Ketemu lagi ama Ayaa-chan di ff ini. Mendingan baca dulu deh cerita ini baru basa-basi, cekidotzzz.

Chapter 9

Author pov

"Tuhan aku tidak bisa bergerak.", Yaya memejamkan matanya.

"AYA."

Hali mendorong Yaya, Yaya terjatuh ditrotoar. Dan Hali tertabrak hingga terpental.

"BRRAAKKK CITTTT."

"Awww sakit.", Yaya meringis kesakitan.

"Hali?.", Yaya terbelalak kaget melihat Hali bersimbah darah.

"Hali, Hali.", Yaya memukul pipi Hali pelan.

"Kumohon bangun Hali. Kumohon.", Air mata Yaya menetes dikepala Hali yang mengeluarkan darah.

"Kau seharusnya membiarkan aku tertabrak saja, bodoh.", Yaya mengelus pipi Hali lembut.

Orang-orang datang mengerumuni Hali dan Yaya. Orang yang menabrak Hali, berjalan menuju Yaya.

"Anda harus bertanggung jawab.", ucap Yaya lemah.

"Maaf, saya hanya bisa mengantar kalian ke rumah sakit. Sekali lagi maaf, saya harus buru-buru ke tempat yang saya tuju.

Orang-orang yang mengerumuni Hali, menggotong Hali ke mobil. Yaya menemani Hali di mobil, Yaya sangat bersalah, perasaan gelisah terus menghantui Yaya.

"Ini semua salahku, salahku. Coba saja dari awal aku tidak membohongimu, mungkin...-mungkin kau tidak terluka parah.", gumam Yaya terisak-isak.

"Setidaknya anda harus bertanggung jawab untuk biaya pengobatan teman saya."

"Maaf, saya lupa bawa dompet. Sungguh, saya benar-benar lupa bawa dompet."

Ketika sampai rumah sakit Sejahtera, Hali langsung dibawa ke ruang UGD.

"Maaf, anda harus menunggu diluar dulu."

"Kumohon suster aku harus..."

"Percayalah."

"Selamatkan teman saya."

Suster itu masuk ke ruang UGD

"Kenapa?...kenapa Hali menolongku, padahal aku sudah membohonginya dan kenapa bukan aku saja yang tertabrak? Hali bodoh.", Yaya menangis sejadi-jadinya.

"Aku... takut kehilanganmu, aku sangat ketakutan sekarang.", Yaya terisak-isak.

"Aya.", sapa Gempa lembut.

"Maaf, maafkan aku Gempa ini salahku. Hali tertabrak gara-gara aku, kumohon maafkan aku.", Yaya memeluk Gempa sangat erat.

"Bukan salahmu Aya, Hali mencoba melindungimu."

"Kau boleh memukulku, bahkan melarangku mendekati Hali lagi tidak apa. Aku pantas mendapatkannya Gempa."

"Ini kecelakaan Aya, ini kecelakaan. Jangan menyalahi dirimu sendiri.", Gempa mengelus kepala Yaya lembut.

"Maaf, maaf. Kumohon maafkan aku Gempa "

"Gempa, Aya.", Ying datang dengan Taufan.

"Bagaimana keadaan kak Hali, Aya?. Kenapa dia bisa kecelakaan?.", tanya Taufan khawatir.

"Maafkan aku ini salahku, tampar aku saja sekarang Taufan. Aku sangat bodoh.", Yaya memegang tangan Taufan dan menaruh dipipinya.

"Yaya ini bukan salahmu.", ucap Ying menguatkan.

"Tampar aku sekarang Taufan.", air mata Yaya menetes ditangan Taufan.

"Aya sudah ini bukan salahmu.", ucap Gempa lembut.

Taufan mengelus pipi Yaya lembut.

"Aku tahu pasti kak Hali melindungimu.

"Jangan terlalu baik denganku Taufan, Gempa. Aku... aku hampir membunuh kakakmu.", Ying langsung memeluk Yaya

"Yaya ini kecelakaan, kau harus tenang.", bisik Ying pelan.

"Seharusnya yang ada diruangan UGD itu aku bukan Hali."

"Yaya, jangan menyalahkan dirimu sendiri.", ucap Ying pilu.

"Aku ketakutan melihat kepala Hali mengeluarkan darah. Aku takut dia pergi Ying, aku takut sekali.", bisik Yaya yang masih terisak-isak.

"Aku tahu perasaanmu sekarang Yaya.", Ying mengelus-elus punggung Yaya.

Dokter keluar dari ruangan UGD

"Dokter bagaimana keadaan teman saya?.", ucap Yaya sambil menggoyang-goyangkan tangan dokter.

"Keadaan teman anda mungkin kurang baik. Dia mengalami gegar otak ringan, jika dia sudah bangun jangan terlalu bergerak. Anda boleh menjenguknya sekarang, saya permisi dulu."

"Yaya, Ying kalian masuk saja duluan aku, dan Taufan mengurusi biaya rumah sakit.", ucap Gempa mengecek dompetnya.

"Gempa aku saja yang membiayainya, aku yang menyebabkan dia disini.", ucap Yaya lemah.

"Tidak apa, sekarang kau masuk saja duluan.", ujar Taufan.

"Yaya aku mau membeli makanan dulu ya. Kan kamu belum makan kan?."

Yaya mengangguk.

"Ya sudah kau masuk duluan saja.", Ying, Gempa, Taufan meninggalkan Yaya sendirian.

Yaya memasuki ruangan Hali. Yaya sangat merasa bersalah, melihat Hali terbaring lemah.

"Maaf, aku...-aku membuat terbaring lemah tak sadarkan diri, Hali.", Yaya terisak-isak.

"Kau tahu aku ketakutan sekali, aku hampir membuatmu mati.", Yaya memegang tangan Hali dan menaruh dipipinya.

"Kumohon bangun, kau berjanji padakukan, kau akan tetap bersamaku, tidak akan pergi lagi. Kumohon buka matamu, Hali.", Yaya menangis sejadi-jadinya.

"Hali maafkan aku, maaf. Aku telah membohongimu, aku telah membuatmu marah, aku hampir membuatmu mati. Kumohon maafkan aku."

Gempa, Taufan, dan Ying melihat Yaya yang menangis dibalik pintu.

"Astaga, Yaya tulus sekali.", gumam Taufan takjub sambil menangis.

"Yaiyalah Yaya suka sama-... ralat mencintai Hali. Jadinya begitu..", gumam Ying yang hampir mengeluarkan air matanya.

"Kapan kau setulus Aya-chan, Ying?.", gumam Taufan sedih.

"Dasar tidak tahu diri.", Ying menjitak kepala Taufan

"Sakit~."

"Yaya tidak pernah berubah.", batin Gempa geli.

"Sungguh Hali aku tidak ingin kehilanganmu. Aku...-aku sangat mencintaimu, aku...-aku tidak rela kau bersama Jihun, aku masih ingin bersamamu."

Tiba-tiba tangan Hali bergerak dan mengelus pipi Yaya lemah.

"Ha..-Hali?."

"...", Hali tidak menjawab, Hali masih terus mengelus pipi Yaya.

"Kau sadar sangat cepat ya, padahal tadi kau hampir mati.", Yaya menyeka air matanya.

"Aku juga mencintaimu, Aya."

Yaya terbelalak kaget.

"Omaigot, kak Hali sweet banget~.", gumam Taufan heboh.

"Selamat Yaya, perasaanmu terbalaskan.", batin Ying lega.

"Kapan aku pacaran?.", gumam Gempa yang bernasib ngenes.

"Tolong jangan paksa aku menyukai Jihun, tolong. Aku hanya mencintaimu seorang."

Yaya merintikkan air matanya, lalu Yaya segera menyekanya.

"Kumohon jangan membalas perasaanku hanya karena kasihan."

"Apa aku mengucapkan 'aku mencintaimu juga', dengan nada kasihan?."

"Ta..-tapi aku hampir membunuhmu, kau tak pantas mencin-..", jari telujuk Hali menyentuh bibir Yaya.

"Bisakah kau tidak menyalahkan dirimu terus?."

"Terima kasih telah menyelamatkanku. Seharusnya kau biarkan aku saja yang tertabrak."

"Aku tidak bisa tinggal diam ketika orang yang kucintai hampir tertabrak."

"Kenapa aku bisa mencintai orang sepertimu, hah?", Yaya tak kuat menahan tangisnya.

"Karena kau bodoh."

Yaya hanya bisa menangis bahagia.

"Kak Hali.", ucap Taufan.

"Kak Hali tidak apa?.", tanya Gempa

"Tidak apa."

Hali berusaha mengubah posisinya menjadi duduk dibantu Yaya.

"Kak Hali, Kak Hali gentle banget~. Nyelametin Aya-chan yang hampir ketabrak, mempertaruhkan nyawa demi Aya-chan.", ucap Taufan menggoda.

"Bawel.", Hali memukul perut Taufan.

"Ugh, abis kecelakaan bukannya lemah ga ada kekuatan, kak Hali malah kekuatannya nambah.", Taufan memegangi perutnya.

Yaya tersenyum tipis melihat kelakuan Hali dan Taufan.

"Hei Yaya.", bisik Ying.

"Hm?."

"Hali membalas cintamu ya~."

"Tau darimana kau?.", wajah Yaya memerah.

"Kau gak perlu tau.", Ying tersenyum geli.

"Awas kau ya."

"Astaga, aku harus kerja kelompok hari ini. Mendadak banget, baru dikasih tau sekarang.", Gempa mengecek jam tangannya.

"Yauda sih kerja kelompok, tinggal kerja kelompok.", ucap Hali sarkastik.

"Niatku ijin dulu ke kak Hali."

"Hush, hush sana~.", Taufan mengikuti gaya ala-ala Syahrimin(?), artis tetangga sebelah.

Gempa memasang muka datar ke Taufan, lalu pergi kerja kelompok.

"Taufan Taufan.", bisik Ying pelan.

"What?."

"Kita kencan aja yuk, kita biarkan mereka berdua disini. Berikan mereka waktu buat mesra-mesraan.", bisik Ying sambil menahan tawanya.

"Benar juga.", gumam Taufan semangat.

"Ah~ Yaya. Aku sebenarnya hari ini ada jadwal kencan sama Taufan, kamu gak apa-apakan disini sama Hali?.", ucap Ying pura-pura khawatir.

"Eh, tidak apa-apa."

"Hati-hati kak Hali agresif lho~."

Hali langsung memukul perut Taufan.

"Aduh sakit tau.", ringis Taufan.

"Ayo Taufan, nanti aku sekalian belikan buah untuk Hali.", ujar Ying.

Taufan dan Ying meninggalkan Yaya dan Hali berdua.

Diantara mereka berdua hanya keheningan yang terjadi.

"Ugh, kok jadi canggung gini. Kayaknya tadi aku leluasa berbicara dengan Hali.", batin Yaya sambil memegang lehernya.

"Aku tidak suka suasana ini.", batin Hali kesal.

"Ka-..ka..yaknya kurang kalau gak ada buahkan? Aku harus beli buah dulu ya. Dan kau jangan terlalu banyak berge-...", ucap Yaya gugup.

Hali menarik tangan Yaya lalu...

Lalu TBC:vMaaf banget apdetnya lama, sabtu yang lalu aku lomba paskibra, alhamdulillah juara 3, trus dari hari senin Ayaa-chan kurang sehat, kemarin kondisi Ayaa-chan tambah parah X(. Ayaa-chan aja bolos sekolah :'3, maap jadi curcol gini XD.

Yaudahlah cape ngetik:v, riviewsnya ya para readers. Karena riviews kalian membuatku semangat melanjutkan ff ini.

See you di chap 10~