3 – Ketahuan.
[Btw, makasih banget ya buat reviewnya. Untuk chapter ini pun, di mohon untuk review nya ya^^ your comments make me so infires—an army should know this joke lol]
Warning: OOC
.
.
Okuda menggigit bibir bawahnya keras agar ia sadar dari kenyataan. Kenyataan bahwa ia sekelompok dengan si setan merah! Ugh.
Ternyata mitos yang mengatakan; semakin kita berdoa agar dijauhi orang yang tak disuka, malah semakin dekat, itu benar ya. Kemarin, ketika Koro-sensei akan mentukan kelompok, Okuda mati-matian merapalkan mantra guna-guna biar tidak sekelompok.
Eh, nyatanya, ia sial sekali. Doanya tidak terkabul.
Bukannya dia begitu membenci Karma, bukan. Ia justru mengagumi sosok Karma yang bisa segalanya dan memiliki segalanya. Hanya saja, mau tak mau, itu pun menjadi bumerang baginya hingga di sisi lain, ia juga sedikit tidak menyukai Karma.
Oke, itu bohong. Coret bagian sedikit karena sepertinya ia banyak tidak menyukai Karma.
Ia tahu ia tak boleh seperti ini. Tidak menyukai seseorang—apalagi hanya karena ia memiliki nilai lebih tinggi darimu sangat tidak masuk akal dan kekanakan. Tapi, Okuda Manami bisa apa kalau satu-satunya hal yang ia baggakan; nilai kimianya, harus dikalahkan juga oleh lelaki bersurai merah itu.
.
.
.
"Okuda, kau melamun lagi!"
"A-aduh!"
Okuda terkejut ketika Kayano menyikutnya cukup keras di perut, hingga mengirimkan gelenyar rasa nyeri.
Okuda menatap Kayano dengan tatapan memelas—yang hanya dibalas juluran lidah. "Salah sendiri melamun, padahal aku sedang bercerita," ujarnya cuek.
"Kau akhir-akhir ini sering melamun, ya," celetuk Kanzaki, ia menyeruput jus mangganya perlahan.
Saat ini, Okuda, Kayano dan Kanzaki sedang melaksanakan ritual yang selalu mereka laksanakan setiap selasa dan jumat—hang out di kafe Mamoru yang berada di pusat kota.
Selain kafe ini murah meriah dan makanannya enak, kafe ini juga populer dengan pudingnya yang lezat—yang menjadi penyebab utama Kayano selalu menyeret Okuda dan Kanzaki kemari.
"Mungkin Okuda sedang jatuh cinta." Kayano menyunggingkan senyum lebar ear-to-ear, membuat Okuda bergidik ngeri.
Suka? Pikir Okuda miris, "yang ada aku sedang benci seseorang," ujarnya tanpa sadar.
Kanzaki dan Kayano terkejut. Okuda bisa membenci orang juga, ternyata? Pikir mereka bersamaan.
.
.
Klining
Suara bel berbunyi di pintu masuk yang menandakan pelanggan yang baru datang itu, sempat membuat percakapan mereka terganggu. Tapi, mereka memutuskan untuk tidak peduli dan terus mengobrol.
"Siapa orangnya?" tanya Kayano, penasaran.
Ditanya begitu, Okuda gelagapan. Ia tidak cukup bodoh untuk membeberkan rahasianya—nanti bisa-bisa mereka mengadu, lagi. Meski Okuda tahu tidak mungkin Kayano dan Kanzaki melakukan hal itu padanya, sih.
"Ti-tidak ada kok, haha." Okuda tertawa gugup, "ngomong-ngomong, kamu satu kelompok dengan siapa Kayano-chan?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan.
Dan Okuda bersyukur Kayano benar-benar teralihkan.
"Dengan N-Nagisa-kun," ujarnya terbata. Entah kenapa, tiba-tiba saja wajahnya jadi merah seperti kepiting rebus.
"Kau pasti senang sekali," ujar Kanzaki. "Aku sekelompok dengan Sugino-san, ngomong-ngomong," lanjutnya.
"Oh," hanya itu yang bisa Okuda ucapkan saat itu. Ia mengangguk, seandainya saja ia yang satu kelompok dengan Sugino ataupun Nagisa. Atau mungkin Takebayashi—atau Itona, itu tidak masalah. Siapapun itu asal jangan Karma.
Karma lagi.
Okuda menghela napasnya lelah. Sudah berapa kali ia memikirkan lelaki bersurai merah itu hari ini? Ckck.
"Kau satu kelompok dengan Karma-kun, kan?"
Pertanyaan Kayano itu membuatnya berjengit kaget. Okuda hanya bisa cengengesan, "E-ehehe i-iya," jawabnya terbata-bata.
"Pasti enak, ya. Dia kan pintar dan bisa diandalkan," ujar Kayano.
Okuda tertawa miris dalam hatinya. Ia lantas menggeleng, "Justru aku tidak mau sekelompok dengannya. Ia terlihat menakutkan."
Gubrak!
Sekilas, Okuda, Kayano dan Kanzaki terkejut karena suara gedubrak(?) yang entah berasal dari mana. Namun, mereka memilih untuk mengabaikan suara itu dan kembali berbicara.
"Hm, kau benar sih. Dia kan sering terlibat kasus perkelahian!" Kayano akhirnya membalas dengan semangat 45.
Entah setan atau valak lewat dari mana, Okuda menjadi terkompori untuk menjelek-jelekkan Karma. Ya Tuhan, tolong ampuni Okuda yang sudah dibutakan oleh rasa iri.
"Ia bahkan pernah mengancam murid kelas A."
"Wah, Okuda, kau mendengar gossip itu juga ternyata?"
"Hm! Parahnya lagi.."
Perbincangan mereka yang semula ringan dan seputar pelajaran, kini berubah halun. Berpusat pada satu orang; Akabane Karma. Obrolan ini lama-lama menjadi gosip tak bermutu dan menjurus ke arah fitnah. Hal ini membuat Kanzaki resah.
Kanzaki berpikir, membicarakan orang lain itu tidak benar.
"Teman-teman, kurasa tidak baik kalau—," kalimat Kanzaki terputus kala manik gadis itu menangkap objek yang berada di belakang Okuda dan Kayano.
Objek—ah, tiga objek itu mengintip dari balik bangku dan menyimak apa yang Okuda dan Kayano perbincangkan, tanpa disadari oleh Okuda dan Kayano sendiri.
Kanzaki meneguk ludahnya susah payah.
.
.
.
"Okuda-san, menggosipkan orang disaat ada orangnya itu tidak baik loh, hehe."
.
.
Deg!
Mampus.
Seketika Okuda dan Kayano mingkem lantaran suara tadi begitu mereka kenal. Perlahan, wajah mereka berubah pucat hingga keringat dingin bercucuran.
Dengan gerakan slow motion, Okuda menengok ke arah belakang, dan ia terkejut begitu menjumpai sosok berada di urutan terakhir dalam daftar orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini.
.
.
"K-K-Karma-kun!?"
.
.
.
.
.
.
.
"HEI KARMA, JANGAN PULANG DULU!"
Teriakan Sugino yang nyaring dan memekakkan telinga itu membuat langkah Karma terhenti. Ia menoleh ke belakang dengan malas hanya demi melihat Sugino yang berlari disusul oleh Nagisa.
"Kan sudah kubilang aku tidak mau ikut ke kafe," ujar Karma malas.
Sugino dan Nagisa murung. "Ayolah, jarang sekali kita hang-out bareng lagi. Lagi pula, hari ini aku akan menraktir kalian!"
"Tidak tertarik. Aku bisa membeli kafe itu kalau aku mau." Karma berkata dengan angkuh.
Mentang-mentang holang kaya! Batin Sugino dan Nagisa berjamaah. Sedikit banyak jadi ingin menggorok leher lelaki bersurai merah itu karena kearogansiannya.
Karma sendiri, sebenarnya ingin cepat-cepat pulang dan tidur. Tapi, melihat muka ngenes dan nista Sugino serta Nagisa, membuat lelaki itu menghela napasnya lelah. Mau tak mau, ia harus ikut jika tidak ingin mereka meneror telepon rumahnya seperti yang sudah-sudah. Atau mungkin, mereka akan terus mengikuti Karma hingga ke dalam rumah sampai ia mau ikut.
Ck.
"Baiklah, ayo."
"YEEE! KARMA MEMANG YANG TERBAIK!"
"Oi-oi, Sugino-kun, walaupun kepalang senang, kamu jangan meniru boboboy sambil jedukin kepala ke tiang listrik gitu.."
"Biarkan saja dia, Nagisa. Ayo jalan duluan."
"Eh? I-iya, deh."
.
.
.
Setelah berjalan kaki selama sepuluh menit, akhirnya mereka sampai ke kafe yang di maksud. Sebenarnya, tadi mereka cek-cok untuk memutuskan kafe mana yang akan mereka singgahi.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya mereka sepakat untuk memilih kafe Mamoru—itupun karena Sugino merengek sambil guling-guling di jalan. Membuat Nagisa dan Karma terpaksa menyetujui lantaran malu.
.
.
.
Klining
Karma membuka pintu kafe itu dan langsung jalan lurus, memilih bangku kosong di belakang gadis-gadis itu—eh, tunggu.
Karma memicingkan matanya. Rasanya ia kenal tiga biji perempuan itu.
"Hei, bukannya itu Kanzaki-san, Okuda-san dan Kayano-san?" celetuk Sugino heboh, "ayo kita sapa mereka!"
Sugino langsung berniat berlari menghampiri mereka—hanya saja, Nagisa dan Karma sudah lebih dulu menahannya.
Sugino menatap mereka bingung. "Kenapa sih?"
"Biarkan mereka memiliki waktunya sendiri, Sugino-kun," Nagisa menasehati, membuat Sugino mencebikkan bibirnya kesal.
Terpaksa, Sugino pun menurut.
Mereka berjalan tanpa menghiraukan ke tiga gadis itu dan duduk tepat di belakang gadis-gadis itu. Sesaat, hening menyelimuti mereka karena mereka sibuk memilih menu.
Namun, perhatian mereka segera teralihkan ketika mendengar masing-masing dari nama mereka disebut.
Nagisa dan Sugino, langsung salah tingkah ketika nama mereka di sebut-sebut. Padahal hanya perihal kelompok saja, pikir Karma.
Karma pun memutuskan untuk kembali memilih menu, sampai akhirnya giliran namanya yang disebut. Ia merasa malu—dan tambah malu lagi ketika Kayano menyebutnya pintar dan dapat diandalkan.
Wajah lelaki itu memerah.
Namun, perlahan, pujian-pujian itu melenceng semakin jauh hingga akhirnya sebuah gossip tentang dirinya yang menjadi topik pembicaraan!
Karma serta Nagisa dan Sugino pun memutuskan untuk menguping lebih dekat. Mendengar setiap perkataan Okuda dan Kayano dengan semangat.
Terkadang, Nagisa dan Sugino ingin sekali menyela, mengatakan bahwa Karma tidak sejelek yang di gosipkan—meski kenyataanya memang begitu. Hanya saja, Karma menahan mereka. Ini adalah urusannya, pikir Karma. Nagisa dan Sugino tidak perlu ikut campur.
.
.
Setelah cukup lama membiarkan mereka menggosip, Karma pun memutuskan untuk turun tangan.
Ia mendekatkan wajahnya pada Okuda dan Kayano.
.
.
"Okuda-san, menggosipkan orang disaat ada orangnya itu tidak baik loh, hehe."
.
.
Dan Karma tersenyum culas ketika melihat wajah pucat Okuda dan Kayano karena menyadari keberadaanya.
.
.
Ini akan menjadi semakin menarik.
#
"K-K-Karma-kun!?"
Aku membelalakkan mataku tak percaya, merasa ke dua mataku beserta kacamata kesayanganku ini mengkhianatiku. Tapi, nyatanya, yang kulihat saat ini memang nyata.
Karma—yang berada di antara Sugino dan Nagisa, menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan dan tersenyum culas.
Ya Tuhan.
Ampunilah hambamu ini. Aku baru sadar kalau apa yang kulakukan tadi benar-benar salah. Sangat salah. Benar-benar sangat salah!
"E-eh, Karma-kun, k-kami bisa j-jelaskan kok," celetuk Kayano yang ada disampingku sambil terbata-bata.
"Apa yang perlu kalian jelaskan?" tanyanya sambil tertawa, "ah, maksudmu, tentang kalian yang tadi membicarakan hal buruk tentangku, ya?"
Jeder!
Dengan inosennya ia bertanya, tapi, apa yang ia ucapkan begitu menusuk jantungku—atau mungkin jantungku dan Kayano. Ia berbicara seolah apa yang kami lakukan begitu jahat—meski memang iya, sih.
"Kalian tak perlu khawatir," ujar Karma lagi, "aku tidak seperti apa yang di gosipkan."
"E-eh ma-maafkan kami." Kayano meminta maaf, tapi Karma hanya menganggap itu sebagai angin lalu.
Tak lama, Sugino dan Nagisa mengajaknya pulang—sepertinya mereka pintar membaca situasi. Astaga, aku harus meyakinkan diriku untuk meminta maaf lagi secara benar besok di sekolah.
Aku melihat Sugino dan Nagisa mengucapkan salam perpisahan dengan canggung, kemudian pergi keluar kafe. Tapi, mana Karma?
Baru saja aku mau menengok ke belakang, namun gerakanku terhenti ketika saran sensorik di telingaku merasakan hembusan napas seseorang hingga mengantarkan sensasi dingin ke tulang sum-sumku.
"Aku lebih buruk dari gosip itu," bisik orang itu tepat di telinga kananku. Napasnya yang hangat bisa kurasakan, membuatku sekujur tubuhku merinding akibat rangsangan yang aku terima.
Waktu terasa berjalan lambat ketika aku melihatnya tersenyum miring dari sudut miringku, kemudian ia berjalan begitu saja ke luar kafe.
.
.
.
Meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan yang kini hinggap dalam pikiran.
