~~Chapter 2~~
Another Prophecy
Saat itu di tahun 1942 ketika Perang Dunia II berlangsung, Merlin memimpikan hal yang aneh, yakni bertemu dengan kawan lamanya, Sang Naga.
Ia berada di sebuah tanah lapang berumput, tempat mereka selalu bertemu ribuan tahun yang lalu. Dalam kegelapan malam, ia menemukan sepasang mata kuning menyala menatapnya dan berdirilah… Kilgharrah. Sang Naga. " Young warlock… akhirnya kau bangun."
" Hai, sobat lama. Lama tak bertemu…" Balas Merlin sembari berdiri dari tempat ia berbaring.
" Maaf Merlin… Kita tidak bisa berlama-lama. Ada hal yang pelu kuberitahukan padamu. Kumohon padamu untuk mendengarkan dengan seksama, Merlin…" Jelas Kilgharrah sungguh-sungguh.
" Baiklah, apa yang ingin kauberitahukan?" Tanya Merlin penasaran.
" Ada sebuah ramalan tentang hari kebangkitan Arthur. Aku tahu kau sangat merindukannya anak muda."
Tanpa Merlin sadari, ia telah menetaskan air matanya. Naga itu benar. Penyihir muda itu sangat merindukan sahabatnya.
" Ramalan itu berbunyi:
' Tahun '97 peperangan bermula
antara sihir hitam dengan sihir suci.
Dengan Emrys, benteng perlindungan Hogwarts,
Pangeran Kegelapan pun menanti,
Beserta High Priestess dan Bocah Druid di sisinya.
Di sanalah bocah Potter Sang Terpilih,
Melenyapkan Tom Riddle selamanya…
Di peperangan itulah…
Sang Raja Albion bangkit kembali…'
Itulah ramalannya, anak muda. Baiklah, aku pikir itu sudah cukup. Aku harus pergi, Merlin. Kuharap kita dapat bertemu lagi suatu hari nanti."
Sekejap semuanya menjadi gelap gulita. Tak lama kemudian, Merlin pun bangun.
Jutaan pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Sang Naga. Peperangan apa yang akan terjadi? Siapakah Pangeran Kegelapan dan bocah Potter dan apa itu Hogwarts? Banyak hal-hal yang tidak ia ketahui. Kecuali untuk High Priestess dan Bocah Druid. Merlin pun mulai siap siaga untuk kembali menghadapi Morgana Pendragon dan sekutunya, Mordred.
Tetapi yang terpenting dari semua itu bagi Merlin, adalah… kembalinya sang sahabat.
Merlin tak menyadari bahwa tahun inilah yang ia tunggu-tunggu. Tak lama lagi, Arthur. Katanya dalam hati.
XxxxxX
Danau Avalon masih sama. Tak ada perubahan sekalipun kecuali adanya gubuk kecil berdiri tidak jauh dari danau dan berkurangnya kabut yang menyelubungi danau luas itu.
Sejauh mata memandang, penyihir muda itu tak merasakan apapun selain kekosongan, kesunyian dan rasa kesepian. Namun, setelah mengingat ramalan itu kini ia merasakan ketidaksabaran. Ia ingin Arthur kembali… Tiba-tiba, entah dari mana terdengar seruan yang menyebutkan namanya. Suara itu terdengar familiar baginya dan yang paling dinantikannya selama ribuan tahun lamanya. Suara Sang Raja Albion. Suara sahabatnya. Arthur Pendragon…
" MERLIN! Kaukah itu?!"
^3^TBC^3^
