Art of Love
.
.
.
Presents by
Hiname Titania
Disclaimer
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warnings
Cliche, AU, OOC, misstypo(s), etc.
Don't Like Don't Read.
.
Chapter Four: Conquered
—69—
Hyuuga Hinata, sebuah nama yang sudah terlalu familiar bagi telinga Uchiha Sasuke. Dia sudah terlalu banyak mendengar cerita tentang gadis itu sampai-sampai ia sudah bosan mendengarnya. Bagaimana tidak, tiap kali dia pulang ke rumah ketika liburan semester, ibunya pasti akan bercerita tentang putri sulung dari Hyuuga Hiashi tersebut. Ada kalanya dia cukup cemburu dengan perhatian ibunya pada sang gadis.
Sasuke pernah bertemu dengan Hyuuga Hinata saat mereka masih SMP, baginya gadis itu biasa-biasa saja. Menurut Sasuke gadis itu terlalu pemalu, tidak menarik. Pikiran-pikiran inilah yang selama ini berkeliaran di otak Sasuke hingga saat perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya mengubah persepsinya. Dia selalu mendengar bagaimana ibunya memuji-muji Hinata, mempromosikan gadis itu padanya seperti seorang saler kepada calon pembelinya. Seperti bagaimana cantik dan rupawannya gadis itu, bagaiamana Sasuke akan bahagia jika menikah dengannya, dan masih banyak lagi. Promosi-promosi ibunya yang tentu akan dibalas oleh Sasuke dengan cibiran-cibiran sinis karena seingat Sasuke omongan ibunya itu hanyalah bualan belaka.
Karena Hinata yang dia ingat adalah gadis dengan rambut pendek dengan wajah polos, kurang percaya diri, dan selalu bersembunyi di balik punggung sepupunya meski harus Sasuke akui Hinata memiliki mata yang unik dibandingkan dengan Hyuuga lain. Gadis yang diingatnya jelas berbeda dengan apa yang dilihatnya pada malam itu. Tidak ada lagi sikap malu atau kurang percaya diri yang selama ini melekat di otaknya tentang seorang Hyuuga Hinata, tidak ada lagi jaket yang selalu dikenakannya kemana-mana. Di depannya berdiri seorang gadis dengan penampilan baru. Meski Sasuke sadar dari dulu Hyuuga Hinata memiliki wajah yang manis untuk dilihat, tapi kini dia tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat menawan sehingga tidak heran jika banyak lelaki yang mencuri pandang ke arahnya.
Berbeda dari gadis-gadis di pesta pernikahan orang tuanya yang tampak terlalu bergaya sehingga penampilan mereka terlihat berlebihan untuk Sasuke sukai, gadis itu mengenakan gaun anggun tapi sederhana yang menampilkan kaki jenjangnya dan membungkus lekukan-lekukan kefeminimannya dengan sempurna. Rambutnya yang panjang disanggul elok menampilkan lehernya yang panjang, putih, dan nampak halus sempat membuat Sasuke berpikiran kotor untuk beberapa saat. Dan yang paling membuat Sasuke membatu adalah sikap dan tatapannya.
Sasuke sudah sering bertemu dengan berbagai macam wanita, dia akan tahu ketika gadis tersebut tertarik padanya dan rata-rata gadis yang pernah bertemu dengannya selalu memasang tatapan penuh kagum dan keterpikatan, berbeda dengan seorang Hyuuga Hinata saat itu. Dia memandangnya dengan tatapan biasa dan tidak ada tatapan oh-so-wow yang selalu diunjukkan gadis-gadis kepadanya. Dia memandangnya dengat sangat normal dan hal itu cukup mengejutkan. Kemudian caranya membalas singgungan yang sengaja Sasuke katakan untuk melihat reaksinya, Sasuke mengira gadis itu akan pergi dengan punggung yang rendah akan kekalahan dan ketidakpercayadirian, jika itu yang terjadi Sasuke akan menilai Hinata tidaklah berbeda dengan gadis lainnya.
Namun betapa perkiraannya itu salah, gadis itu membalasnya dengan cara seorang gadis berkelas menyingkirkan musuhnya. Dia memberikan tatapan tajam kemudian membalas perkataannya dengan bahasa super baku yang menunjukan ke-Hyuuga-an dan segala kemampuannya dalam menjaga emosi, kemudian rahangnya terangkat ke atas dan berbalik pergi dengan langkah super elegan bak seorang Ratu Inggris. Saat itu Sasuke tahu gadis itu benar-benar berbeda dari gadis-gadis yang pernah ditemuinya.
Malam itu, putri sulung Hyuuga memang berhasil mencuri perhatiannya. Jika ibunya tahu pasti dia akan senang mendengarnya, mengingat bagaimana dia selalu mengharapkan Sasuke memperhatikan gadis itu.
Awalnya Sasuke pikir rasa tertariknya pada Hinata malam itu hanya akan bertahan dalam waktu singkat, toh pada dasarnya dia memang selalu tertarik pada wanita-wanita cantik, hal yang wajar untuk lelaki normal sepertinya. Tapi ternyata ketertarikannya pada sang gadis Hyuuga tidak sesingkat itu bahkan jika dihitung hingga sekarang sudah lebih dari delapan bulan lamanya.
Sayangnya dia tidak bisa melakukan apa-apa tentang hal itu, pertama Sasuke tidak bisa memperlakukan gadis itu dengan sembarangan seperti yang selalu dilakukannya pada gadis-gadis lain karena gadis itu adalah anak dari Hiashi Hyuuga. Kedua jika dia benar-benar mendekati Hinata, ibunya pasti akan langsung menyuruhnya untuk langsung menikah dan Sasuke belum siap untuk berkomitmen untuk melepaskan masa bujangnya secepat itu. Ketiga alasan yang paling mengganggunya, gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa tertarik padanya sedikitpun. Alasan inilah yang sering membuatnya kesal bukan main karena disaat Hyuuga Hinata masuk kekantornya dalam balutan baju bisnis yang selalu nampak seksi sekali ditubuhnya dia tidak bisa melakukan apapun selain memandang. Menyedihkan bukan?
Hal seperti ini belum pernah dialaminya, dia selalu mendapatkan gadis yang diinginkannya tapi dengan Hinata dia harus menahan semua keinginannya. Masalahnya gadis itu tidak sama sekali membantu, Hinata benar-benar tidak sadar jika dengan tatapan-tatapan tajam yang selalu diberikannya pada Sasuke setiap kali mereka berargumen tentang bisnis membuat 'adik kecilnya' bersemangat. Dia tidak tahu bagaimana Sasuke membayangkan mengunci mulutnya yang nampak lezat itu dengan mulutnya sendiri kemudian membawanya ke ruang kosong dan melakukan hal-hal kotor yang selalu dibayangkannya bersama seorang Hyuuga Hinata sebagai partnernya.
Dia tidak tahu dengan efek yang selalu diberikannya pada Sasuke setiap kali dia muncul, kadang-kadang Sasuke lupa caranya bernapas seperti sekarang saat gadis itu muncul dengan mempesonannya bersama seorang laki-laki antah berantah yang dengan berani merangkul lengannya seolah-olah Hinata adalah miliknya. Dia tidak percaya setelah semua aksi heroiknya untuk gadis itu, dia muncul dengan pria lain. Hinata tidak tahu bagaimana selama ini dia mencoba mendapatkan hati gadis itu dengan menjadi seorang gentleman. Dia tidak tahu betapa beratnya dia mencoba untuk tidak menjadi seorang lelaki bajingan ketika menidurkannya di kamar hotelnya. Sungguh untuk menjadi seorang pria terhormat benar-benar memerlukan perjuangan yang tinggi.
"Sasuke, kau baik-baik saja?" tanya Ino yang merupakan teman kencannya untuk malam opening house hotelnya di Paris. Ino tampil dengan mempesona, tapi dia tidak memberikan efek yang seperti Hinata berikan kepadanya.
Melihat Ino dia jadi teringat kejadian dua hari yang lalu. Sasuke tidak mengerti, dia kira setidaknya dia sudah memenangkan hati Hinata ketika gadis itu nampak cemburu akan kedekatannya dengan Ino. Hinata sampai berpikiran dia memiliki hubungan yang spesial dengannya. Ino dan dirinya tidak lebih dari teman ngopi bersama, dan untuk ciuman atau bisa dibilang kecupan singkat yang dilakukannya hanya sebatas pertemanan yang tidak memiliki artian lebih. Ino yang sudah lama tinggal di Paris memiliki budaya yang berbeda, Sasuke bahkan sering melihat Ino memberikan kecupan singkat pada adik dan teman-teman laki-lakinya yang lain seperti yang diberikannya padanya.
"Aku baik-baik saja," jawab Sasuke, Ino kemudian memberikannya segelas wine yang langsung diterimanya.
"Ah itu Hinata," seru Ino ketika dia melihat Hinata yang sedang berbicara dengan pria yang sedang digandengnya, Sasuke harus menahan dirinya untuk tidak berjalan kesana dan menyingkirkan wajah lelaki itu yang tampak terlalu dekat dengan Hinata. "Wah siapa pria yang bersamanya? Dia tampan juga."
Hal ini sukses membuat Sasuke menggerutu.
"Ayo kita menyapanya," sahut Ino.
"Untuk apa, biarkan saja mereka," tutur Sasuke dengan nada yang terkesan sinis.
"Ayolah." Dan Ino pun menggiringnya pergi.
—69—
Hinata pikir hari ini akan menjadi hari yang baik untuknya. Dia baru saja mendapatkan tanda tangan kontrak kerja sama dengan Tuan Sherieff setelah lima hari berturut-turut Hinata berusaha membujuk Tuan Sherieff agar mau berkerja sama dengan perusahaannya lagi. Hinata percaya tidak akan ada yang bisa mengubah hari baiknnya ini menjadi buruk, dan oh betapa naifnya dia.
Di detik ia melihat Uchiha Sasuke menggandeng mesra Yamanaka Ino, semua mood baiknya menguap seketika. Dia ingin sekali langsung pergi dari opening house proyek hotelnya. Sepertinya lima hari yang lalu dia benar-benar salah mendengar perkataan bahwa Sasuke akan memutuskan Ino untuk bersamanya.
Tapi dia tidak bisa pergi ketika Deidara masih dengan kuat menggandeng tangannya. Deidara adalah teman kuliahnya saat dia bersekolah di Paris. Mereka sudah berteman dekat, bahkan Hinata sudah menganggap Deidara sebagai kakaknya sendiri, dia sungguh bersyukur karena Deidara mau meluangkan waktunya untuk menemaninya ke acara ini. Dia juga berniat untuk bernostalgia bersama Deidara dan teman-temanya yang lain di sebuah zanzibar setelah acara ini, tapi melihat Sasuke dengan Ino sepertinya dia ingin langsung pulang saja.
"Hinata, lihat pada laki-laki di arah jam sembilan. Bukankah dia sangat tampan?" bisik Deidara padanya. Deidara baru saja patah hati dengan kekasihnya selama dua tahun, untuk itu dia bersedia datang untuk mencuci mata dan mungkin mencari pengganti hati. Dan sepertinya Deidara tertarik dengan laki-laki di arah jarum sembilan. Dan oh tidak lelaki dari sekian lelaki yang ada disini yang dimaksudnya adalah Uchiha Sasuke.
"Wanita yang bersamanya adalah kekasihnya. Kurasa dia straight," tutur Hinata berusaha bernada tak peduli.
Deidara menggedik bahu. "Sayang sekali, dan kau mengenalnya?"
Hinata mengangguk. "Dia Uchiha Sasuke, CEO baru Uchiha Corp."
"Ah, jadi dia Si Uchiha Sasuke itu." Deidara tersenyum menggoda ke arahnya. "Yang sering dijodoh-jodohkan denganmu kan?"
"Diamlah," balas Hinata cepat meski dia bisa merasakan pipinya yang memerah.
"Dan kau mengatakan wanita yang bersamanya adalah kekasihnya?" tutur Deidara sambil sekali-kali memperhatikan Sasuke. "Tapi sedari tadi dia menatap ke arah kita, kau tahu?" Deidara kemudian berbisik. "Dan dia bahkan seperti ingin membunuhku."
"Mana mungkin! Kita saling membenci."
"Sungguh? Jika aku kau Hinata, aku akan langsung merayunya haha..." tawanya kemudian. "Apa yang kau tidak sukai dari Uchiha Sasuke? He is totally hot."
"Semuanya," jawab Hinata cepat.
Pembohong.
"Well, sepertinya dia dan kekasihnya berjalan ke arah kita." Deidara kemudian merangkul pinggang Hinata. "Ini akan sangat menarik."
"Hinata!" seru Ino ketika mereka sudah berjarak satu dua langkah dari satu sama lain. Ino kemudian mencium pipinya dan Hinata membalasnya, sementara Hinata berusaha sekuat mungkin untuk menghindari tatapan Sasuke ke arahnya. "Hinata aku menyukai gaun yang kau kenakan. Anyway kau tidak akan mengenalkan kita pada teman kencanmu, Hinata?"
"Ah ya, Ino kenalkan dia Deidara."
Deidara tersenyum ramah dan menjabat tangan Ino. "Deidara."
"Ino."
"Deidara ini Sasuke," tutur Ino kemudian.
Deidara kemudian menjabat tangan Sasuke yang dibalas oleh Sasuke dengan jabatan yang lebih seperti sebuah remukan. Deidara hanya mengulum senyum penuh arti.
"Senang bisa melihatmu disini lagi," tutur Ino kemudian. "Apa kau sudah berhasil menemukan pencuri tasmu itu?"
"Ya," jawab Hinata kemudian memberikan senyuman kecil pada Deidara, "Deidara yang membantuku, untunglah salah satu temannya adalah polisi disini."
"Hinata memang sering ceroboh. Dia selalu membuatku khawatir," tutur Deidara seraya mencubit kecil hidung Hinata.
"Kalian manis sekali," komentar Ino bersemangat. "Sejak kapan kalian saling mengenal?"
"Semenjak kami berada di Universitas yang sama," jawab Deidara dengan senyuman lebar.
"Ah jadi kalian pasangan kampus rupanya?" tutur Ino.
Suara deheman membuat ketiga orang yang sedang asyik mengobrol itu menyadari keberadaan seseorang laki-laki yang semenjak tadi hanya menjadi penonton obrolan mereka.
"Aku permisi dulu," tutur Sasuke seraya berjalan pergi.
Hinata menatap Sasuke heran, sebelum Sasuke benar-banar pergi dia sempat bertemu pandang dengan mata gelap Sasuke yang menyiratkan kemarahan.
Selalu seperti itu, bertingkah seenaknya, marah seenaknya, menatapnya seperti itu seenaknya. Dia pikir dia siapa?! Hinata jadi tersulut emosi. Dia bahkan belum menyapanya tapi sudah pergi? Laki-laki tidak tahu tata krama.
—69—
Mata amethyst Hinata menatap sinis wanita yang sedang berdansa bersama Sasuke. Seberapa kalipun Hinata mencoba mengalihkan perhatiannya ke arah lain, perhatiannya akan kembali lagi pada Sasuke dan wanita cantik yang sedang berdansa bersamanya. Dia bahkan tidak mengerti topik apa yang sedang dibicarakan partner dansanya sendiri karena saking fokusnya dia pada pasangan yang sedang berdansa tiga meter di depannya itu.
"Jadi apa Hyuuga juga memiliki grand pool party tiap New Year's Eve?"
Hinata kembali menatap partner dansanya. Jadi yang semenjak tadi pria ini bicarakan adalah pesta. Apa dia tidak tahu bahwa keluarga Hyuuga adalah keluarga yang menjujung tinggi ketradisionalan? Tidak ada acara grand pool party saat tahun baru di keluarganya.
Hinata kemudian menggeleng.
"I see. Kau bisa datang ke acara pool party milik keluargaku kalau begitu," tawarnya ramah.
"Tidak, terima kasih," jawab Hinata dengan senyuman.
Hinata menghela napas lega ketika dia mendengar musik yang berubah menunjukkan mereka untuk mengganti pasangan dansa.
Tangannya kemudian disambut oleh laki-laki muda berambut silver. Dia tinggi dan tampan. Tapi tidak memberikan efek yang selalu Sasuke berikan padanya. Dia tidak bisa membohongi dirinya lagi bahwa tiap kali dia melihat sosok Sasuke, hatinya selalu bertalu-talu lebih cepat dari biasanya. Entah sejak kapan tapi dia tidak bisa mengelak lagi.
Selama ini dia tidak bisa berhenti memikirkan sosok Uchiha Sasuke. Dia suka dengan caranya berjalan, caranya membawa diri dengan penuh rasa percaya diri. Dia suka dengan cara Sasuke berargumen dengan pandai dan tiap kali mata gelap itu memfokuskan perhatiannya padanya seorang tubuhnya selalu merasa terbakar. Dia bersikap acuh tak acuh karena dia tidak ingin Sasuke sadar bahwa dia memiliki efek bagi dirinya. Dia tidak ingin mengakui bahwa dia telah takluk pada semua karisma dan pesona yang Uchiha Sasuke miliki. Dia adalah seorang Hyuuga, dan Hyuuga tidak pernah takluk tapi menaklukkan. Itu yang selalu dikatakan ayahnya padanya.
Hinata berusaha mengabaikan semua rasa ketertarikannya pada Sasuke, tapi rasanya semuanya menjadi mustahil tiap kali sosok Sasuke selalu muncul di saat-saat dia benar-benar membutuhkan seseorang. Sasuke membuatnya tersanjung, meski dia tidak terang-terangan bersikap ramah dan sering kali ketus, sikap Sasuke selama ini padanya selalu sopan layaknya seorang pria terhormat. Dalam bisnis dia menganggapnya sebagai equal bukan bawahannya. Dia mengakui bahwa dia adalah seorang pembisnis yang hebat, salah satu alasan yang membuatnya tidak mau menyerah perihal Tuan Sherrief. Sebagai laki-laki dia mengantarnya pulang sampai rumah meski sebenarnya dia tidak perlu melakukannya. Dia menyelamatkannya dari lift yang macet kemudian menidurkannya di tempat tidurnya bukan sofanya. Lalu dia memberikannya sarapan dan tidak langsung menyuruhnya pergi. Dia memberikannya tumpangan dan mengantarnya ke hotel dengan selamat meski dia sudah meneriak-neriakinya seperti seorang bocah labil. Bayangkan saja jika saat itu Sasuke tidak melihatnya, apa sekarang dia masih ada disini? Dia juga dengan rela menggendongnya ketika kakinya sedang terkilir meski tubuhnya ini tidak bisa dibilang enteng dan sebenarnya Sasuke bisa saja membiarkannya berjalan.
Hinata tahu, mungkin semua itu hanyalah perilakunya sebagai pria terhormat saja, mungkin juga hanya perintah dari Mikoto-san, tidak ada artian lebih dari setiap tindakan Sasuke padanya. Tapi tetap saja Hinata berharap lebih, mengharapkan ada sesuatu yang lain dibalik semua kebaikan yang Sasuke berikan kepadanya. Meski semuanya sudah jelas bahwa Sasuke sama sekali tidak tertarik padanya, bahwa dia berpacaran dengan wanita lain, bahwa untuk Uchiha Sasuke seorang Hyuuga Hinata tidak berartian istimewa selain mungkin rekan bisnis saja.
I'm such an idiot.
Tapi kata-kata Deidara yang menyatakan bahwa Sasuke tertarik padanya, apakah nyata?
Tanpa sadar mata amethyst-nya kini kembali ke arah saat terakhir kali dia melihat Sasuke. Sasuke sudah tidak ada di sana. Dia sudah tidak menemukan Sasuke di antara para pasangan dansa tersebut. Mungkin dia sudah pergi dengan Ino, menghabiskan waktu berdua dan bermesraan.
"Mencariku?"
Hinata tersentak. Dengan perlahan-lahan dia mengangkat kepalanya ke arah pasangan dansanya yang jelas lebih tinggi darinya. Dan betapa jantungnya seperti akan keluar ketika dia menemukan sosok Sasuke yang berdiri di depannya, memeluk pinggangnya. Jarak tipis yang membuat Hinata tanpa sadar menghentikan pernapasannya.
"Kau seperti melihat hantu saja," komentar Sasuke dengan suara yang rendah dan terasa seperti menggoda pendengarannya.
"Sasuke..." tutur Hinata dengan deruan napas berat efek dari dirinya yang menahan napas. Namun mengapa jadi terdengar breathless?
Kemudian alunan musik yang mellow membuat dansa mereka tidak banyak melakukan pergerakan-pergerakan dan hal itu membuat Hinata kesulitan berpikir tenang. Bagaiamana dia bisa berpikir tenang sementara dari tadi dia memikirkan lelaki ini dan boom sekarang dia berada di depannya sedekat ini. Semesta sepertinya tidak berniat memberikan jantungnya waktu untuk beristirahat.
Dan kesalahannya selanjutnya menatap langsung dua pasang oniks itu. Cara Sasuke menatapnya, membuat reaksi aneh pada tubuhnya. Lagi-lagi dia terkena Uchiha dan efeknya.
"Kau... sejak kapan?" tanya Hinata akhirnya tak jelas.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" balas Sasuke.
Kau.
Dan Hinata tidak mungkin mengatakan kebenarannya.
"None of your bussiness." Bagus jadi ini balasannya. Sasuke akan semakin tidak menyukainya. Kenapa dia tidak bisa memikirkan balasan yang lebih ramah daripada ini?
Sasuke mendengus kecil.
"Jika kau sedang memikirkan Deidara, dia berada disana," tunjuk Sasuke dengan dagunya.
Hinata melirik sekilas kemudian memfokuskan perhatiannya kembali pada Sasuke. Rahang Sasuke terlihat lebih tegang sekarang.
"Jadi laki-laki seperti itu yang kau suka?" lanjut Sasuke sambil memperhatikan Deidara yang sedang berbincang-bincang dengan tamu lain. "Rambut pirang, mata biru?"
"Sepertimu? Rambut pirang, mata biru, Ino?" balas Hinata cepat.
Sasuke menatapnya tajam. "Jangan mengalihkan topik."
"Apa salahnya? Aku hanya mengatakan kebenaran bahwa kau suka dengan orang berambut pirang dan bermata biru. Buktinya kau memacari Yamanaka Ino, kan?"
"Kau salah."
"Dimana salahnya? Jelas-jelas kau memacarinya dan kau datang kemari dengannya kan? Semuanya sudah jelas."
"Jangan sok tahu," balas Sasuke. "Kau sendiri datang kemari dengan laki-laki sepertinya, bukan? Lelaki antah-berantah yang tidak jelas."
"Dengar Uchiha Sasuke," jawab Hinata geram. "Apa salahnya jika aku datang dengannya? Dia laki-laki baik-baik."
"Dan sekarang kau membelanya."
"Ya, aku memang membelanya. Apa aku bersalah membela temanku sendiri? Dia bukan lelaki antah-berantah yang tidak jelas, dia temanku, dia seorang seniman hebat. Dia banyak membantuku. Semenjak kuliah aku banyak berhutang budi padanya. Jadi jangan sekali-kali kau berani menghinanya di depanku." Hinata menatap Sasuke berapi-api. "Dan kau juga jangan sok tahu. Aku tidak memacarinya. Dia sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri. Jadi sudah jelas aku tidak menyukai seseorang berambut pirang dan bermata biru sepertimu."
Sasuke menatapnya lekat-lekat seolah-olah dia mencari-cari kebohongan dari setiap perkataannya. "Hanya teman, tidak lebih?"
Hinata mengangguk.
"Apa dia menyukaimu?"
Mendengar ini Hinata tertawa kecil. "Mustahil. Dia itu gay. Asalkan kau tau dia sepertinya menyukaimu."
Sasuke mengambil napas panjang, rahangnya tidak lagi tegang.
"Mengapa kau begitu penasaran dengannya? Kau kan sudah punya I-!"
Dan sesuatu yang tidak terkira benar-benar terjadi. Sasuke menarik lehernya kemudian menciumnya!
Di sini, di depan semua orang.
"Sekarang, bisakah kau diam?" bisik Sasuke padanya sebelum kemudian kembali menciumnya. Merangkul tubuhnya semakin erat. Hinata melingkarkan lengannya di leher Sasuke. Jari-jarinya kemudian bergerak membelai leher serta rambut gelapnya. Dan mereka telah terlena dengan satu sama lain, terlena dengan perasaan yang selama ini mereka simpan.
Dan yang lainnya tidak mereka lagi pedulikan.
—69—
Di sisi lain ballroom. Deidara dan Ino memegang segelas wine mereka. Kemudian dengan senyuman menyatukan gelas mereka sampai berdenting. Lalu meminum wine tersebut sambil memandang pasangan di lantai dansa yang saling bertautan dan sudah menjadi pusat perhatian para tamu lain dengan puas.
"We did it."
.
.
Sementara di Kediaman Uchiha.
Dua pasangan Uchiha Fugaku Uchiha dan Uchiha Mikoto menatap layar televisi dengan kedua mata melebar.
"Uchiha Sasuke dan Hyuuga Hinata resmi berpacaran. Acara opening house hotel mereka di Paris menjadi saksi kemesraan dua CEO perusahaan besar tersebut. Netizen sudah panas dengan berita-berita mereka dan beranggapan bahwa pernikahan mereka nanti akan menjadi yang termahal dan termegah sepanjang..." tutur sang reporter.
"Suamiku akhirnya kita akan segera memiliki cucu!" seru Mikoto dengan linangan-linangan air mata kebahagiaan.
"MISSION IS COMPLETED!" sorak Mikoto riang. Sementara Fugaku berdiri dan bertepuk tangan. Akhirnya usaha istrinya itu membuahkan hasil.
.
.
Finished.
A/N: Akhirnya owari minna! Terima kasih untuk seluruh pembaca yang sudah senantiasa memberikan dukungan-dukungannya untuk saya. Tanpa kalian fanfic ini tidak akan selesai. Jadi semuanya berkat kalian para dermawan yang sudah mau membaca fanfic saya ini, yang sudah memberikan reviews, favorites maupun follows. Sekali lagi terima kasih banyak. Semoga kalian terhibur dan maaf jika tidak berhasil memuaskan beberapa di antara kalian. Selamat melanjutkan aktifitas kalian lagi dan sampai jumpa di lain kesempatan minna! Love ya^^
Bonus:
Kediaman Hyuuga
Hyuuga Hanabi berkeringat, bagaimana tidak jika tubuhnya dia gunakan untuk menghalangi pergerakan dua lelaki yang jelas-jelas memiliki perawakan yang jauh lebih besar darinya.
"Bagaimana Uchiha itu berani menyentuh Hinata-sama!" seru Neji seraya berusaha lepas dari jeratan Hanabi.
"Bocah Uchiha sialan! Berani-beraninya dia menyentuh kepolosan dan kesucian anak gadisku! Dia harus mendapatkan hukuman!" seru Hyuuga Hiashi dengan tangisan di sudut matanya.
Mereka berdua membawa senjata pistol.
Hyuuga Hanabi hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya. Melihat tingkah dua laki-laki dewasa ini. Hyuuga dan keprotektifannya.
