Disclaimer: This story is completely based on my imagination. Seventeen belongs to Pledis entertainment. The plot is mine.
Warning : Typo everywhere. Tidak sesuai dengan EYD. Yaoi. Boy x Boy.
Cast :
Kwon Soonyoung & Lee Jihoon (SoonHoon)
Seventeen members
+ Happy reading +
Pledis Hospital adalah rumah sakit elit yang masih satu yayasan dengan Pledis University. Letaknya tidak jauh dari universitas. Kawasan pertokoan dan beberapa lahan hijau kosong berada di antaranya. Para mahasiswa terbaik jurusan kedokteran maupun jurusan lain bisa bekerja disana jika sudah lulus. Fasilitas lengkap dan pelayan yang baik menjadi moto rumah sakit menjadi tempat Wonwoo dirawat inap.
Wonwoo masih terbaring di tempat tidur rumah sakit. Ia baru saja menyelesaikan makan siangnya yang dibantu oleh Seokmin. Namja hidung mancung itu bahkan rela berlari dari kampus menuju rumah sakit jika tak ada bus yang segera datang untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
"Kau ingin tidur? Atau menonton televisi?" Tanya Seokmin.
Wonwoo menggeleng. "Ada titipan catatan dari Hyojung?"
"Sedang sakit tapi masih memikirkan kuliah." Rutuk Seokmin namun tangannya tetap menggapai beberapa kertas yang berisikan catatan rapi milik Hyojung.
Wonwoo tersenyum singkat dan tipis, namun Seokmin bersyukur namja emo itu akhirnya tersenyum dan itu karena dirinya. "Aku tidak mau nilaiku turun drastis karena aku sakit."
"Ne. Ne. Ne. Kau adalah Jeon Wonwoo, calon pengacara." Ucap Seokmin sambil melemparkan gummy smile khas miliknya.
Wonwoo memasang wajah berpikirknya. "Uhm.. aku lebih suka jadi jaksa penuntut."
"Wae? Karena kau suka menuntut?"
Wonwoo menoleh lalu mengangguk tegas. "Akan aku tuntut keadilan di Korea ini!"
Suara Wonwoo terdengar yakin namun tidak dengan wajahnya. Kemudian tawa pecah di ruangan empat kali lima meter tersebut. Tawa hangat yang akhirnya bisa Seokmin rasakan.
"Annyeong Wonwoo-ya!" Tiba-tiba pintu ruangan Wonwoo terbuka, menampakan seorang namja berpipi chubby, diikuti seorang namja western yang selalu menempel padanya.
"Kau tidak menyapaku?!" Protes Seokmin.
"Annyeong Seokmin-ah." Ucap Hansol mewakilkan Seungkwan. Namja bermarga Choi itu menaruh sekeranjang buah di meja nakas samping tempat tidur Wonwoo.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Seungkwan.
"Lebih baik dari sebelumnya." Seulas senyum terukir di wajah pucat Wonwoo, membuat Seungkwan dan Vernon yakin dengan jawaban Wonwoo.
"Kalian tidak membawakan makanan untukku?" Tanya Seokmin dengan wajah tampa dosanya.
"Memangnya kau sakit? Kau bisa membeli makanan di luar." Celoteh Seungkwan.
"Aku malas turun naik dari lantai lima."
"Ada lift, Seokmin."
"Tetap saja jauh."
"Delivery saja."
"Mana bisa!?"
Pertengkaran kecil antara Seungkwan dan Seokmin mengundang tawa Hansol dan Wonwoo. Walau mereka sering bertengkar karena hal kecil, Wonwoo tahu mereka adalah teman yang baik dan sangat dekat. Wonwoo yakin jika Seungkwan harus memilih antara Seokmin dan Jihoon, pasti namja asal Jeju itu lebih memilih Seokmin. Sama halnya seperti Wonwoo. Walau temannya cukup banyak, jika harus memilih satu, Wonwoo akan memilih Jihoon.
"Sudahlah, Seungkwanie, jangan bertengkar di rumah sakit." Ucap Hansol sambil mengelus bahu Seungkwan. Gerakan kecil itu dilihat oleh Wonwoo.
"Seungkwanie? Aigoo!" Wonwoo menyipitkan matanya. "Apa kalian pacaran?"
Sontak Seungkwan dan Hansol terdiam. Jika ditanya seperti itu, mereka berdua tidak memiliki jawabannya. Mereka juga tidak yakin jika hubungan mereka hanya sebatas teman. Mereka terlalu malu mengakui rasa yang lebih di antara mereka.
"Ti... tidak." Gugup Seungkwan. Pipinya bersemu mereka, membuat Hansol gemas ingin mencubitnya.
"Jeongmal?" Kali ini Seokmin yang mencoba menggoda teman baiknya itu.
"Eh?! Itu..." Seungkwan menggaruk tengkuknya yang gak gatal. Ia melirik namja yang ada di kirinya, berharap membantunya menjawab.
Hansol. Namja itu sangat peka kepada Seungkwan, walau terkadang kepekaannya itu sering terlambat. "Kami tidak pacaran."
Jawaban Hansol membuat tiga orang disana ragu. Lalu ia melanjutkan. "Aku dan Seungkwan hanya menjalani apa yang ada sekarang. Kami tak perlu status untuk membuat hubungan kami dekat. Selama kami bisa membuat nyaman satu sama lain, aku rasa itu cukup." Hansol merangkul Seungkwan dengan nyamannya, membuat Seungkwan membatu seketika. "Benarkan, Seungkwanie?"
Otak Seungkwan seakan habis untuk memproduksi kata-kata lagi. Ia hanya bisa mengangguk menjawab dengan senyum yang yak bisa dibendung.
"Kau benar." Seokmin tersenyum lembut. "Jalanin saja apa yang ada sekarang."
.
.
.
Petikan gitar mengalun indah dari sebuah ruangan di gedung C. Ruang musik, tempat dimana Jihoon sedang berkutat dengan buku, pensil dan gitarnya.
Tangannya sesekali memetik gitar lalu kembali menulis sebuah tangga nada di buku putihnya. Hanya sedikit. Otaknya hanya mendapatkan sedikit nada karena sumber inspirasinya sedang tidak ada.
Hoshi. Beberapa minggu namja sipit itu lebih sering dalam mode nomor satu. Bahkan saat mereka berdua di rumah, Hoshi sering dingin padanya.
Jihoon penasaran. Ia yakin pasti ada yang membuat Hoshi seperti itu padanya. Jihoon ingin bertanya. Ingin sekali tapi saat mata sepuluh lewat sepuluh milik Hoshi menatapnya tajam, Jihoon bungkam.
Helaan napas keluar dari bibir kucing milik Jihoon. Satu hal yang Jihoon tahu. Seorang Hoshi perlahan menggantikan posisi Kwon Soonyoung di otaknya. Jarang sekali Jihoon teringat pada namja yang tak diketahui keberadaannya itu. Mungkin disaat-saat tertentu saat ia melihat foto Kwon Soonyoung bersama dirinya sewaktu kecil, atau saat Jihoon termenung sendirian, atau saat ia tak sengaja melihat anak kecil sedang berlarian.
Untuk saat ini, memikirkan Hoshi yang dingin saja sudah menguras otaknya. Hoshi. Kwon Soonyoung. Jihoon tidak yakin, namun semakin lama Jihoon memandang wajah Hoshi, semakin ada kemiripan dengan Kwon Soonyoung. Nomor satu, mata. Walau samar-sama Jihoon ingat, namun jika sejenak saja memperhatikan wajah Hoshi, namja sipit itu mirip sekali dengan Kwon Soonyoung.
"Hoshi bukan Kwon Soonyoung." Guman Jihoon. Lebih tepatnya meyakinkan dirinya sendiri.
"Sedang memikirkanku?"
Jihoon tersentak dari lamunannya. Jihoon rasa namja itu mempunyai kemampuan telepati. Saat Jihoon sedang memikirkannya, namja itu muncul. Tidak selalu, tapi sering.
"Kau terlalu percaya diri." Jihoon menaruh gitarnya di penyanggah gitar di sampingnya. "Tidak ada kelas?"
Hoshi menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan namja mungil di depannya. "Ada."
"Lalu kenapa kesini?"
"Dosennya tiba-tiba pergi setelah memberi tugas."
"Yah sudah kerjakan dulu tugasnya."
"Sudah selesai."
"Latihan dance sana."
"Chan dan Minghao ada kelas."
"Kenapa tidak latihan dengan Jun saja?"
"Kau secara halus mengusir ku, eoh?"
Jihoon refleks mengatupkan bibirnya. "Ani, bukan begitu, ta-"
"Yah sudah, aku pergi kalau be-"
"Andwe!" Potong Jihoon membuat Hoshi kembali duduk di kursinya.
"Temani aku?"
Hoshi menoleh. "Kau sedang membuat lagu?"
Jihoon mengangguk.
"Kalau begitu aku bisa mengganggu mu, jadi aku pergi saja."
"Kau balas dendam?"
Hoshi tidak menjawab. Mata sipitnya mengikuti gerak gerik Jihoon. Namja mungil itu kini siap dengan gitarnya. "Mau mendengarkan?"
Hoshi mengangguk.
Jari lentik Jihoon kembali memetik gitarnya. Sebuah nada indah mengalun ke telinga Hoshi yang membuatnya teringat sesuatu. Gitar. Hoshi ingat Jihoon selalu menyukai gitar sejak kecil. Musik adalah hidupnya. Hoshi ragu jika Jihoon akan lebih memilihnya daripada musik.
"Sudah selesai?" Tanya Hoshi setelah Jihoon selesai dengan lagunya.
Jihoon menggeleng. "Sedikit lagi."
"Kau sudah siap mengikuti Youth Music Fesitval." Kedua bibir Jihoon terangkat membuat senyuman. "Lagu ini tentang apa?"
Namun senyum Jihoon tak bertahan lama karena pertanyaan Hoshi. Namja sipit itu sebenarnya tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri, namun ia hanya memastikan.
Jihoon sendiri tidak tahu lagunya tentang apa. Nada yang tumpah dari otak Jihoon bermula saat Hoshi menabraknya, ralat, Jihoon yang menabrak Hoshi. Dan semua kenangan tentang Kwon Soonyoung bercampur dengan keberadaan Hoshi di sekelilingnya. Jika ini sebuah film lama, maka kaset film seperti kusut karena bayangan Kwon Soonyoung bercampur dengan Hoshi.
Tidak. Jihoon tidak akan melupakan orang yang betah menetap di hati dan otaknya. Walaupun ada Hoshi di depannya. Lagi pula, mengapa harus Hoshi? Sinar matahari adalah Kwon Soonyoung dan Hoshi adalah awan. Namja sipit itu bagaikan menutupi bayangan Kwon Soonyoung dari Jihoon. Teori yang konyol, tapi begitulah adanya.
Jihoon menghirup udara perlahan. "Kwon Soonyoung."
Hening menghampiri ruangan musik itu. Mereka sama-sama terdiam. Mereka sama-sama saling bertatapan. Mereka sama-sama tidak mengerti arti tatapan masing-masing. Namun entah mengapa Jihoon berani menatap Hoshi saat itu.
.
.
.
Tawa. Terdengar suara dua namja sedang tertawa dari salah satu ruangan di Pledis Hospital. Jeon Wonwoo tersenyum menahan tawanya karena ulah seorang Lee Seokmin. Panggilan happy virus memang pantas diberikan pada namja berhidung tajam itu. Entah apa yang dibuat Seokmin. Namun gummy smile miliknya saja sudah membuat orang di sekelilingnya tersenyum.
Namun sebuah ketukan membuat tawa mereka menghilang. Kim Mingyu muncul dari balik pintu. Refleks, Seokmin berdiri dan menghadang Mingyu untuk mendekati Wonwoo.
"Mau apa kau kesini?" Tanya Seokmin dingin. Percayalah Seokmin masih menganggap Mingyu sebagai temannya. Hanya saja rasa kesal akan ulah Mingyu sulit menghilang.
"Aku hanya ingin melihat Wonwoo." Jawab Mingyu lemah.
"Kau sudah melihatnya, sekarang, pergi!"
"Aku ingin bicara padanya." Mingyu menatap Seokmin memohon.
"Bicara saja sekarang."
"Aku hanya ingin bicara berdua dengan Wonwoo."
"Kenapa?" Seokmin menatap Mingyu tajam. Ia tidak ingin tawa Wonwoo yang mulai muncul menghilang lagi karena namja tinggi di depannya. Seokmin tidak ingin Mingyu merusak apa yang ada sekarang.
"Seokmin, aku mohon."
"Ti-"
"Seokmin, keluarlah." Wonwoo tersenyum saat Seokmin menoleh padanya. Senyum yang seolah berkata 'tidak apa-apa'. Kepala Wonwoo terangguk saat Seokmin hendak membuka suara, membuat Seokmin akhirnya menurut dan menunggu di luar. Di depan pintu ruangan Wonwoo. Mungkin menguping itu melanggar hak privasi orang lain, namun Seokmin tidak peduli. Ia hanya berjaga jika Mingyu berbuat macam-macam.
"Bagaimana kabar mu?" Mingyu berdiri di depan tempat tidur Wonwoo.
"Lusa aku diizinkan pulang." Ucap Wonwoo dengan wajah emonya seperti biasa. Seolah tidak ada yang terjadi dengan namja di depannya.
"Syukurlah." Mingyu tersenyum lembut namun tidak dengan matanya. Wonwoo melihatnya jelas, maka ia hanya terdiam menunggu kelanjutan dari namja berkulit tan itu.
"Aku minta maaf."
Wonwoo tetap diam.
"Aku tahu aku salah. Maafkan aku." Mingyu menghela napasnya. "Aku sudah mengabaikanmu. Aku sudah membuat mu terbang lalu menjatuhkan mu begitu saja tanpa berniat mengulurkan tangan sedikit pun. Aku egois. Aku sudah membuat mu sedih sampai kau harus dilarikan ke rumah sakit. Aku-"
"Aku sudah memaafkanmu." Potong Wonwoo. Bibir tipisnya membuat lengkungan ke atas. Senyum tipis yang tak bisa dimengerti Mingyu.
"Semenjak aku masuk rumah sakit, aku memikirkan semuanya. Lucu jika diingat. Aku terlalu polos. Padahal aku yakin Jihoon lebih polos dariku." Wonwoo tertawa renyah. "Tapi aku sudah mengerti sekarang. Kau tahu? Cinta bahkan lebih rumit dari contoh kasus yang harus aku selesaikan."
Mingyu terhenyak mendengar gurauan kecil dari Wonwoo. Namja manis itu seolah membuatnya tersadar betapa egois dirinya. "Jadi, kita bisa mengulangnya dari awal?"
Wonwoo terdiam. Ia sudah bisa menebak alasan Mingyu akhirnya berani menemuinya, selain tak ada Seungcheol dan Hoshi disini. Mingyu ingin dirinya kembali padanya. Seketika Wonwoo teringat pada namja yang berdiri di depan pintu. Seokmin memasang telinganya baik-baik dari balik pintu yang tidak ditutup sempurna.
"Maaf, tapi aku tidak bisa." Jawaban Wonwoo seakan menghancurkan pertahanan yang Mingyu buat. "Untuk sementara aku tidak ingin berurusan dengan yang namanya cinta. Aku ingin menjalani kehidupanku lagi seperti waktu aku belum bertemu dengan mu."
Senyum Wonwoo kembali mengembang. "Benarkan, Seokmin?"
Seokmin hampir terjatuh dari balik pintu. Namja itu tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Salah tingkah karena ketahuan menguping. "Ne, kau benar."
"Jadi aku ditolak?" Mingyu tersenyum miris.
"Tapi kita masih bisa menjadi teman."
Teman. Seokmin merasakan bagaimana perasaan Mingyu sekarang, karena secara tak langsung, Wonwoo juga menolaknya dan menganggapnya hanya teman. Ya, teman. Setidaknya bukan orang Wonwoo benci. Seokmin bersyukur.
.
.
.
Tidak terasa acara Youth Music Festival tinggal minggu depan. Semua orang yang ikut acara itu tengah berusaha mati-matian untuk mempersiapkan yang terbaik. Beruntung acara tersebut tidak berbenturan dengan jadwan ujian naik semester, jika tidak, Jihoon tidak bisa mengatur waktunya.
Saat ini, Jihoon, Seungkwan dan Seokmin sedang latihan di salah satu ruangan musik di gedung C. Ada seorang lagi disana. Namja tinggi berwajah tampan. Jihoon sangat mengakui ketampanan namja yang menjabat sebagai sunbae-nya. Mungkin ketampanan seorang Kim Myungsoo bisa menyaingi ketampanan Seungcheol.
Myungsoo, namja bersweater hitam itu sedang menjadi pengoreksi untuk Mansae team. Nama untuk team Jihoon, Seungkwan dan Seokmin. Sedikit cheerful karena yang memberi nama adalah Seungkwan.
"Apa judulnya?" Tanya Myungsoo sambil membaca partitur lagu milik Jihoon.
"Fixed Star." Jawab Jihoon saat mereka sedang duduk di lantai untuk beristirahat.
Myungsoo menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Aku suka lagunya. Sangat menyentuh dan indah."
"Terima kasih." Ucap Jihoon, diikuti Seungkwan dan Seokmin.
"Mengapa kau memilih judul itu?" Myungsoo menaruh lembaran kertas yang berisi partitur lagu Jihoon di lantai, samping ponsel hitamnya yang ia sengaja taruh terbalik.
"Karena..." Otak Jihoon seakan sedang memainkan sebuah film lama yang samar-samar ia bisa lihat. "Bintang. Aku suka bintang, jadi aku rasa bintang cocok untuk lagu ini."
"Bintang." Guman Myungsoo. "Nama kucingku bintang."
"Ini kucing sunbaenim?" Seungkwan menunjuk ponsel hitam Myungsoo yang ada gambar seekor kucing hitam di casing belakangnya.
Myungsoo mengangguk lalu mengambil ponselnya. "Byul, nama kucingku Byul. Manis bukan?" Lalu Myungsoo membuka galeri ponselnya untuk menunjukan beberapa foto kucing hitam tersebut. Ada banyak dan salah satu foto Byul adalah saat digendong oleh seorang yeoja cantik yang mereka sangat kenal.
"Aigoo! Yoo Jiae sunbaenim cantik sekali!" Seru Seokmin.
"Tentu!" Sahut Myungsoo dengan senyum bangganya.
"Jiae sunbaenim suka dengan kucing?" Tanya Jihoon.
Myungsoo mengangguk. "Kekasihku yang memberikan Byul padaku saat aku ulang tahun." Cerita Myungsoo membuat tiga namja di depannya sangat iri.
Myungsoo dan Jiae cukup terkenal di Pledis university. Sepasang kekasih yang memilik paras di atas rata-rata. Tampan dan cantik. Sangat serasi.
Kim Myungsoo adalah seorang gitaris akustik handal. Mungkin setara dengan kemampuan Jisoo memainkan gitar. Jihoon pernah berpikir jika Jisoo satu jurusan dengannya, mungkin namja yang lahir di Los Angles itu akan sering berduet dengan Kim Myungsoo.
Sedangkan Jiae adalah mahasiswi jurusan perhotelan. Junghan berteman dengannya. Itu berarti mereka salah satu primadona di jurusan mereka.
"Awalnya Jiae ingin memberi namanya Hoshi, namun aku lebih suka dengan nama Byul." Lanjut Myungsoo yang membuat Jihoon tiba-tiba membatu.
"Hoshi?!"
Myungsoo mengangguk. "Bahasa Jepang bintang adalah Hoshi. Tapi aku lebih suka dengan bahasa Korea, Byul."
Bagaikan ada petir di siang hari, Jihoon terkejut. Hoshi adalah bahasa Jepang dari bintang. Seperti sebuah permainan puzzel, setiap kepingan memori perlahan menyatu di otak Jihoon. Dimulai dari memorinya tentang Kwon Soonyoung yang menyukai bintang sampai kemunculan sosok Hoshi di hidupnya.
Sebuah hipotesis muncul. Tiba-tiba Jihoon bangkit berdiri. "Aku keluar dulu."
Melihat wajah Jihoon yang pucat membuat Seungkwan dan Seokmin khawatir, namun sayangnya namja mungil itu segera menghilang di balik pintu ruang musik.
'Hoshi. Aku ingin bertemu dengan mu. Sekarang.' Setelah gagal menghubungi Hoshi, Jihoon memilih untuk mengirim pesan pada namja sipit itu sambil kakinya setengah berlari untuk mencari Hoshi.
Jihoon yakin Hoshi ada hubungannya dengan Kwon Soonyoung.
"Seseorang yang kau tunggu akan muncul di hadapan mu sambil membawa bintang."
Kalimat yang pernah keluar dari mulut Hoshi mirip dengan kalimat Soonyoung kecil saat Soonyoung kecil menggambar sebuah bintang. "Kalau begitu Soonyoung akan bawakan bintang yang bersinar untuk Jihoon."
Lalu, Hoshi seakan tahu jika Jihoon tidak bisa terkena hujan, maka Hoshi segera melindungi Jihoon dengan jaketnya. Kemudian, saat mereka makan di restoran. Hoshi memesan jajangmyeon untuk Jihoon.
Selain orang tua Jihoon, Wonwoo dan Seungcheol, Soonyoung kecilnya-lah mengetahui jika Jihoon tidak tahan dengan guyuran air hujan dan menyukai mie hitam Korea itu.
Tiga hal yang meyakinkan Jihoon jika Hoshi berhubungan dengan Kwon Soonyoung, namun itu saja tidak cukup. Tiga bukti itu seakan bisa terjadi karena kebetulan. Jihoon perlu bukti tambahan untuk memperkuat dugaannya jika Hoshi adalah...
"Jihoon hyung!" Teriakan Chan menghentikan langkah kaki Jihoon.
"Ada apa Chan?" Tanya Jihoon berusaha menahan hasratnya untuk mencari Hoshi.
"Ini." Chan memberikan sebuah ponsel hitam pada Jihoon. "Itu milik Hoshi hyung. Tertinggal saat tadi latihan. Aku ingin mengembalikannya tapi aku ada kelas lain."
Jihoon menerima ponsel Hoshi.
"Tadinya aku ingin minta tolong Minghao hyung, tapi Minghao hyung sudah melesat pergi karena di telepon Jun Hyung." Chan berdecak. "Hyung tahu, hubungan Minghao hyung dan Jun hyung sangat dekat. Aku jadi curiga jika mereka sudah pacaran."
Jihoon mendelik. Itu berarti Minghao tidak berurusan lagi dengan Mingyu. Sedikit ada perasaan lega saat mendengar bahwa Mingyu terkena batunya.
"Karena tadi hyung menghubungi Hoshi hyung dan mengirimnya pesan, jadi aku minta tolong kembalikan pada Hoshi hyung, ne?"
Jihoon menatap ponsel Hoshi di tangannya. Alasan yang bagus untuk bertemu Hoshi. "Baiklah, akan aku kembalikan."
"Gomawo hyung." Ucap Chan. "Aku pergi dulu!"
Setelah Chan pergi, kaki Jihoon kembali berjalan keluar gedung C menuju gedung F. Kemungkinan Hoshi masih di gedungnya.
Jihoon memperhatikan ponsel Hoshi. Hitam dan tidak dikunci. Penasaran, akhirnya secara tak sopan Jihoon membuka ponsel Hoshi. Tak ada yang menarik, hanya berisi beberapa aplikasi. Namun saat tak sengaja Jihoon mengusap layar ponsel Hoshi, 'home' dari ponsel Hoshi bergeser ke kanan dan menunjukan sesuatu yang membuat langkah Jihoon terhenti.
Sebuah 'widget' picture frame menampilkan foto yang Jihoon sangat kenal. Foto dirinya saat masih kecil bersama Soonyoung kecil yang merangkulnya. Dari mana Hoshi bisa memiliki foto ini? Dan mengapa harus foto ini?
Pertanyaan yang menumpuk di otak Jihoon seakan bisa tumpah. Jihoon menghela napasnya berat. Ia harus menanyakan hal ini pada tersangkanya. Hoshi.
"Oh? Jihoon!" Panggil Junghan saat Jihoon berjalan hendak melewati gedung D. Junghan membungkuk sedikit pada seorang yeoja cantik yang tadi sedang dibicarakan. Yoo Jiae, kekasih Myungsoo. Lalu berjalan mendekati Jihoon.
"Mau kemana?" Tanya Junghan.
"Mengembalilan ponsel Hoshi, tadi tertinggal." Yang Junghan tahu adalah Jihoon dan Hoshi dekat, dan namja mungil itu masih tidak tahu jika Hoshi adalah Kwon Soonyoung.
"Hoshi?" Tangan Junghan terangkat, menunjuk ke arah kolam lotus. "Itu Hoshi."
Dan benar saja. Namja yang sejak tadi Jihoon cari sedang berdiri di pinggir kolam lotus yang sepi. Sepertinya Jihoon terlalu sibuk dengan pikirkannya, sampai tidak melihat seorang Hoshi disana.
"Gomawo hyung." Jihoon segera berjalan mendekati Hoshi. Ia butuh sebuah penjelasan atas kebingungannya selama ini.
.
.
.
"Hoshi." Panggil Jihoon membuat Hoshi berbalik badan. "Chan menyuruhku untuk mengembalikan ini."
Wajah Hoshi seketika pucat saat melihat ponselnya di tangan Jihoon. "Goma-"
"Maaf karena lancang membuka ponselmu." Jantung Hoshi seakan berhenti saat melihat perubahan raut wajah Jihoon. "Tapi bisa kau jelaskan, mengapa kau menyimpan foto ini?"
Keringat dingin membanjiri pelipis Hoshi. Napasnya tercekak saat Jihoon menunjukan foto yang Hoshi sempat ambil saat pertama kali mengunjungi rumah Jihoon. Awalnya Hoshi hanya berniat untuk mengenang masa lalu namun ia tidak menyangka akan berakhir seperti ini.
"Karena kau terlihat lucu di foto itu." Bohong Hoshi lalu merebut ponselnya dari Jihoon.
"Jeongmal?" Jihoon berdengus. "Bukan karena alasan lain, Hoshi? Oh! Atau aku harus memanggilmu Kwon Soonyoung?"
Dar! Mimpi buruk Hoshi menjadi kenyataan. Ia memang ingin Jihoon tahu jika dirinya adalah Kwon Soonyoung, namun tidak sekarang. Belum saatnya. Hoshi harus menjadi 'bintang bersinar' dulu baru ia akan datang sendiri pada Jihoon.
"Apa maksudmu, Lee Jihoon?"
"Hoshi, adalah bahasa Jepangnya bintang. Itu sebabnya kau pernah bertanya apa aku bisa bahasa Jepang atau tidak?"
Hoshi seperti seorang tersangka yang sedang diadili oleh hakim, yang sedang dibongkar kesalahannya oleh jaksa. Seorang tersangkah yang tertangkap basah oleh polisi. Kepala Hoshi tertunduk, tak berani menatap Jihoon seperti biasa.
"Kenapa?!" Suara Jihoon bergetar, membuat relung hati Hoshi sakit. "Kenapa kau tidak memberi tahu ku sejak awal?! Kau tahu, jika aku sampai datang pada Jisoo hyung dan menceritakan tentang kisah cinta pertama ku, berarti aku sudah gila!"
"Aku ini hampir gila! Aku seperti orang bodoh yang menunggu datangnya hujan permen dari langit! Aku menunggumu! Aku menunggumu, Soonyoung!" Air mata Jihoon tidak bisa dibendung lagi. "Aku sudah melewatkan banyak hal hanya untuk menunggu dirimu!"
"Jihoon, dengar, aku-"
"Mengapa kau tidak memberi tahuku sejak awal?!"
"Karena aku ingin melindungimu!" Teriak Hoshi tidak bisa tertahan lagi. Terlalu cepat dan rumit. Hoshi tidak bisa berpikri jernih sekarang.
"Dari ayah mu?! Tapi mengapa kau harus membohongi ku?!"
Berbohong. Hoshi terdiam seribu bahasa. Sejak kecil Hoshi adalah anak yang baik. Selalu menurut apa kata orang tuanya. Namun sampai kesabaran Hoshi habis karena tekanan ayah tirinya, Hoshi mulai berbohong untuk menyelamatkan haknya. Dan hal buruk itu kini berimbas pada seseorang yang ia cintai.
"Aku membencimu." Kalimat yang keluar dari mulut kucing Jihoon begitu tajam. Lebih tajam dari sebuah belati. Jantung Hoshi seakan tertusuk dalam. Sesak dan sakit.
"Jihoon!" Teriak Junghan berusaha menghentikan langkah Jihoon, namun namja mungil itu sudah berlari entah kemana. Sejak tadi Junghan memperhatikan Jihoon dan Hoshi. Namun saat Junghan mendengar suara Jihoon meninggi, Junghan yakin ada sesuatu yang tak beres.
"Ada apa ini?!" Junghan bisa melihat mata sepuluh lewat sepuluh milik Hoshi memerah.
"Hyung, Jihoon membenciku."
.
.
.
Rumah kecil Jihoon yang perlahan mulai ramai karena kehadiran Hoshi, kini kembali sunyi. Bahkan suasana lebih dingin dari sebelumnya. Mereka berdua bergerak. Mereka berdua bernapas. Namun mereka tidak menganggap satu sama lain ada. Lebih tepatnya Jihoon. Namja manis itu tidak menganggap Hoshi ada.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah satu malam. Alih-alih sudah tertidur pulas, mata Hoshi terjaga. Ia bangun dari tidurnya lalu mengambil ponselnya.
.
.
.
Seorang namja tinggi sedang berdiri di depan pintunya. Wajah tampannya menunjukan betapa ia sangat mengantuk sekarang. Namun ia belum bisa tidur sampai seseorang yang mengganggu tidurnya datang.
"Kau tahu, aku baru tidur satu jam." Keluh Jun namun tetap membiarkan Hoshi masuk bersama tas ranselnya.
"Kau baik-baik saja?" Melihat wajah Hoshi yang muram, membuat Jun enggan bertanya lebih.
"Kau tidur di kamar ku. Orang tua dan adik ku sedang pergi ke China karena ada acara keluarga. Anggap saja rumah sendiri." Ucap Jun sambil membawakan tas Hoshi ke lantai atas. Ke kamarnya.
"Gomawo."
.
.
.
Seminggu sudah berlalu. Itu berarti sudah seminggu Jihoon dan Hoshi seperti orang tidak saling mengenal. Bohong jika mereka tidak saling memikirkan, namun mereka mencoba menahan rasa yang seperti mencekik mereka untuk mempersiapkan diri. Acara Youth Music Festival menjadi prioritas saat ini.
Acara musik besar tersebut dimulai dari pagi hari. Satu hari penuh karena itu keinginan juri utama, Jung Jinyoung, namja kurus itu duduk di tengah lima dewa juri.
Jung Jinyoung yang menginginkan untuk memadatkan jadwal acara. Ia ingin semuanya baik. Tidak sempurna, karena ia tahu tidak ada yang sempurna di dunia ini. Maka dari itu, pemenang di acara ini belum tentu akan menjadi pemenang untuknya. Jinyoung mencari orang yang pas untuk keriterianya. Ia sedikit pemilih namun pilihannya selalu terbaik.
Kursi penonton di belakang meja juri perlahan terisi oleh para penonton. Terutama Seungcheol, Junghan, Wonwoo, Mingyu, dan Hansol. Mereka duduk satu deretan tepat menghadap panggung. Jisoo lah yang memberikan tempat spesial itu. Anak dari salah satu investor acara tersebut mempunyai hak spesial bukan?
.
.
.
"Bersiaplah, setelah ini giliran kalian." Ucap Jisoo di ambang pintu ruang tunggu Mansae team.
"Ne hyung." Ucap Jihoon, Seungkwan dan Seokmin serempak.
Lampu sorot tertuju pada sebuah panggung megah, menampakan tiga namja yang sudah siap dengan mic mereka.
Setelah memberi hormat pada juri, jari-jari Jihoon mulai bermain pada sebuah keyboard di depannya. Alunan lagu terdengar. Sangat indah dengan suara tiga namja yang sangat merdu. Membuat setiap orang yang melihatnya terbuai.
"Jihoon menangis?" Junghan melihat mata kecil Jihoon berkaca.
"Pasti ia teringat Hoshi." Ucap Wonwoo.
"Kwon Soonyoung." Koreksi Seungcheol.
"Hubungan mereka rumit." Junghan menghela napas. Seandainya ada yang ia bisa lakukan, Junghan akan membantu, namun Wonwoo saja hanya bisa diam, bagaimana dengan dirinya.
Suara tepuk tangan bergemuruh saat Mansae team selesai dengan penampilan mereka. Jihoon tersenyum. Tugasnya selesai, hanya tinggal menunggu keputusan dewan juri. Ia tidak terlalu memusingkannya. Yang penting ia bisa melihat seorang Jung Jinyoung bertepuk tangan untuk dirinya.
.
.
.
"Hyung, kau baik-baik saja?" Tanya Chan pada Hoshi. Setelah seorang panitia acara memberi tahu bahwa SVT team akan segera naik panggung, Hoshi hanya diam saja. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.
Sebuah helaan napas berat keluar dari bibir Hoshi. Namja itu bangkit dari duduknya. "Kajja."
.
.
.
Empat namja sedang begerak lincah di atas panggung. Dengan pakaian hitam merah, Hoshi, Jun, Minghao dan Chan terlihat sangat karismatik. Mereka seperti sedang menyihir setiap orang yang menonton mereka. Termasuk dewan juri.
Maka sebuah posisi juara pertama berhak mereka dapatkan.
Acara selesai saat malam hari. Ditutup dengan pengumuman para pemenang.
Mansae team harus puas dengan peringkat tiga. Setidaknya mereka mendapatkan hadiah yang pantas.
"Ayo kita beri selamat pada Hoshi, Jun, Minghao dan Chan." Ajak Seungcheol pada yang lainnya.
"Kau ikut, kan, Jihoon?" Tanya Wonwoo hati-hati.
"Ne." Jawab Jihoon pelan.
Saat mereka semua sedang berjalan menyusuri lorong gedung untuk menuju ruang SVT team, Jisoo memanggil Jihoon.
Jihoon memberi kode untuk Wonwoon bahwa ia akan menyusul mereka, sebelum Jihoon menghampiri Jisoo.
"Ada yang ingin bertemu denganmu, Jihoon-ah."
"Siapa?"
"Aku!" Seorang namja tampan dengan kemeja putih berjalan mendekat. Jihoon hampir berteriak melihat sosok Jung Jinyoung muncul di hadapannya. Mata namja itu seperti rubah, sangat tampan.
"Aku menyukai lagu mu, Lee Jihoon-ssi." Lalu Jinyoung mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Ini kartu nama ku. Semoga kita bisa bekerja sama ke depannya."
Mimpi Jihoon menjadi nyata. Di tangannya ada sebuah kartu nama berwarna hitam yang sangat ia idam-idamkan. "Ye, terima kasih banyak." Jihoon terlihat menggemaskan saat ia berulang kali membungkuk sembilan puluh derajat pada idolanya.
.
.
.
Kaki Jihoon berjalan menuju sebuah pintu hitam dengan tulisan 'SVT team'. Sebenarnya Jihoon ragu untuk datang kesini, karena ia yakin, teman-temannya sudah meninggalkannya. Namun tangannya sudah terlanjur memegang kenop pintu.
Hal yang pertama kali Jihoon lihat adalah seorang namja sedang duduk di sofa kecil. Pakaian namja itu masih belum diganti semenjak naik ke panggung. Hoshi, namja itu memandang Jihoon lekat.
"Selamat atas kemenanganmu." Ucap Jihoon tanpa bergerak sedikit pun dari ambang pintu.
"Ne, gomawo." Balas Hoshi kemudian sunyi. Canggung melanda dan Jihoon benci itu.
"Kalau begitu, aku pergi." Jihoon segera menutup pintu sebelum Hoshi sempat membalas.
.
.
.
To Be Continue or END?
Note 1 : Aku menyisipkan biasku lagi, Infinite Kim Myungsoo, B1A4 Jung Jinyoung, Lovelyz Yoo Jiae. Dan tentang ponsel dan kucing L Kim itu, benar adanya. Myungsoo pencinta hewan, terutama kucing. Dan Jinyoung itu seorang produser dan komposer, bahkan aku mengenali warna lagu Jinyoung (walau tidak terlalu hehehe). Mengapa aku pilih Jiae? Karena ia adalah face of the group dari Lovelyz dan Myungsoo adalah face of the group dari Infinite, dan mereka dari Woollim(?)
Note 2 : Aku suka membalas review, jadi maaf jika aku dua kali membalas review dan email. Untuk yang 'guest' seandainya aku bisa balas, aku juga ingin membalasnya. Aku suka berteman dengan orang baru. Namun jika bertemu secara langsung, aku akan 'menyaring', tapi aku berteman dengan siapa saja
Note 3 : Lagu Jihoon di FF ini adalah Fixed Star. Itu judul lagu Infinite di album pertama mereka (Kalau tidak salah) Mungkin tidak terlalu nyambung dengan FF ini, tapi coba dengarkan.
Note 4 : Terima kasih yang sudah mau baca dan review, aku senang berterima kasih hehehe. Dan jangan pernah bosan dengan FF ku. Dan aku kepikiran sebuah FF SeungHan, tapi shortfic, aku ingin coba, semoga bisa selesai(?)
Note 5 : Mungkin setelah ini aku akan lama update, karena sudah mulai masuk kuliah(?) Maafkan saya dan tunggu saya(?)
Aju NICE!
