

"Kau marah karena Hali menyambut mu secara kasar?."

Yaya mengangguk lagi.

"Ayolah Yaya, jangan seperti itu. Kemarin kan Taufan dan Gempa datang mendadak gitu. Hali kesal mungkin karena tidak jadi bertanya, jadinya membawamu secara kasar agar tidak ketahuan Taufan dan Gempa."

"Kau membela Hali?.", tanya Yaya sambil menatap tajam ke Ying.

"Haiyaaa~, aku tidak membela Hali. Toh memang benar, kau jangan asal menjauhi Hali. Kau tidak boleh menyesal nanti, jika Hali lebih nyaman dengan perenpuan lain."

"Ta..-ta..tapi Ying.."

"Lebih baik kau minta maaf ke Hali sebelum terlambat."

"Huh, ok baiklah aku akan minta maaf.", ucap Yaya pasrah.

"Inikan demi kebaikan kau dan Hali, Yaya."

Tiba-tiba Taufan datang ke kelas Yaya dan Ying.

"Ying~.", ucap Taufan gembira.

"Hai Taufan, tumbenan.", ucap Ying menyindir.

"Hei, aku mau berubah tau. Aku tidak mau telat lagi. Aku kesini tanpa kak Hali dan Gempa, supaya cepat-cepat bertemu denganmu tau", ucap Taufan kesal.

"Bercanda~, jangan diambil hati, okay?."

"Iya iya, sayang.", Taufan mencium pipi Ying secara lembut.

Ying mengelus pipinya pelan, dengan muka memerah.

"Mau bermesraan jangan disini mas, mba.", sindir Yaya.

"Kau kan sudah punya kak Hali, kakak ipar.", ucap Taufan menyindir.

"Hei aku belum jadian sama Hali tau, dan jangan panggil aku kakak ipar. Sana pergi.", Yaya mengusir Taufan.

"Ying kita ke kantin yuk~.", ajak Taufan semangat.

"Baiklah, kau tidak apa-apakan aku tinggal kau sendiri?.", tanya Ying.

"Tidak apa, Ying.", jawab Yaya.

Taufan dan Ying pergi ke kantin, dan meninggalkan Yaya sendirian.

"Fiuuhh~, benar kata Ying. Aku harus minta maaf ke Hali.", gumam Yaya.

Ketika Yaya ingin pergi ke toilet, Yaya bertemu dengan Hali di koridor sekolah.

"Hai Hali, aku ingin berbicara denganmu seben-..."

Hali melewati Yaya, Yaya terbelalak kaget.

"Eh?.", Yaya menoleh ke arah Hali, dan ternyata Hali sudah jauh.

"Dia marah padaku?, memang benar ya aku harus minta maaf kepadanya.", gumam Yaya bersalah.

"Eh, eh. Katanya ada anak pindahan baru tau~. Perempuan cantik banget, dia dari sekolah Korea. Keren banget ya."

"Anak baru?.", batin Yaya.

"Iya, denger-denger sih bakalan masuk di kelas XI-B."

"A...-apa?, dia bakalan sekelas sama aku?.", batin Yaya terkejut.

Yaya masuk ke kelasnya, dan Yaya tidak sengaja menatap Hali yang sedang melihat keluar jendela. Yaya segera menggelengkan kepalanya, dan berjalan menuju bangkunya.

"Huh, merepotkan.", gumam Hali kesal.

.

#flashback

.

"Aduh kak Hali sakit tau mukulnya.", ringis Taufan kesakitan.

"Cuihh, bangun.", ucap Hali kesal.

"Ada apa sih kak Hali?, berantem sama Aya?.", tanya Gempa

'jleebb'

"Ck, bukan urusanmu.", ucap Hali sinis.

"Jangan jadikan aku pelampiasanmu, kak Hali. Kalau aku besok tidak masuk terus Ying kangen sama aku, kak Hali harus bertanggung jawab.", ucap Taufan.

Gempa speechles, Hali meludah ke sembarang arah.

"Kalau benar kau bertengkar dengan Aya, apa yang dilakukan Aya sehingga kau semarah ini, hah?.", tanya Gempa sambil melipat tangannya di depan dadanya.

"Kan aku sudah bilang, bukan urusanmu.", jawab Hali sarkastik.

"Aku hanya bertanya saja."

"Ahhh~, lebih baik kau diamkan Aya-chan hingga dia merasa bersalah dan meminta maaf padamu.", ucap Taufan semangat.

"Kasian Aya tau.", Gempa membela Yaya.

"Kan aku hanya memberi saran saja, jika tidak mau mengikuti saranku tidak apa-apa."

"Huh, itu berarti sama saja menjauhi Aya tau."

"Memang sama, kata siapa gak sama?."

"Terserah kak Taufan saja lah."

"Menjauhi Aya?.", batin Hali.

#Flashback end

"Akunya juga si bego, mengikuti kata Taufan.", ucap Hali kesal sambil memijit pelipisnya.

Yaya memasuki kelas dengan perasaan cemas, dan berjalan menuju bangkunya.

"Kau habis darimana?.", tanya Ying khawatir.

"Toilet.", jawab Yaya bohong.

"Aku kira kau kemana.", Ying bernafas lega.

"Kayaknya kita kedatangan murid baru deh."

"Hah?, anak mana tuh?, trus trus bakalan masuk kelas mana?.", tanya Ying tidak sabaran.

"Dari Korea, bakalan masuk ke kelas kita."

"Kau tau darimana?."

"Denger-denger saja sih. Dan katanya, murid baru itu cewek, cantik banget."

"Hati-hati Yaya.", ucap Ying ambigu.

"Hah?, maksudnya?.", tanya Yaya yang tidak peka.

"Lupakan saja."

'Kringgggg', bel masuk telah berbunyi.

"Woww, tempat kosong cuman di sebelah Hali saja lho~.", ledek Ying.

"Ya.. terus kenapa?.", tanya Yaya.

"Murid baru itu bakalan duduk sama Hali lah."

'Deg'

"Rasanya aku tidak ikhlas, jika murid baru itu duduk bersama Hali.", batin Yaya sedih sambil memegangi dadanya.

Tiba-tiba guru Matematika masuk ke kelas XI-B.

"Selamat pagi, pak.", ucap murid kelas XI-B.

"Ya, selamat pagi semuanya. Buka buku paket matematika halaman-.."

'Tok tok tok.'

Satu kelas menoleh ke arah pintu.

"Ya masuk."

Ada seorang perempuan manis rambutnya kuncir 1 miring ke kanan, nafasnya terengah-engah. Satu tangan memegangi pintu kelas, dan satu tangannya lagi memegangi lututnya.

"Kenapa telat?.", tanya Guru matematika.

"Aa..-ah maaf pak, saya murid baru jadi sempat tersasar karena mencari kelas."

"Ohh, murid baru. Silahkan perkenalkan namamu."

"Hai, aku Jeon Ji Hyun, kalian boleh panggil aku Jihun. Asalku dari Korea Selatan, aku harap kalian mau berteman denganku.", ucap Jihun dengan senyuman hangatnya.

Semua laki-laki terpaku melihat senyuman Jihun, kecuali Hali. Hali lebih memilih melihat keluar jendela

"Baiklah Jihun, kau duduk di samping Halilintar."

"Baik pak.", Jihun berjalan menuju bangku Hali.

"Siap-siap Yaya.", ledek Ying.

"Ck, berisik.", ucap Yaya sebal.

"Halilintar, nanti kau ajak Jihun berkeliling sekolah.", perintah guru matematika.

"Kenapa harus saya?.", tanya Hali dingin.

"Kau teman sebangku Jihun."

"Merepotkan.", gumam Hali kesal.

"Baiklah buka buku paket matematika hal 24."

"Hai Halilintar aku Jeon Ji Hyun, panggil aku Jihun.", ucap Jihun sambil mengulurkan tangannya.

"Aku sudah tau namamu dan seperti kau sudah tau namaku kan?.", tanya Hali sarkastik.

"Iya."

"Ugh, sabar Yaya, sabar.", Yaya mengelus dadanya dan pensilnya hampir patah.

Ketika Hali sedang mengerjakan tugas matematika...

"Ck, segala salah.", batin Hali.

Tiba-tiba tangan Hali dan Jihun bersentuhan.

"Eh?.", ucap Hali dan Jihun bersamaan.

"Maaf Halilintar, aku tidak sengaja. Aku malas mengambil penghapusan di tasku. Tadinya mau pinjam punyamu, maaf telah memegang tanganmu.", Wajah Jihun memerah.

'PLETAAK', pensil Yaya patah.

"Hn.", jawab Hali malas.

"Duh, kok jadi deg-degan ya, Halilintar tampan kok, aahh~ tangan Halilintar lembut.", batin Jihun kegirangan.

"Yaya, kau kenapa sih?. Sampai pensilmu patah gitu.", tanya Ying khawatir.

"Tidak apa.", Yaya mengambil pensil baru yang ada ditempat pensilnya.

Hali menatap punggung Yaya yang gemetar.

"Cemburu ya?.", batin Hali geli.

"Huh, sabar Yaya sabar, tarik nafas, buang, tarik nafas, buang, tarik nafas, buang.", batin Yaya.

"Cemburu ya~.", bisik Ying sambil meledek.

"Tidak."

"Masaa?."

"Ck, iya."

'Kriiinggg', bel istirahat berbunyi.

"Halilintar~, ayo keliling sekolah.", ajak Jihun semangat.

"Ck, malas. Sana minta temenin sama ketua kelas."

"Kan aku maunya sama kamu."

"Kata-katanya seperti Aya.", batin Hali sedih.

"Ck, aku ga mau ya ga mau udah sana. Sebelum aku usir kamu secara kasar."

"Huh, kau menyebalkan. Baiklah aku minta sama ketua kelas."

Jihun yang ingin menghampiri ketua kelas, tiba-tiba Jihun tersandung kaki Hali.

"Kyaaa~."

'Grep'

Hali menahan Jihun dengan satu tangan, satu tangannya lagi memegang tangan Jihun.

"Eh?.", Jihun kaget.

Yaya yang sedang berbicara dengan Ying, tidak sengaja melihat adegan Hali dan Jihun berpelukan.

"Kau tidak apa-apakan, Yaya?."

"Hahaha, aku tidak apa. Emangnya kenapa aku harus nangis gitu?.", Yaya berpura-pura tidak apa-apa, padahal hatinya sangat panas.

Yaya langsung keluar dari kelasnya. Hali yang melihat Yaya keluar dari kelasnya, rasanya ingin mengejarnya dan menjelaskan semuanya. Tapi Hali bukanlah siapa-siapa Yaya.

"Ciee~ Hali cocok lho sama Jihun"

"Aihh, iri sekali dengan Jihun."

"Hali ganteng, Jihun cantik. Ya cocoklah."

"Masa sih?, kalian jangan terlalu berlebihan.", Jihun tersipu malu sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Berisik, sialan.", ucap Hali kesal lalu pergi keluar dari kelasnya.

"Kok tambah ribet urusannya?.", batin Ying bingung.

"Huh memang aku siapa Hali?, cuman teman masa kecil, udah itu saja. Aku tidak berhak melarang Hali dekat sama siapa.", batin Yaya sambil menahan air matanya keluar.

'Bruk'

"Ma..-maaf aku tidak lihat jalan.", Yaya menyeka air matanya.

"Yaya?, kau kenapa?.", tanya Fang.

"Aku tidak apa-apa, sungguh.", ucap Yaya bohong.

"Kau boleh bercerita denganku, Yaya."

Fang mengajak Yaya ke atap sekolah.

"Maaf Fang, aku tahu kau menyukaiku. Tapi maaf sekali lagi, aku lebih nyaman bersama Hali.", ucap Yaya sambil menangis.

"Tidak usah pikirkan aku, sekarang kau cerita saja aku janji akan jadi teman pendengarmu.", Fang mengelus kepala Yaya lembut.

"Kenapa Fang sebaik ini?, sebelumnya diakan kasarkan?.", batin Yaya bertanya-tanya.

Yaya menceritakan kejadian di kelas.

"Sudahlah, coba kau pikir. Jika laki-laki menyukaimu, laki-laki itu tidak akan membuatmu menangis."

"Iya aku tahu, Hali tidak menyukaiku. Tapi entah mengapa aku berharap lebih ke Hali, Fang.", Yaya terisak-isak.

"Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?."

"Apa?."

"Kau tidak bisa memaksakan sesuatu yang memang bukan untukmu, Yaya."

Yaya menundukkan kepalanya, dan Yaya berusaha menahan tangisannya.

"Keluarkan saja.", Fang memegang kepala Yaya.

"Jangan terlalu asik dengan tujuanmu, karena kau terlalu asik dengan tujuanmu, kau melupakan sekelilingmu, Yaya."

Yaya memeluk Fang sangat erat.

"Iya aku tahu, aku terlalu fokus ketujuanku, sehingga aku melupakan sekelilingku."

"Kau tak perlu berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja. Karna aku tahu kau sedang terluka, Yaya. Jika punya masalah silahkan bercerita padaku.", Fang menghapus bekas airmata di pipi Yaya.

"Maaf, aku selalu mengabaikanmu Fang. Kau sebenarnya baik, tapi sikapmu padaku pertama kali terlalu agresif, jadinya aku takut dekat denganmu.", ucap Yaya meledek sambil menyeka air matanya.

"Huh, dasar meledek.", Fang menjitak pelan kepala Yaya.

"Hehehe.", Yaya memegang kepalanya sambil memeletkan lidahnya.

"Ternyata Fang mempunyai sifat lembut ya.", batin Yaya kagum.

Hali yang melihat Yaya dan Fang sangat akrab, Hali merasa tidak rela.

"Ck, brengsek.", ucap Hali kesal.

"Hai namaku Jeon Ji Hyun, panggil saja aku Jihun. Namamu siapa?."

"Iya aku tahu namamu, aku Ying."

"Kau duduk dengan di sebelah siapa?.", tanya Jihun.

"Aku duduk sebelah Yaya."

"Oh yang pakai kerudung ya, kalau boleh tau Yaya dekat dengan Hali tidak?."

"Lumayan."

"Uwaaahh, terima kasih Ying. Aku harus cari Yaya.", ucap Jihun antusias

Ying speechles.

"Semoga Yaya tidak diapa-apakan oleh Jihun deh.", batin Ying cemas

"Eummm, Yaya mana ya."

"Eh Jihun sedang apa disini?.", tanya Yaya.

"Waahh, kebetulan Yaya disini.", jawab Jihun semangat.

"Kau tahu namaku?."

"Ying yang ngasih tahu."

"Ying...", batin Yaya yang penuh dengan kemarahan.

"Bisakah kau bantu aku, Yaya?."

"Jika tidak merepotkan, mungkin bisa."

"Bantu aku pdkt dengan Hali Yaa, mau kan?."

'Deg'

"Ugh dadaku rasanya mau meledak.", batin Yaya kesal.

"Err.. mau kok.", jawab Yaya ragu.

"Kyaaa~ makasih Yaya. Nih kasih surat cintaku ke Hali ya. Sampai jumpa di kelas Yaya. Oh ya aku lupa, beritahu aku ya, Hali jawab apa dan reaksiny seperti apa.", Jihun meninggalkan Yaya sendirian.

"Huh apa-apaan ini?, seharusnya aku menolak saja. Tapi lidahku terasa kelu untuk mengatakan 'tidak mau'.", batin Yaya sedih.

Air mata Yaya menetes ke surat Jihun. Yaya segera menyekanya, Hali melihat Jihun dan Yaya berbicara, dan Hali melihat Yaya menangis.

"Ugh sial, apa yang dilakukan sama cewek caper itu, hah?.", Hali memukul tembok terdekat sangat keras.

#skiptime

'Krriiingggg', bel pulang telah berbunyi."Ugh kesal sekali, rasanya ingin menonjok Jihun dan Fang sekaligus dua-duanya.", ucap Hali kesal.

"Eh?.", Hali terkejut karena tiba-tiba Yaya di depannya.

"Apa?.", tanya Hali dingin.

"Ini.", jawab Yaya sambil menyodorkan surat.

Hali mengambil surat itu, dan membukanya.

"Suka padaku?, Jihun?, menggelikan.", batin Hali jijik.

"Jihun menyukaimu, lebih baik kau dekati dia saja, Hali.", Yaya memaksakan senyum.

"Ck, aku tidak suka senyumanmu itu, senyum paksaan.", Hali berdecak kesal.

"Eh?."

Hali merobek surat dari Jihun menjadi kecil-kecil.

"Ha..Hali apa yang kau lakukan?."

"Kau buta, hah?."

"Maumu apa sih, Hali?."

"Mauku?, mudah. Jangan libatkan aku dengan Jihun. Aku tidak suka dengan dia.", Hali membuang surat yang telah disobek di wajah Yaya.

"Kau jangan seenaknya merobek surat dari orang yang menyukaimu, bersyukurlah ada yang menyukaimu."

"Ya terus kenapa?, surat ini untukku. Berarti surat ini hakku, terserah mau aku apain ini surat."

"Kau tidak diajari menghargai pemberian dari orang, hah?.", Yaya membentak Hali.

"Kalo iya kenapa?, mau mengajariku menghargai pemberian dari orang?.", Hali membentak Yaya keras.

"Dan buat apa menghargai pemberian orang, sedangkan orang itu membuatmu menangis, buat apa Aya?."

Yaya terbelalak kaget.

"Apa sudah jelas?, nona Aya?.", tanya Hali sarkastik.

"..."

"Aku artikan sudah."

"Tunggu, Hali."

"Apa?."

"Setidaknya kau beritahu Jihun, jika kau menolaknya."

"Aku sudah duduk disamping dia, aku tidak mau berurusan dengan dia, apalagi jadi pacar dia, aku tidak sudi.", Hali meninggalkan Yaya sendirian di koridor sekolah.

"Apa yang harus ku katakan pada Jihun nanti?.", Yaya menahan air matanya sekuat tenaganya.

"Jika aku bilang, Hali merobek suratnya. Jihun pasti sedih.", Yaya menetaskan air matanya.

"Maafkan aku Aya, aku menyukaimu bukan menyukai Jihun.", ucap Hali yang bersembunyi dibalik tembok

Yaya keluar dari gerbang sekolahnya, tiba-tiba...

"YAYA."

"HUWAAAAA.", Yaya terjatuh saking terkejutnya.

"Yaya, kau tidak apa-apakan?.", tanya Jihun khawatir sambil membantu Yaya berdiri.

"Iyaa, aku tidak apa-apa."

"Bagaimana?, jawaban Halilintar apa?, reaksinya?.", tanya Jihun bertubi-tubi.

"Errr...itu aku belum...-."

"Belum apa?."

"Itu..."

"Apa?."

"Ish itu... apa ya namanya, aku belum-..."

"Aku menolaknya.", Hali merangkul Yaya.

"Kenapa Halilintar?, kenapa kau menolakku?.", tanya Jihun yang hampir menangis.

"Aku sudah berpacaran dengan Aya."

Yaya seketika wajahnya memerah.

"Aya?, maksudmu Yaya?.", tanya Jihun tidak percaya."

"Iya. Jadi jangan ganggu aku dan Aya lagi.", ucap Hali sarkastik sambil mencium pipi Yaya.

'Bluushhh', wajah Yaya seperti kepiting rebus.

"Hali apa maksudmu?.", bisik Yaya kesal sambil memegang pipinya.

"...", Hali tidak menjawab pertanyaan Yaya.

"Oh begitu ya, tapi aku tidak akan menyerah mendapatkanmu, Halilintar.", Jihun berlari meninggalkan Yaya dan Hali.

"Jihun.", Yaya berniat mengejar Jihun, tapi tangan Yaya ditahan oleh Hali.

"Hali lepaskan, aku mau menjelaskan."

"Tadi kau menyuruhku untuk bilang ke Jihun, jika aku menolak cinta dia."

"Memang, tapi bisakah kau menolaknya secara lembut atau Halus. Ngapain pakai acara rangkul-rangkulan denganku dan menciumku?.", seketika Wajah Yaya memerah.

"Sebenarnya aku sangat senang.", batin Yaya senang.

"Sialan, aku terlalu menikmati aktingku.", batin Hali kesal.

"Jangan terlalu geer, aku berakting saja. Hanya ingin membuat Jihun percaya, jika kita memang pacaran.", jawab Hali dingin.

"Terserah kau saja.", Yaya membuang muka.

"Mau sampai kapan disitu, tidak mau pulang?.", tanya Hali sarkastik.

"Eh?."

"Ya sudah aku pulang duluan."

"Tu-...tunggu aku."

Yaya dan Hali pulang bersama, selama perjalanan pulang, hanya keheningan saja diantar mereka berdua.

"Ka..-kau tidak pulang bersama Taufan dan Gempa?.", Yaya membuka suara.

"Aku ditinggal.", Jawab Hali cuek.

"Oh."

Keheningan terjadi lagi.

"Jalanan becek ya.", ucap Yaya.

"Hn."

"Ugh, jawabnya singkat mulu. Kau tidak tahu ya, cari topik obrolan itu sulit.", batin Yaya kesal.

"Biasanya dibecekan ada cacing, pasti kau takutkan dengan cacing?.", tanya Hali dingin.

"Hei, jangan meremehkanku ya, walaupun aku perempuan. Tapi aku bukan seperti perempuan kebanyakan.", jawab Yaya kesal.

"Coba lihat disepatumu."

"Memangnya ada ap-... KYAAAAAA."

Ternyata disepatu Yaya ada cacing. Yaya menendang-nendang hingga cacingnya pergi dari sepatunya.

"Ihh, cacingnya masih nempel aja si, geli ih.", Yaya meloncat-loncat dan melingkarkan tangannya ke leher Hali.

"Sesak Aya.", Karena tinggi Yaya hanya setinggi pundak Hali, Yaya memeluk leher Hali sambil menjinjit-jinjit.

Yaya masih menendang-nendang, dan akhirnya cacing itu terlempar jauh.

"Ughh, cacingnya udah pergi belum si?."

"Aya, sesak. Cacingnya udah pergi.", jawab Hali malas.

"Fiuh.", Yaya bernafas lega.

"Udah selesai meluknya?."

"Eh.", Yaya melepaskan pelukannya dan wajah Yaya memerah.

"Huh, tadi bilang tidak takut cacing. Pas ada cacingnya, langsung kalang kabut. Dasar perempuan.", ucap Hali malas.

"Aku hanya terkejut tadi."

"Terserah."

Mereka berdua melanjutkan perjalanan pulang.

"Hali."

"Hn."

"Aku minta maaf kepadamu, aku membentakmu kemarin. Padahal kau hanya kesal sama Taufan dan Gempa, karena kau ingin bertanya tapi tidak jadi."

"Yang berlalu biarlah berlalu. Justru aku yang terlalu kasar padamu"

"Aku minta ma-..."

Hali meletakkan jari telunjuknya dibibir Yaya.

"Bisakah kau mengatakan 'maaf' sekali saja. Aku bosan mendengarkan kata 'maaf' darimu."

Wajah Yaya memerah lagi.

"Jarimu asin, singkirkan dari bibirku.", Yaya menepis tangan Hali.

"Ck.", Hali berdecak kesal.

"Jadi kita sudah berbaikan?."

"Hn."

"Terima kasih Hali.", ucap Yaya semangat dengan senyuman hangatnya.

Wajah Hali langsung memerah, dan menurunkan topinya lebih rendah.

"Ck, iya."

"Kau ikut eskul apa, Hali?.", Yaya berbasa-basi.

"Karate dan basket."

"Huwaaaaa keren sekali. Kau suka ikut turnamen atau kejuaraan tidak?."

"Yah, aku terkadang suka ikut kejuaraan.", jawab Hali cuek.

"Setiap hari apa eskul karate dan basket?."

"Karate hari Selasa dan Kamis. Basket hari Senin."

"Oh."

"Besok berarti kau eskul karate dong?."

"Hn."

"Bolehkah aku menemanimu?."

"Uhuk uhuk.", Hali tersedak air liurnya sendiri.

"Kau tidak apa, Hali?."

"Buat apa menemaniku, hah?."

"Hei, kita 8 tahun tidak bersama. Tidak masalahkan aku menemanimu?."

"Terserah.", jawab Hali sarkastik

"Gitu dong."

"Aku tanya satu hal ke kau, Aya."

"A-..apa?."

"Kenapa firasatku tidak enak."

"Kau kan menyukaiku, jadi kau menyukai teman semasa kecilmu?."

"Wtf.", batin Yaya kesal.

#flashback

"Sia-siakan ya?, kau tahu?, kau juga menyia-nyiakan perasaan sukaku padamu. A..aku tahu, kau menganggap aku hanya sebatas fans saja. Tapi rasa sukaku padamu bukan karena aku suka tampangmu atau hartamu.", ucap Yaya sambil menyeka air matanya.

"Kau menyukaiku?.", tanya Hali dingin.

"Aku bukan seperti siswi-siswi lain, mengincarmu karena tampang saja atau popularitasmu saja. A..aku menyukaimu karena tulus dari hatiku."

#flashback end

"EHH?, kumohon lupakan kejadian itu, itu memalukan kumohon.", ucap Yaya sambil menundukkan wajahnya.

"Tidak akan kulupakan.", jawab Hali dingin.

"LUPAKAAN."

"Tidak."

"Ugh aku tidak menyukaimu."

"Terserah."

Setelah asik berdebat, mereka berdua sampai di depan rumah masing-masing.

"Aku kasih tau sekali lagi, aku tidak menyukaimu.", Yaya masuk kerumahnya dengan perasaan malu.

Hali hanya speechless melihat kelakuan Yaya.

"Aya, Aya.", Hali mengeleng-gelengkan kepalanya.

Yaya berlari kearah kamarnya, membuka pintu kamarnya, dan membanting pintu kamarnya secara kasar.

"Tadi itu... KYYYYYAAAAAAAA.", Yaya berteriak sangat kencang hingga terdengar sampai kerumah Boboiboy bersaudara.

"Itu Aya-chan kenapa sih, teriak-teriak?.", tanya Taufan.

"Entah mungkin ada kecoa.", jawab Gempa santai.

"Tadi Hali merangkulku, menciumku, aku memeluknya, dia menggodaku. Aaa~ kesal.", Yaya sangat senang, hingga menarik-narik bantalnya.

"Hari ini aku ngeblushing ria, kyaaa~. Tapi nasib Jihun bagaimana ya?."

.

T

.

B

.

C

.

Nah selesai juga chapter 7. Kayaknya beberapa chapter lagi mau tamat deh #nangiskejer. Tapi itu baru rencananya.Yauda segini saja yang disampaikan, silahkan riviews jika boleh wakakak.

Selamat hari raya idul adha bagi yang merayakannya.

See you di chapter 8~