~ Chapter 4 ~
Aithusa and the Trio
Di lain tempat jauh dari gubuk Merlin, terjadi suatu perampokan di sebuah bank penyihir 'Gringotts' yang dikelola oleh para Goblin. Namun misi perampokan itu melibatkan tiga penyihir muda asal Hogwarts; Harry Potter, "bocah yang bertahan hidup", dan kedua sahabat karibnya, Ron Weasley dan Hermione Granger. Ketiga penyihir remaja tersebut ternyata sedang mencari Horcrux-Horcrux Lord Voldemort dan untuk saat ini Horcrux kedua telah berhasil mereka dapatkan, yaitu Piala Hufflepuff yang diambil dari lemari besi Bellatrix Lestrange.
Kini "trio emas" tersebut tengah menunggangi seekor naga putih yang telah lama dirantai jauh di bawah tanah untuk melarikan diri. Di atas punggung naga yang terbang dengan kencang, tiupan angina menampar wajah ketiganya. Dengan angin sekencang itu tidak memberikan peluang besar untuk melihat jelas apa ada yang di depan mereka.
Tak berapa lama kemudian, samar-samar mereka melihat danau luas dengan sebuah pulau kecil di tengahnya. Mungkin ini saat yang tepat untuk mendarat, pikir Harry.
"Haruskah kita melompat?" Seru Ron.
"Kapan?" Tanya Hermione.
"Sekarang!" Perintah Harry.
Walau terlonjak terhadap perintah Harry yang spontan, tetapi mereka tetap melompat dari naga itu dan jatuh ke kedalaman Danau Avalon yang airnya begitu jernih dan sejuk.
Lalu, gambaran-gambaran berkelebat dalam pikiran Harry. Gambaran yang amat mengerikan. Mayat-mayat manusia yang bersimbah darah berserakan di lantai suatu ruangan gelap penuh aura kematian. Kemudian, terlihatlah Voldemort melewati mayat-mayat itu dengan tongkat Elder di genggamannya. Sementara, ularnya nagini yang selalu setia di dekatnya berada di belakangnya. Harry melihat Voldemort sedang mendekati seorang wanita bermata biru cerah beraut muka kelam dan berambut acak-acakan seperti Bellastrix Lestrange, tetapi wanita ini jauh lebih muda dibanding Bellatrix. Entah mengapa wajah itu terasa tidak asing bagi Harry.
"Mengapa lama sekali, my lord? Bukannya kita harus mencari keberadaan Emrys dan bocah Potter ini?" Tanya wanita itu dingin.
"Maaf, my Lady Morgana. Aku sedang mengumpulkan kekuatanku karena akhir-akhir ini tenagaku semakin berkurang." Ucap Voldemort yang sengaja melembut untuk meredakan ketidaksabaran Morgana. Namun usaha itu sia-sia.
"Mordred sudah menunggu terlalu lama untuk ini. Kita harus segera menemukan Emrys. SEKARANG!" Teriak Morgana.
Lalu sekelebat gambaran seorang wanita cantik mengenakan gaun abu-abu kehijauan. Raut mukanya terlihat sedih dan murung. Seketika muncul gambaran burung gagak hitam.
Kemudian gambaran itu menghilang meninggalkan pertanyaan yang kini memenuhi Harry.
Dua gambaran terakhir kemungkinan, bagi Harry, adalah petunjuk Horcrux Voldemort yang selanjutnya harus mereka temukan. Seorang wanita bergaun abu-abu kehijauan yang terlihat familiar dan burung gagak hitam.
Tiba-tiba, Harry teringat sesuatu. Burung gagak itu adalah sebuah symbol. Simbol asrama Ravenclaw. Tidak salah lagi, wanita itu adalah Grey Lady dan bernama asli Helena Ravenclaw, putri Rowena Ravenclaw.
Tanpa disadarinya dia telah beranjak dari kesejukan Danau Avalon dan memijak daratan begitu pula dengan kedua sahabatnya. Ketiganya basah kurup dan menggigil kedinginan.
"Teman-teman, ki…kita tidak bi…sa melanjutkan p-perjalanan dengan k…kondisi s…seperti i…ini. Brrr…" Ucap Harry terbata-bata tak dapat menahan kedinginan yang telah menjalar ke sekujur tubuhnya sembari membekap dirinya.
"Hei… ! Lihat di sana! Ada gubuk! Hachiing…" Seru Ron sebelum bersin menudingkan telunjuknya ke arah pepohonan di mana gubuk itu berdiri.
" Kita bisa beristirahat di sana untuk… br… sementara waktu." Kata Hermione yang segera melangkahkan kakinya yang gemetaran kea rah gubuk ingin segera menghangatkan diri. Harry dan Ron pun ikut serta. Belum sepuluh langkah dari gubuk mereka bertiga melihat sepasang pria yang keluar dari gubuk. Yang satu berambut pirang dan yang satunya lagi berambut hitam legam. Sepasang mata kedua orang itu sama-sama sebiru langit.
Apakah mereka penghuni gubuk itu? Tanya Harry dalam hati.
"Siapa kalian? Apa kalian baik-baik saja?" Seru pria berambut gelap itu pada mereka.
XxxxxX
" Mereka dibangkitkan kembali…"
Arthur diam seribu bahasa mendengar kalimat terakhir sahabatnya. "Apa maksudmu mereka dibangkitkan kembali? Siapa yang melakukannya?" Tanya Arthur pelan.
"Aku tidak tahu. Siapapun itu, dia tidak berniat baik." Jelas Merlin tidak kunjung melepas pandangannya dari Arthur.
Masih menyadari ada banyak yang belum Merlin jelaskan padanya, membuat Arthur semakin muak. Dia telah menganggapku sebagai sahabat bahkan saudara, pikirnya. Tetapi, mengapa Merlin masih tidak memercayaiku?
"Cukup, Merlin! Aku sudah tidak tahan terhadap ketidakpercayaanmu padaku. Aku sahabatmu, Merlin! Kau dengar itu? SA-HA-BAT! Dengar? Pernah dulu kau bilang kau selalu yakin padaku. Mengapa tidak sekarang?!"
Akhirnya Arthur tak kuasa memendamnya lagi. Ia menumpahkan gejolak emosi tanpa menyadari sahabatnya yang tak kunjung berhenti gemetar. Wajah pucat dan mata biru langitnya memerah juga terdapat air mata bergerumul di pelupuknya. Setetes air mata sebening Kristal menuruni tulang pipi Merlin yang tajam. Lalu Merlin menunduk tidak berani memandang Arthur yang memandangnya tajam.
"Arthur, aku…"
"Ceritakan semuanya dan tatap aku, Merlin!" Potong Arthur dingin.
"Tidak akan, sampai kau berhenti menatapku seakan aku mangsamu." Balas Merlin setengah membentak Arthur dengan menahan isak tangis yang terus memberontak keluar. Baru disadarinya bahwa menunggu Arthur kembali selama ribuan tahun bisa membuatnya selemah ini. Tak pernah ia merasa selemah ini, bahkan menangis di hadapan Sang Raja Camelot ketika ia bersikap dingin kepada Merlin.
But, hey! Ini tentang hubungan mereka. Persahabatan mereka yang dahulu kala terjalin sangat erat kini perlahan hancur hanya karena masalah "kepercayaan". Tentu Merlin tidak ingin semua yang dimilikinya dengan Arthur lenyap bersama hantu-hantu ketidakpercayaan. Hanya Arthur yang dimilikinya seakan pria berambut pirang keemasan tersebut satu-satunya cahaya dalam dunia yang gelap gulita sebagai tempat berpegang Merlin.
Melihat ekspresi Merlin yang penuh kesedihan dan wajahnya yang mulai bersimbah air mata meluluhkan hati Arthur. Arthur tak pernah bermaksud menyakiti hati sahabatnya, satu-satunya sahabatnya.
Lalu dengan lembut diusapnya air mata Merlin yang terus menghujani wajah menawan Sang Penyihir. "Maafkan aku, Merlin. Aku terlalu keras padamu." Bisiknya menenangkan. "Kumohon, Merlin. Please… Ceritakan semuanya padaku, okay?
"Aku janji aku tidak akan memarahimu lagi, jika kau menghentikan tangisanmu, okay Merlin?"
Tak terpikirkan oleh Merlin bahwa Arthur tiba-tiba menjadi selembut ini padanya. Pandangan matanya kini lebih tulus dari biasanya. Sejenak ia menggigit bibirnya ragu untuk menjelaskan semuanya. Kemudian ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Yeah, it's now or never, pikir Merlin.
Dengan perlahan ia menceritakan segalanya kepada Arthur. Mengenai Camelot, Guinevere dan ramalan Sang Naga tentang hari kebangkitan Arthur dan peperangan sihir besar yang masih perlu dipertanyakan.
"Pasti sulit bagimu untuk menerima semua ini. Tetapi, aku janji aku akan selalu berada di sisimu." Dengan begitu Merlin mengakhiri ceritanya saat ia melihat wajah Arthur yang tidak bereskspresi.
"1428 tahun, Merlin? Selama itu kau menungguku bangkit dari kematian, sampai sekarang?"
"Well, aku tidak bisa meninggalkanmu di sini sendiri tanpa seseorang yang memedulikanmu, kan?"
"Tak heran kau begitu emosional. Kau sangat merindukan Rajamu sebesar itu. Sebegitu besarkah kau mencintaiku, Merlin?" Goda Arthur dengan pandangan penuh rayunya yang dibuat-buat.
"Tidak untuk sepersekian detiknya. Memang kenApa? Kau mau aku menciummu? Tidak terimakasih." Jawabnya dengan sarkastis. Rayuan gombal Arthur kini sudah kelewatan.
Beberapa saat mereka terdiam hingga tanpa sengaja mereka memandang mata satu sama lain yang warnanya identiK. Tersadar akan apa yang Raja Camelot dan Sang Penyihir lakukan dan merasa janggal, akhirnya mereka memecah kesunyian dengan tertawa terbahak-bahak hingga hanya suara gelak tawa yang memenuhi gubuk itu.
Selepas tertawa mereka berhenti, tanpa aba-aba Arthur menarik sahabatnya ke dalam pelukannya. Merlin yang terkejut tak mampu berkata apa- apa. Akhirnya ia hanya dapat tenggelam dalam pelukan hangat bersahabat ini dan membenamkan wajahnya di pundak Arthur mendesah ringan. Ia merasa diterima kembali oleh Arthur. Kali ini bukan tentang sihirnya.
Arthur menerimanya kembali sebagai sahabatnya.
"Terimakasih, Merlin…"
"Untuk apa?"
"Untuk telah memberitahuku semuanya."
Merlin tak dapat membalas kalimat selain mengguman lembut. "Hmmmh…"
"Jangan jauh-jauh dariku, idiot."
"Begitu juga denganmu."
"Merlin?"
"Hmmm?"
"Harus sampai kapan kita begini terus?"
Merlin sadar dia masih terjerat di bawah naungan lengan-lengan Arthur yang kuat. Arthur tertawa ringan.
"Kau ini sangat suka dipeluk ya ternyata?"
"For God's sake Arthur! aku sudah ribuan tahun ini tidak pernah merasa yang namanya dipeluk."
"Bahkan oleh seorang wanita sekalipun?" Arthur bertanya dengan nada tak menyangka.
Merlin hanya menggeleng di pundak Arthur.
"Hei, mungkin kau bisa juga menjadi pengganti Guinevere." Saran Arthur.
"Arthur, aku ini laki-laki tahu. Kau lupa itu." Merlin menonjok ringan punggung Arthur merasa tersinggung dirinya dianggap perempuan.
"Bukan begitu maksudku. Ayolah mengapa kau harus secanggung itu? Memeluk adik kecilku saja masa tidak boleh? Lagipula, aku selalu menginginkan seorang adik laki-laki, tetapi ibuku saja sudah meninggalkanku setelah aku lahir." Arthur menjelaskan keinginannya yang sudah lama terpendam di hatinya.
"Aku selalu merasa kesepian. Namun, sejak kau mulai bekerja sebagai pelayan pribadiku… aku tidak pernah merasa sendiri." Ia mengelus-elus punggung Merlin naik turun dengan lembut.
"Tetapi bagaimana dengan Gwen?"
"Guinevere itu istriku, Merlin. Dia bukan adikku."
"Yeah, aku tahu itu…" Merlin hanya bisa tersenyum menanggapinya.
"Merlin?"
"Arthur?"
"Maukah kau menjadi adik kecilku?"
.
Hening.
.
.
"Tentu saja aku mau. I always wanted a big brother to protect me, anyway."
Sebelum Arthur sempat ingin berterimakasih pada Merlin, entah darimana tiba-tiba terdengar suara seekor naga yang akan segera melintasi gubuknya.
Suara itu…
Tidak salah lagi…
Merlin melepaskan dirinya dari pelukan Arthur dan berlari ke arah jendela. Disaksikannya seekor naga putih melintasi Avalon dan menjatuhkan ketiga penumpangnya.
"Aithusa, kau masih hidup…" Bisiknya dengan uap nafasnya mengembun di kaca jendelanya.
^3^ TBC ^3^
A/N: Hey everyone I'm back! Masih ada yang baca nggak ya? Mohon maaf sebanyak-banyaknya ya udah nunggu sampai sekian abad #alay. Author baru masuk SMA tugas mulai bejibun tak tertahankan. Tapi saya usahakan untuk menyelesaikan fanfic ini. Jangan lupa reviewnya, ya. Thanks for reading ^_^
