Disclaimer: This story is completely based on my imagination. Seventeen belongs to Pledis entertainment. The plot is mine.
Warning : Typo everywhere. Tidak sesuai dengan EYD. Yaoi. Boy x Boy.
Cast :
Kwon Soonyoung & Lee Jihoon (SoonHoon)
Seventeen members
+ Happy reading +
Benar apa yang sering dibilang orang, seorang teman dekat, yang bahkan hampir menyamai kedekatan saudara kandung, akan merasakan suatu hal yang sama. Akan mengalami hal yang sama walau tidak sama persis. Ini yang sedang dirasakan Wonwoo.
Untuk Wonwoo, tak ada lagi Mingyu. Tak ada lagi waktu yang terbuang untuk menunggu Mingyu, tak ada rasa yang membuat Wonwoo tercekik karena Mingyu. Wonwoo kembali seperti sebelum bertemu dengan Mingyu. Walau namja tinggi itu lewat di depannya, Wonwoo sudah merasa biasa saja. Tak ada lagi rasa "cinta". Hanya sebatas teman seperti halnya dirinya dengan Seokmin.
Untuk Jihoon, tak ada lagi Hoshi atau pun Kwon Soonyoung. Namja mungil nan manis itu memutuskan untuk melupakan cinta pertamanya. Ia paling tidak suka dibohongi. Wonwoo dan Seungcheol paling tidak berani membohongi seorang Lee Jihoon.
Berbeda dengan Wonwoo. Jihoon tidak kembali seperti sebelum bertemu Hoshi atau Soonyoung, karena pasti ia akan seperti anak kecil yang polos. Jihoon mencoba menjalani hidupnya tanpa mengenal yang namanya Hoshi atau Soonyoung.
Namun, Jisoo, namja yang kini sedang duduk di depan Jihoon di kantin tidak pernah percaya dengan mulut Jihoon yang demikian. Namja bermarga Hong itu yakin di hati Jihoon masih ada ruang kosong untuk namja yang tidak tahu keberadaannya itu.
"Bagaimana kerjasama mu dengan produser Jung Jinyoung?" Tanya Jisoo.
Jihoon mengalihkan pandangannya dari ponselnya. "Sedang ada project untuk membuat lagu original sountrack sebuah drama."
"Jeongmal? Kau yang terbaik Jihoon!" Ujar Jisoo sambil memberikan jempolnya pada Jihoon.
Namja manis itu tersenyum. "Gomawo. Ini juga berkat dirimu."
"Ani, ini semua hasil usahamu."
"Jujur saja hyung, kau yang memberi tahu Jung Jinyoung tentang diriku, ne?"
Jisoo hanya terkekeh sambil mengibaskan tangannya.
"Kau yang terbaik hyung." Ucap Jihoon dengan senyum tulusnya.
"Kami boleh gabung?" Seorang namja tinggi datang bersama namja kurus nan imut di sampingnya.
"Tentu." Jawab Jisoo sambil memberi tempat untuk Jun dan Minghao.
"Hyung!" Kali ini Lee Chan yang muncul. "Mentang-mentang Jun hyung dan Minghao hyung pacaran, aku selalu ditinggal!"
"Pacaran?!" Kejut Wonwoo yang di belakangnya ada Seokmin.
"Sejak kapan kalian pacaran?!" Tanya Seokmin yang mengambil duduk di samping Jisoo.
"Entah, kami hanya menjalankannya saja." Ujar Jun lalu menyesap minumannya.
"Junghan hyung dan Seungcheol hyung, dimana?" Tanya Minghao berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tadi aku lihat Seungcheol hyung sedang di gedung D." Jawab Seungkwan yang mengambil tempat di samping Minghao.
"Kata Seungcheol hyung, mereka akan ke kantin." Tambah Hansol di samping Seungkwan.
"Dan kita disini." Kedua namja yang sedang dibicarakan muncul. Seungcheol berjalan beriringan dengan Junghan yang nampak cantik dengan seragam khusus jurusannya.
"Sudah berkumpul semua?" Tanya Junghan mengambil tempat duduk di samping Seungcheol.
"Kalian melupakan diriku?" Mingyu datang dengan beberapa map di tangannya.
"Habis dari lab?" Tanya Wonwoo dengan wajah emonya.
Mingyu mengangguk. "Remot AC lab hilang dan suhunya sangat rendah. Aku hampir beku disana."
Junghan tersenyum. "Sekarang kita sudah berkumpul semua."
"Ne!" Jawab serempak dari semua orang disana. Kecuali Jihoon. Namja bermata kecil tersebut hanya diam sambil tersenyum. Walau Jihoon memiliki tubuh mungil, namun setiap gerakannya selalu menarik perhatian sebelas orang disana.
Dua belas orang disana memiliki pikiran yang sama. Ya, mereka belum lengkap. Kurang seseorang. Seseorang yang menghilang sebulan setelah kenaikan semester. Hoshi. Namja itu tidak diketahui keberadaannya sekarang. Bahkan Jun saja tidak tahu.
Aneh. Disaat SVT team adalah pemenang di acara Youth Music Festival, Hoshi, Jun, Minghao dan Chan menandatanganin kontrak namun tidak dalam satu agensi. Misalnya Jun dan Minghao yang punya kesempatan berkarir di negara asal mereka. Dan Chan yang bisa jadi artis. Sedangkan Hoshi, Chan berkata jika Hoshi ditawari jadi koreografer oleh salah satu agensi besar. Namun sekarang, namja bermata sepuluh lewat sepuluh itu hilang entah kemana.
Khawatir. Ya, dua belas orang yang sedang asik mengobrol di tiga meja kantin yang digabung menjadi satu itu khawatir dengan menghilangnya Hoshi.
Jihoon. Bohong jika ia tidak khawatir. Hanya saja, Jihoon bersikeras untuk melupakan namja yang sudah mengisis hatinya selama sepuluh tahun lebih.
.
.
.
Musim dingin segera tiba. Udara yang berhembus membuat namja mungil mengeratkan jaketnya. Lee Jihoon. Ia sedikit berlari kecil setelah turun dari bus, ingin segera pulang ke rumah dan masuk ke dalam selimut. Seandainya dosennnya tidak buka kelas malam, mungkin Jihoon tidak pulang larut. Sebenarnya belum terlalu malam, masih pukul setengah delapan malam. Namun tetap saja, lingkungan rumah Jihoon sepi.
Gelap. Hantu. Horror. Itu menyeramkan bagi Jihoon. Namun tetap orang jahat lebih menyeramkan. Jihoon merasa sedang diikuti seseorang. Mungkin lebih dari satu orang. Dua? Tiga? Entahlah. Jihoon berusaha mengabaikan rasa takutnya dan menambah kecepatan lari kecilnya.
Atau mungkin Jihoon harus berlari cepat. Beruntung ia hanya membawa tas laptopnya dan gitarnya ia tinggal di rumah. Jadi Jihoon masih bisa berlari. Namun sayangnya, kaki kecil Jihoon tidak secepat Wonwoo jika berlari.
"Siapa kau?!" Teriak Jihoon saat seorang namja berpakaian serba hitam mendahuluinya. Namja itu memblokir jalan Jihoon.
Sama sepertinya empat namja yang lain. Total ada lima namja. Lima!? Jihoon terpojok ke tembok besar berwarna bata. Takut, pasti, namun Jihoon berusaha tetap tegar. Ia tidak mau terlihat seperti mangsa yang lemah di hadapan lima namja yang terlihat seperti gangster.
Gangster? Dan Jihoon teringat yakuza.
"Kau Lee Jihoon?" Tanya salah satu dari kelima yakuza.
"Mau apa kalian?!" Jihoon balik bertanya namun itu sebagai jawaban untuk para yakuza tersebut.
"Ikut kami." Salah satu yakuza mendekat.
"Kemana?! Siapa kalian sebenarnya?!" Kedua tangan Jihoon sudah dipegang erat oleh dua yakuza namun tiba-tiba ada yang datang.
Bruk! Salah satu yakuza ada yang ditendang oleh seseorang sampai tersungkur di tanah. Membuat empat yakuza lainnya melepaskan Jihoon dan berhadapan dengan tiga namja yang berpakaian tidak jauh beda.
Jihoon hanya terdiam dipojokan melihat tiga namja itu mengalahkan lima yakuza yang entah datang darimana. Lima yakuza itu tersungkur ditanah dengan wajah dan tubuh yang babakbelur.
Tiga orang namja yang telah menolong Jihoon bergeser, memberi jalan untuk seseorang yang Jihoon lama tak jumpa.
"Kau baik-baik saja?" Tanya namja tampan tersebut.
"Hoshi." Bibir kucing Jihoon berguman.
"Sepertinya kau baik-baik saja." Hoshi tersenyum tipis lalu berjalan mendekati Jihoon.
"Aku kembali, sebagai Kwon Soonyoung, bintang yang bersinar untuk seorang Lee Jihoon."
Jihoon masih setia dalam keheningannya. Ia masih tidak percaya seorang Hoshi atau Soonyoung kembali ke hadapannya. Namja bermata sepuluh lewat sepuluh itu terlihat lebih rapi dengan setelan jeans ditubuhnya.
"Ini alasannya aku harus membohongimu dulu." Hoshi melirik sekilas di belakangnya. "Ayah tiriku akan melakukan segala hal untuk mewujudkan keinginannya."
Hoshi tersenyum miris. "Ayah tiriku tahu aku menang dalam acara Youth Music Festival. Ayah marah besar. Sadar atau tidak, Seungcheol hyung dan Jun terkadang menanyakan kabarmu, eoh?"
Jihoon masih diam, namun dari mata kecilnya, Hoshi yakin jika Jihoon menjawab. "Aku menitipkanmu pada mereka. Lalu aku harus menghilang sejenak sampai aku punya kekuatan seperti sekarang."
Hoshi bukan seorang peramal atau psikolog seperti Jisoo, namum ia mengerti dengan gerakan kecil namja yang lebih pendek darinya ini. "Aku bisa menyewa security seperti mereka. Aku sudah resmi menjadi keoreografer dan dancer di agensi Infinite."
Hoshi tersenyum bangga pada dirinya sendiri. "Aku sudah menjadi bintang, Jihoon."
"Hoshi." Jihoon hanya bisa memanggil nama Hoshi. Ia mengerti sekarang. Dulu ia terlalu sensitif sampai ia berkata jika ia menbenci Hoshi, padahal namja yang masih sekarang ia cintai itu, hanya ingin melindunginya dan ingin lebih dekat dengannya. Tanpa gangguan dari siapapun.
"Mianhae, Jihoon-ah." Hoshi memandang Jihoon lekat. "Maaf karena sudah membohongi mu, maaf karena sudah menghilang dari mu, maaf karena membuat mu sedih, maaf karena-"
"Aku maafkan mu." Jihoon mulai bersuara. Ia membalas tatapan Hoshi dengan lembut. Bibirnya terangkat, mencoba menahan air yang menggenang dipelupuk matanya. "Asal kau tidak menghilang lagi dariku."
"Maaf, tapi aku tidak bisa." Ucap Hoshi tertunduk. Ia menghela napasnya berat sebelum kembali menatap Jihoon.
"Aku harus kembali ke Jepang untuk berhadapan dengan ayah tiriku. Aku ingin menghentikan ayah tiriku."
"Tapi..."
"Tenang saja, aku pasti kembali ke Korea dengan selamat." Tambah Hoshi sambil memberi senyum meyakinkan Jihoon.
"Kau mau menunggu ku lagi, kan, Jihoon?" Hoshi menggenggam kedua tangan Jihoon erat. Sebenarnya Hoshi juga takut tidak bisa kembali, namun ia sudah bertekad. Semua resiko harus ia yang tanggung bagaimana pun juga.
Jihoon menggigit bibirnya ragu. Ia memandang tangan besar Hoshi yang menggenggam tangannya. Dua kali namja bermarga Kwon itu meninggalkannya, dan sekarang ingin meninggalkannya lagi. Memang Jihoon sudah terlatih namun tetap saja. Masalahnya adalah ayah tiri Hoshi.
"Kali ini aku berjanji."
Mata kecil Jihoon menatap dalam mata sepuluh lewat sepuluh milik Hoshi. Seperti sedang menandatangi perjanjian dengan Hoshi. Jihoon ingin percaya dan Jihoon akan melakukannya. Untuk Hoshi. Untuk Kwon Soonyoung.
"Ne, aku juga akan berjanji untuk menunggumu, Soonyoung."
.
.
.
Kurang lebih sebulan. Ya, Jihoon menghitungnya. Terhitung sejak ia terakhir bertemu Hoshi. Tak ada kabar sedikit pun. Sepertinya Hoshi mempunyai kealihkan bersembunyi. Seingat Jihoon, saat mereka masih kecil, Soonyoung selalu kalah dalam permainan petak umpet.
Sebulan memang waktu yang singkat, tidak selama sepuluh tahun Jihoon harus menunggu Soonyoung. Namun rasa khawatir membuat Jihoon lebih tersiksa daripada harus menunggu Soonyoung selama sepuluh tahun.
Kali ini Soonyoung sudah berjanji padanya. Jihoon memegang janji itu. Jihoon percaya pada Kwon Soonyoung.
"Hyung!" Panggil Chan sedikit berlari mendekati Jihoon.
"Ada apa Chan?" Jihoon menutup lokernya.
"Setelah ini hyung ada kelas?"
Jihoon menggeleng. "Sepertinya aku langsung pulang."
"Hyung tidak ingin memeriksa audio di auditorium?"
Dan Jihoon teringat dengan perayaan ulang tahun universitasnya. Sebagai salah satu pengisi acara tersebut, Jihoon harus selalu mengecek persiapan acara besar tersebut. Terutama dalam hal audio, musik dan sejenisnya. Jihoon tidak ingin ada kesalahan untuk acara yang akan diadakan tiga hari lagi.
"Aku habis dari sana, habis cek sound untuk penampilanku. Hyung tidak cek sound?"
Sejenak Jihoon berpikir. "Besok masih bisa cek sound bukan?"
"Sekarang saja hyung, mumpung panitianya masih ada di auditorium."
Jihoon mendelik. "Kau memaksa, Chan."
Namja yang lebih muda satu tahun di bawah Jihoon itu menggeleng cepat. "Ani-yo. Aku hanya menawarkan saja."
Jihoon tertawa melihat raut wajah Chan yang terlihat lucu baginya. Bagaimanapun juga, Chan tetap lebih muda darinya. "Arraseo. Aku ke auditorium sekarang."
.
.
.
Ruangan megah yang bernama auditorium berada di lantai enam gedung serba guna. Dari jendela lantai enam, Jihoon bisa melihat gedung Pledis Hospital. Pemandangan dari sana terlihat indah. Jihoon selalu bersyukur karena ia bisa masuk ke universitas elit tersebut.
Jihoon membuka pintu ruang auditorium. Sepi. Tidak ada orang disana namun lampu ruangan bersinar terang. Panggung megahnya pun masih kosong.
Mungkin para pantia sudah pulang sejak tadi, pikir Jihoon. Karena sudah terlanjur datang, Jihoon tetap masuk, siapa tahu ia masih bisa bertemu salah seorang panitia acara.
"Permisi, ada orang?" Suara Jihoon bergaung, namun tiba-tiba lampu ruangan meredup dan sebuah sinar dari lampur sorot ke panggung membuat Jihoon silau.
Jihoon mendengar sebuah musik mengalun. Samar-samar ia bisa melihat ada seorang atas panggung. Seorang namja, dengan jaket hitam dan jeans hitam. Wajah namja itu tidak terlihat jelas karena ditutup topi berwarna hitam.
Namja itu mulai bergerak mengikuti beat lagu. Dancing. Jihoon terdiam melihat namja tersebut. Gerakannya mengingatkannya dengan seseorang. Seseorang yang sedang ia tunggu sekarang.
Jihoon mulai mendekat ke arah panggung.
"Soonyoung." Guman Jihoon setelah namja itu selesai dengan tariannya.
"Aku kembali." Hoshi melepas topinya lalu tersenyum. Senyum yang Jihoon rindukan. Namja bermata sepuluh lewat sepuluh itu turun dari panggung lalu memakaikan topinya pada Jihoon.
"Ne." Jihoon tersenyum lembut. Sangat lembut sampai Hoshi bisa meleleh dibuatnya. "Bagaimana keadaanmu?"
Soonyoung harus sedikit tertunduk untuk melihat jelas wajah namja yang sangat ia cintai itu. "Sangat baik. Seperti terlahir kembali."
Jihoon tersenyum mendengarnya. "Ayah tirimu?"
"Aku ini bintang sekarang." Ucap Hoshi dengan nada bangganya. "Ibuku memilih bercerai dan ikut denganku. Tak ada yang bisa mengatur kami lagi sekarang."
"Syukurlah." Kini, senyum Jihoon tidak akan pernah pudar. Selama ada namja bermata sepuluh lewat sepuluh itu Jihoon bagaikan terlahir kembali. Memulai dari awal, ya, Jihoon memilih itu. "Sekarang, jangan pernah menghilang dari ku."
Hoshi menggeleng. "Tidak akan."
Sebuah pelukan hangat tercipta dari dua insan yang saling melepaskan rindu. Sangat erat hingga semua orang yang melihatnya bisa merasakan betapa kuatnya cinta mereka. Jihoon merasakan pelukan tersebut. Sangat nyata. Jihoon dan Hoshi pastikan tidak ada yang bisa memisahkan mereka lagi.
"Terima kasih telah menungguku." Hoshi sedikit melonggarkan pelukannya.
Jihoon mengangguk.
"Aku mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu, Kwon Soonyoung."
Mata mereka bertemu. Saling menatap dalam seakan bisa membaca pikiran masing-masing. Perlahan tapi pasti, wajah Hoshi mendekat dan tak ada penolakan dari namja mungil kesayangannya itu.
Lembut dan manis. Itulah yang dirasakan Jihoon dan Hoshi saat bibir mereka bertemu. Ciuman yang tak memaksa. Sedikit lumatan dari Hoshi membuat Jihoon terbuai. Tak berlangsung lama, namun cukup untuk mereka.
"Ayo kita pulang. Ibuku sudah menunggu calon menantunya datang." Hoshi menarik tangan Jihoon untuk keluar dari ruang auditorium yang sengaja ia pinjam.
"Mwo?" Jihoon tertawa. "Kalau begitu, kita ke Busan untuk bertemu dengan orang tua ku."
"Siap laksanakan, kapten."
.
.
.
END
Note 1 : Akhirnya selesai juga! Bagaimana ending-nya? Mengecewakan bukan? Kan aku sudah memperingatkan sejak awal jika endingnya tidak sesuai harapan. Maafkan saya /bow/ Aku sebenarnya senang karena ada salah satu FF ku yang selesai /peluk Sunggyu/ dan semoga FF ku yang lain juga akan selesai.
Note 2 : MAAFKAN AKU karena terlalu lama update FF ini. Dimulai dari selesai kerja, masuk kuliah, ospek, tugas kuliah yang banyak dan masalah lainnya, aku tidak menyentuh FF ini lagi(?) Sebenarnya banyak ide untuk menyiptakan FF baru, tapi sayang waktu dan mood mengetik itu kadang tersendat. Mungkin sehabis FF ini, aku akan membuat FF oneshoot.
Note 3 : TERIMA KASIH kepada semua orang yang sudah membantu ku secara langsung atau tidak langsung, yang baca, review, fav, follow, aku bersyukur walau FF ku masih abal-abal dan sangat kurang. Tapi sebagai manusia, aku tidak pernah puas dan aku akan berusaha membuat cerita lebih baik lagi. Sampai chapter ini di-post, aku ingin berterima kasih kepada yang sudah review. Maaf yang tidak disebutkan karena FF ini sudah END. MiniMinyoonMini, kwon-summer, Shyshyshy, Uhee, safabelle, GameSMl, Squishy Carrot, aqizakura, KingJongin, maya han, Karuhi Hatsune, zarrazr, boobeepboo, werewolf, Daerin-ssi, taehyungie, diamondswhite, namusaurus1, mingyu, rarinpark, btobae, JaeShine, ChwangKyuh EviLBerry, human, jodohnyaleeteuk1, elferani, BooNhy, hanaikosama, hoshiLAU, 21alynn, blxckorz, Kayshone males login, elferani, hotterthansummer, Mochi Park, gyuhng, JaeShine, starrydoll21, wonwonwonu, kwonhshey, Andi Amelia, MeanieOhmToey, KimElin, Thania Nia.
Note 5 : For my first love, semoga kita bisa bertemu lagi, jadi teman mungkin and thank you so much for sweet memories. For my couple, inf_SunggyuRP, you my "best friend". For Vera dan Nova, big thanks! Dan di kuliah baru ku sekarang, aku bertemu dengan seseorang yang mirip dengan cinta pertama ku, bahkan nama belakangnya sama(?) Tapi aku yakin itu bukan cinta pertama ku hahaha.
Note 6 : Sebenarnya aku ini buat note atau apa(?) Padahal cuma FF abal-abal hahaha.
Note 7 : Oke, saya selesai dengan FF ini. Aju NICE!
