"Jimini-ah! Kau sudah sadar?"

Aarrgghh…. Sakit sekali kepalaku. Hei…. Di mana aku sekarang? Kenapa semuanya serba putih? Bukankah itu Jungkook dan kekasihnya Taehyung –sahabatku dan Yonggi oppa-, kenapa mereka ada di sini?

"Eonni…" kini ucapnya sedikit melembut. Aku tersenyum melihatnya, ah.. ternyata aku sedang berada di rumah sakit. Ada apa denganku sehingga aku terbaring di sini? Baiklah.. aku harus bertanya kepada mereka.

"ee… aa…" ada apa ini? ada apa dengan suaraku? Kenapa sama sekali tidak mau keluar? Ada apa dengan semua ini? apa yang terjadi padaku?

"aa….aa…"

"…."

Sekali lagi aku mencobanya. Aku gagal …

Aku berusaha untuk bangkit dari tidurku, tapi rasanya kepala ku masih berat sekali. Tak apa, aku harus meminta penjelasan pada mereka.

"Eonni.. sudah, jangan paksakan. Keadaanmu masih belum stabil." Yeoja bernama Jungkook itu menahanku untuk tetap berbaring, tapi sekuat tenaga aku berusaha untuk berontak. Namun sekuat apapun aku berusaha unutk berontak, tetap saja aku dapat dihentikannya karena keadaanku yang masih belum pulih sepenuhnya. Terlebih lagi keadaan kepalaku yang masih sangat pening.

Aku menatap mereka berdua dengan pandangan menginterupsi. Seakan mengatakan –apa yang sedang terjadi padaku?-. dan pada akhirnya air mataku tak dapat algi ku tahan. Aku tidak mau mengira ngira apa yang terjadi padaku. Aku belum sanggup menerima kenyataan diriku sekarang ini.

Kulihat Jungkook mendekatiku dan dengan lembut memelukku. Terdengar isakan pelan di dekat telingaku yang kurasa adalah isakan Jin eonni.

"Maaf… Maaf…. Maafkan kami Eonni… kami tidak bisa melakukan apa apa. Seandainya waktu itu aku sedang bersamamu." Terdengar racauan yeoja yang tengah memelukku kini. Walaupun tidak terlalu jelas karena isakan yang sesekali keluar dari mulutnya itu, tetapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Aku melepaskan pelukannya. Aku menatapnya dengan tatapan pilu. Begitu juga sebaliknya. Bahkan akupun sebenarnya tidak sanggup melihat sahabatku menangis sepilu ini. apalagi ini semua gara gara aku…. Maaf.

"Jungkook-ah sudahlah…" ucap Taehyung mengelus pelan punggung kekasihnya kekasihnya kini.

"aaa….."

Sekali lagi aku mencoba untuk bersuara. Tapi apa… aku tetap gagal. Aku tidak dapat mengeluarkan apa yang ingin kukatakan pada mereka. Kutumpahkan semua aku mencoba semakin sakit aku menerima kenytaan ini. aku tidak mampu mengendalikan diriku, semakin ku coba untuk berbicara kepalaku akan semakin sakit.

Kurasakan Jungkook kembali memelukku dengan erat. Dan dengan erat pula aku membalas pelukannya. Aku sudah tidak peduli lagi jika bajunya basah karena air mataku, yang ku butuhkan kini hanya seseorang yang mampu membuatku merasa tenang dan nyaman. Tetapi aku tau, seseorang yang kuharapkan tidak ada di sini. Yoongi oppa… ku mohon kembalilah dan temani aku.

Jadi aku menderita suatu kondisi dimana si penderitanya mengalami kesulitan dalam kemampuan berbahasa atau lisan mereka, baik dalam berbicara maupun dalam memahami apa yang dikatakan orang lain. Hal ini terjadi karena kerusakan pada jaringan bahasa dekat dengan areal frontal kiri otak. Luka pada kepala yang terjadi saat kecelakan beberapa waktu lalu dapat berakibat fatal seperti ini. Hal ini sangat menyiksaku karena aku begitu kesulitan berkomunikasi dengan orang lain. Sempat terpikir oleh ku untuk mengakhiri semuanya. Aku terlalu lelah dengan semua ini. ternyata selain tida bisa berbicara, kalian tau… aku juga lumpuh… aku tidak bisa lagi menggunakan kakiku untuk berjalan karena ada salah satu saraf yang rusak. Sungguh menyebalkan.

Aku sangat kasian melihat Appa, Umma dan juga Jin eonni yang selalu mengkhawatirkanku. Belum lagi Jungkook, Tehyung, Jeonghan dan Jisoo yang selalu datang bergantian untuk menjagaku selama Umma, Appa dan Jin eonni sedang ada keperluan. Aku selalu berpikir aku adalah orang yang paling tidak berguna, jangankan untuk pergi kekantor untuk bekerja, berbicara sajapun aku masih kesulitan. Aku benci dengan semua ini.

Tapi ketika aku memikirkan itu semua, tiba tiba bayangan semua orang yang menyayangikupun ikut bermunculan menampakkan semua apa yang telah dilakukan mereka untukku. Tegakah aku meninggalkan mereka dengan cara sepicik ini? masihkah kau berhak mendapatkan kasih sayang mereka setelah kau berpikir seperti ini , Park Jimin? entahlah aku tidak tau harus berbuat apa aku sekarang.

"annyeong eonni… kami datang!" teriak Jungkook dan Jeonghan bersama setelah mebuka pintu kamarku dengan pelan.

Aku tersenyum melihat tingkah laku kedua sahabatku ini. dengan mereka seperti ini padaku, masihkah pantas aku pergi meninggalkan mereka begitu saja? Kurasa tidak.

"hei.. kau cantik sekali hari ini Min-ah." Kali ini aku tersenyum malu menanggapi ucapan Jeonghan barusan. Hei.. jika tidak dengan tersenyum, dengan apalagi aku harus membalas mereka. Ya, hanya itu hal terbaik yang bisa kulakukan saat ini, berterima kasih hanya dengan sebuah senyuman. Sungguh menyedihkan Park Jimin.

Kurasakan setiap hari keadaanku semakin membaik, aku sudah dapat berkomunikasi dengan mereka walaupun kadang aku masih kesulitan. Aku sudah dapat memahami apa yang mereka maksudkan. Bahkan aku sering tertawa karena lelucon yang dilontarkan Jungkook saat menceritakan apa saja yang ia alami bersama Tehyung. Begitu juga dengan Jeonghan yang suka sekali menggodaiku seperti barusan. Tetapi tetap saja ada sesuatu yang begitu membebaniku.

Sudah 2 jam mereka berada di sini, mengajakku mengobrol walau mereka tau aku tidak akan pernah bisa menjawabnya. Dan jujur saja untuk saat ini aku masih sedikit belum bisa menerima keadaanku yang memang seperti ini adanya, kadang aku hanya melamun saat mereka menceritakan apa saja yang baru terjadi pada mereka. Aku ini kenapa? Haruskah aku selarut ini pada masalah yang… yang… berat seperti ini. aku tidak apa apa. Tuhan… kenapa aku harus merasakan semua ini, tidakkah lebih baik kau mengambil nyawaku pada saat itu juga.

"Jimin-ah…"

Aku mendongak saat Jeonghan memanggilku pelan. Aku menatapnya sambil bergumam "eung..."

"apa… ini sudah saatnya kami memberitahu keadaan mu pada Yonggi oppa? Bukankah ini sudah lebih dari 4 bulan." Tanya jungkook ragu seakan takut sekali jika aku tiba tiba menangis saat ia menyebut nama yang selama ini sangat kurindukan.

Aku kembali menunduk. Aku tidak tau harus menjawab apa. Akhirnya pertanyaan yang selama ini kutakutkan, meluncur juga dari mulut salah satu sahabatku ini. jangankan untuk memikirkan jawabannya, memikirkan orang yang ia sebutkan tadi saja aku tidak sanggup, aku terlalu malu dengan keadaanku sekarang. Apa aku masih pantas bersanding dengan pemuda tampan sepertinya? Entahlah…

"Min-ah…" Jeonghan memanggilku lagi.

Aku menggeleng dan mengangkat sedikit bahuku. Aku tau selama 4 bulan ini Yoongi oppa begitu mencemasakanku. Apalagi sejak aku tiba tiba saja memutuskan kontak denganya dan juga melarang orang orang memberitahukan keadaanku pada. Jadi, intinya ia tidak tau keadaanku saat ini. tetapi setelah dua bulan yang lalu, ia tak pernah lagi menghubungiku. Aku rasa ia mungkin tidak tahan karena aku tidak pernah mau menjawab telponnya atau pun pesan dan surat darinya. Tapi di sisi lain hatiku aku sangat mengharapkan untuk bertemu dan memeluknya erat, membagi semua beban yang ada dipikiranku. Tapi apakah ia akan mau kembali menerimaku dengan keadaan seperti ini? apakah keluarganya akan mau menerimaku dengan keadaan seperti ini?

"kenapa eonni… bukankah ia juga berhak tau keadaanmu." Lanjut Jungkook.

Aku tetap menggelengkan kepalaku, teguh pada pendirianku. Aku tidak mau Yoongi oppa tau tentang keadaanku. Aku takut ia akan jijik padaku. Ah.. lebih baik mulai saat ini aku akan melupakannya.

Mereka berdua menyerah dan berhenti bertanya padaku. Ah.. akhirnya mereka mengerti juga.

Kali ini pandanganku tertuju pada jari manis tangan kiriku. Masih sama… manis sekali dengan cincin perak dengan berlian kecil ditengahnya pemberian dari Yoongi oppa waktu itu. Aku mulai memainkannya dan tidak lama kemudian kuputuskan untuk melepasnya dari jari manisku. Cincin yang berukirkan nama Min Yoongi yang telah menemaniku selama pemilik nama yang terukir di cincinku pergi nan jauh di sana.

"Eonni.. kenapa kau melepasnya?" Tanya Jungkook dengan tatapan heran begitu juga dengan Jeonghan.

Aku tersenyum simpul. Kemudian aku berkata pada mereka bahwa aku tidak pantas lagi untuk bersamanya, dan aku meminta mereka untuk membuang cincin ini, tentu saja dengan bahasa yang masih belum sepenuhnya dimengerti mereka atau mungkin hanya aku sendiri saja yang mampu memahaminya.

Mereka terheran. "apa aku yakin? Aku yakin sekali bahwa Yoongi oppa pasti akan datang untuk menemuimu. Jadi ku mohon jangan terburu buru." Ucap Jeonghan sambil kembali mencoba memasangkan cincin itu ke jari manisku.

Dengan cepat aku mengempaskan tanganku sehingga cincin yang belum terpasang sempurna pada jariku itu terlempar jatuh di dekat tempat tidurku.

Aku tak dapat menahan lagi tangisku, rasanya perih sekali melihat aku melepaskan cincin itu dan kemudian menghempaskannya. Maafkan aku Yoongi oppa. Aku tidak bisa menepati janjiku. Jika dulu aku tau akan menjadi seperti ini, aku tidak akan bersedia berjanji. Maafkan aku oppa…

Kulihat Jeonghan memungutnya. Bisa terlihat air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Sakit sekali melihat sahabataku mengeluarkan air matanya karena aku. Maafkan aku Jungkook… Jeonghan…

"apa kau benar benar mau kami membuangnya?" tanyanya singkat.

Aku pun mengangguk singkat. Aku tidak mau berlama lama melihatnya yang menahan tangis sehingga aku menjalankan kursi rodaku meninggalkan mereka. Aku sekarang tengah berada di balkon kamarku.

"baiklah jika itu maumu… kami akan menyimpannya. Aku tidak akan membuangnya. Jadi jika kau berubah pikiran, ambillah lagi cincin itu pada kami. Aku akan segera mengembalikannya. Kami pulang dulu Jimin-ah" Ucap Jeonghan bijak sekalian berpamitan. Dan kini terdengar suara pintu kamar tertutup. Aku menoleh, ternyata mereka sudah pergi meninggalkanku. Syukurlah aku tidak perlu melihat mereka menangis, sungguh tidak tega aku jika harus selalu membuat mereka menangis. Sekali lagi maafkan aku…

-tbc-

bagaimana readers sekalian? ngebosenin ya? maaf maaf banget chapter kali ini pendek sekali dan terima kasih buat yang sudah mampir dan review, dan RnR juseyo. salam YOONMIN HARDSHIPPER