Dia, Hatsune Miku telah dipilih sebagai 'Messiah' terhormat selanjutnya.
.
.
.
-Blessed Messiah and The Tower of AI-
Hitoshizuku-P x YamaΔ
Vocaloid © Yamaha Corporation
Cerita versi saya sendiri…
.
.
.
Miku membaca surat itu berkali-kali, tidak percaya melihat namanya sendiri tertulis disana. Dia kemudian berdiri, mendekap surat itu erat sambil berlonjak gembira.
"Aku harus memberitahu mereka tentang ini." Masih menggenggam surat itu di tangan, dia segera berlari menuju pintu, kemudian menyusuri jalan menuju kantor Kaito si pimpinan desa.
Dengan senyum lebar di wajah, Miku menyapa beberapa penduduk yang ditemuinya. Dia berlari dengan semangat hingga mencapai kantor pusat desa, setibanya disana, dia segera menuju ruangan Kaito.
Dia langsung membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk terlebih dahulu, mengejutkan tiga orang yang berada di ruangan itu. Menyadari siapa yang berdiri di ambang pintu, Kaito langsung tersenyum lebar.
"Oo~ Miku-chan. Apa yang membawamu kemari?" Kaito memiringkan kepalanya untuk dapat melihat lebih jelas wajah Miku yang tertutup Meiko.
"Tolong ketuk terlebih dahulu Miku-chan." Meiko menghela nafas kemudian melipat kedua tangan di depan dada sambil menyandarkan tubuh pada tembok di belakangnya. Memberikan ruang kepada Kaito agar dapat bertatap muka dengan Miku.
"Maafkan aku Kaito-nii, Meiko-nee, dan umm ohh ksatria yang tadi.." Seru Miku dengan lugunya.
"Ahaha…" Kaito terkekeh mendengar panggilan Miku pada si ksatria. Sementara ksatria yang dimaksud tampak menggerutu.
"Namanya Kiyoteru, Miku-chan." Meiko membenarkan sambil tertawa kecil. Kemudian tawa mereka berhenti.
"Tunggu. Ksatria tadi?" Kaito bertanya dengan senyum lebar di wajah.
Tiba-tiba keadaan berubah menjadi hening.
.
.
.
"Ah benar juga." Miku memecah keheningan, dia berjalan mendekati Kaito kemudian menyerahkan sebuah amplop yang sudah kumal bekas genggamannya.
Kaito mengambil amplop itu dan bermaksud memeriksa isinya tetapi amplop itu langsung jatuh dari tangannya setelah mendengar kata-kata Miku selanjutnya. "Aku terpilih sebagai Messiah selanjutnya." Seru Miku sambil berlonjak gembira tanpa menyadari ekspresi aneh di wajah Kaito.
Kiyoteru hanya tersenyum melihat reaksi Miku sementara Meiko menatapnya dengan ekspresi suram.
Menyadari ada yang aneh dari teman-temannya, Miku mengerutkan dahi seraya bertanya-tanya. "Ada apa? Apa ada yang salah?"
"Ahaha tidak apa-apa Miku-chan. Kau benar-benar mengejutkanku, apa kau tau itu?" Kaito memaksakan senyum di wajahnya, Miku melihat senyuman pemuda itu tampak aneh tapi dia hanya mengabaikannya.
"Benarkah? Aku memang bermaksud mengejutkanmu. Tapi saat melihat pria ini…" Miku menatap Kiyoteru, kemudian kembali menatap Kaito. "…kupikir dia sudah memberitahumu."
Kaito menggeleng pelan.
"Tidak. Kurasa kali ini kau berhasil membuat jantungku hampir berhenti berdetak."
"Ehehe…benar, kan. Aku sangat bersemangat setelah mengetahui ini, untunglah Meiko-nee juga ada disini." Miku menoleh ke arah Meiko, wajah suram ksatria wanita itu sudah kembali cerah. Meiko tersenyum hangat menanggapi sengiran Miku.
"Hmm..kau sudah menantikan ini, kan." Meiko menanggapi. Miku mengangguk cepat.
"Aku juga akan memberitahu yang lainnya." Serunya.
"Kalau begitu pergilah. Mungkin mereka juga akan senang mendengarnya." Melihat cengiran Meiko membuat mata Miku berbinar. Kaito menyerahkan kembali surat itu, Miku langsung menggenggamnya erat.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku sudah janji akan mengunjungi Mayu." Dengan senyum lebar di wajah, Miku keluar dari ruangan kemudian menutup pintu di depannya.
.
.
.
Miku menyusuri jalan menuju tempat Gakupo. Lonceng gereja berdentang bersamaan dengan pintu depan yang terbuka, menampakkan sosok Miku yang terpana mendengar syair indah yang dipanjatkan Gumi di atas altar.
Di kursi barisan depan, tampak Gakupo menutup mata seraya menikmati alunan syair tersebut. Miku menghampirinya.
Melihat Miku duduk di samping Gakupo, Gumi menghentikan senandungnya kemudian menuruni altar menuju tempat duduk barisan depan.
"Miku-chan" Serunya seraya merentangkan tangan, menghampiri Miku.
"Gumi" Miku merangkul Gumi erat. Mereka kemudian tertawa, membuat Gakupo membuka mata dengan raut kesal di wajah.
"Setidaknya lakukan keributan di luar, padahal beberapa waktu lalu aku masih menikmati syair indah Gumi." Melepaskan pelukannya dari Gumi, Miku menoleh pada Gakupo lalu menyeringai.
"Maaf Gakupo, aku hanya sedang senang saja." Melihat senyuman gadis itu membuat senyumnya merekah.
"Tenang saja, aku cuma bercanda. Mana mungkin kan aku marah padamu." Gakupo berdiri kemudian menepuk kepala Miku pelan.
"Oh ya, Miku-chan. Apa kau melihat pertunjukan jalanan tadi?" Seru Gumi bersemangat, Miku menggeleng.
"Maaf Gumi, tadi aku sedang buru-buru. Yah, walau pada akhirnya aku tidak bisa menyelesaikannya juga. Mungkin malam ini." Gumi menatapnya bingung. "Seharusnya tadi aku menonton pertunjukan itu saja." Seru Miku frustasi.
"Tenanglah Miku-chan, masih ada besok hari, kan?" Gumi menepuk pundak Miku, berusaha menenangkannya.
"Apa besok kau akan tampil lagi?"
"Emm sepertinya tidak. Aku baru ingat akan menemani Kagamine ke pasar di kota sebelah. Bagaimana kalau lusa?" Gumi menyarankan, Miku tampak kaget mendengar kata 'lusa'. Dia baru ingat alasannya datang ke tempat ini. Dia menggeleng lagi.
"Mungkin aku tidak akan bisa melihat pertunjukanmu lagi." Gumi dan Gakupo tersentak mendengar pengakuan Miku.
"Tapi…kenapa?" Gumi berteriak panik sedangkan Gakupo menatapnya dengan khawatir, Miku segera memperlihatkan surat yang tadi diterimanya dengan senyum lebar di wajah.
"Pagi tadi surat ini diantar ke rumahku oleh seorang ksatria kerajaan. Aku… sudah terpilih menjadi Messiah selanjutnya." Serunya gembira. Melihat surat itu, mata Gumi langsung berbinar.
"Wahh hebat, Miku-chan hebat. Kau akan menjadi penyelamat dunia." Gumi memegang kedua tangan Miku, mereka berdua kemudian berlonjak gembira. Pandangan mereka beralih pada Gakupo.
Melihat ekspresi suram di wajah Gakupo, Gumi segera menghampirinya kemudian memukul pundaknya dengan keras, mengagetkan pemuda bersurai ungu itu.
Dengan mulut melongo, pemuda itu menatap Gumi, pupilnya membesar terjebak antara terkejut dan bingung menerima berita itu secara tiba-tiba. Dia lalu mengalihkan pandangannya pada Miku yang menatapnya dengan khawatir.
"A..ah, aku sangat terkejut, Miku-chan. Apa kau benar-benar terpilih sebagai Messiah selanjutnya?" Seru Gakupo tak percaya.
Miku menyeringai lebar. "Hmm.." Gakupo melirik surat di tangan Miku, kemudian ekspresinya berubah senang.
"Benarkah? Itu berita yang sangat bagus." Seru pemuda itu dengan senyum lebar di wajah, Gumi mengangguk setuju.
"Jadi, kapan kau akan melakukan perjalanan?"
Miku memeriksa isi surat itu sekali lagi, kemudian memegangnya di hadapan Gakupo, menunjuk sederet huruf bertuliskan lusa.
"Karena itulah, aku mungkin tidak bisa melihat pertunjukan itu…Tidak. Bukan hanya itu, mungkin aku tidak akan bisa melihat kalian juga. Aku tidak tau apa yang terjadi pada para Messiah sebelumnya setelah mencapai menara, tapi—"
"Kau pasti akan kembali!" Gumi sekali lagi meraih tangan Miku, memegangnya erat. Pupil Miku membesar mendengar kata-kata Gumi. "Kau harus kembali pada kami." Serunya dengan nada lebih pelan, suaranya terdengar gemetar karena menahan tangis.
"Benar Miku-chan. Kau tidak boleh mengatakan selamat tinggal pada kami, katakanlah sampai jumpa, seperti biasanya." Gakupo meyakinkan dengan senyum hangat di wajahnya.
"Hmm." Miku membulatkan tekad. "Kalau begitu aku akan berusaha." Dia mengepalkan kedua tangan di depan dada, seperti seorang petarung.
Gumi menyeka sedikit air mata di wajahnya kemudian tersenyum lebar melihat semangat sahabatnya itu.
"Terima kasih Gakupo…juga Gumi." Gumi mengangguk. Sementara Gakupo meletakkan tangan kanannya di pinggang seraya tersenyum.
"Aku akan memberitahu yang lainnya." Serunya. Dia berlari menuju pintu, langkahnya terhenti saat mendengar Gumi berteriak dari jauh.
"Mereka pasti akan senang mendengarnya." Membalikkan badannya, Miku kemudian melambaikan tangan, melihat senyum dua sahabatnya sebelum menghilang ke balik pintu.
.
.
.
Beranjak menuju toko roti IA dan Mayu, gemerincing lonceng berbunyi saat Miku memasuki toko. Seperti biasa, senyum manis Mayu menyambutnya bersama dengan seringai IA.
"Miku-chan." Miku menoleh pada satu orang lagi yang berada di toko itu.
"Ah Luka-nee." Luka tersenyum ramah menyambut senyum lebar Miku.
"Kalau merepotkanmu, kau tidak perlu melakukan apa yang dikatakan Mayu." Seru IA dengan wajah khawatir, Mayu menggembungkan pipinya dengan kesal. Miku menoleh pada Mayu sebelum menjawab.
"Tidak apa-apa. Lagipula ada hal yang harus aku beritahukan." Luka mengalihkan perhatian dari beberapa potong roti di hadapannya, menatap Miku dengan penasaran.
"Apa itu? Apa kau perlu bantuan kami? Kami akan dengan senang hati membantumu." Seru IA bersemangat, Mayu menoleh pada IA kemudian pada Miku lalu mengangguk setuju. Miku menggeleng.
"Bukan itu. Ehehe" Melemparkan senyum terbaiknya. Miku berseru dengan gembira. "Aku terpilih menjadi Messiah selanjutnya." Membuat tiga orang di ruangan itu tercengang.
Luka melepaskan keranjang yang dipegangnya kemudian memeluk Miku dengan erat.
"Hwaaa benarkahh?" IA berseru takjub sementara Mayu sudah terlebih dahulu memeluk Miku dari samping.
Setelah Luka dan Mayu melepas pelukan mereka, IA menepuk pundak Miku pelan.
"Lakukanlah dengan baik Miku. Jangan mengecewakan kami." Serunya menyemangati. Miku mengangguk cepat, matanya berbinar melihat reaksi dari tiga sahabatnya itu.
"Apa kau sudah memberitahu yang lainnya?" Tanya Luka kemudian, menarik perhatian Miku.
"Ah aku belum memberi tau Rin-chan dan Len-kun." Sahut gadis itu setelah berpikir sejenak. "Aku akan memberitahu mereka setelah ini." Lanjutnya. Luka mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, tunggu sebentar." Setelah membayar beberapa potong roti, Luka berjalan menuju pintu seraya mengisyaratkan kepada Miku untuk mengikutinya, Miku menatapnya bingung. "Aku juga akan mengunjungi mereka, akan lebih baik jika kita pergi bersama, iya kan?" Wanita bersurai merah muda itu mengedipkan sebelah matanya.
"Tentu saja." Sahut Miku dengan senyum lebar di wajah. Suara gemerincing lonceng kemudian terdengar.
Miku berjalan mundur seraya melambaikan tangan pada kakak beradik yang berdiri di depan toko mereka,
"Miku! Kau harus berhasil!." Sang kakak berteriak dari jauh sambil melambaikan tangannya.
"Tentu saja! Aku akan berusaha!" Miku membalas lambaian tangan IA.
"Miku-nee, sampai jumpa! Kau harus kembali, pastikan kau akan kembali!" Miku mendengar Mayu berteriak sebelum sosok mereka menghilang dari jarak pandangnya. Miku membalikkan badannya.
Entah kenapa raut wajah Miku berubah sedih, Luka menoleh ke sampingnya, menatap Miku dengan khawatir.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan itu." Miku menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya aku tidak mengkhawatirkan soal menara itu. Hanya saja aku tidak ingin mengecewakan kalian, kalian adalah sahabat yang paling berharga bagiku dan aku tidak ingin kehilangan itu." Tubuhnya tampak gemetar, dia menatap Luka, memaksakan senyuman di wajahnya. Sekali lagi Luka memeluknya erat.
"Ano ne, Luka-nee, sebenarnya aku agak takut. Aku takut menghadapi apa yang terjadi setelah aku berhasil menunaikan tugasku sebagai Messiah." Luka tersentak, tanpa sadar, bulir air mata menetes membasahi wajahnya, dia memeluk Miku lebih erat.
"Kau tidak perlu takut. Semua akan baik-baik saja, bahkan semua akan menjadi lebih baik. Pikirkanlah itu, Miku. Kau akan menyelamatkan dunia, kau akan menyelamatkan semua orang. Bukankah itu bagus?"
Air mata Miku menetes mendengar kata-kata Luka.
"Tapi—"
"Hanya, jangan berhenti percaya. Jika kau dalam masalah, kami akan membantumu. Kami selalu melakukannya, benarkan?" Luka melepaskan pelukannya, membungkuk sedikit untuk menyeka air mata Miku.
Miku tertawa kecil. "Aku memang aneh." Luka mengerutkan dahinya. "Memikirkan hal semacam itu, aku cuma bisa membuat Luka-nee khawatir." Miku menundukkan kepalanya.
"Wajar saja jika kau merasa cemas karena kau akan menunaikan tugas yang berat. Tapi, aku tau bagaimana cara menghilangkan kecemasanmu itu." Luka menyeringai, Miku menengadahkan kepala sambil bertanya-tanya.
"Apa kau sudah lupa tujuan kita?" Luka berjalan mendahului Miku, sementara gadis bersurai teal itu masih kebingungan memahami perkataan Luka tadi. Tapi pada akhirnya dia mengesampingkan itu kemudian menyusul Luka yang sudah jauh di depannya.
.
.
.
Berdiri di depan rumah si kembar Kagamine, Miku kembali ceria seperti biasanya. Setelah mengetuk beberapa kali, sang adik, Kagamine Len membukakan pintu dengan senyum lebar di wajah.
"Miku-chan." Len baru akan memeluk Miku tetapi di belakangnya terdengar suara langkah kaki berlari dengan cepat, lalu dia merasakan dorongan kuat pada bahu kirinya bersamaan dengan sosok gadis pirang—Kagamine Rin berlari melewatinya sebelum merangkul Miku dalam pelukan.
"Kalian akrab seperti biasanya ya." Luka berkomentar, mengabaikan wajah masam yang ditunjukkan Len saat pemuda itu mendarat di lantai kayu dengan posisi aneh. Rin hanya cekikikan, tanpa sengaja tangannya memegang saku pada dress selutut yang dikenakan Miku.
"Apa ini?" Gadis pirang itu menatap Miku dengan bingung.
"Oh." Miku mengambil amplop dari dalam sakunya kemudian menyerahkannya pada Rin.
Merasa penasaran dengan isi amplop itu, Len beranjak dari posisi rebahan, mengintip dari balik pundak Rin, sementara sang kakak mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop tersebut kemudian membacanya tanpa bersuara.
Si kembar Kagamine kemudian menatap Miku, menyipitkan mata mereka. Miku bergidik. Dia berpikir mungkin dua sahabatnya ini tidak mau mendukungnya atau semacamnya, pikiran buruk mulai merasuki otak Miku.
Luka menatap Miku dengan prihatin. Dia kemudian menoleh pada si kembar Kagamine, mulutnya membuka untuk mengatakan sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian dua remaja pirang itu tetapi apa yang mereka lakukan selanjutnya membuat Luka melongo.
"Miku… kau hebat!" Si kembar Kagamine berseru berbarengan seraya memeluk Miku dengan erat, membuat Miku terkejut.
"Kau adalah seorang Messiah…." Seru Rin lagi.
"….Miku akan menyelamatkan dunia. Kau sangat hebat!" Len meneruskan.
Luka menghela nafas lega. Miku melirik Luka sejenak, melihat wanita itu melipat kedua tangan di depan dada seraya tersenyum hangat.
Senyum Miku mengembang.
Dia sangat senang. Semua sahabatnya menerima kabar ini dengan baik, ini membuatnya ingin berusaha lebih keras. Dia akan berusaha lebih keras untuk dunia ini, juga untuk mereka.
.
.
.
.
.
.
"Lakukanlah yang terbaik." Kata-kata yang dilontarkan Len tadi menggema dalam otaknya berulang kali hingga membuat jantungnya berdegup cepat. Wajahnya terasa panas. Dia mulai berlari lebih cepat.
Setelah berpamitan dengan si kembar Kagamine, dia berpisah dengan Luka di persimpangan. Untuk terakhir kalinya, Luka memeluknya erat kemudian beranjak pergi dengan senyum kecil di wajah.
"Raihlah tangan kami jika kau memerlukan."
Miku menghentikan langkahnya.
.
.
"Maka tidak ada yang perlu kau takutkan."
.
.
Miku mengepalkan tangannya erat kemudian berlari dengan cepat memasuki rumahnya, mengunci pintu lalu bersandar pada daun pintu. Air mata menetes membasahi wajahnya. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia menangis.
Dia meringkuk di depan pintu, memeluk lututnya dan membenamkan wajah disana. Tiba-tiba terdengar dentaman kecil yang menarik perhatiannya. Dia menoleh pada ruang kerjanya. Perlahan, dia berjalan menuju ruangan itu kemudian mengintip melalui celah pintu. Beberapa benda merah kecil di atas meja membuatnya terpaku.
Miku menghampiri meja itu dan mengamati benda asing di atasnya. Dia menatapnya takjub, benda itu adalah sebuah batu permata berbentuk oval dengan warna merah yang indah. Miku memeriksa ruangan itu kemudian keluar untuk memeriksa ruangan lainnya sebelum kembali ke ruangan tadi.
"Siapa yang meletakannya disini?" Dia bergumam penuh penasaran.
Mengabaikan asal usul batu permata itu, sebuah ide muncul di otaknya. Senyuman merekah di wajahnya seraya kakinya melangkah menuju bagian belakang meja kerja, membawa semua batu permata itu bersamanya.
Miku bekerja semalaman. Selama dua malam dia bekerja keras menyelesaikan pekerjaannya serta mencoba membuat sesuatu dari semua batu itu. Tanpa sadar, cahaya mentari pagi bersama dengan kicau burung membangunkannya. Akibat kelelahan, dia tertidur cukup lama bahkan sampai melupakan hari keberangkatannya menuju menara.
Mengingat belum ada persiapan apapun yang dilakukan untuk melakukan perjalanan, gadis itu segera beranjak pergi, meninggalkan beberapa batu permata yang telah dia rombak dengan bantuan wol di atas meja kerjanya.
Di kamarnya, Miku mengemas beberapa hal penting seperti peta dan kompas yang diberikan oleh Kaito kemaren lusa, dia juga menyiapkan satu botol berisi air. Sebagai persiapan terakhir, Miku kembali ke dalam ruang kerjanya untuk mengambil batu permata yang dia tinggalkan tadi kemudian menyimpannya di dalam tas kecil.
Setelah persiapan selesai, Miku bergegas menuju tempat yang dijanjikan, sesuai dengan pernyataan yang tertulis pada surat dari kerajaan mengenai tempat yang harus dia datangi beserta waktu keberangkatan. Dia tiba disana lebih awal.
Desa itu memiliki dua gerbang, gerbang menuju kerajaan yang terletak di bagian timur dan gerbang menuju hutan dan perbukitan di bagian baratnya. Miku menunggu di gerbang barat, cuaca hari itu cukup cerah tetapi keadaan desa tampak lebih sunyi dari biasanya.
Miku masih menunggu di depan gerbang hingga suara ringkikan kuda membuatnya membalikkan badan. Beberapa ksatria dari kerajaan memberi penghormatan untuknya.
Sedikit demi sedikit penduduk desa mulai memadati tempat itu. Beberapa ada yang tersenyum bangga dan beberapa lainnya ada yang meneteskan air mata.
Mereka melontarkan kata-kata penyemangat kepada Miku, matanya menjadi sembab menahan air mata yang hampir jatuh dari sudut mata. Dia menyeka sedikit butiran air mata yang sempat lolos ke wajah dengan jari kemudian tersenyum hangat.
Seorang ksatria yang Miku kenal sebagai Kiyoteru melangkah dari balik kerumunan dengan langkah teratur. Dia kemudian menyerahkan sebuah tongkat obor berwarna keemasan. Melihat Miku mempertanyakan benda itu, ksatria itu langsung menjelaskan.
"Bawa tongkat obor ini ke puncak menara. Untuk meminta pengampunan." Miku mengangguk pelan sambil menatap Kiyoteru dengan serius. "Ah, aku tidak sempat mengucapkan selamat kepadamu tapi sepertinya itu tidak diperlukan, ya." Ksatria itu tersenyum canggung, Miku tertawa kecil.
"Tidak. itu sangat berarti. Terima kasih." Miku kemudian menghadap penduduk desa. "Terima kasih telah datang kemari, aku akan berusaha untuk kita semua." Serunya dengan lantang.
Terdengar isak tangis dari beberapa penduduk, Miku berusaha keras untuk menahan air matanya.
"Kau tidak perlu memaksakan dirimu. Kami hanya ingin melihatmu pulang." Ucap salah seorang diantara mereka, hati Miku jadi semakin getir.
"Aku akan pulang." Ucapnya mencerahkan suasana. Kepalanya menunduk, dia tidak ingin seperti ini. Akhirnya kemaren dia tidak mengunjungi sahabatnya, padahal dia ingin bertemu mereka untuk terakhir kali, dia seharusnya mengucapkan selamat tinggal—Tidak.
Dia seharusnya mengucapkan sampai jumpa seperti yang sering dia lakukan.
"Apa kau sudah siap untuk pergi?" Miku menyeka air matanya kemudian menengadahkan kepala, menatap Kiyoteru dengan senyum sedih.
Dia membalikkan badannya menatap hutan di seberang desa. Kakinya sudah akan melangkah hingga suara yang familiar terdengar dari belakangnya, memanggil namanya dari kejauhan.
Miku memutar badan, senyuman pemuda bersurai biru membuat warna wajahnya berubah cerah. Di belakang pemuda itu, beberapa sahabatnya menerobos kerumunan kemudian berbaris disamping pemuda bersurai biru yang kini berdiri di tengah-tengah mereka.
"Miku, ke menara itu…" Pria bersurai biru—Kaito memulai.
"Kami akan pergi bersamamu." Sahabatnya yang lain menyelesaikan kalimat itu dengan kompak. Miku tampak terkejut. Dia melihat tas kecil pada pundak mereka.
"Untuk menyelamatkan dunia kita yang akan mati ini." Rin berseru.
"Kau tidak bisa melakukannya sendiri." Meiko melanjutkan.
"Kami tidak akan membiarkan itu terjadi." Kaito tersenyum hangat kemudian mengulurkan tangannya. Tatapan Miku berubah lembut, dia memiringkan kepalanya kemudian tersenyum lebar.
Senyum yang dia rindukan akhirnya kembali dia lihat, tatapan hangat dan semangat mereka seolah menyulut api semangat dalam dirinya. Menyambut uluran tangan sahabatnya, sekali lagi Miku meraihnya dan melangkah bersama mereka memulai perjalanan panjang yang dulu selalu dinantikannya.
.
.
.
