Yey ketemu lagi sama Ayaa-chan, ini chapter tergaje, sangat tidak jelas, tapi baca sajalah untuk hiburan semata. Cekidotz.

Chapter 8

Author pov

*Jam Istirahat*

"Oh jadi gitu, Jihun suka sama Hali. Trus dia minta tolong buat pdkt sama Hali gitu?.", tanya Ying semangat.

"Ya, gitu deh. Trus Jihun minta tolong gitu sama aku, kasih surat cintanya ke Hali. Pas Hali baca, malah disobek suratnya."

"Haiyaaa~ Hali, Hali. Tidak bisa menghargai pemberian orang lain apa?."

"Aku udah bilang begitu, tapi dijawabnya kasar."

"Trus Jihunnya?."

"Nah itu dia masalahnya, Ying. Pas aku jelasin ke Jihun, aku bingung mau jelasin bagaimana. Tiba-tiba Hali datang dari belakang, trus merangkul aku."

"Kok?."

"Dan Hali mengaku-ngaku kalau aku berpacaran sama Hali, trus Hali...", tiba-tiba Yaya murung.

"Haiyyaa, kenapa woo?."

"Hali mencium pipiku."

Ying melongo.

1 detik

2 detik

3 detik

"A..apa?, beneran.", tanya Ying polos.

Yaya mengangguk-angguk kepalanya sangat cepat.

"Aw, sweet~. Pengen digituin sama Taufan."

"Hei, kau sering diciumkan sama Taufan?.", Yaya menatap Ying bosan.

"Su..sudahlah.", ucap Yinf malu

Ketika Yaya dan Ying mengobrol, Jihun masuk ke kelas. Yaya semakin merasa bersalah.

Yaya beranjak dari tempat duduknya

"Mau kemana?.", tanya Ying.

"Aku harus menyelesaikan masalah ini."

"Jihun?.", Yaya menghampiri Jihun.

"Oh Yaya, ada apa?.", tanya Jihun dengan 'senyuman palsunya'.

"Aku ingin berbicara 4 mata denganmu."

"Oh boleh, boleh."

Yaya mengajak Jihun ke atap sekolah.

"Kenapa Yaya?.", Jihun membuka suara.

"Aku harus bicara, aku tidak kuat dihantui rasa bersalah.", batin Yaya menguatkan.

"Begini, aku tidak berpacaran dengan Hali."

"Terus?."

"Aku..."

"Ugh, rasanya lidahku kelu mengatakan ini.", batin Yaya kesal.

"Ya?."

"Aku tidak pernah menyukai Hali, aku...aku akan membantumu dekat dengan Hali, Jihun.", Yaya hanya bisa tersenyum palsu.

"Bohong, jika kau tidak berpacaran dengan Hali, kenapa dia berani merangkulmu dan menciummu?.", emosi Jihun mulai meledak-ledak.

"Ok, aku tidak bisa menjawabnya.", batin Yaya pasrah.

"Itu...itu karena Hali menyukaimu dia hanya ingin buat kau cemburu, dia...dia malu mengungkapkannya.", ucap Yaya bohong.

"Kenapa dia berbicara kasar denganku?."

"Ck, itu memang sifatnya."

"Bohong."

"Aku tidak bohong."

"Be...benarkah?.", tanya Jihun tidak percaya.

"Maafkan aku Hali.", batin Yaya sedih.

"Iya.", jawab Yaya bohong.

"Kau benar-benar akan membantuku untuk dekat dengan Halilintar

?."

"Iya aku mau."

"Terima kasih Yaya, nanti aku traktir kamu."

"Hm tidak usah, makasih."

"Sungguh, otak, hati, dan mulutku susah diajak bekerja sama. Aku tidak ikhlas jika Jihun menyukai Hali.", batin Yaya sedih.

"Ayo Yaya ke kelas."

"Eh iya Jihun."

Yaya dan Jihun menuju ke kelas, tiba-tiba bertemu dengan Hali.

"Hai Halilintar.", sapa Jihun lembut.

Hali tidak membalas menyapa, Hali menarik Yaya dan membawa Yaya pergi.

"Hali, mau ngapain sih?.", tanya Yaya kesal.

"...", tidak ada jawaban dari Hali.

"Jihun kau duluan ke kelas, aku ada urusan dengan Hali.", teriak Yaya dari kejauhan

"Huh, aku ditinggal sendiri.", gumam Jihun kesal.

Hali membawa Yaya ke atap sekolah.

"Baru aja kesini.", batin Yaya malas.

"Nah mau apa?.", tanya Yaya.

"Kau bicara apa saja ke Jihun?."

"Eh?."

"Aku bilang kau bicara saja ke Jihun?."

"A..-a..ku hanya meminta maaf saja.", jawab Yaya bohong.

"Tidak ada yang lain?."

"Ti...tidak ada."

"Kau tidak pandai berbohong, Aya.", ucap Hali sarkastik.

"Jangan sok tau."

"Aku teman masa kecilmu."

"Ya terus kalau kau teman masa kecilku kenapa?."

"Aku tau semua sifatmu, kelakuanmu, kebiasaanmu."

"Okay, aku malas berdebat denganmu. Kita 8 tahun berpisah, setelah kita bertemu sepertinya kau tidak suka bertemu denganku.", Yaya melipat tangannya di depan dadanya.

"Jangan mengubah topik.", ucap Hali sarkastik.

"Aku tidak mengubah topik, aku hanya mengatakan faktanya."

"Tadi kita membahas Jihun bukan kita terpisah selama 8 tahun.", ucap Hali dengan nada menyindir.

"Ok aku minta maaf.", ujar Yaya mengalah.

"Apa yang kau katakan ke Jihun?.", Hali menyentuh dagu Yaya.

"Aku bilang aku meminta maaf, dan menjelaskan jika kita tidak pacaran.", Yaya menepis tangan Hali dari dagunya.

"Kau tidak mengatakan hal-hal bodoh seperti aku menyukai Jihun kan?."

'SKAK'

Mata Yaya terbelalak kaget.

"Ten..tu saja ti..tidak. Sudahlah kita ke kelas saja.", jawab Yaya terbata-bata.

Hali menahan tangan Yaya, lalu Hali menarik Yaya ke pelukannya. Karena tinggi Yaya sekitar sebahu Hali, Hali membungkukkan badannya agar bisa memeluk Yaya.

"Hali, ka..kau kenapa?."

"A..-a..ku pu..lang Yaya, aku pulang."

Yaya terkejut, lalu Yaya tersenyum tipis

"Hahaha, aku tahu itu, selamat datang Hali.", Yaya tertawa hambar sambil membalas pelukan Hali.

"Maaf jika aku membuatmu menunggu terlalu lama."

"Hei tadi kita membahas tentang Jihun kenapa kau meminta maaf?.", tanya Yaya kebingungan.

"Ketika kita saling tahu, jika kita teman semasa kecil, waktu itu kita langsung bertengkar, aku belum mengatakan 'aku pulang' kepadamu."

"Aku tahu itu, maafkan aku Hali karena aku kita jadi bertengkar."

"Aku merindukanmu.", ucap Hali lirih.

Hati Yaya terasa bergetar ketika mendengar ucapan Hali.

"Aku jauh merindukanmu, sangat merindukanmu.", jawab Yaya yang sudah mengeluarkan air matanya.

"Terima kasih telah percaya padaku, dan menungguku."

"Aku yakin kau akan menepati janjimu."

"Aku bersyukur, waktu itu kita bertabrakan, sangat bersyukur."

"Kumohon jangan pergi lagi, aku tidak mau kita terpisah lagi, aku ingin kita tetap seperti ini, berjanjilah padaku.", Yaya mengeratkan pelukannya

"Iya aku janji."

Fang yang melihat adegan peluk-pelukan antara Hali dan Yaya di atap sekolah merasa hatinya sakit, tapi Fang berusaha ikhlas demi Yaya.

"Kau bahagia, aku juga akan berusaha bahagia, Yaya.", gumam Fang sedih.

~o0o~

Taufan sedang mengelus-elus kepala Ying, sedangkan Ying menyenderkan kepalanya dibahu Taufan.

"Ying."

"Hm?."

"Aya-chan mana?, tumbenan gak sama kau."

"Cie nyariin.", sindir Ying

"Hei, aku hanya tanya saja."

"Entah, mungkin ke kantin.", jawab Ying bohong.

"Ngomong-ngomong, Yaya dan kak Hali makin lama makin dekat ya."

"Yaiyalah, mereka dekat karena teman masa kecil.", Ying langsung menutup mulutnya.

"Ugh, keceplosan.", batin Ying kesal.

"Apa?, kak Hali sama Aya-chan teman masa kecil?."

Ying mengangguk.

"AYA-CHAN.", Taufan keluar dari kelas Ying untuk mencari Yaya.

"Aku lupa, jika Yaya teman masa kecil Hali, berarti sama saja teman masa kecil Taufan dan Gempa.", Ying memijit pelipisnya pelan.

Taufan pergi ke kelasnya Gempa.

"GEMPAAAA."

"Eh?, ada apa kak Taufan?."

"Aya-chan, Aya-chan, teman masa kecil kita."

"Maksudmu apaan sih?."

"Yaya anak XI-B itu Aya-chan teman masa kecil kita Gem."

"Yaya anak XI-B itu Aya-chan teman masa kecil kita?.", Gempa mengulang perkataan Taufan.

Taufan mengangguk-angguk sangat cepat.

"Oh gitu doang. APAAA?, beneran?."

"Beneran Gem."

"Ayo kita ke Aya.", Gempa menarik tangan Taufan.

"Kenapa kau jadi selebay ini Gempa?."

Taufan dan Gempa mencari-cari Yaya, mereka akhirnya bertemu Yaya di koridor sekolah.

"AYA-CHAN/AYA.", teriak Taufan dan Gempa bersamaan.

"Ada ap...", ucapan Yaya belum selesai, tiba-tiba Taufan dan Gempa memeluk Yaya.

"Hei hei ini... ada apa?."

"Kenapa kau tidak bilang, kalau kita itu teman sejak kecil.", ucap Taufan sedih

"Aku hanya... hanya takut salah orang saja Taufan."

"Aya baik-baik sajakan selama di Malaysia?.", tanya Gempa khawatir.

"Aku baik Gempa, sangat baik."

"Ok acara peluk-pelukannya selesai.", perintah Hali sarkastik.

"Bilang saja iri, tidak bisa berpelukan dengan Aya-chan.", goda Taufan.

Seketika wajah Hali dan Yaya memerah bersamaan.

"Mengapa muka kalian seketika memerah bersamaan?.", tanya Taufan jahil.

"Berisik.", Hali menarik tangan Yaya dan kembali ke kelasnya.

"Malah pergi.", ucap Taufan kesal.

"Padahal aku rindu Aya, kau malah membuat mereka pergikan. Bodoh.", Gempa menempeleng kepala sang kakak kedua.

"Kurang ajar jadi adik.", ucap Taufan mengelus kepalanya.

"Beda 45 detik ini lahirnya."

"Sama aja kau itu adikku, bego."

"Terserah.", ucap Gempa mengalah.

"Hali, kan aku masih ingin mengobrol dengan Taufan dan Gempa."

"Kapan-kapan saja.", ucap Hali dingin.

Yaya dan Hali sampai ke kelas, Jihun menatap tajam ke arah Yaya. Hali dan Yaya berjalan menuju bangkunya.

"Yaya, nanti pulang boleh tidak kita bicara 4 mata di atap sekolah?.", ucap Jihun lembut dengan senyuman palsunya.

"Boleh kok."

"Hati-hati Yaya, diapa-apain lho nanti.", bisik Ying jahil.

"Jangan mengejek.", Yaya menatap tajam ke Ying.

"H

*Pulang Sekolah*

"Hali kau hari ini latihan karate?."

"Hari ini diliburkan dulu."

"Kau pulang saja duluan, aku masih ada urusan."

"Jihun?."

"Ini urusan cewek tau, kalau kau tahu kamu bakalan malu sendiri."

"Yayaya terserah."

Yaya meninggalkan Hali sendirian, Hali langsung mengikuti Yaya dari belakang.

"Ada apa Jihun?."

"Kamu apa-apaan sih Yaya."

"Ap..-apa maksudmu?."

"Gausah sok bego ya, kamu sendiri yang menawarkan, kamu bakalan bantu aku deketin Halilintar. Tapi apa?, kamu yang makin deket sama Hali."

"Wajar saja Jihun, aku teman semasa kecilnya, toh tidak masalahkan?."

"Udahlah gausah jadi sok malaikat, segala bantuin aku deket sama Halilintar. Lebih baik aku ngelakuin sendiri."

"Tapi kau sendiri yang minta dibantuin."

"Dan kau mengatakan jika Halilintar menyukaiku, tapi dia sangat cuek padaku."

"Mulai sekarang kau jauhi Halilintar.", Yaya menahan tangan Jihun

"Kumohon jangan Jihun."

"Lepas."

"Kumohon dia temanku dari kecil aku...aku tidak bisa menjauhi dia.", tangis Yaya pecah.

"Baiklah karena aku tidak tegaan, kau boleh dekat dengannya. Tapi kamu harus jadi pembantuku.", Jihun menepis tangan Yaya dan meninggalkan Yaya sendirian.

Yaya menangis terisak-isak.

Tiba-tiba Hali muncul dihadapannya.

"Cih, ini yang kau bilang urusan cewek?."

Yaya masih terisak-isak.

"Dan kau menawarkan diri untuk membantu Jihun agar bisa dekat denganku?."

"Ha...Hali dengarkan aku dulu, Hali."

"Dan kau membohongiku?, kau bilang tidak mengatakan hal bodoh ke Jihun, oh tidak, kau mengatakan hal tolol ternyata ke Jihun."

"Kumohon Hali dengarkan aku dulu, kau salah paham."

"Tidak ada yang kau harus jelaskan, Yaya Yah.", Hali langsung pergi dari hadapannya.

"Hali kumohon dengarkan aku dulu.", Yaya mengejar Hali.

Hali menyebrang jalan raya, dan Yaya masih terus mengejar Hali.

'TIIINNN'

Yaya langsung menoleh ke asal suara, Yaya masih terpaku dijalanan.

"Tuhan aku tidak bisa bergerak.", Yaya memejamkan matanya.

"AYA."

"BRRAAKKK CITTTT." (Ini suara orang ketabrak sama ngerem mendadak okay)

T

B

C

Buset dah ini mah kyk disinetron astagfirullah, maaf bgt, maaf, udah ga apdet selama seminggu, pas apdet ceritanya gaje begini dah. Maafkan Ayaa-chan T_T. Udah ketebak pasti siapa yg ketabrak, ga bisa bikin cerita yg sulit ditebak X"(

Yaudalah riviewsnya ya, karna riviews dari readers membuatku semangat melanjutkan ff ini.

see you di chapter 9~.