Art of Love
.
.
.
Presents by
Hiname Titania
Disclaimer
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warnings
SasuHina, fluffy, AU, OOC, typo(s) and etc.
Don't Like Don't Read.
Bagi yang sudah pernah membaca fanfic ini, sebaiknya membaca chapter sebelumnya dulu karena chapter-chapter sebelumnya sudah pernah saya edit.
.
Chapter Three: No Thank You
Mata amethyst itu menatap tajam pintu di hadapannya. Salah satu tangannya mengepal seolah-olah dia hendak memukul-mukul pintu bernomber 1227 itu. Namun kepalan tangan itu hanya memukul mukul udara tak sampai mengenai pintu tempat seorang Uchiha Sasuke menginap di Kota Paris. Setelah puas dengan tingkah kekanak-kanakannya, gadis berambut hitam kobalt itu pun melangkahkan kakinya menjauhi pintu yang sempat ia maki-maki tadi. Hentakan demi hentakan kaki terus melangkah melewati koridor-koridor hotel yang sepi dan sunyi. Ia hanya sempat berpapasan dengan dua orang asing, satu dengan orang berpakaian office boy dan satu lagi seorang wanita berambut pirang mengenakan baju bermotif bunga-bunga yang ia tebak seorang tamu hotel, seperti dirinya.
Langkahnya terhenti di sebuah pintu hotel bernomber 2307. Sebuah kartu dikeluarkannya dari dompet Victoria Secret-nya. Segera digesekkannya kartu tersebut di sebuah celah kecil di dekat pintu. Setelah bunyi kecil terdengar, gadis berkulit putih alami itu memutar knop pintu dan segera masuk ke dalam. Menghembuskan napas beratnya menjadi hal pertama yang dilakukan olehnya ketika ia sudah berada di dalam kamar hotel. Ia lepas mantel bewarna soft-pink yang semenjak tadi dikenakannya, lalu digantungkannya mantel tersebut di sebuah hanger yang tertempel di dekat tempatnya berdiri. Handuk kecil bewarna putih ia bawa dari almari. Setelah itu ia langsung memasuki kamar mandinya. Selang beberapa menit ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan juga handuk yang melingkar ditubuhnya.
Suara bel berbunyi cukup nyaring membuatnya cukup terkejut. Dengan langkah terburu-buru ia segera menghampiri pintu tersebut. Matanya awas mengintip lewat celah kecil di balik pintu hotelnya. Seorang gadis muda berambut coklat gelap dengan gaya sanggul sedang berdiri di depan pintunya, dia adalah Ayame. Wajahnya yang sudah dibalut make-up tak bisa menyembunyikan raut kekhawatiran bercampur panik di wajah orientalnya itu. Di tekannya salah satu tombol di sisi pintu membiarkan PA-nya itu memasuki kamar hotelnya.
"Hinata-sama!" serunya ketika ia sudah masuk. Wajah paniknya seolah-olah dia baru saja dikejar-kejar zombie. "Anda baik-baik saja?"
Hinata menganggukkan kepalanya.
"Yokatta, saya benar-benar minta maaf Hinata-sama. Seharusnya tadi malam saya tidak mematikan handphone saya. Uchiha-sama memberitahu saya bahwa anda pingsan dan—"
Kedua mata amethyist-nya membesar. "S-Sasuke memberitahumu?"
"Iya. Beliau menceritakkan semuanya ketika tadi pagi saya menghubungi ponsel anda, tetapi Uchiha-sama yang mengangkatnya karena saat itu anda sedang tidur. Sekali lagi maafkan saya Hinata-sama. Saya benar-benar menyesal dan saya berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Mohon maafkan saya."
"Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. Aku yang seharusnya tidak keluyuran tadi malam. Maaf sudah membuatmu khawatir Ayame-san."
Ayame menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, Hinata-sama ini semua tidak akan terjadi seandainya saya tidak mematikan ponsel saya tadi malam."
Hinata hanya menepuk-nepuk pelan pundak Ayame. "Kau tidak salah, tapi sebaiknya mulai dari sekarang kau tidak mematikan ponselmu lagi. Mungkin saja sewaktu-waktu aku akan bertindak bodoh lagi, tapi tentu saja aku berharap hal seperti kemarin tidak akan pernah terjadi lagi."
"Baik, Hinata-sama!" tiba-tiba wajah Ayame yang sudah panik semakin panik ketika ia menyadari sebuah berita yang harus disampaikannya pada Bosnya itu. Dengan keberanian yang sudah dikumpulkannya dan setelah menelan air ludahnya ia pun menyampaikan sebuah pesan yang mungkin akan membuatnya dipecat dari pekerjaan yang dicintainya ini. "Hinata-sama… a-ada kabar buruk."
Bosnya itu terdiam sejenak, kemudian kepalanya mengangguk menyuruhnya untuk segera melanjutkan perkataannya tesebut.
"Tuan Serrief membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan kita. D-Dia marah besar ketika anda ti-tidak hadir ke acara jamuannya tadi pagi, meskipun saya sudah menjelaskan apa yang menyebabkan anda tidak bisa hadir, t-tapi beliau tidak mau menerimanya. S-Saya mohon maaf karena saya tidak berhasil meyakinkannya. Maafkan saya, karena tidak bisa mempertahankan kontrak kerja tersebut." Air mata sudah berjatuhan di kedua pipi Ayame. "M-Maafkan saya."
Kesunyian menyelimuti dua gadis muda tersebut. Isakan tangis Ayame sudah berhenti. Hinata termenung di dalam balutan handuk tipisnya. Air Conditioner di kamar hotelnya seakan-akan ingin membuat tulang rusuknya membeku. Wajah Hinata memucat semenjak ia mendengar kabar buruk tersebut. Ayame hanya bisa memandang ujung sepatu kerjanya.
"Ayame-san."
"Ya, Hinata-sama?" jawabnya hati-hati.
"Sekali lagi ini bukan kesalahanmu. Sekarang kau bisa kembali beristirahat ke kamarmu."
"Tapi, Hinata-sama—"
"Ayame-san."
Setelah mendengar nada suara Hinata yang seperti itu, Ayame tahu tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain mengikuti perintah Bosnya tersebut.
…
Langit-langit kamar hotelnya yang putih, dinding-dinding yang bewarna senada. Kadang Hinata bertanya-tanya mengapa putih selalu mendominasi ruangan yang selalu ditempatinya. Rumah atau lebih pantas dikatakan mansion-nya di Jepang pun didominasi oleh warna putih. Bukan hanya rumahnya tetapi kebanyakan rumah sakit yang pernah dikunjunginya pun bewarna yang sering dikaitkan dengan kesucian itu. Baginya putih itu menakutkan. Dia sering membayangkan jika ia terkurung di sebuah ruangan yang serba putih tak ada warna lain selain warna tersebut rasanya akan sangat menakutkan dan juga hampa. Singgungan kecil terbentuk dari kedua sudut bibirnya. Ia yang takut dengan warna putih, tapi anehnya selalu dikelilingi oleh warna tersebut. Kalau begitu benarkah dia takut dengan warna putih?
Hembusan napas lelah kembali terdengar, tak terhitung sudah berapa kali ia melakukan hal tersebut. Setelah mengunjungi acara charity di Panti Asuhan Annabella, ia langsung kembali ke kamar hotelnya , dan tertidur. Baru saja ia terbangun dari tidur tak nyamannya. Tempat tidur empuk ukuran king-size yang sedang ditidurinya itu tampak siap menyedotnya ke dasar bumi. Baju Over-all bewarna toska yang dipakainya semakin kusut dengan gerakan-gerakan yang dilakukannya. Hembusan napasnya kembali terdengar. Pikirannya kembali melayang ke empat jam yang lalu saat ayahnya menelpon. Ayahnya sudah mengetahui berita tentang Tuan Serrief yang telah membatalkan kontrak kerja samanya dengan perusahaan Hyuuga. Amarah dan makian telah diterima olehnya. Hinata sama sekali tidak terkejut dengan hal itu. Ia pantas, sangat pantas mendapatkan semua amarah dan cacian dari ayahnya itu. Ia sangat bodoh, sangat ceroboh, sangat teledor, dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Keteledorannya ini mengakibatkan efek yang sangat fatal. Hyuuga Corp sudah bersusah payah membujuk dan meyakinkan Tuan Sherrief agar bersedia bekerja sama dengan perusahaannya. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menaklukan hati investor paling menguntungkan itu agar mau berkerja sama. Namun, semuanya sia-sia akibat dia yang dengan bodohnya keluyuran malam-malam, lalu terjebak di dalam lift dan akhirnya pingsan. Tidak hanya itu, dia juga menyusahkan seorang laki-laki, membuat asistennya khawatir, dan untuk menyempurnakannya lupa dengan acara jamuan yang sangat penting itu dengan berakhir dibatalkannya kerjasama antara Tuan Serrief dengan Hyuuga Corp. Sempurna.
Andai saja dia bisa kembali ke masa lalu.
Hinata bangkit dari posisi tidurnya. Kakinya melangkah menuju meja rias. Duduk di depan cermin lalu ia mulai memoleskan make-up tipis dengan warna-warna natural pada wajah mulusnya. Selesai dengan make-up, ia pun menyemprotkan perfume aroma jasmine tea ke tubuhnya. Tangannya mengambil tas jinjingnya dari dalam laci meja rias. Lalu memasukkan dompet, note kecil dan pulpen, parfum dan peralatan touch up-nya, dan terakhir ponsel pintarnya. Setelah itu, dia bangkit berdiri mengenakan blazer maroon-nya dan pergi keluar. Ia membutuhkan udara segar untuk menenangkan pikirannya.
Tak butuh waktu lama sampai ia berada di lobby hotel. Berbicara sebentar dengan resepsionis hotel, ia pun pergi meninggalkan hotel menggunakan taxi yang sudah di pesannya. Tidak ada tempat khusus yang dimintanya, ia hanya meminta sopir untuk berkeliling dan jika nanti ia menemukan tempat yang dirasanya cocok untuk menenangkan diri maka ia akan meminta sopiruntuk menghentikan mobilnya tersebut.
Mata sayunya terlihat semakin sayu ketika ia menatap keluar kaca mobil. Menatap satu titik di luar sana yang memaparkan dengan jelas bahwa penglihatannya itu tidak sedang menikmati pemandangan cantik yang tersaji di luar sana. Pikirannya terlalu terfokus pada masalah perusahaannya sehingga menutupinya dari keindahan visualisasi di balik kaca. Kembali, hembusan napas berat itu terdengar.
"Arrêter."
Mobil pun berhenti. Pada akhirnya Hinata memilih berhenti di tempat yang cukup ramai. Tidak ada alasan khusus mengapa ia berhenti di tempat seperti ini. Ia hanya sudah bosan duduk di jok mobil, mulutnya pun berkata berhenti dengan sendirinya. Matanya menatap tagihan, lalu mengambil 3 lembar uang euro dan memberikannya pada sopir berkumis dengan tubuh gempalnya itu. Ia pun keluar dari taxi.
"Mademoiselle, kembaliannya!"
Hinata tersenyum kecil pada sopir lalu menggelengkan kepalanya.
"For you," jawabnya, tak sadar ia mengatakannya dalam Bahasa Inggris bukan dalam Bahasa Perancis.
Sang sopir nampak kebingungan untuk sesaat namun kemudian ia mengangguk kecil. "Merci!"
Anggukan kecil membalas ucapan terima kasih tersebut. Hinata melangkahkan kakinya. Tiba-tiba perutnya berbunyi cukup keras, seandainya tempatnya berpijak sekarang sepi mungkin suara perutnya akan terdengar lebih nyaring. Tangannya refleks memegang perutnya, tangan kirinya ia angkat untuk melihat waktu di jam tanganya. Sudah pukul 18.00 dan langit Paris masih cerah. Ia telah melewatkan makan siangnya pantas saja perutnya itu keroncongan.
Berjalan lesu menuju café terdekat, Hinata pun masuk dan segera memesan kue muffin dan cappuccino latte, take-out. Ia tak berminat untuk menyantap makanan dan minumannya tersebut disini. Sambil berdiri menunggu pesanannya tiba, iris matanya berkeliling menikmati suasana café. Matanya berhenti pada satu titik di ujung café. Tiba-tiba jantungnya berdentum tak karuan. Pria berambut raven yang beberapa waktu lalu sarapan bersamanya, sekarang sedang duduk dengan segala karisma dan kearroganannya dengan seorang wanita cantik berambut pirang panjang. Wanita yang sudah sering dilihatnya di majalah-majalah ternama seperti Vogue dan Elle, seorang model kelas atas dan juga model utama produk-produk Uchiha Company, Yamanaka Ino. Ia sempat bertemu dengan gadis berambut pirang panjang itu karena kerja samanya dengan Uchiha Company. Ada tusukan menyakitkan yang tiba-tiba dirasakan hatinya saat melihat mereka berdua duduk bersama dan nampak serasi. Tatapan matanya terus mengacu pada pasangan tersebut. Sasuke menoleh dan mata mereka bertemu untuk beberapa detik sebelum Hinata membuang muka dan menatap apapun kecuali Sasuke.
Untunglah pesanannya sudah tiba, jadi ia tidak perlu berdiri terlalu lama dan terlihat bodoh lagi di hadapan seorang Uchiha Sasuke. Setelah membayarnya ia segera keluar dari café tersebut, tapi matanya tanpa bisa dicegah kembali menatap Sasuke yang tampak asyik mengobrol dengan wanita cantik di hadapannya itu. Rasa jengkel tiba-tiba menyelimuti hatinya dan ia tidak mengerti penyebab pastinya.
Mungkin karena aku sedang lapar, pikirnya.
…
Hinata memilih bangku taman sebagai tempat duduknya untuk menyantap kue muffin-nya tersebut. Kebetulan di dekat café tersebut ada sebuah taman yang cukup sepi di tengah-tengah hingar-bingarnya kota. Ia menyantap makanannya dalam diam, otaknya masih terus berputar memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya agar bisa mendapatkan kontrak kerja sama kembali dengan Tuan Sherrief. Sayangnya usahanya itu selalu sia-sia karena pikirannya selalu melayang kembali ke sosok pria berambut raven dan sosok wanita berambut pirang yang baru saja dilihatnya di café.
Ternyata Sasuke menyukai wanita yang seperti itu. Seksi dan juga menarik, berambut pirang, bermata biru menggoda, pria manapun pasti akan menyukai Yamanaka Ino. Sedangkan aku? Berambut hitam,berkulit pucat seperti orang yang sakit, mata menakutkan, dan…. Dan Ya Tuhan! aku sama sekali tidak peduli! Aku tidak peduli wanita seperti apa yang disukai Sasuke! Tidak Peduli!
Kedua alis Hinata mengerut merasa telah membuang-buang waktunya dengan memikirkan sosok Uchiha dan Yamanaka, ia melahap sisa-sisa kue muffin-nya dengan keras-keras. Saat itulah, ia baru menyadari ada sosok pria asing yang sedang berdiri tak jauh dari hadapannya tengah berbincang-bincang di balik telpon genggamnya. Pria asing yang ia tebak di atas kepala tiga itu memiliki tubuh tinggi dan besar, rambutnya tertutup oleh topi yang dikenakannya, tapi Hinata bisa melihat sedikit helaian-helaian rambut putih dari balik topi tersebut. Matanya ditutupi kacamata hitam, tubuhnya terbalut mantel berwarna senada dan warna kulitnya coklat gelap.
Pria asing itu berbicara dalam bahasa asing, bukan bahasa Perancis, Inggris, Mandarin, ataupun Jepang bahasa-bahasa yang sangat dimengertinya. Puas memperhatikan orang asing tersebut, Hinata mengalihkan perhatiannya ke sekolompok anak-anak yang sedang asyik bermain dengan pasir sambil menyeruputi cappuccino latte miliknya.
Seperti sebuah kilat, tangan nakal tiba-tiba mengambil tas jinjing di sampingnya. Hinata tidak sempat bereaksi untuk merebut kembali tasnya. Pencopet, yang ternyata pria asing tadi, sudah terlebih dahulu berlari.
"COPET!" teriak Hinata tak sadar bahwa ia mengucapkannya dalam bahasa Jepang sehingga tak ada orang yang meresponnya.
Ia segera berlari mengejar pencopet itu. Minumannya sudah ia buang entah dimana. Sosok pencopet itu masih bisa dilihatnya. Ia terus berlari mengejar-ngejar pencopet tersebut sambil terus berteriak "copet!copet!" yang sayangnya dalam bahasa Jepang sehingga tidak ada orang yang menolongnya. Berbelok kesana-kemari melewati jalan raya berusaha mengejar pencopet tersebut sekuat tenaga.
TREK!
Suara haknya yang patah terdengar cukup keras. Karena keseimbangan yang hilang, ia pun jatuh tersungkur ke depan dengan dagunya yang pertama kali mengenai trotoar jalanan. Hinata meringis kesakitan, jejak pencopet itu telah lenyap dari pandangannya. Ia terdiam beberapa saat dalam posisi yang sama sebelum akhirnya bangkit dengan memegang dagunya yang kesakitan.
Melihat ke sekelilingnya, rasa takut menghantamnya keras. Ia berada di sebuah kawasan yang amat sepi dan sunyi. Pengejaran solonya telah membawanya ke sebuah tempat antah berantah yang asing. Tanpa adanya handphone dan uang bagaimana ia mencari jalan pulang? Semua benda berharga tersebut berada di dalam tasnya yang dicuri. Hal itu yang menjadi salah satu alasan ia tidak menyerah mengejar pencopet tersebut meskipun dengan heels yang dikenakannya.
Emosinya yang tertumpuk dalam hati pecah dalam bentuk butiran-butiran air mata. Air matanya semakin menderas dengan rasa sakit di kakinya yang baru terasa saat ia mencoba berdiri. Dengan perasaan campur aduk ia melepas heels-nya. Kemudian berusaha bangkit berdiri untuk kedua kalinya dengan bantuan tembok di sampingnya. Seperti anak hilang dengan langkah kaki yang terpatah-patah ia pun berjalan mencari bantuan, tangannya menjinjing heels-nya yang sudah rusak.
Sebenarnya kesalahan apa yang pernah dilakukannya sehingga Kami-sama terus-menerus menghukumnya. Hinata menggigit bibir bawahnya geram dengan nasibnya yang sial. Hari ini sepertinya hari tersial yang pernah dialaminya, ia kira kemarin adalah hari tersialnya, tapi ternyata tidak, dan ia harap besok kesialan tidak kembali menyentuhnya. Kata besok membuatnya menghentikan langkahnya, pikirannya mulai berimajinasi yang tidak-tidak.
Besok? Apakah ada hari esok untukku? Bagaimana kalau tiba-tiba si pencopet itu datang kembali bersama kroni-kroninya setelah melihat kartu namaku dan memutuskan untuk mencuriku juga dan meminta uang tebusan kepada chichue! Oh tidak, chichue tidak akan menebusku, dia sedang marah besar padaku! Karena aku, perusahaan Hyuuga menjadi kehilangan investor paling menguntungkan mereka. Chichue mungkin akan lebih senang bila aku mati dan membiarkan Neji-niisan yang mengurus perusahaannya itu secara Nii-san memang lebih handal dalam berbisnis. Karena tidak mendapatkan uang yang diinginkannya, si pencopet itu nanti memutuskan untuk membunuhku secara perlahan, memutilasi tubuhku, lalu menjualnya, lalu sisa-sisa tubuhku yang tak berguna dia buang ke sungai, lalu mayatku akan ditemukan beberapa hari kemudian, lalu…
Tit!Tit!
Suara kelakson mobil yang keras mengejutkan Hinata. Ia mendongak dan menemukan sebuah mobil sport hitam metallic telah terparkir di depannya. Kaca supir yang tepat berhadapan dengannya diturunkan membuatnya bisa melihat sosok di balik kaca tersebut.
Amethyst bertemu pandang dengan onyx
"Masuk," perintah pria bermata onyx itu dengan suara baritone-nya.
Hinata diam terpaku, mata amethyst-nya membesar menatap pria tersebut. Mulutnya terbuka kemudian tertutup kembali.
"Sa… Sa… Sasuke… ?"
Sasuke memutar kedua bola matanya. "Kau mau masuk atau tidak?"
"Ayo masuk Hyuuga-san." Hinata refleks menoleh ke samping, Yamanaka Ino tengah berdiri di sampingnya dengan raut khawatir.
Hinata berdiri canggung, tak bisa melawan ketika Ino menuntunnya memasuki mobil Sasuke.
…
"B-Bagaimana bisa….." ujar Hinata tersendat saat ia sudah berada di dalam mobil Sasuke. Dia duduk di jok belakang dan Ino di samping Sasuke.
Ino tersenyum lalu membalikkan badannya ke belakang. Dengan suara riangnya ia menceritakan alasan mengapa mereka bisa tahu apa yang terjadi padanya.
"Saat itu kami baru keluar dari sebuah café, lalu Sasuke-kun melihatmu berlari-lari dengan panik dan dia pun ikut berlari. Awalnya aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba berlari…" Ino menatap Sasuke sekilas. "Aku tetap menunggunya di café, beberapa menit kemudian dia muncul kembali dan menyuruhku untuk segera masuk mobil. Di sana dia baru bercerita alasannya berlari karena dia melihatmu berlari sambil berteriak "copet!"" tutur Ino sambil memimikan ekspresi yang mungkin sama persis dengan Hinata saat berteriak copet. "Tapi sayang, traffic light berubah menjadi warna hijau saat ia hendak menyusulmu yang sudah menyebrang. Oleh karena itulah Sasuke memutuskan untuk kembali dan membawa mobilnya, bukankah Sasuke-kun keren Hyuuga-san?" ucap Ino sambil memberikan kerlipan sebelah mata padanya, lalu memandang Sasuke dengan sinar kekaguman.
Hinata terdiam masih berusaha mencerna cerita dari Ino. Rasanya ada perasaan aneh yang bergejolak sampai perutnya terasa mulas saat mendengar cerita Sasuke yang berusaha mengejar dan menolongnya. Hinata memandang Sasuke lewat kaca spion, mata onyx-nya tampak fokus menatap lurus ke depan. Tiba-tiba mata gelap itu beralih menatap kaca spion, Hinata yang ketahuan sedang memandanginya segera mengalihkan perhatiannya ke samping dengan pipinya yang memanas dan getaran-getaran yang selalu muncul saat ia berpandangan dengan Sasuke.
"Bagaimana bisa kau dicopet?" tanya Ino kemudian.
Hinata kemudian menceritakan peristiwa pencopetan itu. Ino mendengarkan cerita Hinata dengan antusias, lain halnya dengan Sasuke yang terdengar meremehkan usahanya saat mencoba mengejar pencopet tersebut, bisa dilihat dari decakan-decakan yang menjengkelkan yang keluar dari mulutnya dengan komentar, "Tidak akan ada yang mengerti apa yang kau katakan ketika kau berbicara Bahasa Jepang di sini." Hinata menatap sebal Sasuke tapi tetap melanjutkan ceritanya karena Ino sepertinya masih ingin mendengar ceritanya.
Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan antara dia dan Ino. Dari belakang Hinata memperhatikan interaksi antara Sasuke dengan Ino yang terlihat akrab dan sangat dekat.
Selain cantik, Ino juga wanita yang baik, tidak heran Sasuke memilihnya…
Perasaan mendung tiba-tiba kembali menyelimuti hatinya. Sasuke tampak nyaman bersama Ino, ia juga tidak terlihat dingin seperti biasanya. Meskipun tidak berbicara panjang lebar seperti Ino, tapi kenyataan bahwa Sasuke merespon setiap cerita atau pertanyaan dari Ino menunjukan bahwa Yamanaka Ino adalah orang yang special bagi Uchiha Sasuke. Berbeda sekali dengan sikap Sasuke padanya yang selalu dingin.
Seandainya saja ia punya alternatif lain untuk kembali ke hotel, mungkin ia akan memilih keluar dari mobil ini. Ia merasa jengah setiap kali Ino memberikan tatapan menggoda pada Sasuke dan Sasuke yang nampak tak keberatan sama sekali.
Mengapa Sasuke diam saja ketika Ino menyentuhnya? Dan Ino berhentilah menggoda dan menyentuh Sasuke! Ya Tuhan… mengapa aku peduli? Bukankah aku tidak peduli? Ya aku tidak peduli, biarkan saja kedua love-birds itu melakukan apapun yang mereka suka!
Hampir saja jantungnya copot ketika Ino tiba-tiba mencium Sasuke, di bibir! Hinata terpaku dalam duduknya seperti batu dengan mulut yang sedikit terbuka, ia sama sekali tak merespon ketika Ino berpamitan padanya dan keluar dari mobil Sasuke. Ekpresinya memberitahu seluruh dunia bahwa ia sangat terkejut.
"Pertama kali melihat orang ciuman?"
Sadar akan ucapan Sasuke yang terdengar meledek, Hinata memilih untuk tidak menjawabnya dan mengalihkan pandangannya ke samping. Perasaannya sekarang sedang campur aduk, tapi yang jelas ia sekarang sangat jengkel pada Sasuke. Ubun-ubunnya seperti siap meletus.
"Pindah ke depan," perintah Sasuke.
"Aku lebih nyaman duduk di belakang," jawab Hinata ketus.
"Aku bukan supirmu," balas Sasuke.
Hinata menatap Sasuke lewat kaca spion, Sasuke balas menatapnya. Hinata menghembuskan napas beratnya kemudian mengikuti perintah Sasuke dan duduk di jok depan samping Sasuke.
Selama beberapa menit hanya keheningan yang menghiasi perjalanan mereka. Hinata bergerak-gerak tak nyaman di samping Sasuke. Pikirannya masih berputar-putar ketika Ino mencium Sasuke dan Sasuke sepertinya membalas ciuman itu.
"Kau dan Yamanaka-san berpacaran?" Kalimat itu keluar dari mulut Hinata tanpa bisa dicegahnya.
Singgungan kecil bisa terlihat dari salah satu sudut bibir Sasuke. "Mengapa aku harus memberitahumu?"
"A-Aku hanya bertanya. Kalau kau tidak mau menjawabnya ya tidak usah."
"Bagaimana kalau iya?" Sasuke menatap sekilas Hinata. "Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku…aku…aku tidak akan melakukan apa-apa…itu kan bukan urusanku."
Tidak akan melakukan apa-apa? Sungguh Hinata? Lalu mengapa kau merasa ingin menangis membayangkan wanita lain berpacaran dengan Sasuke?
Sasuke berdecak pelan. Hinata diam terpaku di tempat ketika merasakan hembusan napas Sasuke di telingannya dan berbisik. "Ya, aku berpacaran dengan Ino dan jangan kau katakan hal ini pada ibuku."
Tangan Hinata meremas bajunya dengan keras-keras. Detik berikutnya linangan-linangan air mata sudah berjatuhan dari kelopak matanya.
"Mengapa k-kau menangis?" tanya Sasuke yang lucunya terdengar panik.
Aku menangis karena kau berpacaran dengan Ino, Bodoh! Tapi seharusnya aku tidak menangis… karena aku tidak peduli, kan?
"Aku kehilangan investor terbesarku, lalu dicopet, kakiku terkilir dan sakit sekali…"
Plus kau berpacaran dengan Ino!
Sepertinya kemalangan-kemalangannya hari ini bisa dijadikannya sebagai alasan. Lagipula, ia memang sudah ingin menangis semenjak ia mendengar investor terbesarnya membatalkan kontrak kerja sama dengannya. Tangisannya saat jatuh ke trotoar tidak cukup memuaskannya. Ia tahu seharusnya ia tidak menangis di hadapan Uchiha Sasuke. Janjinya untuk tidak terlihat bodoh di hadapan Sasuke sepertinya terlanggar lagi dan juga bukankah ia sudah berjanji untuk tidak mendapatkan bantuan dari Sasuke lagi percis tadi pagi? Janji-janjinya itu ia buat dalam satu hari dan ia langgar di hari yang sama juga pantas saja ia kehilangan investor terbesarnya ketika sifatnya saja tidak bisa menepati janji pada dirinya sendiri.
Hinata mengambil tissue yang berada di mobil lalu menggunakannya untuk menghilangkan air matanya tapi usahanya sia-sia karena air mata tersebut kembali mengalir. "Lalu kau bertanya mengapa aku menangis? Bagaimana mungkin aku tidak menangis!" teriaknya dengan mengeluarkan seluruh emosinya yang tertumpuk.
"Kau sangat ceroboh," tiba-tiba Sasuke berkata. Hinata menatap Sasuke tajam.
"Ya aku memang ceroboh dan bodoh!" balas Hinata sengit. "Sekarang turunkan aku di sini!"
"Kau manja dan crybaby," lanjut Sasuke masih mengendarai mobilnya.
"Aku tau!" jawab Hinata meledak-ledak dengan air mata yang terus mengalir, sepertinya Sasuke memang pandai membuatnya hilang kendali akan emosinya. Sasuke membuatnya seperti seorang anak kecil, padahal ia adalah seorang Hyuuga yang biasanya pandai mengendalikan emosinya. "Sekarang turunkan aku!"
Sasuke tidak mengacuhkan permintaan Hinata, ia masih fokus menyetir mobilnya.
"Jika kau tidak menurunkanku sekarang, aku akan loncat!"
Sasuke tiba-tiba menghentikan mobilnya. Hinata segera melepaskan safety-belt-nya ketika tangan Sasuke menahannya dan menarik punggungnya sehingga mau tidak mau ia harus bertatap muka dengan wajahnya yang seperti patung-patung yunani itu.
"Kau manja, cengeng, dan sangat ceroboh," ucapnya lagi percis di hadapan wajahnya. Air mata Hinata semakin deras mengalir. Tangannya berusaha mendorong tubuh Sasuke, tapi tubuh Sasuke sekeras batu.
Hinata menghentikan dorongannya pada tubuh Sasuke ketika ia merasakan belaian lembut di pipinya. Hinata menatap Sasuke terkejut. Jari-jari Sasuke kemudian menghapus linangan-linangan air matanya. "Dengar…" bisik Sasuke lembut, ia baru menyadari bahwa wajahnya dengan wajah Sasuke sudah sangat dekat, Hinata menahan napasnya dan sadar jantungnya kembali berdetak-detak cepat. "Tapi kau, Hyuuga Hinata, seorang pembisnis yang hebat."
Mata amethyst-nya memandang Sasuke takjub dan lama.
Entah mengapa perkataan Sasuke tersebut seakan-akan memberikan energi baru padanya. Energi yang sebenarnya di cari-carinya semenjak ia keluar dari kamar hotelnya. Energi yang dibutuhkannya semenjak ia kehilangan harapan dan kepercayaan dirinya sebagai seorang pembisnis. Sasuke memang bukan orang yang ramah, tapi dia bukan seorang pembohong. Apa yang dikatakan Sasuke adalah apa yang dia percayai. Kenyataan bahwa Sasuke berpikir ia adalah seorang pembisnis yang hebat membuat rasa percaya dirinya yang sempat tenggelam seakan-akan muncul kembali kepermukaan. Jika pembisnis sehebat Sasuke percaya bahwa ia juga adalah seorang pembisnis yang hebat, maka ia harus percaya pada dirinya sendiri juga. Ia pasti bisa mendapatkan kembali investor terbesarnya itu. Tuan Sherrief, wait for me!
Senyuman lebar kini terukir di bibirnya.
"Aku tahu," jawab Hinata kali ini dengan rasa percaya diri tanpa adanya linangan air mata lagi, sangat berbanding terbalik dari jawaban-jawabannya beberapa detik yang lalu.
"Hn."
Sasuke sudah menjauh dan melepaskan safety-belt-nya. Hinata menoleh ke sisi jendelanya. Ternyata mereka sudah berada di depan Hotel. Tawa kecil tak bisa dicegahnya, ia kira Sasuke tadi memang akan menuruti keinginannya dengan menurunkannya di tempat antah berantah tapi untungnya tidak. Sasuke sepertinya tidak sekejam yang ia kira.
Ia membuka pintu dan menurunkan kakinya hendak keluar dari mobil ketika denyutan di pergelangan kakinya membuatnya duduk kembali ke jok mobil. Hinata bisa melihat pergelangan kakinya yang membiru. Lalu yang membuatnya terkejut adalah Sasuke yang sudah berada di hadapannya dan berjongkok.
"Aw." Rasa sakit dirasakannya ketika tangan Sasuke menyentuh pergelangan kakinya yang kebiruan.
"Kau harus segera mengompresnya, mengerti?"
Hinata mengangguk menurut. Lalu Sasuke berdiri dan mencondongkan tubuhnya ke arahnya.
Refleks Hinata menjauh. "M-Mau apa k-kau?"
Sasuke tak menjawab dan meletakan tangannya di bawah punggung dan lututnya lalu mengangkatnya keluar dari mobil.
Pipi Hinata merona tak karuan. Sasuke menggendongnya ala bridal-style.
"A-Aku bisa berjalan sendiri," elaknya, wajahnya semakin panas ketika Sasuke sudah memasuki lobby hotel dan beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka.
"Diamlah, sekarang lingkarkan tanganmu di leherku."
Berdebat dengan Sasuke sekarang sepertinya tidak akan ada gunanya, toh dia memang tidak bisa berjalan sendiri mengingat baru mencoba berdiri saja kakinya sudah kesakitan. Kedua tangannya pun ia lingkarkan di leher Sasuke membuat jarak antara dia dengan Sasuke semakin dekat. Apalagi dadanya menempel dengan dada Sasuke, yang merupakan suatu kesalahan besar. Bagaimana kalau Sasuke bisa merasakan degup jantungnya yang sangat keras?
"A-Aku berat," dalihnya lagi agar Sasuke menurunkannya.
Rahang Sasuke yang tegas terlihat artistik dari dekat, mata gelap Sasuke yang semula menatap ke depan kini memandang ke bawah padanya. Senyuman tipis namun terkesan menggoda muncul di wajahnya yang arrogan.
"Aku kuat."
Wajah Hinata kembali memerah, entahlah tapi ia merasakan Sasuke mengisyaratkan hal lain dari kalimatnya itu. Tidak kuat berpandangan terlalu lama dengan mata hitam Sasuke, ia segera mengalihkan perhatiannya ke sekelilingnya. Namun hal itu tidaklah lama, karena ia langsung menyembunyikan wajahnya di tengkuk Sasuke begitu sadar bahwa mereka telah menjadi pusat perhatian orang-orang di Hotel.
Sepertinya tindakan Hinata semenjak tadi serba salah, sekarang kesalahannya yang lain adalah menyembunyikan wajahnya di tengkuk Sasuke yang… wangi. Aroma maskulin Sasuke selain wangi juga menenangkannya. Ia jadi betah berlama-lama menghirup aroma tubuhnya yang bisa dibilang sanggup memabukkan kaum hawa manapun.
Pantas saja Ino menyukainya.
Ingatannya akan sosok Yamanaka Ino, menyadarkannya akan satu hal bahwa Sasuke sudah menjadi milik orang lain. Bahwa ia seharusnya tidak merasa nyaman dan… senang di gendong seperti seorang putri oleh Sasuke. Bahwa apa yang dirasakannya ini adalah… salah. Apalagi Ino adalah perempuan yang baik.
Ia menghembuskan napas berat. "Aku ingin kau putus dengan Ino."
Sadar apa yang baru saja diucapkannya, ia langsung menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Ya Tuhan… mengapa mulutnya ini sangat nakal. Ia tak berani menatap Sasuke, wajahnya masih ia sembunyikan di tengkuk Sasuke. Berharap Sasuke tidak mendengar apa yang baru saja dikeluarkan mulut comelnya ini. Namun matanya dengan sendirinya mencuri-curi pandang ke arah Sasuke. Bertanya-tanya ketika melihat Sasuke sedang mengulum bibirnya seolah-olah ia sedang menahan tawa.
Tapi yang paling mengejutkan Hinata adalah ucapan Sasuke berikutnya.
"Baiklah."
Tenang Hinata, tenang… mungkin Sasuke tidak mengatakan apa-apa, kau terlalu lelah sehingga berhalusinasi yang tidak-tidak. Mungkin aku tadi salah dengar, sebenarnya tadi Sasuke berkata "tidaklah" bukan "baiklah". Mana mungkin Sasuke memutuskan Ino demi aku! Ya aku tadi hanya salah dengar… tapi aku berharap aku tadi tidak salah dengar.
"Hinata-sama!"
Sosok Ayame bisa dilihatnya berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka. Di sampingnya sudah ada dua bodyguard-nya. Salah satu bodyguard yang bernama Sam kemudian menggantikan Sasuke menggendongnya. Berada di gendongan bodyguard-nya tidak senyaman di gendong Sasuke.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Ayame panik.
"Aku hanya sedikit terkilir, tapi aku tidak apa-apa," jawab Hinata.
"Uchiha-sama, hontou Arigatou!" ucap Ayame kemudian sambil membungkuk sembilan puluh derajat.
"Hn." Sasuke kemudian menatap Hinata serius. "Lain kali kau harus membawa bodyguard-mu jika kau mau berpergian lagi, mengerti?"
Hinata menganggukan kepalanya seperti anak-anak yang menuruti perintah orang tuanya.
"Sasuke, terima ka-"
Ia menghentikan kalimatnya ketika telunjuk Sasuke mengisyaratkannya untuk diam.
"Bukan ucapan terima kasih yang aku inginkan, tapi aku ingin kau mengingatnya, Hyuuga." Setelah itu dia berlalu pergi.
Hinata menatap punggung Sasuke bingung. Mengapa Sasuke selalu ingin dia mengingat semua kebaikan yang dilakukannya?
.
.
To be continued…
A/N: Akhirnya saya update juga minna! Apa yang bisa saya katakan selain mengucapkan kata maaf sedalam-dalamnya atas keleletan saya dalam mengapdet fanfic ini ataupun fanfic-fanfic saya yang lainnya. Tapi percayalah selama saya memiliki umur fanfic-fanfic saya ini akan saya tamatkan semua. Amin.
Untuk itu saya mohon kesabarannya ya readers ;)
Anyway, ada yang rindu pada sosok Mikoto? Jujur saya rindu sekali pada sosok Mikoto yang sayangnya tidak saya munculkan di chapter ini. Jika ada bagian-bagian yang para readers tidak mengerti, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya pada saya ya.
See you soon ladies and gentlemen!
