Disclaimer: This story is completely based on my imagination. Seventeen belongs to Pledis entertainment. The plot is mine.
Warning : Typo everywhere. Tidak sesuai dengan EYD. Yaoi. Boy x Boy.
Cast :
Kwon Soonyoung & Lee Jihoon (SoonHoon)
Seventeen members
+ Happy reading +
Kurang lebih tiga minggu seluruh fakultas di Pledis University selesai mengikuti ujian kenaikan semester. Beberapa pasang kekasih bisa kembali mendapatkan waktu bersama seperti Seungcheol dan Junghan. Atau pasangan yang sedang tahap pendekatan seperti Vernon dan Seungkwan.
Mereka berempat sedang berkumpul di kantin. Sebenarnya Seungkwan pergi ke kampus dengan alasan ingin bertemu Seokmin dan Jihoon, namun Vernon sudah menarik Seungkwan untuk menemaninya di kantin bersama Seungcheol dan Junghan. Vernon tidak ingin terlihat kesepian di antara sepasang kekasih yang resmi itu.
"Aigoo, sepertinya hanya diriku yang tak punya pasangan." Seorang namja bersuara berat muncul. Jeon Wonwoo mengambil duduk di samping Seungkwan.
"Wonwoo, mana Mingyu?" Tanya Junghan di samping Seungcheol.
"Mingyu?" Wonwoo menoleh. Bibirnya tersenyum. Senyum yang membuat empat orang di hadapannya menyerngit. Di tambah dengan ekspresi berpikirnya yang Seungcheol yakin dibuat-buat. "Tidak tahu. Sepertinya ada di lab."
Suara Wonwoo yang acuh semakin menunjukan dirinya sedang bermasalah dengan namja bermarga Kim tersebut. Dengan sembarangan Wonwoo meneguk jus apel Seungkwan.
"Wonwoo-ya."
"Aku hanya minta sedikit Seungkwan-ah."
"Bukan itu." Ucap Seungkwan. "Kau sedang bertengkar dengan Mingyu?"
"Aku?" Wonwoo menunjuk wajanya sendiri. "Kenapa harus bertengkar?" Lagi. Senyum palsu kembali terbentuk di bibir namja bermarga Jeon tersebut.
"Pasti kau sedang ada masalah dengan kekasih tinggi mu itu." Ujar Hansol yang sejak tadi memperhatikan Wonwoo.
Wajah Wonwoo itu biasanya emo. Tak berekspresi. Kalau pun berekspresi tidak akan berlebihan seperti sekarang ini.
"Kekasih? Mingyu kekasihku?" Wonwoo tertawa hambar. "Jangan bercanda."
Seungcheol adalah salah satu teman lama Wonwoo dan Seuncheol tahu jika Wonwoo bersilat lidah. Pasti ada sesuatu yang membuat Wonwoo seperti ini. "Jeon Wonwoo."
Marah. Sebenarnya Seungcheol marah karena Wonwoo seperti ini. Jiwa seorang 'hyung'-nya muncul. Namun ia tetap menahan emosinya hingga ia benar-benar tahu apa yang terjadi. "Apa yang terjadi antara kau dan Mingyu?"
Wonwoo merilik. Mimik wajahnya yang dibuat bingung. "Tidak ada apa-apa, hyung."
"Jelas-jelas Kim Mingyu adalah kekasihmu. Kalian-"
"Aku tidak merasa Mingyu adalah kekasihku." Wonwoo bangkit dari duduknya. "Karena Mingyu juga merasa demikian."
Sekilas. Hanya sedikit saja Seungcheol melihat mata Wonwoo berkaca. Seungcheol mengacak rambutnya kasar. Sebenarnya, tanpa Jun dan Jisoo tahu, Seungcheol sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk 'melindungi' Jihoon dan Wonwoo. Sebagai 'hyung'. Kalau untuk Jihoon, karena di hati Seungcheol masih ada sisa rasa sayang. Kalau untuk Wonwoo, karena namja itu adalah teman dekat Jihoon dan Seungcheol sering berinteraksi dengannya.
"Aku harus bertemu Mingyu." Setelah diberi izin oleh Junghan, Seungcheol segera berjalan ke gedung B, mencari Mingyu.
.
.
.
Seungcheol berdiri di depan sebuah pintu bertuliskan 'Chemistry Lab' sambil mengarahkan ponselnya ke telinga.
Mingyu, namja tinggi itu tidak menjawab panggilan Seungcheol.
Seungcheol sudah berkeliling gedung B. Namja bermarga Choi itu masih punya rasa sopan santun untuk menjelajahi gedung fakultas lain. Jadi Seungcheol hanya mencari Mingyu di tempat-tempat Mingyu sering 'menetap'.
Akhirnya Seungcheol memilih keluar dari gedung B setelah Junghan mengirim pesan jika Junghan harus ke gedung D. Ada kelas dadakan katanya.
Dan tepat sebelum Seungcheol masuk ke gedung E, gedung fakultasnya, Junghan kembali mengirim pesan.
'Aku melihat Mingyu keluar dari gedung C dan ia bersama Minghao.'
Seungcheol menaikan satu alisnya. Minghao? Sepertinya Seungcheol tidak asing dengan nama China itu. Otak Seungcheol mencari bayangan seorang namja bernama Minghao tersebut.
Gee! Seungcheol tersentak. Ya, Seungcheol mengingat namja bernama Minghao tersebut. Namja yang selalu Jun ceritakan. Dan sekarang namja itu sedang duduk berhadapan dengan Mingyu di kantin.
Seungcheol ingat apa yang pernah diceritakan Jun.
"Hyung, aku bingung dengan Minghao."
Saat itu Seungcheol tak sengaja bertemu dengan Jun di salah satu cafe depan kampus. "Anak fakultas seni? Waeyo?"
"Minghao itu polos, naif dan aku tak tahu harus bagaimana bersikap padanya."
"Bukankah kalian sering latihan dance bersama?"
Jun mengangguk, "Tapi aku tak berani bersikap lebih padanya. Maksudnya, aku bersikap pada Minghao sama seperti aku bersikap pada yang lain. Saat aku mencoba lebih care padanya, aku yang bingung sendiri."
Seungcheol memangku kepalanya di tangan. Memandang namja yang lebih muda satu tahun darinya itu. Jun sedang jatuh cinta, pikir Seungcheol. Jun adalah tipe orang yang periang, easy going dan he is charming. Seungcheol mengakui hal itu. Seungcheol ingat jika Jun sempat dekat dengan beberapa namja atau pun yeoja. Hanya dekat. Pernah suka namun hanya sebatas suka. Berbeda dengan sekarang. Jun, sang cosplay anime itu tak tahu harus berbuat apa di hadapan Minghao.
Dan sekarang, namja yang sedang Jun dekati sedang bersama Kim Mingyu. Hipotesis yang Seungcheol dapat adalah Mingyu penyebabnya. Penyebab Wonwoo sedih, hubungan keduanya berantakan. Jika itu Minghao, sepertinya namja polos itu tidak bisa disebut menjadi penyebabnya.
Akting Seungcheol dimulai. Seungcheol berjalan mendekati Mingyu dan Minghao yang terlihat sedang mengobrol.
"Annyeong!" Sapa Seungcheol dengan senyum yang dibuat seramah mungkin. Ia mengambil duduk di samping Jun.
"Hyung? Sedang apa disini?" Mingyu balas menyapa. Tak tampak raut 'sedang tertangkap basah' di wajah tampannya.
"Menunggu Junghan." Jawab Seungcheol seratus persen bohong. Lalu ia menatap Minghao. "Teman Mingyu? Sepertinya aku pernah melihat mu sebelumnya."
Minghao dengan senyum polosnya ia mengangguk. "Annyeonghaseo sunbaenim. Aku Minghao dari jurusan performance art."
"Oh yah? Pasti kau pandai dancing." Seungcheol tertawa renyah lalu ia kembali menoleh pada Mingyu. "Kau tidak pernah bercerita padaku jika kau punya teman di fakultas seni selain Jihoon."
Mingyu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku mengenal Minghao baru beberapa minggu yang lalu."
"Oh, jeongmal? Bagaimana bisa?"
"Aku tak sengaja bertemu dengannya di perpustakaan."
Setelah Jihoon meninggalkan Mingyu yang sedang kebingungan, ada seorang namja yang tak sengaja lewat di depannya, di balik dinding kaca perpustakaan. Mingyu belum pernah melihatnya. Postur tubuh namja itu tinggi dan kurus, hampir menyamai postur tubuh Wonwoo. Dan wajah namja itu terlihat polos dan sedikit emo seperti Wonwoo. Beda dari mereka adalah mata Wonwoo lebih sipit dari namja itu.
Namja yang wajahnya tidak mirip orang Korea itu memasuki perpustakaan. Sepi. Mingyu baru menyadari jika perpustakaan lantai dua hanya ada dirinya dan beberapa mahasiswa yang bisa dihitung dengan jari.
Mata Mingyu mengikuti gerak namja itu. Mingyu terlalu memperhatikan namja itu sampai tak menyadari jika namja itu berjalan mendekatinya dan mengambil duduk di seberang Mingyu. Tidak pas depan Mingyu. Berbeda enam kursi dari hadapan Mingyu.
Sekilas Mingyu melihat buku di tangan namja itu. Mingyu tidak tahu pasti itu buku apa, yang pasti buku itu berhubungan tulang, daya tahan otot dan sejenisnya. Mingyu berpikir jika namja itu mahasiswa fakultas kedokteran.
Iseng. Mingyu menggeser duduknya menjadi tepat berhadapan dengan namja itu. "Annyeong!"
Namja itu mengangkat kepalanya lalu tersenyum manis. "Annyeong!"
Mingyu mendelik. Benar dugaannya, jika namja itu bukan orang korea. Nada bicaranya sedikit lucu. "Fakultas kedokteran?"
Namja menggeleng. "Bukan. Fakultas seni."
"Seni?" Mingyu kembali mendelik. "Jurusan?"
"Performance art."
"Untuk apa membaca buku itu?"
"Jurusan ku juga belajar tentang daya tahan tubuh. Jika kita cidera saat dance, kita akan mudah mengerti dan dapat menanganinya."
Mingyu mengangguk paham. Mingyu tidak terlalu paham dengan seni walau ia sedikit bisa memainkan piano. "Aku Kim Mingyu dari jurusan Food tech."
"Xu Minghao imnida." Namja yang bernama Minghao itu menyambut uluran tangan Mingyu.
"Apa kah jurusan food tech hanya memperlahari makanan?" Tanya Minghao dengan wajah polosnya. Entah sekedar basa-basi, candaan, atau serius bertanya, namun Mingyu terkekeh dibuatnya.
"Tidak. Kami memperlajari banyak hal."
Dan mulai dari saat itu hubungan Mingyu dan Minghao semakin dekat. Tak ada yang mengetahui tentang hubungan mereka. Termasuk Jun, Jihoon, mahasiswa terupdate Seungkwan dan Wonwoo sekalipun.
Mingyu adalah tipikal namja yang mempunyai banyak teman dan kenalan. Jadi wajar jika kemanapun Mingyu pergi, ada saja kenalan yang ia punya. Sehingga tak ada yang curiga dengan hubungan Mingyu dan Minghao. Dan perlu diketahui, Mingyu dan Minghao sering berkirim pesan. Sebagai teman.
Melupakan Wonwoo? Seungcheol hampir mengeluarkan kalimat tanya itu pada Mingyu yang selesai bercerita bagaimana dirinya dan Minghao menjadi teman.
"Oh, kalian sering berkirim pesan." Seungcheol mengangguk. "Bukan kah kau sibuk Mingyu-ya?"
"Jarang hyung. Hanya sesekali." Koreksi Mingyu yang semakin membuat Seungcheol gemas ingin melempar Mingyu ke kolam lotus.
Fakta yang lainnya yang tidak diketahui orang lain adalah, saat sebelum Mingyu menyuruh Wonwoo tidur, Mingyu sudah menyuruh Minghao untuk tidur. Namun namja itu berkata jika ia sedang berkirim pesan dengan Jun.
Mingyu kenal dengan Jun karena namja china itu adalah teman lama Wonwoo. Wonwoo, yang sekarang entah berstatus apa dengan dirinya itu pernah sesekali bercerita tentang Jun.
"Mian, aku harus pergi sekarang." Ujar Minghao sambil memasukan ponselnya ke dalam saku celana. "Aku harus latihan dance. Annyeong."
"Aku perlu bicara." Ucap Seungcheol lalu menarik Mingyu ke kolam renang beratap, dekat fakultas kedokteran.
"Ada apa hyung?" Tanya Mingyu yang sedikit ngeri melihat raut wajah Seungcheol yang tiba-tiba marag.
"Jangan sakiti Wonwoo." Ujar Seungcheol dingin.
"Apa maksudmu hyung? Siapa yang menyakiti siapa?"
Seungcheol mendengus. Sepertinya ia tak perlu repot-repot melempar Mingyu ke kolam lotus karena di samping mereka ada kolam renang. "Kau mendekati Minghao disaat Wonwoo sedang menunggumu?"
"Aku tidak mendekati Minghao."
"Secara tak langsung, ya. Jadi ini alasan mu menjauhi Wonwoo? Atau mau menggunakan alasan 'sibuk' mu untuk menjauhi Wonwoo?"
Mingyu menaikan satu alisnya. "Aku memang sibuk hyung. Ada banyak tugas dari dosen dan banyak tugas lab. Belum lagi aku kegiatan organisasi di fakultasku."
"Kau bisa membalas pesan Minghao tapi tidak bisa membalas pesan Wonwoo?" Seungcheol hampir naik pitam. "Jika kau terus menyakiti Wonwoo, lebih baik kalian mengakhiri hubungan. Wonwoo tidak perlu namja yang egosi seperti dirimu!"
Suaran Seungcheol meninggi, membuat Mingyu merasa disalahkan.
"Aku? Egois?" Mingyu berdesis. "Wonwoo yang egois! Jika ia mencintai ku, seharusnya ia mengerti diriku, mengerti kesibukanku!"
Semua yang Wonwoo ceritakan pada Jihoon maka akan diteruskan pada Seungcheol. Seungcheol adalah salah satu buku diary Jihoon selain Wonwoo. Maka Seungcheol tahu bagaimana posisi Wonwoo sekarang. "Wonwoo kurang mengerti bagaimana Mingyu-ya?!"
"Wonwoo selalu menunggumu. Wonwoo selalu mengerti dirimu yang tak punya waktu untuk dirinya. Wonwoo selalu sabar menghadapi dirimu yang bisa tersenyum pada yang lain tapi tidak pada dirinya!"
Mingyu mengacak rambutnya kasar. Ia frustasi. Setiap orang yang mengatahui permasalahannya dengan Wonwoo, pasti selalu menyalahkan dirinya. Dengan alasan yang sama dan dengan kasus yang sama.
"Kalian tidak akan pernah mengerti! Aku lelah!"
"Jika kau berniat menyakiti Wonwoo sejak awal, seharusnya aku melarang Wonwoo untuk berpacaran dengan mu."
Mingyu ingat bagaimana Wonwoo mengenalkannya kesetiap teman Wonwoo. Dan seorang Seungcheol adalah 'hyung' untuk semuanya. Wajar jika Seungcheol sangat menjaga teman-temannya.
"Ne! Aku yang salah! Kau puas, hyung?!" Mingyu emosi hingga ia tak sadar jika dagunya terangkat, menantang Seungcheol yang penuh api. Tak sopan dan membuat kepalan di tangan Seuncheol terbentuk.
"Kau mau mati, Kim Mingyu?!"
"Hentikan!"
.
.
.
Wonwoo segera menghapus bekas jalan air matanya di wajahnya. Ia berjalan tak tentu arah. Matanya yang sedikit buram habis menangis menangkap sosok bayangan namja pendek yang sangat ia kenal sedang berjalan menjauhi gedung G. Berpisah dengan seorang Hong Jisoo yang masuk ke dalam gedung fakultasnya.
"Jihoon-ah."
"Omo! Wonwoo!" Jihoon segera memeluk Wonwoo saat melihat wajah sayu teman dekatnya itu.
Mereka berjalan melewati kawasan kolam renang yang berada di antara gedung G dan gedung F. Mengambil duduk di koridor yang menjadi penyebrangan menuju fakulas bisnis. Disana tenang, cocok untuk menjadi tempat Wonwoo mencurahkan perasaannya.
"Aku..." Wonwoo terisak dalam tangisnya yang kembali terbentuk dalam rangkulan Jihoon. "Aku lelah... Jihoon... aku..."
"Tak apa Wonwoo, menangis dulu saja." Kata-kata sang mahasiswa psikolog, Jisoo, kembali teringat. Jika seorang sedih, biarkan ia menangis, karena air mata adalah salah satu bentuk cara seseorang meluapkan emosinya. Menangis adalah bagaimana hati berbicara, saat bibir tak bisa menjelaskan sakit yang dirasa.
Semua air mata Wonwoo, emosi Wonwoo, jeritan Wonwoo akhirnya tumpah. Rasa sakit yang selalu menusuk hatinya akhirnya meluap.
Tak ada orang disana yang bisa mengganggu Wonwoo. Jihoon jamin itu. Walaupun seorang Hoshi yang tiba-tiba muncul sekalipun.
Jihoon segera memberi kode untuk Hoshir agar tidak mendekat. Beruntung Hoshi sedang ada di mode nomor dua, sehingga namja itu dengan patuh menurut pada Jihoon. Hoshi memilih duduk di kursi yang tak jauh dari Jihoon dan Wonwoo.
"Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Mingyu." Wonwoo mulai bercerita setelah tangisnya sedikit mereda. "Dan sampai sekarang Mingyu tak menghubungiku. Ia tak peduli lagi dengan ku, Jihoon-ah."
"Wonwoo-ya." Entah mengapa Jihoon merasa bersalah setelah memberi saran tersebut pada Wonwoo. Awalnya Jihoon berpikir Mingyu pasti akan merasa kehilangan Wonwoo dan akan segera bersikap 'hangat' kembali pada Wonwoo. Namun dugaan Jihoon salah. Dan yang terjadi adalah hubungan keduanya semakin reggang.
"Mingyu sudah melupakanku. Mingyu... Mingyu..." Dada Wonwoo semakin sesak saat mengingat wajah seorang Kim Mingyu. "Mingyu sudah tak mencintai aku lagi."
"Maaf Wonwoo."
"Tidak." Wonwoo menggeleng lemah. "Seharusnya aku tidak mudah menerima Mingyu hanya karena ia sangat baik padaku dulu. Aku terlalu mudah jatuh cinta padanya. Aku bodoh."
"Jadi kau mau melepaskannya? Kau sudah tak mencintainya lagi?"
Wonwoo terdiam mendengar dua perkataan maut Jihoon. Tentu saja jawaban Wonwoo adalah tidak dan ia masih sangat mencintai namja tinggi tersebut.
"Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi, Jihoon-ah."
"Wonwoo-"
Sebuah suara derap langkah membuat ucapan Jihoon terhenti. Suasana yang tadinya tenang, berubah menjadi gaduh karena kedatangan dua orang tersebut. Hoshi yang sejak tadi asik bersandar sambil memandang Jihoon dan Wonwoo pun itu ikut terkejut.
"Jangan sakiti Wonwoo." Kalimat dari namja yang diketahui ada Seungcheol membuat Wonwoo tersentak.
Kalimat itu ditujukan kepada namja tinggi, berkulit tan di depannya. Kim Mingyu, namja itu terbelalak.
Semua perdebatan antara Seungcheol dan Mingyu didengar jelas oleh Wonwoo, Jihoon dan Hoshi.
Intinya setiap perkataan yang keluar dari mulut Mingyu membuat hati Wonwoo sakit.
Terutama ada satu nama yang tak terduga muncul. Minghao.
Hoshi sangat kenal dengan Minghao dan namja china itu tidak mungkin menjadi orang ketiga antara Mingyu dan Wonwoo. Minghao adalah salah satu teman dekatnya dan Hoshi tidak rela jika namja yang sedang di dekati Jun itu ikut terlibat.
Semakin mendengar nada bicara Mingyu yang tinggi, semakin emosi Hoshi meningkat.
Hoshi bangkit dari kurisnya. Bermaksud membantu Seungcheol memberi pelajaran kepada Mingyu. Namun gerakan Wonwoo lebih cepat.
Namja bermarga Jeon itu segera berjalan cepat menghampiri keduanya saat matanya melihat Seungcheol mengangkat tangannya. Bersiap menghajar Mingyu.
"Kau mau mati, Kim Mingyu?!"
"Hentikan!" Teriakan Wonwoo berhasil menghentikan Seungcheol.
"Wonwoo?!" Kejut Mingyu. Tubuhnya membantu melihat air mata Wonwoo. Ternyata Wonwoo mendengar semuanya.
"Wonwoo-ya." Seungcheol melemah. Ia tak bermaksud ikut campur dalam masalah pribadi Wonwoo dan Mingyu. Namun Seungcheol tak tahan mendengar cerita Jihoon tentang bagaimana menderitanya Wonwoo.
"Hyung, hentikan." Dengan sisa kekuatan yang ada, Wonwoo melanjutkan. "Aku dan Mingyu sudah tak ada hubungan apa-apa lagi."
"Apa kau bilang?!" Seungcheol tahu maksud Wonwoo untuk memutuskan secara sepihak. Sungguh Seungcheol tak bermaksud membuat hubungan keduanya renggang. Ia hanya mencoba menyadarkan Kim Mingyu yang keras kepala.
"Wonwoo-ya."
"Diam!" Mingyu tersentak mendengar teriakan Wonwoo. Wajah putih mulusnya berubah memerah. Matanya menatap Mingyu tajam. "Hubungan kita berakhir sampai disini. Sekarang kau tidak akan terbebani oleh diriku lagi. Annyeong Kim Mingyu."
Wonwoo berbalik kemudian berlari melewati Jihoon dan Hoshi. Tak peduli jika Mingyu memanggil namanya. Wonwoo ingin semua ini berakhir. Ia butuh tempat yang sering Jihoon butuhkan. Tempat tenang yang bisa membuat hati dan pikirannya tenang.
Rambut Mingyu yang tadi berantakan, semakin tidak berbentuk. Mingyu memilih untuk mengejar Wonwoo namun sayang, langkahnya terhenti oleh Hoshi.
"Siapa kau?!"
Hoshi menatapnya tajam. "Kau. Jangan seenaknya memainkan perasaan seseorang."
"Apa?!"
Jihoon terkejut mendengar Hoshi yang ikut emosi melihat Mingyu.
"Aku tidak suka kau membuat Wonwoo menderita seperti itu."
"Hoshi." Jihoon menahan tubuh Hoshi yang mencoba mendekati Mingyu. Ia tidak ingin Hoshi menggantikan Seungcheol untuk menghajar Mingyu walau namja itu memang butuh pelajaran.
"Dan jika kau sampai membuat Minghao sama seperti Wonwoo, akan aku pastikan ada yakuza yang datang ke rumahmu."
Mingyu menyerngit mendengar ancaman Hoshi yang tidak terdengar main-main. Lalu ia melirik Jihoon yang ikutan menyerngit. Jihoon adalah tipe yang tak pandai berakting walau ia fakultas seni, jadi Mingyu yakin namja yang ia tahu bernama Hoshi itu tidak main-main dengan perkataannya.
"Kejar Wonwoo jika kau masih punya hati, Mingyu." Mingyu langsung menuruti perkataan Jihoon, mengabaikan tatapan menusuk Hoshi.
Mingyu masih bisa melihat sosok Wonwoo yang berlari ke arah belakang sekolah. Ke arah tempat parkir. Mingyu tak peduli jika banyak orang yang melihatnya karena berlari sambil memanggil Wonwoo.
Pikiran Mingyu kacau. Perkataan Wonwoo tadi terlalu cepat baginya. Hubungan mereka berakhir? Alih-alih merasa sakit hati, Mingyu malah bingung. Semua terlihat rumit, lebih rumit dari rumus-rumus yang ia pelajari.
.
.
.
Telinga Wonwoo terasa tertutup. Kakinya terus berlari entah kemana. Air matanya semakin membuat pandangannya kabur. Ia menangis dalam diam. Sedikit terisak, tanda ia tidak bisa meredam tangisannya.
"Wonwoo?" Seseorang yang baru saja keluar dari mobil mini coopernya terkejut dengan kehadiran Wonwoo yang kacau.
Wonwoo menoleh. Ia tak sadar jika kakinya membawanya berlari menuju lapangan parkir. Kenapa ia bisa kesini?
"Kau menangis?"
Wonwoo terdiam dalam isakannya, membuat namja itu kebingungan. Ia tidak ingin disangka sebagai penculik disini.
"Kenapa kau menangis?" Namja itu menepuk-nepuk bahu Wonwoo yang setia diam. "Sudah, jangan menangis Wonwoo-ya."
"Aku..."
"Wonwoo!" Teriakan Mingyu membuat namja itu berspekulasi jika pasangan kekasih itu sedang bertengkar.
"Bawa aku pergi dari sini."
"Apa?!"
"Aku mohon, Seokmin-ah."
Lee Seokmin, namja itu mau tak mau menuruti perintah Wonwoo. Segera ia membukakan pintu untuk Wonwoo dan menjalankan mobilnya tepat setelah Mingyu sampai.
"Oh damn!" Teriak Mingyu frustasi. Selesai dengan ujian yang berat, kini tugasnya ada lagi. Yaitu Wonwoo. Sepertinya sang waktu tidak ingin mengizinkan Mingyu untuk istirahat walau satu detik saja.
.
.
.
"Hoshi." Panggil Jihoon yang masih ngeri mengingat ancaman Hoshi pada Mingyu. "Kau tidak benar dengan ancamanmu, kan?"
Hoshi menoleh. "Memangnya kenapa kalau benar?"
"Mwo?!" Mata Jihoon membesar walau hanya persekian milimeter. Sangat manis untuk Hoshi. Emosinya mereda melihat wajah menggemaskan Jihoon. "Jangan bercanda!"
"Sepertinya ayahku tak masalah jika harus mengirim yakuza asli dari Jepang."
"Jepang?" Seungcheol yang emosinya mulai stabil akhirnya mencoba mendekat. Melihat Jihoon bersama namja membuatnya penasaran.
"Seungcheol hyung." Mata Hoshi memandang Jihoon dan Seungcheol secara bergantian. Hoshi pernah dengar nama Choi Seungcheol dari Jun. Mereka semua teman lama, hanya itu saja yang Hoshi tahu.
"Temanmu?" Tanya Seungcheol pada Jihoon.
Namja yang paling pendek di antara ketiganya mengangguk. Ia mengigit bibirnya gugup. Hoshi melihat itu. Ia memperhatikannya. "Ini Hoshi."
Seingat Jihoon, ia pernah bercerita pada Seungcheol tentang Hoshi, yang teman baru Jun dari Jepang, yang ikut Jun dance, yang jaketnya harus ia cuci. Hanya itu. Jihoon tak berani cerita pada Seungcheol jika namja di sampingnya itu mengingatkannya pada Kwon Soonyoung. Entah mengapa Jihoon merasa ragu.
"Teman Jun juga, eoh?"
Hoshi memandang uluran tangan Seungcheol. Perlahan ia membalasanya tak sampai lima detik. "Ne, Hoshi imnida."
Jika berada di dalam komik, maka ada garis mistar yang bertuliskan 'prossesing' di atas kepala Hoshi. Jihoon merasakannya. Merasakan Hoshi akan berubah menjadi mode nomor satu. Ia merinding. Kalaupun Hoshi mengamuk, ia masih bisa berlindung di belakang Seungcheol, namun entah mengapa untuk saat ini, Jihoon tak ingin Hoshi berubah ke mode nomor satu.
"Hyung tak ada kelas?" Jihoon mencoba mengalihkan suasana canggung di antara mereka. Tunggu, mengapa Jihoon harus merasakan canggung?
Seungcheol menggeleng. Ia tersenyum. Sepertinya emosi pada Mingyu sejenak menghilang karena melihat Jihoon. "Tapi aku mau ke kelas ku. Tasku ketinggalan. Kau sendiri?"
"Aku juga-"
"Jihoon ada janji denganku."
"Apa?!" Jihoon ingin protes namun ia mengurungkan niatnya saat proses perubahan Hoshi selesai. Matanya yang menatap Jihoon tajam menandakan jika saat ini Hoshi dalam mode nomor satu.
"Ayo kita pergi." Walau Hoshi sedang mode nomor satu, namun ia tidak lupa dengan sopan satun kepada seorang sunbae. Hoshi sempat sedikit membungkuk pada Seungcheol sebelum melewatinya.
"Kau yakin ada janji dengannya?" Seungcheol sedikit khawatir melihat Jihoon yang menghela napas.
"Aku juga tidak tahu, hyung."
"Jihoon." Panggil Hoshi. Tidak tinggi, namun berhasil membuat Jihoon kalangkabut.
"Aku pergi hyung!"
.
.
.
Kaki Jihoon itu kecil maka dari itu ia sedikit kesulitan menyamai langkah Hoshi yang lebar. Jihoon harus berlari kecil agar bisa sampai di samping Hoshi.
"Kita ingin kemana?" Jihoon sedikit lelah karena harus mengikuti Hoshi yang sejak tadi hanya diam. Sebenarnya bisa saja Jihoon diam-diam meninggalkan Hoshi yang sejak tadi hanya memutari wilayah Pledis University, hanya saja Jihoon tak bisa. Hoshi selalu mempunyai mantra ajaib yang bisa membuat Jihoon selalu mematuhi kata-katanya.
Akhirnya Hoshi berhenti di depan kolam lotus. Bisa dibayangkan betapa jauhnya mereka berjalan tadi. "Kau mau kemana?"
"Aku?" Jihoon menunjuk dirinya sendiri. "Aku ingin bertemu Seokmin dan Seungkwan. Kami ingin membuat lagu."
Tiba-tiba ponsel Jihoon bergetar. Tanda ada pesan masuk. Segera Jihoon membacanya. Wajahnya seketika muram saat membacanya. "Tidak jadi."
Mengerti yang Jihoon maksud, Hoshi hanya bertanya. "Kenapa?"
"Seungkwan di ajak Hansol jalan dan Seokmin tadi bertemu Wonwoo, sepertinya ia harus menenangkan Wonwoo dulu."
"Kalau begitu ayo kita jalan." Ucap Hoshi dengan wajah datarnya.
Sebelum Jihoon sempat membalas perkataan Hoshi, ponselnya kembali begetar, namun lebih panjang.
"Yeoboseyo," Jawab Jihoon. "Jisoo hyung?"
Pendengaran Hoshi menajam saat mendengar nama Jisoo. Bagaikan tanda musuh akan datang, Hoshi tidak suka dengan nama tersebut. "Jihoon."
Yang dipanggil hanya mengibas-ibaskan tangannya, menandakan ia tak bisa menanggapi Hoshi yang berdesis kesal.
"Jeongmalyo?! Arraseo hyung. Gomawo!" Wajah Jihoon berbinar saat menutup sambungan telepon.
Ia memandangan Hoshi dengan cengiran, membuat namja bermata sepuluh lewat sepuluh itu menyerngit. "Apa?"
"Kau bisa mewujudkan mimpi mu Hoshi-ya!" Seru Jihoon yang masih tak bisa dimengerti Hoshi.
"Apa yang kau bicarakan Jihoon?"
"Pengumuman Youth Music Fesitval sudah disebar. Pendaftarannya dibuka besok. Kau bisa ikut acara itu dan menunjukan pada ayahmu jika kau bisa bersinar dalam dance!"
Hoshi terdiam. Ia terkejut karena Jihoon ternyata mendengarkan ceritanya dulu. Hoshi terharu karena Jihoon masih memikirkannya sampai sekarang. Jihoon mengingat perkataannya dan sekarang Jihoon ingin membantunya untuk mewujudkan mimpinya. Hoshi senang. Sangat senang. Ia bersyukur dirinya bisa dekat dengan Jihoon sampai sejauh ini. Awalnya ia takut, namun saat melihat bagaimana sosok Jihoon sekarang, Hoshi semakin yakin.
"Hoshi? Kau tidak suka?"
Hoshi yang sejak tadi diam, memandang Jihoon dengan senyum. Senyum yang berbeda saat Jihoon melihatnya di restoran dulu. Kali ini senyum Hoshi terasa berbeda. Membuat hati Jihoon menghangat. Jihoon memang lebih pendek dari Hoshi, namun ia masih bisa memandang wajah Hoshi dengan lekat. Tampan. Sangat tampan. Mungkin Hoshi akan masuk list teman tampannya.
"Gomawo Jihoon-ah."
"Eh?!" Suara Hoshi yang lembut membuat Jihoon membatu.
"Aku akan daftar bersama Dino, Jun, dan Minghao."
.
.
.
To Be Continue
Note 1 : Makin kesini yang review dikit yah, ceritanya ngebosenin yah? Maaf. Bukannya aku 'gila' review, tapi kalau dilihat yg 'open' atau 'baca' FF ini banyak, tapi sedikit yg review dan fav. Aku tahu aku masih author amatir, maafkan aku.
Note 2 : Terima kasih banyak yang sudah mau review. Aku sangat berterima kasih. Sebagai author amatir, aku senang sekali FF ku ada yg review.
Note 3 : Aku kepikiran sebuah FF, tapi belum dapat banyak inspirasi. Aku juga tidak janji untuk membuat FF baru karena sudah mulai sibuk kuliah dan kerja. Tapi aku akan berusaha.
Aju NICE!
