Haunted Chapter 4 by Izumi Akita Suzuku

Sumarry : Kegagalan akan menyelamatkan seseorang telah membuat Donatello kehilangan dirinya sendiri dan membuatnya merasa bahwa ia masih terjebak dalam 'mimpi buruk' yang ia alami beberapa tahun yang lalu.

Sets in 2k3 verse.

TMNT belongs to Peter Laird & Kevin Eastman, 2k3 verse belongs to 4Kids Entertainment and as always I only have the storyline of the fic

Warning for Minor Character Death and Schizophrenic!Donatello


Dinding yang membatasi kamar Donatello dengan luar ruangan itu bukanlah sebuah dinding yang cukup tebal, sehingga semua pembicaraan saudara – saudaranya bisa terdengar jelas di telinganya. Sayangnya, saudara – saudaranya kelihatannya tidak memperhatikan fakta ini. Mereka tak memperhatikan fakta bahwa Donatello belum sehat sehingga sang jenius bisa salah mengartikan pembicaraan mereka.

Master Splinter kembali datang kepada ketiga anaknya, berusaha menanyakan soal keadaan Donatello. Sayangnya, jawaban yang ia dapatkan masih sangat mengecewakan. Dimana Leonardo, Raphael dan Michelangelo masih mengatakan bahwa keadaan Donatello sama sekali belum membaik. Suasana disana hening hingga sang fearless leader akhirnya mulai angkat bicara.

"Apa yang bisa kita lakukan untuk menolongnya, sensei?"

"Aku belum tahu, my son. Mungkin kita harus membiarkannya terlebih dahulu."

"Sensei! Apa kau yakin kita tak perlu melakukan sesuatu sama sekali? Maksudku… Donnie bahkan belum makan sejak saat itu."

Ucapan Michelangelo teralun dengan nada penuh kekhawatiran. Well, disamping sifat jahil dan kekanakannya itu Mikey merupakan seorang yang diibaratkan sebagai hati dalam keluarga ini. Perasaannya bekerja di atas logikanya.

"Goofball itu benar sensei. Donnie harusnya membutuhkan sesuatu untuk dimakan."

Raphael menyatakan persetujuan pada pendapat sang adik, yang nampaknya juga diterima oleh Master Splinter yang mengangguk. Ketiga bersaudara itu saling pandang ketika Master Splinter menyuruh mereka untuk mengikuti dirinya tetapi akhirnya mereka memang mengikuti langkah dari sang ayah angkat.

Donatello's PoV

"Apa yang harus kita lakukan untuk menolongnya, sensei?"

Ucapan itu menyapa telingaku, suara Leonardo yang dengan jelas sangat aku kenali itu membuatku merasakan suatu perasaan yang bergejolak tak karuan di dalam batinku. Sialan, kalau memang mereka mau menolongku bukankah seharusnya mereka pergi dan mengembalikanku ke tempat dimana aku berasal? DI tempat dimana para saudaraku –yang asli- membutuhkanku. Tanganku terkepal ketika mendengar ucapan itu, aku tak tahu mengapa tetapi emosi memuncak di kepalaku. Aku benar – benar merasa bahwa diriku telah menjadi mainan mereka. Apakah dendam yang mereka miliki kepadaku terlalu besar hingga mereka melakukan semua ini? Kembali sebuah suara menyapa telingaku dimana diriku dibuat semakin terhenyak karena ucapan itu berasal dari Master Splinter.

"Aku belum tahu, my son. Mungkin kita harus membiarkannya terlebih dahulu."

Aku merasakan sebuah perasaan sakit di dalam dadaku. Sebegitu bersalahkah diriku ini hingga Master Splinter hanya akan membiarkanku terlebih dahulu? Bukannya seharusnya dia berusaha mencari solusi untukku? Aku tahu akulah satu – satunya yang tak melihat kematiannya, aku tahu benar bahwa aku satu – satunya yang tak sempat mengucapkan kata selamat tinggal dan perpisahan dalam dunia ini. Namun, Aku tahu bahwa Master Splinter akan selalu memaafkanku ketika mungkin saudaraku yang lain tak dapat memaafkanku.

Apakah artinya aku harus lari dari semua ini? Haruskan aku mencari jalan keluarku sendiri dari tempat ini? Apakah benar – benar aku sebegitu berdosanya sehingga tak ada satupun makhluk yang mau menerima eksistensiku di dunia ini?

Aku selalu mencoba semua yang kubisa untuk membantu keluargaku, untuk melindungi mereka. Aku tak pernah mau kehilangan mereka disisiku. Sayangnya, sekalipun aku sudah mencoba yang terbaik aku tetap gagal meraih mereka. Aku gagal untuk membawa keutuhan mereka lagi dan aku juga gagal dalam mengembalikan mereka seperti bagaimana mereka seharusnya sebelum segela kekelaman terjadi di dunia ini. Kini, aku terjebak disini dengan segala penyesalan yang jelas terukir di dalam batinku.

Aku masih bisa mendengar suara Mikey pada saat pertempuran terakhir. Aku masih bisa mendengar bagaimana ia memanggil namaku sebelum ia tergeletak dan tewas begitu saja. Sialan, aku merasa benar benar harus bisa menemukan jalan keluarku dari dunia ini. Aku tak ma uterus terjebak dalam rasa bersalahku sendiri.

Saudara – saudaraku dan bahkan ayahku sendiri telah menjadi ketakutanku yang paling besar sekarang. Setidaknya mereka ketakutan terbesarku di dimensi ini. Mereka sudah tewas dan kini mereka kembali ke hadapanku hanya untuk mengingatkanku akan kesalahan terbesarku. Mereka mengingatkanku bahwa aku –tanpa sengaja- bertanggungjawab atas kematian mereka. Hidup atau mati, aku harus menemukan jalan keluarku dari sini sekarang juga.

Dengan segera aku meraih bo staff yang terletak di samping tempat tidurku. Aku menyakinkan diriku sendiri bahwa aku harus bisa melawan mereka. Toh, mereka bukan saudaraku yang dari dimensiku sendiri. Aku langsung melangkahkan kakiku untuk segera keluar dari tempat ini, untuk segera terbebas dari segala mimpi buruk yang telah terus menerus aku saksikan akhir – akhir ini. Dugaanku memang benar, aku tak bisa keluar dari sini begitu saja karena aku melihat saudara – saudaraku bahkan, sensei berusaha menghadangi jalanku.

Normal's PoV

Ketiga saudara Donatello berserta Master Splinter yang merasakan bahwa Donatello bertingkah dengan teramat aneh akhirnya memutuskan untuk mengawasi tindakan dari sang anak kedua. Sang kura – kura dengan penutup wajah berwarna ungu tersebut akhirnya berjumpa dengan mereka, dan kini sebuah bo staff tengah ada di dalam genggamnya. Entah mengapa, secara brutal Donatello bergerak untuk melawan saudara – saudaranya sendiri.

"DONNIE! APA YANG KAU LAKUKAN?"

Teriakan dari Michelangelo membuat Donatello malah semakin menyerbu adik bungsunya tersebut dengan kekuatan ekstra, Master Splinter akhirnya dengan terpaksa melakukan serangan untuk mencegah Donatello melukai sosok Mikey.

"Lepaskan aku! Aku ingin pulang!"

Teriakan dari Donatello sesaat itu juga membuat ketiga saudaranya serta Master Splinter memasang wajah terkejut. Ingin pulang? Apakah Donatello selama ini menganggap bahwa ia sedang tersesat? Di tengah kebingungan yang menimpa seluruh anggota keluarga, Donatello berhasil meloloskan diri dari temapt mereka tinggal, dan saat itu pula seluruh keluarganya tidak percaya bahwa Donatello telah kabur dari markas mereka.

"Sensei, apakah kita perlu mengejar Donnie?"

Pertanyaan terluncur dari sang anak sulung dan hanya dianggapi gelengan oleh Master Splinter. Bagaimanapun guru mereka tersebut tahu bahwa sang jenius sedang dalam keadaan tidak stabil, dan apabila dia dikejar juga akan membuahkan hasil yang percuma karena Donatello justru akan menyerang mereka.

"No way, sensei! Kita tak bisa membiarkan Donatello yang dalam keadaan begitu!"

Terdengar suara protesan meluncur dari sosok Raphael yang dianggapi oleh anggukan dari Michelangelo, mereka sama sekali tak mau kakak kedua mereka tertimpa hal – hal buruk. Helaan nafas lolos dari sang guru, berusaha mengajak ketiga muridnya yang tersisa untuk mendiskusikan perihal Donatello yang berhasil kabur dari markas mereka.

"Aku bebas. Aku bebas."

Tawa bak orang sinting seketika meluncur dari Donatello, sang kura – kura jenius tersebut merasa bahwa akhirnya dia berhasil lari dari kejaran keluarganya yang berada dari mimpi buruknya tersebut. Helaan nafas lega terlintas begitu saja, tak lama setelah itu sebuah tawa bagaikan seorang kesetan kembali terdengar. Donatello benar – benar memperoleh kepuasannya akibat berhasil berlari dari keluarganya sendiri.

Donatello's PoV

Kini aku sudah bebas dari mimpi burukku sendiri, dan kini aku harus segera menemukan cara untuk kembali pulang. Aku sudah lelah melihat segala kesalahanku di sini. Dan yang paling membuatku menyesal ialah aku sama sekali tak bisa memperbaiki kesalahanku di sini. Helaan nafas kembali meluncur dariku, dan tanpa kusadari aku sudah berhenti melangkah dan aku merasa bahwa ada orang lain yang mengikuti. No way, jangan bilang yang mengikutiku adalah keluargaku sendiri yang berhendak kembali mengurungku hanya sekedar untuk menuntut sebuah balasan. Entah di sengaja atau tidak sebuah tawa lepas dari diriku sebelum aku mengungkapkan sebuah kalimat untuk menantang siapapun yang mengikutiku, karena aku memang hanya memiliki dua pilihan di saat itu… Tekurung hingga mati atau mengakhiri semua ini dengan kebebasan.

"Siapapun kalian yang mengikutiku, aku tidak takut pada kalian. Lawan saja aku."

"Donnie! Ya gotta pay fer all of dis!"

Suara Raphael tersebut berhasil membuatku merinding ketakutan. Haruskan, aku membayar kesalahku di masa lalu? Apakah benar aku harus membyarnya? Tanpa bisa kuhentikan mataku yang tadinya memancarkan amarah dan murka tiba – tiba beralih menjadi berkaca – kaca. Kepingan memori terlintas di dalam kepalaku, aku mengingat bagaimana saudaraku tewas secara satu – satu. Air mata jatuh begitu saja dan kini aku tersungkur di hadapan Raphael dan Michelangelo yang tewas karena kesalahanku. No, No, kelihatannya takdir akan membawaku untuk terus hidup dalam penyesalanku karena sebagaimana keraspun usahaku untuk berlari apa yang kuperoleh tetaplah nihil.

Kini sebuah tawa kembali meluncur saja dari bibirnku, tawa yang menggambarkan rasa frustasi yang amatlah dalam yang tengah melandaku dan lagi – lagi tanpa adanya rasa sadar air mata jatuh begitu saja dari pelupuk mataku. Ya, aku di sini tengah menangisi kesalahan yang sempat aku buat yang pada akhirnya membawaku terjebak di sini dalam pilu. Well, aku akan berada di sini untuk mempertanggungjawabkan apa yang ingin kuperbuat dan apabila mereka menginginkan nyawaku maka juga akan kuberikan begitu karena aku memang telah menjadi seseorang yang menyia – nyiakan nyawa mereka begitu saja.

"Bunuh saja aku kalau memang kalian mau menuntut balas akan apa yang telah aku lakukan."

Lagi – lagi sebuah tawa muncul dari pita suaraku, tawa yang justru menggambar sebuah putus asa, tawa yang menunjukkan bahwa aku tahu inilah akhirku dan aku tak akan pernah menang di titik ini. Kini aku tahu bahwa mungkin memang aku sama sekali tak ditakdirkan untuk dapat berlari begitu saja.

TBC

A/N : Ku benar – benar marathon dalam membuat fic hari ini, sudah 3 fic kukerjakan di dalam sehari ini. Ku memang seterong wkwk. Satu kalimat untuk chapter ini, "Pendek tapi menusuk." Seriously Donnie-nya udah benar – benar gila dalam taraf tak wajar XD. Seperti biasa apabila ada yang lewat saya mengharapkan review karena dengan adanya review saya merasa lebih dicintai.