5 – Pertaruhan dan Perjanjian.


Disclaimer: Sekali lagi, Karma dan Manami bukan milik beta dan ansatsu bukan milik saya :"3 kalau milik saya, Karmanami pasti udah saya jadiin canon.

[Tolong sumbangkan beberapa review untuk saya *puppy eyes*]


.

.

.

.

.

.

"Ne, Okuda-san, bagaimana kalau kita bertaruh?"

Pertanyaan Karma pada sore hari itu, bersamaan dengan semilir angin yang menerbangkan rambut gadis itu menjadi berantakan, sukses membuat gadis itu terpekur. Benaknya sibuk mencerna dan mengolah apa yang baru saja ia dengar.

"Ma-Maksudmu?"

"Aku tidak memiliki maksud apa-apa. Hanya ingin bertaruh," jawab Karma santai. Membuat Okuda Manami semakin mengkerutkan keningnya bingung.

Pada saat ini, mereka sedang menghabiskan waktu istirahat mereka di atap sekolah.. dan tidak. Mereka hanya tidak sengaja saling bertemu di atap dengan alasan yang berbeda. Karma ke situ, tentu saja untuk tidur siang di jam istirahat—sedangkan Manami ingin mempelajari stoikiometri lebih dalam lagi karena lusa ada tes Kimia. Belajar di dalam kelas terlalu berisik.

Jadi, ketika lima menit yang lalu bertemu, atmosfer terasa canggung sekali—mungkin yang merasakan itu sebenarnya hanya Manami, karena alih-alih merasa canggung, Karma justru malah tersenyum lebar ketika dirinya mendapati sosok Manami yang sedang duduk di atap.

Kemudian lima menit pertama berjalan begitu hening. Karma yang tiduran sambil menutup matanya menghadap langit biru cerah itu, dan Manami di sebelahnya yang menyandar ke tembok sembari mengerjakan beberapa soal sulit.

Tentu saja, keheningan itu terpecahkan ketika Karma tiba-tiba bertanya tadi, dan sekarang Manami bingung harus menanggapi apa.

"Bukan itu maksudku," sergah Manami, "a-ano, maksudku, kenapa tiba-tiba kita harus bertaruh?"

Srak

Karma tiba-tiba bangun dari tidurnya dan ikut menyandar di tembok hingga membuat bahu mereka saling bersinggungan. Manami bahkan bisa merasakan hangatnya tubuh lelaki itu akibat jarak yang terlalu minim ini.

Deg

Jangan salahkan Manami kalau ia tiba-tiba mati akibat serangan jantung karena saat ini, ia kaget sekali! Selain karena gerakan Karma yang tiba-tiba dan bahu mereka bersinggungan, saat ini wajah mereka dekat sekali!

Reflek, Manami memalingkan wajahnya ke arah lain. Dan saat itulah ia mendengar Karma tertawa—tawanya yang lebar tapi terlihat jelas sekali di mata Manami kalau itu tidak berasal dari hatinya. Itu terdengar seperti tawa tokoh antagonis di serial drama yang sering ia tonton.

Padahal tidak ada yang lucu disini, Manami bersweat dropped ria.

"Besok kita kan ada tes Kimi—"

"Lusa," koreksi Manami cepat.

"Yah, begitulah," Karma mengendikkan bahunya acuh tak acuh kemudian melanjutkan, "bagaimana kalau kita bertaruh? Siapa yang akan mendapat nilai tertinggi, dia pemenangnya."

"Huh?"

Membutuhkan waktu sekitar satu menit tiga puluh delapan detik dan sembilan mili detik untuk Manami menyadari itu semua.

"HEEE?"

"Kenapa kau terlihat kaget sekali?"

"Tidak mungkin!" Tanpa Manami sadari, nada suaranya meninggi setengah oktaf. "K-kau sudah pasti menjadi pemenangnya me-meskipun aku sudah berusaha," lanjutnya lagi dengan pelan. Ia kini membuang arah pandangnya ke buku. Yah, terserahlah kemanapun juga—asal tidak bertatap wajah dengan Karma.

Sementara itu, Karma menaikkan sebelah senyum culas terpatri di wajahnya—ia seolah mengatakan kena-kau! Dalam ekspresinya. Sungguh, jika saja orang-orang melihat, pasti akan mempunyai firasat buruk ketika melihat wajah Karma saat ini.

"Kenapa tidak mungkin, Okuda-san?"

Manami kelabakan. "B-b-bagaimana, ya?" Ia memiringkan kepalanya sesaat dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "I-itu sih, sudah pasti Karma-kun yang menang."

"Hee? Kenapa sudah pasti aku yang menang?"

Karma mati-matian menahan tawa ketika melihat wajah Manami yang berkeringat dingin. Kasihan, ia pasti takut dan kapok sekali berurusan dengan Karma gara-gara kemarin.

"K-kamu k-kan yang terpintar. L-lagi pula, a-aku masih belum menguasai Kimia. Ditambah, aku juga t-tidak terlalu bisa dengan materi yang akan diujiankan besok."

Senyum di wajah lelaki bersurai merah itu semakin melebar. "Begitukah? Kau belum menguasai materi yang akan diujiankan besok?"

Manami mengangguk, setelah itu kepalanya menunduk. Mungkin malu.

"Tapi, kau pasti ingin mendapat nilai tertinggi di pelajaran kesukaanmu itu kan?"

"T-tentu saja."

Kena kau, Karma menyeringai. Layaknya seorang pemburu ketika mangsa yang ditunggu dan sedang diintai berhasil masuk dalam perangkap dan terjerat dengan erat.

"Kau membutuhkan orang untuk mengajarimu selain Koro-sensei, kan?"

"I-iya. Soalnya Koro-sensei t-tidak selalu ada waktu."

"Kalau begitu, aku bisa mengajarimu."

"Oke—EH? A-APA?" Manami berteriak heboh setelah menyadari apa yang baru saja ia dengan dan tanggapan yang ia berikan. Apakah Karma baru saja menawarkan diri untuk mengajarinya dan ia menyetujui itu?

"T-tidak usah Karma-kun, aku—"

"Ckck, Okuda-san, tidak baik loh menolak kebaikan." Karma menggelengkan kepalanya dan memasang ekspresi terluka.

Hal ini membuat Manami menjadi merasa bersalah. Akan tetapi, ia juga tidak ingin merepotkan Karma. Yah, masalah utamanya sih, ia tidak bisa menghabiskan waktu berdua dengan Karma lebih lama lagi.

Kerja kelompok kemarin dengannya, benar-benar memberikan pengalaman buruk untuk Manami. Lagi pula, insting dan logikanya mengatakan kalau menghabiskan waktu berdua dengan Karma itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

Maka dari itu, Manami berusaha keras melayangkan beberapa arguman kenapa ia tidak bisa menerima tawaran Karma. Hanya saja, semakin ia memberikan argumen, semakin Karma menggunakan kalimat itu dan malah menyerangnya balik hingga ia tak bisa berkata-kata.

Tanpa sadar, bel masuk pun kembali berdering, mengakhiri perdebatan mereka yang tak berujung. Karma pun bangkit dan menepuk celananya yang penuh debu. Ia menghadap Manami dan tersenyum lebar.

Manami ingin menghindar, tapi terlambaat sekali ketika Karma sudah mendekatinya dan kembali menempatkan wajahnya di sisi kanannya begitu dekat. Ia dapat merasakan hembusan napas Karma ditengkuknya.

Lelaki itu berbisik, "Kau sudah bilang oke tadi. Secara teknis, kita sudah membuat perjanjian tak tertulis dan kau harus menepati itu—belajar bersamaku," ia menepuk pundak Manami, kemudian berjalan pergi.

Manami membeku, tapi tubuhnya merasa panas. Ia tidak bergerak seincipun bagai manekin yang terpajang di sebuah etalase. Diam sempurna.

Otaknya tidak dapat memproses dengan benar atas apa yang terjadi selama waktu istirahatnya. Itu semua terlalu membingungkan, terjadi begitu saja tanpa Manami dapat menyadarinya. Hanya saja, ia dapat memastikan satu hal.

.

.

.

Karma baru saja menjeratnya dengan perjanjian.

.

.

.

.


A/n:

Hahaha. Ndak tau lah ya kenapa chapter ini jadi begini. kalau ada yang nungguin ff ini, mohon maaf banget ya apdetnya telat kebangetan.

biasalah, lagi sibuk.

sibuk jaga lilin biar bisa dapet banyak duit :")