Disclaimer: This story is completely based on my imagination. Seventeen belongs to Pledis entertainment. The plot is mine.
Warning : Typo everywhere. Tidak sesuai dengan EYD. Yaoi. Boy x Boy.
Cast :
Kwon Soonyoung & Lee Jihoon (SoonHoon)
Seventeen members
+ Happy reading +
Setelah ujian selesai, Jihoon masih tetap datang ke kampus. Ia lebih memilih menggunakan fasilitas kampusnya yang super lengkap daripada harus berdiam diri di rumah. Setidaknya Jihoon tidak harus datang ke kampus dengan waktu yang ditentukan dosen.
Jihoon duduk di pinggir kolam lotus. Gemericik air dari air mancur di tengah kolam membuat suasana menjadi lebih tentram. Siang ini, matahari mengalah lagi pada Jihoon atau lebih tepatnya memberi Jihoon kedamaian setelah ujian berakhir.
Bisa Jihoon tebak teman-temannya yang lain sedang fokus untuk belajar dan ada juga yang sedang ujian. Jangan masukan Seokmin dan Seungkwan. Bisa Jihoon pastikan kedua temannya itu ada yang sedang bermalas-malasan di atas tempat tidurnya dan ada sedang pergi ke sesuatu tempat, mall misalnya, itu khusus Seungkwan.
Jihoon ingin dua temannya itu membantunya dalam membuat lagu, namun entah mengapa untuk kali ini Jihoon ingin pure semua ia yang buat. Nada, lirik, apa pun itu, Jihoon ingin semua ia yang buat. Jihoon tidak egois atau sombong, hanya saja ia ingin. Sedikit bantuan tak masalah bagi Jihoon.
"Sepertinya aku ingin putus."
"Apa?!" Kedatangan Wonwoo yang tiba-tiba membuat Jihoon hampir terjungkal ke belakang. Dan, apa?! Putus?! Jihoon tahu pasti ini tentang Mingyu.
"Aku lelah. Dan rasanya Mingyu juga lelah." Kepala Wonwoo tertunduk. Berulang kali helaan napas keluar dari mulutnya. Jihoon tahu jika Wonwoo sedang menahan rasa perihnya.
"Aku sudah cukup bertahan. Aku sudah bersikap sebiasa mungkin. Aku sudah coba memberi Mingyu waktu. Dan hasilnya?" Wonwoo tersenyum miris. "Tak ada perubahan, Jihoon. Aku tak sanggup lagi."
"Wonwoo-ya..."
"Aku rasa Mingyu sudah tidak mencintai ku lagi." Sebulir air mata meluncur indah dari mata Wonwoo.
Jihoon tak tahan. Segera ia merangkul Wonwoo. Memberi sedikit pelukan, mencoba menenangkan Wonwoo. "Haruskah? Aku lebih suka jika kalian bersama."
Wonwoo menggeleng dalam diamnya. Menahan air matanya untuk tidak jatuh lagi. Menahan getara tubuhnya agar tidak terlihat lemah.
"Bicarakan baik-baik lagi dan sepertinya kalia butuh waktu istirahat."
Jihoon melepaskan pelukannya. Memandang wajah Wonwoo yang terlihat sayu. "Maksudnya, kalian jangan saling berhubungan dulu. Kita lihat Mingyu tahan atau tidak. Jika ia benar masih mencintaimu, pasti Mingyu akan kembali kepadamu."
"Kalau tidak?"
"Kau sanggup melepasnya?"
Wonwoo kembali terdiam dan tanpa sadar ia menahan napasnya. Sungguh Wonwoo tidak ingin kehilangan namja yang pertama kali ia kenal saat menginjakan kaki di Pledis University, selain Jihoon dan Seungcheol.
Kim Mingyu adalah sosok yang sempurna. Semua hal ia bisa lakukan, dari mulai memasak hingga bereksperimen di laboratorum gedung B. Namun sosok yang terlalu sempurna itu terkadang membuat Wonwoo minder.
Dibanding dirinya, Mingyu jauh di atasnya. Walau dalam segi fisik Wonwoo tak kalah dengan Mingyu, namun dalam hal sikap, Mingyu lebih kekanakan, egois dan... entah lah.
Jika mencintai ada pasal yang mengaturnya, sepertinya Wonwoo dan Mingyu akan mendapat hukuman berat.
Wonwoo benci dengan pernyataan dirinya yang mencintai Mingyu. Yang menyatakan perasaan pertama kali itu Mingyu. Namun sampai saat ini Wonwoo tidak yakin apakah Mingyu mencintainya seperti Wonwoo mencintai Mingyu.
"Siap tak siap, toh aku akan kehilangannya." Dan Wonwoo pasrah. Ia kalah dengan perasaan. Ini lebih rumit daripada tugas kasus yang ia sering dapat dari dosen. Lebih rumit daripada debat tentang pasal hukum. Mungkin ini serumit hubungan percintaan Jihoon. Oh tidak. Wonwoo tidak ingin membangunkan macan berwajah puppy di depannya.
"Jangan sebut kata putus. Biarkan hubungan kalian seperti air mengalir di sungai Han."
Wonwoo mengangguk. Ia harus menjauhkan masalahnya dengan Mingyu sejenak, jika ia ingin lulus ujian kenaikan semester dengan baik.
.
.
.
Sebuah lagu mungkin bisa membangkitkan semangat Wonwoo. Namja yang lebih pendek dari Wonwoo itu mengajaknya ke ruang musik di gedung C. Jihoon ingat kata Jisoo jika musik bisa mengatur mood seseorang.
Saat Jihoon dan Wonwoo berjalan di lorong, seorang namja berjalan berlawanan dengan mereka. Gedung C memang sepi karena ujian sudah selesai. Dan Jihoon tahu sedang apa namja yang lebih muda satu tahun darinya itu.
"Jihoon hyung!" Sapa Chan. "Sedang apa kau disini?"
"Memanfaatkan fasilitas kampus," Jawab Jihoon. "Kau juga bukan?"
Chan menampakan deretan giginya yang putih. Mata Chan melirik ke arah Wonwoo. "Teman mu hyung?"
Jihoon hampir lupa memperkenalkan Wonwoo pada Chan. Jihoon pernah bercerita pada Wonwoo tentang Chan dan kelompoknya. Termasuk Hoshi. Namja itu tak akan pernah terlewat sebagai bahan curhatan Jihoon pada Wonwoo.
"Ini Jeon Wonwoo, teman ku."
"Annyeonghaseo. Lee Chan imnida, dari jurusan performing art." Chan sedikit membungkuk sopan.
"Aku Jeon Wonwoo dari fakultas Hukum. Dan jangan terlalu formal padaku, Chan-ah." Wonwoo tersenyum ramah pada Chan.
"Kalian ingin lihat kami latihan? Hoshi hyung menciptakan gerakan baru!"
Hoshi? Namja bermata sepuluh lewat sepuluh itu ada disini? Beberapa hari lalu Hoshi berkepribadian nomor dua. Jihoon ragu. Sepertinya hari ini Hoshi dalam mode nomor satu.
Dan benar saja. Setelah Wonwoo mengiyakan tawaran Chan, mereka bertemu dengan Minghao, Jun dan Hoshi di salah satu practice room. Saat itu wajah Hoshi sedang dingin. Walau tidak seemo wajah Wonwoo namun Jihoon yakin Hoshi dalam mode nomor satu. Mata elangnya menatap dirinya dan Wonwoo tajam.
"Jihoon! Wonwoo!" Sapa Jun lalu mematikan musik.
Wonwoo memang belum pernah bertemu secara langsung dengan teman-teman baru Jihoon, namun menurut cerita Jihoon, Wonwoo bisa membedakan yang mana Minghao dan yang mana Hoshi.
Mata Minghao menyiratkan kepolosan. Sedangkan mata Hoshi seakan siap menusuk Wonwoo kapan saja.
"Ini Jeon Wonwoo. Teman sekolah ku dulu." Jun memperkenalkan Wonwoo pada Minghao dan Hoshi.
"Jeon Wonwoo dari fakultas Hukum." Wonwoo sedikit membungkuk.
Wonwoo tak berani menatap Hoshi. Ia lebih senang menatap Minghao yang menurutnya menggemaskan dan tampan di saat yang bersamaan.
"Sedang apa kalian disini?" Tanya Jun saat mereka sudah duduk di lantai.
"Memberi hiburan sedikit pada Wonwoo yang sedang sakit hati." Ujar Jihoon yang sukses mendapatkan pukulan di lengannya.
"Sakit hati kenapa?" Tanya Minghao polos.
"Kau bertengkar dengan Mingyu?" Tanya Jun yang mendapat anggukan dari Wonwoo.
"Siapa Mingyu?" Kini Chan yang bertanya.
"Pacar Wonwoo." Jawab Jihoon mewakili Wonwoo yang sedikit malu karena masalah pribadinya menjadi bahan perbincangan.
Sekilas ujung mata Wonwoo menangkap Hoshi yang menaikan alisnya, lalu mengangguk kecil. Mata sepuluh lewat sepuluh milik Hoshi kini tidak memandang Wonwoo setajam tadi.
"Fakultas hukum akan ujian bukan? Kau lebih baik memikirkan ujianmu daripada kekasihmu." Sekarang Wonwoo merasakan apa yang Jihoon maksud. Hoshi yang bipolar. Membuatnya menyerngit ngeri.
"Ne, tentu saja. Gomawo."
Kemudian muncul getaran dari ponsel Wonwoo dan menunjukan sebuah pesan. Mata Wonwoo membulat membaca pesan singkat tersebut. "Aku harus pergi sekarang!" Wonwoo segara bangkit berdiri.
"Ada apa?" Tanya Jihoon.
"Dosen Nam tiba-tiba datang. Aku harus kumpulkan laporanku!" Setelah Wonwoo pamit, ia segera berlari keluar dari practice room.
Mengingat hanya dirinya sendiri yang tak berkepentingan, Jihoon ingin segera menyusul Wonwoo keluar dari ruangan itu.
"Kau mau kemana?" Tanya Minghao yang berjalan menuju speaker.
"Aku ingin ke ruang mu-"
"Hyung, bukan kah kau bilang ingin melihat gerakan baru yang dibuat Hoshi hyung?"
Jihoon ingin protes dengan perkataan Chan. Bukan dirinya, namun Wonwoo yang ingin lihat. Itu pun Jihoon yakin hanya sekedar basa-basi Wonwoo.
"Duduk lah dan lihat." Ucap Hoshi menghentikan aksi Jihoon untuk melanglah keluar ruangan.
Seperti biasa. Otak Jihoon bilang 'tidak' namun hatinya dengan mudah menurut dengan perkataan Hoshi. Maka berakhirlah Jihoon duduk bersandar di salah satu dinding kaca.
Di depannya, empat namja itu siap dalam sebuah formasi. Saat lagu mulai mengalun, satu persatu dari mereka bergerak mengikuti beat musik.
Gerakan sederhana menurut Jihoon, namun Hoshi berhasil membuatnya indah. Rapi dan teratur. Jihoon suka itu. Oh! Jangan lupakan ekspresi mereka. Image cool begitu terpancar dari empat namja yang mempunyai ketampanan masing-masing.
Terutama Hoshi. Saat ada bagian dimana semua member membelakangi Jihoon, kemudian kepala mereka menoleh ke belakang.
Deg. Mata Hoshi tepat menatap Jihoon sampai membuat namja mungil itu menahan napasnya.
Kejadian itu sama persis seperti kejadian sepuluh tahun lalu. Saat Jihoon terakhir kali melihat Soonyoung kecil.
Saat itu tangan Soonyoung kecil digenggam oleh ibunya untuk pulang. Seperti biasa, Jihoon selalu berkata 'sampai jumpa' pada Soonyoung kecil saat mereka hendak pulang sekolah.
Bedanya, saat itu ibu Soonyoung seakan membawa Soonyoung kecil dengan terburu-buru. Soonyoung kecil sempat melambaikan tangannya pada Jihoon, namun ibu Soonyoung menarik Soonyoung kecil untuk berjalan lebih cepat lalu berkata sesuatu.
Setelah perkataan ibu Soonyoung selesai, Soonyoung kecil menoleh ke belakang. Menatap Jihoon dengan tatapan yang Jihoon tak bisa artikan.
Mata sepuluh lewat sepuluh milik Soonyoung kecil kini berganti dengan mata sepuluh lewat sepuluh milik Hoshi.
Sakit. Ada sesuatu yang menusuk di relung hati Jihoon. Rasanya Jihoon ingin menangis. Bodohkan dirinya menunggu seseorang yang ia sendiri tidak tahu keberadaannya sekarang?
Konyol. Jihoon selalu menyebut dirinya konyol. Cerita konyol Jihoon bahkan berhasil melewati Seungcheol yang teramat baik dengannya. Bahkan Jihoon pernah menutup hatinya pada kebaikan Jisoo. Bisa saja Jihoon jatuh cinta pada Jisoo yang sama baiknya seperti Seungcheol, namun karena alasan 'Kwon Soonyoung', Jihoon menganggap Jisoo itu temannya. Hanya sebatas teman dan 'hyung' yang dekat dengannya.
"Bagaimana hyung?" Suara Chan berhasil menarik Jihoon dari kenangannya bersama Soonyoung kecil.
Sebuah senyum diberikan Jihoon. "Daebak! Keren. Aku suka." Seru Jihoon yang sebenarnya melewati bagian akhir gerakan tersebut.
"Terima kasih." Jihoon melirik Hoshi yang meneguk air mineralnya. Oh ya, Jihoon hampir lupa jika yang buat gerakan adalah Hoshi, jadi secara tak langsung Jihoon memuji Hoshi.
"Kalau begitu, aku ke ruang musik dulu." Jihoon bangkit.
"Buru-buru sekali." Ujar Jun.
"Aku harus segera menulis lagu sebelum nada-nada di otakku menghilang." Dan Jihoon menghilang di balik pintu practice room.
"Menghilang." Guman Hoshi sangat pelan lalu tersenyum singkat.
.
.
.
Hari ini Jihoon tidak membawa gitarnya karena ia pikir ia dapat dengan puas memakai fasilitas di ruang musik. Tas yang sejak tadi Jihoon bawa, ia taruh di atas speaker besar.
Tubuh mungilnya ia dudukan di kursi depan sebuah keyboard. Jari-jari lentik Jihoon bermain di atas tuts-tuts putih. Entah nada apa yang Jihoon mainkan. Pikirannya kosong.
Sebuah desahan berat keluar dari bibir kucing milik Jihoon.
Bodoh. Konyol. Oh ayolah, Lee Jihoon adalah namja yang hampir menginjak umur sembilan belas tahun. Sudah sepuluh tahun lebih Jihoon terperangkap dalam pikiran konyolnya.
Sudah berapa kali Jihoon melewati kesempatan untuk mengantikan posisi seorang Kwon Soonyoung.
Jihoon tersenyum miris. Sepertinya semua sia-sia. Kwon Soonyoung bagaikan hilang ditelan bumi. Jihoon pernah berfantasi jika Kwon Soonyoung dibawa oleh ibunya untuk masuk ke dalam blackhole dan tak bisa kembali lagi.
Jihoon ingin menyerah. Terutama saat melihat Hoshi. Namja itu membuat bayangan Kwon Soonyoung menjadi kabur.
Bagaikan sebuah film dengan kaset rusak, terkadang wajah Hoshi selalu berganti dengan wajah Kwon Soonyoung. Lucu. Jihoon merasa geli saat menyadari betapa dirinya terlalu terobsesi dengan yang namanya Kwon Soonyoung.
Setiap tempat baru yang Jihoon datangi, hal yang tak pernah absen dalam otak Jihoon adalah, 'Adakah Kwon Soonyoung disini?'
Mata berbentuk jam sepuluh lewat sepuluh sering Jihoon temui. Dan Jihoon selalu memastikan jika itu bukan Kwon Soonyoung yang ia cari.
"Hoshi bukan Kwon Soonyoung." Guman Jihoon. Sama seperti halnya Hoshi. Namja itu memiliki kepribadian yang jauh beda dengan Soonyoung.
Fisik mereka hampir mirip. Bahkan mata Hoshi bagaikan duplikat Kwon Soonyoung.
Jika Hoshi adalah Kwon Soonyoung, mengapa ia tidak bisa mengingat Jihoon? Atau ia mengalami amnesia? Tapi dari cerita Hoshi, namja itu bahkan mengingat masa kecilnya saat ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi dengan orang Jepang.
Haruskah Jihoon menyerah untuk mencari Kwon Soonyoung dan membuka hatinya untuk siapa pun yang bisa mengalihkan dunianya seperti Soonyoung?
"Kau bilang ingin membuat lagu." Panjang umur, celetukan yang selalu diucapkan orang saat sesorang yang dipikirkan atau dibicarakan tiba-tiba muncul. Mungkin Hoshi akan panjang umur.
Jihoon menoleh pada Hoshi yang berjalan mendekat ke arahnya. "Sedang apa kau disini?"
"Aku penasaran bagaimana seseorang membuat lagu." Jawab Hoshi. Namja yang lebih tinggi dari Jihoon itu menarik kursi untuk berhadapan dengan Jihoon, dimana keyboard sebagai pembatas mereka.
"Kau tidak latihan?"
"Kami sedang istirahat."
Kepala Jihoon hanya mengangguk menanggapi.
Sunyi. Mereka sama-sama terdiam. Hoshi tidak suka dengan rasa canggung yang perlahan muncul. "Mainkan aku sebuah lagu."
Jihoon mendelik. Saat ini Hoshi dalam mode nomor dua jadi Jihoon tak perlu takut dengan Hoshi. "Lagu apa?"
"Kau bisa lagu Jepang?"
"Judulnya?"
"First Love dari Utada Hikaru."
Deg. Jihoon memang tidak terlalu menguasai lagu Jepang, namun untuk satu itu, Jihoon benar-benar tahu. Lagu yang terkadang Jihoon hindari karena selalu berhasil membuat air mata Jihoon meluncur indah.
"Kau tahu lagunya?"
Tak seperti biasanya, Jihoon berani menatap Hoshi tepat pada matanya. Mata sepuluh lewat sepuluh milik Hoshi. Mata yang selalu mengingatkan Jihoon pada Soonyoung. Mata yang bisa membuat Jihoon seperti orang bodoh. Mata yang kini menatapnya dalam dan lembut.
Lembut? Jihoon merasa ada desiran hangat saat Hoshi menatapnya seperti ini. Hoshi bagaikan sedang mengirim sebuah sinyal yang Jihoon tidak ketahui apa itu.
"You are always gonna be my love. Itsuka darekato mata koi ni ochitemo. I'll remember to love you taught me how." Ucap Hoshi menyebutkan lirik pada ref lagu tersebut.
"You are always gonna be the one. Ima wa mada kanashii love song. Atarashi uta utaeru made." Lanjut Jihoon meneruskan lirik tersebut.
Sejenak mereka saling bertatapan untuk memperkuat sinyal yang Hoshi berikan. "Kau bilang kau tidak bisa bahasa Jepang."
Jihoon mengangguk pelan. "Tapi aku tahu lagu itu. Mengingatkan ku dengan seseorang."
"Siapa?"
"Seseorang yang selalu ada di hatiku." Jihoon memberi seulas senyum pada Hoshi kemudian mulai memainkan keyboard.
"Saigo no kisu wa
Tabako no flavor ga shita
Nigakute setsunai kaori."
Jihoon mulai bernyanyi dengan suara lembutnya.
"Ashita no imagoro ni wa
Anata wa doko ni irundarou
Dare wo omotterundarou."
Hoshi, namja itu terdiam menikmati suara Jihoon. Baginya nyanyian Jihoon lebih indah daripada permainan keyboardnya.
"You are always gonna be my love
Itsuka darekato mata koi ni ochitemo
I'll remember to love you taught me how
You are always gonna be the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashi uta utaeru made."
Bagaikan berada di ruang nostalgia, Hoshi tenggelam dalam nyanyian Jihoon. Mata sepuluh lewat sepuluhnya menatap Jihoon dalam. Pikirannya melayang jauh seiring lagu berjalan.
"Tachidomaru jikan ga
Ugoki dasouto shiteru
Wasureta kunai kotobakari."
Mata Jihoon memanas seiring jarinya menari di atas keyboard. Sama seperti Hoshi, pikiran Jihoon terbang jauh ke masa lalu.
"Ashita no imagoro niwa
Watashi wa kitto naiteru
Anata wo omotterundarou."
Ada satu titik di hati Jihoon yang merasa sakit. Matanya terpejam, menahan sakit dan perlahan bayangan Kwon Soonyoung kecil muncul.
"You will always be inside my heart
Itsumo anata dake no basho ga aru kara
I hope that I have a place in your heart too
Now and forever you are still the one
Ima wa mada kanashii love song
Atarashii uta utaeru made."
Jihoon benar-benar tenggelam dalam lagunya. Hoshi yang ada di depannya memandang wajah Jihoon yang berubah sedih. Hoshi tahu seberapa besar Jihoon merindukan seseorang itu. Ya Hoshi benar-benar merasakannya.
"You are always gonna be my love
Itsuka darekato mata koi ni ochitemo
I'll remember to love you taught me how
You are always gonna be the one
Mada kanashii love song
Now and forever."
Dentingan keyboard berhenti, tanda lagu tersebut berakhir. Setetes air hangat turun dari mata kecil Jihoon.
"Kau menangis?"
Jihoon segera menyeka air matanya. Ia menggeleng cepat lalu membuka matanya. Jihoon tersenyum, senyum yang penuh luka karena menahan rindu.
"Seseorang itu pasti sangat berharga untukmu." Ujar Hoshi.
"Sangat. Tapi sepertinya sia-sia."
Hoshi menaikan alisnya. Terdiam, menunggu Jihoon melanjutkan perkataanya.
"Ia menghilang. Aku ingin menyerah untuk mencarinya. Aku seperti orang bodoh yang berharap di ujung pelangi ada guci berisi emas." Jihoon tersenyum miris.
"Kau menyerah?"
"Aku..." Jihoon menggantungkan kalimatnya. Rasanya ia ingin tenggelam dalam kolam lotus sekarang. Berharap saat ia hidup kembali bisa bertemu dengan Kwon Soonyoung atau ia bisa melupakan memori seorang Kwon Soonyoung.
"Bersabarlah sebentar lagi." Hoshi bangkit dari kursinya. "Seseorang yang kau tunggu akan muncul di hadapan mu sambil membawa bintang." Lanjut Hoshi sebelum keluar dari ruang musik.
Jihoon hanya tertegun mendengarnya. "Bintang?"
.
.
.
Seorang namja tampan dengan tinggi semampai berjalan keluar dari gedung A. Ia menyelempangkan tasnya ke belakang. Di tangannya ada map bening berisi beberapa paper dan sebuah buku tebal.
Jeon Wonwoo, namja itu memutuskan untuk mendatangi Jihoon sebelum pulang. Hari sudah sore, sepertinya sudah cukup bagi Jihoon untuk membuat lagu.
Kaki Wonwoo melewati jalan setapak untuk menyeberang ke gedung B. Gedung A dan gedung B hanya dipisahkan oleh lahan kosong yang ditanami beberapa pohon. Dengan tambahan beberapa kursi di sepanjang jalan setapak.
Saat kaki Wonwoo ingin berbelok ke arah kantin, langkahnya terhenti saat seorang namja yang lebih tinggi dari Wonwoo memanggilnya.
Kim Mingyu berdiri di hadapan Wonwoo. "Mau kemana?"
"Gedung C." Mingyu menyadari suara Wonwoo yang acuh padanya.
"Mau ngapain?" Tanya Mingyu berusaha menahan kesabarannya.
"Mengajak Jihoon pulang."
"Bukankah fakultas seni sudah selesai ujian?"
"Memangnya kalau sudah libur, tidak boleh datang ke kampus?"
Mingyu kalah telak mendengar nada bicara Wonwoo yang sedikit meninggi. Ia tahu akhir-akhir ini hubungannya dengan Wonwoo kurang baik. Mingyu sadar jika kadar kesensitifan mereka sedang tinggi. Hanya saja, Mingyu tidak ingin beradu mulut dengan Wonwoo sekarang.
"Aku ikut." Mingyu benar-benar sedang menahan kesabarannya di depan namja yang sebenarnya masih ia sayangi.
"Untuk apa? Bukankah kau sibuk dengan tugas-tugas mu?" Wajah Wonwoo itu emo namun Mingyu sadar jika kekasihnya itu sedang menyindirnya. Mingyu memandang mata Wonwoo yang menatapnya menantang.
"Hari ini tugasku selesai." Sebenarnya di tas punggung Mingyu masih ada beberapa laporan yang harus ia kerjakan, namun untuk kali ini, ia ingin mengalah.
"Tumben sekali. Biasanya sampai malam. Ralat, sampai pagi maksudnya." Wonwoo masih berniat untuk menyindir Mingyu. Emosi Wonwoo mulai tak terbendung lagi. Ia sedang memikirkan bagaimana cara menjalankan ajaran Jihoon tadi siang.
"Wonwoo." Mingyu mendesah pelan. Hari ini banyak tugas yang harus ia kerjakan. Seperti mengejar dosen yang suka bermain petak umpet. Lelah. Mingyu ingin istirahat. Ingin bergelung dalam selimutnya namun tugas seakan menahannya. Dan rasa lelahnya semakin jadi karena Wonwoo masih kesal dengannya.
"Ayo kita ke gedung C." Tangan panjang Mingyu merangkul Wonwoo untuk mulai melangkah.
Tak ada penolakan dari Wonwoo namun namja bermarga Jeon itu memilih diam.
Rangkulan Mingyu tidak terlalu erat. Seperti rangkulan pada teman. Namun Wonwoo merasa rindu dengan kedekatan mereka yang seperti ini.
Kali ini Mingyu bersikap lunak padanya. Mungkin Wonwoo akan memikirkan ucapan Jihoon lain kali.
.
.
.
Setelah kepergian Hoshi dari ruang musik, kesunyian yang tercipta membuat otak Jihoon menangkap beberapa nada baru. Tak banyak, hanya saja cukup untuk menambah nada sebelumnya.
Setelah otak Jihoon buntu, Jihoon memilih untuk merapikan tasnya dan pulang.
Tepat setelah ia menutup pintu ruang musik, dua namja berjalan ke arahnya. Mereka saling merangkul, namun wajah keduanya tidak menunjukan rasa cinta.
Jihoon mendesah kecil. "Sedang apa kalian disini?"
"Ayo Jihoon, kita pulang." Wonwoo melepaskan rangkulan Mingyu kemudian menarik Jihoon untuk jalan.
Mau tak mau Mingyu mengikuti mereka dari belakang. Mingyu pernah menghadapi nunna-nya yang sedang kedatangan tamu setiap bulannya. Merepotkan. Namun lebih merepotkan seorang Jeon Wonwoo. Mingyu tidak mengerti apa yang diinginkan namja yang berstatus kekasihnya itu.
.
.
.
Kepala Wonwoo terasa berat saat membaca deretan huruf yang tercetak di buku tebalnya. Jika bukan ayahnya yang memintanya untuk masuk ke jurusan yang sama dengan ayahnya, Wonwoo mungkin akan lebih memilih fakultas perhutanan.
Ia lebih memilih untuk bekerja di badan konservasi hutan dan menjadi bagian dari WWWF. Itu fantasi Wonwoo saat ia masih berada di junior high school. Alasan polos Wonwoo adalah ia menyukai tanaman dan ingin memperluas ruang terbuka hijau.
Namun, untuk meneruskan tradisi keluarga, Wonwoo dengan rela masuk fakultas hukum. Sebenarnya, tak masalah bagi Wonwoo karena otaknya yang mudah beradaptasi dengan pelajaran apa saja. Buktinya, sekali Jihoon mengajarinya bermain piano, Wonwoo langsung bisa memainkan lagu-lagu sederhana. Atau saat Seungcheol mengajarinya beberapa aplikasi, Wonwoo mudah paham.
Wonwoo bangkit dari kursi, menjauhi meja belajar lalu menghempaskan tubuhnya ke single bed-nya. Mata Wonwoo terpejam namun ia enggan tertidur. Walau tidak segila Mingyu, Wonwoo bisa disebut rajin dalam belajar.
"Saat otak dan tubuhmu lelah, istirahat dulu, jika dipaksakan, tubuhmu malah akan menolaknya." Kalimat nasehat Jisoo selalu dituruti oleh Wonwoo.
Tangan Wonwoo meraih ponsel yang tadi ia lempar sembarangan ke tempat tidur. Ada sebuah pesan masuk. Dari Mingyu. Satu setengah jam yang lalu. Wonwoo sengaja menyalalan mode mute saat ia ingin belajar tadi.
"Sedang apa? Sudah tidur?" Isi pesan Mingyu.
Tangan Wonwoo dengan cepat membalas pesan tersebut. "Sedang belajar. Belum." Dan kirim. Lalu ia menambahkan. "Kau sendiri?"
Wonwoo mendudukan dirinya. Menyadarkan punggungnya yang tegap di kepala ranjang. Wonwoo sudah hapal jika Mingyu tidak akan membalasnya dengan cepat.
Namun Wonwoo masih ada harapan kecil. Sangat kecil. Tak ada salahnya mempercayai harapan kecil tersebut, maka Wonwoo mengaktifkan mode 'sound' pada ponselnya.
Selang lima detik, ponsel Wonwoo berbunyi. Pesan masuk dari Mingyu. Wonwoo hampir tak percaya jika Mingyu akan membalasnya secepat ini. Mungkin ini rekor tercepat Mingyu membalas pesan Wonwoo setelah Mingyu mulai sibuk dalam tugas dan kegiatannya.
"Belum juga, aku sedang memeriksa hasil ujian lab mahasiswa lain."
Wonwoo memutar bola matanya. Tugas seorang asisten laboratorium. Wonwoo kadang berpikir jika menjadi dosen itu menyenangkan. Waktu beliau yang mengatur dan dia dapat menyerahkan tugas kepada seorang asisten.
Ponsel Wonwoo berbunyi lagi. Pesan masuk dari Mingyu yang kedua.
"Sudah malam, lebih baik kau tidur. Setelah ini aku juga ingin tidur."
Wonwoo masih ingat bagaimana dulu saat hubungan mereka masih dekat. Setiap malam, salah satu dari mereka akan saling menunggu jika salah satu dari mereka belum tidur. Itu sudah beberapa bulan yang lalu. Kali ini Wonwoo ingin mencobanya.
"Aku tidur jika kau juga tidur." Balas Wonwoo. Ia mengigit bibirnya ragu. Mungkinkah mereka akan saling menunggu seperti dulu?
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Tak ada balasan dari Mingyu.
Wonwoo kembali berjalan ke arah meja belajar sambil membawa ponselnya. Wonwoo ingin melanjutkan belajarnya karena ia yakin Mingyu akan membalas pesannya lama. Atau mungkin tidak akan membalasnya lagi.
Saat Wonwoo mulai membaca kembali bukunya, ponselnya kembali berbunyi. Segera Wonwoo membaca pesan masuk dari Mingyu.
"Arraseo. Give me ten minutes and I'll finish all."
Pesan tersebut membuat Wonwoo tersenyum singkat. Segera ia membalas. "Sepuluh menit? Oke."
Wonwoo segera merapikan meja belajarnya dan buku-bukunya untuk dibawa besok.
Tubuh kurusnya ia rebahkan ke tempar tidur empuknya. Di tangan kanannya, benda pipih warna hitam digenggam. Menunggu balasan Mingyu untuk 'membiarkan' dirinya tidur.
Dan tepat sepuluh menit kemudian, ponsel Wonwoo berbunyi. "Selesai. Ayo kita tidur, Wonwoo-ya."
Kepala Wonwoo mengangguk membaca pesan itu, walau ia tahu jika Mingyu tidak akan bisa melihatnya. "Ne, good night Mingyu. Sleep well and have nice dream."
Tak perlu menunggu waktu lama untuk mendapat balasan dari Mingyu. "Good night too Wonwoo. Sleep tight and have nice dream too."
Hari ini Wonwoo merasa jika Mingyu sedikit aneh. Tak biasanya Mingyu bersikap sehangat ini. Walau hanya singkat, namun Wonwoo merasa bersyukur mengetahui jika Mingyu masih ada sedikit perhatian padanya.
Mata Wonwoo terpejam, bersiap untuk terjun ke alam mimpi.
Tanpa Wonwoo sadari, namja yang sejak tadi berkirim pesan padanya masih setia duduk di meja belajar dengan pulpen di tangannya.
Namja berkulit tan tersebut menghela napasnya. Matanya sudah mulai berat namun tugas seakan mengajaknya bermain.
Satu tugas sudah selesai, yaitu menyuruh Wonwoo untuk tidur. Hari ini Mingyu ingin mengalah pada Wonwoo. Mulai minggu depan, dirinya dan Wonwoo akan semakin sibuk dengan tugas dan ujian kenaikan semester. Mingyu yakin dengan sendirinya Wonwoo sedikit menjauhinya sama seperti dirinya. Ada jurang pemisah di antara mereka yang disebut 'tugas, ujian, kegiatan lainnya'.
.
To Be Continue
Note 1 : Terima kasih yang sudah mau mampi untuk baca, fav, follow dan review. Beberapa review aku tidak bisa balas karena tidak masuk ke e-mail. Dan juga aku sebenarnya aku membutuhkan wifi untuk update chapter, tapi sulit mencari wifi gratis hehehe jadi aku usahakan lewat ponsel.
Note 2 : Cari lagu Utada Hikaru - First Love. Itu rekomendasi dari kepala sekolah ku dulu di SMA. Arti lagunya sangat pas dengan keadaan Jihoon di FF ini.
Note 3 : Satu yang readers harus tahu. JANGAN KECEWA DENGAN ENDING FF INI. Di atas chap 5 nanti, cerita akan menjadi sedikit aneh karena dulu beberapa part akhirnya kehapus dan aku malas mengetik ulang. Jadi maafkan saya /bow/
Note 4 : Jangan pernah bosan membaca FF ku. Aku menunggu review readers karena setiap author akan merasa dihargai jika diberi reward sekecil apa pun dan dalam bentuk apa pun.
Aju NICE!
