Minseok menatap saudara-saudara barunya secara bergantian. Di sofa panjang yang lagi-lagi berbentuk leter u itu sekarang nampak penuh dengan saudara-saudaranya. Di sofa sebelah kiri ada sikembar kyungsoo dan N yang nampak menempel satu sama lain.

'mereka tidak incestkan?' Tanya bao sinis, seratus persen benci pada N yang tersenyum-senyum aneh pada minseok.

"bao… jangan seperti itu" bisik minseok tak enak hati.

"rasanya menyenangkan mempunyai adik baru. Apa lagi yang manis seperti minseok" ok… kali ini kalimat menjijikan itu berasal dari chanyeol yang duduk tepat di samping minseok. Minseok duduk diapit oleh chanyeol dan sibungsu mark

'kau… ku bunuh kau mesum gila…!' siaga, bao siap menyerang chanyeol kembali dengan cakarnya. Membuat chanyeol menyingkir secara teratur. Ogah kembali mendapatkan cakaran pada wajah tampannya

"maafkan bao kak. Ia hanya tak terbiasa dengan orang ramai" minseok tak enak hati dengan kekacauan yang telah diperbuat oleh bao dalam hitungan menit semenjak ia tinggal di rumah ini.

"ahahha. Tak masalah. Apa lagi ia peliharaan adik kecil ku yang manis" whoa… cari mati kau yeol. Terbukti detik berikutnya bao sudah siap menyerang chanyeol jika minseok tidak dengan cepat menangkap hewan mungil luar biasa galak itu dan menahannya dalam pangkuan minseok.

"benci saja mahluk mesum itu bao" N mengompor-ngompori bao dan meringis pelan ketika tatapan tajam hewan galak itu beralih padanya. Sepertinya ia lupa jika tangan nakalnya tadi sudah menyentuh majikan kesayangan bao dengan tidak sopannya

"berhentilah berkicau berisik." Datar… tak bersahabat dan angkuh. Hanya itu yang dapat minseok gambarkan tentang luhan. Setidaknya lay masih mau tersenyum padanya.

Sedangkan luhan dan kai hanya menatapnya tajam tanpa bersuara lagi semenjak kejadian kai meneriaki minseok tadi. Untuk si mungil mark justru minseok sangat berterimakasih. Mark nampak berisik dan menggemaskan dengan sikap manjanya yang terus menempel pada minseok. Membuat minseok sedikit terhibur dan merasa di terima.

"kakak.. kakak.. peliharaan kakak lucu. Aku juga punya boneka kelinci besar dikamar. Kapan-kapan kita main bersama ya" katanya semangat dengan wajah penuh harap

"cih.. bocah itu mencuri start" decak N tak suka dan kembali berteriak karena Kyungsoo lagi-lagi memukul kepalanya dengan majalah. Hei.. itu sakit pastinya.

"kambali lah menjadi bayi jika kau mau dimanja mesum!" kali ini kai yang menyalak. Hoh.. berganti peran dengan bao sepertinya

"berhentilah berdebat. Kalian membuat minseok tak nyaman" whoa… ternyata orang seramah krispun bisa bersikap dingin dan suasana seketika menghening.

"ah… lebih baik kita lihat "dia" saja"

"ah… hidupkan tvnya.. hidupkan tvnya.." dendang mark dengan semangat dan seketika tv besar di hadapan mereka menyala.

Menampilkan sosok rupawan seorang pria muda yang sedang menyanyi dengan suara merdunya. Sejenak minseok terpaku. Sosok itu begitu menyilaukan di atas panggung besar dengan cahaya menyilaukan di sekitarnya. Senyum yang terbentuk pada bibir berisi si idol membuat minseok ikut tersenyum

"senyum palsu itu lagi.." minseok melirik N dengan ujung matanya dan merona ketika pria itu tersenyum menggoda padanya

"palsu sekali dia"

"setidaknya ia menawan tidak sepertimu hitam" ok, luhan punya lidah yang tajam. Satu lagi tambahan pada sifat minus luhan

"enak saja. Aku juga menawan. Tanya saja dengan minseok kalau kau tak percaya" dan seketika semua mata terarah kepada mereka berdua.

"apa maksutnya?" lay kembali bersuara, hilang sudah sikap sok coolnya tadi.

"itu… em… kami teman sekelas" jawab minseok gugup. Bagaimana tak gugup jika semua mata sekarang menatap minseok dengan tatapan menyelidik

"apa…?" teriak N dan Chanyeol secara berlebihan dang mengumpat ketika beberapa benda melayang ke arah mereka berdua,"betuntung sekali kau bung" rutuk keduanya secara bersamaan dan dibalas dengusan oleh kai yang kembali menatap tv

"aku juga mau sekelas dengan kakak.." rengek mark manja dan bergelayut manja pada lengan minseok. Membuat beberapa orang di ruangan itu menatap iri pada si bungsu yang mendapat elusan sayang dari minseok pada kepalanya

"aku benar-benar iri sekarang" sungut N kesal dan diacuhkan oleh yang lainnya.

"di mana ia sekarang?" Tanya d.o penasaran dengan mata masih terarah pada sosok yang sedang bernyanyi pada benda elektronik itu

"jeju. Tournya akan berakhir akhir minggu ini" jawab suho dan tersenyum ramah pada minseok yang nampak penasaran

"ah.. minseok. Yang di tv itu salah satu adik kita. Namanya jongdae dan nama panggungnya Chen. Umurnya 15 tahun. Lebih muda dua tahun dari kau dan kai." Jelas kris melihat wajah bingung minseok

'satu lagi srigala yang harus diwaspadai' keluh baobao lelah dan membuat minseok tertawa kecil sembari membelai kepala bao sayang. Matanya menatap pria-pria menawan di sekitanya dengan wajah berseri-seri. Merasa senang dengan kehangatan dan kebisingan yang tak pernah ia dapatkan di kediamannya yang lama

.

.

.

.

Minseok Pov

Keluarga yang ramai. Penuh dengan teriakan dan perdebatan yang justru membuatku merasa nyaman bersama dengan mereka. Keriuhan yang tak pernah aku dapatkan selama ini. Ayahku terlalu sibuk untuk bertahan lama berada di rumah setiap ia pulang ke korea. Oleh sebab itu aku menyetujui usulnya untuk pindah ke rumah ini. Rumah yang penuh kehangatan dan hal-hal gila lainnya.

Terlebih lagi mereka semua menawan dalam arti yang berbeda bagi setiap orangnya. N dan chanyeol yang terlalu frontal dan sedikit mesum. Lay dan luhan yang terlalu cuek dan sangat minim ekspresi dan juga suara. Kris dan suho yang luar biasa dewasa dan sialnya sangat menawan. Kai yang entah mengapa menjadi sedikit kasar padaku. Dan yang terakhir mark yang menggemaskan dan manja.

Dengan ragu kulirik sekitarku dan terkesiap pelan saat mataku bertemu padang dengan mata tajam dan dingi luhan. Lagi-lagi pria itu menyeringai ke arahku. Matanya menyorot nakal. Tunggu dulu… aku tidak salah lihatkan?. Tidak mungkin ia melihatku dengan tatapan menggoda. Aku pasti salah lihat. Sialan.. mengapa senyumnya semenyilaukan itu.

'xiu..xiu.. XIU..!' aku tergagap ketika kaki-kaki kecil baobao menyentuh tanganku dengan tak sabaran. Dengan cepat kuputus tatapan ku pada luhan dan memerhatikan bao yang menatapku curiga. Aku bahkan menenggelamkan wajah memerahku pada perut baobao yang ku angkat dengan tiba-tiba ke arah wajahku.

Aku merona. Ya Tuhan… apa yang dimiliki seorang luhan sehingga membuatku merona.

'kau kenapa xiu?' aku hanya menggeleng pela pada perut baobao. Malunya… apa lagi kudengar luhan tertawa kecil melihat tingkah memalukanku.

"apa yang kau tertawakan lu?" Tanya kris bingung

"tak ada." Jawab pria itu cuek dan membuatku menggeram kesal.

Sialan kau luhan

Minseok pov end

.

.

.

.

Demam di hari pertama pindahan. Minseok tak pernah berfikir jika ia akan mengalaminya. Membuat panik orang-orang di sekitarnya dan sekarang menyibukkan kris, suho dan chanyeol yang sekarang sedang merawatnya.

"kau kurang tidur seokie" ujar kris sembari menempelkan plester penurun panas pada dahi minseok

"ma'af merepotkan" cicit minseok penuh sesal dan dibalas belaian sayang pada kepalanya oleh kris.

"kau keluarga kami jadi sudah seharusnya kami merawatmu."

'ini salahmu yang terlalu tegang semalam sehingga kau kurang tidur' omel baobao khawatir dan hanya ditanggapi minseok dengan senyum kecilnya

"apa aku menggangu?" seorang pria asing dengan wajah tampan muncul dari balik pintu kamar minseok

"tao. Masuklah" orang bernama tao itu tersenyum lembut pada minseok yang seketika tersipu melihat senyum si pendatang baru

"aku hanya datang untuk menyapa. Aku tao. Anak kedelapan. Senang bertemu denganmu xiu" ramah, hanya kata itu yang dapat minseok jabarkan tentang tao yang kembali tersenyum padanya.

Baobao memicingkan matanya heran pada tao yang menyapa minseok dengan nama kecilnya bukan minseok seperti yang lain. Dari mana pria ini mengetahui nama kecil minseok?

"maaf tidak bisa menyapa dengan seharusnya kak" ringis minseok penuh sesal dan ditanggapi tawa pelan oleh tao yang hanya mengangguk sekilas pada minseok.

"tak masalah. Kau butuh istirahat. Ah.. aku suka rambutmu. Lain kali biarkan aku menata rambutmu"

"tao seorang penata rambut jika kau bingung" suho menjelaskan pada minseok yang seketika mengangguk mengerti

"baiklah. Kami akan membiarkanmu beristirahat. Istirahatlah dengan baik" ujar kris dan mereka semuapun keluar dari kamar minseok

"aku suka kehangatan mereka bao" lirih minseok dengan senyum di bibirnya

'apanya?. Mereka berbahaya. Hati-hatilah xiu'

"tapi selama ini aku hanya hidup sendiri dan merawat diriku sendiri. Senang rasanya ada yang memerhatikan ku ketika aku sedang sakit" kalimat itu membuat baobao terdiam dan membiarkan minseok beristirahat dengan tenang.

.

.

.

.

Suara roda di luar kamarnya membuat minseok terjaga dan beranjak dari kasurnya. Meninggalkan baobao yang telelap dengan tenang. Matanya membola ketika melihat kereta makanan berada di dekat pintu kamarnya dan ada chanyol disana. Tersenyum ramah pada minseok yang balas tersenyum pada chanyeol

"aku mengantarkan makanan. Kami takut kau masih terlalu lemas untuk turun" ujar chanyeol sembari mendorong kereta makanan itu masuk ke dalam kamar minseok

"ah.. terima kasih kak. Maaf merepotkan" ujar minseok tak enak hari dan terpaku ketika chanyeol mengecup pipinya dengan tiba-tiba.

Bao yang terbangun mendengar suar percakapan minseok dan chanyeol sudah siap menerjang chanyeol andai saja minseok tidak bersuara

"berhenti mempermainkan ku kak. Aku ingin kita bersaudara dengan baik" lirih minseok dengan mata menyorot tegas pada chanyeol yang membatu. Tak menyangka minseok akan berkata seperti itu padanya

"aku tak mengerti?. Apa maksutmu seokie?" Tanya chanyeol berlagak bingung dan membuat minseok mendengus pelan. Hilang sudah sikap manisnya.

"aku tahu kalian mempermainkanku. Aku tahu aku memang masih kecil dan terlihat gampang untuk dipermainkan. Tapi aku ingin kita bersaudara dengan baik. Berhentilah bersikap seolah-olah kakak tertarik padaku" tegas minseok dengan mata tetap terpaku dengan mata hijau chanyeol

"mungkin kau pikir aku terlihat bercanda tapi aku serius jika aku menyukaimu. Kau adikku jadi wajarkan kalau aku menyukaimu." Terdiam. Minseok merasa bersalah karena menuduh chanyeol yang tidak-tidak

"maafkan aku" cicit minseok penuh sesal

"tak masalah. Istirahatlah."

"apa aku melakukan kesalahan bao..?" Tanya minseok lirih ketika melihat punggung chanyeol yang menghilang dibalik pintu lift

'tidak xiu. Kau benar. Kau memang harus tegas dengan mereka' sergah bao cepat

"tapi dia bilang dia hanya menganggapku adik."

'jangan tertipu oleh perkataannya' tegas bao galak dan diangguki minseok

.

.

.

.

Sementara itu di lift chanyeol terdiam denga wajah datarnya. Ia bahkan menghela nafas berat sebelum menyandarkan tubuhnya pada dinding lift

"adik ya…?" lirihnya pelan

"bermimpi saja dik. Aku serius menyukaimu" sergah chanyeol dengan wajah kesal dan tersenyum culas

Oh.. sepertinya kau mendapat satu masalah minseok

.

.

.

.

'kau mau kemana xiu?'

"mandi bao. Badanku gerah" ujar minseok sembari membawa perlengkapan mandinya keluar kamar. Ya. Kamarnya yang mewah itu sialnya memang tidak dilengkapi kamar mandi pribadi di dalamnya

'tunggu dulu… biarkan aku berjalan di depan' teriak bao heboh dan memimpin jalan. Kepala mungilnya celingak-celinguk mengawasi setiap tempat yang mereka lewati.

"apa yang kau lakukan bao?" Tanya minseok heran ketika melihat bao bersembunyi dibalik dinding

Ayolah.. bao itu kecil jadi untuk apa ia bersembunyi seperti itu.

'mengawasi keadaan. Memastikan jika serigala-serigala itu tidak ada disekitar sini' jawab bao acuh dan membuat minseok mendesah lelah

Baobao mulai berlebihan. Dengan kesal misneok berderap ke arah kamar mandi yang lampunya masih menyala.

"kau tahu bao. Makin lama kau makin berlebihan" sungut minseok kesal dan membeku ketika matanya menangkap refleksi luhan di depannya.

Nampak menggiurkan dengan tubuh toples dan hanya ditutupi selembar handuk di bagian privatnya. Pria itu nampak seksi ketika berdiri angkuh sembari menenggak sebotol air mineral ditangannya. Terpaku.. minseok terpaku dengan wajah memerah.

Luhan yang baru mengetahui keberadaan minseok menatap bingung pria mungil yang nampak menggemaskan dengan wajah merona di depannya ini. Sebelah alisnya terangkat secara mengagumkan. Dan detik berikutnya seringai menyebalkannya terbentuk dengan luar biasa seksi pada bibir tipis semerah darah itu.

"suka dengan apa yang kau lihat adik kecil?" godanya dengan wajah minta dilempar

"ah.. ehmm.. maaf" teriak minseok heboh dan menutup pintu kamar mandi dengan tak kalah hebohnya. Membuat baobao yang baru datang heran dan mengintip ke dalam kamar mandi lalu mencicit marah ketika mendengar tawa jahil luhan di dalam sana

'ia menggodamu lagi ya? aku akan mencakarnya..,' tekat baobao penuh dendam dan ditahan minseok kedalam pelukannya.

"sudahlah bao. Aku yang salah karena asal masuk saja tanpa tahu ada kak luhan di dalam sana" kata minseok sembari membawa baobao menjauh dari kamar mandi

"aku mencintaimu soo.. tidak bisahkah kau melihatnya?' nada putus asa pada suara N membuat minseok menatap horror pemandangan di depannya. Ia tergagap saat meliha N menatap kyungsoo dengan mata sarat akan cinta. Suranya juga begitu lembut dan lirih

"mereka sedang apa..?' cicit minseok tak percaya

"aku juga mencintaimu N. kau saudaraku" jawab kyungsoo tak kalah lembutnya. Minseok tak dapat melihat bagaimana ekspresi kakaknya itu kerena kyungsoo memunggunginya saat ini

"tapi aku mancintaimu sebagai seorang pria bukan seorang saudara" membola. Mata cantik minseok membola. Tak menyangka akan menyaksikan pernyataan cinta N pada kyungsoo, saudara kembar N sendiri

"apa yang kau lihat?' pertanyaan bernada datar itu membuat minseok tersentak kaget. Di dekatnya ada luhan yang ikut-ikutan menatap arah tatapan minseok dan mengendikkan bahunya tak peduli. Seolah kegiatan kedua kakak kembarnya yang saling peluk itu nampak wajar

"itu. Apa tidak apa-apa?' Tanya minseok bingung

"Apanya?" tanggap luhan cuek

"my.. my,.. my.. ada ribut-ribut apa ini?' Tanya N yang entah sejak kapan sudah ada di dekat minseok dan luhan yang tergagap melihat kedua saudara kembar yang saling rangkul itu.

Minseok menggigit bibirnya gelisah dan menatap sikembar dan luhan secara bergantian. Baobao juga ikut menatap minseok heran karena majikannya itu nampak salah tingkah.

"itu.. kalian… itu tidak boleh.." cicit minseok ragu

"apa..?" tanya kyungsoo bingung. Pria itu membenarkan letak kaca matanya yang merosot turun

"maafkan aku. Tapi kalian itu bersaudara. Sudara kembar lagi. kalian tidak boleh menjalin hubungan yang seperti itu. Itu incest namanya" kata msineok cepat sembari menunduk dalam

Sing… sunyi… dengan takut-takut minseok mengangkat kepalanya dan membeku meliha seringai menyebalkan luhan dan wajah kaget kyungsoo dan wajah jahil N. ada senyum geli pada bibir luhan dan itu juga terpantul pada mata sekelam malam itu

"ah… kau mendengar sesuatu yang tidak seharusnya kau dengar ya dik. Maafkan kami jika kami mengagetkanmu. Ya, aku memang mencintai kembaranku ini" ujar N cuek dan mengecup bibir kyungsoo tanpa ragu. Membuat minseok tersentak dan mengalihkan tatapannya dari kedua kakaknya itu

"ah… maaf karena mengganggu kalian" minseok menunduk dalam dan berlalu dari tempat itu hingga tawa geli N terdengar.

"kau lucu sekali adik kecil. Sepertinya kau salah paham."

"apa maksutmu?" Tanya minseok bingung. Ia jelas-jelas melihat N menyetakan cinta pada kyungsoo dan baru saja ia juga melihat N mengecup bibir kyungsoo. Di mananya yanga salah paham coba?

"hentikan lelucon tak berguna ini. Kami sedang latihan membaca skrip minseok." Kyungsoo mendengus sebal ke arah N dan luhan yang menyeringai jahil

"maaf tidak mengatakannya pada mu minseok. Mereka itu actor pengisi suara. Kau bisa mendengar suara mereka dibeberapa filem dan juga game" tanggap luhan dengan seringai yang makin melebar. Berlagak merasa bersalah tapi wajah menyebalkan itu mengatakan kenyataan sebaliknya

"kami sedang berlatih skrip saat kau mendengarnya tadi" seketika minseok merasa bersalah karena asal tuduh sembarangan

"maafkan aku karena mengganggu pekerjaan kalian"

"tak masalah. Lain kali kau harus menjadi lawan berlatih kami ya adik manis" N menepuk pelan kepala minseok yang tertunduk dalam

"baiklah. Kita hentikan candaan tak penting ini." Kyungsoo berlalu dari hadapan mereka bertiga

"ahahah. Aku suka wajahmu tadi. Selamat malam minseok" ujar luhan sembari melambaikan tangannya pada minseok yang merona merah. Kesal sekaligus malu karena berhasil dikerjai oleh luhan dan N secara bersamaan

"ah… ini akan menyenangkan" dendang luhan ketika pria itu memasuki kamarnya dan mengedip genit ke arah minseok yang meremat tangannya gusar

'tidak sopan.. aku membancinya' amuk baobao murka ketika mereka sudah kemabali ke kamar msineok

"aku malu sekali…" keluh minseok sembari membenamkan wajah memerahnya pada bantal

'aku akan buat perhitungan pada rusa jahat itu' dengus baobao kesal

"sudahlah bao. Aku yang salah."

'terserahlah. Sekarang kau harus tidur biar tidak sakit lagi' tegas baobao yang di amini oleh misneok

.

.

.

.

"aku tak percaya ini. Kenapa harus dia yang menjadi saudaraku." Kai mengerang frustasi di atas ranjangnya. Tubuhnya bergerak-gerak tak tentu arah.

"aku tak bisa terima. Kenapa ia dengan cueknya masuk kedalam keluarga ini… ARGHT… pokoknya aku tak akan mengakui dia sebagai saudaraku. Peduli setan ibu dan kakak-kakak akan marah" ujar kai sembari menenggelamkan dirinya di dalam selimut tebalnya. Memaksa tubuhnya untuk beristirahat dan memejamkan matanya dengan enggan. Pikirannya kalut tentang seseorang yang tertidur di kamar yang berada tepat di atas kamatnya saat ini.

Nah minseok.. satu lagi gangguan akan kau dapatkan. Masih ada tiga orang yang belum kau temui dan tak ada yang menjamin jika mereka akan memberikanmu sambutan hangat seperti yang lainnya. kehidupanmu tak akan pernah sama lagi. tak akan ada lagi kehidupan datar tanpa warna. Bersiaplah dengan kekacauan baru yang akan menghampirimu..

TBC