Disclaimer: This story is completely based on my imagination. Seventeen belongs to Pledis entertainment. The plot is mine.

Warning : Typo everywhere. Tidak sesuai dengan EYD. Yaoi. Boy x Boy.

Cast :

Kwon Soonyoung & Lee Jihoon (SoonHoon)

Seventeen members

+Happy Reading+

Angin berhembus cukup kencang membuat kumpulan awan bergerak menutupi sinar matahari yang terik. Perlahan hembusan angin sedikit berkurang, terasa sedang membelai lembut wajah seorang namja yang tampan. Garis wajah namja itu terlihat tegas namun jika diperhatikan, wajah namja itu terlihat menyejukan. Tak pernah bosan untuk memandang wajahnya yang tampan. Dengan tinggi semampai, namja itu cukup menonjol saat kakinya membawanya keluar dari gedung A.

"Sudah makan siang?" Namja itu tersentak kecil saat ada seorang namja dengan senyum lebar muncul.

Jeon Wonwoo, namja itu menggeleng.

"Kalau begitu ayo kita makan siang?"

"Jangan suka memaksak ku untuk makan, Seokmin." Wonwoo menekan suaranya.

Seokmin sadar jika Wonwoo sedang dalam kondisi yang buruk. Ada beberapa hal yang bisa membuat mood seorang Wonwoo memburuk, salah satunya Kim Mingyu. Seokmin selalu sedih saat Wonwoo masih terikat dengan namja jangkung tersebut. "Kau bisa sakit Wonwoo."

"Tidak akan." Baru dua langkah Wonwoo melewati Seokmin, namja berwajah emo itu merintih kesakitan. Ia memegangi perutnya yang terasa perih.

"Wonwoo!" Kaki Wonwoo tidak sanggup untuk menahan bobot badannya dan langsung terkulai lemas di tangan Seokmin.

"Ada apa dengan Wonwoo?!"

"Jisoo hyung, bantu aku bawa Wonwoo ke ruang kesehatan!"

.

.

.

Namanya Kim Mingyu, namja dengan tinggi seratus delapan puluh tujuh sentimeter itu terlihat tampan dengan kulit tan miliknya. Senyumnya menawan karena ada sentuhan manis dari kedua gigi taringnya. Umurnya hampir menginjak angka sembilan belas tahun, namun Junghan pernah berkata jika sikap Mingyu tidak menunjukan umur sembilan belas tahun.

Pandai masak, pemegang sabuk hitam taekwondo walau tidak sejago Hoshi dan perlu diingatkan jika Mingyu pernah dilempar oleh Seungcheol saat namja bemarga Choi itu latihan judo. Memiliki tubuh ideal seorang namja dan otaknya sangat cemerlang. Namun tetap saja tak ada yang sempurna di dunia ini.

Terkadang Mingyu itu seperti anak kecil yang egois. Mingyu belum sedewasa Chan yang notabene lebih muda darinya. Buktinya Wonwoo. Namja itu pernah jatuh hati padanya dan Mingyu menjadikan Wonwoo miliknya, namun Mingyu dengan mudah melonggarkan tali hingga Wonwoo terlepas darinya.

Kini Mingyu sedang duduk berhadapan dengan seorang namja yang akhir-akhir ini menemaninya. Mungkin bahasa kasarnya adalah tempat Mingyu melampiasakan perasaannya atau nama lainnya pengganti Wonwoo.

Kolam lotus menjadi saksi bisu bagaimana Mingyu tersenyum manis pada Minghao, namja polos yang tak tahu apa-apa.

"Minghao-ya, aku ingin bicara sesuatu." Dada Mingyu berdegup tak teratur. Perasaan yang sama seperti dulu saat ia menyatakan perasaan pada Wonwoo. Tapi kali ini sedikit berbeda.

"Bicara apa?" Tanya Minghao polos. Minghao memang termasuk innocent untuk ukuran namja seperti dirinya. Wajahnya terlalu polos hingga setiap orang melihatnya ingin menculik Minghao.

Mingyu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tertunduk lalu menghela napas dalam. Jangan tanya bagaimana perasaan Mingyu saat ini, ia sendiri bingung. Akhir-akhir ini benih yang tertanam di hatinya mulai tumbuh menjadi kecambah dan itu sanggat mengganggu Mingyu. Ia masih tidak tahu akan tumbuh menjadi apa.

"Aku menyukaimu, Minghao-ya." Kalimat itu begitu saja keluar dari mulut Mingyu. Terlalu mudah dan cepat.

Tak ada jawaban dari Minghao, membuat Mingyu bingung. Ia mengakat kepalanya. Pemandangan selanjutnya yang ia lihat adalah sebuah headset biru sedang menghiasi kepala Minghao. Seorang namja tampan memakainya pada Minghao dan menatap Mingyu dengan tatapan tidak bisa ditebak.

"Jun!?"

Mata Minghao berkedip kemudian ia menoleh. "Jun?"

Jun memberi senyum manis pada Minghao lalu ia melepas headset di kepala Minghao. "Minghao-ya, bisa kau tinggalkan kami berdua? Aku ingin bicara sesuatu pada Mingyu."

"Uhm? Tapi Mingyu juga ingin bicara sesuatu padaku."

"Aku rasa itu bisa ditundah. Bukankah begitu Mingyu?"

Yang ditanya menyeringit ngeri melihat tatapan Jun yang mengerikan. Dan saat itu Mingyu baru teringat tentang perkataan Hoshi. Sepertinya Jun juga sama seperti Hoshi, ingin melindungi Minghao dari Mingyu.

"Tapi Jun..."

"Sekalian kembalikan headset ini pada Chan."

Salah satu cara ampuh yang Jun punya untuk membuat Minghao 'patuh' adalah mengelus kepala namja kurus itu. Minghao langsung menurut seperti anak anjing yang patuh pada majikannya. Minghao tersenyum lembut dan itu membuat tanda tanya bedar di kepala Mingyu.

Minghao bangkit, "Aku pergi dulu, Mingyu-ya. Lain kali kita bicara lagi."

Suasana berubah saat Mingyu menyadari hanya tinggal dirinya dan Jun saja yang ada di pinggir kolam lotus. Terasa mencekam karena saat ini Jun memandangnya tajam. Mingyu ingat suasana seperti ini, seperti saat Seungcheol membawanya ke pinggir kolam renang.

"Kau tahu apa yang telah kau lakukan?" Tanya Jun dengan suara dinginnya.

Mingyu menghela napas. Bersiap diri untuk disalahkan lagi. Akhir-akhir ini banyak orang yang menyalahkannya. "Apa salah ku kali ini?"

"Ada dua kesalahan yang kau buat." Jun mengangkat telunjuknya, "Pertama, kau mendekati Minghao. Minghao itu incaran ku sejak lama."

"Jadi kau cemburu?" Tanya Mingyu tidak percaya.

"Siapa yang tidak cemburu jika orang yang kau suka didekati teman mu sendiri."

Mingyu tertawa mengejek, menampakan kedua gigi taringnya yang ingin Jun patahkan. "Kita bersaing secara sehat, Jun. Siapa cepat, dia yang dapat."

Jun memicingkan matanya. Jika membunuh orang tidak melanggar hukum, Jun akan melempar Mingyu ke kolam lotus sekarang, atau mungkin ke laut jika perlu. "Kau pikir Minghao itu barang?!" Namun sekuat tenaga Jun menahan emosinya. "Minghao itu terlalu polos untuk namja sepertimu!"

Melihat emosi Jun yang naik, Mingyu malah tertawa. Mudah sekali menyulut api cemburu dari teman China-nya ini.

"Jangan jadikan Minghao 'Wonwoo kedua'mu."

Tawa Mingyu pudar saat mendengar nama Wonwoo. Dadanya berdesir. Kecambah di hati Mingyu bagaikan disiram air hingga perlahan tumbuh. "Apa maksudmu?"

Kali ini Jun yang tersenyum sinis melihat perubahan raut wajah Mingyu. Bisa Jun tebak namja tinggi itu masih memikirkan Wonwoo. "Kesalahan mu yang kedua adalah," Jun berjalan mendekati Mingyu. "Wonwoo sakit karena mu!"

"Wonwoo sakit?!" Mingyu terkejut mendengar Wonwoo sakit, namun ia tidak terima jika Wonwoo sakit karena dirinya.

"Pergi ke ruang kesehatan gedung G sekarang. Ada Seokmin dan Seungcheol yang siap menjelaskannya padamu."

Mingyu berlari melewati Jun dengan raut wajah pucatnya.

"Namja bodoh." Ujar Jun sebelum akhirnya mengikuti jejak Minghao ke gedung C.

.

.

.

Ruang kesehatan gedung G yang Jun maksud sebenarnya adalah replika rumah sakit untuk jurusan kedokteran di Pledis University. Yang menjadi pegawai ruang kesehatan tersebut adalah mahasiswa jurusan kedokteran, yang sudah ahli tentu saja. Bukan mahasiswa semester satu yang belum apa-apa sudah prakter. Pasti langsung ke sanksi dari universitas elit tersebut.

Di salah satu ruang praktek bernuansa putih dan hijau, seorang namja kurus terbaring lemah dengan infus yang menancap di tangan kanannya.

Di kirinya ada sepasang kekasih yang duduk menghadapnya. Sedangkan di kanannya ada dua namja yang berstatus teman dekat namja tersebut.

Mata Junghan berkaca-kaca melihat Wonwoo terbaring lemah. Kulit Wonwoo memang putih bersih, namun sekarang terlihat sangat pucat seperti mayat hidup. Junghan baru sadar jika tubuh Wonwoo semakin kurus dari sebelumnya. Tangis siap pecah dari Junghan jika saja Seungcheol tidak senang tiasa merangkul Junghan.

Sedangkan Jisoo memandang Wonwoo dengan wajah muramnya. Ia melihat denyut jantung Wonwoo di layar monitor. Tidak terlalu baik.

Lain halnya dengan Seokmin. Raut wajah khawatir bercampur amarah menghiasi wajah tampannya. Rasa khawatir yang tinggi untuk Wonwoo dan rasa amarah untuk penyebab sakitnya Wonwoo. Kim Mingyu. Kepalan tangan Seokmin yang kuat menunjukan betapa besar kekuatannya untuk menghajar wajah Mingyu.

Tiba-tiba pintu ruangan Wonwoo terbuka. Bukan pegawai rumah sakit yang datang, melainkan dua namja yang terengah-engah, habis berlari dari parkiran mobil. Jihoon memandang Wonwoo tidak percaya, sedangkan namja di belakangnya, Hoshi, tidak jauh beda dengan raut wajah Seokmin.

"Wonwoo kenapa?!" Tanya Jihoon sedikit tidak sabaran. Orang-orang disana tahu jika rasa khawatir Jihoon sedang tinggi.

"Tenanglah Jihoon." Ucap Seungcheol mengajak Jihoon duduk di sebelahnya. Namun Jihoon menolak.

"Perawat belum memberi tahu hasil lab. Jadi kita tunggu saja."

Tepat setelah Jisoo menyelesaikan kalimatnya, seorang yeoja berseragam khas dokter datang. Rambut panjang blonde-nya dikuncir satu, sangat cantik dengan sentuhan poni depan yang rata dan bervolume.

"Dokter Kim." Ucap Jisoo sambil berdiri, diikuti yang lain.

Yeoja cantik itu tersenyum tipis. "Aku belum menjadi dokter, Jisoo-ya. Panggil saja aku Mihyun."

Jisoo ikut tersenyum, "Arraseo, Mihyun sunbaenim."

"Bagaimana hasil labnya, sunbae?" Tanya Jihoon.

Mihyun menghela napasnya. "Sepertinya Wonwoo harus dipindahkan ke rumah sakit sungguhan."

Ucapan yang tidak terdengar baik di telinga enam namja disana, minus Wonwoo tentu saja. "Gastritis yang dialami Wonwoo cukup akut."

"Gastritis?!" Kejut Seokmin.

Mihyun mengangguk. "Akan aku buatkan surat rujukan ke Pledis Hostpital."

Kemudian Mihyun pamit undur diri untuk membuat surat rujukan dokter. "Kenapa menunggu di luar? Masuk saja." Ucap Mihyun menarik perhatian semua orang.

Seorang namja tinggi muncul, menggantikan sosok Mihyun di ambang pintu. Kim Mingyu. Pandangan namja itu menerobos masuk ke dalam, langsung pada Wonwoo.

"Kau sudah mendengarnya?!" Seungcheol mendekati Mingyu dan langsung menarik kerahnya. "Wonwoo sakit karena dirimu!"

Mingyu yang pada dasarnya keras kepala, memandang Seungcheol tak terima. "Kenapa menyalahkan diriku!?" Dengan kasar ia melepaskan tangan Seungcheol.

"Wonwoo tidak makan teratur karena selalu teringat padamu!" Kini Seokmin berhadapan dengan Mingyu. "Aku selalu berusaha membujuknya tapi Wonwoo selalu memikirkan dirimu! Kenapa harus dirimu?!"

Mingyu membatu mendengar ucapan Seokmin.

"Jujur aku ingin membuat Wonwoo melupakanmu tapi selalu tidak bisa! Aku muak! Kenapa sulit sekali menggantikan posisi dirimu di hati Wonwoo?! Wae?!" Wajah Seokmin memerah, terlihat jelas ia ingin menghajar Mingyu saat itu juga.

Mingyu tertunduk dalam. Kecambah yang mulai tumbuh itu semakin lama sekali besar dan semakin membuat hatinya sakit. Rasanya Mingyu ingin mencabut perasaan itu, namun tidak bisa. Melihat kenyataan Wonwoo sakit karenanya membuat dirinya melemah.

"Lebih baik kau pergi. Aku tidak ingin kondisi Wonwoo semakin parah karena dirimu." Ucap Seokmin menusuk.

Lima orang lainnya akhirnya sadar mengapa akhir-akhir ini Seokmin berusaha menjadi guardian angle untuk Wonwoo. Jihoon berpikir alangkah baiknya jika Wonwoo bisa bersama Seokmin. Bukan bersama Mingyu yang terlihat tak berguna seperti ini.

"Pintu keluar ada di belakangmu." Ujar Hoshi.

Mingyu berbalik lalu keluar dari ruangan Wonwoo. Sekilas Mingyu menatap Wonwoo. Ia berguman. "Maaf."

.

.

.

Setelah Jisoo mendapat surat rujukan dari Mihyun, suasana yang tegang berangsung membaik.

"Kalian pulang saja, biar aku dan Seokmin yang menjaga Wonwoo." Ujar Jisoo.

"Kabari kami setelah Wonwoo sudah pindah ke rumah sakit." Ucap Seungcheol sebelum keluar dari ruangan Wonwoo, diikuti Junghan, Jihoon dan Hoshi.

"Kalian ingin langsung pulang?" Tanya Junghan saat mereka keluar dari gedung G.

"Ne hyung." Jawab Jihoon.

"Kau mau pulang dengan kami, Jihoon-ah?" Tanya Seungcheol.

Jihoon menggeleng. "Aku pulang dengan Hoshi, hyung."

"Sepertinya hubungan kalian semakin dekat." Goda Junghan pada Jihoon, namun salah sasaran karena yang bereakasi adalah Seungcheol dan Hoshi.

"Ne, Junghan benar." Seungcheol melirik Hoshi. "Aku sering melihat kalian pulang bersama dan datang bersama. Dan aku rasa rumah kalian tidak searah."

"I.. itu.. karena-"

"Kami tinggal satu rumah." Potong Hoshi. Mata sipitnya kini berani menatap Seungcheol. Ada rasa kesal disana saat Hoshi mengingat Seungcheol adalah mantan kekasih Jihoon.

"Apa?!" Seungcheol memandang Jihoon berharap namja mungil itu akan memberi penjelasan dengan ucapan Hoshi.

Jihoon melirik Hoshi tajam. Sedangkan yang ditatapan hanya memasang wajah tak bersalahnya. Hoshi cukup senang karena ia merasa menang dari Seungcheol dalam hal...mungkin bisa dibilang, mendapatkan hati Jihoon.

Tapi ada sesuatu yang menganggu Hoshi. Namja cantik di samping Seungcheol. Junghan menatap Seungcheol dan Jihoon secara bergantian. Hoshi merasakannya. Perasaan terluka pada namja bermarga Yoon itu.

Diam-diam Hoshi menghela napasnya. Ada salah paham disini dan jika tidak diselesaikan ada keributan yang terjadi antar sepasang kekasih. Cukup Wonwoo dan Mingyu saja. Hoshi tidak ingin lebih.

"Tunggu aku di mobil." Hoshi memberikan kunci mobilnya pada Jihoon.

"Apa?"

"Ada sesuatu yang harus ku jelaskan."

"Tapi Hosh-"

"Lee Jihoon." Suara Hoshi yang dalam bagaikan sirine hidup untuk Jihoon. Namja manis itu langsung menurut, lalu pamit undur diri pada Seungcheol dan Junghan.

"Jadi, mengapa kalian bisa tinggal bersama?" Tanya Seungcheol setelah Jihoon pergi.

"Memangnya tidak boleh?" Tanya Hoshi sambil memasang wajah datarnya.

Seungcheol menaikan satu alisnya. "Kau tidak menjawab pertanyaan ku."

"Aku punya asalan dan itu bukan urusan sunbae."

"Tentu itu urusan ku!"

"Mengapa?"

"Karena aku tidak ingin Jihoon dekat dengan orang yang salah."

"Bukan karena kau masih mencintai Jihoon?" Namja cantik yang sejak tadi hanya diam, akhirnya merasakan jengah. Ia bersuara. Matanya menyipit menatap Seungcheol.

"Junghan, apa-"

"Apa salahnya Jihoon dekat dengan orang lain?!" Suara Junghan mulai meninggi. "Apa kau takut posisimu tergantikan oran lain? Karena kau masih ingin memilik Jihoon? Mau masih mencintai Jihoon?!"

"Bu..bukan begitu Junghan, A..aku.."

"Jadi kau menganggap ku apa?!" Wajah Jungham memerah. Rasa yang sejak dulu ia tahan akhirnya keluar. Rasa jengah saat melihat kekasih mu sendiri masih menyimpan rasa terhadap orang lain. Yang tadinya masalah Seungcheol dengan Hoshi, kini berubah menjadi masalah Seungcheol dengan Junghan.

"Aku ini kekasih mu! Kau sudah berjanji untuk mencintai ku sepenuhnya dan melupakan Jihoon! Kau bilang Jihoon kau anggap sebagai adikmu, tapi setiap perhatian yang kau berikan pada Jihoon itu berbeda. Terlihat jelas masih ada rasa cinta!"

"Junghan, dengarkan aku dulu." Seungcheol mencoba meraih tangan Junghan, namun namja cantik itu menghindar.

"Aku selalu bersabar dan mencoba yang terbaik untukmu, tapi kau masih belum melihatku, Seungcheol-ah, aku lelah."

Seungcheol mengusap wajahnya kasar. Melihat mata Junghan yang berkaca membuat dadanya sesak. Mata indah yang selalu memandangnya lembut kini harus mengeluarkan setetes air hangat. Dan itu karena dirinya.

Seungcheol tidak bisa berbohong jika masih ada rasa cinta untuk Jihoon. Itu hanya sedikit. Dan Seungcheol yakin perasaan cinta itu akan berubah menjadi rasa sayang pada seorang adik. Tapi Seungcheol butuh waktu.

Seungcheol sendiri tidak tahu mengapa ia harus merasakan cemburu pada seorang Hoshi. Mendengar cerita Jihoon tentang Hoshi membuat Seungcheol siaga satu untuk melindungi Jihoon.

Jihoon selalu berkata jika Hoshi sebenarnya orang baik, namun terkadang kepribadiannya menjengkelkan.

Tentang perkataan Junghan yang Seungcheol takut jika posisinya digantikan, Seungcheol sudah siap sejak dulu. Semenjak Jihoon menceritakan alasan Jihoon meminta mengakhiri hubungan.

"Maafkan aku, Junghan." Kedua kalinya Seungcheol mencoba meraih tangan Junghan. Ada sebuah penolakan, namun kekuatan Seungcheol lebih besar dari Junghan, jadi namja bermarga Choi itu berhasil menarik Junghan kepelukannya.

"Tidak perlu minta maaf, aku yang salah karena tidak bisa membuatmu melupakan Jihoon." Junghan berontak di pelukan Seungcheol namun ditahan.

Hoshi yang sejak tadi diam menonton merasa sesak. Ada yang salah disini. Ia tidak ingin ada pasangan yang mengakhiri hubungan karena salah paham. Dan entah keberanian dari mana, Hoshi tanpa berpikir panjang mulai berucap.

"Kalian tidak perlu bertengkar jika alasannya karena Jihoon."

Seungcheol akhirnya melepaskan Junghan dari pelukannya. "Apa maksudmu?"

"Sunbaenim tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melukai Jihoon." Hoshi terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kalimatnya. "Karena aku adalah Kwon Soonyoung, orang yang selalu Jihoon tunggu."

Sunyi. Dunia seakan berhenti, menyisakan tiga orang yang saling bertatapan. Seungcheol membulatkan matanya tidak percaya. Sedangkan tangisan Junghan berhenti seketika mendengar pengakuan namja di depannya.

Hoshi menghela napasnya. Sebuah rahasia tidak boleh terlalu lama disimpan sendiri, itu akan menyakitkan diri sendiri dan orang lain. Mungkin ini jalan terbaik agar dua orang di depannya tidak bertengkar dan menjauhkan perasaan Seungcheol pada Jihoon. Cukup untuk dirinya yang terpaksa berbohong pada Jihoon, Hoshi tidak ingin Jihoon direbut orang lain lagi.

"Kau Kwon Soonyoung?"

Hoshi mengangguk. "Aku berjanji akan menjelaskan semuanya nanti. Tapi kalian tidak boleh memberi tahu siapa pun terutama Jihoon, jika kalian ingin Jihoon baik-baik saja."

Hoshi pamit undur diri. Meninggalkan sepasang kekasih yang mempunyai tanda tanya besar di kepala mereka.

.

.

.

"Kau lama sekali." Ujar Jihoon saat Hoshi masuk ke dalam mobil.

"Aku ingin pulang. Aku lelah."

Jihoon sadar jika Hoshi sedang mode nomor satu, maka Jihoon lebih memilih diam seribu bahasa sampai mereka tiba di rumah Jihoon.

.

.

.

Hari itu juga seorang Lee Seokmin menjadi real guardian angle untuk Wonwoo. Namja bersuara merdu teman Seungkwan itu mengurusi semua perpindahan Wonwoo ke Pledis hospital. Mulai dari membawa barang-barang yang nanti Wonwoo akan perlukan, meminta izin ke jurusan Wonwoo, menitip absen Wonwoo ke Hyojung, teman satu jurusan Wonwoo. Sampai menjadi perwakilan keluarga Wonwoo di rumah sakit karena orang tua Wonwoo dan adiknya sedang di luar negeri.

Dan disinilah Seokmin. Tidur di sofa hijau ruang rawat inap VIP Wonwoo. Untung saja sofa itu cukup besar untuk menjadi tempat tidur tubuh Seokmin yang tinggi.

Sebenarnya Seokmin berniat terjaga agar ia siap sedia saat Wonwoo bangun. Wonwoo sempat siuman tadi namun ia tidak banyak bicara. Seokmin tidak tahu apa yang Wonwoo rasakan dan itu membuatnya sedih. Kesunyian yang sejak tadi menyelimuti membuat mata Seokmin berat lalu tertidur.

Jarum jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Alih-alih sudah tertidur lelap, Wonwoo membuka matanya. Ia hanya tertidur sebentar karena efek obat yang ia tidak tahu apa itu.

Wonwoo menoleh pada Seokmin. Ada rasa bersalah untuk namja yang sudah baik padanya itu. Sebenarnya saat di ruang kesehatan Pledis univeristy, Wonwoo sudah sadar namun ia enggan bangun, terutama saat Mihyun datang. Wonwoo mendengar semuanya. Tentang penyakitnya, tentang Mingyu, tentang teman-temannya yang mulai membenci Mingyu dan tetang Seokmin.

Wonwoo terlalu sibuk kuliah dan memikirkan namja yang sudah mencampakannya sampai ia tidak sadar ada seorang malaikat tanpa sayap yang sudah bersusah payah membuat senyumnya kembali.

Wonwoo mengenal Seokmin karena Jihoon memperkenalkannya. Wonwoo dan Seokmin hanya berteman biasa sampai disaat kejadian ia berlari menghampiri Seokmin sambil menangis. Wonwoo tanpa sadar melakukan itu.

Entah karena Seokmin terlalu baik atau ia merasa sebagai teman yang baik harus membuat Wonwoo senyum kembali, Wonwoo yakin perasana Seokmin muncul karena seiring waktu berjalan.

"Maaf, Seokmin." Wonwoo bergumam pelan. Ia menghela napas lalu menatap langit ruangannya yang bernuansa putih.

"Maaf karena aku tidak bisa membalas perasaanmu. Untuk sementara aku tidak ingin berhubungan dengan yang namanya cinta." Wonwoo memejamkan matanya. "Terima kasih telah ada untukku."

.

.

.

"Kita lanjutkan besok." Ucap Hoshi.

Namja sipit itu secara tak langsung menjadi leader di antara empat namja yang ada di ruang latihan dance gedung C. Kemampuan dan sifat koordinasinya yang cocok menempatkan dirinya menjadi leader SVT Perfomance, nama grup mereka. Lee Chan yang memberi nama, katanya itu terdengar simple dan keren.

"Aku ingin menjenguk Wonwoo hyung, ada yang ingin ikut?" Chan merapikan barang-barangnya.

"Tidak, aku ada urusan." Ucap Hoshi sebelum meninggalkan ruang latihan. Tiga orang disana sudah terbiasa dengan sikap dingin Hoshi.

"Aku ikut." Ucap Minghao.

"Kalau begitu, aku juga!" Tambah Jun.

.

.

.

Kaki Hoshi membawanya ke lapangan parkir. Sebelumnya ia sudah mengirim Jihoon pesan jika ia akan menjemput Jihoon terlambat. Mobil sport biru Hoshi melesat keluar wilayah kampus.

Namja sipit itu berencana untuk bertemu Seungcheol dan Junghan di luar kampus. Keadaan Hoshi sudah tidak aman lagi sekarang. Beberapa hari lalu, saat ia mengambil barang-barang yang tertinggal di rumahnya, ada dua yakuza keluar dari rumahnya.

Hoshi bersembunyi di gang samping rumahnya sampai yakuza itu menghilang di belokan jalan.

"Gong ahjumma! Gwenchana?!" Bibi yang bertugas mengurusi Hoshi saat di Korea terduduk di lantai dengan wajah pucatnya. Tak ada bagian yang terluka dari bibi paruh baya itu, hanya saja seluruh pintu ruangan terbuka.

"Aku tidak apa-apa, tenang saja." Bibi yang masih memiliki paras cantik itu berusaha bangkit dari duduknya. "Aku berkata jika kau tidak tinggal disini lagi dan tidak memberi tahu mereka kau tinggal dimana sekarang."

"Ahjumma."

"Sekarang kemasi semua barang-barangmu yang tertinggal. Bersembunyi di tempat yang aman sampai yakuza kiriman ayahmu bosan sendiri mencarimu."

"Bagaimana dengan ahjumma?"

"Aku akan baik-baik saja disini."

Hoshi mengepal tangannya kuat. Tidak, ia tidak bisa meninggalkan seseorang yang sudah baik padanya sendiri dan harus menerima tamu yang tidak diundang setiap harinya. Siapa juga yang akan bersedia menerima yakuza kiriman ayahnya.

"Ayah sudah keterlaluan." Geram Hoshi. "Ahjumma bisa pulang ke rumah ahjumma. Biarkan rumah ini kosong. Aku akan baik-baik saja."

Hoshi memukul stir mobilnya yang tak bersalah. Rasa bersalah selalu melingkupinya. Hoshi tidak tahu apa yang yakuza itu inginkan, lebih tepatnya apa yang ayahnya inginkan. Yakuza itu mengancam padanya akan melakukan sesuatu pada teman-temannya. Itu artinya Jun, Minghao dan Chan, atau siapa pun yang dekat padanya, termasuk Jihoon.

Ingin rasanya Hoshi kembali ke Jepang untuk meminta penjelasan kepada ayahnya, namun bisa dipastikan Hoshi tidak akan kembali ke negara tercintanya. Jika dipikirkan lagi, mungkinkah ayahnya setega itu padanya?

Hoshi sudah mengabiskan masa kecilnya untuk menurut patuh pada ayahnya. Dan saat ayahnya mengizinkan Hoshi kembali ke Korea, itu sebuah hadiah besar, lebih besar daripada mobil sport dua pintu yang perrnah diberikan ayah tirinya itu. Hoshi berpikir jika ia akan mendapat kebebasan saat di Korea, namun sayang, ancaman ayahnya tidak berhenti saat itu juga.

Hoshi mendesah kasar. Satu hal yang ia pikirkan adalah bagaimana cara menjaga Jihoon dan teman-temannya. Ada sebuah cara, namun Hoshi tidak yakin apakah itu bisa diandalkan atau tidak. Kemungkinan yang selalu Hoshi doakan.

Memenangkan Youth Music Festival, menjadi super star dan dengan 'kekuasan' barunya, Hoshi akan melindungi Jihoon dan teman-temannya. Hoshi pernah ingat jika jebolan acara musik terbesar itu menjadi artis dan mendapat perlindungan dua puluh empat jam.

Cara yang sedikit konyol, namun Hoshi yang hampir putus asa akhirnya berpasrah pada cara itu.

Mobil sport biru milik Hoshi terparkir di dekat sebuah cafe kecil. Seungcheol dan Junghan sudah menunggu disana. Melihat jarak duduk mereka yang dekat, Hoshi bisa menebak jika hubungan keduanya sudah baik.

"Jadi ceritakan apa yang terjadi sebenarnya." Ucap Seungcheol saat Hoshi sudah duduk di hadapan mereka.

"Aku adalah Kwon Soonyoung, cinta pertama Jihoon, orang yang selalu Jihoon tunggu, orang yang membuat Jihoon tidak bisa mencintai orang lain selain Kwon Soonyoung."

Dada Seungcheol berdesir mendengar kalimat terakhir Hoshi. Namun Seungcheol mengabaikannya. Ia sudah berjanji pada namja cantik di sebelahnya untuk tidak menyakiti hati seorang Yoon Junghan lagi.

"Mengapa kau harus menyembunyikan identitas aslimu?" Tanya Junghan.

Hoshi mengambil napas dalam sebelum memulai bercerita. "Untuk melindungi Jihoon dari ayah tiri ku. Beberapa orang yakuza selalu datang untuk mengancamku agar tidak melakukan hal yang berbau dance. Bahkan yakuza itu akan melakukan sesuatu pada teman-temanku."

Seungcheol menyerngit. "Apa hubungannya dengan Jihoon jika ia mengetahui kalau dirimu adalah Kwon Soonyoung?"

"Ayah tiri ku akan menghancurkan setiap orang yang menghalangi jalannya." Jawab Hoshi. "Jika Jihoon tahu bahwa aku Kwon Soonyoung, ia tidak akan melepaskan diriku dan aku lebih kesulitan untuk melindungi Jihoon."

Junghan terhenyak. Ia bisa merasakan bagaimana sulitnya hidup Hoshi. "Bagaimana jika Jihoon membencimu jika ia tahu kau membohongi dirinya?"

Hoshi terdiam. Sempat ia memikirkan resiko itu dan membuatnya takut. "Aku sudah siap tapi aku akan terus melindunginya dengan caraku sendiri."

"Bagaimana caranya?" Hoshi dapat melihat bagaimana seriusnya Seungcheol dari tatapannya.

"Jika aku menang dalam acara Youth Music Festival, aku akan tanda tangan kontrak dengan agensi dengan persyaratan pelindungan dua puluh empat jam untuk diriku, teman-temanku dan Jihoon."

Seungcheol mendengus. Cara yang konyol namun masih bisa diterima akal sehat. Senyum tipis terukur di bibir Seungcheol. "Terima kasih karena telah kembali, Kwon Soonyoung."

Hoshi membalas senyum Seungcheol. "Terima kasih karena melindungi Jihoon, hyung-deul."

.

.

.

Saat Hoshi, Seungcheol dan Junghan hendak ke parkiran mobil, dua yakuza datang menghampiri mereka.

"Tuan muda Hoshi, anda dicari ayah anda." Ucap salah satu yakuza yang Hoshi pernah lihat. Oh ya! Itu yakuza yang menjadi lawan Hoshi saat ia latihan taekwondo di Jepang.

"Lebih baik kalian pulang ke Jepang. Beri tahu pada ayah agar tidak mengganggu hidupku lagi." Ucap Hoshi dingin dan menusuk. Diam-diam Hoshi memberi kode pada Seungcheol untuk membawa Junghan pergi dari sana dengan tangan kanannya di belakang punggung.

"Hoshi." Guman Junghan yang didorong pelan oleh Seungcheol untuk kembali ke dalam cafe.

"Maaf tuan, tapi anda harus menuruti kami." Ucap yakuza yang satunya.

Seungcheol mengerti apa yang dikatakan dua yakuza itu karena mereka berbicara bahasa Korea. Dan Seungcheol juga mengerti gerak-gerik dua orang berpakaian serba hitam tersebut.

Tempat parkir yang sepi menjadi saksi bisu pertarungan antara dua yakuza dan Hoshi. Tendangan, pukulan, hindaran Hoshi lakukan dengan baik.

Namun ada saatnya pemegang sabuk hitam taekwondo itu kurang beruntung. Saat yakuza itu hendak memukul Hoshi yang jengah dari belakang, seseorang membanting tubuh yakuza itu ke tanah. Begitu mudah untuk mantan atlet judo, Choi Seungcheol.

"Hyung." Guman Hoshi segera memasang kuda-kudanya kembali.

"Kau pasti jago taekwondo."

"Dan kau pasti jago judo, hyung."

Dua lawan dua, itu seimbang sekarang. Dua namja tampan itu segera melawan dua yakuza yang sepertinya mempunyai baterai cadangan.

Junghan yang menuruti perintah Seungcheol memandang dua namja khawatir di dekat pintu belakang cafe. Bukan Junghan tidak bisa berkelahi, hanya saja ia takut mengganggu dan menjadi beban untuk Seungcheol dan Hoshi. Junghan pernah latihan judo dengan Seungcheol walau tetap Seungcheol yang menang.

Yakuza yang dikirim ayah tiri Hoshi sebenarnya bukan yakuza seperti di film-film, yang berpakaian garang dan membawa senjata tajam. Yakuza kali ini terlihat rapi dengan setelan kemeja serba hitam dan mereka menggunakan keuatan fisik. Lagipula pemerintah Korea akan menahan dua yakuza itu jika terbukti membawa sejata tajam.

Dua yakuza itu berniat membawa Hoshi untuk bertemu ayahnya. Bukan ke Jepang, melaikan ke sebuah tempat untuk melakukan video call. Tapi tetap saja Hoshi akan merasa seperti tahanan.

Empat orang yang sedang berkelahi itu mendapat lebam yang sama. Terutama Seungcheol dan Hoshi. Wajah tampan mereka dihiasi warna biru keunguan dan luka yang mulai mengering.

"Kami tidak ingin menyakiti tuan muda lebih jauh." Ujar salah satu yakuza. "Jadi kami mohon, ikut dengan kami."

"Tidak!" Tepat setelah teriakan Hoshi, suara sirine mobil polisi terdengar. Sontak dua yakuza itu melarikan diri dengan mobil sedan hitam mereka.

Suara sirine mobil polisi itu semakin mendekat namun yang muncul adalah Junghan dengan ponsel di tangannya. "Sepertinya aku harus berterima kasih pada Seungkwan yang iseng men-download ringtone sirine polisi."

Junghan mematikan suara bising itu lalu memasukan ponselnya ke dalam saku celana. "Kalian harus segera di obati." Perlahan Junghan menelitis wajah tampan kekasihnya. Sesekali ia meringis melihat luka di sudut bibir Seungcheol.

"Aku harus segera menjemput Jihoon." Ujar Hoshi sambil mengatur napasnya.

"Kalian harus hati-hati dengan yakuza itu. Hubungi aku jika ada yakuza lain yang datang."

.

.

.

Celana jeans hitam dan sweater baby blue yang sedikit kebesaran menghiasi tubuh mungil Jihoon. Jika ia tidak membawa gitar dan tas laptopnya, mungkin Jihoon akan dipanggil anak sekolah menengah atas yang sedang menunggu kakaknya pulang kuliah. Salahkan wajahnya yang sangat baby face dan sangat manis untuk namja seusia dirinya.

Namun wajah baby face itu terpancar aura kekhawatiran. Ia memutar ponselnya di tangan kanannya. Ia sudah tiga kali menghubungi Hoshi namun tidak diangkat. Dan sudah mengirim pesan lima kali. Perasaan Jihoon tidak enak.

Hoshi sudah jadi bagian di hidupnya. Jadi wajar jika Jihoon mengkhawatirkannya. Namun Jihoon tidak yakin rasa khawatir kepada Hoshi sama dengan rasa khawatir Jihoon pada Wonwoo. Ada yang berbeda.

"Hoshi." Guman Jihoon. Beberapa saat setelahnya, mobil sport biru khas milik Hoshi berhenti di depan Jihoon.

Jihoon langsung naik ke mobil karena ia sudah biasa tidak dibukakan pintu oleh Hoshi.

"Ada apa dengan wajahmu?!" Kejut Jihoon berusaha menarik wajah Hoshi, namun namja sipit itu menolak lalu mulai menjalankan mobilnya.

"Ada yakuza yang datang lagi?" Rasa khawatir Jihoon sama besarnya dengan rasa takutnya pada Hoshi. Dingin. Jihoon dapat merasakan Hoshi sedang mode nomor satu. Akhir-akhir ini Hoshi jarang bersikap lembut padanya.

Hoshi hanya berdeham. "Aku lelah."

"Sebelum tidur, akan aku obati lukamu."

Hoshi kembali berdeham menanggapi tanpa menoleh sedikit pun pada Jihoon.

.

.

.

To Be Continue

Note 1 : Part Junghan dengan sirine terinspirasi dari drama Korea 'High School : Love On'. Cari saja, ada di episode terakhir.

Note 2 : Ceritanya mulai aneh disini. Alasan Hoshi aneh. Sudah ku bilang sebelumnya, chaper 5 ke atas, cerita akan menjadi lebih aneh dan membosankan, karena beberapa part sempat terhapus, jadi aku malas mengetik ulang. Maafkan saya /bow/

Note 3 : Kim Mihyun dan Hyojung itu member Oh My Girl. Aku selalu menyelipkan biasku yang lain untuk 'other cast' disetiap FFku.

Note 4 : Aku sedang dalam mood yang sangagt buruk. Ada beberapa alasan. Dan aku berusaha tidak terus tertarik dalam emosiku. Maafkan aku jika FF ku ini menjadi sangat aneh.

Note 5 : Sebenarnya salah satu author favorit ku di FFnet adalah Vernina Joshuella. Cara aku belajar diksi, membawakan suasana, menggambarkan latar. And she is very kind. Walau ia tidak membaca FF ku, tapi aku berharap aku bisa berteman dengannya. Aku juga menyukai author lain dan aku berharap suatu hari nanti aku menjadi author sehebat mereka.

Note 6 : Sungguh aku sedang memikirkan FF lain! Oh my God! Mengapa aku menjadi sulit menulis begini? Hiks. Doakan saya agar bisa memulai mengetik berbagai FF di otak ku.

Note 7 : Terima kasih karena sudah mau review, fav dan follow. Aku sangat senang dan maafkan atas segala kesalahanku.

Aju NICE!