Disclaimer: This story is completely based on my imagination. Seventeen belongs to Pledis entertainment. The plot is mine.
Warning : Typo everywhere. Tidak sesuai dengan EYD. Yaoi. Boy x Boy.
Cast :
Kwon Soonyoung & Lee Jihoon (SoonHoon)
Seventeen members
+Happy Reading+
Jihoon bisa saja ngebut untuk membuat sebuah lagu, namun untuk kali ini ia harus serius. Jihoon ingin lagu buatannya kali ini bisa menyentuh hati seorang komposer terkenal, Jung Jinyoung.
Saat mendaftar, ternyata Jihoon menyadari ada kuota. Youth Music Festival adalah acara yang besar. Bisa dipastikan ada ribuan orang yang mendaftar. Posisi Jihoon dan kelompoknya sudah aman, namun ia teringat Hoshi.
Hari ini Jihoon memilih untuk mendatangi Lee Chan sebelum masuk ke kelasnya.
"Chan-ah." Beruntung Jihoon bertemu Chan tepat di depan tangga menuju gedung C.
"Jihoon hyung, ada apa?"
"Kau tau pendaftaran Youth Music Festival sudah dibuka?" Jihoon ingin to the point sekarang.
Chan mengangguk, "Kau pasti sudah daftar." Chan tersenyum miris membuat Jihoon semakin khawatir.
"Sudah. Bagaimana dengan kalian?"
Chan menghela napas. "Belum. Ada masalah dengan Hoshi hyung dan kami tidak akan mendaftar sebelum kepastian dari Hoshi hyung. Kami tidak ingin bertiga saja."
"Hoshi?" Seketika perasaan Jihoon tidak enak. "Ada apa dengan Hoshi?"
Chan mengangkat bahunya. "Sepertinya ada masalah dengan keluarganya. Kau tahu bukan bagaimana ayah tirinya itu."
Jihoon memutuskan untuk pergi menemui Hoshi setelah kelasnya selesai.
.
.
.
Jihoon jarang sekali pergi ke gedung F jika tidak ada keperluan. Jihoon sedikit kikuk saat memasuki gedung yang isinya mahasiswa berpakaian rapi. Tidak berseragam seperti Junghan, hanya saja lebih rapi dari mahasiswa seni yang setiap hari ia lihat. Para mahasiswa fakultas bisnis berpakairan rapi untuk menyesuaikan bagaimana nanti mereka terjun ke dunia kerja. Pengecualian untuk Jun dan Hoshi. Mereka adalah mahasiswa seni yang terjebak dalam jurusan bisnis.
Beruntung Jihoon bertemu dengan Jun sebelum ia masuk lebih jauh ke dalam ke gedung F. Namja china itu tersenyum pada Jihoon. "Tumben ke gedung F. Ada apa?"
"Kau tidak bersama Hoshi?"
Jun menggeleng. "Aigoo, sepertinya hubungan kalian semakin dekat." Bisa dibilang Jun adalah teman yang paling dekat dengan Hoshi, selain Chan dan Minghao. Orang yang tertutup seperti Hoshi membutuhkan teman yang cheerful seperti Jun. Memang tak banyak yang Hoshi ceritakan pada Jun, namun Jun bersyukur jika terjadi sesuatu, Jun adalah orang pertama yang Hoshi hubungi.
Jihoon berdengus kesal namun terlihat lucu oleh Jun. "Dimana Hoshi?"
Jun terkekeh. "Molla, hari ini saja ia tidak masuk dan hanya titip absen."
"Jeongmal?" Seketika firasat Jihoon tidak enak. Pasti terjadi sesuatu pada Hoshi. Mungkin bukan sebuah kecelakaan namun pasti ada hubungannya dengan ayah tirinya dan itu lebih mengerikan. "Aku minta nomor Hoshi."
"Untuk apa?" Jun bertanya namun tangannya bergerak untuk memberikan nomor Hoshi.
"Gomawo." Jihoon tak menjawab pertanyaan Jun dan langsung keluar dari gedung F.
Jarinya hanya tinggal menekan tombol hijau pada layar ponselnya, namun Jihoon ragu. Ia mengigit bibirnya. Bagaimana jika Hoshi tidak menjawabnya? Atau kalau pun menjawab, apa yang harus Jihoon katakan? Bagaimana jika Hoshi berpikir yang aneh-aneh tentangnya?
"Argh! Molla!" Jihoon geram sendiri. Rasa khawatirnya memaksanya untuk menghubungi Hoshi segera.
Terdengar nada sambung cukup lama. Membuat Jihoon pesimis jika Hoshi akan menjawab teleponnya.
"Yeoboseo?" Terdengar suara Hoshi serak dari seberang sana.
Seketika mulut Jihoon kaku. Ia bingung harus membalas apa.
"Jika tak menjawab, akan aku tutup."
"Ini Jihoon!" Kali ini giliran Hoshi yang terdiam. Lima detik Jihoon hanya mendengar deru napas Hoshi. "Hoshi?"
"Ada apa?" Suara serak Hoshi terdengar dingin.
Jihoon merasa jika Hoshi sedang tidak ingin diganggu, namun ia sudah terlanjur menelepon. "Kau baik-baik saja?"
"Memangnya aku kenapa?"
"Hari ini kau tidak masuk kelas."
"Tahu dari mana?"
"Aku bertanya pada Jun."
"Kau mengkhawatirkan ku?"
Dan Jihoon terdiam. Pipinya merona merah. Jika Junghan melihatnya, bisa dipastikan namja cantik itu akan menggodanya habis-habisan.
"Kau dimana?" Jihoon mencoba mengalihkan pembicaran. Lagi pula saat ini Hoshi tidak akan melihat wajahnya yang merah padam.
"Di rumah." Jawab Hoshi. "Rasanya aku ingin mati."
"Jangan bicara seperti itu!" Jihoon langsung sensitif jika mendengar kata-kata keramat itu.
Terdengar kekehan dari seberang sana. "Tenang Jihoon, aku tidak akan mati semudah itu walau ayahku mengirimkan yakuza."
"Hoshi!" Dan tawa Hoshi meledak. Ingin sekali Jihoon melihat wajah Hoshi saat tertawa. Pasti akan lebih tampan saat ia tertawa.
"Oh yah, kenapa kau menghubungiku?" Tanya Hoshi setelah tawanya mereda.
"Aku..." Jihoon sedang mencari alasan yang tepat agar tidak terdengar aneh oleh namja yang belakangan ini mencuri pikirannya.
"Kau mengkhawatirkan ku atau kau merindukan ku?"
Tanpa Jihoon sadari, ia menahan napasnya saat mendengar pertanyaan Hoshi. Khawatir? Ya, Jihoon khawatir, sangat khawatir. Namun mengapa ia harus khawatir? Dan rindu? Di otaknya belum ada pengaturan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Ayo kita bertemu." Sebenarnya alasan utama Jihoon adalah ingin bertanya mengapa Hoshi tidak bisa mengikuti acara penting itu, Youth Music Festival. Rasanya tidak enak jika bertanya seperti itu melalui telepon. Akan lebih leluasa jika Jihoon bertanya langsung walau resikonya ia akan mendapat imbas oleh Hoshi yang sedang dalam mode nomor satu.
"Tunggu di gerbang kampus. Lima belas menit lagi aku sampai." Hoshi langsung mematikan ponselnya.
.
.
.
Hari ini Jihoon tidak punya kelas lagi, jadi setelah menghubungi Hoshi, ia segera mengambil tas dan gitarnya di loker. Kemudian keluar gerbang utama Pledis University. Menunggu Hoshi di halte bus yang berisikan beberapa mahasiswa.
Otak Jihoon bekerja ekstra untuk membuat pertanyaan yang tepat pada Hoshi. Ia tidak ingin Hoshi marah atau melemparnya ke kolam lotus hanya karena Jihoon salah bertanya.
Semakin dipikir, otak Jihoon semakin buntu. Ia tidak bisa memikirkan cara yang baik untuk bertanya pada Hoshi. Dua hari lalu Hoshi terlihat semangat dengan acara Youth Music Fesitval namun tiba-tiba ia tidak bisa ikut acara itu.
Suara klakson mobil menyadarkan Jihoon dari lamunannya. Terlihat Hoshi menyuruhnya untuk naik.
"Tak perlu aku bukakan pintu, kan?"
"Tidak." Setelah Jihoon memasukan gitar dan tasnya ke belakang, ia memutari mobil kemudian masuk, duduk di samping Hoshi yang mulai menjalankan mobilnya.
"Jadi, ada apa?" Tanya Hoshi yang fokus pada jalanan.
"Kenapa kau tidak masuk?"
Hoshi terdiam sejenak. "Ada masalah."
"Masalah apa?"
Hoshi tidak menjawab.
"Hoshi?"
Namja yang sedang menyetir itu hanya berdeham menanggapi.
"Jahat sekali." Ucapan Jihoon sukses membuat Hoshi menoleh singkat. "Apakah kau tidak menganggapku ada?"
"Bukan begitu Jihoon."
"Cerita!" Jihoon merajuk, sebuah senjata telak untuk Hoshi. Namja itu mau tak mau harus bercerita pada Jihoon. Sebenarnya Hoshi itu sama seperti Jihoon. Hoshi tidak akan kuat menolak perkataan Jihoon walau ia sudah mati-matian untuk mengelak.
Hoshi memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia tidak ingin terjadi sesuatu di jalan jika konsentrasinya pecah.
"Nilaiku sedikit buruk di ujian kenaikan semester dan ayahku mengancamku." Hoshi mulai bercerita. "Ayahku mengungkit masalah dance. Ia berpikir jika nilaiku turun karena aku lebih memikirkan dance daripada kuliah."
Jihoon memilih diam, membiarkan Hoshi puas bercerita. "Padahal aku sudah belajar mati-matian. Dan nilaiku hanya turun sedikit. Sangat sedikit. Tanya saja pada Jun jika tidak percaya. Dan aku takut jika..."
"Jika apa?"
"Jika aku ikut acara Youth Music Festival, ayahku akan mengatahuinya. Tak masalah jika aku yang terkena amuk ayahku, aku hanya takut terjadi sesuatu pada Jun, Chan dan Minghao. Ayahku pasti berpikir pendek jika mereka yang membujukku, padahal itu keinginan diriku sendiri."
Hati Jihoon tersentuh dengan kebaikan hati Hoshi. Walau namja itu tidak bisa ditebak, namun ternyata Hoshi memiliki sisi peduli pada teman-temannya. Hoshi itu sebenarnya anak yang baik, pikir Jihoon, hanya saja karena ayah tirinya yang terlalu memaksakan kehendak, Hoshi tidak bisa bebas melakukan apa yang ia suka.
"Saat di Jepang pun teman-temanku diatur oleh ayahku." Hoshi berdecak kesal. "Mereka berteman denganku karena bayaran ayahku. Aku membenci mereka. Aku muak dengan semua yang berhubungan dengan ayah tiriku."
"Hoshi." Jihoon menghela napas. Ia mengerti bagaimana tersiksanya Hoshi. Ayah tirinya bagaikan mengikat Hoshi dengan tali tambang yang kuat. Ingin rasanya Jihoon melepas tali tersebut dan membiarkan Hoshi berlari di tengah angin. Melihat Hoshi menari sama saja melihat burung terbang di angkasa. Bebas dan disanalah tempatnya.
"Kalau begitu ayo daftar Youth Music Festival."
Hoshi menoleh. Memandang senyum percaya diri Jihoon. "Bagaimana jika ayahku sampai tahu?"
"Siapa yang akan memberi tahunya? Tidak akan mungkin, Hoshi." Senyum Jihoon bukanlah senyum happy virus milik Seokmin atau senyum angelic milik Junghan, namun senyum Jihoon berhasil memberi kekuatan baru untuk Hoshi. Tubuh Jihoon itu kecil namun rasanya Hoshi bisa berpegangan padanya, walau sebenarnya Hoshi ingin Jihoon yang berpegangan padanya.
"Kau yakin?"
Jihoon mengangguk antusias. "Sangat! Ayo kita ke tempat pendaftaran sekarang. Kuota terbatas!"
Melihat Jihoon yang bersemangat membuat Hoshi percaya diri. Segera mereka melaju ke tempat yang Jihoon arahkan.
.
.
.
Beberapa hari lalu Seokmin menemani Wonwoo yang menangis. Ia tidak tahu harus bawa Wonwoo kemana karena namja yang sedang bersedih itu hanya diam. Seokmin hanya menjalankan mobilnya dengan suasana sunyi. Tak ada yang membuka suara. Seokmin terlalu takut walau hanya sekedar bertanya 'kau baik-baik saja?'. Jadi setelah Wonwoo terlihat membaik, Seokmin langsung mengantarkan Wonwoo ke rumahnya. Sudah sore dan rumah Wonwoo sepi. Sepertinya tak ada orang di rumahnya.
Tugas Seokmin masih belum selesai sampai disitu. Hari ini pun Seokmin menjadi 'bodyguard' untuk Wonwoo.
Seokmin tak sengaja bertemu dengan Wonwoo yang berjalan pelan dari gedung A. Wajah namja itu memang emo, namun Seokmin bisa melihat raut kesedihan dari Wonwoo.
"Wonwoo-ya." Sapa Seokmin dengan senyum terbaiknya, berharap ia bisa menularkan virus kebahagiannya untuk Wonwoo.
"Oh? Seokmin." Sepertinya senyum Seokmin masih belum bisa menghancurkan benteng kesedihan Wonwoo.
"Kau sudah makan?"
Wonwoo menggeleng.
"Ayo kita makan."
"Aku tak napsu makan."
"Jangan seperti itu, kau sudah kurus, jangan buat tubuhmu setipis papan triplek."
"Apa kau bilang?!"
"Bercanda." Seokmin tertawa sambil memberi V sign dengan kedua jarinya.
Sedikit dan sangat singkat tapi Seokmin berani bersumpah jika ia melihat sudut bibir Wonwoo terangkat. Ada rasa bangga tersendiri untuk Seokmin.
"Ayo kita makan!"
"Tapi Seokmin, aku-"
"Aku yang bayar!" Sebelum Wonwoo menyelesaikan kalimatnya, Seokmin segera merangkul Wonwoo lalu menariknya ke kantin.
Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata yang melihat kejadian tersebut. Kim Mingyu. Namja itu berdiri di depan gedung B dengan pikiran kacau.
Jujur sampai saat ini Mingyu tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Wonwoo. Namja bermarga Jeon itu sudah mengatakan putus, berarti hubungan mereka berakhir. Tapi Mingyu merasa ada sesuatu yang berbeda.
Jahatnya adalah Mingyu merasa lega karena ia tidak terlalu dipusingkan dengan Wonwoo yang selalu merajuk padanya dan sekarang ia bisa melihat Wonwoo lebih baik. Dengan Seokmin? Entahlah, mereka hanya teman jadi Mingyu tak ambil pusing. Tapi jika Mingyu mengatakannya pada Seungcheol, kemungkinan kekasih Junghan itu akan menghajarnya habis-habisan.
Tapi ada sesuatu yang muncul di relung hati Mingyu. Ia tidak tahu apa itu. Perasaan itu masih tertanam dalam. Belum muncul kecambah jadi Mingyu tidak akan tahu bagaimana kedepannya.
.
.
.
Empat namja tengah sibuk membuat sebuah koreogafi dance. Setelah Hoshi berkata jika mereka jadi mengikuti acara Youth Music Festival, Jun, Chan dan Minghao tampak senang walau sebelumnya sudah mengintrogasi Hoshi.
Sedangkan di jurusan Musik, Jihoon tampak sedang memainkan gitarnya. Wajahnya nampak serius, menandakan bagaimana otaknya sedang bekerja.
"Perlu bantuan?" Tanya Seungkwan yang masuk ke ruang musik, diikuti Seokmin dari belakang.
Jihoon menoleh. "Jika kau ingin membantu."
"Sudah sampai mana?" Seokmin mengambil duduk di depan Jihoon.
"Dengarkan ini." Jari Jihoon dengan pandai memetik gitar. Menghasilkan sebuah melodi indah yang bisa membuat Seungkwan dan Seokmin terhanyut.
"Kau sedang membuat lagu ballad?" Tanya Seungkwan setelah Jihoon selesai.
"Molla. Itu belum selesai. Aku masih belum dapat inspirasi lagi." Jihoon memeluk gitarnya yang hampir menyamai besar tubuhnya. Ingatkan Seungkwan dan Seokmin jika Jihoon sudah hampir berumur sembilan belas tahun.
"Kau sangat bekerja keras untuk acara ini." Ujar Seokmin.
"Sangat! Aku ingin idolaku mendengarkan laguku."
"Aku yakin seorang komposer seperti Jung Jinyoung akan luluh dengan lagumu."
"Aku harap juga begitu Seungkwan-ah."
"Ada yang kau pikirkan saat membuat lagu?"
Jihoon terdiam mendengar pertanyaan Seokmin. Tentu ada. Nada-nada yang ciptakan untuk lagu ini berasal dari namja bermata sepuluh lewat sepuluh. Hoshi. Saat pertama kali bertemu, namja itu berhasil menghantui pikiran Jihoon. Otak Jihoon bekerja, tangan Jihoon bermain indah, jantungnya bedegup kencang saat memikirkan Hoshi. Alasannya karena namja itu mengingatkannya pada Kwon Soonyoung.
Jihoon belum pernah merasakan ini sebelumnya. Sepertinya Hoshi ingin mengejar posisi Kwon Soonyoung di hati Jihoon. Rasa putus asa membuat Jihoon mengizinkan siapa saja menggantikan posisi seorang Kwon Soonyoung. Namun hati Jihoon belum siap untuk menghapus memori tentang Kwon Soonyoung.
Jihoon tersenyum miris. Ia menjawab. "Ada."
.
.
.
Jika pada dasarnya kecantikan dimiliki seorang yeoja, maka namja satu ini pengecualian. Yoon Junghan, mahasiswa semester empat jurusan perhotelan ini terlihat sangat cantik dengan rambut yang lebih panjang dari namja biasanya.
Junghan baru saja memotong rambutnya yang sepunggung menjadi pendek sebahu. Mungkin lebih pendek sedikit lagi. Poni panjangnya tak pernah ia lupakan. Seorang mahasiwa jurusan perhotelan harus memperhatikan penampilannya, termasuk Junghan.
Bukan hanya Mingyu yang suka bereksperiem di laboratorium, Junghan suka bereksperimen. Bukan tentang makanan seperti Mingyu, namun dengan rambutnya di salon. Warna. Junghan sempat mewarnai rambutnya dengan warna merah, coklat, pirang, biru bahkan ungu. Namun sekarang Junghan lebih menyukai warna natural hitam.
Sekarang penampilan baru Junghan berhasil membuat Seungcheol mabuk kepayang. Hari ini Junghan meminta Seungcheol untuk menemaninya ke salon. Seungcheol pikir Junghan hanya melakukan perawatan rambut seperti biasa karena Junghan menyuruh Seungcheol sekalian creambath dengannya. Seungcheol menolak dan memilih untuk bermain game di ponselnya.
Junghan tahu jika Seungcheol akan tenggelam dalam dunia fantasinya dan tidak akan memperhatikan kegiatannya. Maka saat Junghan selesai dan berdiri di depan Seungcheol, namja bermarga Choi itu terpanah.
"Bagaimana? Apa aku cocok dengan rambut seperti ini?"
Seungcheol melupakan gamenya yang berteriak 'game over'. Ia tersenyum memandang Junghan. "Sepertinya aku jatuh cinta untuk kedua kalinya padamu."
Rayuan Seungcheol berhasil pipi Junghan bersemu merah. "Mulutmu sangat manis tuan Choi."
"Tapi lebih manis malaikat yang ada di depanku ini."
Kedua sudut bibir Junghan tak bisa ia tahan untuk terangkat, membuat sebuah senyuman indah. "Hentikan rayuanmu, Seungcheol."
"Kenapa? Padahal dengan begitu aku bisa melihat senyumanmu." Terkadang rayuan Seungcheol membuat Junghan geli, namun entah mengapa Junghan menyukainya. Seungcheol suka merayu siapa saja yang terkadang membuat Junghan kesal. Namun jauh dari itu semua, Junghan yakin jika Seungcheol tulus dengannya. Saat Seungcheol berkata hanya Junghan yang bisa menggantikan Jihoon di hatinya, disaat itulah Junghan percaya sepenuhnya pada Seungcheol.
"Lebih baik kita pulang sekarang." Junghan keluar dari salon sebelum wajahnya benar-benar memerah seperti kepiting rebus.
"Tapi aku tidak punya kendaraan untuk mengantarmu ke surga, malaikat Yoon."
"Seungcheol!"
.
.
.
Lapar. Perut seorang namja manis berbunyi minta diizi. Boo Seungkwan segera memesan makanan di kantin. Tak ada Seokmin yang menemaninya. Katanya ia sudah ada janji dengan Wonwoo untuk membeli buku. Seungkwan hanya tahu jika Wonwoo sedang bersedih karena putus dengan Mingyu. Seokmin menceritakan semua yang ia tahu pada Seungkwan. Dan namja bermarga Lee itu berubah menjadi happy virus yang harus ada untuk Wonwoo semenjak Wonwoo datang padanya sambil menangis. Seperti obat yang harus Wonwoo konsumsi secara teratur. Entah mengapa Seokmin merasa bertanggung jawab untuk menghilangkan sedih Wonwoo.
"Annyeong!"
Seorang namja western menganggu acara makan Seungkwan yang berlangsung tenang tadi. "Annyeong Hansol! Tidak makan?"
Hansol menggeleng sambil tersenyum. Tersenyum bukan tertawa. Jika tertawa maka Seungkwan akan melihat gusi merah pucat milik Hansol. Seungkwan baru menyadari jika Hansol tertawa sangat lebar dan matanya yang bulat akan menyipit seperti Jihoon saat mereka pergi ke bioskop berdua. Saat itu tak ada yang mau menemani Seungkwan dan hanya Hansol yang siap sedia untuknya.
"Kau tak lapar?"
"Melihat kau saja aku sudah kenyang."
"Apa?!"
"Maksudku, lihat saja pipimu, chubby seperti roti."
Hansol memang memiliki marga yang sama seperti Seungcheol. Ia juga memiliki wajah yang tak kalah tampan seperti Seungcheol. Dan mereka satu jurusan yang sama. Bedanya Hansol tidak bisa bermulut manis seperti Seungcheol.
"Yak! Aku ini tidak gendut!" Protes Seungkwan dengan bibir yang sedikit pout.
Gemas. Rasanya Hansol ingin mencubit pipi atau bibir Seungkwan. "Aku tidak bilang kau gendut. Tapi pipi mu chuby."
"Sama saja, Choi Hansol!"
"Sudahlah, minum ini." Hansol mengambil segelas minuman berwarna biru yang sejak tadi ia siapkan di kursi sebelahnya. "Kau makan tapi tidak ada minumnya."
"Bubble gum?"
"Kau suka bukan?"
"Dari mana kau tahu aku suka ice bubble gum?"
"Karena kau selalu membeli itu saat kita jalan." Hal lainnya yang membedakan Hansol dengan Seungcheol adalah Hansol lebih menunjukan rasa suka dengan action dan tidak mulut gula sepeti Seungcheol.
.
.
.
Aktiftas semester dua Jihoon dimulai. Dosennya kembali memberi tugas. Tidak terlalu sulit, hanya saja banyak. Sepintar mungkin Jihoon mengatur waktunya untuk membuat lagu.
Jihoon merentangkan tubuhnya di atas single bednya. Otak Jihoon sedang buntu untuk melanjutkan lagunya. Beberapa hari ini ia sibuk dengan kuliahnya dan hanya bertemu dengan Hoshi sesekali saja. Itu pun tak sengaja seperti saat di kantin, perpustakaan, atau saat Hoshi berkunjung ke gedung C untuk latihan dance.
Tak ada yang bisa membuat Jihoon mendapatkan inspirasinya. Jihoon terlalu malu untuk mengakuinya. Mengakui jika ia butuh Hoshi untuk menambah nada baru untuk lagunya.
Suara hujan yang turun deras membuat Jihoon sedikit mengantuk. Rasanya begitu tenang disaat malam mulai larut. Belum sepuluh detik Jihoon memejamkan matanya, telinganya menangkap sebuah suara.
Ada seseorang yang mengetuk pintunya. Terlalu lemah hingga Jihoon hampir tak bisa mendengarnya.
"Jihoon." Dan sekarang Jihoon mendengar suara yang sama lemahnya seperti ketukan pintu. Segera Jihoon keluar dari kamarnya.
Jihoon hampir tak percaya dengan apa yang ia lihat. Namja yang tadi sedang ia pikirkan kini muncul di depan rumahnya dengan tubuh yang basah karena hujan. Pakaian Hoshi terkoyak dan wajahnya lebam. Sepertinya namja ini habis berkelahi.
"Jihoon."
Bruk! Tubuh Hoshi terhuyung ke depan. Untung saja Jihoon sigap walau ia sedikit kewalahan karena tubuh Hoshi lebih besar dari tubuhnya.
Jihoon membopoh tubuh Hoshi ke kamarnya. Menidurkannya di atas single badnya yang mulai basah karena tubuh Hoshi.
Jihoon meringis melihat ada darah segar dari sudut bibir Hoshi. Pikiran Jihoon kacau menebak apa yang telah terjadi pada Hoshi.
Segera Jihoon melepas jaket dan t-shirt yang dikenakan Hoshi. Jihoon ingin melepas celana Hoshi namun pipinya memanas. Bukan, Jihoon tidak berpikir mesum, hanya saja ia belum pernah melihat namja naked di depannya.
Melihat tubuh atas Hoshi yang naked saja, mata Jihoon tidak bisa lepas dari enam kotak yang hampir terpahat sempurna.
Sebenarnya mata Jihoon sudah tidak suci semenjak ia tak sengaja melihat video porno di ponsel Jun. Selama seminggu Joshua mencoba menjernihkan pikiran Jihoon yang tak konsen. Namun Wonwoo berkata jika sudah seharusnya Jihoon tidak merasa tabu dengan hal-hal seperti itu.
Dan sekarang di depannya sudah ada Hoshi yang hanya mengenakan boxer saja. Jihoon tak berani melakukan lebih. Melepas celana jean Hoshi saja Jihoon butuh perjuangan.
Jihoon memilah pakaian di lemarinya. Semua pakaiannya tidak akan muat ditubuh Hoshi. Tubuh Jihoon itu seperti anak kelas satu senior high school.
Mata kecil Jihoon menangkap sebuah jaket bermotif kemeja kotak-kotak merah hijau yang jarang ia pakai karena terlalu besar. Sepertinya itu muat dengan tubuh Hoshi.
Dengan hati-hati Jihoon memakaikan jaket tersebut ke tubuh Hoshi. Pas-pasan. Jika Jihoon berusaha memakaikan semua kancing kemejanya, Jihoon yakin Hoshi akan merasa pengap nantinya. Jadi Jihoon membiarkan hanya satu kancing yang terpasang. Kemudian ia dengan hati-hati mengobati luka dan lebam yang ada di wajah dan tubuh Hoshi. Kemudian menyelimuti tubuh Hoshi sampai ke lehernnya dengan selimut tebal baru.
"Ini kedua kalinya kau membuatku khawatir, Hoshi-ya."
Jihoon keluar dari kamarnya. Ia menyiapkan kasur lipat, bantal dan selimut di ruang tengah. Setelah memasitan semuanya beres, Jihoon segera menyusul Hoshi tidur.
.
.
.
"Jihoon! Jihoon! Apa yang sedang kau gambar?" Seorang namja kecil menghampiri namja kecil yang sedang serius menggambar.
"Aku menggambar gitar." Jawab namja yang bernama Jihoon tersebut. "Soonyoung gambar apa?"
Namja kecil yang bernama Soonyoung tersebut tersenyum lebar hingga matanya terlihat seperti dua jarum jam yang sedang menunjukan waktu sepuluh lewat sepuluh. "Soonyoung gambar bintang!"
Soonyoung kecil menunjukan buku gambarnya pada Jihoon kecil. Sebuah gambar bintang besar memenuhi salah satu halaman buku gambar berukuran A4 tersebut. Gambar bintang itu sangat rapi untuk anak kecil umur delapan tahun seperti Soonyoung.
"Bintangnya bagus sekali Soonyoung-ah!" Mata Jihoon berbinar melihat gambar Soonyoung.
"Jihoon suka?" Jihoon mengangguk. "Kalau begitu akan Soonyoung tulis nama Jihoon di bintang Soonyoung!"
Soonyoung kecil mengambil sebuah spidol warna biru tua lalu menuliskan hangul 'Lee Jihoon' di tengah gambar bintang tersebut. "Cha! Sekarang Jihoon adalah milik Soonyoung!"
Jihoon kecil memiringkan kepalanya bingung. Terlihat sangat menggemaskan untuk anak kecil gembul seperti Jihoon. "Kenapa Jihoon jadi milik Soonyoung?"
"Karena di bintang Soonyoung ada nama Jihoon. Dan bintang ini adalah milik Soonyoung. Jadi Jihoon milik Soonyoung!" Jelas Soonyoung kecil semangat. Soonyoung kecil merasa bangga atas penjelasan sederhana yang ia buat, seolah ia adalah ilmuan yang menciptakan teori baru.
"Tapi Jihoon lebih suka bintang sungguhan."
"Kalau begitu Soonyoung akan bawakan bintang yang bersinar untuk Jihoon!"
"Ne!"
Mimpi itu begitu terlihat sangat nyata untuk seorang namja yang kini sedang berbaring atas kasur empuk. Ya, itu adalah sebagian kecil memori masa lalunya yang tak bisa ia lupakan.
Mimpinya selalu dihiasi dengan memori-memori masa kecilnya, membuat hati kecilnya ingin kembali ke masa lalunya yang sangat indah, berbeda dengan kehidupannya sekarang.
Hoshi menghela napasnya. Matanya memandang langit-langit putih di kamar Jihoon. Ya, ia ingat semalam ia menerjang hujan untuk sampai ke rumah Jihoon.
Helaan napas kedua keluar dari mulut Hoshi. Ia merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia pergi ke rumah Jun, namun dengan kesadaran yang tersisa, kaki Hoshi membawanya ke rumah Jihoon. Hoshi yakin setelah ia keluar dari kamar Jihoon, namja mungil itu akan memberinya ribuan pertanyaan atau mungkin Jihoon hanya diam dan hanya berkata 'Ceritakan' atau 'katakan padaku apa yang terjadi.' Hoshi tidak bisa menolak perkataan Jihoon bagaimana pun keadaannya.
"Kau sudah bangun?" Hoshi menoleh pada pintu yang terbuka. Seorang namja mungil menyembulkan kepala dari balik pintu. Ingatkan Hoshi jika Jihoon memiliki wajah manis seperti anak anjing, jika tidak Hoshi akan berkata jika Jihoon mirip seperti kura-kura dalam keadaan seperti itu.
"Apa kau merasa pusing?" Jihoon mulai berjalan mendekat. Ia menempelkan telapak tangannya pada dahi Hoshi. "Tubuhmu sedikit panas."
"Bangunlah. Makan dulu baru minum obat. Sepertinya aku masih menyimpan obat demam di kotak obat." Jihoon keluar dari kamar tanpa menutup pintu.
Hoshi yang sejak tadi setia diam dalam kebisuannya mulai bangkit. Saat ia melewati cermin kecil dekat lemari Jihoon, ia melihat plester menghiasi beberapa bagian sisi wajahnya. Lagu bagian tangannya juga dihiasi plester. Hoshi tersenyum kecil.
"Hoshi! Bangun!"
"Aku sudah bangun." Guman Hoshi lalu segera menyusul Jihoon di ruang tengah.
Semangkuk sup, kimci, dua mangkuk nasi kecil dan dua gelas air hangat sudah tersedia di atas meja kecil di ruang tengah.
"Duduklah." Hoshi duduk di depan Jihoon.
"Makanlah." Hoshi mengambil sendok dan mulai menghirup sup buatan Jihoon.
"Setelah makan, kau harus minum obat." Hoshi hanya mengangguk sambil memasukan nasi ke dalam mulutnya.
"Setelah itu ceritakan padaku apa yang terjadi." Itu dia! Hoshi hanya bisa berdeham menanggapi tanpa berani menatap mata Jihoon yang ia yakin sedang melihatnya tajam.
.
.
.
Tepat setelah Hoshi selesai meminum obat yang diberikan Jihoon, namja bermarga Lee itu bertanya. "Apa yang sudah terjadi?"
Satu pertanyaan singkat yang Hoshi tak tahu bagaimana cara merangkum jawabannya. "Sepertinya ayahku marah besar."
Seperti biasa, Jihoon terdiam menunggu kelanjutan cerita Hoshi.
"Ia mengirimkan ku yakuza untuk memberikan sedikit pelajaran padaku. Hanya tiga orang."
Jihoon menyerngit. Sepertinya kata 'hanya' tidak berpengaruh sama sekali jika melihat bagaimana keadaan Hoshi sekarang.
"Ada gunanya aku belajar taekwondo sampai sabuk hitam. Buktinya aku masih bernyawa sekarang."
"Hoshi!"
"Tenanglah. Aku baik-baik saja." Hoshi tersenyum. Senyum yang dipaksakan, Jihoon yakin itu. "Kau yang seharusnya berhati-hati."
"Maksudmu?"
"Ketiga yakuza itu membawa pesan dari ayahku. Sepertinya mereka mengincar Jun, Minghao dan Chan jika mereka terbukti menghasutku untuk dance." Jihoon bisa lihat mata Hoshi menghitam. Ada rasa benci yang teramat pada ayahnya. "Aku marah dan malah menantang mereka jika mereka berani menyentuh teman-temanku."
"Jika ada manusia sejenis yakuza datang padamu. Cepat hubungi aku, atau minimal kau hubungi Jun dan Minghao, mereka jago bela diri."
"Hoshi."
"Jangan pernah maafkan aku jika terjadi sesuatu padamu."
"Tidak! Aku akan baik-baik saja. Kau juga akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja!"
Ingin rasanya Jihoon memeluk Hoshi yang terlihat rapuh sekarang ini. Jihoon tahu jika Hoshi berusaha tegar untuk melindungi teman-temannya. Namun Jihoon tak bisa berbuat apa-apa sekarang.
"Aku berharap seperti itu, Jihoon."
"Lebih baik kau tinggal di rumah Jun dulu sampai keadaan benar-benar aman."
"Bagaimana kalau aku tinggal bersamamu?"
"Apa?!"
"Aku tidak enak dengan orang tua Jun. Kalau kau, kan, tinggal sendiri."
"Tapi kamarku hanya satu."
"Kita kan sama-sama namja."
"Tapi..."
"Tapi apa?"
Jihoon memang tak keberatan untuk menerima Hoshi di rumahnya, namun Jihoon yakin kecanggungan akan mudah tercipta saat mereka tinggal bersama. Jihoon tidak suka itu.
"Ayolah Jihoon."
Jihoon mengigit bibirnya. Tak ada pilihan lain selain, "Baiklah."
.
.
.
Jihoon memandang kamarnya tak percaya. Kamar berukuran tiga kali empat meter ini dulu hanya terdapat satu tempat tidur, namun kini, di samping tempat tidur Jihoon, ada sebuah kasur yang lebih pendek dari tempat tidur Jihoon, lengkap dengan bantal dan selimut.
"Kenapa kita satu kamar?" Tanya Jihoon pada namja yang sedang membawa kopernya masuk ke dalam rumah Jihoon.
"Di rumah mu hanya ada satu ruang tidur." Jawab Hoshi enteng, tak peduli jika Jihoon memandangnya tajam.
"Maksudku, kau bisa saja tidur di ruang tengah."
"Mengapa harus aku?"
"Karena ini rumah ku!"
"Tapi kemarin kau membiarkanku tidur di kamar mu."
"Itu karena kau sedang sakit!"
"Lagi pula di ruang tengah itu dingin."
"Hoshi!"
"Kau ada makanan? Aku lapar." Ingin rasanya Jihoon melempar Hoshi ke dalam kolam lotus saat ini. Namja sipit itu berjalan melewati Jihoon lalu keluar menuju dapur dan membongkar isi dapur Jihoon. "Kau hanya punya ramyeon instan?"
Jihoon berdengus kesal. "Hanya itu makanan yang aku punya."
Hoshi menutup lemari pendingin Jihoon yang kosong. Sebenarnya tidak benar-benar kosong, masih ada beberapa botol air mineral, beberapa butir telur dan cemilan yang bisa Hoshi hitung dengan jari.
"Kalau begitu, ayo kita beli bahan makanan!"
.
.
.
Nama : Lee Jihoon. Umur : sembilan belas kurang beberapa bulan. Tinggi badan : seratus enam puluh delapan. Hobi : mendengarkan musik. Kemampuan : bermain alat musik dan menciptakan lagu. Ciri-ciri tersebut sudah bisa menunjukan betapa dewasanya seorang Lee Jihoon. Sebagai mahasiswa yang jauh dari orang tua, seharusnya Jihoon dapat mengurus dirinya sendiri, maksudnya dalam artian yang sesungguhnya.
Jihoon adalah namja yang mandiri, namun ia terlalu acuh dengan dirinya sendiri. Terbukti Hoshi hanya menemukan ramyeon di rumah Jihoon.
Saat ini Jihoon sedang mengikuti Hoshi dari belakang. Namja yang lebih tinggi darinya itu sedang memilih beberapa sayuran yang tersusun rapi dan terlihat segar. Jihoon bukan tidak tahu tentang bahan makanan, hanya saja ia terlalu malas untuk bereksperimen makanan. Dan Jihoon itu bisa memasak selain ramyeom dan telur goreng walau tidak seahli Mingyu.
"Mau kemana lagi?" Tanya Jihoon saat Hoshi membayar sekantong sayuran yang entah isinya apa pada seorang ahjumma.
"Cari bahan makanan lain."
Jihoon kembali mengikuti Hoshi dari belakang. Untuk ukuran namja, Hoshi termasuk namja yang sangat mandiri. Ia bisa memilih jenis sayuran, ia bisa memilih jenis daging yang segar, bisa bertransaksi dan Jihoon yakin Hoshi pandai memasak. Awalnya Jihoon berpikir Hoshi adalah anak yang manja karena semua fasilitas dengan mudah terpenuhi, namun Jihoon terkesan dengan kemandirian Hoshi.
"Jihoon?" Seorang namja berpipi chuby menghampiri Jihoon sambil membawa sekantong jeruk.
"Seungkwan? Sedang apa kau disini?" Tanya Jihoon.
"Kami sedang berbelanja titipan ibu Seungkwan." Hansol muncul di belakang Seungkwan dengan dua buah kantong plastik besar di kedua tangannya.
"Aigoo, sepertinya kalian sudah sangat dekat." Goda Jihoon yang berhasil membuat pipi Seungkwan memerah.
"Jihoon-ah, siapa dia?" Tanya Seungkwan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ini Hoshi."
"Hoshi?! Teman Jun yang dari Jepang?!"
Hoshi hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum.
"Dan sedang apa kalian disini?" Giliran Hansol bertanya.
"Aku menemani Jihoon membeli bahan makanan." Hoshi memberi kode pada Jihoon yang sudah menatapnya tajam. Hoshi yakin Jihoon tak akan sungkan mengusirnya saat ada yang tahu mereka tinggal bersama saat ini.
"Jeongmal?" Seungkwan tersenyum jahil. "Aku rasa kau mulai menemukan pengganti Seungcheol hyung."
Mata Jihoon membulat. Ia dapat merasakan aura kegelapan dari Hoshi di sampingnya. Seharusnya Jihoon ingat jika mulut Seungkwan terkadang tak bisa dijaga. Jihoon yakin setelah ini Hoshi akan berubah ke mode nomor satu. Sebenarnya Jihoon sendiri tidak tahu mengapa ia merasa takut jika Hoshi mengetahui hubungannya dengan Seungcheol.
.
.
.
Dugaan Jihoon terbukti. Setelah mereka berpisah dengan Seungkwan dan Hansol, Hoshi langsung pergi meninggalkan Jihoon menuju mobil Hoshi.
Di dalam perjalanan pulang, sunyi melanda mereka. Tak ada yang membuka suara. Terutama Jihoon yang entah mengapa merasa takut pada Hoshi yang sedang dalam mode nomor satu.
Sampai di rumah Jihoon pun, Hoshi langsung turun membawa semua kantong belanjaan dan menatanya di dapur sendiri.
"Hoshi." Panggil Jihoon pelan. Ia mencoba membantu Hoshi menata sayuran di dapur, namun Hoshi tak membiarkan Jihoon menyentuh belanjaannya walau sebenarnya belanjaan itu untuk Jihoon.
"Hoshi." Panggil Jihoon lagi.
Alih-alih merespon, Hoshi masuk ke dalam kamar Jihoon dan mengganti bajunya dengan kaos hijau polos.
"Hoshi!" Jihoon mulai jengah karena Hoshi mengabaikannya.
"Kau kenapa?!" Jihoon berdiri di depan Hoshi yang sedang terduduk di pinggir tempat tidur Jihoon. Dalam posisi seperti ini, tubuh Jihoon terlihat lebih tinggi dari Hoshi walau hanya beberapa senti saja.
"Apa hubungan mu dengan Seungcheol sunbaenim?" Hoshi menatap Jihoon dengan mata elangnya. Tatapan yang berhasil membuat Jihoon beku di tempat.
"Kami tidak ada hubungan apa-apa." Suara Jihoon bergetar membuat Hoshi semakin curiga.
"Lee Jihoon." Jika orang lain akan merasa takut saat digertak, berbeda dengan Jihoon saat Hoshi memanggilnya dengan suara dalamnya. Bagaikan granat yang kapan saja bisa meledak. Enggan rasanya Jihoon menyentuh granat tersebut.
"Seungcheol hyung adalah mantan kekasihku." Kepala Jihoon tertunduk, bagaikan anak kecil yang sedang mengaku mencuri permen di toko. Jihoon takut jika Hoshi akan menghukumnya. "Saat kami senior high school."
"Oh."
"Tapi kau harus tahu mengapa aku putus dengan Seungcheol hyung!" Bibir mungil Jihoon menjadi sasaran gigitan Jihoon. Di depannya ada seorang namja yang telah berhasil mencuri pikirannya. Sampai saat ini Jihoon masih tidak tahu sihir apa yang digunakan Hoshi sampai membuat Jihoon berani menceritakan alasan mengapa hubungannya dengan Seungcheol berakhir.
Hoshi terdiam, menunggu penjelasan Jihoon.
"Aku tidak mencintai Seungcheol hyung. Aku hanya menganggap Seungcheol hyung seperti hyung ku. Ia selalu menjaga ku dan baik padaku. Aku tidak bisa membalas perasaannya jadi aku rasa hubungan kami hanya bisa sebatas teman dekat."
"Hanya itu?"
Jihoon memberanikan dirinya menatap Hoshi. Samar-samar Hoshi bisa melihat ada air mata yang menggenang di pelupuk mata Jihoon.
"Aku tidak bisa membalas perasaan Seungcheol hyung karena hatiku sudah milik orang lain."
Hoshi tahu kemana arah pembiacaan Jihoon. Sekuat tenaga Hoshi menahan raut wajahnya agar tetap datar.
"Ada seseorang yang aku cintai. Ia cinta pertama ku. Saat aku masih kelas tiga sekolah dasar. Konyol bukan?" Jihoon tertawa hambar. "Sampai saat ini aku masih menunggunya walau aku sendiri tidak tahu dimana ia berada sekarang."
"Aku seperti orang bodoh yang menunggu datangnya sebuah keajaiban." Jihoon melemah sampai membuat setetes air hangat lolos dari mata mungilnya.
Oh tidak. Hoshi tidak kuat. Hampir saja tangannya terulur untuk memeluk tubuh mungil Jihoon namun perkataan Jihoon selanjutnya membuat waktu seakan berhenti.
"Kwon Soonyoung, namja itu bagaikan hilang ditelan bumi." Mata Jihoon kini sedang menatap Hoshi tepat dimatanya. Membuat Hoshi bagaikan diikat dengan sebuat tali merah yang tak bisa membuatnya berkutik. "Aku harap aku bisa bertemu dengan Kwon Soonyoung sekali lagi. Aku merindukannya."
Saat itu juga Hoshi ingin berteriak. Jika waktu bisa diulang, mungkin Hoshi akan memilih untuk tinggal di Korea. Biarkan saja ia tinggal sebatang kara di Korea, daripada harus bertemu dengan ayah tirinya yang membuat dirinya tak bisa berkata sejujurnya pada Jihoon.
Bukan hanya Jihoon yang tersiksa. Hoshi juga. Mulut Hoshi bagaikan diberi lem super kuat hingga tak bisa mengucapkan sebuah kalimat yang bisa mengubah segalanya. Hoshi ingin menangis menahan kalimat 'Aku lah Kwon Soonyoung.'
.
To Be Continue
Note 1 : Aku mengganti paket Internet di ponselku denga kartu SIM lain. Dan aku baru ingat jika kartu SIM itu tidak bisa membuka FFnet. Jadi aku menunggu ada wifi. Beruntung tempat kerja baruku ada WIFI, jadi aku bisa membuka FFnet.
Note 2 : Chapter ini lebih panjang lagi yah? Aku bingung potong bagian ini seperti apa karena banyak yang ingin SoonHoon moment-nya ditambahkan.
Note 3 : Sengaja. Aku sengaja menambah couple lain di FF ini karena menurutku jika hanya ada satu couple saja, akan terlihat datar, karena menurut ku masalah SoonHoon disini juga biasa aja, iya gak?(?)
Note 4 : Tapi aku gak keluar dari konteks main couple kok. Nanti juga semuanya akan berpengaruh pada hubungan SoonHoon, walau gak terlalu.
Note 5 : Untuk hubungan Meanie disini, aku sudah pernah bilang kalau aku juga curhat bukan? Hehehe maafkan aku. Aku sengaja tidak kasih Mingyu side, why? Karena Mingyu disini adalah penggambaran couple RP ku, jadi aku tidak tahu pasti apa yang dirasakan dirinya.
Note 6 : SoonHoon moment di real sudah mulai ada lagi kan? Aku senang!(?) Dan tattoo! Siapa yang kasih ide tattoo untuk member SVT? Seungcheol made me melt!
Note 7 : Aku menerima semua review karena menurut aku semua orang berhak untuk mengeluarkan pendapat. Aku juga. Tapi tetap ada tata aturan yang berlaku dan aku warga negara yang taat pada peraturan hahaha.
Note 8 : Sepertinya aku banyak memberi note. Terima kasih atas review dan jangan pernah bosan pada FF ku. Hehehe.
Aju NICE!
