Winner and Loser

Summary:

Akabane Karma : Ia tampan, kaya, jenius dalam semua pelajaran, seksi, berjiwa assassin yang kuat dan terkenal.

Sementara di sisi lain, gadis bernama Okuda Manami : Tampang biasa, 'cukup' pintar, jauh dari kata seksi, lemah, dan introvert.

Okuda Manami memang cukup mengagumi kehebatan Akabane Karma dalam segala bidang, kecuali satu. Ia merasa tak suka ketika Akabane Karma yang mendapatkan semuanya itu mengalahkannya di pelajaran kesukaannya; Kimia.

"Kau sudah memiliki segalanya. Kenapa kau juga harus mengalahkanku di Kimia?"

"Aku tidak memiliki segalanya."

"Apa yang tidak kau punya? Kau itu punya segalanya dan—"

"Aku tidak memilikimu."


1 – Kalah (Lagi)

Minggu lalu, kelas 3-E mengerjakan ulangan Kimia, dan hari ini Koro-sensei akan membagikan hasilnya. Hal itu terang saja membuat keadaan menjadi tegang.

"Nurufufufu~ Semua sudah berjuang dengan baik di ujian kemarin. Hanya saja, tidak ada yang mendapat nilai sempurna kecuali satu orang!" Koro-sensei, si gurita kuning bertentakel banyak itu berbicara di depan kelas dengan ceria.

Mendengar perkataannya itu, murid-murid di kelas mengeluh dan mengerang berjamaah. Sebagian dari mereka berbisik-bisik menyebutkan nama seseorang, menduga bahwa ialah yang mendapat nilai sempurna.

Yah, siapa lagi kalau bukan Okuda Manami?

Kejeniusan gadis introvert itu dalam bidang Kimia, tidak pernah diragukan lagi. Maka dari itu, ketika mendengar teman-temannya menggosipkan ia lah yang mendapat nilai sempurna, diam-diam Okuda Manami merasa hidungnya terbang sampai ke Zimbabwe.

Gadis itu gugup dan jantungnya berdetak sekencang shinkansen. Ia terlampau senang!

"Okuda Manami."

Ba-dump.

Tiba-tiba saja Koro-sensei memanggilnya sembari mengacung-acungkan lembar ujiannya. Hal itu, terang saja membuat Okuda Manami menjadi semakin geer dan kepedean.

Dengan gembira dan langkah kepedean, Manami pun mendekati Koro-sensei. Senyum lebar masih terpatri di bibirnya hingga akhirnya Koro-sensei berbicara...

"Selamat! Kau hampir mendapat nilai sempurna. Tingkatkan lagi, Manami!" ujar Koro-sensei. Okuda masih belum sepenuhnya sadar atas apa yang dikatakan gurita kuning itu, ia masih berdiri seperti orang bodoh di depan kelas.

Setelah Koro-sensei menepuk pundaknya untuk segera duduk, Manamipun sadar dari lamunannya. mengerjapkan matanya linglung, kemudian tersadar.

Eh? EEEH?

Setelah sepenuhnya sadar atas apa yang dikatakan Koro-sensei tadi, hati Okudapun potek. Terlebih, ketika melihat nilainya yang memang nyaris sempurna—alias 99, hatinya hancur berkeping-keping.

Dengan langkah gontai, ia pun kembali ke kursinya dengan kepala menunduk. Sementara itu, Koro-sensei kembali mengabsen satu per satu murid-muridnya. Dalam hatinya, Okuda berpikir keras.

Siapa? Kalau begitu, siapa yang mendapat nilai sempurna?

"Karma Akabane."

Seolah alam dan Koro-sensei mengetahui pertanyaan Okuda, ia pun kini mendapat jawabannya. Manik ametisnya mengamati lelaki bersurai merah yang melangkah dengan malas ke depan.

Tentu saja, itu pasti Karma. Memangnya siapa lagi selain dia yang akan mendapat nilai tertinggi?

Okuda tersenyum masam pada pemikirannya sendiri. Bisa-bisanya ia begitu percaya diri hingga melupakan eksistenti lelaki iblis bersurai merah tersebut.

Di depan kelas sana, Koro-sensei tersenyum lebar—seperti biasanya. "Selamat! Kau mendapat nilai sempurna dan—hei hei! Sudah kubilang, jangan mencoba membunuhku saat kelas berlangsung!" Koro-sensei bergerak cepat dan sedikit panik ketika Karma tiba-tiba mengacungkan pisau anti-senseinya.

"Hee? Kukira dengan mendapat nilai sempurna aku diijinkan untuk membunuhmu, sensei?" ujar Karma acuh tak acuh. Tanduk keluar dari kepalanya dan wajahnya jadi terlihat seperti iblis. Murid di kelas hanya bisa ber-sweat dropped ria.

Sementara Okuda Manami, hanya bisa mengerucutkan bibirnya ketika melihat itu. Entah kenapa, ia merasa ada sedikit perasaan tak rela ketika mengetahui Karma mengalahkannya.

Okuda tahu perasaan ini tidak baik. Ia tidak seharusnya begitu ketika temannya mendapat kebahagiaan. Hanya saja... bagaimana, ya?

Okuda merasa Karma itu sudah mendapatkan segalanya. Kenapa ia harus merebut nilai sempurna di pelajaran kesukaannya? Ta-tapi.. Okuda juga berpikir, kalau itu juga hak Karma untuk mendapat nilai sempurna, sih.

Duh, Okuda jadi bingung sendiri/?

Dan bodohnya, Okuda berpikir dalam benaknya sembari terus memandang si iblis bersurai merah itu. ia pun tak sadar ketika Karma menoleh padanya dan menangkap basah kalau ia sedang diam-diam memperhatikan Karma.

Karma menyeringai.

"Ada apa, Okuda-san?"

"E-eh?"

Bukan. Bukan. Pertanyaan yang membuat Okuda terkejut tadi bukan berasal dari mulut lelaki bersurai merah itu. Melainkan dari guru berbentuk gurita kuning yang ingin menghancurkan bumi.

"Apakah ada masalah?" tanya Koro-sensei lagi. Mulai khawatir melihat Okuda yang terlihat zoned-out itu.

"T-tidak ada, sensei," jawab Okuda lemah. Gugup. Nervous. Ia kini jadi pusat perhatian kelas dan mendapat tatapan aneh.

Sejak kapan Okuda tidak memerhatikan pelajaran?

"Nurufufufu~ kalau begitu, perhatikan ke depan. Bukan ke wajah Karma." Koro-sensei memasang senyum culasnya, tanduk kuning mencuat di ke dua ujung kepalanya.

Dan demi mendengar jawaban dari Koro-sensei yang memang kenyataan itu, sukses membuat wajah Okuda semerah tomat, beriringan dengan teriakan Nakamura dan Terasaka yang mengejeknya.

"CUWIT CUWIWW~ ADA YANG KEPINCUT AMA SI SETAN TERNYATA!"

"ANJIR, KO BISA SIH SI OKUDA MERHATIIN KARMA?"

"Ya bisa lah, bego. Karma kan ganteng, gak kaya elu!" Yoshida menggeleng, heran dengan pertanyaan Terasaka. Selanjutnya, kelas pun ribut dan ricuh penuh dengan gossip.

Merah sudah! Wajah Okuda tidak bisa dibedakan lagi dengan tomat saking merahnya karena malu. Ia hanya bisa menggeleng dan mengelak dengan gagap.

Sementara itu, di belakangnya, lelaki bersurai merah itu menangkupkan dagu dengan sebelah tangannya dan menatap Okuda dengan seringainya.

"Hm. Menarik."

-tbc-


A/n:

Hai, minnaaaa! Panggil aja june ya, baru di sini :3

Tolong review nya~