~~ Chapter 3 ~~

Rise Again

" MERLIN! Kaukah itu?!"

Teriakan Arthur menggema dari Danau Avalon. Awalnya Merlin tidak memercayai telinganya. Ah… mungkin aku terlalu merindukan Arthur sampai-sampai berkhayal dia memanggilku, batin Merlin. Namun, Merlin tak dapat memungkirinya lagi setelah mendengar teriakan kedua dari kejauhan.

" Merlin! Jangan berani-beraninya kau meninggalkanku di sini!"

Secepat mungkin Merlin berlari ke tepi danau untuk melihat lebih jelas lagi. Lalu ia melihat Arthur yang masih menggunakan baju zirah dan jubbah merahnya berdiri di atas perahu kecil. Kemudian penyihir berambut gelap menyihir perahu kecil tersebut agar menuju ke tepi danau. Gerakan mendadak dari perahu itu mengejutkan Arthur yang membuatnya cepat-cepat duduk. Setelah perahu telah sampai di tepi danau, Arthur langsung menginjakkan kakinya di daratan berumput menuju ke sahabat karibnya. Belum selangkah dari posisinya, Sang Raja Camelot mendapatkan pelukan yang erat dari penyihir berambut gelap. Arthur hendak protes atas kelakuan sahabatnya yang begitu spontan. Lalu ia mendengar Merlin terisak pelan di pundaknya. Arthur tidak mengerti apa yang membuat Merlin menangis di pundaknya.

" Arthur, aku merindukanmu…"

Ucapan Merlin makin membuat Arthur menyatukan kedua alisnya. Arthur hampir saja mengejeknya seperti gadis cengeng, tetapi setelah melihat sahabatnya yang terlihat bersungguh-sungguh Arthur tidak sampai hati untuk mengucapnya. Belum pernah sekalipun Arthur melihat sahabatnya begitu… hancur di depannya. Perlahan lelaki berambut pirang itu membelai rambutnya yang lembut dan jemari lainnya mengusap punggungnya yang bergetar. Mereka bertahan seperti itu sampai mereka memasuki gubuk Merlin beberapa menit kemudian.

XxxxxX

" Sudah merasa lebih tenang?"

" Lebih baik dari sebelumnya. Thank you, sire!"

" 'Arthur' saja lebih baik, Merlin. Berhubungan kita tidak di depan publik kecuali kita berdua."

" Baiklah… uh… clotpole?!"

" Itu malah lebih baik. Kalau kau ingin digantung."

" Coba saja kalau bisa."

Mereka berdua tertawa lepas akan pembicaraan mereka yang khas. Kini mereka di gubuk Merlin yang hangat nan sederhana. Arthur duduk di kursi goyang dari anyaman bambu tepat di depan Merlin yang sedang duduk di tempat tidurnya.

" Jadi kau yang mendirikan gubuk ini?" Tanya Arthur memandangi sekeliling tempat tinggal Merlin.

"Ya, dengan sihirku. Sudah berkali-kali kudaur ulang selama bertahun-tahun agar mengurangi rasa jenuh." Jawab Merlin asal.

Jawaban Merlin membuatnya terdiam beberapa detik. Arthur telah melupakan permasalahan utama yang bergerumul di pikirannya sejak Merlin memeluknya.

" Merlin… berapa lama aku berbaring di perahu itu?"

Pertanyaan tersebut seperti petir yang merambat di seluruh nadi Merlin. Ia tak ingin menceritakan semuanya saat ini juga. Ia belum siap. Arthur baru saja bangkit dari kematian sementara semua orang yang dicintai Arthur selain Merlin telah lama pergi.

" Arthur, maafkan aku. Aku tidak bisa menceritakannya sekarang." Arthur langsung mengerutkan kening dan mengerucutkan bibirnya.

" Merlin, aku masih rajamu. Apa ingatanmu sesempit itu?"

" Arthur, kau baru saja bangun dari kematian. Kau pasti lelah. Dan kau perlu tidur."

"Hmmh, well, kau benar juga. Aku lelah sekali." Jawab Arthur seraya menguap panjang.

Kemudian, Arthur pun segera segera tenggelam dalam lautan mimpinya.

"Yeah, kau memang perlu itu." Kata Merlin pada dirinya sendiri.

Lalu giliran Merlin yang berbaring di tempat tidurnya di sebelah Arthur. Tanpa ia sadari, Arthur masih mengenakan baju zirahnya. Secepat mungkin ia melepaskan semua lapisan baju perang sahabatnya degan susah payah berhubung telah ribuan tahun ia telah lupa cara nya melepaskan baju zirah. Setelah menyingkirkan baju zirahnya hingga Arthur kini hanya bertelanjang dad, Merlin terkesima melihat kini tidak ada lagi luka menganga di bagian kanan atas dadanya, bekas luka tikaman dari pedang magis Mordred di perang Camlann. Seakan luka itu tak pernah ada sebelumnya. Apakah para Sidhe yang menyembuhkannya?

Kemudian, Merlin menyelimutinya dengan jaket coklatnya. Tak segan ia membelai rambut pirang sahabatnya dengan lembut yang mengingatkannya akan ibunya, Hunith, yang pernah melakukan hal yang sama di kala Sang Penyihir masih di gendongan ibunya. Kini semua telah pergi. Satu-satunya yang dimilikinya saat ini adalah Sang Raja Camelot yang sedang tidur di depannya.

Selesai membelai, Merlin membaringkan kepalanya menghadap wajah Arthur yang polos tak berdosa.

" Selamat tidur...clotpole..." Bisiknya lembut.

Akhirnya Merlin bergabung dengan Arthur menyelami alam mimpi mereka masing-masing.

Setidaknya saat ini...

Merlin tidak lagi sendirian...

XxxxxX

Gelap…

Sunyi…

Aura mistis dapat tercium dengan jelas di hutan ini…

Hutan terlarang…

Pohon-pohon bagaikan monster tak bernyawa di malam hari. Suara yang terdengar hanyalah suara hoo-hoo-an burung hantu dan suara langkah kaki yang bergesekan dengan dedaunan yang tergeletak di tanah. Kemudian, suara desisan ular pun ikut serta memenuhi keheningan hutan. Sosok berjubah hijau gelap dan berkepala botak berjalan mendekati semacam kuburan di bawah pohon besar. Sosok berwajah mirip ular yang pucat tersebut melihat sebilah pedang yang menancap di tanah dekat kuburan kecil itu. Lord Voldemort memancarkan seringai liciknya setelah melihat pedang yang salah satu kepingannya hilang.

Akhirnya telah kutemukan, ucapnya dalam hati.

Setelah tongkat Elder berada di genggamannya demi menjadi tak terkalahkan, Pangeran Kegelapan akan segera melaksanakan rencana keduanya. Membangkitkan kembali kedua orang penting di zaman pemerintahan Raja Albion yang telah tewas berabad-abad lalu. Si Penyihir Wanita, Morgana Pendragon dan ksatria Druidnya, Sir Mordred.

Voldemort telah mendengar banyak hal tentang Morgana. Kekuatan sihir High Priestess tersebut hampir menyandingi sihir Merlin, Sang Penyihir Legendaris dan terkuat di zamannya. Jika Morgana bersekutu dengannya, ia akan menjadi sekutu terkuatnya. Dengan begitu Harry Potter akan terbinasakan dengan mudah.

Tangan pucatnya mulai menyentuh pangkal pedang dan langsung merasakan kekuatan magisnya. Itu adalah pedang Mordred yang tertempa nafas naga. Sekali tikaman dari pedang itu, nyawa seseorang hilang dalam sekejap. Tetapi yang pasti ini bukan pedang Excalibur.

Konon, jika pedang ini dicabut dari tanah, Morgana dan Mordred akan terbangkitkan dari kematian. Dan, itulah yang akan dilakukan Lord Voldemort saat ini juga.

Tom Riddle merapalkan suatu matra yang asing: mantra Old Religion. Mantra yang tidak lagi digunakan di zaman modern ini. Setelah selesai, pedang tersebut dicabutnya dari tanah seraya berteriak dengan sekuat tenaga. Kemudian muncullah sinar yang menyilaukan mata di sekeliling tempat itu. Voldemort terkejut hingga membuatnya tersungkur ke tanah. Secara perlahan, sinar itu lenyap dan digantikan oleh kegelapan yang pekat.

Lalu ia memandang kembali pedang Mordred, tercengang. Pedang itu kembali utuh dan tidak ada sekeping yang tertinggal. Mengalihkan perhatiannya dari pedang itu, pria itu memandang kea rah kuburan yang terdapat dua sosok yang berdiri di atasnya. Seorang wanita berwajah rupawan tapi kelam berambut hitam legam acak-acakan mengenakan gaun biru tua. Gaun itu bahkan sudah ketinggalan zaman. Di sampingnya, berdiri seorang pemuda yang sepasang mata dan rambutnya identik dengan milik wanita tersebut. Dia mengenakan baju zirah hutam. Akhirnya Woldemort berhasil membangkitkan mereka berdua.

Secepat mungkin Voldemort bangkit dari tempatnya mendekati kedua orang tersebut. Begitu ia berhadapan dengan Morgana, ia membungkukkan badannya dengan tetap menatap penyihir wanita itu.

"Milady…" Ucapnya pelan namun nada suaranya dingin.

Lady Morgana memperlihatkan seringai liciknya.

XxxxxX

Sementara di gubuk Merlin…

Di tidurnya, Merlin merasakan sesuatu bagaikan gelombang kejut membangunkannya. Telah berabad-abad lamanya ia tak merasakan kekuatan sihir sedahsyat apapun yang membangunkannya dari tidurnya. Tetapi pertanyaannya adalah apa sebenarnya yang membangunkannya tadi?

Atau jangan-jangan…

"Merlin… ada apa?"

Tanpa ia sadari ia juga tidak sengaja membangunkan Arthur yang sekarang memandangnya keheranan tetapi masih mengantuk. Mata kantuk Arthur melebar melihat sahabatnya yang terlihat ketakutan dan wajahnya yang pucat berkeringat. Merlin tidak menatapnya sama sekali.

"Ya Tuhan, Merlin ada apa denganmu?

Secepat kilat Arthur mengambil segelas air di menja sebelah kanan tempat tidur menyerahkannya ke Merlin. " Merlin, tolong minumlah!" Merlin masih tidak mengacuhkannya. Baiklah kalau begitu. Hanya ini satu-satunya cara, pikir Arthur. Ia meletakkan kembali segelas air di meja lalu mendekap Merlin dengan kedua lengan berototnya. Ia merasakan Merlin gemetar hebat di pelukannya.

"Shh…shh…Merlin… It's alright… kau mimpi buruk, Merlin… Tadi itu hanya mimpi buruk…" Ia mengelus punggung Merlin naik turun, mencoba untuk menenangkannya.

Selang beberapa menit, Merlin tidak lagi gemetar di pelukan Arthur. Lalu Merlin menarik dirinya tetapi tatapannya mengarah ke bantalnya yang ternyata bersinar. Merlin menyelipkan tangannya ke bawah bantal dan mengeluarkannya. Terdapat kalung yang bersimbol Old Religion di genggamannya. Ternyata pancaran sinar hijau itu berasal dari kalung itu.

"Apa maksud dari semua ini, Merlin?"

Hening sesaat sebelum Merlin berkata,

"Arthur suka atau tidak kau harus tahu ini. Saudari tirimu, Morgana… dan Mordred… mereka…"

Jantung Arthur berdegup kencang menunggu Merlin melanjutkan kalimatnya. Mata Merlin menatap lekat mata Arthur.