~Another way to end the story~
.
.
.
Seorang pemuda tengah memandang lautan dari balik kaca jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Pikirannya seolah tengah terbang entah kemana. Kesadarannya baru kembali saat pemuda itu merasakan sebuah tangan yang menyentuh bahunya lembut. Tanpa menoleh, ia sudah tahu siapa pemilik tangan itu dan sebelah tangannya terangkat untuk menarik tangan tersebut ke dalam genggamannya.
"Gyu, apa yang sedang kau lakukan? Yang lain sudah menunggu di bawah" suara itu terdengar rendah dan datar namun Mingyu dapat merasakan kehangatan di dalamnya.
"aku merindukannya hyung..." jawab Mingyu lirih.
"...aku juga... aku juga merindukannya" Mingyu memutar tubuhnya hingga kini mereka berhadap-hadapan. Sosok di depannya tertunduk. Mingyu merasa bersalah karena telah membuat sosok dihadapannya ikut terjerumus juga dalam perasaan bersalah yang terus bersarang di dadanya.
"maafkan aku Wonwoo-hyung... aku tidak bermaksud untuk membuatmu ikut bersedih.. aku hanya..." Wonwoo mengangkat wajahnya, ia tersenyum kecil dan menggeleng. "aku mengerti, Gyu..."
Wonwoo bukan orang yang sering menunjukkan ekspresinya –kecuali di hadapan Mingyu, dan menurut Mingyu senyum Wonwoo merupakan senyum termanis yang pernah ia lihat. Meskipun tidak terlalu sering ditunjukkan, namun senyuman wonwoo termasuk senyuman yang menular pada orang-orang di sekitarnya. Itulah mengapa saat ini pun Mingyu ikut tersenyum dan mempererat genggaman tangannya pada tangan Wonwoo.
"hyung... ada hal yang belum pernah aku ceritakan kepada siapapun mengenai kejadian beberapa bulan lalu... saat aku masih tidak sadarkan diri di rumah sakit" ujar Mingyu yang membuat Wonwoo menatapnya dengan tatapan bertanya.
"...saat itu sebenarnya... aku bertemu dengan Jihoon hyung..." suara Mingyu tercekat dan mata Wonwoo terlihat membola tidak percaya.
Airmata terlihat mulai membasahi kedua mata Mingyu, namun Mingyu berusaha untuk menenangkan dirinya sebelum kembali berbicara.
"aku berada di suatu tempat yang tidak aku kenal dan berdiri sendirian di sana. Saat aku merasa kebingungan, aku melihat seseorang dan ketika kami berhadapan ternyata itu adalah Jihoon hyung..."
"Ia... ia tersenyum padaku dan aku berlari kepadanya, memeluknya dan meminta pengampunan atas kebodohanku... tapi apa kau tau apa yang ia lakukan, hyung?" tanya Mingyu dengan senyuman yang terlihat seolah ia sedang mengulang kejadian paling indah dalam hidupnya.
Wonwoo yang sendari tadi berdiri diam dan mendengarkan cerita Mingyu menggelengkan kepalanya pelan, sebenarnya Wonwoo sedikit takut untuk mendengar jawaban dari Mingyu.
Tapi wonwoo tetap bertanya, "apa yang dia lakukan..?"
Senyum di wajah tampan Mingyu semakin mengembang dan berubah menjadi tawa kecil, hal itu membuat Wonwoo semakin bingung.
"dia... dia memukulku dan memarahiku, hyung. Sama seperti saat aku mengganggunya jika kita sedang berkumpul atau latihan. Dia bilang kalau saja saat itu di sana ada gitar atau benda keras lainnya ia pasti sudah memukuliku seperti saat kita trainee dulu." Mendengar hal ini Wonwoo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut tertawa.
Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Jihoon saat memarahi Mingyu. Dan jujur, Wonwoo merindukan saat-saat seperti itu.
"apa yang dia katakan padamu? Kenapa Jihoon memukulmu?" Wonwoo meminta kelanjutan dari cerita Mingyu.
"yang aku lakukan salah, katanya. Dan aku tidak seharusnya ada di sana. Ia juga mengatakan kalau tidak ada yang harus dimaafkan karena menurutnya semua yang terjadi itu bukanlah salahku. Hahaha... bukankah itu lucu hyung? Sudah jelas aku salah tapi Jihoon hyung... ia malah... hahaha"
Wonwoo memandang Mingyu dengan tatapan sedih, karena meskipun saat ini Mingyu terlihat sedang tertawa namun airmata yang mengalir di wajah Mingyu berkata lain. Wonwoo menarik Mingyu ke dalam pelukannya. Wonwoo mengerti penyesalan dalam hati Mingyu tidak akan pernah habis. Meski terlihat baik-baik saja, ia tahu bahwa Mingyu masih menyimpan beban yang cukup berat dalam hatinya.
Wonwoo ingin sekali membantu Mingyu untuk menghilangkan perasaan-perasaan yang menyakitinya itu, namun Wonwoo tidak tahu bagaimana caranya. Ia merutuki ketidakmampuan dirinya dan hal ini membuatnya ikut terluka setiap kali ia melihat Mingyu kembali menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Jihoon.
Saat sudah lebih tenang Mingyu melonggarkan pelukan Wonwoo dan memandangnya dalam.
"tapi hyung... ia juga mengatakan bahwa dibandingkan dirinya, kalian lebih membutuhkanku... KAU lebih membutuhkanku... lagipula Jihoon hyung juga memintaku untuk menyelesaikan lagunya..." Mingyu sengaja memberi penekanan saat ia mengatakan bahwa Wonwoo lebih membutuhkan dirinya.
Sebulir airmata jatuh membasahi pipi Wonwoo saat ia mendengar pernyataan dari Mingyu dan ia kembali merengkuh tubuh Mingyu. "terimakasih karena kau kembali, Gyu –dan aku mohon jangan pergi lagi" Wonwoo bergumam pelan, namun Mingyu dapat mendengar semuanya dengan jelas dan mengangguk sebagai jawabannya.
Mingyu melepaskan pelukan mereka dan menyeka airmata di wajah Wonwoo dengan jemarinya lembut, begitu pun Wonwoo. Mereka saling bertukar senyum. Tak lama kepala mereka berbalik ke arah pintu kamar yang terbuka. Namun, senyum mereka tetap tidak menghilang saat kepala Chan –member termuda mereka, mengintip dari balik pintu dan memberitahu mereka bahwa Seungcheol memanggil mereka untuk segera bergabung dengan yang lainnya.
Wonwoo mengangguk mengerti dan segera menyusul Chan dengan menarik Mingyu di belakangnya. Sebelum keluar dari kamar hotel yang mereka tempati itu Wonwoo sempat berbalik dan melirik singkat sebuah frame foto di samping sebuah bouquet bunga mini –yang bersisi 13 orang pemuda dengan senyuman yang tergambar jelas di wajah masing-masingnya. Pandangan Wonwoo terfokus pada salah satu sosok yang berada di tengah 12 orang lainnya. Dalam hatinya Wonwoo berterima kasih dan berjanji untuk menjaga Mingyu serta Seventeen baik kini maupun sampai seterusnya.
Terima kasih Jihoon. Terima kasih karena telah membawa Mingyu kembali kepada kami. Kepada ku. Kau tahu aku menyayangimu, kan?
-FIN-
a/n : Karena gk suka sama akhir cerita ini kemarin, temenku akhirnya bikin versi "gak sedih-sedih amat" katanya... berhubung dia gk punya acc ffn dan sebenenya cuma suka nulis coretan gak jelas di buku doang jadi dia iya-iya aja pas ditawarin buat upload fic-nya di sini, toh masih satu cerita(?) yang sama...
"Terima kasih yang sudah mau baca"
