Before...

Kyuhyun menengadahkan kepalanya. Eoh? Kenapa ia bisa sampai tak sadar jika hari mulai menggelap? Astaga... jika tidak segera pergi bisa bahaya.

"Oh iya, Ryeowook. Bagaimana kau bisa kemari? Biasanya kau mencari bunga di Hutan Pong-Pong kan."

"Eh? Bagaimana kau tahu?"

"Hanya menebak. Karena di sana banyak sekali bunga beraroma wangi."

"Sebenarnya aku ingin mencoba ke hutan lain. Tapi aku melihatmu dan kebetulan juga hari mulai gelap. Jadi aku mengurungkan niatku. Terlalu bahaya di sini jika malam."

"Ohh... ya sudah. Ayo kita pulang."

Ryeowook menganggukkan kepalanya. Ia lalu berbalik dan berjalan mendahului Kyuhyun. Namun langkah lelaki itu terhenti kala melihat sesuatu yang menempel di rambut panjang Ryeowook. Itu... bukankah itu sebuah bulu? Warnanya hitam dengan warna ungu di tepiannya. Kalau tidak salah itu seperti warna burung yang sering ia lihat.

'Kira-kira Ryeowook tahu tentang burung itu atau tidak ya?' Batinnya. Tapi sepertinya ia tak terlalu peduli.

**Jlee137**

JOURNEY FOR A REMEMBRANCE

Cast:

CHO KYUHYUN

LEE SUNGMIN

KIM RYEOWOOK

KIM JONGHOON

Others (Coming Soon)

Genre:

Fantasy

Romance

Adventure

Rating:

Teen (T)

Summary:

Tentang kisah seorang lelaki yang tiba-tiba datang ke sebuah pedesaan, tapi sayangnya ia kehilangan ingatannya. Bagaimana jika lelaki itu bertemu dengan sesosok gadis misterius yang menyimpan masa lalu yang kelam, seorang gadis dingin dan sama sekali tak memiliki sisi ramah, Lee Sungmin./"... Bagaimana kalau kau kita panggil Kyuhyun?" ; "Kyuhyun? Bagus juga..."/

Disclaimer:

This story is mine, but the casts are ours. Kisah ini terinspirasi pada sebuah game yang bernama "Harvest Moon" :)

Okey, happy reading...

.

.

.

"KYUHYUN! JANGAN PEJAMKAN MATAMU!"

Entah sudah ke berapa kalinya Sungmin berteriak begitu. Tapi tak diindahkan sedikitpun oleh lelaki yang tengah mendesah lelah itu. Jangankan Sungmin, ia sendiri pun tak tahu kenapa selalu memejamkan matanya saat akan menebas seekor monster.

"Ini adalah gerak reflek, Sungmin. Aku sendiri bahkan tidak bisa menghentikannya."

"Aku tidak mau tahu, Kyuhyun! Kalau kau masih menyerang dengan mata tertutup, aku tidak akan lagi mengajarimu cara berpedang. Percuma saja aku melakukannya. Kau sendiri yang mempertahankan kebiasaan itu," ujar Sungmin dengan kekesalan yang membuncah. Gadis itu lalu berjalan ke arah sebuah pohon besar yang cukup rindang. Ia nampak akan beristirahat di sana.

Kyuhyun mendengus. "Baiklah. Selalu itu ancamanmu. Apa tidak ada yang lain? Ck!"

Sungmin yang baru saja mendudukkan dirinya kini menatap Kyuhyun tajam. "Kau pikir aku hanya sekedar mengancam, Huh? Baiklah. Tidak ada yang namanya bertarung dengan monster lagi. Kau dan aku... kita adu pedang!" Gadis itu lalu mengeluarkan pedang yang ia letakkan di punggung.

Kyuhyun mendesah malas. Tidak ada yang lebih buruk dibandingkan melawan gadis yang tengah diselimuti oleh kemarahan. Ia lalu menyiapkan kuda-kudanya. Setelah penyerangan brutal -meskipun secara tidak sadar - yang ia lakukan terhadap para monster kemarin, entah kenapa Kyuhyun menjadi lebih berani menggunakan pedangnya. Yeah, walaupun saat akan menebas monster ia selalu memejamkan mata.

Di sisi lain, Sungmin juga tak mau kalah. Ia memiliki strateginya sendiri ketika berhadapan dengan musuh. Mata rubahnya tetap memandang Kyuhyun tajam. Baginya tak ada yang perlu ditakutkan. Melawan orang semacam Kyuhyun tak memerlukan banyak taktik.

Keduanya maju secara bersamaan dengan teriakan masing-masing. Saling menebaskan pedang mereka, entah itu dengan gerakan menyilang ataupun lurus. Di sini tampak Sungmin yang lebih agresif. Ia tak membiarkan sedikitpun Kyuhyun untuk menyerang. Lelaki itu hanya bisa menghindar dan menghindar. Defense yang cukup mengesankan untuk seorang pemula sepertinya.

Nafas Sungmin mulai terengah-engah. Ia mengumpat dalam hati ketika menyadari sulitnya pertahanan Kyuhyun untuk ditembus. Gadis tersebut menarik nafas lalu menghembuskannya. Ia berniat untuk mencari strategi lain.

'Hah... apa ini hanya perasaanku saja, atau memang Kyuhyun jadi lebih baik dalam hal pertahanan? Sial! Bahkan dia melebihiku,' batin Sungmin kesal.

Sementara Sungmin tengah mengatur nafasnya, Kyuhyun berusaha untuk mencari celah dimana ia bisa membuat gadis itu tak bisa berkutik lagi. Lelaki itu melihat sekelilingnya. Hanya pepohonan yang ia lihat. Lalu tanpa ragu Kyuhyun berlari menghampiri Sungmin. Tentu saja gadis berwajah imut itu membelalakkan kedua matanya. Belum sempat ia bergerak, kini pedang Raventhm telah menjatuhkan pedang miliknya. Siapa lagi kalau bukan perbuatan Kyuhyun.

"Sial!'

Sungmin tak berniat mengambil kembali pedangnya. Ia sibuk menghalau serangan Kyuhyun yang bertubi-tubi. Hingga akhirnya...

Brukk!

Punggung Sungmin menabrak batang pohon ditambah dengan pedang Raventhm yang berada beberapa senti dari leher putihnya. Pergerakan Sungmin benar-benar terkunci. Entah bagaimana cara Kyuhyun sehingga bisa dengan mudahnya menghentikan pergerakan tangan Sungmin.

"Kau lihat... kali ini aku tidak memejamkan mataku, Sungmin." Kyuhyun mengedipkan satu matanya.

Sungmin tak menjawab. Ia masih terfokus pada tubuh keduanya yang benar-benar berdempet. Wajahnya merah padam ketika menyadari badan Kyuhyun yang menekan dadanya.

"Menjauh dariku," ujar Sungmin dingin, benar-benar dingin.

"Oh?" Kyuhyun memperhatikan posisi keduanya. "Ahh... maafkan aku." Ia lalu menjauhkan dirinya dari Sungmin.

Gadis besurai indah itu melangkah mengambil pedangnya. Ia menaruh pedangnya di pinggang sembaru menghela nafas berat. Tak berniat sedikit pun memandang ke belakang, dimana Kyuhyun masih berdiri di sana dengan senyum bodohnya. Sungmin memilih untuk pergi dari tempat itu.

"Oh? Sungmin! Kau mau kemana?! Latihan kita belum selesai kan?! Sungmin!"

"Berisik!" Sungmin menghentikan langkahnya lalu menyerongkan sedikit kepalanya. "Tidak ada yang namanya latihan lagi, Kyuhyun! Untuk selamanya..."

Kyuhyun sontak membelalakkan matanya tak percaya. "Apa yang kau katakan?"

"Kau sudah berhasil mengalahkanku. Untuk apa lagi aku melatihmu?"

"Itu hanya kebetulan. Bahkan aku ragu tidak akan lagi memejamkan mata saat melawan monster."

Sungmin mendengus. "Yang kau butuhkan hanyalah kebiasaan. Biasakanlah untuk membuka lebar kedua matamu meskipun yang akan kau lihat adalah sebuah kepahitan."

Kyuhyun terdiam. Ia bisa merasakan kepedihan yang mendalam dari nada bicara Sungmin. Entah kejadian apa yang telah gadis itu alami. Tapi Kyuhyun yakin kalau itu bukanlah kejadian yang biasa. Ia jadi ingin tahu apakah dulu dirinya pernah mengalami kejadian pahit juga? Jika iya, mungkin itu benar-benar pahit hingga Kyuhyun kehilangan ingatannya seperti saat ini.

"Tapi aku masih membutuhkanmu. Bahkan kita baru berlatih selama tiga hari. Kau tega memperlakukan muridmu seperti ini?" Kyuhyun mencoba untuk berbicara semelas mungkin.

Sungmin menghela nafasnya. "Tetap. Tidak mau."

"Eh?" Kyuhyun mendengus. "Apa kau marah karena aku berhasil mengalahkanmu? Kalau begitu ketika kita bertanding lagi, aku akan mengalah." Lelaki itu tersenyum manis mengabaikan empat sudut siku yang tergambar jelas di kepala Sungmin.

DUUKK! PLAKK!

"SIALAN! KAU MEMBUATKAN TAMPAK LEMAH, KYUHYUN!"

Kyuhyun hanya bisa meringis kesakitan kala pukulan dan tamparan Sungmin menjadi hadiah yang 'manis' untuknya. Yeah, membuat gadis itu kesal adalah perbuatan yang buruk, tidak baik untuk kesehatanmu.

"Habisnya kau tidak mau mengajariku lagi.."

"Aish... si Bodoh ini," gumam Sungmin pelan. "Pulanglah. Percuma kau meminta dengan raut wajah sesedih apapun, aku tetap tidak mau. Kau banyak membuang waktu bersantaiku, Kyuhyun. Carilah pelatih pedang yang lain atau kau bisa belajar sendiri."

Kyuhyun memilih diam. Ia mulai mengikuti langkah Sungmin menuju pintu gerbang. Lelaki itu hanya memasang wajah datarnya. Namun tepat setelah Sungmin melangkah keluar, Kyuhyun bergeming. Sontak hal ini membuat Sungmin keheranan. Bahkan Kyuhyun sendiri hanya memasang wajah santainya.

"Oi! Kau kenapa diam begitu? Kau tidak ingin pulang? Ini sudah sore, Kyuhyun. Apalagi tanah yang kau pijak itu adalah tanah dari Hutan Raven. Cepar pergi jika tidak ingin menjadi mangsa para monster di sini."

Meski sudah mendengar kalimat mengerikan itu, Kyuhyun tetap bergeming. Bahkan ia tersenyum tipis. "Tidak mau. Aku tidak mau pulang. Kau bilang aku bisa mencari pelatih lain kan? Aku tidak menerima pelatih lain, selain dirimu. Maka dari itu, aku memilih untuk tidak kembali ke desa dan tinggal di hutan yang katanya mengerikan ini."

Sungmun terbelalak kaget. "Jangan bodoh! Memangnya kenapa kau sangat ingin aku menjadi pelatihmu, huh?!"

'Karena... aku menyukaimu.'

Tidak... tidak. Jangan salah paham. Itu adalah batin Kyuhyun yang berbicara. Yang sebenarnya, yaitu...

"Karena... kau adalah pelatih yang imut tapi kejam."

Hanya beberapa kata itu... beberapa kata yang berhasil membuat wajah Sungmin merah padam menahan amarah. "DASAR KAU! KALAU BEGITU BERLATIHLAH SENDIRI!" Setelah itu, Sungmin pergi meninggalkan Kyuhyun.

"Dasar bodoh! Sudah tahu aku kejam. Tapi masih ingin aku melatihnya. Cih! Lagipula dia tidak akan berlama-lama di Hutan Raven," gumam Sungmin kesal sambil terus berjalan menuju arah desa.

Tak dipedulikannya Kyuhyun yang masih bergeming di pintu gerbang. Dugaan Sungmin benar-benar meleset ketika lelaki itu kembali masuk ke dalam hutan. Dan tampaknya ia tak berniat untuk kembali. Raut penuh keyakinan di wajahnya itu disertai dengan senyuman pasti.

Sayangnya Sungmin tak melihat wajah lelaki itu. Ia terus melanjutkan langkahnya meski hatinya berkata untuk berhenti. Tapi mau bagaimana lagi? Sungmin lebih memilih untuk percaya pada pikiran yang logis dibandingkan perasaannya sendiri.

.

.

.

"Eoh? Sungmin? Kau sudah pulang rupanya. Ah iya, bagaimana perkembangan Kyuhyun? Tadi kalian tidak berlatih di Hutan Pong-Pong ya?" Yesung yang baru saja datang setelah berburu bahan untuk membuat senjata langsung menanyai Sungmin. Yeah, walaupun ia tahu kalau adiknya itu tengah dalam keadaan mood yang tidak baik.

Sungmin menghela nafas berat. "Kyuhyun... dia memiliki pertahanan yang bagus. Tadi kami berlatih di Hutan Raven."

Sontak kedua mata Yesung terbelalak kaget setelah mendengar jawaban Sungmin. "Bukankah sudah aku katakan untuk tidak mendekati hutan itu, Sungmin?! Kau tidak mendengarkanku?!"

"Apa masalahnya? Setiap hari aku datang ke sana. Dan lihat sekarang... aku masih baik-baik saja bukan?"

Yesung terdiam sejenak sebelum menarik nafas lalu mengeluarkannya. "Aku tahu kau adalah petarung yang hebat. Tapi aku tidak ingin kau berurusan lagi dengan orang-orang Hamonhu ataupun Phoenix, Sungmin!"

Hening...

Sungmin tampak tak berniat untuk membalas ucapan Yesung. Meski hatinya ingin berkata banyak hal, namun gadis itu tahu bahwa tak ada gunanya berdebat dengan orang seperti Yesung dengan segala sifat yang ia miliki.

"Lebih baik kau diam, Yesung. Ini sama sekali bukan urusanmu," ujarnya dingin. Sungmin lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga. Namun pada anak tangga pertama terhenti karena ucapan Yesung.

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu, Sungmin. Tapi...-"

"Apa yang kau mengerti, Huh? Kau bahkan tidak pernah melihat bagaimana orang yang paling kau sayangi disiksa dengan cara yang mengerikan."

"Sungmin... AKU HANYA KHAWATIR PADAMU! KAU ADALAH KELUARGAKU SATU-SATUNYA. MAKA DARI ITU JANGAN PERNAH DEKATI HUTAN RAVEN LAGI!"

Tak ingin membahas hal ini lebih lanjut lagi, Sungmin memilih untuk mempercepat langkahnya. Ia hanya ingin masuk ke dalam kamarnya dan menyendiri, untuk saat ini

Sikap Sungmin yang terlalu tertutup ini terkadang membuat Yesung tak suka. Ia jarang membagi masalahnya, keluar rumah hanya untuk pergi ke hutan atau ke toko milik Yunho Ahjussi, dan parahnya lagi, tak ada yang menjadi temannya, selain Ryeowook. Itu pun mereka sangat jarang berinteraksi.

Sikap itu diperparah beberapa tahun yang lalu. Yesung tak pernah tahu apa masalah Sungmin sebenarnya. Gadis itu tiba-tiba pulang dengan air mata yang memenuhi wajahnya, darah yang mengotori tubuh serta pakaiannya, dan luka cakar di kulit putih susunya. Orang-orang di desa ini tak tahu hal itu karena Sungmin pulang tepat tengah malam. Hanya Kakek Kim dan Yesung sendiri yang tahu.

Sungmin tak pernah mau menjelaskannya dengan jelas. Ketika di tanya, ia hanya menjawab...

"Aku telah kehilangan semuanya... orang yang paling aku sayangi. Hanya itu yang bisa aku jawab. Ini adalah jawaban yang hanya akan kau dan harabeoji ketahui."

Berkali-kali Yesung meminta penjelasan yang lebih detail. Tapi Sungmin tidak pernah mau. Ia juga tak bisa memaksa gadis itu untuk menjelaskan karena akibatnya akan semakin buruk.

Yesung mendesah lelah. "Seandainya kau bisa membagi masalahmu dengan orang lain, Sungmin. Itu pun jika ada orang yang bisa kau ajak berbagi," gumamnya yang dilanjutkan dengan kekehan. Lelaki ini tahu dengan kemungkinannya yang bahkan berada di bawah 5 persen.

.

**Jlee137**

.

Hari makin menggelap. Keadaan juga semakin sunyi. Tidak ada yang berniat keluar rumah. Kalaupun ada, mungkin mereka hanya berkeliaran di sekitar saja. Di sebuah kamar seorang gadis tengah berdiri di dekat jendela sembari memandangi pepohonan yang lebat. Dimana daun-daunnya bergerak ringan oleh angin malam.

Gadis itu mendesah kecil. Dari sudut ini ia bisa lebih mudah melihat kondisi jalan di depan rumahnya. Sudah sejak pulang dari hutan tadi menunggu. Biasanya lelaki bodoh itu akan lewat jalan ini mengingat ia orang baru di desa, jadi mungkin ia tidak tahu jalan mana saja yang bisa digunakan untuk menuju rumah kakek Kim.

"Apa dia benar-benar menginap di hutan itu?" Gumamnya pelan.

Gadis itu, Sungmin, akhirnya melangkah menuju sebuah almari dimana terdapat beberapa pedang, tombak, dan belati miliknya. Ia lalu mengambil salah satu pedang dan menaruhnya di punggung.

Seolah tak mempedulikan fungsi pintu, Sungmin keluar dari rumahnya dengan cara meloncat dari jendela kamarnya. Gadis itu melakukannya dengan sangat mudah. Tak ada luka sedikit pun, pendaratan yang sempurna. Sungmin memperhatikan kondisi jalanan. Sesuai perkiraan, sangat sepi. Tapi ada satu hal yang berhasil membuatnya menyipitkan sebelah mata.

Dari kejauhan, tampak bayangan yang berjalan ke arahnya. Dua orang? Seorang pria paruh baya dan seorang gadis, jika Sungmin tidak salah menebak. Kondisi jalanan yang hanya diterangi beberapa lampu remang ini, mungkin cukup menganggu penglihatan. Tapi tidak bagi gadis bersurai panjang ini. Percaya atau tidak, penglihatannya setajam elang.

"Haeabeoji? Ryeowook?" Gumam Sungmin sangat pelan.

"Hoaammm..." Ryeowook mengerjap beberapa kali. "Harabeoji... kau yakin kita akan mencari Kyuhyun tengah malam begini? Aishh... aku mengantuk."

"Kau ini bisanya hanya mengeluh. Kalau kau mengantuk, pulanglah."

Sontak Ryeowook yang awalnya malas untuk membuka mata, kini malah membukanya lebar-lebar. "Tidak bisa! Aku juga ingin mencari Kyuhyun, Harabeoji! Tapi..." gadis itu mendengus. "... ini sudah malam. Aku mengantuk. Bagaimana kalau kita mencarinya esok hari saja? Itu lebih aman."

"Lalu, bagaimana jika besok kau hanya bisa menemukan tulang-belulangnya saja, Huh? Monster yang muncul saat malam hari itu benar-benar menakutkan, Ryeowook!"

"Kalau menakutkan, kenapa kita malah datang malam hari? Seharusnya harabeoji mengajak Sungmin eonni juga!"

Sang kakek terdiam sejenak. "Sungmin? Ahh, benar juga. Hari ini Kyuhyun belajar pedang dengan Sungmin. Tapi, kenapa Kyuhyun belum pulang juga?"

"Mungkin saja Kyuhyun melakukan kesalahan sehingga Sungmin eonni memarahinya dan menghukumnya dengan tinggal di hutan semalaman."

"Huh? Jika Kyuhyun dihukum di Hutan Pong-Pong, itu bukan masalah. Tapi jika..."

Ryeowook dan Kakek Kim menghentikan langkah lalu saling berpandangan beberapa detik. Seolah mereka tengah menyamakan isi pikiran mereka.

"Matilah dia jika sampai tinggal semalam di Hutan Raven!"

Keadaan kembali hening setelah dua orang itu berlari menuju perbatasan desa. Seseorang yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon akhirnya keluar, Sungmin. Gadis itu mendengar percakapan keduanya. Sekarang ia benar-benar yakin jika lelaki itu memiliki sifat nekat juga. Ia pikir Kyuhyun tak akan berani melakukan hal itu.

"Aku juga tidak yakin jika dia selamat. Tapi melihat serangannya waktu itu..."

Sungmin teringat dengan pertarungannya bersama Kyuhyun dulu. Bahkan lelaki itu bertarung dengan santai. Ia seolah telah terbiasa menghadapi petarung hebat seperti seorang Lee Sungmin. Namun Kyuhyun berbeda saat berhadapan dengan seekor monster. Ia selalu saja memejamkan kedua matanya.

"Dia mempunyai sifat yang sama dengan yang dimiliki Bangsa Hamonhu," gumam gadis itu yang lalu pergi melanjutkan langkahnya. Tujuannya kali ini adalah Hutan Raven.

.

.

.

Tapi... bagaimanakah dengan keadaan Kyuhyun yang sebenarnya? Bagaimana nasib lelaki itu menghadapi tekanan di Hutan Raven?

Jika ada yang mengira kalau Kyuhyun kini tengah berlari ketakutan atau hanya bersembunyi di rute kosong, maka kalian salah. Bahkan Kyuhyun kini tengah menikmati jamuan makan malam di dalam rumah seseorang. Dengan mata berbinar, Kyuhyun memandangi makanan-makanan itu. Tapi, demi menjaga sikapnya, ia hanya memakan sepiring saja.

"Terima kasih untuk makanannya, ahjumma."

Seorang wanita paruh baya yang duduk di hadapan lelaki itu bersama putranya hanya membalas dengan senyuman hangat. Kyuhyun merasa seperti tengah berada di dalam keluarganya sendiri. Meskipun ia sendiri tidak tahu siapa keluarganya.

"Eomma, dia ini kan manusia. Kenapa eomma malah menjamunya seperti ini?" Tanya sang putra dengan nada kesal.

"Donghae, jaga bicaramu. Jangan terpengaruh dengan apa yang orang lain katakan. Eomma kenal betul bagaimana sifat manusia yang sebenarnya."

"Tapi, eomma, para manusia itu dengan serakahnya memburu monster hanya untuk mendapatkan koin emas."

Sang ibu menghela nafas berat. Meski putra tunggalnya ini telah berusia 20 tahun ke atas, tingkahnya hampir sama dengan anak dengan usia 10 tahun ke bawah. "Harusnya kau mengerti, Hae. Apa yang manusia dan hamonhu pikirkan ketika melihat monster itu berbeda. Kita menganggap mereka adalah teman, tapi manusia menganggap monster itu sebagai makhluk yang berbahaya."

"Apanya yang berbahaya? Bahkan setiap hari aku dan Eunhyuk sering bermain bersama mereka." Donghae masih kekeh dengan pikirannya yang berpendapat bahwa manusia itu pantas untuk dijauhi karena kejam dan serakah.

"Kau bisa mudah berteman dengan mereka. Tapi manusia tidak bisa. Sayangnya hanya segelintir orang yang dapat memahaminya." Wanita itu menunduk sedih.

Kyuhyun yang sejak tadi hanya diam memperhatikan percakapan dua orang itu tidak bisa lagi menahan rasa penasaran yang terus muncul. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?

"Ehm... ahjumma... apa maksud pembicaraan kalian ini sebenarnya? Memangnya kalian ini bukan manusia?"

Donghae mendengus. Ia melirik Kyuhyun sekilas sebelum pergi dari ruangan tersebut. Tidak ada yang lebih ia butuhkan selain kamarnya sendiri. Hal ini membuat sang ibu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak peduli seberapa banyak ia menjelaskan, kepercayaan yang ditanamkan di desa ini telah mendarah-daging bagi penghuninya.

"Nak Kyuhyun, aku akan jelaskan padamu. Tapi berjanjilah kalau kau tidak akan datang ke Hutan Raven ini lagi."

Kyuhyun menjawabnya dengan sekali anggukan.

"Baguslah. Jadi sebenarnya kami ini..." wanita paruh baya itu menarik nafas berat. "... memang bukan manusia."

"A... a... apa?" Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya kala mendengar sebuah pernyataan yang begitu mengejutkan. Dilihat dari sisi manapun wanita yang mengaku bukan manusia tetap saja terlihat seperti manusia. "Jangan bercanda..."

"Aku tahu kau tidak akan percaya, Nak Kyuhyun. Tapi itulah kenyataannya. Bangsa kami dan manusia memang memiliki kemiripan. Sayangnya kami ini bukanlah seseorang yang bisa kalian sebut sebagai manusia."

Kyuhyun tak bisa mempercayainya begitu saja. Ia juga memerlukan bukti apa yang membuat pernyataan itu menjadi sebuah fakta. "Lalu, apa yang membedakan kalian dengan manusia?"

Wanita yang rambutnya mulai beruban itu tersenyum tipis. Ia lalu beranjak dari kursinya dan membalikkan badannya. Tampak jelas di sana... sesuatu yang bentuknya panjang, berbulu, berwarna coklat, dan bergerak-gerak seolah tengah memamerkan dirinya. Ekor... eh? Ekor? Jangan main-main...

"Tidak mungkin... Bagaimana bisa ekor itu menempel di sana?" Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ia memerlukan waktu agar bisa menerima fakta baru ini. Fakta jika dirinya tengah dijamu oleh seseorang yang bukan manusia.

"Sekarang kau percaya, hm?" Wanita yang bermarga Lee itu kembali duduk seperti semula.

Sementara itu Kyuhyun menghela nafas berat. "Entahlah. Aku bingung. Kalau kalian bukan manusia, lantas kalian ini sebenarnya makhluk apa?"

"Hamonhu, monster yang menyerupai manusia. Meski monster, kami memiliki sifat dan cara hidup yang mirip dengan manusia. Namun ada beberapa juga yang membedakan." Ibu itu kembali menghela nafas. "Yahh... tapi, sudah sejak lama kami dan bangsa manusia saling bermusuhan. Bahkan dulu aku sempat kehilangan sahabat terbaikku."

Kyuhyun terdiam melihat wanita yang telah menolongnya dari kejaran seekor monster burung itu tengah menunduk sedih. Sudah jelas ibu ini begitu menyayangi sahabatnya. "Dia... meninggal?"

Sontak wanita itu memandang Kyuhyun dengan tatapan yang tak dapat diartikan, antara sedih dan marah. "Ma... maksudku... itu... ahh, maaf."

Tak disangka ternyata Kyuhyun mendapat senyuman hangat darinya. "Tidak apa. Lagipula itu sudah belasan tahun yang lalu. Dia.. memang meninggal..." Wanita berwajah kalem itu agak memberi jeda pada kalimatnya. "... untuk menyelamatkan anaknya."

"Anak? Sahabatmu itu punya anak? Lalu, dimana pasangannya?"

"Tidak ada yang tahu dimana dan bagaimana keadaan anak dan istrinyanya. Kemungkinan mereka sudah meninggal. Tapi aku yakin, seorang anak tidak akan menyia-nyiakan hidup yang telah diberikan oleh orangtuanya. Aku sangat yakin itu!"

Dukk... dukkk! BRAKKK!

Tiba-tiba terdengar suara gebrakan pintu di rumah yang terbuat dari bambu tua itu. Tiga orang bertubuh besar dan tegap beserta seekor monster yang agak mirip dengan anjing muncul dari balik pintu. Wajah garang mereka terlihat jelas membuat orang-orang di sekitar berlarian tak karuan.

Kyuhyun dapat mendengar suara teriakan orang-orang Bangsa Hamonhu itu. Ia berdecak kesal. Siapa sebenarnya makhluk-makhluk aneh bertanduk itu? Berani-beraninya mereka menghancurkan pintu rumah keluarga Lee ini.

"Siapa mere-..."

"Kyuhyun, kau harus pergi! Nyawamu akan berada dalam bahaya jika mereka sampai menemukanmu!"

"Tapi, ahjumma..."

"Tidak ada waktu lagi Kyuhyun! Kau harus segera pergi! Cepatlah!"

Meskui tidak tahu apa yang tengah terjadi saat ini, Kyuhyun hanya bisa menuruti perkataan Ibu Lee. Sebenarnya ia tak bisa membiarkan orang-orang itu berbuat seenaknya begini, tapi mau bagaimana lagi? Bahkan kini lengannya telah ditarik oleh lelaki bernama Donghae itu hingga ke tengah hutan. Meninggalkan sang ibu sendirian di dalam rumah.

"Rozoro mencium bau manusia di rumah ini. Dimana manusia itu?!" Tanya salah satu dari mereka dengan suara yang menakutkan pada Ibu Lee yang baru keluar dari ruang tengah.

"Maafkan aku. Tapi sepertinya kalian salah. Tak da manusia di dalam rumah ini."

"BOHONG! Rozoro tak akan pernah salah pada bagian indra penciumannya."

"Cepat katakan dimana makhluk hina itu berada! Atau kami akan menghancurkan rumah ini!"

Tubuh wanita itu mulai bergetar. Ia begitu ketakutan saat ini. Tapi tak ada cara lagi untuk melindungi anak itu. "Si.. silahkan kalian geledah rumah tuaku ini. Jangan salahkan aku jika Rozoro-mu memang tengah memiliki masalah dengan indra penciumannya."

Ctassshh!

"DIAM!"

"Arrgghhtt!"

Wanita bermarga Lee itu hanya bisa memekik kesakitan kala sebuah rotan mengarah pada dirinya. Menjadi sebuah alat pecut yang begitu menyakitkan.

"Cepat geledah rumah ini!"

Beberapa Hamonhu di belakangnya langsung menurut pada perintah orang yang nampaknya menjadi pemimpin mereka itu. Sementara wanita itu hanya bisa pasrah saat beberapa barang-barangnya mulai berantakan karena ulah para prajurit Hamonhu itu.

Setelah menunggu sekitar 10 menit, orang-orang tadi keluar. Mereka memberi laporan jika tak ada satu manusia pun di rumah ini. Awalnya sang atasan tak percaya, namun mendengar nada keseriusan dan kondisi rumah berantakan itu membuatnya percaya pada anak buahnya.

"Baiklah. Kita pergi sekarang!" Perintahnya sambil kembali menyeret Rozoro pergi dari rumah itu.

Wanita Lee tadi hanya bisa mendesah pasrah menerima perlakuan kasar para prajurit Hamonhu. Desanya yang aman dan tentram menjadi begitu mencekam seperti ini. Tentu ia sangat menyayangkan hal tersebut.

Tak lama, penduduk Desa Hamonhu mulai berdatangan. Jujur saja mereka mulai tidak tega melihat seorang wanita tua yang disiksa begini. Seorang gadis datang menghampirinya. Ia mengusap air mata di wajah Wanita Lee itu.

"Eunhyuk..."

"Ahjumma... tidak apa-apa. Kami akan membantumu. Kami tahu kau tidak akan pernah memiliki hubungan dengan manusia satupun."

Ibu itu terdiam. Seandainya mereka tahu yang sebenarnya, mungkin nasibnya akan sama dengan sahabatnya dulu. Ia hanya bisa dia melihat orang-orang Hamonhu berlalu-lalang di rumahnya dan membereskan kondisi yang berantakan seperti itu.

.

.

.

To Be Continued

Chap 3 Update!

Annyeongggg... ^^ ^^ ^^

Berjumpa lagi dengan para reader :-D

Yahh... bingung ini mau bilang apa... author juga nggak enak sendiri ngepost ff di tengah-tengah kesibukan kelas 12. Tapi yang namanya hobi mah... lanjut terus!

Terima kasih buat yang udah ninggalin jejaknya :-) terima kasih juga reviewnya... iru jadi penyemangat buat author buat lanjut terus. Kritik sepedas apapun aku terima. (Sekilas teringat salah satu review di ff Persona beberapa waktu lalu. Hehe.. tapi ya sudahlah.)

Okelah! Doakan aja author bisa fast update yak!

See You Next Chapter!