Yaya bersungguh-sungguh sewaktu berkata dia tidak mengenal anak baru tersebut. Tapi sayang teman-temannya tidak ada yang percaya. Jelas saja! Siapa yang tidak berpikir demikian kalau selama hari pertamanya di sekolah pemuda itu justru selalu menempel padanya.
Yaya pergi ke kantin, pemuda itu ikut dan memilih duduk di samping Ya ya. Tapi tidak menyapa. Apa maunya coba?
Yaya ke perpustakaan, pemuda tersebut malah sudah duduk tenang di sana. Oke, bukan berarti Yaya menguntitnya.
Bahkan bisa-bisanya pemuda itu memilih klub yang sama dengan Yaya. Hek! Halilintar sukses jadi orang paling tampan di sana, karena seluruh anggota klub memasak sebelumnya adalah perempuan.
Oh God! What's my fault?
Yaya sampai dianggap tidak pandai bersyukur. Sebab siswi lain banyak yang berharap bisa dekat dengan pemuda itu. Sudah cakep, pintar, tidak pelit pula. Buktinya tugas bahasa jerman mereka, Halilintar yang mengerjakannya sendirian dalam sekejap kemudian dengan entengnya membiarkan buku tugasnya dicontek sana sini.
Setelah bel pulang berbunyi, Yaya bersyukur setidaknya bisa lepas dari pemuda tersebut. Artinya dirinya tidak akan merasa diawasi lagi. Akan tetapi, apa-apaan. Kenapa pria itu juga memilih rute bus yang sama dengannya. Bahkan saat berjalan menuju rumahnya pun pemuda itu masih menguntitnya di belakang.
What the hell!
Yaya merutuk dalam hati. Melebarkan langkah dan mengencangkan kecepatan. Tapi tetap saja jarak mereka tidak berkurang.
Sial! Sial! Sial!
Salahkan pemuda itu yang membuat batin Yaya menelurkan banyak kalimat rutukan hari ini.
"Maumu apa sih?" Kepalang penat, akhirnya Yaya lepas diri.
Pemuda itu masih acuh.
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Siapa yang mengikutimu? Kepedean sekali."
Dengan santainya pemuda beriris merah tersebut berjalan melewati Yaya. Sengaja bahu disenggolkan, entah apa tujuannya.
"Hey! Kalau jalan hati-hati dong."
Seolah tuli. Yaya tidak direspon samasekali. Kesal. Tak ada batu, sepatu pun jadi. Sebelah sepatu pentofel berpindah dari kaki ke tangan. Yaya bersiap melemparkan pukulan jarak jauh diwakili oleh sang sepatu.
Sayang gerakan pemuda itu selanjutnya sukses membuat Yaya lupa cara mengayunkan tangan. Tubuh Yaya membeku seketika saat Halilintar membuka pintu pagar berwarna merah, yang mana lokasinya berada tepat di samping rumah Yaya.
Jadi kita bertetangga?
Kalau ada lalat lewat mungkin mulut Yaya bisa jadi lokasi hinggap.
Tuhan…Apa dosaku?Kenapa aku diliputi nasib buruk terus hari ini?
Entitas berseragam itu pun beringsut lesu membuka pagar rumahnya sendiri. Bagaikan ada awan pekat yang memayunginya hingga mengeluarkan aura-aura suram.
.
.
WARNING: HaliYaya, FangYaya, FangYing. Friendship, romance, OOC detected, miss typo, bahasa ngalur ngidul, school life, teen!chara. romance friendship.
Disclaimmer: Boboiboy belong to monsta studio.
This fict belong to me.
Fanfiksi ini dibuat untuk kesenangan semata tanpa ada keuntungan yang saya dapatkan.
.
.
Dandelion itu masih mengintip dari sudut sempit
Di celah-celah dedaunan hijau…menunggu dipetik
Padang luas dengan bunga-bunga kuning yang cantik
Lentik…menarik…mengusik relung hati yang berbisik
Dandelion kuning berti-
Srettt!
Ujung pensil patah karena ditekan terlalu keras oleh si empunya. Berbagai perempatan imajiner singgah di kening sang gadis maniak biskuit. Yaya mendorong mundur kursi belajarnya dengan kasar. Meraih hijab langsung pakai di sampiran pakaian.
Tanpa menghiraukan angin malam yang menusuk tulang. Kelambu disingkap, kusen aluminium digoyang-goyang. Jendela terbuka lebar. Yaya berusaha berucap dengan keras. Terserah kalau Nyonya Yah –ibunya sampai marah, Yaya bisa melimpahkan kesalahan pada pemuda berjarak sembilan meter darinya.
"Volume gitarnya bisa dikecilin gak? Ini sudah malam. Saya butuh istirahat."
Sia-sia, suaranya takkan didengar. Dari balik kaca jendela yang terbuka, Yaya bisa melihat sosok itu masih setia memainkan musik yang mengusik telinga.
Mencari akal, Yaya mengedarkan pandangan kembali ke kamarnya. Pengeras suara yang tergantung manis di sudut kamar direnggut seketika.
"WOOYY! UDAH MALEM! SITU GAK PUNYA JAM YA? JANGAN RIBUT!"
Yaya berteriak sekuat tenaga, sebagai ungkapan kekesalan karena pemuda itu sudah mengacaukan inspirasinya saat menulis puisi.
"Yaya…" tok tok tok.
Yaya menoleh, seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar.
"Jangan teriak-teriak. Suaramu terdengar sampai bawah. Kalau mau ribut jangan di kamar. Nanti mengganggu tetangga."
"I-iya Ma, Tapi-"
"Jangan banyak tapi-tapian, tidak usah teriak lagi."
Miris sekali. Padahal Yaya yang terganggu di sini.
Suara musik dihentikan. Seseorang di seberang sana terlihat mendekati jendela. Yaya tersenyum sumringah, bersiap melancarkan rutukan berbagai warna.
Setibanya pemuda itu di balkon kamarnya sendiri. Tangannya reflek menutup telinga.
"GAK TAU INI UDAH JAM BERAPA, MAS? KALAU MAU MAIN GITAR ELEKTRIK, DI LUAR SANA! DASAR MATA MERAH IRITASI BERAT."
"Yaya…!"
Suara teguran kembali terdengar di balik pintu. Kenapa jadi dia yang dianggap biang keributan?
Bodoh! Dia lupa mematikan tombol on pada pengeras suara.
Halilintar mengisyaratkan agar Yaya menurunkan benda laknat tersebut.
"Tanpa itu aku juga bisa dengar."
Ucap sang pemuda tanpa harus berteriak. Dia yakin frekuensi bunyi dari jarak sembilan meter masih bisa terdengar dengan cara normal.
"I-iya…aku lupa mematikannya." Yaya kikuk sendiri, harusnya dia yang mengomel malah dia yang diomel.
Pemuda itu melirik arloji. Yaya mengernyit.
"Jam sepuluh."
Perempatan imajiner muncul tanpa diundang. Yaya kesal peringatannya dianggap sekadar guyonan.
"Aku tidak bertanya."
"Sebelumnya kau teriak menanyakan jam berapa."
Ah sudahlah, Yaya lelah.
"Kalau main gitar, pakai headphone. Atau kau bisa menutup jendelanya. Kalau tidak, suaranya terdengar sampai kamarku tahu!"
Alih-alih menanggapi, Halilintar hanya diam sambil berpangku tangan, menikmati sirat kesal yang terlukis di wajah Yaya.
"Hey! Kau dengar tidak?"
"Iya…iya…aku dengar."
"Bagus."
Merasa peringatannya sudah cukup, Yaya berbalik hendak menutup jendela.
"Tapi aku tidak mau pakai headphone." Bukan teriakan, tapi suara dari seberang kamarnya itu terdengar jelas di telinga Yaya.
Jendela setengah tertutup kembali dibuka lebar.
"Hey! Maksudmu apa?" merasa perlu, Yaya harus bertanya.
"Sengaja, supaya jendela kamarmu terbuka dan aku bisa melihat wajahmu, daritadi ditutup sih."
Tidak ada jangkrik yang berbunyi, sebab mereka tidak sedang berada di semak-semak. Keheningan sempat menguasai situasi selama beberapa detik.
"Kau gila…" Yaya bergumam sendiri, kemudian menutup jendela sepihak sekalipun pria yang terpaut sembilan meter darinya masih berusaha mencuri pandang.
Jendela tertutup rapat. Korden ditarik hingga menutupi pandangan dari luar. Yaya mendengus kesal. Sempat-sempatnya pemuda itu menggodanya malam-malam begini.
Tapi…penasaran, kelambu sedikit disibak. Yaya mengintip dari balik kaca jendela. Kalau-kalau pemuda itu masih berusaha bercuri tatap ke kamarnya.
Sepi.
Balkon itu kosong. Pintu dan jendela kamar pemuda itu bahkan sudah tertutup.
"Cepat sekali dia menghilang."
Yaya bergumam, entah kenapa terselip rasa kecewa di sudut hatinya yang lain, sekalipun Yaya sendiri tidak mau mengakuinya.
"Dasar cowok hantu, hii."
Kegiatan mengintip dihentikan. Yaya kembali ke kursi bermaksud meneruskan puisi yang tertunda. Namun, salahkan otaknya yang sudah tercemar. Inspirasi hilang, diksi buyar. Kertas berisi tulisan setengah jadi disobek, dibentuk bulat, lalu dilemparkan ke tempat sampah.
"Gara-gara si cowok hantu tadi nih." Geramnya kesal.
.
.
-0-
.
.
Sudah beberapa minggu sejak kedatangan si murid baru, Yaya mulai terbiasa dengan gosip yang merebak di antara mereka. Pasalnya, semenjak anak baru itu selalu mengikuti Yaya ke manapun dia pergi, seisi sekolah jadi sibuk membicarakan mereka.
Yaya sih tidak ambil pusing, nanti juga mereka capek sendiri. Toh itu bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya di sekolah ini. Fangirl pemuda berkacamata nila, si pemuda paling popular, siapa lagi kalau bukan Fang, tidak ada yang menguntit maupun melemparkan tatapan menusuk setiap kali Yaya berjalan di hadapan mereka.
Yaya santai-santai saja. Tapi, sudah beberapa hari ini pemuda beriris aneh itu tidak menunjukkan batang hidungnya, baik di sekolah maupun di sekitar komplek rumah.
Bugg!
Bola berwarna oranye bergaris hitam sukses memantul di kening Yaya. Kepalanya terasa memutar.
Bodoh! Bodoh!
Yaya sampai lupa memperhatikan sekitar saking asiknya bercengkrama dengan pikiran sendiri. Bahkan dia lupa kalau saat ini dia tengah menonton anak basket yang beranggotakan seorang pemuda bersurai raven yang kini sedang berjalan ke arahnya.
Fang…sedang kemari?
Yaya gugup sendiri. Rasa sakit di kening bertukar tiba-tiba dengan sarat gelisah. Memang bukan kali pertama Fang menghampiri Yaya seperti ini, tapi tetap saja, rasanya selalu seperti yang pertama untuk Yaya.
"Kau Yaya kan?"
Kepala dianggukkan walau canggung. Gadis ini salah tingkah, namanya diingat saja dia sudah senang.
"Keningmu berdarah." Sahut Fang sembari menyentuh keningnya sendiri. Oh bahkan Yaya tidak merasakan apapun dari lukanya.
"Bolanya ke mana tadi?" salah seorang anggota tim basket celingak-celinguk mencari bola yang sempat menyiduk kening Yaya hingga terluka.
Pandangan mata mengarah ke benda bundar yang dimaksud, Yaya menunjuk bermaksud memberi tahu.
"Itu di sana."
"Mana?"
"Itu."
Kesal, masa iya bola sebesar dan semencolok itu tidak kelihatan.
"Bisa kau ambilkan, Yaya?"
"Eh? Te-tentu."
Apa sih yang bisa Yaya tolak dari seorang Fang. Berbalik, baru saja kakinya menginjak langkah pertama, bahunya ditahan oleh sebuah telapak tangan besar.
"Minta maaf padanya."
Ketiga pasang mata sontak menatap pada pria yang baru saja menelurkan kalimat perintah.
"Kau siapa?" Tanya Fang.
Anggota basket di sebelahnya segera membisiki sesuatu. Sementara Yaya nyaris tidak percaya kenapa pemuda itu masih ada di sekolah ini. Dikiranya pemuda itu sudah pindah ke antah berantah.
"Oh jadi kau Halilintar? Idola baru yang digembar-gemborkan itu ya?"
Fang bersedekap. Iris di balik lensa jelas menyiratkan ketidaksukaan. "Memangnya kau bisa apa sampai jadi pembicaraan banyak orang? Jangan menang tampang saja." Tambahnya.
Halilintar tidak terpengaruh dengan ucapan provokasi tersebut. "Kau melempar bola ke keningnya. Minta maaf sekarang juga."
"Aku tidak sengaja. Stainley, ambil bolanya."
Orang keempat yang berada di situ diperintahkan oleh sang kapten. Stainley menurut. Bergegas langsung memungut bola di kaki kursi ujung taman sekolah.
Fang berbalik hendak meninggalkan dua entitas yang masih terdiam. Menangkap operan bola dari kawan satu tim, melanjutkan permainan yang sempat tertunda.
Namun, sebelum kakinya beranjak menjauh dari lokasi awal, bola basket sudah direnggut dari kendali. Berpindah ke tangan sang pemilik iris ruby.
Semua anggota tim basket menatapnya. Halilintar mengedarkan pandangan tajam ke sekeliling lapangan. Kemudian tanpa basa-basi bola bundar didribble dengan kecepatan rendah. Naik menjadi sedang, melewati Fang yang masih terdiam. Beberapa anggota tim basket reflek berusaha menghalang dan mencuri bola.
Tapi…sia-sia. Bola berpindah ke tangan yang satunya, lawan dilewati dengan mudah. Bola masuk ke keranjang dengan gerakan lembut namun terlihat lincah.
Semuanya tidak ada yang bersuara, termasuk Yaya. Hanya bunyi pantulan bola dan lantai yang mengalun di telinga. Halilintar beranjak dari posisinya. Berjalan menghampiri Yaya yang masih mematung di pinggir lapangan lainnya.
"Ikut aku, lukamu harus segera diobati."
Tanpa permisi, keduanya hengkang dari lokasi. Yaya menurut saja saat lengannya ditarik begitu saja tanpa izin.
.
"Awww..."
Memang benar kata orang, kalau terluka itu sakitnya terasa belakangan.
"Tahan sebentar."
Kapas bersih yang sudah dicelupkan ke dalam air dan antiseptik, menyentuh lembut kening sang gadis yang masih dihiasi cairan berwarna merah.
"Pelan-pelan." Yaya menggigit bibir, menahan rasa sakit yang baru menjalar.
Halilintar membersihkan luka Yaya dengan sangat hati-hati. Kapas ditekan lembut di sepanjang pinggir luka dan sekitarnya, dibuang karena sudah terasa tidak mampu membersihkan lagi. Kapas baru diambil, perlakuan serupa diulang.
"Tahan sebentar." Ujar Halilintar lembut.
Yaya memandang pemuda di hadapannya. Hazelnya terpaut tak lebih dari satu jengkal dengan si pemuda. Iris ruby ditatapnya lekat. Yaya heran, bagaimana mata tajam itu bisa memandang lembut ke arah dirinya.
"Selesai."
Kedua telapak tangan digesekkan tanda pekerjaan sudah selesai.
Yaya menyentuh kening. Lukanya sudah dibalut dengan kapas yang diberi obat merah juga plester.
"Harusnya kau tidak datang."
Yaya beranjak turun dari ranjang UKS. Halilintar menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat.
"Begitu caramu berterimakasih?"
Suara air mengalir dari dispenser pada gelas plastik. Yaya merasa haus dan butuh minum air putih.
"Kalau sampai dia membenciku, itu semua berarti salahmu."
"Dia? dia siapa?"
"Anak basket tadi, yang kau ajak debat."
"Aku tidak mengajaknya berdebat, aku hanya menyuruhnya meminta maaf padamu. Salah?"
Yaya melenguh, menyandarkan pinggang pada meja tempat dispenser ditaruh.
"Dia kan sudah bilang tidak sengaja."
"Tapi dia juga tidak meminta maaf." Yaya terdiam, itu benar. "Bahkan dia seenaknya menyuruhmu mengambil bola basket yang jelas-jelas bisa dia ambil sendiri."
Lagi-lagi Yaya tidak bisa berkomentar. Itu juga benar.
"Jadi katakan salahku di mana?"
Halilintar mengeliminasi jarak. Berdiri sembari bersedekap di depan Yaya. Gadis itu mulai risih, walau bagaimanapun mereka hanya berdua di ruangan ini.
"Hm?" Halilintar memiringkan kepala. Yaya mulai kesulitan menarik nafas.
Tubuh yang lebih besar terdorong ke belakang. Halilintar menarik sebelah lengan saat Yaya berjalan melewatinya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Jengah, Yaya memutar bola mata bosan.
"Oke, kau tidak salah apa-apa. Terimakasih telah menolongku. Puas?"
Yaya beralih menuju tas punggungnya yang tergeletak ranjang UKS, mengambil beberapa benda dari dalam tas. Gerakan tangan dihentikan. Hazel kembali beradu pandang dengan ruby.
"Berbalik." Halilintar mengernyit tidak mengerti.
"Hadap sana, ini barang perempuan."
Paham, Halilintar menurut tanpa protes. Yaya mengambil benda yang dibutuhkan sembari melirik ke arah si pemuda. Takutnya pria itu mengintipi Yaya yang tengah mengambil barang. Bisa tanggal rasa malunya nanti.
Benda putih terbungkus plastik disembunyikan di balik kerudung. Kemudian tanpa permisi beranjak meninggalkan Halilintar sendirian di ruang UKS.
"Hey, mau ke mana?" Halilintar berbalik menyadari pergerakan Yaya.
"Toilet, mau ikut?" Yaya menyahut dari luar ruangan.
"Mau, kalau boleh." Halilintar hanya menggoda, sungguh, tidak bermaksud serius. Tapi siapa sangka sebuah sepatu berwarna pink dengan motif hellokitty melayang tepat ke wajahnya dari arah pintu. Sementara si pelaku dengan sebelah kaki tanpa alas beringsut maju mendekati Halilintar dan memungut alas kaki yang dilemparnya sendiri.
"Dasar mata merah mesum!"
Teriak Yaya sepanjang perjalanan menuju kamar kecil. Halilintar tertawa geli. Bisa-bisanya gadis itu memberi julukan tidak elit seperti itu padanya.
Halilintar menggeleng pelan, hingga tanpa sengaja pandangan manik orbsnya tertuju tepat pada tas pink yang juga bermotif hellokitty milik Yaya.
"Dia benar-benar menyukai warna dan tokoh kartun itu ternyata." Gumam Halilintar dengan sirat lembut di matanya.
Tiba-tiba otaknya penasaran dengan benda yang diambil Yaya tadi, sampai-sampai dia tidak boleh melihatnya.
Salahkan rasa ingin tahu Halilintar yang besar. Kakinya bergerak mendekati ranjang. Tas punggung merah muda dibuka perlahan. Halilintar mengintip seperlunya. Lalu ditutup seketika.
Sial! Kenapa dia jadi malu sendiri?
Lampu imajiner hinggap di pojok kanan atas topi sang pemuda. Halilintar ingat hari ini ada pelajaran bahasa Jerman, bahasa yang tidak perlu dipelajari karena sudah ia kuasai di luar kepala. Ide ditemukan. Semoga kali ini rencananya berteman dekat dengan gadis itu bisa berjalan.
Tas dibongkar perlahan. Halilintar menutup benda khas perempuan tadi dengan sapu tangan milik Yaya.
Halilintar heran, ngapain sih Yaya membawanya ke sekolah segala. Kan bisa langsung pakai di rumah.
"Mana sih? Ah!" lelah mencari, Halilintar meneruskan aksi sembari mengintip ke pintu. Takut-takut Yaya kembali dan memergokinya, bisa-bisa gadis itu semakin illfeel padanya.
Senyum menyeringai mengembang di bibir Halilintar. Benda yang dicari sudah ditemukan.
"Ini dia!"
Kembali waspada, Halilintar mencari tempat yang sekiranya tepat untuk menyembunyikan tiga benda di tangannya. Satu buku paket, satu kamus kecil, dan satu buku tulis.
Beberapa detik berpikir, Halilintar menatap kasur UKS. Sepertinya cocok.
Tanpa pikir panjang, ketiga buku itu diselipkan ke bawah kasur. Seprai yang sedikit mencuat dirapikan serapi mungkin agar tidak terlihat mencurigakan.
Sukses, misi berjalan. Tinggal menunggu langkah selanjutnya dan hasil yang akan diterima. Berdoa saja semoga Yaya tidak sadar ada barangnya yang hilang saat ini.
Halilintar mengerjap, tahu-tahu Yaya sudah berdiri di belakangnya.
"Yaya,"
Enggan berbasa-basi, Yaya mengambil tas dan melengos begitu saja meninggalkan ruangan. Halilintar mengejar.
"Mau ke mana?" Tanya Halilintar berusaha normal, takut Yaya melihat perbuatannya tadi, bisa mati dia.
"Kelas lah. Kau tidak dengar bunyi bel? Rapat guru kan cuma satu jam pelajaran."
Nafas lega dihembuskan. Halilintar kembali memasang wajah datar.
.
.
-0-
.
.
"Bukuku tidak ada…" Yaya mendesis pelan, khawatir suaranya terdengar hingga depan kelas. Bisa berabe kalau guru killer itu tahu buku paket bahasa jerman, kamus, lengkap dengan buku catatannya tidak ada di atas meja.
Mampus.
Halilintar melirik, Yaya masih sibuk merogoh tas tanpa arti. Pemuda itu tersenyum dalam hati, saatnya menjalankan step kedua.
"Yaya, ada apa?"
Itu Ammy, sahabat Yaya yang tempat duduknya dirampok oleh Halilintar. Menyolek Yaya dari belakang, sadar akan kegundahan yang dialami sang sahabat.
"Buku paketku hilang, kamusku juga, buku tulisku juga. Bagaimana ini Ammy?" bisik Yaya nyaris merengek, beruntung Pak Guru killer sedang menulis di papan.
"Coba ingat-ingat kau taruh di mana? Mungkin kau lupa."
"Aku tidak pernah mengeluarkannya dari tas, Ammy…sungguh."
Gadis twintail itu terlihat berpikir. "Mungkin kau lupa bawa?"
"Tidak, tadi pagi sudah ku letakkan di dalam tas. Aku sangat yakin. Bagaimana ini? Bisa gawat kalau Pak Hasbi tahu." Ujarnya dengan suara memelas.
"Ehemm. Kelas saya tidak menerima murid berisik." Pak guru killer meneyindir di depan kelas. Yaya semakin khawatir.
Ammy menatap Yaya kasihan. Sangat sadar dengan reputasi sahabatnya di hadapan guru. Walau Yaya tidak begitu akrab dengan guru bahasa jerman mereka, tapi setidaknya dia tidak punya masalah dengan guru itu.
Sekali Yaya melakukan pelanggaran, dalam hal ini adalah tidak membawa buku, bisa langsung ditinta merah namanya nanti. Berbeda dengan dirinya yang namanya sudah terpasang tinta merah sejak awal. Ammy rela berkorban demi sahabat. Berdoa saja semoga saat ini Pak Hasbi tidak menganggapnya ada.
"Uhm…Yaya, kau boleh-" ragu-ragu, Ammy takut juga bila ketahuan, bisa disetrap dia nanti.
Yaya yang masih gelisah menghentikan pencariannya.
"Boleh apa My?" balasnya dengan suara berbisik.
Gadis twintail itu menunduk, menyusun ketiga buku yang diperlukan untuk mata pelajaran bahasa asing tersebut.
Sedari tadi Halilintar hanya memperhatikan. Tapi begitu melihat pergerakan gadis di belakang Yaya tadi, Halilintar harus segera bertindak. Bisa gagal rencananya nanti.
"Kau boleh pinjam buku milikku."
Tiga benda disodorkan. Baik Yaya maupun Ammy mengernyit melihat kelakuan Halilintar.
"Kenapa bengong? Ambil cepat, sebelum ketahuan." Bisiknya pelan.
"Kau serius?"
Kelopak mata diturunkan pelan sebagai jawaban.
Yaya mendorong buku-buku itu kembali pada Halilintar. "Pak Hasbi itu galak. Kau ini anak baru, jangan buat masalah. Kau bisa dikeluarkan dari kelas, disuruh hormat bendera, ataupun-"
"Ssstt…Jangan berisik, ambil saja."
Benda yang sama kembali disodorkan. Buku-buku itu tergeletak di hadapannya. Yaya memandangnya bergantian dengan si pemilik dengan tatapan ragu.
Tuk! Tuk!
Bunyi penghapus dan papan tulis yang beradu sukses mengalihkan pandangan kedua entitas tersebut. Halilintar dan Yaya reflek melihat ke depan kelas. Pak guru killer menatap garang pada mereka.
Yaya menegak ludah.
Pak Hasbi berjalan ke bangku mereka berdua.
"Sedang mendiskusikan apa? Kelihatannya seru sekali. Boleh bapak ikut?" Tanyanya pura-pura ramah, tapi amat kontras dengan raut wajah sangarnya yang tak bisa ditutupi.
Yaya menggigit ujung pensil pertanda gelisah. Sementara Halilintar masih memasang wajah santai.
Pak Hasbi menatap kedua anak didiknya bergantian. "Kenapa berhenti?" lalu tanpa sengaja mata sang guru menyapu meja kayu di hadapannya.
Seketika sang guru menjadi geram ketika tidak melihat satupun buku di depan Halilintar.
"Bukumu mana?!" bentaknya. Sang guru paling kesal kalau muridnya tidak membawa buku pelajaran saat jamnya. Itu menunjukkan si murid tidak menghargai pelajarannya.
Halilintar diam. Yaya ingin menyahut namun seketika takut ketika melihat kilat marah di wajah sang guru.
"Siapa lagi yang tidak membawa buku?" teriaknya ke seluruh penjuru kelas. Murid-murid langsung merunduk menatap buku masing-masing.
Sang guru kembali menatap Halilintar dengan penuh intimidasi.
"KAU! KELUAR DARI KELAS!"
Yaya heran, kenapa justru jantungnya yang berdegup kencang sementara pemuda itu masih saja bernafas santai.
Halilintar mendorong kursi ke belakang. Berdiri, kemudian sedikit menundukkan kepala tanda memberi hormat. Sang guru mendengus lalu kembali ke mejanya di depan kelas.
"Yang lain, buka halaman 35. Baca paragraph pertama lalu terjemahkan." Ujarnya tegas.
"Kau! Kenapa masih berdiri di situ? Cepat ke lapangan! Hormat bendera sampai pelajaran saya selesai!" bentaknya pada Halilintar.
Si pemuda masih acuh, tapi menuruti saja perintah sang guru. Yaya memandang Halilintar yang berjalan perlahan meninggalkan kursinya. Gadis itu merasa bersalah, harusnya dia yang dihukum, bukan Halilintar.
Yaya ingin mengaku saja bahwa sebenarnya bukan Halilintar yang melanggar aturan, melainkan dirinya.
Baru saja dia ingin membuka suara, kalimatnya langsung tertelan sebab suara sang guru lebih dulu menginterupsi telinga.
"Jadi siapa yang bisa menerjemahkan?"
Pak guru memandang semua siswanya. Tidak ada yang mengangkat tangan. Sang guru sangat kecewa, kenapa tak ada satupun siswanya yang mahir di pelajaran ini. Apa dirinya yang tidak bisa mengajar dengan benar? Kalau begini, lagi-lagi dia harus menunjuk sebarang murid.
Pandangan diedarkan, memilih siapa yang hari ini akan jadi korban. Pasalnya, kalau salah bisa dibentak setengah mati. Pantas saja tidak ada yang mengangkat tangan.
"Saya pak." Halilintar yang masih berada di ambang pintu berujar malas. Lebih baik dia menerjemahkan teks-teks itu ketimbang berdiri di lapangan yang sangat panas. Bisa gawat.
"Kamu! Masih di situ juga." Sang guru killer menatap anak muridnya satu persatu yang langsung dibalas dengan murid-murid yang berpura-pura melihat buku. Sok sibuk, intinya tidak ada yang mau selain anak itu.
"Ya sudah, terjemahkan semampumu. Paragraph pertama saja juga sudah cukup."
Halilintar yang berdiri menyandar di kusen pintu menyambar buku paket siswa yang duduknya paling dekat dengan pintu.
Membaca sekilas teks yang akan dia terjemahkan. Salah satu sudut bibirnya tertarik. Teks tersebut hanya berisi kisah dongeng mengenai sepasang saudara yang memakan rumah cokelat karena kelaparan. Halilintar hafal di luar kepala isi ceritanya. Bedanya, kata-kata terjemahannya harus disesuaikan dengan teks yang ditulis dengan bahasa jerman.
"Cepat artikan!" perintah sang guru menghampiri telinga. Halilintar mulai menerjemahkan teks yang diperintahkan.
Seluruh siswa di kelas itu hanya bisa memandang dengan binar tak percaya dan mulut terbuka. Jika ada segerombolan lalat yang lewat, berarti mereka menemukan tempat singgah yang tepat.
Bahkan pak Hasbi pun ikut terkesima. Senyum puas mengembang di wajah sangarnya. Sungguh hari bersejarah bagi siswa kelas 11 III, menyaksikan senyum lebar pak Hasbi itu bagai melihat gerhana matahari yang terjadi delapan belas tahun sekali.
Halilintar selesai menerjemahkan seluruh teks bahasa jerman sepanjang tiga halaman kertas A4. Bahkan dia berbaik hati menjelaskan ulang beberapa bagian dengan kalimat yang lebih mudah dimengerti. Seluruh siswa bertepuk tangan, termasuk Yaya.
Gadis itu menatap takjub pada pemuda yang dijulukinya bermacam-macam selama dua minggu ini.
"Bagus!" kali ini sang guru mengucap dengan nada bangga.
Halilintar menanggapi masih dengan wajah datarnya, kemudian perlahan berbalik seolah hendak menuju lapangan.
"Kau tidak usah ke lapangan. Hormat saja pada bendera di ujung situ."
Semua murid terkejut ketika sang guru yang terkenal killer menelurkan kalimat tersebut sembari menunjuk pada bendera yang berada di pojok depan kelas. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, ada murid yang diringankan hukumannya oleh sang guru bahasa jerman.
Halilintar mendengus, pada akhirnya dia tetap tak bisa lolos dari hukuman. Ya sudahlah, tak apa. Ketimbang mati kepanasan di bawah terik matahari yang siap memanggang, hormat berdiri di dalam ruangan masih lebih baik.
Dalam hati Yaya bersyukur hukuman yang diterima Halilintar diringankan. Setidaknya rasa bersalahnya tidak semakin membara. Saat istirahat nanti, dia harus meminta maaf sekaligus berterimakasih pada pemuda beriris aneh tersebut.
Terimakasih…Halilintar.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N
Seperti yang sudah saya katakan. Fanfict ini akan saya lanjutkan sampai tamat. Bagi yang merasa sudah membaca fanfict ini, silahkan dibaca ulang terutama chapter pertama, karena ada beberapa hal yang saya rubah dan, errr itu cukup penting. Untuk chap. Ini sih tidak ada perubahan yang berarti. Sekian. Wassalam.
So, stay tune ya ^^
