Before...
"Cepat geledah rumah ini!"
Beberapa Hamonhu di belakangnya langsung menurut pada perintah orang yang nampaknya menjadi pemimpin mereka itu. Sementara wanita itu hanya bisa pasrah saat beberapa barang-barangnya mulai berantakan karena ulah para prajurit Hamonhu itu.
Setelah menunggu sekitar 10 menit, orang-orang tadi keluar. Mereka memberi laporan jika tak ada satu manusia pun di rumah ini. Awalnya sang atasan tak percaya, namun mendengar nada keseriusan dan kondisi rumah berantakan itu membuatnya percaya pada anak buahnya.
"Baiklah. Kita pergi sekarang!" Perintahnya sambil kembali menyeret Rozoro pergi dari rumah itu.
Wanita Lee tadi hanya bisa mendesah pasrah menerima perlakuan kasar para prajurit Hamonhu. Desanya yang aman dan tentram menjadi begitu mencekam seperti ini. Tentu ia sangat menyayangkan hal tersebut.
Tak lama, penduduk Desa Hamonhu mulai berdatangan. Jujur saja mereka mulai tidak tega melihat seorang wanita tua yang disiksa begini. Seorang gadis datang menghampirinya. Ia mengusap air mata di wajah Wanita Lee itu.
"Eunhyuk..."
"Ahjumma... tidak apa-apa. Kami akan membantumu. Kami tahu kau tidak akan pernah memiliki hubungan dengan manusia satupun."
Ibu itu terdiam. Seandainya mereka tahu yang sebenarnya, mungkin nasibnya akan sama dengan sahabatnya dulu. Ia hanya bisa dia melihat orang-orang Hamonhu berlalu-lalang di rumahnya dan membereskan kondisi yang berantakan seperti itu.
**Jlee137**
JOURNEY FOR A REMEMBRANCE
Cast:
CHO KYUHYUN
LEE SUNGMIN
KIM RYEOWOOK
KIM JONGHOON
Others (Coming Soon)
Genre:
Fantasy
Romance
Adventure
Rating:
Teen (T)
Summary:
Tentang kisah seorang lelaki yang tiba-tiba datang ke sebuah pedesaan, tapi sayangnya ia kehilangan ingatannya. Bagaimana jika lelaki itu bertemu dengan sesosok gadis misterius yang menyimpan masa lalu yang kelam, seorang gadis dingin dan sama sekali tak memiliki sisi ramah, Lee Sungmin./"... Bagaimana kalau kau kita panggil Kyuhyun?" ; "Kyuhyun? Bagus juga..."/
Disclaimer:
This story is mine, but the casts are ours. Kisah ini terinspirasi pada sebuah game yang bernama "Harvest Moon" :)
Okey, happy reading...
.
.
.
Donghae mendorong Kyuhyun kasar. Saat ini mereka telah sampai di entrance atau pintu masuk Hutan Raven. Karena sifat Hamonhu yang bersahabat dengan monster, ini memudahkan mereka untuk terhindar dari serangan penyihir penjaga Hutan Raven.
"Pergilah! Jangan pernah lagi datang kemari, Manusia!"
Kyuhyun memandang Donghae lekat, membuat lelaki itu agak risih. "Tunggu! Sepertinya aku pernah bertemu denganmu. Ehm... ahh! Kau yang waktu itu aku kejar bukan?"
Donghae yang sebenarnya telah ingat sejak tadi hanya bisa mendengus kesal. Namun ia tiba-tiba ingat dengan apa yang terjadi di rumahnya tadi. Perasaan khawatir terhadap sang ibu muncul, membuat jantungnya berdetak kencang.
"Aku harus pergi sekarang!"
"Tunggu!" Kyuhyun menahan tangan Donghae yang berniat kembali masuk ke dalam hutan. "Ceritakan padaku!"
"Apa maksudmu?"
"Yang terjadi barusan. Orang-orang itu... apa yang mereka lakukan?"
"Tidak ada waktu untuk untuk itu." Namun sayangnya tangannya masih Kyuhyun tangan. Lelaki itu mendesah kesal. "Lepaskan aku," ujarnya dingin.
"Tidak. Sebelum kau menjelaskan semuanya, kau tidak akan kemana-mana, Lee Donghae."
"Kau... apa kau tidak sadar siapa dirimu, huh? Jangan pernah mencampuri urusan kami, Manusia!"
Mendengar nada menekan yang Donghae lontarkan, membuat Kyuhyun hanya bisa terdiam. Dengan mudahnya ia membiarkan Donghae pergi meski beribu pertanyaan bersemayam di dalam kepalanya. Apa sebenarnya yang telah terjadi di antara bangsa manusia dan bangsa hamonhu? Ck! Mungkin jika dirinya tidak hilang ingatan, ia pasti telah mengetahuinya.
"Kyuhyun!"/"Kyuhyun!" Teriak dua orang yang muncul dari kejauhan berjalan melewati jalan setapak menuju tempat yang Kyuhyun pijak kini. Kakek Kim dan Ryeowook
"Hah, sudah kami duga kau berada di hutan Raven. Syukurlah kau tidak apa-apa," ujar Ryeowook lega saat melihat keadaan Kyuhyun yang baik-baik saja.
"Kenapa kau bisa senekat ini, Kyu?" Tanya Kakek Kim yang juga ikut mengkhawatirkan Kyuhyun. "Hutan Raven ini sangatlah berbahaya!"
"Ahh, Maaf. Ayo kita segera pulang."
Tanpa banyak berkata apa-apa lagi, Kakek Kim dan Ryeowook mengangguk. Mereka lalu pergi dari tempat gelap yang hanya diterangi cahaya rembulan tersebut. Menuju rumah yang nyaman sebagai tempat untuk beristirahat.
Tak ada yang menyadari, bahwa sesosok gadis yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon mendengar pembicaraan mereka. Bahkan termasuk pembicaraan antara Kyuhyun dan Donghae. Gadis itu yakin telah terjadi sesuatu selama Kyuhyun berada di Hutan Raven.
'Jangan bilang kalau lelaki itu datang ke Desa Hamonhu,' batinnya was-was.
**Jlee137**
Pagi hari... dimana cuaca hari ini yang cerah menyelimuti seluruh Desa Elfsara. Kicauan burung-burung mungil memenuhi taman desa pagi itu. Tampak seolah tanpa ada masalah satu pun. Seperti yang dilakukan seorang gadis satu ini.
Seorang gadis yang memakai pakaian ala kerajaan, sebuah long-dress lengan pendek disertai sarung tangan panjang berwarna dominan putih yang diselingi garis warna merah muda tengah berjalan riang sambil memegang sebuah payung yang juga merah muda. Padahal hari itu tidak hujan. Suara senandung yang indah keluar dengan lembut dari bibirnya yang menawan.
Dialah sang Princess.
"Pagi.. pagi.. pagi.. kusuka jalan pagi. La.. la.. la.. la..." Ia bernyanyi dengan riangnya.
"Princess!"
Sontak raut wajah ceria gadis tersebut berubah masam. Ia mendengus kecil. Dengan malas gadis bersurai merah muda itu pun membalikkan badan dan menatap jengah pada dua orang lelaki berbaju prajurit kerajaan yang tengah berlarian menghampirinya. Terdengar deru nafas tak karuan sesaat setelah mereka sampai.
"Princesshh... hah... hah... Anda seharusnya tak berkeliaran tanpa penjagaan ketat dari kami berdua."
Gadis yang dipanggil princess itu kembali mendengus. "Kenapa juga aku harus mengikuti peraturan bodoh itu, Huh?"
"Maaf, Princess. Tapi ini perintah langsung dari My Lord."
"Tapi aku tidak menyukainya. Kalian pikir berjalan-jalan dengan membawa dua penjaga itu menyenangkan? Sudahlah! Aku ingin pergi."
"PRINCESS!"
Hampir saja salah satu penjaga berhasil menahan tangan Princess jika saja tak ada sebuah payung yang memukul tangan penjaga tersebut dengan keras. Tentu saja dia meringis kesakitan.
Wajah garang terlukis di wajah sang Princess. "Jangan coba-coba menyentuhku! Hari ini mungkin hanya aku pukul, besok mungkin kalian akan aku injak-injak," ujarnya dingin bagai sesosok iblis yang mengerikan. Aura gelap mengelilingi dirinya.
"A... a... ampun, Princess. Maafkan kami." Kedua penjaga itu kontan bersujud di kaki sang Princess.
"Sudah kukatakan untuk tidak mengikutiku, 'kan? Pergilah!"
"Tapi, Princess..."
Tatapan mata yang mematikan itu langsung tertuju pada keduanya. Sontak mereka menegang ketakutan. Tak ada yang lebih mengerikan dari death-glare milik sang Princess. Bahkan monster sekalipun.
"Ba... baik. Kami akan pergi," ujar mereka akhirnya. Tak dapat dipungkiri, kini mereka lebih takut kepada Princess darpadai seseorang yang mereka sebut "My Lord".
"Baguslah."
Kedua prajurit itu langsung berlari tak karuan. Princess mereka benar-benar berkepribadian ganda. Sama sekali tak cocok dengan wajah kalemnya.
Sang Princess tersenyum penuh kemenangan. Setidaknya para pengganggu telah pergi. Cih! Padahal ia rela bangun pagi-pagi sekali agar bisa terhindar dari dua penjaga menyebalkan itu.
Ia pun berniat melanjutkan aktivitas menikmati paginya yang sempat tertunda. Namun ada hal yang menarik perhatiannya. Ia tampak tersenyum saat melihat sesosok lelaki yang melintas di jalan menuju toko milik Yunho Ahjussi itu.
"Siapa dia? Orang baru di desa ini?" Tanyanya entah pada siapa. Daripada dipenuhi rasa penasaran, alangkah baiknya jika ia mengikuti secara diam-diam. Itu akan semakin membuat paginya menjadi asyik.
.
.
.
"Ahjussi... apakah makanan penjinak monsternya masih ada?" Tanya seorang laki-laki yang tengah memegang sekantong koin emas di tangannya.
"Huh? Masih. Kau pesan berapa, Anak Muda?"
"Hmm..."
Di tengah keadaan lelaki itu yang sedang bepikir, suara bunyi lonceng yang otomatis terdengar ketika seseorang membuka pintu depan melewati gendang telinganya maupun sang pemilik toko. Tampak sesosok gadis yang seperti biasa datang dengan aura gelapnya.
"Ohh, kau di sini? Hebat sekali... baru beberapa hari belajar berpedang, sekarang sudah mau mencoba menjinakkan monster."
Si Pemilik Toko terlihat terkejut. "Sungmin? Tidak biasanya kau menegur orang terlebih dulu."
Gadis yang ternyata adalah Sungmin itu mendengus sambil memutar kedua matanya malas. Namun ada hal yang membuatnya merasa aneh. Lelaki ini... tidak biasanya dia mencueki dirinya seperti ini. Apakah karena kejadian yang kemarin? Entahlah...
"Sungmin... sepertinya aku berubah pikiran."
Sungmin tak menoleh. Ia hanya diam menunggu kalimat lanjutan dari lelaki yang menaruh pedang di punggung itu, Kyuhyun.
"... Mulai sekarang kau bisa bebas."
Kali ini gadis itu menoleh, atau lebih tepat melirik. Itu pun hanya sekilas. "Maksudmu?" Tanyanya yang masih tetap membudidayakan nada dingin miliknya.
"Aku tidak akan memaksamu untuk mengajariku lagi. Aku tahu kau terpaksa melakukannya, bukan? Jadi, yeah, aku akan belajar sendiri."
Sungmin mengerutkan keningnya. Baru satu hari lelaki ini tinggal di dalam Hutan Raven, namun tiba-tiba berubah drastis seperti ini. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan bangsa Hamonhu? 'Tidak! Jangan sampai ada satu manusiapun yang berhubungan dengan Hamonhu atau yang lebih buruk lagi... Phoenix.' Batin Sungmin.
"Terserah kau saja. Tapi harga penjinak monster itu mahal loh. Apalagi Yunho ahjussi ini pelit, tidak mau memberi diskon."
Yang merasa tersebut namanya itu hanya memutar malas kedua matanya. "Demi keuntungan seorang penjual, Sungmin. Kau juga, lagipula terserah anak muda ini kan? Yang bayar juga dirinya sendiri." Yunho memberikan beberapa plastik makanan penjikak binatang. "Kau pilih yang ultra atau yang biasa atau mungkin yang berlevel terbawah?"
Kyuhyun mengamati makanan itu satu persatu. "Ultra... ya! Aku pilih yang ultra. 5 bungkus."
"Baiklah. Harganya 25 ribu Flein. Tapi jika kau mempunya keping emas, cukup beri aku 20 keping untuk lima bungkus."
(Hanya untuk memberitahu, Flein adalah mata uang yang akan digunakan di dalam dunia fanfic ini.)
Sungmin memandang Yunho terkejut. "Kau memberinya setengah harga?" Gadis itu berkata dengan nada super dingin. Mengingat Yunho ahjussi tak pernah memberinya diskon. Mungkin pernah. Dulu.
"Untuk awal. Kau tenang saja. Siapapun yang datang kemari untuk pertama kalinya akan aku beri setengah harga. Bukankah kau pernah, Sungmin?"
Sungmin tak menjawabnya, tak ingin dan malas. Diperhatikannya Kyuhyun yang tengah mengeluarkan beberapa keping emas dari sebuah kantong kain yang lumayan besar. Kira-kira cukup untuk menampung kurang lebih 200 keping emas. Kyuhyun lalu memberikannya pada Yunho ahjussi dan sebagai gantinya ia menerima lima bungkus makanan penjinak monster pesanannya.
"Gunakanlah sepintar mungkin. Tidak mudah menjinakkan monster. Apalagi yang ada di Hutan Lordem. Mereka tidak akan jinak sebelum mendapatkan banyak makanan," ujar Yunho memberi pesan.
Kyuhyun menganggukkan kepalanya sebelum pergi dari toko milik Yunho. Sementara itu Sungmin enggan untuk berbalik. Sejujurnya ia ingin melihat Kyuhyun dan menanyakan sesuatu. Tapi sifat dasarnyalah yang menghalagi itu. Alhasil kini gadis itu hanya bisa melihat berbagai barang yang Yunho ahjussi jual.
"Apa yang kau inginkan?"
Sungmin tak berniat untuk mendongakkan wajahnya. Ia mendengus malas. "Makanan monster."
"Untuk penjinak atau hanya makanan biasa?"
"Biasa," jawabnya singkat.
Yunho mengangguk lalu membungkukkan badannya dan mengambil beberapa bungkus makanan monster.
.
.
.
"Hey, dia itu siapa?" Tanya seorang gadis masih dengan payungnya pada dua orang lelaki di belakangnya.
"Ahh... dia sepupu jauh Ryeowook, cucu Kakek Kim, Princess."
Gadis yang dipanggil Princess itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dia tampan bahkan lebih tampan dari Si Pangeran Arogan itu."
"Tapi, Princess. Bukankah Pangeran Phoenix-"
"Sssstt!" Sang Princess memberi isyarat agar mereka diam. "Jangan ucapkan itu di luar istana."
"Maaf, Princess. Kami lupa."
Sang Princess mendesah malas. Seketika ia teringat suatu hal. Dengan wajah merah padam disertai dengan gerakan slow-motion, ia berbalik menatap dua lelaki itu. Mendapati aura gelap sang Princess yang datang tak diundang, kedua lelaki tadi mulai berkeringat dingin.
"Hei... bukankah tadi kalian aku suruh pergi?" Tanya Sang Princess dengan nada aneh.
"Ehh itu..."
"KENAPA KALIAN MASIH DI SINI?! PERGI ATAU AKU TENDANG KALIAN HINGGA KE LAUT!"
"Ma... ma... maaf, Princess... tapi My Lord marah besar saat tahu kalau Princess pergi tanpa pengawalan."
"TERSERAH! Yang penting kalian enyahlah dari hadapanku sekarang juga! Aku juga butuh penyegaran."
"I... i... iya, Princess."
Dari kejauhan tampak Sungmin yang baru saja keluar dari toko. Ia melihat dua orang yang lari terbirit-birit. Tapi bukan itu yang menjadi masalah. Tapi gadis itu... ia ingat tiga tahun lalu.
'Di Alforest. Ia duduk dengan wajah datar di kursi penonton. Menyaksikan neraka di atas panggung,' batinnya yang tanpa sadar membuka luka lamanya.
"Princess Kibum," gumamnya pelan.
Sadar akan adanya tatapan yang memandang dirinya, Princess alias Kibum menolehkan kepalanya. Namun Ia hanya mendapati keadaan di sekitarnya yang kosong.
"Mungkin hanya perasaanku," pikir Kibum acuh.
**Jlee137**
Setelah membeli makanan penjinak monster di toko Yunho Ahjussi, Kyuhyun berniat kembali ke Hutan Raven. Kejadian mengejutkan di rumah keluarga Lee waktu itu berhasil membuatnya tak bisa tidur semalaman. Berbagai pertanyaan berkeliaran di dalam pikirannya. Namun tak satupun yang bisa ia jawab. Salah satunya adalah mengenai hubungan antara Manusia dan para Hamnohu itu.
"Oh, Kyuhyun? Kau akan pergi lagi?"
Kyuhyun menoleh dan mendapati Kakek Kim yang tengah membawa bahan-bahan untuk parfum. Aroma citrus seketika melewati rongga indra penciumannya. "Ya, begitulah. Jila aku hanya berdiam diri, mungkin aku tidak akan pernah mendapatkan ingatanku kembali."
"Ya sudah. Berhati-hatilah."
"Ah ya. Mungkin aku akan menginap selama beberapa hari di dalam hutan. Harabeoji tak perlu mengkhawatirkan aku."
"Itu terserah kau saja. Yang terpenting kau bisa menjaga dirimu dengan baik, Kyu. Pulanglah dengan selamat."
Kyuhyun menjawabnya dengan anggukan. Ia pun keluar dari rumah lalu mengamati lingkungan di sekitarnya yang... mungkin bisa dibilang sepi. Namun ada beberapa yang masih berlalu-lalang. Mengingat ini adalah jadwal mereka untuk makan siang.
Di kejauhan, tampak sesosok gadis, yang lengkap dengan barang-barang untuk berkelana. Tapi dalam lingkup sederhana. Tas punggung kecil dan sebuah pedang yang ia taruh di pinggang. Gadis itu memandang Kyuhyun dingin dengan kedua tangan yang disilangkan di bawah dadanya.
'Aku tidak bisa membiarkannya sendirian selama pedang Raventhm masih mengeluarkan cahaya birunya," batin gadis itu, Sungmin.
Hutan Raven. Telah Sungmin tebak sebelumnya jika Kyuhyun pasti akan kembali ke sini. Tapi... untuk apa semua makanan penjinak monster itu? Tidak mungkin ia akan memelihara banyak monster kan? Kyuhyun juga bukan bangsa Hamonhu yang mudah akrab dengan monster. Berbagai pertanyaan mengerubungi pikiran Sungmin. Namun gadis itu masih harus terfokus pada Kyuhyun yang berjalan cukup jauh di depannya.
Cahaya biru masih menunjukkan nyalanya di ujung Pedang Raventhm. Sejujurnya ia tak rela jika pedang tersebut ke tangan orang asing. Tapi mau bagaimana lagi? Seolah-olah pedang itu sendirilah yang menunjukkan siapa yang pantas menjadi pemiliknya. Bahkan Sungmin sendiri pernah ditolak. Entah apa kriteria kepemilikan pedang itu.
"Ahh... aku melanggar janjiku pada ahjumma itu. Maafkan aku. Tapi rasa penasaran ini tak bisa ditahan lagi."
Sayup-sayup Sungmin mendengar suara Kyuhyun. 'Ahjumma?', siapa yang lelaki itu maksud?
Tidak terasa telah berapa lama mereka berjalan. Namun pintu gerbang Hutan Raven telah berada di depan mata. Kyuhyun menghela nafas sebelum kakinya melangkah. Sebuah seringaian terlukis di wajahnya. Manik matanya melirik ke arah kanan dengan posisi kepala yang menyerong.
DEG!
'Sial! Dia tahu!' Sungmin membatin kesal.
Tapi sepertinya lelaki itu ingin bermain-main. Ia bersikap seolah tak ada apa-apa di belakangnya dan tetap melanjutkan perjalanan. Sungmin berdecak. Seharusnya gadia itu tak pernah melakukan hal bodoh seperti ini jika saja Pedang Raventhm tidak sedang bersama lelaki asing itu. Yeah, meski telah beberapa hari di Desa Elfsara, tak mudah bagi Sungmin untuk melepas pandangan kepada Kyuhyun sebagai orang asing.
Seeekor burung terbang secara menukik ke arah Kyuhyun. Lelaki itu sontak melebarkan kedua matanya. Sungguh ia sama sekali belum siap menghadapi serangan pertama ini. Bahkan makanan penjinaknya masih tersimpan rapi di dalam tas.
"Tak ada cara lain!"
Pedang berwarna silver itu terlepas dari wadahnya. Kyuhyun segera memasang posisi siaga dan siap untuk menyerang. Dengan sekuat tenaga Kyuhyun mencoba untuk tidak menutup kedua matanya kembali. Ia harus melakukannya.
"Hyaa!"
Satu tebasan pedang... dua tebasan... tiga tebasan... bahkan masih belum menyentuh tubuh sang monster. Kyuhyun menggeram kesal. Padahal kedua matanya telah terbuka lebar. Tapi gerakan cepat nan lincah menghalangi semuanya. Sial! Jika saja ia mmemiliki sayap seperti burung itu.
"Kau akan mati jika berani menebas Minami," ujar Seorang gadis tiba-tiba dengan monster burung tadi yang kini bertengger manis di lengannya, Sungmin.
Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. "Minami?"
"Kau sudah melupakannya? Waktu itu kau mencoba untuk menyerang monster peliharaanku ini dengan mata tertutup. Jelas kau gagal. Kali ini... bahkan dengan mata terbuka, kau masih juga gagal. Hanya begitu kemampuanmu?" Sungmin mengelus lembut bulu halus si monster burung yang ia panggil 'Minami" itu.
"Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengkhawatirkanku, Hmm?" Kyuhyun sedikit menyeringai. Sejak awal ia sudah merasakan jika ada orang lain yang mengikutinya. Tapi yang tak ia duga adalah orang itu Sungmin.
Sungmin berdecak. "Berhenti bicara omong kosong! Kalau kau mengira aku mengikutimu, kau... kau memang benar. Tapi aku memiliki alasan untuk itu."
Kyuhyun berpikir sejenak. Ada beberapa hal yang tidak ia sadari sebelumnya. Sungmin... dia mengatakan kalau dirinya sering mendatangi Hutan Raven. Gadis itu juga mengetahui seluk-beluk hutan ini. Kalau begitu... Sungmin pastilah tahu mengenai keberadaan bangsa Hamonhu.
"Apa alasanmu itu?" Tanya Kyuhyun.
"Kenapa aku harus memberitahumu?"
"Jika itu berkaitan dengan mereka yang menyebut diri sebagai Hamonhu, maka aku harus mengetahuinya."
Sungmin terdiam, tak ada ekspresi berarti yang ia tunjukkan. Namun hatinya berdegub kencang saat mendengar kata "Hamonhu" dari mulut Kyuhyun. Tak salah lagi. Lelaki ini jelas telah mengetahui keberadaan makhluk yang merupakan monster berwujud manusia itu.
"Ayolah... kau pasti tahu tentang mereka. Jelaskan padaku!" Kyuhyun melangkah mendekati Sungmin. Gadis itu bergeming.
"Tidak mau," sahutnya dingin.
"Huh? Kau benar-benar pelit."
"Kembalilah, Kyuhyun. Kau tidak akan diijinkan untuk berurusan dengan mereka. Jika sampai kau membuat dirimu terlibat lebih jauh, tidak akan ada yang bisa membantumu lagi."
"Ayolah, Sungmin. Aku melakukan ini demi mengembalikan ingatanku. Aku yakin ada suatu hal di sana yang berhubungan dengan masa laluku."
"Kau yakin sekali..."
"Tentu saja! Aku merasakan hal yang aneh saat berada di dalam perkampungan bangsa Hamonhu itu."
"Tapi aku sudah mengatakannya padamu. Tidak akan ada yang bisa membantumu saat kau telah melangkah terlalu jauh, Kyuhyun."
"Tapi kau bisa!"
Sungmin terdiam. Bahkan orang-orang terdekatnya melarang untuk berurusan lagi dengan mereka. Apakah ini hanya karena Kyuhyun tidak mengetahui apa-apa?
"Apa maksudmu?"
"Aku yakin kau bisa membantuku, Sungmin." Kyuhyun menghentikan langkahnya tepat di hadapan Sungmin. "Tolonglah... aku sangat ingin mengembalikan ingatanku."
Sungmin menghela nafas. "Kau benar-benar. Apa kau yakin masa lalumu berhubungan dengan bangsa Hamonhu? Dengar, Kyuhyun! Ini bukanlah permainan anak-anak yang tidak memiliki resiko besar."
"Aku... aku sebenarnya tidak terlalu yakin. Tapi kita tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya. Dan sepertinya... aku masih membutuhkan seorang guru." Kyuhyun tersenyum. "Tentunya guru yang manis."
Sungmin mengerutkan dahinya. "Kalau begitu cari saja guru yang lain." Gadis itu berniat pergi dari sana. Namun dengan cepat Kyuhyun menahan tangan kirinya. Sungmin hanya bisa menghela nafas.
"Kau tidak kasihan padaku? Belajar bertarung bersama guru yang jelek itu bisa membuatku mati karena kebosanan. Bosan melihat wajahnya. Berbeda jika gurunya itu seperti dirimu. Manis, tapi ganas. Aku suka." Kyuhyun kembali tersenyum. Benar-benar senyum yang teramat manis. Namun rupanya rayuan tersebut tak memiliki banyak pengaruh kepada seorang gadis dingin seperti Sungmin.
"Berani kau menggodaku seperti itu, kupastikan kau akan berakhir di tanganku saat itu juga," ancam Sungmin yang sama sekali tak berpengaruh pada Kyuhyun.
"Manisnyaa guruku saat marah."
Empat sudut siku-siku tergambar jelas di kepala Sungmin.
DUUAAKKK!
"Ayo cepat jalan," perintah Sungmin sambil berjalan meninggalkan Kyuhyun yang terkapar lemah di tanah akibat sentuhan tangan lembut Sungmin yang dahsyat. Bahkan kini ia memberikan sebuah 'aksesoris yang indah' di kepala Kyuhyun, sebuah benjolan besar yang masih mengeluarkan asap.
**Jlee137**
Srettt... srettt...
Sungmin menebasi tebalnya dedaunan yang menghalangi jalan mereka. Instingnya yang tajam tak bisa dibohongi oleh seekor monster yang bersembunyi di balik sebuah pepohonan yang besar. Tak hanya itu, di sekitarnya juga terdapat banyak monster burung predator yang siap menerkam dirinya dan Kyuhyun kapanpun.
"Saat seperti ini, jangan pernah lengah, Kyuhyun. Fokuskan seluruh indra yang kau miliki. Keberadaan musuh tak dapat diduga dengan mudah. Seperti misalnya makhluk menyebalkan seperti ini."
Kyuhyun nengerutkan keningnya saat Sungmin menghentikan langkah di depan sebuah pohon besar yang berdiri dengan kokohnya. Gadis itu menyiapkan pedang, atau lebih tepatnya dua buah pedang yang ia pegang di tangan kanan dan juga kirinya. Dua? Bahkan lelaki baru menyadari jika Sejak awal Sungmin membawa dua pedang di punggungnya. Itulah yang mereka sebut sebagai nitoryou. Aliran dua pedang.
SRETT! SHRINK!
Seketika pohon besar tadi terpotong hanya dengan sekali tebasan. Jantung Kyuhyun berderu makin cepat. Sekarang ia sadar... Sungmin itu lebih menakutkan dari monster. Bahkan kini lelaki itu dapat melihat monster lain yang tadinya bersembunyi di balik pohon yang Sungmin tebas, sekarang terkapar tak berdaya dengan kepala yang terpisah dari badannya. Burung yang malang.
"Setidaknya kau tidak perlu berlebihan, kan." Kyuhyun bergidik saat tubuh monster tersebut mulai berubah menjadi abu sebelum berkumpul dan akhirnya terbentuklah koin-koin emas.
"Terserah aku ingin melakukan apa. Apa itu masalah buatmu, Kyuhyun?" Tanya Sungmin tetap dengan aura dinginnya.
"Ti... tidak. Maksudku... ayo kita lanjutkan perjalanan."
Sungmin tak lagi mempermasalahkannya. Ia yakin sekali jika bukan itu maksud Kyuhyun. "Untuk selanjutnya aku serahkan padamu. Itu tadi hanya pembukaan dari petualangan kita."
Oh, betapa susahnya bagi Kyuhyun untuk menelan ludahnya sendiri. Perlahan lelaki itu mengeluarkan pedang Raventhm-nya. Jelas sekali cahaya biru pada pegangan di pedang tersebut. Kyuhyun menyadari sesuatu yang menyilaukan matanya. Ia mengerutkan kening ketika menyadari hal yang aneh pada pedangnya.
"Apa ini?"
Sekelebat bayangan-bayangan abstrak lewat begitu saja dalam ingatannya. Suara keributan dimana-mana, suara jeritan seorang wanita paruh baya, dan api yang berkobar. Semakin jelas bayangan itu, semakin beban yang menimpa kepala Kyuhyun kian berat menimbulkan rasa pening yang makin menjadi-jadi. Nafasnya menderu. Namun dengan cepat ia keluar dari kondisi seperti itu.
"Kyuhyun!"
Panggilan Sungmin sontak membuat Kyuhyun mengalihkan pandangan ke arahnya. Tak bisa dipungkiri ada sebersit rasa kekhawatiran di hati gadis itu saat melihat keadaan Kyuhyun yang seperti tadi. Seolah beban yang lelaki itu rasakan begitu berat.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ahh... aku... tidak apa-apa. Hanya pusing sedikit."
"Huh? Kau bahkan hampir seperti orang yang sedang sekarat tadi, dan kau hanya bilang pusing sedikit?"
"Ya... sebenarnya... aku sangat lapar. Mungkin gara-gara itu sistem kerja tubuhku menurun dan akhirnya berpengaruh pada kepalaku," jelas Kyuhyun bohong. Bahkan sebelum pergi ke toko Yunho ahjussi, lelaki itu menghabiskan sepiring penuh nasi beserta lauknya. Itu pun masih ditambah dengan kue coklat dan buah-buahan.
"Entah kenapa aku tidak percaya padamu." Sungmin memandang Kyuhyun curiga.
"Oh ayolah... yang penting sekarang aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir seperti itu."
Kontan Sungmin terdiam. "Aku... aku tidak khawatir," ujar Sungmin kembali pada nada dinginnya. "Aku hanya takut tiba-tiba kau mati di sini. Itu pasti akan sangat merepotkanku."
Kyuhyun mendesah berat. "Susah kalau berbicara pada orang yang memiliki sifat gengsi sepertimu. Akui sajalah, Minimin. Aku tidak keberatan kok." Lelaki itu mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat. Hal ini semakin membuat Sungmin kesal.
"Namaku bukan Minimin! Aku ini SUNGMIN. Dan sekali lagi kau menggodaku, hidupnya akan berakhir, Kyuhyun!"
Kyuhyun terkekeh mendengar ancaman itu. Ia sangat tahu jika Sungmin hanya menggertak. Gadis itu tak mungkin melakukan hal tersebut. Karena Sungmin bukanlah seorang yang berkepribadian jahat. Memang ia ganas dan dingin dalam waktu yang bersamaan. Tapi Kyuhyun yakin Sungmin memiliki sesuatu di dalam dirinya.
Yahh... Gurunya yang manis itu memang sangat misterius. Sialnya, Kyuhyun makin menyukainya.
.
.
.
To Be Continued
Hyaahhh! CHAPTER 4 UPDATE!
ANNYEONGG!
GOOD TO SEE YOU, READERS-DEUL!
Fiuhh... akhirnya bisa nyuri waktu buat lanjut. Kegiatan yang setiap hari pulang sore. Jadi bikin gak bisa ngetik. Abis pulang sekolah liat kasur langsung "nggeblak". Capekk... #CurcolDikit
Maaf yang udah nungguin hampir seabad ini :3. Yang nggak nungguin juga gak papa :D.
Thanks buat yang udah review di chapter-chapter sebelumnya yakk... kalau berkenan, silahkan boleh diisi lagi kotak reviewnya. KAMSAHAMNIDA.
See You Next Chapter, Girls, Guys..
