Tittle :

Welcome at Night

Cast :

Kim Kibum x Cho Kyuhyun.

Genre :

AU, fantasy, romance (genre bisa berubah-ubah sesuai mood lizz) #digaplok_

Warning :

GS, bahasa tidak baku dsb, hati-hati typo(s) masih ada harap maklum.

Summary :

kibum bertemu dengan yeoja aneh yang menyeretnya kedalam ketidak normalan yang bahkan sulit untuk di percayainya/"cih...menyebalkan"/"Welcome at Night"/ Desember Ceria Kihyun.

Don't Like Don't Read That Simple

.

.

.

Happy Reading ^^

.

.

.

[~Lizz_L_L~]

Blub

Blub

Blub

Gelembung-gelembung kecil terlihat keluar dari sela-sela bibir makhluk-makhluk mungil dengan tubuh yang tumbuh tidak sempurna~tepatnya belum sempurna, terendam dalam sebuah cairan berwarna bening di dalam tabung-tabung silinder yang berjejer rapi di dalam sebuah laboratorium milik pemerintah dalam proses pengembangan rahasia.

Para "Homunculus" begitulah para peneliti menyebut mereka. Sebuah percobaan pembentukan manusia buatan yang di khususkan untuk menghadapi para demon. Mereka di ciptakan dari beberapa sel terkuat dari manusia terinfeksi yang telah mencapai tahap sempurna dengan sedikit pengembangan dan penambahan beberapa zat dan serum hasil penelitian selama dua tahun hingga menjadikan Homunculus makhluk terkuat yang mereka ciptakan melebihi para demon, bisa di katakan jika penelitian berhasil maka Homunculus adalah sebuah keberhasilan pemerintah dalam penciptaan dunia baru bebas dari para demon. Sebuah spesies manusia terkuat di bumi.

Mereka juga berniat melakukan beberapa uji coba pada darah para Homunculus yang masih dalam tahap pengembangan dan menciptakan antigen virus untuk melawan virus ganas yang tertanam pada para demon sehingga membuat mereka bisa kembali menjadi manusia dan terbebas dari tubuh membusuk yang semakin parah.

Mungkin pemerintah membuat program "Homunculus Trying" untuk memerangi para demon yang perkembangan biakannya mulai membludak hingga mencapai batas kewajaran dan sangat meresahkan masyarakat.

Namun hingga enam bulan penelitian berlalu tidak ada perkembangan signifikan yang berarti. Sebelum para Homnuculus tercipta danberubah menjadi janin mereka mengalami kegagalan dan meledak dengan sendirinya, dengan munculnya tanda-tanda pembengkakan dan terjadinya kegagalan pada jantung hingga membuat mereka berhenti berkembang dan hancur sebelum menjadi janin dengan sempurna.

"Renji, tabung HCT 19 sampai 209 failed" teriak salah satu peneliti wanita berwajah keruh menatap layar komputernya yang memperlihatkan beberapa gumpalan kecil daging seukuran bola sepak meledak secara tiba-tiba menyisahkan selang cairan makanan di dalam cairan bening yang sudah terkintaminasi oleh sisa daging dan darah dalam tabung silinder.

Tidak hanya satu dua Homunculus melainkan beberapa Homunculus hingga ratusan dari mereka mati karena kegagalan yang membuat mereka meledak saat mengalami gagal jantung. Para peneliti masih terus berusaha menyempurnakan program Homunculus Trying hingga percobaan manusia buatan ini mencapai dua ribu sembilan belas percobaan dan semua mengalami kegagalan. Para peneliti masih terus berusaha untuk mencari penyebabnya dan memperbaiki penelitian secepat mungkin.

"Sial jika seperti ini terus kerja keras kita selama setahun hanya akan berakhir di tong sampah" desah seorang wanita berperawakan tinggi dengan paras bak venus terlihat sangat kesal~Jinyoung.

"Hah...entahlah, apalagi yang harus kita lakukan jika seperti ini keadaannya, aku buntu." ucap laki-laki yang bernama Renji menanggapi ucapan temannya, Jinyoung.

"Kurasa memang kita salah atau kurang dalam memberikan komposisi nya sehingga membuatnya mengalami gagal jantung dan meledak, sebaiknya kita lakukan percobaan lanjutan, aku penasaran apa yang bisa membuatnya meledak seperti itu?" ucap Byun Taehyung bangkit berdiri dengan wajah setengah berfikirnya yang masih terlihat tampan.

"Astaga kita baru saja mengalami sebuah kegagalan besar dan kau menyuruh kami untuk memulai segalanya dari awal, yang benar saja, dasar pantat sapi setidaknya beri kami kesempatan untuk makan, sialan" runtuk si tampan~Gong Chansik~memprotes keras Taehyung yang menatapnya datar.

Renji hanya bisa terkekeh menyahuti ucapan Gongchan.

"Hei~ hentikan ocehan omong kosong kalian dan kemarilah, cepat" teriak seorang wanita bersurai coklat~Jeon Jungkook~dengan senyum lebar menunduk menumpukan berat badannya di paha dengan kedua tangan sebagai penahan. Obsidian coklatnya mengamati benda mungil yang masih mengeluarkan letupan-letupan gelembung udara di dalam tabung silinder meski terlihat lemah tapi itulah satu-satunya Homuculus yang masih bisa bertahan hidup dari sekian banyak percobaan. Sebuah harapan cerah bagi lima peneliti muda itu.

Jungkook menatap berbinar Renji, Gongchan, Jinyoung dan Taehyung dengan wajah berseri-seri. "Dari sekian banyak kegagalan dan kematian percobaan Homunculus Trying percobaan ke 1013 HCT 13 berhasil, huwaaa...aku tidak percaya ini" ungkapnya bahagia wanita berwajah mengemaskan itu tanpa sadar melompat memeluk Taehyung dengan binar ceria yang tak lepas dari wajahnya.

Teman-temannya ikut melihat objek yang di bicarakan Jungkook dengan wajah setengah tak percaya namun tak berapa lama senyum terbit dari wajah mereka. Kurasa kerja keras mereka menemui jalan terang. mungkin mereka akan tetap mengulang tapi dengan keberhasilan salah satu percobaannya mereka bisa membuat sedikit perbedaan dengan percobaan sebelumnya.

Saking senangnya mereka sampai lupa untuk mengoda pasangan yang kini tengah malu-malu kucing karena telah tersadar dari posisi mereka. Byun Taehyung dan Jeong Jungkook.

.

.

.

Bocah berusia dua tahun itu duduk dengan tatapan kosong menerawang tembok-tembok berwarna monoton yang setiap hari selalu menemaninya. Sejak dia terlahir dan membuka matanya menatap keadaan dunia yang nyaris tidak di kenalnya tak pernah sekalipun dia mengeluarkan suaranya, banyak orang yang menyangkah jika bocah laki-laki dengan wajah mengemaskan itu memang terlahir menjadi seorang bisu. Wajah putih pucatnya bahkan tidak menunjukan ekspresi apapun. Datar, dingin dan kosong.

Bahkan dia tidak pernah mengeluarkan rengekan ataupun jeritan tangis saat beberapa orang berpakaian putih mengeksplorasi tubuhnya, menyuntikan beberapa cairan dan mengambil sample darahnya dia hanya bisa diam membisu, entah apa yang salah dengan sistem kerja otaknya sehingga membuat bocah kecil yang seharusnya bisa lebih berekspresi terlihat tak lebih seperti sebuah patung manekin. Diam, bisu, bungkam.

"Halo HCT13 bagaimana keadaanmu, sudah waktunya kau untuk berlatih, ayo" ucap seorang wanita cantik yang tersenyum~Jungkook~berjalan mendekati si bocah tanpa ekspresi dan mengandeng serta menuntunnya keluar dari bangsal miliknya.

"Hei...Kookie, bagaimana kalau kita memberinya nama, aku merasa agak aneh jika memanggilnya dengan kode selama dua tahun ini, bukankah lebih baik kalau dia memiliki nama hitung-hitung sebagai hadiah untuknya karena bisa bertahan hidup dari sekian banyak percobaan yang kita lakukan padanya, bagaimana menurutmu?!" tanya Jinyoung mengutarakan pendapatnya.

"Ide bagus, lagipula untuk anak semanis ini rasanya sayang jika kita memanggilnya HCT13" ucap Jungkook seraya mengelus surai gelap sang bocah yang bahkan tak bereaksi sedikitpun saat mendengar ucapan dua wanita cantik yang berjalan pelan di samping kiri dan kanannya.

"Menurutmu nama apa yang cocok untuknya?!" tanya Jingyoung sedikit antusiasme yang tak bisa di sembunyikan dari wajah cantiknya.

"Hemz...Alfred? Bada? Edward? Jasper? Oh benar, Bagaimana dengan jasper bukankah wajahnya hampir mirip dengan si Jasper ya, itu saja" ujar Jungkook ceria. Wanita dua puluh lima tahun itu terlihat melompat kecil dengan wajah berbinar seolah dia telah berhasil menaklukan dunia di bawah kakinya.

"Dasar maniak Twilight, tidak tidak aku tidak setuju, cari yang lain" tolak Jinyoung mentah-mentah seraya mengeleng dramatis dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Loh salah ya, terus apa dong?" jawab Jungkook dengan wajah polos setengah berfikir, "eh~bagaimana dengan Bryan, kurasa itu nama yang cocok untuknya" ujarnya kembali dengan nada yang sedikit tidak yakin. Belum sempat Jingyoung menyetujui sebuah teriakan menginterupsi pembicaraan kedua wanita cantik itu.

"Hei kalian cepat, dasar lamban" teriak Gongchan di kejauhan menyembulkan kepalanya seraya mengerutu dan menghilang di balik pintu.

"Cih~apa-apaan dia, telat sedikit saja sudah ribut" decihan tak suka mampir di telinga Jungkook yang meringis kecil dan mengandeng jemari dingin si bocah pucat di sampingnya.

.

.

.

(~Lizz_L_L~)

JDAKkkkkk...

JDAKKkkkk...

"Tarik lebih kuat 13" teriak Gongchan memanggil nama si bocah kecil dengan nada tidak sabaran. Bocah kecil berwajah datar itu menatap sekilas wajah Gongchan yang berada di balik kaca dengan tatapan yang sulit di artikan dan sedetik kemudian mulai menarik dua tali yang di siapkan khusus untuk mengetahui seberapa kuat tenaga si bocah dua tahun berwajah datar itu.

"Hei Gongchan, namanya adalah Bryan, bukankah aku sudah mengatakannya padamu, setidaknya hargailah nama pemberian Jungkook dasar bedebah brengsek" Jinyoung berujar setengah kesal dengan rekan satu timnya itu.

"Cih~terserah aku mau memanggilnya apa, itu bukan urusanmu" cibir Gongchan.

"Haduh...haduh jangan bawa-bawa pertengkaran suami istri saat bekerja" tambah Taehyung dengan wajah menyebalkan.

"Apa maksudmu?" tanya Gongchan menatap tajam Taehyung yang hanya bisa menampilkan cengiran gigi seorang idiot.

"Dasar manusia berkelamin ganda, kau itu yang salah harusnya kau mendengarkan Jinyoung namanya memang Bryan, dasar tidak peka" balas Jungkook seraya mempuk-puk Jinyoung merasa iba pada gadis itu sebenarnya karena keacuhan Gongchan yang seolah memberi harapan palsu pada temannya.

"Ya ya apa maksudmu berkelamin ganda?, enak saja kau ingin bukti heh?" ujar Gongchan tak terima menatap Jungkook yang mencibir kearahnya membuatnya semakin kesal.

"Oi apa yang kau lakukan? singkirkan pedangmu bung sebelum aku menebasnya" ucap Taehyung dengan aura membunuh saat melihat Gongchan memegangi gesper sabuk miliknya berniat membuka celananya di depan Jungkook.

Renji menatap rekan-rekannya dengan tatapan malas. Tanpa mereka sadari si bocah kecil telah mencapai batas tenaganya,dia menarik tali yang memiliki bobot berton-ton itu tanpa memperdulikan perdebatan tidak penting manusia aneh berpakaian putih di luar ruangannya.dia hanya sedang bersikap baik dengan menuruti apa kata Gongchan untuk tidak berhenti menguji kekuatan lengannya, Hingga...

Krak...

"Hentikan sekarang juga HCT13" renji memerintah setelah sekian lama bungkam menatap si bocah kecil dalam diam mengacuhkan setiap perdebatan tidak penting rekan-rekannya, setelah mendengar bunyi besi-besi berat itu jatuh menghantam lantai Renji mendesah panjang seraya mengusap wajah kusutnya. Laki-laki bersurai sewarn mahoni itu terlihat sedikit kesal.

BOOMMM...

Besi-besi berat itu jatuh dan menghancurkan lantai.

"Dasar bodoh" ujarnya.

"Ini semua gara-gara kau, astaga lihat engsel lengan Bryan terlepas" jerit Jinyoung sedikit mengeram.

Tanpa berkata apapun Jungkook berlari memasuki ruang isolasi latihan Bryan, berjalan tergesah menuju si bocah kecil yang masih tak menunjukan ekspresi yang berarti dengan tangan kanan yang terkulai lemas sementara tangan kirinya memegangi bahu kanannya yang bermasalah. Jungkook menunduk menjajarkan tingginya dengan sang bocah, memeriksa lengan kanan bocah kecil itu dan meringis sakit saat sadar jika lengan sang bocah benar-benar patah.

"Maafkan aku, kau pasti sangat kesakitan" ucap Jungkook sedih dengan perasaan cemas. wanita itu merasa sangat bersalah jika bukan karena perkelahian bodoh mungkin situasi buruk ini tidak akan terjadi. Cepat Jungkook mengendong si bocah tanpa ekspresil dan membawanya ke klinik pengobatan di ikuti oleh Jinyoung yang menatap khawatir.

(~Lizz_L_L~)

Bagaimana Minseok apa dia baik-baik saja? cemas Jungkook menatap bahu kanan bocah kecil yang di panggil Bryan oleh Jungkook secara sepihak.

apanya yang baik-baik saja, astaga apa sih yang kalian lakukan pada anak sekecil ini? tidakkah kalian sedikit bersikap lunak, demi tuhan dia masih balita asal kalian tau kesal Minseok dengan wajah tidak suka.

maafkan aku... Jungkook terlihat menunduk tak bisa mengatakan apapun.

ini bukan salah kami Minseokie, kami juga tak berniat melakukan hal kejam pada bocah itu, tapi bukankah kau tau sendiri bagaimana pemerintah melarang kita untuk bersikap lembut, lagipula dia bukan manusia, basic anak itu jauh lebih kuat di bandingkan manusia pada umumnya, lagipula jika kami tidak bisa memfungsikan dia secepatnya aku khawatir jika... ujar Jinyoung menjelaskan dan menjeda ucapannya dengan raut wajah aneh.

mereka akan segera menyuntik mati Bryan dan memusnakannya jika dia tidak menunjukan kemampuannya seperti yang di harapkan, kami bahkan tidak di beri kesempatan untuk sekedar memberinya kesempatan untuk bersikap layaknya anak seusianya. Bukankah mengesalkan...aku hanya berusaha agar dia tetap bisa hidup Tambah Jungkook dengan kesedihan yang mengalir keluar begitu saja, bahkan mata wanita itu terlihat sedikit memburam karena air mata. Mereka bertiga terdiam sangat tau dengan apa yang di katakan Jungkook bahkan sangat tau dan mengerti jika dunia yang mereka tinggali saat ini adalah dunia kejam yang sangat gila.

Semua berawal dari pemerintah yang dengan egois melakukan uji coba tidak masuk akal tentang manusia sempurna yang tidak bisa mati dan yang tak tertandingi hingga berakhir membuat monster mengerikan pemakan daging dengan tingkat keliaran dia atas hewan buas, dan mereka adalah DEMON. Dan kini ide untuk membuat manusia di atas demon muncul, mereka hanya bisa berharap jika penelitian kali ini bisa berhasil dan tidak menyebabkan timbulnya monster baru.

°•°•°

apa yang terjadi? tanya Jungkook dengan nafas tersenggal menuju bangsal Bryan, Jungkook membelalakan matanya saat obsidian beningnya menatap sang bocah yang mengeram marah dan berusaha mencelakai dirinya sendiri bahkan bocah kecil itu menjerit dengan sangat keras. Bahkan suaranya nyaris terdengar seperti sebuah geraman hewan buas yang sedang mengamuk di telingah Jungkook.

jangan diam saja cepat bawa Renji ke rumah sakit teriak Taehyung berusaha menghalangi Bryan yang mencoba menyerang para peneliti lainnya. Entah kenapa dengan sangat tiba-tiba bocah dua tahun itu mulai bersikap sangat agresif dan mencelakai Renji yang kebetulan ingin mengambil sample darah untuk di teliti hingga pria bersurai sewarna musim gugur itu tergolek bersimbah darah dengan perut yang sobek menganga lebar memperlihatkan sebuah sayatan besar di sana.

Gong Chansik apa yang kau lakukan? jerit Jungkook tersentak saat melihat Gongchan memukulkan sebuah besi ke arah kepala Bryan.

memangnya apalagi? Bocah ini sudah kehilangan kewarasannya, Jinyoung awas? Gongchan menarik Jinyoung yang berdiri tidak jauh darinya seraya menyeret wanita itu menjauh dari terjangan Bryan. Bahkan Gongchan merelakan lengan kananya menjadi sasaran gigitan Bryan.

Brengsek hentikan dia, Jinyoung cepat beri dia suntikan, Jungkook jangan diam saja? jerit Taehyung setelah berhasil mengamankan Renji keluar dari bangsal Bryan. Mendengar teriakan Taehyung mau tak mau Jungkook mendekat ke arah Gongchan yang berusaha memegangi Bryan dengan di bantu oleh lima orang lainnya yang berusaha menahan pergerakan bocah dua tahun itu sementara Jinyoung berusaha menyuntikan obat bius untuk menenangkan Bryan.

ini tidak akan berhasil, biusnya bahkan tidak memberikan reaksi apapun padanya? panik Jinyoung.

Tambah dosisnya? teriak Gongchan sedikit meringis karena lagi-lagi Bryan mengigit kulit lengannya hingga tercabik. sial dengan terpaksa Gongchan menghantamkan kepala Bryan ke lantai. Bocah dua tahun itu mengeram pelan dengan darah yang mngalir dari kepalanya. Jungkook menguatkan hatinya dalam situasi seperti ini dia tidak boleh ragu, Jungkook mengambil suntikan yang ada di tangan Jinyoung menambah dosis obatnya yang bisa melumpuhkan dua induk gajah sekaligus dan perlahan geraman dan cengkraman Bryan mulai mereda dan manik gelapnya tampak meredup dengan binar yang terlihat kosong.

Manik gelap itu bertatapan dengan iris berkaca milik Jungkook, bibir mungil sang bocah bergerak seolah berniat mngatakan sesuatu dengan suara nyaris tak terdengar, Jungkook menyadarinya hingga membuat wanita itu sedikit tersentak dan tak berapa lama Jungkook menangis terisak dan menutup mulutnya dengan pikiran kalut.

Dia seolah tersadar akan sesuatu. Entah mengapa dalam pikirannya Jungkook seolah bisa mendengar jeritan ketakutan Bryan. bocah itu mengatakan padanya jika dia sedang ketakutan. Ya si kecil Bryan sedang ketakutan dan berusaha untuk membela dirinya. Karena tidak mungkin jika si mungil itu baik-baik saja jika bibir pucatnya mengumamkan kata TAKUT sesaat sebelum dirinya menutup mata.

°•°•°

Langit terlihat cerah namun bukan itu yang membuat suasana muram dan aura gelap tampak mendominasi pelataran area pemakaman itu. Ya Kwon Renji- Laki-laki itu tidak terselamatkan setelah insiden penyerangan yang di lakukan manusia buatan hasil penelitian mereka, Bryan atau bisa di sebut dengan HCT13 telah membunuhnya. Setelah koma hampir tiga minggu Renji tidak dapat di selamatkan, suasana sedih dan tangisan dari keluarga Renji terdengar mendominasi. Jungkook tampak menatap kosong peti mati Renji dengan pikiran lelah.

apa yang sebenarnya terjadi, kenapa bisa jadi seperti ini? tanya Jungkook pada angin. Taehyung memeluk wanita ringkih itu dengan perasaan sedih yang sedang berkcamuk dalam hatinya. Dia merasa sangat bersalah, sebagai leader dia telah gagal dan dengan kematian Renji mungkin segalanya akan berubah menjadi semakin sulit.

bagaimana dengan bocah itu? Apa yang akan di lakukan ketua park padanya? tanya Jungkook pada Taehyung.

kurasa hal yang kau khawatirkan selama ini akan terjadi padanya, kenyataan jika Bryan sama sekali tidak berkembang dan semakin mengalami kemunduran bukan hal bagus untuk di dengar, mereka memutuskan untuk membunuh Bryan siang ini" ucap Taehyunh merasa sangat bersalah. Ya selama tiga Minggu ini bocah kecil itu menunjukan sikap aneh, dia menolak untuk di dekati siapapun dan bahkan tidak akan segan untuk melukai, bocah kecil itu juga hampir mencoba membunuh dirinya sendiri dengan membenturkan kepalanya sendiri pada tembok.

"Ini tidak boleh terjadi Taehyung, aku tau Bryan hanya sedang ketakutan dia...kita harus menyelamatkamnya, aku mohon bantu aku Tae" mohon Jungkook, Taehyung mendesah ini bukan ide bagus tapi nuraninya juga tidak bisa membiarkan hal ini. Taehyung tau ini semua bukan kesalahan boca itu, ini adalah kesalahan Renji yang telah menyuntikan obat~entahlaj obat apa Taehyung tidak bisa mengenali yang jelas sejak hari itu tingkah Kibum berubah dan semakin meliar.

"Baiklah~aku tidak bisa menolongnya sebisaku, mungkin dia akan mati selama beberapa hari tapi akan kupastikan jika dia bisa hidup setelahnya. Aku janji" ucap Taehyung mantap menatap obsidian coklat Jungkook yang terlihat bingung. "Aku pergi" pamit Taehyung dan meninggalkan area pelataran pemakaman. Jika dia ingin menyelamatnya Bryan maka dia harus cepat.

°•°•°

Taehyung berjalan sedikit mengendap memasuki bangsal Bryan dengan meminimalkan suara. Dia telah mematikan kamera cctv agar aksinya tak terekam oleh siapapun. Taehyung berhasil masuk dan mendapati bocah dua tahun itu meringkuk di pojokan kamar seraya memeluk kakinya sendiri. Melihat pemandangan itu membuat dada Taehyunh berdenyut sakit. Perlahan Taehyung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Bryan. Bocah kecil itu menyadari dan menjauh dengan kuda-kuda pertahanan diri dan bersikap apatis saat Taehyung berjalan mendekatinya.

"Hei...bagaimana keadaanmu?!" tanya Taehyung sedikit berdialog dengan si sunyi Bryan.

"Tenanglah aku hanya ingin menolongmu, aku harap kau percaya padaku~aku tidak tau apa yang Renji suntikan padamu dan apa yang dia katakan padamu yang jelas untuk saat ini aku ingin melakukan hal sama dengan alasan ingin menolongmu jadi aku harap kau bisa mempercayaiku" ucap Taehyung lagi dan menatap pintu dengan gelisah.

"Aku tidak akan mencelakaimu kumohon bantu aku Bryan aku hanya ingin kau hidup" Taehyung menambahkan seraya merangsek maju dan mengeluarkan jarum suntik nya dan seketika tubuh bocah kecil itu menegang.

Ketika Taehyung maju selangkah Bryan menyerangnya dan mengigit lengan Taehyung, pemuda itu meringis dan sedetik kemudian dia menancapkan jarum suntik ke leher Bryan dengan isi serum penawar racun. Merasakan ada benda asing di lehernya Bryan semakin mengamuk dan menghantam wajah Taehyung dan kembali menyerang pemuda itu hingga pintu terbuka dan tampaklah banyak orang berpakaian dan bermasker aneh memasuki ruangan dan menyelamatkan Taehyung dari amukan Bryan.

Mereka mengamankan bisa itu dan segera melakukan eksekusi mati.

Jungkook menatap cemas Taehyung, Taehyung membalas dengan mengangguk singkat. Mereka berdua hanya bisa menyaksikan bagaimana tubuh kecil itu ambruk dan membeku tak berapa lama kemudian.

Pemerintah memutuskan untuk menghentikan penelitian Homunculus Trying dan kali ini hanya berfokus membasmi para demon dengan cara menyusur dan membantai mereka semua, mungkin pemerintah sudah buntu dan tak memiliki ide lain selain hal itu.

(~Lizz_L_L~)

Beku...

Sakit...

Dingin...

Basah...

Aku ada dimana?

Bau busuk apa ini?

"Hujan..." batinnya saat membuka mata dan mendapati guyuran air langit membasahi setiap jengkal tubuhnya. Hamparan langit mendung tampak membias dalam bola matanya yang terlihat kosong.

"Apa aku sudah mati?! sepertinya tidak" batinnya sekali lagi. Bocah kecil itu terbangun dari tidurnya, manik gelapnya mengedar menatap sekelilingnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Hutan...mayat...ah...aku sudah di buang seperti mereka" ucapnya dalam hati seperti mengerti dengan keadaan yang menimpanya. Bocah kecil itu terbangun dan mendapati beberapa potong tubuh manusia yang telah membusuk di sekitarnta. Mereka adalah manusia yang di jadikan percobaan dan telah di nyatakan gagal sama sepertinya namun dengan keadaan yang jauh lebih mengenaskan di banding si bocah kecil.

Bocah berwajah datar itu menunduk entah kenapa ada satu bagian dari hatinya yang berdenyut sakit saat menyadari kenyataan jika dirinya telah di buang dan ada satu bagian dari otak cerdasnya tidak bisa menerima perlakuan para orang berpakaian putih yang telah berlaku butuj padanya.

Bocah kecil itu menengadahkan kepalanya pada langit dan setelahnya dia berjalan jauh meninggalkan area hutan dan tempat pembuangan mayat.

Langkah kaki kecilnya terseok-seok. seluruh jengkal tubuhnya penuh dengan luka dan dia mengigil, kelaparan serta kedinginan.

Dua hari sudah berlalu sejak dia berjalan meninggalkan hutan dan menyusup di antara tumpukan kardus-kardus di dalam sebuah mobil yang melaju menuju pusat kota Seoul. Kaki kecilnya melangkah ke arah sebuah bangunan. Di sana terlihat hangat dan penuh dengan makanan.

Bocah kecil itu berdiri diam terpaku menatap beberapa manusia yang lebih besar sepertinya dengan pakaian mahal yang terlihat menyantap makanan yang terlihat enak di mata si kecil yang sedang kelaparan.

Kruccuuuukkk...

Si kecil menatap perutnya yang terdengar mengeluarkan bunyi aneh. Dia lapar namun sebelum sempat dia mengangkat kepalanya lagi seorang laki-laki paru baya menyeretnya menjauhi area depan restoran dengan sentakan kasar menariknya menjauh dan melemparkannya ke dalam gang kotor di samping restoran dengan keras. Si bocah terduduk dan menatap tidak mengerti orang dewasa berpakaian rapi ala manager yang kini sedang menatapnya bengis seraya berkacak pinggang. "Jangan pernah sekalipun kau berdiri dan menganggu kenyamanan para tamuku dengan penampilan kotormu yang membuat para tamuku terganggu" ujarnya dengan nada terlampau arogan.

Kruuccuuuukkk...

Sekali lagi perut si bocah mendendangkan suaranya, memprotes kelaparan.

"Jika kau lapar kau bisa mengais sampah dan berebut dengan para anjing itu untuk mengisi perut kotormu dan jangan sekali-kali kau berani menampakan batang hidungnya di depan restoranku dasar bocah kotor menjijikan" ujarnya tanpa belas kasih dan menunjuk tempat sampah di kejauhan. Si bocah kecil hanya menatap pria itu dingin. Rasa bergejolak seperti sebongkah bara api mulai mengelegar di dalam dadanya.

Si kecil berjalan mendekati sang pria menatapnya tajam.

"Mau apa kau bocah kotor?" tanyanya seraya berjengit mundur.

"Busuk...mati..." gumamnya pelan dengan jemari yang terulur mencoba meraih tubuh yang pria itu.

Grep

"Tertangkap..." ujar si bocah dingin itu meraih kaki sang pria manager.

Plakk

"Singkirkan tanganmu dari celanaku dasar bocah sialan" sentaknya menampar kepala si bocah.

Hap...KRAK...

"Gyaaaaa..." jerit sang pria saat jemari mungil sang bocah mematahkan pergelangan tangannya.

Bruak...

Sekali lagi si kecil berniat menghantam si pria namun si dengan refleks si pria mampu menghindar hingga tinjuan si bocah kecil mengenai tembok hingga berlubang.

"M~monster...dasar monster..." ucap si pria dengan wajah horor penuh ketakutan.

"Aku bukan monster, aku..." ucapnya dengan nada sedikit kebingungan. "Aku hanya...manusia paman." jawabnya setelah terdiam. "Dan aku lapar..." tambahnya lagi, entah kenapa bocah mungil itu mampu mengintimidasi sang pria dewasa hingga membuatnya gemetar dan tanpa pikir ke dua kalinya sang pria berlari kabur namun tak berapa lama terdengar suara langkah kaki dalam balutan heels terdengar semakin mendekat dan benar saja terlihat seorang wanita dengan pakaian yang terlihat anggun mulai mendekati si bocah. "Apa kau lapar?! Aku punya sesuatu kau mau?!"

Si bocah mendesis lirih dan mundur secara mendadak saat melihat seorang wanita dengan senyum ramahnya menyodorkan sebungkus roti, dia telah mengerti dunia seperti apa yang sedang dia huni saat ini.

"Jangan takut aku tidak akan menyakitimu, kemarilah" ucap sang wanita masih berusaha merayu si bocah kecil agar semakin mendekat ke arahnya.

"N~nyonya...sebaiknya kita tinggalkan saja dia di sini, astaga dia mengeram pasti akan membunuh saya jika membiarkan nyonya Heechul sampai terluka." ujar sang pelayan yang terlihat sedikit khawatir.

"Tidak apa-apa Chanwoo dia hanya seorang anak kecil, mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan untukku setelah aku kehilangan anakku mungkin ini adalah takdir kami, aku menginginkannya" ucap Kim Heechul masih dengan senyumannya.

"Nyonya awas..." teriak Chanwoo terpekik saat melihat si bocah kecil menyerang dan mengigit pergelangan tangan Heechul seyara mengeram.

Heechul sedikit tersentak kaget namun matanya kembali menyayu saat menatap si bocah kecil dan senyuman menenangkan terlihat menyembul di wajahnya.

"Apa kau takut, tenanglah aku tidak akan menyakitimu" ujarnya dengan sabar seraya membiarkan Kibum terus mengigit pergelangan tangannya hingga sobek dan mengeluarkan darah.

Jemari lentiknya yang bebas mulai terangkat dan mengelus surai gelap sang bocah hingga membuatnya tersentak kaget merasakan sentuhan hangat yang terasa menenangkan dari wanita yang bahkan tak di kenalnya itu.

Tenang...

Nyaman...

Dan aneh...

Itulah perasaan yang kurasakan saat bertemu dengannya, entah karena insting atau hal omong kosong lainnya aku merasa jika aku bisa mempercayai wanita ini.

Perlahan sang bocah melepaskan gigitan pada jemari sang wanita dan menatapnya dengan tatapan sendu yang terlihat berkaca-kaca.

"Lapar...hiks...takut...hiks..." ujarnya setelah sekian lama terdiam menatap Heechul si bocah kecil yang tak pernah menunjukan ekspresinya, kini dia menanggis, menangis dengan sangat menyedihkan.

Heechul yang melihat hal itu langsung meraih dan memeluknya erat.

"Jangan menangis, aku akan melindungimu...jangan menangis lagi" ucap Heechul ikut menangis ikut merasakan kesakitan penuh kepedihan dari sang bocah kecil itu.

Heechul membawa Si bocah kecil ke dalam mansion mewahnya memandikannya dengan penuh kasih sayang, memakaikan pakaian bersih dan menunggunya dengan senyum lebar terkembang di wajahnya saat melihat bocah kecil itu makan dengan begitu lahap.

Manik gelapnya menatap perban yang membalut pergelangan tangan sang wanita cantik yang menolongnya dan memberinya limpahan kasih sayang. Heechul sadar kemana arah tatapan sang bocah.

"Tenang saja ini tidak sakit kok dan aku baik-baik saja, makan yang banyak dan tumbuhlah menjadi pria tampanku" ucap Heechul senang seraya membersihkan makanan yang belepotan di bibir sang bocah. "Mulai saat ini kau boleh tinggal bersamaku dan menjadi anakku jika kau mau!" ucap Heechul. "Kau bisa memanggilku Mama" tambahnya lagi.

"Mama?!" Heechul mengangguk senang dan menunjuk serta menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Mama.

"Aku mau...Mama..." ucap Kibum membuat Heechul mengatupkan rahangnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca senang, mendekat ke arah si bocah memeluk dan menciumi setiap jengkal wajah bayinya.

"Anakku...akhirnya...anakku...kau adalah anakku..." tangis bahagia Heechul menguar. Si bocah kecil tidak mengerti kenapa wanita itu kembali menangis tapi dia merasa senang melihat wanita cantik itu memeluknya. Jemari kecil sang bocah balas memeluk Heechul membuat Heechul semakin terisak dan tertawa di saat bersamaan.

"Apa Mama boleh tau siapa namamu sayang?!" tanya Heechul seraya mengusap sisa air matanya.

Manik si bocah kecil kembali meredup, dia ingat jika dia memiliki nama "HCT13" dan "Bryan" tapi nama yang mana yang harus dia sebutkan. Si kecil hanya menunduk. Heechul melihat ada sebuah kebingungan yang terpancar dari manik gelap anak angkatnya itu.

Wanita cantik itu menangkup wajah mungil si bocah dengan senyum terkembang Heechul mulai mengecup dahi anaknya berusaha menenangkan. "Kim Kibum~itulah namamu sekarang sayang, apa kau menyukainya?!" tanya Heechul dengan senyuman.

"Kim Kibum..." gumamnya mengulang entah kenapa ada sebersit perasaan aneh yang menyesakan masuk kedalam hatinya. Si bocah terlihat senang mendengar nama itu di sebut dan itu adalah namanya.

"Terima kasih Mama aku menyukainya" dan untuk pertama kalinya si bocah kecil tersenyum.

°•°•°

"Cih...siapa kau sebenarnya?!" tanya Kris dengan decakan dan tatapan tajam yang menyorot langsung kedalam manik gelap Kim Kibum. Kris berdiri tegak setelah mendapat serangan dari manusia yang anehnya mampu membuatnya tumbang dengan sekali tendangan.

Kibum menatap Kris dan terkekeh kemudian seolah pertanyaan Kris hanyalah omong kosong yang terdengar mengelikan.

"Tentu saja...aku adalah Kim Kibum" ucapnya mantap memasukan kedua tangannya kedalam saku. "Dan hanya akan menjadi seorang Kim Kibum" dingin, ekspresi dingin yang tak di kenali oleh siapapun tercetak jelas di wajahnya.

TBC

No edit jadi maafkan jika ada typo yang nyempil.