4 – Gurita, Takoyaki dan Orang yang Marah.
[ Entah kenapa, hiatus selama sebulan itu ternyata bikin tangan gatel tak menentu. Pengen banget ngeramein tim Karmanami haha :'v *digorok shipper lain*
Anyway, maaf banget yes kalau karakter Manami—mungkin dan yang lainnya agak (atau mungkin banget) OOC. Demi kepentingan cerita, apalah daya. Gua sudah berusaha sekuat mungkin biar gak OOC, tapi susyah cyin. :"v
Gue respect banget sama author-author keren di luar sana yang bisa bikin ff karmanami—ataupun yang lainnya, tanpa terasa OOC.
Yah, berhubung gue jg kaga tau apakah masih ada yang nunggu ff ini atau kaga, tolong bagi review nya ya ^^ ]
Canggung.
'
Kalian tahu apa itu canggung? Kalian tahu? Huh? Huh? Tahu tidak!? *author tiba-tiba digolok massa*
Canggung adalah ketika atmosfer di sekelilingmu terasa uneasy alias tidak nyaman. Kau kesulitan untuk berbicara, kesulitan menatap lawan bicara dan susah menentukan topik yang akan dibicarakan.
Usut punya usut, penyebab kecanggungan ini adalah ketika kau bersama dengan orang yang kau suka...atau... saat kau bersama dengan orang yang tidak kau suka.
.
.
Orang yang tidak disuka?
Ah. Tepat sekali! Pantas saja saat ini Okuda Manami merasa sangat canggung. Ia sedang berduaan dengan Karma di kelas—tolong dicatat, digaris bawahi, ditebalkan dan dimiringkan; hanya berdua.
"Hm? Apakah kau ada masalah, Okuda-san?" Tanya Karma, ia menghentikan kegiatan menulisnya untuk sesaat demi melihat sepasang manik ametis itu.
Okuda menggeleng. "T-t-tidak a-ada." Gagapnya semakin menjadi-jadi sampai menyaingi Aziz Gagap saking gugupnya ia saat ini.
"Baiklah. Kita harus mengerjakan soal ini dengan cepat agar tidak pulang terlalu sore," ujarnya lagi. Okuda hanya mengangguk patuh.
Dengan begitu, mereka kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Okuda baru kali ini merasa bahwa kerja kelompok itu sama sekali tidak menyenangkan.
Diam-diam, Okuda melirik lelaki bersurai merah itu melalui sudut matanya. Fokus manik merkuri itu terkunci pada buku di meja, tangannya menuliskan formula matematika dengan begitu mudah, mulutnya terkatup rapat.
Ekspresi lelaki itu... tidak terbaca.
Okuda bukan cenayang apalagi dukun yang bisa membaca pikiran, tapi, setidaknya melalui ekspresi, biasanya kita dapat petunjuk mengenai apa yang seseorang pikirkan.
Sejujurnya, tadi malam Okuda sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan kesalahannya kemarin sore saat di kafe. Ia menyadari dengan sangat bahwa tindakannya kemarin adalah salah.
Ia tahu Karma adalah orang yang cuek—bahkan jika ada orang lain yang membicarakan hal buruk, ia takkan peduli. Tapi, Okuda yakin sekali, bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan baik-baik saja jika teman orang itu sendiri yang membicarakan hal buruk.
Okuda tidak yakin jika mereka adalah teman dekat, tapi mereka sekelas. Teman sekelas. Tidak seharusnya membicarakan hal buruk mengenai teman sendiri, bukan?
Dan sekarang Okuda memikul beban dosa yang berat dalam benaknya. Berkali-kali ia berusaha untuk meminta maaf, tapi rasanya susah sekali. Setiap ia ingin mengucapkan kata maaf, entah kenapa Karma selalu memotong pembicaraannya dan mengalihkan pembicaraan.
Seolah ia tahu kalau Okuda akan meminta maaf.
"K-karma-kun?"
"Hm?"
"A-ano, ma—"
"Hei, bulu matamu rontok. Mau kuambilkan?"
Tuh kan! Lagi. Ini sudah ke lima kalinya ia tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Okuda menghela napasnya lelah.
"Ti-tidak usah. A-aku bisa sendiri," jawab Okuda pada akhirnya. Ia menggosok-gosok kelopak matanya, tapi tidak mendapatkan bulu mata yang rontok, tuh.
Seolah-olah mengetahui kebingungan Okuda, Karma pun berkata dengan santai, "Ah, sepertinya tadi aku salah lihat. Tidak ada yang rontok, ya? Hahaha."
Ya ampun...
Gadis itu depresi. Mau minta maaf saja ia sampai harus menyusun rencana matang-matang. Pikirannya melayang ke mana-mana dan tak tentu arah. Tugasnya sedikit terbengkalai akibat itu.
Sementara gadis itu sibuk berpikir, di sisi lain, ada satu orang yang menyunggingkan senyum miringnya. Merasa puas karena rencananya berhasil.
Rencana untuk membuat Okuda semakin merasa bersalah.
.
.
.
.
.
"Bersalah atau tidak, kau harus tetap meminta maaf, Yue-san!"
Uhuk!
Okuda tersedak susu vanila yang sedang diminumnya kala mendengar suara televisi itu. Entah kenapa drama di malam ini, plot dan alurnya seperti kisahnya. Dan kalimat yang terlontar dari heroin di film tersebut, sedikit banyak menohok Okuda sampai ke jantung.
Bersalah atau tidak, kau harus tetap meminta maaf...
Okuda menghela napasnya. Ia meraih ponsel yang tergeletak di sofa kemudian menghubungi seseorang.
"Halo, Okuda-chan! Are, kenapa wajahmu sedih begitu?"
"Ne, Ritsu-san, a-apakah kau b-bisa membantuku untuk mencari informasi?"
Gadis cantik yang ada di layar ponsel itu mengerjapkan matanya penuh semangat. Ia mengangguk cepat sembari melayangkan jempol kanannya ke atas.
"Tentu saja! Jadi, apa yang ingin kau ketahui?"
Ya Tuhan.. semoga ini yang terbaik, Okuda memejamkan matanya sembari berdoa. Meminta penuh pengampunan kepada Yang Maha Kuasa.
"M-makanan apa y-yang disukai Karma-kun?"
.
.
.
.
.
.
"Karma, ayo cepat!"
Sugino sudah selesai mengganti sepatunya dengan sepatu dalam ruangan. Ia menatap Karma heran setelah mendapati bahwa selama lima menit terakhir, yang laki-laki itu lakukan adalah melamun di depan loker sepatunya.
"Karma-kun?" Kali ini Nagisa yang heran. Tidak biasanya lelaki bersurai merah itu melamun berlarut-larut seperti itu.
Penasaran, Nagisa dan Sugino memutuskan untuk mengintip melalui bahu Karma—meski Nagisa harus berjinjit dulu karena perbedaan tinggi badan mereka yang begitu hina.
"Takoyaki dan gurita goreng?"
"-!"
Karma terkejut bukan main ketika mendapati Sugino dan Nagisa yang serempak bertanya padanya di belakangnya. Secepat kilat, ia pun menutup kembali kotak makanan yang tadi ia temui di loker, kemudian menutup lokernya.
"Hei, dari siapa itu tadi? Lalu, kurasa tadi aku melihat ada surat berwarna ungu di sebelah kotak makan itu." Nagisa dengan kepintarannya membaca situasi. Ck, Karma mendecih dalam hatinya. Ia jadi kesulitan untuk berbohong.
Sadar ia takkan bisa membohongi Nagisa semudah itu—kalau Sugino sih, Karma pukul kepalanya sampai ia hilang ingatan juga gampang. Masalahnya, Nagisa bukan lawan yang mudah.
Jadi, Karma memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan dan mengajak mereka berdua untuk segera ke kelas.
.
.
.
.
.
"Kelas hari ini membosankan sekali. Koro-sensei ada urusan dengan Karasuma-sensei sehingga hari ini kita belajar sendiri. Bitch-sensei juga malah pergi," keluh Kayano di siang hari itu.
"Apa boleh buat." Kanzaki hanya bisa tersenyum kecut.
Saat ini, Kelas 3 E benar-benar tidak memiliki jam belajar. Padahal tadi Isogai Yuuma—ketua kelas mereka, sudah melaporkan hal itu pada guru BP di gedung utama. Tapi, karena pada dasarnya mereka hanya kelas buangan, guru-guru itu pun hanya menganggap keluhan Isogai sebagai angin lalu.
"Kami mengirim guru pengganti pun takkan membuat kalian pintar, kan?"
Itulah yang dikatakan guru-guru di gedung utama itu. Sial sekali.
Namun, kebanyakan murid justru merasa senang akan hal ini. Contoh saja Karma, Maehara dan grup Terasaka. Buktinya, Karma langsung melesat ke halaman untuk tidur, Maehara sibuk mencari gadis cantik via online, dan hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang dilakukan Terasaka cees.
Sementara sisa murid lainnya, memutuskan untuk mengerjakan tugas dari Koro-sensei secara berkelompok. Seperti apa yang dilakukan oleh Kayano dan Kanzaki saat ini.
Loh, hanya mereka berdua?
"Di mana Okuda?" Gadis bersurai hijau itu memiringkan kepalanya bingung. Kini ia baru sadar kalau Okuda tidak ada di sebelahnya lagi. Rasanya tiga puluh menit yang lalu ia masih ada di sini.
Kanzaki sendiri sedikit kebingungan. "Eh? E-etto, tadi ia berkata akan ke halaman sebentar. Tapi, kenapa tidak kembali-kembali, ya?"
"Ke halaman!?" Ulang Kayano histeris, "disitukan ada Karma! Apa yang dia pikirkan, sih?"
"Memangnya kenapa?"
"Kau lupa? Karma kan paling tidak suka kalau tidurnya di ganggu."
.
.
.
.
.
.
.
"Kau mengganggu tidurku."
"..."
Selama beberapa puluh detik setelah berbicara, Karma sama sekali tak mendapat jawaban.
Ia mendesah, memutuskan untuk membuka matanya dan bangkit dari posisi berbaringnya. Ia menyandar di pohon itu dan menatap pohon besar lainnya yang berjarak sepuluh meter darinya.
"Okuda-san, kau sudah bersembunyi di situ selama setengah jam lebih. Kau hobi sekali menguntit, eh?"
"A-aku tidak menguntit!"
Kena kau! Karma tersenyum culas ketika Okuda behasil termakan pancingannya. Okuda kini keluar dari persembunyiannya. Wajahnya merah padam—mungkin karena malu. Keringat dingin terlihat menuruni pelipisnya.
Dia pasti gugup sekali.
Karma menepuk tanah berumput di sampingnya, mengisyaratkan agar gadis itu duduk di sebelahnya. Ragu-ragu, Okuda pun menghampiri dan duduk di samping Karma.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Karma langsung ke inti. Ia kembali menyandar di pohon dan menatap Okuda dengan seringainya.
Betapa sukanya lelaki itu ketika mendapati Okuda yang gelagapan dan panik. Meski sebenarnya, tanpa bertanyapun Karma tahu apa yang akan dibicarakan gadis itu.
"I-itu aku—ano, ma-maaf aku—"
"Tidak mau."
"Eh?" Okuda terkejut bukan main ketika Karma tiba-tiba memotong pembicaraannya dan mengatakan tidak mau. Tidak mau apa? Maksudnya, ia tak mau berbicara dengan Okuda?
Duh. Gadis itu semakin merasa bingung.
"A-apa maksudmu?"
"Kau akan meminta maaf, kan?"
Kali ini, Okuda tak sanggup menahan keterkejutannya. Ia tahu lelaki itu jenius—tapi, masa' sih sampai bisa membaca pikiran seperti dukun juga?
"B-bagaimana k-kau tahu?"
Karma tertawa. Untuk beberapa alasan, entah kenapa suara dari tawa itu membuat hati Okuda panas. Kenapa ini? Ia merasa Karma sedang menertawainya dan mengejeknya.
"Terlihat jelas di wajahmu. Ah, lagipula, meminta maaf dengan sogokan takoyaki dan gurita goreng itu tidak baik, Okuda-san." Karma mengerlingkan sebelah matanya dan tertawa semakin keras ketika melihat wajah Okuda semakin memerah.
Bukan. Gadis itu memerah bukan karena terpesona, melainkan karena malu.
"K-kau ti-tidak suka takoyaki dan gurita goreng? Tapi kata Ritsu—"
"Bukan begitu. Aku suka semua makanan—apalagi masakanku sendiri. Poin dari kalimatku tadi adalah, kau tidak boleh meminta maaf dengan sogokan seperti itu."
"O-oh.." hanya itu yang bisa Okuda ucapkan saat ini, saking bingungnya untuk membalas apa.
"L-lalu, apa maksudmu dengan t-tidak mau?"
Kali ini, ujung bibir lelaki bersurai merah itu semakin meninggi. Menciptakan sebuah seringai yang dapat membuat siapapun takut ketika melihatnya.
"Aku ini bukan orang yang pemaaf, Okuda-san."
Waktu berjalan begitu lamban ketika Karma mendekatkan dirinya pada gadis itu dan berbisik di telinganya. Semilir angin menerbangkan anak-anak rambut gadis itu yang mencuat dan membuat poninya sedikit berantakan.
Karma tertawa. Ia merapikan poni-poni itu, kemudian beranjak pergi meninggalkan Okuda sendirian. Membiarkan gadis itu bingung dengan permainan katanya. Biar saja ia bingung, toh, tadi itu Karma hanya berbicara asal.
Sedikit yang Karma tahu, gadis itu sungguh tidak baik-baik saja. Air mata menggenang di pelupuk matanya, mendorong dan melesak hingga menetes.
.
.
.
.
"B-bagaimana ini? D-dia marah sekali sepertinya.."
.
.
.
.
Dan sedikit yang gadis itu tahu, ia salah persepsi dan semakin jatuh jauh ke dalam rencana lelaki bersurai merah itu.
