Sudah hampir setengah jam gadis itu mondar mandir di dalam kamar mungilnya, sambil menggigit jari karna frustasi. Dikepalanya hanya berisi nama Sophia. Ia sudah berjanji akan kembali ke rumah sakit, tapi sedikit gugup jika harus mengaku sebagai ibunya.
Ponsel pintar gadis itu berbunyi. Ia segera meraih benda itu dan menempelkan pada telinga kanannya.
"Sehun!"
"Hei. Kenapa bersemangat sekali. hm?"
"Ah maafkan aku Sehun. Aku merindukanmu." Ucapnya lirih.
"Aku lebih merindukanmu sayang."
"Benarkah? Kalau begitu kembalilah."
"Hei. Yang benar saja? Tapi aku janji. Jika liburan nanti aku akan menemui-mu."
"Ya. Aku akan menunggumu Sehun."
"Bagus. Kau harus menungguku. Jaga kesehatanmu untukku sayang."
"Kau juga Sehun."
Astaga. Ia benar-benar merindukan Sehun-nya. Ingin rasanya waktu itu Zitao melarang Sehun pergi. Apa salahnya jika Sehun melanjutkan belajar di Universitas di Beijing? Agar ia dan Sehun bisa terus bertemu.
Jawabannya adalah, karena ayah Sehun yang menginginkan anak satu-satunya melanjutkan di Universitas yang sama dengannya. Apa boleh buat? Sehun juga tidak bisa menolak. Karna dia satu-satunya pewaris didalam keluarganya.
.
.
.
.
.
SECRET WEDDING
.
.
.
.
.
Ini hari kedua simungil Sophia dirawat dirumah sakit. Padahal ia sudah menunjukkan wajah sehat segarnya pada daddy-nya dan juga Dokter Jumnian, tapi apa daya kedua orang itu tidak membolehkannya pulang. Alhasil ia tidak boleh pergi ke sekolah dan harus beristirahat dikamar rumah sakit.
Menyebalkan. Pikirnya.
Ia juga tidak ditemani oleh daddy karena sibuk bekerja. Jadi Sophia hanya ditemani oleh salah satu maid di rumahnya.
"Bibi Ling. Kapan mommy datang?"
Sang Bibi tidak terkejut lagi. Seisi mansion Tuan Wu sudah mengetahui perihal mommy yang dimaksud Nona muda mereka.
"Bibi tidak tau Nona. Yang pasti, jika Nona mau makan mommy pasti akan kesini."
"Tidak Sophia tidak mau makan jika tidak disuapai mommy." Balasnya sedih. Jangan lupakan matanya yang berkaca-kaca membuat Bibi Ling tidak tega.
"Nona Sophia harus makan jika ingin sembuh. Bukankah Nona ingin pulang dan pergi ke sekolah?"
"Iya. Tapi Sophia ingin mommy yang menyuapi. Apa mommy pergi lagi? Meninggalkan Sophia dan daddy lagi? Hiks.."
Astaga. Bibi Ling ikut sedih melihat Nona mudanya menangis. Kasihan sekali. Pikirnya.
"Hei mengapa menangis? Bibi yakin mommy Nona Sophia akan kesini sebentar lagi." Ucap Bibi Ling menenangkan Sophia.
Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan keduanya pada seseorang yang memasuki kamar inap Sophia.
"MOMMY?!" Sophia berteriak tak menyangka apa yang dikatakan Bibi Ling menjadi kenyataan. Mommy cantiknya datang.
"Ya." Zitao menjawab lirih dan berdiri mematung didepan pintu. Ia tersenyum kikuk pada Sophia dan Bibi Ling.
"Ayo kesini mom.." panggil Sophia semangat.
Zitao berjalan kearah Sophia. Ia benar-benar malu dipanggil begitu oleh Sophia. Uluran tangan Zitao disambut hangat oleh Sophia, lalu memeluk gadis mungil itu.
"Mom, jangan tinggalin Sophia lagi." Lirih gadis itu. Begitu mungil dalam pelukan Zitao.
"Maaf sayang, mommy hanya pergi sebentar. Kau lihat 'kan? Mommy kembali?" Zitao mengusap pelan rambut panjang Sophia.
Gadis mungil itu melepaskan pelukannya dan menatap Zitao dengan wajah sendunya. "Setelah ini, ayo pulang ke rumah, mommy. Sophia ingin tinggal bersama mommy dan daddy.." bisiknya.
Jangan tanya bagaimana detak jantung Zitao berbunyi. Sungguh, ia ingin lari sekarang juga. Bagaimana caranya agar ia bisa menolak ajakan seorang gadis kecil nan polos seperti Sophia. Zitao mengerti perasaan kehilangan seorang ibu. Tapi bagaimana dengan dirinya jika harus mengikuti kemauan Sophia sepenuhnya.
Belum sempat Zitao menjawab ajakan Sophia, ia dikejutkan oleh suara pintu terbuka yang menampilkan seorang lelaki yang baru Zitao kenal kemarin. Lelaki itu tampak begitu tegap sekaligus tampan dalam balutan jas abu-abunya.
"Daddy.." seru sikecil Sophia yang tampak antusias menyambut sang ayah. Sementara Zitao lebih memilih diam dan menunduk. Ia ingin kabur saja rasanya.
"Halo cantik. Bagaimana keadaan anak daddy hmm?"
Yifan mendekati ranjang Sophia yang membuat Zitao menggeser posisinya agar ayah dan anak itu bisa berdekatan. Rasa canggung juga mulai dirasakan Zitao. Entah mengapa ia selalu gemetar dan takut jika melihat Yifan.
"Baik dad. Lihat mommy datang lagi dad.." seru Sophia semangat sambil menunjuk kea rah Zitao.
Yifan menoleh ke arah Zitao yang tengah menundukkan kepalanya. "Maaf Nona Zitao. Kau harus kembali lagi kesini."
Zitao melihat Yifan yang sepertinya merasa bersalah. Ah, Zitao semakin tidak enak pada Yifan, apalagi Sophia.
"Tidak Tuan. Kebetulan saya bekerja shift malam, hari ini."
Zitao melihat Yifan menganggukkan kepalanya mengiyakan. Yifan dan Zitao sama-sama merasa canggung satu sama lain. Sesekali tampak keduanya saling beradu pandang lalu memutuskan begitu saja. Sedangkan Sophia hanya tersenyum geli melihat tingkah mommy dan daddy-nya seperti itu. Mungkin karena jarang bertemu, jadi mommy dan daddy malu. Begitu pikir Sophia.
"Daddy… Tolong ajak mommy pulang bersama kita. Sophia ingin tidur bersama mommy dan daddy. Sophia juga ingin ke taman bermain bersama mommy dan daddy. Please dad.." Sophia memohon sambil mengamit kedua tangannya dibawah dagu seperti orang menyembah. Sedangkan Zitao hanya menganga melihatnya.
Yifan melihat Zitao yang tampak shock. Mungkin ini sudah waktunya. Pikir Yifan. "Nona Zitao. Bisa bicara sebentar?"
Zitao menoleh kearah Yifan dan mengangguk pelan. "Sebentar sayang. Daddy harus bicara pada mommy." Dengan berani Yifan menyentuh pergelangan tangan Zitao dan mengajaknya keluar.
.
.
.
Mereka berada di taman rumah sakit. Zitao melihat tangan Yifan yang masih memegang tangannya. Sadar akan hal itu Yifan melepaskan tangannya pada tangan Zitao. "Maaf, aku tidak bermaksud-"
"Tidak apa-apa." Jawab Zitao cepat.
"Begini Nona. Ah, maksudku Zitao. Aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku tau ini terdengar tidak sopan dan egois. Tapi aku benar-benar membutuhkanmu Zitao."
Zitao semakin gugup mendengarnya. Ia menelan ludahnya kasar saat mata Yifan tepat menatap dalam bola matannya.
Entah mengapa, saat menatap Yifan hati Zitao bergetar. Ternyata Yifan lebih tampan saat dilihat dari dekat. Dan semua itu mengingatkan Zitao pada-
Sehun.
"Menikahlah denganku."
.
.
.
Pilihlah aku.
Karena aku lebih memilih membagi seluruh hidupku bersamamu daripada menghadapi dunia ini seorang diri.
Aku menyadari, bahwa dirimulah sisa dari perjalanan hidupku
.
.
.
Harvard University.
Pemuda itu tersenyum kala melihat layar ponsel miliknya. Layar bergambarkan dirinya yang sedang merangkul seorang gadis. Keduanya tampak tersenyum lebar kearah kamera. Gadis pujaan hatinya.
"Huffh, Zitao.." nama itu bagai mantra yang selalu diucapkan pemuda itu. Entah mengapa nama itu selalu terlintas dalam hatinya, selalu ada dalam ingatannya. Nama yang membuat pemuda tampan itu selalu merindukannya.
Sebentar lagi liburan. Pikirnya. Ia ingin cepat-cepat waktu itu terjadi agar dirinya bisa cepat pula kembali ke China dan bertemu Zitao.
"Tunggu aku Zitao."
.
.
.
Hingga waktu itu tiba, aku akan menunggu sampai itu terjadi.
Sampai takdir yang akan mempertemukan kita.
Karena aku tahu, bahwa kamulah alasan disetiap harapan dan impianku.
.
.
.
.
.
CONTINUE
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca. Sekali lagi, berhenti jadi pembaca gelap ya teman-teman. Bukannya banyak maunya, tapi aku butuh dihargai dan juga saran yang membangun :)
-Xiexie
