Haunted Chapter 2 by Izumi Akita Suzuki
Sumarry : Kegagalan akan menyelamatkan seseorang telah membuat Donatello kehilangan dirinya sendiri dan membuatnya merasa bahwa ia masih terjebak dalam 'mimpi buruk' yang ia alami beberapa tahun yang lalu.
Sets in 2k3 verse.
TMNT belongs to Peter Laird & Kevin Eastman, 2k3 verse belongs to 4Kids Entertainment and as always I only have the storyline of the fic
Warning for Minor Character Death and Schizophrenic!Donatello
Donatello's PoV
Aku masih menggelengkan kepalaku… Aku benar – benar masih tak mempercayai apa yang telah kulihat tak mungkin bahwa Leonardo dari dimensi mengerikan itu masih hidup. Aku pasti terjebak di dalam dimensi itu lagi dan dipermainkan oleh arwah saudara – saudaraku karena aku tahu mereka pasti membenciku karena kematian mereka adalah salahku. Salah dari strategi yang tak terlalu matang yang kubuat untuk menghancurkan Shredder. Kalau mereka menghantuiku itu murni salahku karena aku telah gagal melindungi mereka semua. Aku menghela nafasku berharap aku segera bisa menemukan jalan keluar dari mimpi burukku ini.
Tak lama kemudian, aku mendengar suara ketukan di pintu dan seketika itu juga aku diam terpaku. Aku merasa takut untuk melihat sosok yang akan menemuiku. Bagaimana jika itu Master Splinter? Aku sama sekali belum melihatnya di mimpi burukku dan justru hal itulah yang membuatku takut. Bagaimana jika keadaannya benar – benar lebih parah daripada apa yang kubayangkan? Bagaimana jika beberapa bulunya koyak di tengah penampilannya yang pasti sudah tua nan tak berdaya itu? Lamunanku pecah karena… yang datang kepadaku benar – benar Master Splinter.
"My son."
Suara itu masih terdengar sama halus dan lembutnya dengan Master Splinter di dimensiku sendiri. Aku tersenyum dan menghela nafas lega. Namun, senyumku segera sirna begitu yang kudapati di depanku ialah seekor tikus tua dengan luka dimana – mana. Bahkan kedua matanya tertutup oleh sebuah luka goresan di masing – masing bagian kelopak. Sebagaian bulunya benar – benar koyak terutama di bagian tangan menyisakan daging berwarna merah muda yang tampak mengerikan. Rasanya aku ingin menangis, ini semua benar – benar salahku.
"Donatello, apa yang salah denganmu?"
Aku memberanikan diriku untuk menatapnya. Ini lebih buruk dari mimpi yang sebelumnya. Aku kemudian menggelengkan kepalaku mencoba menyakinkan diriku sendiri bahwa ini semua hanyalah ilusi belaka. Aku menatap mata yang tak terbuka itu dalam – dalam…
"Kau sudah mati! Mikey bilang begitu!"
Aku meneriakinya berharap arwah itu segera pergi dari hadapan mataku. Namun, nyatanya tidak arwah itu masih berdiri tegap di depanku. Dengan seringai terukir jelas di bibirnya seolah seringai itu mengatakan bahwa aku pantas menerima semua ini bagaimanapun kematiannya juga merupakan salah satu bagian dari kesalahanku. Aku kembali berusaha melawan apa yang kulihat. Jikalau ini tidak nyata maka sedikit melukai tak apa bukan? Aku mendorong tubuh tikus tua nan rentan itu berharap cara klasik di film horror berhasil yaitu sebuah arwah akan menghilang secara tiba – tiba jika kau berusaha menyentuhnya. Namun, aku salah arwah itu justru tersungkur dan segera dipegangi oleh arwah Leonardo yang nampak menatapku bengis, aku bisa tahu ia marah walaupun matanya tersembunyi di balik kacamata hitamnya.
Normal PoV
Leonardo segera berlari dari kamar Donatello menuju ke tempat Master Splinter yang sedang bermeditasi. Ia tahu mungkin ia akan menganggu kegiatan rutin gurunya tersebut, tapi masalah Donatello terlihat lebih penting setidaknya mungkin Master Splinter tahu apa solusi yang bisa dilakukan.
"Masuklah, Leonardo."
Leonardo duduk bersila di hadapan sang guru sembari menghela nafas. Bagaimanapun ia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan tentang keadaan Donatello pada Master Splinter. Leonardo hanya mengetahui bahwa setelah bangun sejak peristiwa kemarin Donatello bersikap aneh. Mungkinkah ini semua hanya pengaruh trauma yang dialami Donatello setelah gagal menyelamatkan Tyler? Well, itu memang mungkin tapi kenapa Donatello mengatakan bahwa ia telah mati dibunuh oleh Karai? Itu benar – benar tak masuk akal!
"Sensei, aku mau bicara mengenai Donnie."
Leonardo segera mengutarakan tujuan utamanya pada gurunya terebut. Master Splinter menatap murid tertuanya terebut sembari mengedikan matanya bingung. Ia kemudian menghela nafasnya.
'Apa yang terjadi dengan Donatello?"
"Aku sendiri tak tau sensei, saat aku datang untuk memastikan keadaannya tiba – tiba ia beteriak dan mengatakan bahwa aku telah dibunuh oleh Karai.'
Master Splinter membelakkan matanya mendengar perkataan Leonardo, pasti ada hal yang salah dengan Donatello karena insting keayahan yang dimiliki Master Splinter jjelas saja ia kuatir pada keadaan salah satu anaknya tersebut.
"Bawa aku padanya."
Menuruti keinginan sang ayah Leonardo segera beranjak dari tempat sakral milik Master Splinter tersebut mereka berdua segera menuju ke ruangan dimana Donatello berada.
'My son."
Master Splinter berusaha menyadarkan sosok Donatello yang nampak sedang melamun. Namun, Master Splinter justru merasa kaget ketika respon yang ia dapatkan adalah belakan mata dari sang jenius. Solah – olah Donatello merasakan bahwa kehadiran dirinya adalah sesuatu yang tak masuk akal? Tapi, bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah dia dan Donatello masih bertemu sebelum peristiwa menyelamatkan Tyler yang gagal itu?
"Donatello, apa yang salah denganmu?"
Master Splinter berusaha menanyai Donatello yang sepertinya masih dalam keadaan kaget dan bingung. Jujur, ia sendiri tak tau bagaimana caranya untuk menghadapi anaknya yang nampak bingung dan setengah depresi? Bahkan mata Donatello sejak tadi sama sekali tak bertemu dengan Master Splinter ketika Master Splinter berusaha menatapnya Donatello terus menghindar. Tetapi ketika sosok Donatello menatap mata Master Splinter… respon yang diberikan sungguh jauh di luar harapan…
"Kau sudah mati! Mikey bilang begitu!"
Master Splinter membelakkan mata mendengar kata – kata itu. Michelangelo, anak bungsunya mengatakan bahwa ia mati? Apakah sang jokester tak memiliki candaan lain yang lebih bermutu dan tak menyudutkannya. Namun Leonardo, menepuk bahu Master Splinter dan menyatakan bahwa yang salah disini adalah sosok Donatello karena sesuatu telah terjadi padanya. Namun, sebelum Leonardo menjelaskan semuanya secara detail tiba – tiba Donatello mendorong Master Splinter yang berdiri di depannya. Untungnya Leonardo dengan sigap segera memegangi gurunya tersebut sebelum Master Splinter benar – benar jatuh tersungkur karena dorongan Donatello yang terhitung cukup kuat. Leonardo menatap Donatello dengan benar – benar tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya sendiri… Donatello melakukan tindakan anarkis pada guru sekaligus ayah mereka sendiri. Pasti benar – benar ada sesuatu yang menganggu pikiran adik tertuanya tersebut.
Sementara itu Michelangelo dan Raphael yang sedang berebut remote control mendengar nama Mikey diteriakkan oleh Donatello dalam sebuah kalimat yang bnar – benar tak mengenakkan.
'Kau sudah mati! Mikey bilang gitu!'
Hal itu benar – benar membuat sang jokester berpikir keras bagaimanapun ia tak pernah membiarkan kematian siapapun untuk dijadikan candaaan karena hal itu benar – benar bukan bahan candaan yang bagus.
"Kenapa dengan Donnie-boy? Kenapa dia berteriak begitu?" Raphael menangkat suaranya secara menatap adiknya yang nampak bingung.
"Hey, Mikey. Aku tahu kau tak akan bercanda kalau Leo ataupun Masta Splinta telah menningal."
Raphael masih berusaha menenangkan Michelangelo agar dia kembali kea lam sadarnya. Tak lama kemudian Mikey menghela nafasnya, dan menatap Raphael.
"Well, dan aku rasa kita tak perlu memberitahunya soal berita yang muncul di layar."
"Wha'?"
Raphael segera mengalihkan pandangannya ke televisi dan menemukan bahwa ada pemberitaan soal ditangkapnya para anggota dari mob yang ditangkap karena kasus penganiyayan. Dimana ditunjukkan bahwa sang korban adalah Tyler yang sudah dalam keadaan sekarat. Raphael menggertakan giginya merasa bahwa ia harus menghabisi para mob tersebut. Ia tak akan pernah memaafkan anggota mob itu.
"I gotta kick their butt!"
"Raph… Kita punya masalah yang lebih serius soal Donnie."
Michelangelo menghel nafasnya karena ia sendiri bingung dengan keadaan sosok jenius tersebut. Raphael akhirnya menghela nafasnya sadar bahwa adiknya benar dalam perkara ini. Ia kemudian menatap Michelangelo.
"Ingin memastikan kondisinya?"
"Tentu saja."
Raphael dan Michelangelopun mengangguk dan segera menuju ke tempat Donatello. Alangkah terkejutnya mereka ketika mereka menemui Master Splinter dan Leonardo yang baru saja keluar dari tempat Donatello. Michelangelo segera mendekati Master Splinter.
"Sensei, aku sama sekali tak bercanda soal kematianmu maupun Leo, oke? Aku bahkan tak tahu kenapa Donnie bisa bicara begitu."
"Tenanglah, anakku. Aku sudah mendengar penjelasannya dari Leonardo. Kalian ingin memastikan keadaan Donatello?"
Michelangelo dan Raphael menangguk secara serentak berharap diijinkan untuk melihat sert memastikan keadaan kakak mereka. Leonardo menghela nafas dan menatap dua adik termudanya itu.
"Hati – hati dan jangan terkejut jika Donnie mengatakan bahwa kalian sudah mati."
"Braniac, tak akan pernah mengatakan hal seperti itu!" Raphael tak terima dengan pernyataan Leonardo segera membantah perkataan kakak tertuanya tersebut.
"Nyatanya begitu, Raph! Dia bahkan menyatakan bahwa Master Splinter sudah tewas!" Leonardo membalas perkataan dari sang rebel.
"Cih! Aku tak mau mendengarkanmu wahai fearless leader. Aku tahu bahwa Donnie-boy tak akan mengatakan bahwa aku mati!'
"Terserah!"
Michelangelo terdiam menyaksikan perdebatan antara Leonardo dan Raphael. Ia menghela nafas dan memilih mendiamkan mereka dan ia memutuskan untuk memasuki ruangan dimana Donatello berada.
Donatello's PoV
Setelah Leonardo dan Master Splinter pergi dari hadapanku aku merasa agak tenang. Bagaimanapun akhirnya aku tidak dipaksa untuk menyaksikan pemandangan yang menorehkan luka lagi. Namun, belum lama aku tenang dengan alam pikiranku sendiri. Aku mendengar suara teriak – teriakan dari Leonardo dan Raphael. Ini sama mengerikannya dengan mimpi burukku itu… Aku tahu pertengkaran antara Leonardo dan Raphael adalah hal yang bisa dibilang cukup wajar namun jika intensitas teriaknya semengerikan ini pasti aku benar – benar ada di dimensi terkutuk itu. Rasanya aku benar – benar ingin tertawa bak seorang manusia yang kehilangan kewarasannya karena ironi yang tersaji di depan mataku ini rasanya benar – benar bisa membuatku kehilangan kewarasan.
Namun, pintu menuju ke ruanganku terbuka dengan perlahan. Kali ini siapa yang datang? Casey? Raph? Atau Mikey? Aku percaya yang mendatangiku hanyalah hantu dari dimensi itu dan tentu saja kehadiran April jelas tak mungkin karena April masih hidup dan tentu saja kalaupun ia sudah mati ia tak akan ikut menyalahkan Donatello bukan? Ia yang telah memberi kembali harapan pada sosok itu.
"Donnie?"
Suara itu… suara berat yang jauh dari sebagaimana suara itu seharusnya terdengar. Ini suara Michelangelo, tetapi bukan suara yang penuh keriangan. Suara yang menahan bermacam perih dan pilu dalam gelap. Ia menggeleng, ia tak mau mengusir sosok itu dan berakhir pada kegagalan lagi.
"PERGI DARIKU! AKU TAHU AKU YANG SALAH! KALIAN MATI KARENAKU, OKE? KALAU KALIAN MAU TERUS HANTUI AKU! HANTUI SAJA! AKU SUDAH SIAP MENDERITA ATAS KESALAHANKU!"
Michelangelo hanya diam terpaku menatapku seolah ia heran dengan apa yang aku katakan. Apakah dia sudah tahu dari awal dan dia tahu bahwa usahaku ini akan sia – sia? Namun ia hanya pergi begitu saja dengan ekspresi sinis dan sama sekali tak berminat menanggapiku. Sial, aku benar – benar tak tahu hal apakah yang harus lakukan di tempat ini. Bagaimana caranya agar mereka tak lagi menghantuiku? Kenapa mereka tak membiarkan aku bebas dan kembali ke tempatku sendiri? Oke aku tahu mereka menghantuiku karena kesalahanku tapi aku tak tau bila akan sepahit dan sepedih ini.
TBC
A/N ; Yak! Makin muter – muter tapi setidaknya masih gak begitu muter karena apa yang diomongiin orang lain sama yang didengeriin Don masih sama tar ke depannya bakalan ikut beda dan makin muter – muter lagi tapi Ichan berjanji buat tetep kosisten dalam mindah – mindah PoV agar reader bisa ngelihat apa kenyataannya dan apa yang ada di kepala Donnie. Udah ah kalo ada yang lewat review ya! X"D
