Tittle: The Holy of Darkness
Disclaimer: Tite Kubo
Genre: Family, Adventure, Drama, Romance
Rate: T
Warning: OOC, OC, Typo merajalela, bahasa tidak sesuai EYD
Enjoy...
Chapter 2, Ichigo's Time
Karakura, sebuah kota yang memiliki sejarah dan peran yang terikat dengan dunia kematian. Selain sebagai produsen partikel roh terbesar, kota ini juga pernah menjadi saksi bisu sebuah perang tak kasat mata yang tak pernah diketahui manusia. Di kota spesial ini terdapat sebuah klinik kecil yang dikelola secara turun-temurun oleh keluarga yang juga memiliki ikatan dengan kematian tak kalah erat dengan kota itu sendiri. Klinik yang kini dikelola oleh keturunan pemilik sebelumnya, Kurosaki Ichigo. Klinik Kurosaki.
"Baiklah, hasil pemeriksaan anda cukup memuaskan. Untuk sekarang cukup minum obat yang saya resepkan secara rutin. Begitu obatnya habis datanglah lagi untuk pemeriksaan kembali. "Jelas Ichigo kepada pasiennya sambil membaca laporan kesehatan di tangannya.
Si pasien berterima kasih dan pergi dari klinik itu. Begitu pasien itu pergi, pemuda bersurai jingga itu membereskan peralatannya. Namun, suara anak kecil menginterupsinya.
"Ayah!" Teriak seorang anak kecil sambil membuka pintu dengan keras.
"Ada apa, Kazui? Kenapa berisik sekali?" Tanya Ichigo agak kaget kepada Kazui, anak yang membuka pintu dengan keras tadi.
"A-ada laki-laki! Pingsan! Di perempatan dekat sini!" Kazui menjelaskan sambil terengah. Entah karena panik atau keberatan menggendong—menyeret—seorang lelaki misterius di punggungnya.
"Apa?! Baiklah, ayo bawa dia ke ruang perawatan!" Seru Ichigo bersurai jingga itu sigap. Ia menggendong lelaki itu dari sang anak dan segera membawanya ke kasur pasien untuk dilakukan penanganan darurat. "Kazui! Tolong ambilkan peratalan ayah di atas meja." Perintah pria itu yang langsung dituruti oleh sang anak.
Kazui, yang berdiri sedikit jauh dari ayahnya yang sedang menangani pasien dadakan itu sedikit banyak merasa cemas. Pasalnya lelaki itu entah kenapa pingsan di tengah jalan, dan dari raut wajahnya terlihat kesakitan meski ia tak sadarkan diri.
"Ayah, apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Kazui cepat begitu sang ayah selesai melakukan pemeriksaan.
"Yah, dia baik-baik saja. Tidak ada luka serius, hanya pingsan. Sepertinya dia kelelahan." Jawab Ichigo sambil menatap Kazui dan mengelus rambutnya.
"Haah... Syukurlah.." Mendengar hal itu Kazui menghela napas lega. "Kapan dia akan bangun?"
"Entahlah, mungkin sebentar lagi. Lebih baik kau temui ibumu di dapur. Dia sedang memasak buat makan siang. Biar ayah yang menunggu pasien siuman, oke?" Ucap Ichigo lembut kepada anaknya yang sepertinya tidak ingin meninggalkan lelaki ini sendirian.
"Um.. Baiklah." Dengan berat hati anak itu keluar dari ruang perawatan. Ketika pintu ditutup, ia berteriak keras. "Makanannya akan kuhabiskan!"
"Hoi! Sisakan untuk ayah juga!"
Ruangan itu tiba-tiba hening. Selama beberapa menit Ichigo hanya diam menatapi laki-laki yang masih terlihat tertidur di atas ranjang pasien. Alisnya terlihat lebih tertekuk dari biasanya. Ketika Kazui membawa laki-laki ini ke rumah, ichigo sudah merasakan hal aneh yang datang dari laki-laki ini. Ia berusaha diam dan menyuruh anaknya untuk masuk ke rumah agar ia tidak khawatir lebih dari ini. Tidak lama kemudian laki-laki itu terlihat mulai sadarkan diri.
"Ukh..!" Lelaki itu mengerang ketika ia mencoba menggerakan tubuhnya.
"Jangan banyak bergerak dulu. Tunggu sebentar lagi, baru boleh duduk." Titah Ichigo sambil mendekati ranjang tempat lelaki itu berbaring.
"Ini.. dimana?" Tanyanya bingung sambil mencoba duduk, yang dibantu oleh Ichigo.
"Klinik milikku. Anakku menemukanmu pingsan di perempatan jalan sekitar sini." Jelasnya.
"Aku, pingsan?" Tanyanya lagi masih kebingungan dengan situasi yang dihadapinya.
"Ya. Tapi tenang saja, selebihnya anda baik-baik saja." Jawab Ichigo lagi. "Na, boleh aku bertanya sesuatu?" Kini Ichigo yang balik bertanya sambil menatap si pasien serius.
"Boleh. Apa itu dokter?" Jawab laki-laki misterius tersebut sambil membalas tatapan Ichigo yang masih menatapnya serius.
"Anda siapa?" Tanya Ichigo to the point tanpa mengalihkan tatapannya.
Lelaki itu hanya diam tidak menjawab. Ia masih betah membalas tatapan serius sang dokter.
"Dari reaitsumu, kau sepertinya bukan manusia." Ucap Ichigo langsung tembak seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang didudukinya dan melipat tangannya di depan dada.
Sesaat lelaki itu terdiam. Kemudian ia membuka suara. "Darimana anda tahu kalau saya bukan manusia?"
"Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan!" Protes Ichigo lemah. Ia kemudian menghela napas. "Sebenarnya aku setengah shinigami dan setengah manusia. Jadi aku bisa merasakan reaitsu seseorang." Jelasnya. "Jadi, bisa menjawab pertanyaanku sekarang?"
"Kalau saya bilang 'saya adalah shinigami', apakah anda akan percaya, dokter?" Tanyanya sekali lagi dengan senyuman tipis yang mengembang.
"Anda sedang berada dalam gigai, kan? Kenapa anda bisa tiba-tiba pingsan? Apakah ada masalah dengan kekuatan roh anda? Anda tidak bisa diobati dengan pengobatan biasa. Jadi kalau anda mau saya dapat menyuruh istri saya menyembuhkan anda. Istri saya juga memiliki kekuatan roh juga." Cerca pria berambut senja itu dengan pertanyaan dan saran.
"Terima kasih, tidak perlu repot-repot. Saya sudah merasa baikan sekarang." Tolak lelaki itu halus. Ia kemudian menurunkan kakinya dari ranjang dan mulai beranjak.
"Begitukah?" Gumam Ichigo. "Kalau anda perlu bantuan atau apapun, datang saja ke sini. Tidak perlu sungkan." Tawarnya ikut berdiri.
Sebelum laki-laki misterius tersebut menjawab tawaran Ichigo. Tiba-tiba saja pintu ruangan menjeblak terbuka dan menampakkan seorang remaja laki-laki bersurai hitam dan kuncir kuda. Hal itu tak ayal membuat ichigo sedikit kaget.
"Lha! Ternyata kau ada disini." Seru remaja laki-laki tersebut yang tetap berdiri di pintu.
"Ah, Naito." Sapa laki-laki misterius tersebut mengenali remaja laki-laki yang telah membuka pintu dengan keras itu.
"Siapa dia?" Tanya Ichigo bingung sembari menatap remaja laki-laki yang tiba-tiba saja membuka pintu tanpa mengetuk. "Tidak sopan sekali anak ini." Gerutu Ichigo dalam hati.
"Dia adalah adik saya." Jawab laki-laki misterius tersebut lagi sembari mengalihkan pandangannya dari remaja laki-laki yang bernama Naito ke hadapan Ichigo.
"Oooh…." Respon Ichigo dengan wajah yang masih tetap datar dan alis menukik tajam.
"Kenapa kau lama sekali pulangnya? Ibu jadi khawatir tau!" Gerutu Naito kepada laki-laki yang sesaat lalu masih pasien Ichigo sembari bersedekap dada.
"Maaf…maaf. Aku tadi pingsan." Jawab laki-laki misterius tersebut sembari mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan tertawa kecil.
"Hah! Pingsan?! Kau bilang sudah sehat! Harusnya aku saja yang pergi tadi" Naito menggerutu lagi mendengar alasan laki-laki di hadapannya.
"Sudahlah tidak masalah. Aku sudah sehat kok. Kalau begitu dokter, saya permisi dulu. Ayo Naito!" Balas laki-laki misterius tersebut sembari tersenyum dan menghampiri adiknya di depan pintu ruangan perawatan. Setelah itu laki-laki membungkuk badan sedikit berpamitan pada Ichigo. Mereka berdua kemudian keluar dari Klinik Kurosaki.
"Ah,Iya. Hati-hati." Tanggap Ichigo yang juga keluar dari ruangan perawatan dan masih tetap memperhatikan dua lelaki itu.
Ketika laki-laki misterius dan Naito sudah cukup jauh dari klinik barusan, mereka sedikit memelankan langkah dan berbincang.
"Pria itu, ya?" Tanya Naito yang masih melangkah dan menatap punggung pria yang lebih tua intens.
"Ya. Dia orangnya." Jawabnya tanpa menatap Naito dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.
.
.
Ichigo sedang membereskan peralatannya karena sekarang sudah jam makan siang dan klinik akan tutup untuk sementara. Selama beres-beres, pikirannya tidak lepas dari lelaki—atau shinigami—tadi. Meski ia tidak lagi aktif sebagai shinigami, tetap saja, ia mengenali semua shinigami yang ditugaskan di Karakura, dan seingatnya pria itu bukan salah satunya. "Mungkin dia baru ditugaskan." Pikirnya.
Selain itu remaja yang datang menjemput tadi juga membuat Ichigo penasaran. Sesaat ia merasa remaja itu mirip dengan seseorang, tapi tidak dapat mengingat siapa. Bukan hanya itu, ketika melihat wajah pemuda yang dipanggil Naito tadi entah kenapa Ichigo merasa kesal dan ingin memukuli wajah remaja itu (baiklah, itu berlebihan). Lamunannya buyar ketika ia mendengar teriakan dari dapur.
"Ayah! Yang enaknya kuhabiskan ya..!"
"Apa!? Jangan dihabiskan!" Jerit sang ayah dan langsung menuju dapur.
Begitu sampai di meja makan, pria itu celingukan karena menyadari ada dua anggota keluarganya yang hilang. "Karin dan Yuzu dimana?"
"Karin sedang melatih klub bola di SMP-nya dulu. Kalau Yuzu masih kuliah." Jawab seorang wanita bersurai honey blonde dan berdada lumayan.
"Oh.." Jawabnya singkat. Ia kemudian memandangi makanan di atas meja—apakah masih layak disebut makanan? Kemudian pandangannya beralih ke arah bocah yang masih duduk manis dengan tampang watados. "Anak ini! Dia menghabiskan semuanya!"
"Anu, Orihime. Makanannya tinggal apa lagi?" Tanya Ichigo sedikit cemas.
Wanita yang dipanggilnya Orihime itu menjawab dengan sumringah. "Masih ada kare isi kacang polong, timun, natto, dan jeruk!"
Ichigo terdiam mendengar menu masakan istrinya yang sepertinya 'wah'. "Sakit lagi nih perut." Jerit batinnya pasrah.
Makan siang berlangsung tenang. Begitu selesai, Ichigo langsung berlari ke kamar mandi untuk 'menyelamatkan' perutnya. Kazui juga langsung berdiri dan menonton kartun di ruang tamu. Orihime membereskan peralatan makan dan mencucinya. Setelah selesai, ia pun membuka lemari obat yang letaknya di atas kulkas dan mengambil sebuah botol kaca yang berisikan obat berbentuk kapsul. Setelah mengambil botol kaca tersebut, Orihime pun menutup lemari obat tersebut dan berjalan ke depan lemari peralatan makan untuk mengambil cangkir dan mulai mengisi cangkir tersebut dengan air yang mengalir di wastafel. Setelah mengisi cangkir tersebut dengan air, wanita itu beranjak dari sana dan berjalan pelan ke meja makan. Ia meletakkan cangkir yang berisikan air tersebut di atas meja makan dan mulai membuka botol kaca yang ada di tangannya. Orihime mengambil satu kapsul obat di dalam botol kaca tersebut. Ketika ia hampir memasukkan obat ke mulut, suara anak kecil mengagetkannya.
"Ibu, minum obat apa?" Tanya Kazui yang tiba-tiba sudah ada di dekat meja. Bocah itu sepertinya berniat mengambil susu di kulkas.
"Ha-hanya obat sakit kepala." Jawab Orihime sedikit panik sambil tersenyum.
"Ibu sakit?" Tanyanya lagi. Kazui agak khawatir karena ia tidak pernah melihat ibunya minum obat sebelumnya.
Belum sempat menjawab, Orihime dienterupsi oleh kedatangan Ichigo. "Ada apa, Kazui?" Tanyanya begitu melihat wajah khawatir sang anak.
"Ayah! Ibu sepertinya sakit." Seru bocah itu sambil menatap sang ayah.
"Eh—"
"KAAZUUII! KAKEK DATANG!"
Seketika perbincangan mereka diputus oleh teriakan lelaki dari luar. Dari suaranya saja semua tahu siapa dia.
"Ah! Kakeek!" Seru Kazui senang karena kedatangan kakeknya. Bocah itu langsung berlari menemui kakeknya yang masih berada di pintu depan.
"Hahaha! Cucu kakek sudah besar!" Ujar sang kakek semangat seraya menggendong Kazui. Sedangkan si cucu sendiri hanya tertawa kegirangan. "Takai! Takai!"
Baiklah. Déjà vu.
Lagipula kemana wajah khawatir bocah tadi?
Kedua orang tua Kazui hanya menghela napas melihat tingkah laku kedua kakek-cucu tersebut. Orihime karena senang, sedangkan Ichigo karena tercengang.
"Seingatku Oyaji sedang pergi jauh. Kenapa tiba-tiba di sini? Pakai shunpo?" Gumam Ichigo.
"Ayah, ayah! Aku ikut kakek main di luar boleh ya.." Seruan Kazui kembali menarik perhatian ayahnya.
"Iya, jangan nakal-nakal." Jawabannya disambut senang oleh Kazui. "Dan Oyaji. Tolong jaga Kazui ya.."
"Okay my son! Ayo Kazui kita bermain di luar!" Jawab Isshin sambil mengeluarkan jempolnya kepada Ichigo.
Beberapa detik kemudian mereka berdua sudah berada di halaman depan. Ichigo pun menghampiri Orihime yang masih berdiri diam di dekat meja makan.
"Kau baik-baik saja, Orihime?" Tanya Ichigo sembari memegang lembut tangan Orihime dan menatap cemas ke matanya.
"Mmmm.. aku baik-baik saja. Lagipula aku sudah meminum obatnya sesuai jadwal jadi sudah mendingan." Jawab Orihime tersenyum dan membalas genggaman Ichigo di tangannya.
"Kalau tubuhmu merasakan sakit lagi tolong secepatnya beritahukan aku. Supaya aku secepatnya mengantarkan mu ke rumah sakit untuk pemeriksaan." Saran sang suami sembari mengelus-elus kepala Orihime dengan lembut.
"Sudahlah, aku baik-baik saja. Lagipula aku sudah mengikuti saran Ishida-kun", Jawab Orihime lagi sambil tertawa kecil.
"Hah…. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ke klinik sepertinya ada pasien yang datang. Kalau ada apa-apa kau bisa memanggilku." Hela Ichigo yang melepaskan genggemannya dan mengambil jas dokternya di kursi dekat meja makan.
"Baiklah, selamat bekerja." Angguk Orihime dan tersenyum melihat Ichigo mulai berjalan ke dalam klinik.
Setelah Ichigo beranjak dari dapur, tinggallah Orihime sendiri. Senyuman kasih sayang yang sejak tadi ditunjukkannya berubah menjadi ekspresi murung dan sedih. "Sepertinya belum saatnya memberitahukan hal itu pada Ichigo", Pikir Orihime dengan kepala menunduk.
Siang yang cerah berganti malam yang gelap, hanya bisa disinari salah satu benda luar angkasa berbentuk bulat yaitu bulan. Sudah waktunya bagi pemilik toko kebanyakan di kota Karakura untuk menyudahi aktivitasnya dan mengistirahatkan tubuh. Hal itu juga dilakukan oleh Ichigo. Begitu selesai dengan pasien terakhirnya ia memutuskan untuk menutup kliniknya. Meski sebenarnya kliniknya tetap menerima pasien darurat di malam hari, ia tetap memberlakukan jam tutup. Hei! Dia juga butuh istirahat!
Pria bersurai senja itu langsung mandi begitu selesai menutup klinik, mengganti pakaiannya dan makan malam bersama. Seharusnya Karin dan Yuzu ada, tapi mereka mendadak menelpon dan tidak bisa pulang cepat untuk makan malam. Mengetahui itu, Ichigo hanya menghembuskan napas lemah. Ia tidak bisa lagi melarang mereka. Adik kembarnya kini sudah menjadi wanita dewasa. Isshin? Entahlah, Ichigo tidak peduli. Orang tua itu akan datang tiba-tiba untuk mengajak Kazui bermain, kemudian menghilang tiba-tiba. Tidur dimana juga anak sulung keluarga Kurosaki itu tidak tahu. Dan tidak mau tahu.
"Kazui! Sebelum tidur sikat gigi dulu!" Suruh Orihime sembari meletakan peralatan makan kotor di tempat cucian.
"Haai!" Jawab Kazui sembari turun dari kursi dan berlari kecil ke kamar mandi untuk menggosok giginya.
Saat Ichigo ingin berdiri dari tempat duduknya, tiba-tiba saja….
"Ah Ichigo. Bisakah kita bicara?" Cegah Orihime sebelum Ichigo pergi ke kamar mereka.
"Baiklah. Memangnya kau mau membicarakan apa?" Tanya Ichigo heran karena tidak biasanya Orihime seperti ini.
"Eh, ano. Bisakah kau menunggu sebentar lagi? Aku harus mencuci piring dan menidurkan Kazui." Tanya Orihime lagi dengan menatap Ichigo yang ada di hadapannya.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggumu di ruang tamu." Jawab Ichigo tersenyum sambil berdiri dan berjalan ke arah ruang tamu.
Selesai dengan piring kotor, Orihime langsung menuntun Kazui ke kamarnya dan menemaninya hingga bocah kecil itu tertidur. Merasa Kazui sudah berada sangat dalam di dunia mimpi, sang ibu perlahan keluar dan menemui suaminya yang masih menunggunya di sofa ruang tamu sambil menonton televisi dengan volume rendah.
"Ichigo." Panggil Orihime dan langsung disamping Ichigo.
"Kazui sudah tidur?" Tanya Ichigo sembari mematikan televisi di depannya yang dibalas anggukan oleh Orihime.
"Kalau begitu apa yang ingin kau bicarakan?" Ichigo agak penasaran dengan hal yang ingin dibicarakan oleh Orihime.
"Umm.. begini. Ini masalah pengobatan ku." Jawab Orihime perlahan sembari membalik tubuhnya menghadap Ichigo.
"Eh ada apa dengan pengobatan mu? Apa ada masalah?" Tanya Ichigo khawatir langsung memegang tangan Orihime dengan lembut.
"Tidak! Tidak ada masalah sama sekali. Tapi, kau masih ingat kan kalau saat musim panas minggu depan aku harus ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan di sana?" Terang Orihime membalas genggeman dan manatap mata Ichigo.
"Ya aku ingat menurut ku tidak ada masalah dalam pengobatan di rumah sakit nanti. Aku sudah meminta Ishida mengurusnya. Memangnya ada apa?" Tanya Ichigo heran.
"Ichigo, bisakah kau membawa Kazui pergi selama musim panas ini?" Pinta Orihime semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Eh? Kenapa?" Ichigo agak terkejut dengan permintaan istrinya.
"Selama musim panas ini Kazui akan libur sekolah dan lebih sering di rumah. Aku tidak ingin ia melihat ku di rumah sakit melakukan pengobatan dan tahu kalau aku sakit. Aku tidak ingin membuatnya khawatir, Ichigo.." Jelas Orihime yang mengeratkan genggemannya dan air mata mulai turun di pipi Orihime. Wanita itu berusaha menahan tangisnya dengan menggigit bibir bawahnya.
Sang suami terdiam sesaat. Kemudian memamerkan senyuman pengertian dan mengelus pipi sang istri penuh kasih sayang. "Baiklah, aku mengerti. Sudahlah, jangan menangis seperti itu. Tetapi aku harus membawa Kazui kemana?" Tanya Ichigo sembari menghapuskan air mata Orihime.
"Kau bisa membawa Kazui ke Soul Society. Bukankah Kuchiki-san pernah bilang kalau kita bisa datang kapan pun kesana? Lagipula disana ada Ichika jadi aku tidak perlu khawatir Kazui tidak punya teman disana" Jelas Orihime dan kembali tersenyum kepada Ichigo.
"Baiklah. Aku akan bicara pada oyaji untuk memintanya membuka pintu senkaimon." Ichigo setuju dan melepaskan genggemannya dari tangan Orihime. Ia berdiri sekaligus mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri berdiri.
"Terima kasih banyak Ichigo", Jawab Orihime sembari ikut berdiri dan menerima uluran tangan Ichigo.
Mereka berdua pun berjalan pelan ke kamar tidur, meninggalkan bulan yang masih menyinari terang rumah mereka di luar sana.
.
.
.
TBC
Suna : Hosh…hosh…hosh…tidak disangka chapter ini menguras tenaga saya juga #kelelepkedasarlautan. Gue mau ketawa sendiri saat mengketik bagian Ichigo yang romance, nggak nyangka saya bisa mengketik hal yang gituan #plak.
Nozomi: No offense. No offense! NO OFFENSE! OTP-ers no offense!
Suna : Nozomi-kun kenapa sih?
Nozomi: Gak papa deng... Btw... #pelukSuna. HISASHIBURI SUNA! LAMA GAK KETEMU! UDAH BERAPA LAMA? DUA MINGGU? KANGEEEN!
Suna: Nozomi lebay ah! Baru juga dua minggu! Akhirnya update juga...
Nozomi: Ngomong-ngomong... hebat juga. Kau sanggup bikin adengan romance nya... ehm.. yah..
Suna : Hahaha...Sebenarnya nggak nyaka juga bisa buat gituan. Saat nulis chapter ini, gue pindah ke fanfom sebelah dulu.
Nozomi: Tapi, kau merusak reputasiku, Suna. Aku gak pernah bikin romance sebelumnya..
Suna : Sudahlah Nozomi-kun belajarlah untuk romantis. Supaya lu cepat dapat pacar. Hidup itu harus penuh cinta.
Nozomi: NGATAIN GUA JOMBLO LU? HAH!
Suna : #kaburkeHuecoMundo.
Nozomi: Huff! Au ah! Kayaknya nih A/N udah kepanjangan. Karena Suna-kun lagi kabur ke Hueco Mundo biar dimakan hollow #diserangSunayangdatangtiba-tiba. Saya akan menutup chapter ini..
Akhirul kata...
Please Read and Review...
