Disclaimer: This story is completely based on my imagination. Seventeen belongs to Pledis entertainment. The plot is mine.
Warning : Typo everywhere. Tidak sesuai dengan EYD. Yaoi. Boy x Boy.
Cast :
Kwon Soonyoung & Lee Jihoon (SoonHoon)
Seventeen members
+Happy reading+
Hari ini matahari memilih bersahabat dengan Jihoon. Sinarnya yang masuk ke bumi tidak terlalu menyengat. Ada awan-awan yang berbaik hati menghalangi sinar matahari memapar kulit Jihoon. Namja bermarga Lee itu memilih duduk di bawah pohon rindang dekat kolam lotus.
Di otaknya terdapat banyak hal yang harus ia pikirkan. Tugas kuliahnya, kompetisi Youth Music Festival, dan namja bermata sepuluh lewat sepuluh itu. Dari luar Jihoon memang terlihat tenang. Namun ia gelisah.
Sebuah helaan napas berat keluar dari bibir kucing Jihoon. Mata kecilnya memandang bunga-bunga lotus yang menghiasi kolam yang tidak terlalu luas.
Jihoon bersyukur siang ini tidak terlalu ramai. Pikirannya bisa berkelana jauh. Cukup jauh sampai ia menemukan sebuah nada baru.
Jihoon bersenandung kecil sambil menuliskan beberapa not nada di buku musik putihnya. Ah, Jihoon butuh gitarnya. Namun ia terlalu malas untuk berjalan ke kelasnya.
"Jihoonie, apa yang sedang kau kerjakan?"
Memang Jihoon tidak suka ada orang yang mengganggunya saat ketenangan sedang melandanya, namun untuk orang yang satu ini, Jihoon punya pengecualian.
"Hanya mencoba membuat lagu baru, hyung." Jawab Jihoon saat namja bernama Choi Seungcheol itu mendudukan dirinya di kanan Jihoon.
"Kau bisa membuat lagu? Cool!" Kali ini Seungcheol membawa temannya.
Namja itu berwajah western, namun Jihoon masih bisa melihat garis-garis asia di wajah tampannya.
"Mahasiswa jurusan musik pasti bisa membuat lagu, Vernon-ah." Ucap Seungcheol.
"Call me Hansol. I prefer if you call me with my Korean name, hyung."
Dan Seungcheol hanya mengganguk, lalu menoleh pada Jihoon. "Kenalkan dia Choi Hansol, dari jurusan yang sama dengan ku dan ia seumuran dengan mu."
Hansol, namja western ini mengulurkan tangannya pada Jihoon yang dengan senang hati menyambutnya. "Lee Jihoon imnida."
"Jadi, apa yang sedang anak DKV lakukan disini? Kalian sedang tidak ada kelas?" Jihoon menutup buku musiknya. Mungkin ia akan melanjutkannya nanti.
Seungcheol menggeleng, "Aku sudah janji dengan Junghan akan menemaninya makan siang. Sekalian aku mengajak Hansol berkeliling kampus."
Jihoon mengangguk mengerti. Sebuah pertanyaan muncul. Apakah sepasang kekasih harus janjian makan siang bersama? Dulu sewaktu sekolah menengah atas, Jihoon dan Seungcheol makan siang bersama, namun ada Wonwoo disana dan juga Jun. Oh, jangan lupakan Jisoo. Jadi seingat Jihoon, ia benar-benar tidak pernah makan siang hanya berdua saja dengan Seungcheol dan merasakan dunia hanya milik mereka berdua saja seperti pasangan kebanyakan.
"Jihoon-ah! Beri tahu Seokmin untuk tidak menaruh ponselnya sembarangan! Beruntung aku menemukannya di toilet, jika tidak, ponsel Seokmin akan diambil orang lain!" Suara Seungkwan yang hampir mencapai empat oktav itu mengganggu ketenangan di kolam lotus. "Pasti saat ini ia sedang mencari ponselnya kemana-mana!"
"Seungkwan-ah, bisa kau mengecilkan suaramu?"
"Seungcheol hyung! Mianhamnida!" Seungkwan tersenyum salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Wow! Ada namja western! Apakah ia temanmu hyung?"
Sebelum Seungcheol membuka mulut menjawab Seungkwan, namja western yang Seungkwan maksud sudah berdiri dan mengulurkan tangannya. "Annyeong! Vernon Choi imnida. Kau bisa memanggil ku Hansol."
Mata Seungkwan membulat mendengar logat Korea kental keluar dari mulut Hansol. "Kau orang Korea? Bahkan marga mu sama dengan Seungcheol hyung, apa kah kau sepupu Seungcheol hyung?"
Hansol menggeleng sambil tetap menggengam tangan Seungkwan, "Ani, aku hanya satu jurusan dengan Seungcheol hyung."
"Kau mahasiswa DKV? Kau pasti pintar membuat animasi!" Seru Seungkwan. Namja asal pulau Jeju itu selalu takjub dengan karya animasi Seungcheol. Menurutnya, mahasiswa semester tiga itu sangat handal. Bahkan Seungcheol mempunyai banyak penggemar karena kemampuan dan ketampanannya.
"Ani, aku tidak sehebat Seungcheol hyung, dan aku masih semester satu."
"Jinja?! Kita seumuran ternyata!"
"Ne, dan kau dari jurusan musik seperti Jihoon?"
Seungkwan mengangguk, "Ne! Dari mana kau tahu?"
"Hanya mendengar teriakan mu saja, aku sudah bisa menebaknya."
"Sampai kapan kalian akan berpenggangan tangan?" Goda Jihoon yang sejak tadi memperhatikan aksi dua orang yang baru berkenalan itu. Seungcheol sejak tadi mencoba mencegah Jihoon agar tidak mengganggu mereka, namun Jihoon sudah tidak tahan dengan basa basi Hansol untuk tetap menggenggam tangan Seungkwan. Walau Jihoon tidak mengerti cinta, namun ia tahu jika Hansol menyukai Seungkwan.
Akhirnya genggaman tangan Hansol terlepas. Lebih tepatnya Seungkwan yang melepasnya. Wajah namja bermagar Boo itu bersemu merah. Sedikit malu karena sejak tadi ia tak sadar tangannya digenggam Hansol.
Sama halnya dengan Hansol, namja itu malu walau ia berusaha mati-matian menahan rasa malunya. Ia tidak ingin Seungcheol menggodanya habis-habisan nanti.
"Ponsel Seokmin kau yang pegang atau aku, Jihoon-ah?" Tanya Seungkwan berusaha mengalihkan suasana canggungnya bersama namja yang kurang dari sepuluh menit ia kenal.
"Kau saja." Tepat setelah ucapan Jihoon selesai, ponsel Seokmin bergetar.
Seungkwan membaca nama yang tertera di benda persegi panjang itu. Kim Mingyu.
"Yeoboseo?"
"Yak! Kembali kan ponselku! Dasar pencuri!"
Dalam sekali tebak, Seungkwan tahu jika pemilik teriakan itu ada Lee Seokmin, sang pemilik ponsel hitam tersebut. Seungkwan tidak percaya jika Seokmin mencari ponselnya sampai ke gedung B, tempat Mingyu berada.
"Yak! Aku ini Seungkwan! Boo Seungkwan! Aku menemukan ponselmu di toilet, asal kau tahu saja!" Teriak Seungkwan tak terima dipanggil pencuri. "Sekarang kau dimana eoh?!" Seungkwan kesal, namun ia tetap khawatir pada teman dekatnya itu. Lagi pula, marah Seungkwan hanya sesaat. Terkecuali Seungkwan sudah marah besar. Bahkan Junghan yang berhati malaikat saja tak berani mendekat.
"Jeongmal-yo?! Gomawo Seungkwanie!" Jihoon hanya terkekeh mendengar teriakan Seokmin dari ponselnya. Bisa dibayangkan suara Seokmin sebesar apa.
"Aku ada di gedung B, di lab kimia, bisa kau disini?"
"Yak! Untuk apa kau disana? Mengapa kau tidak ke sini saja, eoh?!"
Terdengar kekehan dari seberang sana. "Ppali! Sekalian kau bisa melihat eksperimen baru Mingyu."
Seungkwan berdengus sebal. Bibirnya maju beberapa senti dan pipinya semakin menggembung. Kebiasa Seungkwan saat sedang kesal. Tanpa namja itu sadari, ada yang terpanah melihat aksi imut seorang Boo Seungkwan. "Arra! Dasar merepotkan!"
Walau mulut Seungkwan menggerutu, namun Jihoon yakin jika namja itu tidak akan tega dan akan menuruti permintaan temannya.
"Aku pergi dulu-"
"Aku ikut!" Sambar Hansol sebelum Seungkwan pamit pergi. Seungkwan memandangnya dengan tatapan bingung. Begitu juga dengan Jihoon dan Seungcheol. "Aku... uhm.. Seungcheol hyung akan makan siang bersama Junghan hyung, dan Jihoon sibuk membuat lagu. Aku tidak ada kelas, jadi tak masalah bukan aku berkeliling kampus bersama mu?"
"Eh?!" Canggung. Seungkwan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Berpikir sejenak. Sepertinya tak masalah jika ia menambah teman baru. Lagi pula, Hansol adalah teman Seungcheol, dan Seungcheol adalah teman Jihoon, dan Jihoon adalah temannya. Jadi mereka semua berteman, pikir Seungkwan seperti anak sekolah dasar yang polos. "Arraseo, kajja!"
Dan mereka pamit pada Jihoon dan Seungcheol. Yang tadi Hansol mengikuti Seungkwan dari belakang, perlahan ia menyamai langkah kaki Seungkwan dan mereka berjalan beriringan.
"Sepertinya akan ada sepasang kekasih baru."
Suara seorang namja mengalihkan tatapan Seungcheol dan Jihoon dari Hansol dan Seungwkan.
"Junghanie." Seungcheol segera berdiri. "Kelasmu sudah selesai?"
Yoon Junghan. Namja berambut panjang sebahu itu tersenyum mengangguk. Senyum yang sangat cantik menurut Jihoon. Tak salah jika Seungcheol bisa jatuh hati pada Junghan.
"Jihoon-ah, kau ingin ikut makan siang bersama kami?" Tawar Junghan.
Jihoon menggeleng, "Dan menjadi penggangu kalian? Tidak, terima kasih."
Sepeninggalan Junghan dan Seungcheol, Jihoon kembali termenung. Apakah memiliki seseorang spesial di sisi mu itu menyenangkan? Jika ya, Jihoon ingin merasakannya bersama Kwon Soonyoung. Nama seorang anak kecil yang berhasil mengisi hati dan pikiran Jihoon selama sepuluh tahun terakhir ini.
Anak kecil? Jihoon rasa waktu sepuluh tahun sudah merubah anak kecil pemilik mata sepuluh lewat sepuluh itu menjadi namja seumuran dirinya. Tentu lebih tinggi darinya.
Seketika Jihoon merasakan rasa rindu. Konyol memang. Tapi jika diberi kesempatan lagi, Jihoon ingin memutar waktu kembali saat Soonyoung kecil benar-benar menghilang.
Saat itu Jihoon masih polos dan tak tahu apa-apa. Yang Jihoon tahu, ia pergi sekolah, lalu belajar dan kemudian bermain bersama dengan Soonyoung kecil. Jika saat itu Jihoon tahu Soonyoung kecil akan pergi, mungkin Jihoon bisa bertanya. Kemana? Sampai kapan? Akankah kembali ke sini lagi dan bermain bersama Jihoon kecil lagi?
Jihoon benar-benar tidak tahu jika Soonyoung kecil akan pergi jauh. Yang Jihoon ingat, seorang ibu muda yang Jihoon ketahui adalah ibu dari Soonyoung kecil datang ke sekolah. Jihoon kecil berpikir jika ia akan menjemput Soonyoung kecil seperti biasa. Namun nyatanya, bukan menjemput Soonyoung kecil pulang ke rumah, melainkan mengajak Soonyoung kecil pergi dari Jihoon entah sampai kapan.
Jihoon pernah iseng mencari nama Kwon Soonyoung di mesin pencari kata internet lalu muncul beberapa link, foto, social media, biodata dan lain-lain. Bingung dan Jihoon itu bukan peramal, jadi Jihoon tidak bisa memprediksikan bagaimana rupa Soonyoung kecil setelah sepuluh tahun belalu.
Konyol memang. Jihoon sadar akan kekonyolannya. Maka dari itu Jihoon hanya berani cerita pada Wonwoo yang setia menjaga rahasianya. Lalu Seungcheol dan Junghan. Jihoon terpaksa cerita agar tidak terjadi kesalah pahaman di antara mereka. Jihoon tidak suka hal yang rumit.
Sebuah helaan napas keluar dari mulut Jihoon. Ia butuh gitarnya sekarang sebelum nada-nada yang ada di otaknya menghilang. Jihoon bisa memperkirakan lagu yang akan ia buat selanjutnya bergenre ballad.
.
.
.
Dosen adalah penguasa waktu bagi Jihoon. Jika Dosen tidak ingin masuk kelas, beliau hanya memberikan tugas. Jika Dosen ingin masuk jam sekian, maka para mahasiswa yang ada di pulau lain pun akan rela berenang menyeberangi lautan demi sebuah absen. Oke, mungkin itu berlebihan namun jika Dosennya killer, jangan harap nilai hadir mendapat B.
Jihoon jarang protes dengan Dosen yang memiliki waktu labil. Kecuali saat Jihoon berada dalam keadaan darurat seperti ada monster di rumahnya atau tidak bisa meninggalkan konser live komposer kesukaannya.
Seperti biasa, Jihoon menjadi orang terakhir yang keluar dari kelas. Seokmin dan Seungkwan sudah pulang lebih awal. Ini Jumat malam, sepertinya Seokmin dan Seungkwan sudah berencana menonton film yang Jihoon tak tahu apa. Jihoon suka film, namun Jihoon tidak seupdate Seungkwan yang harus menjadi orang pertama yang menonton jika ada sebuah film baru muncul di bioskop.
Setelah menutup lokernya, Jihoon menggendong tas gitarnya dan menenteng tas yang berisi buku musik dan laptop kemudian ia berjalan menyusuri lorong gedung C.
Langit sudah gelap. Ia merasa seperti kuliah malam untuk kelas karyawan. Dari luar, Jihoon memang dingin dan acuh, namun jantung Jihoon perlahan berdetak kencang saat mendengar langkah kaki dari ujung lorong. Seingat Jihoon, kelasnya adalah kelas terakhir untuk hari ini dan dirinya lah menjadi orang terakhir ada di wilayah gedung C.
Jihoon berpikir rasional. Mana ada hantu melangkah? Setahunya hantu itu melayang dan tidak menapak tanah kecuali hantu di film.
Sepertinya cara berpikir Jihoon tidak ampuh. Jihoon ingin berlari kencang saat langkah kaki itu semakin mendekat. Oke. Jihoon takut sekarang.
"Jihoon?"
"Aaaaa!" Jihoon hendak berlari saat ada tangan menyentuh bahunya. Namun ia mengurungkan niatnya saat namja itu memanggil namanya. Dan Jihoon kenal suara itu.
Segera Jihoon memutar tubuhnya dan mendapatkan seorang namja tinggi sedang menahan tawanya. "Kau takut, Jihoon-ah?"
Jihoon berdengus kesal dan segera memperbaiki raut wajahnya. "Yak! Jun! Sedang apa anak fakultas bisnis ada di gedung C, eoh?!"
"Kau lucu sekali Jihoon- Akh!" Kesal karena Jun tak berhenti tertawa, Jihoon segera menginjak kaki Jun dengan kuat. "Mianhae!"
Dan akhirnya tawa Jun mereda. "Aku cukup sering datang ke gedung C malam-malam."
Jihoon mendelik, "Untuk apa?"
Lalu Jun mengajak Jihoon menyusuri lorong yang menuju wilayah jurusan performing art. Samar-samar Jihoon melihat ada sinar dari sebuah pintu. Jihoon jarang mengunjungi wilayah kelas performing art karena Jihoon tidak punya teman disana. Oh, ada satu, dan Jihoon juga tidak terlalu dekat, hanya sebatas kenal.
Suara musik dengan beat keras terdengar saat Jun membuka pintu tersebut dan perlahan menunjukkan ada tiga orang sedang berlatih dance. Dan satu dari tiga namja itu adalah namja yang sering menggangu pikiran Jihoon. Namja bermata sepuluh lewat sepuluh.
"Jun!" Panggil namja kurus bermata polos. Dilihat sekilas, Jihoon tahu jika namja itu bukan orang Korea. Terlihat memiliki darah China sama seperti Jun. Namja itu mematikan musiknya.
"Oh? Ada Lee Jihoon hyung?" Kali ini namja bermata sipit yang Jihoon kenal anak jurusan performing art mendekat.
"Kau mengenalnya Chan-ah?" Lee Chan, mahasiswa akselerasi itu mengangguk.
"Tentu, kami pernah bertemu di beberapa acara kampus."
Jun mengangguk mengerti dan mulai memperkenalkan Jihoon. "Jihoon-ah, ini Xu Minghao, mahasiswa jurusan performing art. Ia dari China."
"Annyeong!" Sapa Minghao ramah.
Jihoon hanya tersenyum mengangguk. Ia lebih tertarik dengan namja bermata sepuluh lewat sepuluh yang sejak tadi hanya diam.
"Dan ini Hoshi." Seketika nyawa Jihoon menghilang setengah. Ternyata bukan Kwon Soonyoung. "Hoshi satu jurusan dengan ku dan ia dari Jepang."
Namja bernama Hoshi itu hanya terdiam. Memandangi Jihoon dari bawah sampai atas. Tak ada senyum dari bibirnya untuk sekedar basa basi. Hoshi hanya memasang jawah datar dan terkesan dingin. Membuat Jihoon enggan mendekat atau sekedar menyapa.
"Jadi, sedang apa kalian disini?" Tanya Jihoon menghindari tatapan elang milik Hoshi. "Terutama anak fakultas bisnis?"
"Apakah ada aturan tentang anak fakultas lain tidak boleh mengunjungi gedung fakultas lain?" Ucap Hoshi dingin dan terkesan menusuk. Sungguh awal yang buruk untuk berkenalan, pikir Jihoon.
"Hoshi!" Jun segera memperbaiki suasana. Tak ingin jika ada berita tentang keributan antar mahasiswa beda fakultas besok pagi.
"Aku sering ikut latihan dance bersama Chan dan Minghao." Ujar Jun. "Lalu Hoshi baru pindah dari Jepang dan aku lihat ia ada bakat dance, jadi aku ajak saja ia bergabung."
Jihoon mengangguk paham tanpa melirik sedikit pun pada Hoshi. Jihoon pikir Hoshi adalah orang yang ramah saat minta maaf karena menabrak Jihoon, walau nyatanya Jihoon yang menabrak dan juga berkata Jihoon harus berhati-hati. Nyatanya tidak. Mengapa Hoshi bisa sedingin ini pada Jihoon? Apa Hoshi tidak ingat saat insiden tabrakan kecil itu?
"Kalian sudah minta izin untuk pakai kelas?" Tanya Jihoon berusaha mengabaikan Hoshi yang sejak tadi menatapnya tanpa bicara.
"Aku yang bertanggung jawab." Jawab Lee Chan percaya diri. Chan adalah salah satu murid yang terkenal di kalangan dosen. Mungkin rektor Pledis University juga mengenalnya.
Jihoon kembali mengangguk. Sekilas ia melirik jam analog di ponselnya. Sudah pukul delapan malam. "Kalau begitu, aku harus pulang sekarang."
"Sekarang?" Tanya Minghao, "Tapi ini sudah malam, bahaya jika kau pulang sendirian."
"Benar kata Minghao," Jun angkat suara sebelum Jihoon membuka mulut, "Kami akan latihan sekali lagi dan kita akan pulang bersama."
Jihoon menggeleng cepat. "Tidak perlu. Aku biasa naik bus malam."
"Tetap tidak bisa hyung," Kali ini Chan yang angkat suara. "Kita akan pulang dengan Hoshi hyung."
"Aku bawa mobil." Kalimat kedua yang Jihoon dengar dari Hoshi untuk hari ini. Secara tak langsung, Hoshi membiarkan Jihoon ikut dengannya.
"Baiklah." Apa-apaan itu? Apakah Hoshi punya kepribadian ganda? Sebentar ketus dan sebentar baik. Sangat jauh berbeda dengan Soonyoung kecil yang selalu tersenyum pada Jihoon walau sering menjahili Jihoon kecil sampai Jihoon kecil menangis. Namun itu memori yang tak bisa Jihoon lupakan.
Akhirnya Jihoon memberi kesimpulan. Hoshi bukan Kwon Soonyoung. Walau mata mereka mirip namun kepribadian mereka jauh berbeda.
.
.
.
Mobil sport hitam milik Hoshi melaju dengan kecepatan sedang. Di kanan Hoshi, ada Jun yang sedang bercakap-cakap dengan Minghao di belakangnya, sambil sesekali menyelipkan kosa kata China yang hanya mereka mengerti. Dan di samping Minghao, ada Chan yang sibuk dengan ponselnya. Jihoon yang berada di kanan Chan memilih diam seperti Hoshi yang sedang konstentrasi dengan jalanan.
"Hyung, kita akan lewat restoran Nu'Est tidak?" Tanya Chan pada Hoshi.
"Ada apa?" Hoshi berbalik bertanya sambil sekilas melihat kaca spion tengah.
"Eomma ku menyuhku kesana. Ada acara keluarga mendadak." Jawab Chan sedikit ragu. Pasalnya, Chan menatap mata elang Hoshi dari pantulan kaca spion. Siapa yang tak merinding jika di tatap setajam itu? "Bisa kau antarkan ku sana, hyung?"
"Arraseo." Singkat namun membuat Chan lega.
"Berarti kau bisa mengantar ku setelah itu." Ujar Minghao. "Rumah ku lebih dekat dari sana."
"Lalu rumah ku dan terakhir rumah Jihoon." Jun menambahkan. Sedangkan Hoshi hanya berdeham, seakan sudah paham dengan jalanan kota Seoul walau hanya baru beberapa minggu ada di Seoul.
Dan semua kembali diam tanpa menyadari Jihoon yang hendak protes. Secara tak langsung rute perjalanan di ubah dan mengakibatkan Jihoon menjadi orang terakhir yang di antarkan Hoshi. Bukan masalah pulang lebih malam, namun nanti Jihoon akan berduaan saja dengan Hoshi. Itu terdengar tidak bagus untuk Jihoon. Jika boleh, Jihoon akan turun dengan Chan dan menaiki bus di halte depan restoran Nu'Est.
Namun sayangnya, mobil Hoshi sudah melaju tepat setelah Chan mengucapkan terima kasih pada Hoshi. Mungkin Jihoon akan mencoba di halte dekat rumah Minghao.
Namun sekali lagi, mobil sudah melaju bahkan sebelum Jun menyelesaikan kalimat 'selamat malam' pada Minghao.
Kesempatan terakhir Jihoon ada di halte rumah Jun. Beruntung mobil Hoshi belum melaju setelah Jun hilang dari hadapan mereka.
"Kau. Pindah ke depan." Baru saja Jihoon ingin membuka mulut, Hoshi sudah menyambarnya. Dan, apa Hoshi katakan tadi?!
"Mwo?!" Jihoon terlihat salah tingkah karena hanya tinggal mereka berdua saja di dalam mobil. Di tambah keadaan jalan yang tak terlalu ramai, membuat sunyi cepat melanda mereka.
"Aku akan terlihat seperti supir jika aku duduk di depan sendiri."
Oh ya, tentu. Jihoon paham. Siapa yang ingin dikira supir padahal sebenarnya sedang mengantarkan teman. Dengan patuh Jihoon menurut.
Tin! Jihoon tersentak mendengar klakson mobil saat hendak membuka pintu. Mobil putih melaju dengan kecepatan tinggi. Jika sedikit saja Jihoon lengah, mungkin pintu mobil Hoshi akan rusak tertabrak mobil putih tadi dan Jihoon tidak sanggup menggantinya.
"Lewat tengah saja." Ujar Hoshi tanpa menoleh sedikit pun. "Tubuhmu itu kecil. Pasti muat jika lewat tengah."
"Apa kau bilang?!" Jihoon akui ia memang memiliki tubuh mungil, namun ia tidak suka jika itu dijadikan alasan untuk mengoloknya.
"Aku tidak menghina mu. Aku hanya menawarkan saran." Ucap Hoshi seakan bisa menembak pikiran Jihoon. "Bisa saja kan ada mobil seperti tadi lagi."
"Tidak mung-"
"Cepat pindah." Tidak ada bentakan. Suara Hoshi tidak meninggi namun terkesan dalam dan dingin seakan Hoshi adalah seorang diktator, membuat Jihoon mau tak mau menurut patuh.
Tubuh mungil Jihoon sukses melewati cela kecil itu. Terlihat seperti anak kecil yang tak bisa diam di dalam mobil, yang suka bolak balik depan belakang. Menggemaskan.
Hoshi berdeham. Berusaha mengabaikan rasa yang mengganggu dirinya saat tubuh Jihoon begitu dekat dengannya tadi. "Pakai sabuk pengaman mu." Kemudian Hoshi mulai melajukan kembali mobilnya.
Tak ada yang membuka percakapan di antara mereka. Mata Jihoon enggan menoleh ke kiri sedikit pun. Ia lebih tertarik melihat keadaan jalan yang semakin lama semakin gelap karena di daerah rumah Jihoon hanya ada rumah-rumah, tak ada pertokoan yang membantu menyinari gelap malam.
"Rumah cat coklat." Akhirnya Jihoon membuka suaranya saat mobil Hoshi memasuki gang rumahnya.
"Gitar ku." Mengabaikan ucapan Jihoon, Hoshi turun dan membiarkan Jihoon turun sendiri. Jihoon berdengus. "Ia itu robot atau manusia, eoh?!"
Gitar dan tas Jihoon sudah diturunkan Hoshi dari bagasi mobilnya. "Terima kasih."
"Hmm." Hanya sebuah dehaman singkat sebelum Hoshi masuk ke dalam mobilnya. Tanpa berkata sedikit pun, mobil Hoshi sudah melaju meninggalkan rumah Jihoon.
"Hoshi bukan Kwon Soonyoung. Aku yakin itu!" Jihoon yakin dengan kalimatnya yang ada benarnya juga. Jika Hoshi itu Kwon Soonyoung, mana mungkin ia melupakan Lee Jihoon. Walau mereka kenal hanya satu tahun, tapi setidaknya ada sedikit memori di otak namja pemilik mata sepuluh lewat sepuluh itu. Walau sudah sepuluh tahun, tapi Jihoon saja masih ingat. Dan walau mereka sudah tumbuh dewasa, tapi wajah Jihoon baby face, masih ada garis-garis wajah Jihoon kecil disana, maka kemungkinan seharusnya Soonyoung itu masih bisa mengenali Jihoon.
Jihoon mendesah kasar. Ia mengambil gitar dan tasnya lalu masuk ke dalam rumah kecilnya. Uang dari orang tuanya hanya cukup membeli rumah dengan satu kamar tidur di dalamnya. Lagi pula ini yang Jihoon perlukan. Jihoon tinggal sendiri, jadi ia tak perlu rumah besar. Ingat, Jihoon itu suka ketenangan.
.
.
.
To Be Continue
Note 1 : Terima kasih yang sudah review, maaf aku tidak bisa balas semuanya karena ada beberapa yang tidak masuk ke e-mail ku.
Note 2 : Sebenarnya aku belum terlalu paham dunia perkuliahan karena aku saja baru masuk kuliah tahun ini, jadi maafkan jika ada yang aneh.
Note 3 : Ada yang nanya aku main RP? Ya, unamenya sesuai dengan uname aku disini. Let's have fun chat with me on twitter!
Note 4 : Aku suka VerKwan couple karena mereka couple yang paling 'aman' dan Meanie couple menurut ku mereka bisa masuk ke dalam genre apa saja di FF.
Note 5 : Aku menulis sesuai mood ku, jadi maaf jika tiba-tiba ceritanya tidak jelas atau membosankan. Terima kasih. Aku masih membutuhkan banyak review untuk mengevaluasi diriku sendiri.
