Disclaimer: This story is completely based on my imagination. Seventeen belongs to Pledis entertainment. The plot is mine.

Warning : Typo everywhere. Tidak sesuai dengan EYD. Yaoi. Boy x Boy.

Cast :

Kwon Soonyoung & Lee Jihoon (SoonHoon)

Seventeen members

+Happy reading+

Di lantai dasar gedung serba guna Pledis University berupa loby. Terdapat banyak penghargaan yang menghiasi dinding berwarna kayu. Beberapa foto tentang kegiatan Pledis University tak luput dipajang.

Seulas senyum bangga muncul dari bibir kucing Jihoon saat ia memandang salah satu piagam bertuliskan namanya. Pernah membuat lagu untuk Universitas ternama memang harus diberi penghargaan. Walau Jihoon masih mahasiswa semester satu yang sebentar lagi akan naik semester, namun kemampuan Jihoon tidak bisa diragukan. Salah satu buah manis kemampuannya adalah ia mendapat beasiswa karena memberikan beberapa sertifikat penghargaan dalam bidang musik.

Kaki Jihoon naik ke lantai tiga dimana perpustaka berada. Beruntung gedung serba guna ini mempunyai lift dan eskalator, jika tidak, mungkin kaki orang bisa patah untung mencapai lantai enam, tempat ruang auditorium berada. Lantai dua dan tiga untuk perpustakaan. Lalu lantai empat dan lima untuk ruang meeting, belajar, diskusi dan sebagainya.

Saat Jihoon hendak melanjutkan eskalator ke lantai tiga, matanya menembus dinding kaca dan melihat Mingyu sedang mengambil sebuah buku yang cukup tebal.

Tiba-tiba Jihoon teringat Wonwoo yang sedih karena Mingyu sering mengabaikannya.

Sepertinya niat Jihoon mencari buku sejarah tentang musik harus ditunda. Ia lebih memilih untuk berbicara dengan Mingyu. Hati Jihoon itu lembut seperti kulitnya. Ia tidak tega melihat Wonwoo terus bersedih.

"Mingyu-ya." Jihoon mengambil kursi di depan Mingyu.

"Jihoon?" Mingyu yang sedang menyalin beberapa materi dari buku tebalnya menoleh. "Ingin membaca buku?"

Tentu itu hanya basa-basi Mingyu karena ia sadar Jihoon tak membawa buku di tangannya. Jihoon menggeleng. "Aku ingin bertanya padamu."

Mingyu meletakan pulpennya. "Tanya apa?"

Sejenak Jihoon ragu. Ini masalah pribadi Wonwoo dan Mingyu. Tak seharusnya ia ikut campur. Namun Jihoon hanya ingin membantu. Tidak salah bukan?

"Mengapa kau menjauhi Wonwoo?"

"Aku? Menjauhi Wonwoo?" Dan Jihoon hanya mengangguk. "Ani. Aku tidak menjauhinya."

"Tapi Wonwoo yang bilang seperti itu." Sebenarnya Jihoon juga tak mengerti apa yang ia ingin katakan dan apa yang ia ingin tanya. Ia hanya ingin melihat Mingyu dan Wonwoo bersama lagi. Dengan cara mewakili Wonwoo bertanya pada Mingyu.

"Jeongmal?" Mingyu terdiam. Benarkah Wonwoo merasa Mingyu menghindari? Tapi Mingyu merasa mereka biasa saja. Tak ada yang berbeda. Hanya saja tugas kuliah mereka sama-sama menumpuk dan sebentar lagi ujian kenaikan semester.

"Aku selalu membalas pesan darinya, walau lama, karena aku sibuk di laboratorium."

"Itu!"

"Apa?"

"Karena itu!"

"Itu apa?"

"Kau terlalu sibuk Mingyu-ya." Ujar Jihoon. "Kalian jarang berkomunikasi karena kau terlalu sibuk, Mingyu-ya. Kau tidak memiliki waktu untuk 'kalian'."

"Benarkah? Tapi tak bisakah Wonwoo mengerti jika aku sibuk dengan tugas-tugas ku?"

Jihoon mendesah. Ini perpustakaan, jadi Jihoon tidak bisa meninggikan suaranya untuk mengomeli Mingyu. "Wonwoo itu kekasihmu dan ia adalah manusia yang punya kesabaran." Jihoon bangkit berdiri. "Dan kesabaran ada batasnya."

"Wonwoo merindukan mu, Mingyu-ya." Kalimat terakhir Jihoon sebelum ia pergi dari hadapan Mingyu yang terdiam. Mencerna setiap perkataan Jihoon.

Wonwoo merindukannya? Tapi setiap hari mereka berkomuniskasi. Terkadang Mingyu tidak mengerti apa yang sebenarnya Wonwoo inginkan. Dan terkadang juga Mingyu merasa Wonwoo egois. Namun faktanya, Mingyu sendiri juga egois karena secara tak langsung selalu memaksa Wonwoo untuk mengerti dirinya.

.

.

.

Jihoon memilih tangga yang ada di dalam perpustakaan untuk naik ke ruang perpustakaan di lantai tiga. Jihoon tak peduki jika Mingyu sedang kebingungan. Setidaknya ia sudah berusaha menjelaskan pada Mingyu walau ia keburu emosi karena melihat Mingyu yang egois.

Jihoon berpikir. Serumit ini kah jika mempunyai kekasih? Jika ya, Jihoon akan berpikir dua kali untuk punya kekasih.

Mengabaikan Mingyu, Jihoon berjalan menyusuri lorong perpustakaan. Mencari buku sejarah musik untuk menambah materi ujian.

Minggu depan beberapa jurusan akan melangsungkan ujian kenaikan semester. Dan untuk jurusan musik, akan diadakan minggu depan.

Untuk mempertahankan beasiswa musiknya, Jihoon berusaha keras menjaga nilainya. Tak ingin mengecewakan orang tuanya di Busan.

Beberapa buku yang Jihoon temui menemaninya dalam membuat rangkuman materi. Bagi Jihoon tak ada terlambat untuk belajar walau terkadang moodnya perlu dikontrol agar tidak down.

"Kau rajin sekali, Jihoonie." Seorang namja tiba-tiba saja duduk di depan Jihoon sambil membawa laptopnya. "Memangnya kapan ujian semester mu?"

"Minggu depan hyung." Jihoon mengalihkan pandangannya dari buku kepada seorang namja tampan di depannya.

Choi Seungcheol. Namja itu tersenyum. "Kau mencuri start belajar."

Jihoon membalas senyum seraya mengangguk. "Tentu. Itu lebih baik bukan?"

Seungcheol sudah biasa melihat Jihoon rajin belajar. Dari pertama kali Seungcheol mengenal Jihoon di senior high school, Seungcheol selalu terpanah dengan apa yang dilakukan Jihoon.

Mandiri. Pintar. Pintar dalam bermusik. Oh! Jangan lupakan wajah manisnya. Seungcheol menyukainya. Namun ia sadar jika Jihoon bukan miliknya. Lebih tepatnya hati Jihoon bukan miliknya. Lebih baik berhubungan dekat sebagai teman daripada hati Seungcheol tak terbalas saat mereka mempunyai hubungan kusus.

"Apa yang sedang kau lakukan disini, hyung?" Suara Jihoon mengembalikan kesadaran Seungcheol sebelum namja tampan itu teringat masa lalunya bersama Jihoon.

"Aku habis kerja kelompok di atas. Mau lihat animasi baruku?"

Melihat Jihoon yang bersemangat membuat Seungcheol segera membuka laptopnya. Mata Jihoon berbinar melihat animasi sederhana yang Seungcheol buat. Terlihat menggemaskan.

Dulu Jihoon akan meminta bantuan Seungcheol untuk tugas menggambar dan Seungcheol akan senang hati membantunya. Dan jika ada tugas musik, maka Seungcheol akan meminta bantuan Jihoon.

Jujur. Jika ditanya perasaan Seungcheol kepada Jihoon, perasaan Seungcheol masih seperti dulu. Masih ada rasa sayang pada namja mungil di depannya. Namun semenjak Jihoon menceritakan tentang 'Kwon Soonyoung', perlahan Seungcheol mundur.

Ada Junghan sekarang. Disaat hati Seungcheol bimbang, ada Junghan sebagai jawaban.

Sekarang Seungcheol yakin jika rasa sayang Seungcheol pada Jihoon lebih kepada teman atau adik. Ingat, Jihoon itu mungil, pantas bukan jika jadi adik Seungcheol.

.

.

.

Haus. Mungkin segelas bubble tea bisa menemani Jihoon dalam perjalanan pulang.

"Annyeong Jihoon hyung!" Sapa seorang namja yang diketahui bernama Lee Chan. Ya karena mungkin hanya Lee Chan yang memanggil Jihoon dengan sebutan 'hyung' walau mereka satu tingkat.

"Annyeong. Masih ada kelas?" Jihoon menerima segelas bubble tea lalu menusukan sedotan.

"Tidak, aku hanya menunggu sampai practice room sepi lalu latihan lagi." Jawab Lee Chan setelah memesan beberap minuman. "Hyung mau ikut lagi?"

Dan bertemu dengan Hoshi? Tidak terima kasih. "Tidak, aku ingin pulang."

"Ini masih siang hyung."

"Aku tahu, tapi aku ingin belajar."

"Ujian akhir semester kita masih minggu depan hyung."

"Tidak salahnya kita belajar dari sekarang bukan?"

Dan Lee Chan kalah. Menggangguk sebagai tanda menyerah pada Jihoon. "Kalau begitu, bantu aku membawa ini."

Empat gelas bubble tea telah tersusun di box kecil, dimana masing-masing box berisi dua gelas. Chan menunjukan sebuah plastik besar yang Jihoon yakin berisi makanan di tangan kirinya. Memberi kode jika Chan tidak bisa membawa dua box itu bersama-sama.

"Arraseo." Jihoon mengikuti jejak Chan. "Jadi, kau mau traktir siapa?"

"Aku kalah taruhan dengan Minghao hyung. Ia lebih lama handstan dan aku sudah jatuh duluan." Jihoon hanya terkekeh mendengar taruhan sepele antar mahasiswa jurusan performence art.

Tanpa Jihoon sadari, Chan membawanya ke gedung F, tempat para mahasiwa fakultas bisnis belajar. Dan Jihoon baru ingat jika Hoshi ada di fakultas bisnis saat matanya melihat Hoshi sedang duduk di kiri Jun.

Kesan Jihoon terhadap mata sepuluh lewat sepuluh itu selalu membuat jantung Jihoon berdebar, berharap jika itu pemilik mata itu adalah Kwon Soonyoung, namun debaran itu hilang saat pemilik mata itu adalah Hoshi.

Soonyoung selalu menatapnya dengan lembut dan dalam, berbeda dengan Hoshi yang memandangnya dingin. Jihoon ingin segera pulang sekarang.

"Aku pulang dulu-"

"Kau tidak ikut makan bersama kami?" Tanya Minghao menghentikan Jihoon untuk angkat kaki dari kawasan gedung F.

"Ani, aku bisa makan di rumah." Tolak Jihoon halus.

"Aku membelinya banyak hyung dan aku tidak ingin Jun hyung memakan semua sisanya." Ujar Chan yang langsung mendapat jitakan manis dari Jun.

"Pelit sekali kau Chan!" Jun memberikan sebuat kotak nasi pada Jihoon. "Ayo makan bersama kami."

"Tidak Jun, gomawo." Jihoon masih berusaha menolak secara halus. Ia tidak ingin lama-lama berhadapan dengan Hoshi.

"Apa salahnya makan bersama, eoh?" Namun rasanya orang yang ingin dihindari Jihoon malah berusaha menarik Jihoon secara tak langsung.

Mata mereka bertemu pandang akhirnya setelah Jihoon mati-matian menghindari mata Hoshi.

Jihoon ingin matanya setajam mata Hoshi agar bisa menantang, namun sayang, Jihoon malah terperosok pada dalamnya mata Hoshi dan membuatnya mengambil kotak yang disodori Jun.

"Arraseo." Ucap Jihoon pada akhirnya. "Gomawo Chan." Ini salah satu berhemat, pikir Jihoon, tak ada salahnya menolak walau Jihoon sedikit risih dengan Hoshi.

Mereka makan dengan tenang di teras gedung F. Jihoon mengambil duduk di kanan Chan. Sengaja menjaga jarak dari Hoshi yang sedang mengunyah makanannya.

Setelah makanan mereka habis, Chan, sang magnae bertugas untuk membuang semua sampah makanan.

"Ayo kita ke gedung C. Sepertinya sudah sepi." Ujar Chan setelah kembali dari memilah sampah organik dan non organik.

"Ne dan sepertinya akan turun hujan." Tambah Minghao sambil menengadah langit.

Jihoon mengikuti arah pandang Minghao. Langit di atas mereka berubah menjadi gelap. Awan-awan yang tadi putih bersih berubah menjadi abu-abu dan ada juga yang hitam. Jihoon harus pulang sekarang jika ingin kering saat sampai rumah.

"Aku pulang sekarang." Ucap Jihoon sambil berdiri.

"Ayo bersama kami, sekalian jalan." Ujar Jun mengikuti Jihoon berdiri.

Tepat tiga langkah setelah mereka melewati gedung D sebagai akses jalan, hujan turun dengan tak sabaran.

Jihoon hendak berlari untuk menghindari hujan, namun tiba-tiba tubuhnya terasa kering. Ada sebuah jaket yang menutupi kepalanya.

Jihoon menoleh. Terkejut saat ia sadar Hoshi sedang memayunginya dengan jaket yang lebih besar dari tubuh Jihoon.

"Hoshi?" Tubuh Hoshi basah karena hujan membasahi tubuhnya. Jihoon terhanyut melihat wajah Hoshi yang basah, entah mengapa terlihat tampan dan mata sepuluh lewat sepuluh miliknya mengingatkan Jihoon dengan Kwon Soonyoung. Padahal Jihoon yakin jika Hoshi bukan Kwon Soonyoung. Hanya mata mereka yang mirip.

"Jaket ku ini bukan jas hujan, jadi kau bisa basah jika tak segera berteduh." Hoshi menarik Jihoon ke lapangan basket dengan atap yang tinggi.

Tubuh Hoshi basah kuyup sedangkan Jihoon hanya bagian celananya saja yang basah. Kepala dan tubuh bagian atasnya masih kering karena pertolongan pertama Hoshi.

Hanya tinggal Hoshi dan Jihoon disana. Jun, Minghao, dan Chan sudah berlari menuju gedung C. "Kau baik-baik saja?"

Jihoon terdiam memegangi jaket Hoshi yang basah. Pandangannya kosong karena Hoshi yang biasanya dingin padanya tiba-tiba berubah menjadi penyelamatnya saat hujan. Mood swing kah? Atau kepribadian ganda? Jihoon tidak mengerti Hoshi.

"Yak! Lee Jihoon?"

"Kenapa?" Jihoon menoleh. "Kenapa kau memberikan jaketmu padaku?"

Mata Jihoon itu sipit, kecil, mungil, semungil tubuhnya. Hoshi bisa pastikan jika tubuh Jihoon akan tertutup penuh jika bersembunyi di balik tubuh Hoshi. Dan mata kecil itu berhasil membuat jantungnya derdetak lebih cepat. "Bukannya terima kasih."

Hoshi membuang mukanya. Tak ingin jatuh dalam tatapan seorang Lee Jihoon.

"Tapi kau jadi basah." Jihoon menunduk. "Dan jaketmu jadi basah."

Mata Hoshi melirik Jihoon. Pelan-pelan Hoshi menghela napas. "Kau harus membersihkan jaketku sebagai ucapan terima kasih." Jihoon mengangkat kepalanya. "Aku pergi latihan dulu. Dan jangan sampai terkena hujan."

Jihoon terdiam mendengar kalimat terakhir Hoshi sebelum namja itu berlari menuju gedung C. Ada yang aneh. Suara Hoshi tidak sedingin biasanya.

Hujan yang turun menarik perhatian Jihoon setelah dirinya hanya sendiri di lapangan basket. Hujan. Jujur Jihoon suka hujan. Daripada panas atau salju, Jihoon lebih memilih hujan. Tenang dan sejuk, Jihoon menyukainya.

Namun sayang tubuh Jihoon tidak mendukung kesukaannya itu. Bermain hujan dan terkena hujan terlalu lama memang tak baik. Tubuh Jihoon tidak selemah itu, namun saat tubuhnya, terutama kepalanya terkena hujan sedikit saja, pusing dengan mudah menyerang.

Pusing dan sakit. Maka dari itu Jihoon tak pernah bermain hujan-hujanan sejak kecil. Ia hanya memandang hujan dari jendela rumahnya.

Jihoon ingat Soonyoung kecil setia menemaninya saat menunggu hujan di sekolah. Saat itu mereka sama-sama tidak membawa payung dan ibu mereka yang biasa menjemput mereka sekolah datang terlambat. Tentu karena hujan.

"Hoshi bukan Kwon Soonyoung." Jihoon kembali menyebut kalimat itu. Untuk meyakinkan dirinya jika namja yang tak bisa ditebak itu bukan Soonyoung yang ia tunggu selama ini.

"Mungkin itu karena reflek." Sikap Hoshi yang tiba-tiba memberikan jaketnya pada Jihoon membuat tanda tanya besar.

Yang mengetahui jika Jihoon tak tahan hujan hanya orang tuanya, Wonwoo, Seungcheol, dan Kwon Soonyoung. Bahkan Jun dan Jisoo saja tidak tahu.

Sebuah getaran di saku celana Jihoon menyadarkan. "Yeoboseo?"

"Jihoon-an, sekarang hujan, kau dimana?" Baru saja dipikirkan, Wonwoo sudah meneleponnya. Kebiasaan Wonwoo jika tak berada di dekat Jihoon saat hujan, Wonwoo segera menanyai kabar Jihoon.

"Di lapangan basket, Wonwoo-ya."

"Aku masih ada kelas." Ucap Wonwoo yang Jihoon yakin ada di salah satu ruangan di gedung A. "Jangan sampai terkena hujan, ne? Aku akan menghubungi mu nanti." Lalu Wonwoo menutup sambungan telepon. Sepertinya namja bermarga Jeon itu sangat sibuk.

Tak lama setelah ponsel Jihoon redup, sebuah getaran kembali datang dan menunjukan sebuah pesan. Dari Choi Seungcheol.

"Sekarang hujan. Jangan sampai terkena hujan. Tunggu hujan reda jika kau ingin pulang."

Sepertinya Seungcheol juga sama sibuknya sehingga ia hanya mengirim pesan.

Setelah mengetik balasan untung Seungcheol. Jihoon kembali terdiam.

Jaket hitam milik Hoshi membasahi tangannya. Jihoon harus pulang untuk mencuci jaket Hoshi.

.

Waktu seminggu benar-benar dimanfaatkan Jihoon untuk belajar. Untuk sementara Jihoon menyingkirikan pikirannya untuk membuat lagu dan Hoshi. Jika Hoshi masih berkeliaran di hadapannya, mungkin Jihoon tidak akan bisa menyelesaikan tugas-tugasnya.

Sama halnya dengan Chan, Jun dan Minghao. Untuk satu minggu ke depan, mereka tidak latihan dance.

Semua mahasiswa fakultas seni disibukan dengan ujian kenaikan semester, bersamaan dengan fakultas Bisnis dan Psikologi. Minggu depan jadwalnya jurusan DKV. Jihoon teringat Seungcheol dan Vernon.

Disaat Jihoon selesai dengan ujiannya, ia melihat Junghan ada di kantin sendirian.

"Junghan hyung." Panggil Jihoon yang mengambil tempat di depan Junghan. Diikuti Seungkwan dan Seokmin.

Junghan menyapa ketiga anak seni di depannya. "Bagaimana ujian kalian?"

"Tentu lancar!" Seru Seokmin dengan cengiran khasnya.

"Baguslah!" Junghan tersenyum namun Jihoon yakin ada yang membuat senyumnya tidak seceria biasa.

"Senin, jurusan DKV akan ujian," Junghan memangku kepalanya di tangan. "Lalu minggu depan jurusan ku. Mata pelajaran jurusan perhotelan itu tidak semudah yang kalian kira."

"Oh, jadi selama beberapa minggu kalian tidak memiliki waktu bersama?" Seokmin dengan tak sopan menyeruput orange juice milik Junghan.

Kepala namja cantik itu mengangguk. Ia menghela napas.

"Hansol juga sibuk." Tiba-tiba ketiga pasang mata itu menatap Seungkwan yang secara tak sadar menyebut nama temannya Seungcheol. "Apa?"

"Aigoo! Apa kalian sudah berkencan?" Wajah Junghan yang tadinya cemberut kini berbuah jahil. Junghan sangat mendukung aksi Seungcheol untuk menjodohkan Seungkwan dan Hansol.

"Siapa?" Tanya Seungkwan yang berusaha menutupi rasa malunya namun sangat tak berpengaruh apa-apa saat pipinya bersemu merah.

"Kau dan Hansol." Jawab Jihoon. "Kalian jadi dekat."

"Dan saat Hansol datang ke gedung B, sangat terlihat jika ia menyukai mu, Seungkwan-ah." Tambah Seokmin yang senang menusuk-nusuk bahu Seungkwan dengan telunjuknya.

"Oh? Ada pasangan baru ternyata?" Aksi salah tingkah Seungkwan semakin jadi saat Wonwoo datang sambil membawa buku tebalnya. Jangan lupakan kaca mata bulat yang bertengger di hidung mancungnya. Jihoon yakin teman tampannya itu habis dari perpustakaan, mengingat setelah ujian kenaikan semester untuk jurusan hukum bersamaan dengan jurusan DKV.

"Ani! Kami belum punya hubungan apa-apa!" Seungkwan mengibas-ibaskan tangannya cepat. Ketahuan sekali jika ia menutupi sesuatu.

"Belum? Berarti akan!" Goda Junghan semakin jadi.

"Jadi, sudah sejauh mana hubunganmu dengan namja western itu?" Dan Seungkwan skak mat dengan pertanyaan Wonwoo.

Seungkwan sendiri tidak yakin dengan hubungannya dengan Hansol. Mereka hanya dekat. Sebagai teman. Namun semenjak hari itu, Hansol menjadi orang yang masuk list Seungkwan untuk diperhitungkan. Maksudnya untuk urusan perhatian. Seperti Seungkwan perhatian dengan Seokmin, sahabatnya yang terkadang membuat Seungkwan kesal. Namun untuk Hansol, rasa perhatian itu berbeda. Entahlah, Seungkwan juga tidak mengerti hubungan mereka.

.

.

.

Kaki mungil Jihoon berjalan menuju ruang serba guna. Ia sendiri bingung mengapa harus melewati pintu kanan ruang serba guna. Padahal jika harus melewati gedung E, gedung yang belum lama dibuat, untuk fakultas seni rupa dan design, tempat Seungcheol dan Vernon berada, jaraknya akan semakin singkat.

Namun Jihoon lebih memilih melewati gedung G tempat anak fakultas kedokteran berada. Termasuk Jisoo, jurusan psikolog.

Benar saja, tepat setelah Jihoon melewati gedung G, Jisoo memanggilnya.

"Sedang apa?" Tanya Jisoo dengan senyuman khasnya.

"Ingin ke perpustakaan. Ingin mencari ketenangan." Lalu Jisoo mengajak Jihoon ke belakang kampus. Tempat parkir lebih tepatnya. Jika Jihoon butuh ketenangan, berarti Jihoon sedang dalam mode membuat lagu. Atau Jihoon menenangan pikirannya.

"Karena ujian kita sudah lewat. Ayo kita cari tempat tenang di luar kampus." Jisoo yang mempunyai waktu ujian sama dengan fakulas Seni sudah bisa bebas dari tugas dan ujian. Terlihat senyum lega dari wajahnya yang tampan.

Jihoon menurut. Seluruh tempat tenang di kampus pernah Jihoon duduki. Bahkan sampai ruangan lab Mingyu pun Jihoon pernah masuki. Tak perlu membuat alasan pada Mingyu. Selama Jihoon tidak mengganggu kegiatan Mingyu, tak masalah bagi namja tinggi itu.

"Kalau begitu, sekalian aku bawa gitar ku dan tasku."

Joshua menunggu Jihoon di depan gedung C. Selang beberapa menit, Jihoon keluar dari gedung C lengkap dengan tas gitar dipunggungnya dan tas jinjing yang Jisoo yakin berisi laptop dan buku-buku Jihoon.

Mereka melewati beberapa gedung dan lapangan bola untuk keluar dari gerbang belakang. Sebenarnya tidak bisa disebut gerbang, hanya jalan tembus yang menuju lahan parkir yang luas. Jihoon berani bertaruh jika lapangan parkir ini bisa jadi arena balap, entah itu untuk motor atau mobil.

"Kita mau kemana?"

"Mau ingin kemana? Akan aku antarkan kemanapun kau mau."

Saat Jihoon berpikir untuk menjawab pertanyaan Jisoo, seseorang muncul dan membuyarkan pikiran Jihoon.

Mata sepuluh lewat sepuluh namja itu menatap Jihoon seperti tidak senang. "Jaket ku, sudah?"

Hoshi. Namja itu kembali pada sikapnya yang dingin. Mungkin Jihoon akan bertanya pada Jisoo tentang seseorang kepribadian ganda setelah ini. "Sudah. Tapi aku lupa membawanya."

Jisoo menatap Hoshi dan Jihoon bergantian. Lebih tepatnya sedang menebak apa yang sedang terjadi di antara mereka. Jisoo mengenal Hoshi dari Jun.

"Seminggu ini aku sibuk ujian." Lanjut Jihoon berusaha menjelaskan.

"Selama dua minggu dan kau lupa?" Oke, Jihoon mulai meras aura kegelapan dari Hoshi. "Apa jaketku terlalu besar hingga kau tidak bisa membawanya?"

Dua minggu? Semenjak kejadian 'pertolongan pertama' Hoshi pada Jihoon, sudah dua minggu mereka tidak bertemu. Sepertinya Jihoon terlalu konsen dengan ujiannya hingga lupa dengan Hoshi. Sengaja sepertinya, agar Jihoon dapat mempertahankan nilainya.

Jihoon mendesah kesal. "Akan ku bawa besok."

"Kenapa tidak sekarang?"

"Apa?!" Jihoon memandang Hoshi dengan tatapan tidak percaya. "Tapi aku ingin pergi dengan Jisoo hyung!"

Seketika raut wajah Hoshi berubah marah. Jisoo menangkap gerakan mata Hoshi yang sekilas memandangnya. Terlihat tidak senang. "Tapi aku ingin sekarang."

"Jangan bercanda Hoshi."

Grab! Hoshi dengan sembarangan menarik tangan Jihoon untuk masuk ke dalam mobil sport birunya.

"Apa yang kau lakukan?!" Jisoo tersentak saat mata elang Hoshi menatapnya tajam.

"Maaf sunbaenim." Ucap Hoshi setelah berhasil memasukan Jihoon beserta gitar dan tasnya ke dalam mobilnya.

Hoshi sedikit membungkuk sebelum masuk ke dalam mobilnya. Masih ada rasa hormat pada Jisoo sebagai seniornya.

Jisoo tak berdaya menatap Jihoon yang berusaha membuka pintu mobil Hoshi yang sepertinya sengaja Hoshi kunci. Jisoo hanya memberi Jihoon kode bahwa ia akan menghubungi Jihoon nanti.

.

.

.

Hoshi masih ingat dengan jalan menuju rumah Jihoon yang sejak tadi hanya diam sambil menekuk wajahnya. Namun secara diam-diam, Hoshi tidak berbelok ke arah daerah Jihoon.

Mereka memasuki jalan besar dan Jihoon bergeming. "Kau mau bawa aku kemana?" Tanya Jihoon yang mulai mengikuti nada bicaraa Hoshi. Dingin dan ketus.

"Aku lapar. Ayo makan!" Sungguh Jihoon ingin membawa Hoshi untuk berkonsultasi pada Jisoo. Lihat saja. Tadi jelas-jelas Hoshi terlihat marah dan sekarang namja itu berubah menjadi Hoshi dengan kepribadian nomor dua.

Jihoon memberi kode pada setiap kepribadian Hoshi. Nomor satu untuk Hoshi yang dingin. Nomor dua untuk Hoshi yang seperti sekarang, nada bicaranya melembut dan tatapannya tidak semenusuk nomor satu. Untuk sekarang baru ada dua nomor. Jihoon tidak tahu berapa kepribadian lagi yang akan Hoshi tunjukan.

"Kau belum makan siang, kan? Kau mau makan apa?" Tanya Hoshi sambil fokus menyetir mobil.

"Terserah." Jihoon ingin berteriak, memukul, protes atau apa pun itu sekarang. Jihoon ingin melepaskan diri dari Hoshi, namun entah mengapa rasanya ia tidak bisa. Yang hanya Jihoon lakukan adalah menurut pada Hoshi yang telah membuat dirinya seperti orang bodoh.

.

.

.

Jihoon tetap menekuk wajahnya walau dirinya sudah duduk berhadapan dengan Hoshi di restoran sederhana bergaya rumah Korea zaman dulu.

Rencana Jihoon untuk melanjutkan pembuata lagunya tertunda lagi. Padahal Jihoon pikir jika ada Jisoo, namja bermarga Hong itu bisa membantunya, seperti saat mengaransemen lagu After School. Dan rencananya untuk mencari tempat tenang gagal karena namja bernama Hoshi ini menariknya secara paksa. Perlu di tekankan. Paksa. Tadi Hoshi itu memaksanya.

Walau acara 'Youth Music Festival' masih akhir semester depan, namun Jihoon ingin membuat lagu sebagus mungkin. Bukan mengincar menang, namun ia ingin menunjukan dirinya pada Jung Jinyoung, komposer kesukaannya.

"Kau ingin makan apa?" Tanya Hoshi sambil melihat-lihat menu makanan di tangannya.

"Terserah." Jihoon masih kesal dengan Hoshi. Tangannya sibuk memutar-mutar ponselnya di atas meja. Berharap ada seseorang yang menghubungi. Sekedar melepas jengah bersama namja bipolar di depannya.

Mata elang Hoshi melirik Jihoon. Wajah Jihoon yang ditekuk membuat Hoshi diam-diam tersenyum. Dan bibir kucing milik Jihoon, membuat Hoshi gemas.

Hoshi menutup buku menu lalu memesan makanan entah apa pada pelayan restoran.

"Bagaimana ujian mu?" Tanya Hoshi setelah pelayan pergi.

"Lancar." Jihoon tetap memutar ponselnya tanpa memandang Hoshi.

Sekarang Hoshi dalam mode nomor dua. Jihoon harus hati-hati agar namja di depannya itu tidak tiba-tiba berubah menjadi nomor satu. Tidak ada yang menjadi tameng Jihoon saat Hoshi tiba-tiba mengamuk di depannya.

"Ujian ku juga lancar." Jihoon menghentikan putaran ponselnya. Menatap Hoshi dengan wajah bingungnya. Siapa yang bertanya padanya?

Sepertinya Jihoon lebih terbiasa dengan kepribadian Hoshi nomor satu karena sikap Hoshi yang ramah padanya membuat Jihoon merinding.

Wajah Hoshi tidak tersenyum namun garis wajahnya tidak segarang biasanya. Oh tidak. Mata sepuluh lewat sepuluh milik Hoshi menatap Jihoon hangat, tidak semenusuk biasanya. Haruskah Jihoon lega? Entah lah. Jihoon sendiri bingung.

"Bagus kalau begitu." Ujar Jihoon sambil menutupi kecanggungnya pada Hoshi.

"Tapi rasanya aku ingin mati." Sorot mata Hoshi seketika meredup. Walau Jihoon bukan anak jurusan psikologi seperti Jisoo, namun Jihoon tahu jika Hoshi menyembunyikan kesedihan.

"Jangan bicara yang tidak-tidak." Jihoon itu sensitif dengan yang namanya 'kematian'. Entah itu meninggal, acara pemakaman, orang yang frustasi hingga ingin bunuh diri, sesuatu yang berbau horror atau mistis, sejenisnya, Jihoon tidak suka itu. Ia ingin membuang jauh-jauh hal-hal yang berbau seperti itu. Tidak perlu dipikirkan. Jihoon yakin semua sudah direncanakan oleh Tuhan.

"Rasanya dadaku sakit saat mengikuti ujian." Hoshi tersenyum miris.

"Kenapa?" Jihoon mulai mendengarkan cerita Hoshi.

"Aku pulang ke Korea karena aku tidak ingin terkekang oleh ayah ku." Hoshi mulai bercerita. "Aku tahu orang Jepang gila kerja, tapi tetap saja ia tidak bisa memaksaku seenaknya."

"Aku memilih pulang ke Korea dengan kesepakatan masuk jurusan bisnis sesuai yang ayahku mau. Setidaknya di Korea aku bisa melakukan apapun yang aku suka walau jurusan kuliahku seperti perlahan membunuhku."

"Ibu mu tidak berkata apa-apa?"

Hoshi menggeleng. "Ibu ku tahu apa yang aku inginkan, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ayah tiriku yang berkuasa."

"Ayah tiri?!" Mata Jihoon membesar walau tidak sepenuhnya besar.

Hoshi mengangguk. "Ibuku menikah lagi dengan orang Jepang saat umurku delapan tahun. Tepatnya setelah ayah ku meninggal saat di rawat di Jepang."

Perlahan Jihoon mengerti bagaimana cara hidup Hoshi yang rumit. Jisoo pernah bilang, broken home, apa pun jenisnya, pasti berpengaruh kepada sikap kepribadian seseorang. Mungkin itu sebabnya Hoshi mempunyai kepribadian ganda.

"Dan aku besar di Jepang." Hoshi menatap Jihoon. Namja itu tahu jika Jihoon merasakan kesedihan yang ia rasakan. Jihoon itu sebenarnya orang yang tidak tegaan. Walau dingin di luar, rasa simpati Jihoon itu tinggi, hanya saja ia malu menunjukannya. Hoshi senang saat Jihoon mengangguk, tanda ia mengerti cerita Hoshi.

"Setidaknya aku bisa dance di Korea." Hoshi tersenyum. Baru pertama kali ini Jihoon melihat senyum Hoshi. Tidak lebar. Hanya sedikit untuk menunjukan jika dirinya baik-baik saja, walau Jihoon yakin banyak luka di hatinya.

"Kau menyukai dance?" Hoshi menggangguk antusias. Seperti anak kecil yang innocent bagi Jihoon. Lalu Jihoon teringat dengan 'Youth Music Festival', mungkin akan ia sarankan Hoshi dan kelompoknya ikut acara itu. Tapi nanti, setelah pengumuman acara itu muncul.

"Jika bisa, aku ingin menujukan pada ayah tiriku jika aku bisa menjadi super star karena dance-ku." Rasa benci Jihoon pada Hoshi perlahan berkurang. Sekarang, rasanya Jihoon ingin membantu Hoshi mewujudkan mimpinya.

"Kau pasti bisa menjadi super star." Sama seperti Jihoon, Hoshi baru pertama kali melihat senyum Jihoon di depannya, dan kali ini senyum untuk dirinya. Desiran hangat melewati hati Hoshi membuat dirinya teringat akan sesuatu.

"Ini pesanan anda." Seorang pelayan membuyarkan rasa hangat yang baru tercipta antara Jihoon dan Hoshi. Dengan hati-hati pelayan itu meletakan satu mangkuk bimbimbab, satu gelas air putih di depan Hoshi dan satu mangkuk jajangmyeon, satu gelas green tea di depan Jihoon.

Mata Jihoon berbinar melihat jajangmyeon di depannya. Sepertinya sudah lama ia tidak makan jajangmyeon di restoran. Yang ia makan hanyalah jajangmyeon di kantin dengan rasa yang biasa. Jihoon segera mengaduk rata jajangmyeon yang bisa dibilang dalam porsi yang besar.

"Jal meokgeseumnida!" Sebuah suapan besar mie hitam masuk ke dalam mulut kecil Jihoon.

Hoshi hanya terkekeh melihat betapa laparnya Jihoon. Di tambah sedikit noda hitam di sudut bibirnya membuat Jihoon terlihat seperti anak kecil yang baru belajar makan.

"Kau pesan bimbimbab?" Tanya Jihoon setelah sukses menelan satu suapan besarnya.

"Ne, kau mau coba?"

Jihoon menggeleng. "Tapi kenapa kau memesakan jajangmyeon untukku?"

Hanya lima detik Hoshi terdiam memandang Jihoon yang bertanya demikian. "Ku pikir kau suka jajangmyeon."

"Dari mana kau tahu aku suka jajangmyeon?" Kini Jihoon lebih terlihat seperti wartawan di depan Hoshi.

"Hanya menebak." Jawab Hoshi cepat. "Makan lah dengan tenang, Jihoon."

Melihat Hoshi yang mulai makan, Jihoon menuruti perintah Hoshi. Melupakan pertanyaan terakhirnya dan makan dengan tenang.

.

.

.

Setelah Hoshi membayar di kasir, mobil sport biru Hoshi langsung membawa Jihoon ke rumahnya. Perut Jihoon sudah terisi penuh, itu artinya persediaan ramyeon instan Jihoon tidak berkurang. Ia masih bisa berhemat untuk beberapa hari ke depan.

"Tadi kau ingin pergi kemana dengan Jisoo sunbae?" Tanya Hoshi yang fokus melihat jalan.

"Tidak tahu." Jawab Jihoon. "Aku ingin mencari tempat yang tenang dan Jisoo hyung bersedia mengantarkan ku kemana pun."

Jihoon mendengar dengusan dari Hoshi walau tidak terlalu jelas. Wajah namja itu terlalu lurus ke depan. Melihat jalan. Jadi Jihoon hanya bisa melihat sisi kanan namja itu.

"Untuk apa mencari tempat yang tenang?" Tanya Hoshi berusaha untuk tidak mengeluarkan nada ketusnya pada Jihoon. Atmosfer di antara mereka sedang tenang dan Hoshi tidak ingin mengacaukannya.

"Untuk membuat lagu. Suasana tenang bisa memberiku ide-ide untuk menciptakan nada baru."

Seketika dalam mobil Hoshi menjadi sunyi, namum itu tidak berlangsung lama saat Hoshi kembali membuka suara. "Kalau begitu, kapan-kapan kita mencari tempat yang tenang."

Jihoon ragu dengan tawaran Hoshi. Sekarang Hoshi dalam mode nomor dua maka ia berkata seperti itu. Jika besok Hoshi dalam mode nomor satu, Jihoon yakin ia akan melupakan tawarannya itu. Jihoon tidak ingin terlalu berharap, maka ia hanya menjawab, "Baiklah."

.

.

.

Mobil sport biru milik Hoshi terpakir di depan rumah kecil Jihoon. Sang pemilik rumah mempersilahkan namja bermata sepuluh lewat sepuluh itu untuk masuk.

Hoshi memilih untuk mengelilingi isi rumah kecil itu. Hanya ada satu ruang tamu, satu dapur, satu kamar mandi, satu ruang tidur dan satu sekat kecil yang digunakan Jihoon untuk menaruh beberapa barang.

Selama Jihoon masuk ke kamarnya untuk mengambil jaket Hoshi, namja itu menunggu Jihoon sambil melihat beberapa deret foto yang terpajang di salah satu dinding dekat dapur.

Seulas senyum terukir di bibir Hoshi saat ia melihat ada foto Jihoon kecil. Pipi chuby, wajah bulat, mata sipit, sangat menggemaskan. Lalu ada foto Jihoon yang mulai beranjak remaja. Wajahnya tidak berbeda jauh dengan wajah Jihoon yang sekarang. Mungkin Hoshi akan menyebut Jihoon baby face.

Kemudian ada foto Jihoon bersama kedua orang tuanya, Jihoon bersama teman-temannya dan Jihoon bersama seorang anak kecil.

Dalam foto tersebut, dua anak kecil itu berdiri dengan seragam sekolah yang sama. Namja yang lebih tinggi dari Jihoon itu merangkul bahu Jihoon. Sedangkan Jihoon hanya memberi tanda 'V' pada kedua tangannya. Senyum khas milik anak kecil begitu terpancar. Bisa Hoshi rasanya betapa bahagianya dua anak kecil tersebut.

"Ini jaket mu." Suara Jihoon membuat Hoshi menarik diri dari kegiatan 'melihat-lihat-foto-Jihoon'.

"Tidak bisakah kau memasukannya ke dalam tas, atau kantong, atau box jika ada?"

Jihoon hanya berdengus lalu kembali ke dalam kamarnya. Diam-diam Hoshi dengan cepat mengambil foto Jihoon kecil bersama namja kecil yang merangkulnya.

Kemudian Jihoon keluar dengan jaket Hoshi yang sudah rapi di lipat dalam paper bag bergambar pororo. "Ini."

Hoshi menerimanya. "Terima kasih."

Sebelum Hoshi keluar dari rumah Jihoon, ia bertanya. "Jihoon-ah, apa kau bisa bahasa Jepang?"

Jihoon yang berdiri di ambang pintu menggeleng. "Tidak, kenapa?"

Alih-alih menjawab, Hoshi pamit pulang pada Jihoon. Ia segera menjalankan mobilnya setelah tersenyum sekilas pada Jihoon.

"Aku hanya bisa tiga bahasa, Korea, Inggris dan Busan." Kemudian Jihoon masuk ke dalam rumahnya.

.

To Be Continue

Note 1 : Chapter ini lebih panjang dari sebelumnya, jadi aku harap reviewnya juga lebih banyak hehehe. Sebenarnya cerita ini singkat. Tidak sampai belasan chapter. Mungkin di bawah sepuluh chapter. Dan sebenarnya aku selesai mengetik FF ini sampai tamat dan awalnya aku tidak buat per-chapter, jadi aku sedikit kesulitan untuk membagi porsi cerita dalam chapter.

Note 2 : Aku sengaja tidak menceritakan sudut pandang dari Hoshi. Sengaja agar readers penasaran hehehe. Dan lagi pula, ini penggambaran cerita asliku, walau hanya 40% perasamaannya. Jihoon itu aku dan Hoshi itj first love aku. Jadi aku tidak bisa menebak sudut pandang cinga pertama ku.

Note 3 : Jangan bosan bosan bacanya. Terima kasih yang sudah mau baca, fav, follow dan review. Aku tetap membutuhkan review untuk mengintropeksi diriku.

Aju NICE!